KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Jalan Lagi Yuk

Selesai momen hanabi, panitia membentangkan sebuah kain putih besar yang panjangnya kurang lebih 50 meter. Tujuannya adalah memberikan kesempatan bagi para pengunjung buat membubuhkan tanda tangan dan kesan-kesan terhadap acara ini. Mungkin juga sekalian masukan kali ya biar tahun-tahun berikutnya lebih baik lagi (walaupun kenyataannya nggak).

“Kamu mau ikutan nggak tanda tangan sama kritik saran?” kata gue.

“Ayo mau dong yank. Turun kebawah yuk.” Kata Dee.

“Mau nulis apaan emang kamu nanti?”

“Ya pesan kesan sama acara ini dong.”

“Muji-muji band yang tampil nggak? Hehe.”

“Mau banget di puji?”

“Ya mau-mau aja. Hehehe.”

“Yaudah yuk turun.”

Gue dan Dee turun kebawah menuju ke kain putih yang terbentang lebar. Beberapa spidol sudah disediakan oleh panitia. Ada warna biru, merah dan hitam. Udah banyak juga yang antri buat nulis-nulis dikain putih itu. Sampai akhirnya giliran Dee yang mulai nulis-nulis.

Gue nggak terlalu merhatiin sebenernya dia nulis apa, sampai ada satu momen gue melihat Dee terlihat mengobrol dengan cewek yang memakai kerudung hitam dan memakai penutup mulut warna hitam. Dia ternyata meminjam spidol yang ada di tangan Dee karena spidol lainnya dipakai oleh orang lain. Kebetulan dia dan Dee berdiri sebelahan, Dee juga udah selesai nulisnya.

Gue fokus dengan kaos yang dia pakai. “Gazerock Is Not Dead.” Begitulah tulisan dikaosnya. Ini pecinta the GazettE jelas, salah satu band favorit gue setelah Dir en Grey. Gue sempat excited sama ini orang, karena desain kaos ini adalah desain kaos the GazettE yang populer sekitar tahun 2006. Udah jadul banget. Makanya gue tertarik, berarti ini fans beneran yang udah suka band ini dari lama, sama dengan gue. Bedanya gue nggak punya kaos ori kayak gini.

Kaos the GazettE


Setelah selesai menulis, Dee meminta tulisannya difoto buat kenang-kenangan. Gue mengiyakan untuk mengabadikan hasil tulisan tersebut. Nah momen setelah foto itulah mereka mengobrol sedikit karena si anak GazettE ini meminjam spidol yang digunakan Dee.

“Kamu kenal?” Kata gue.

“Nggak. Dia minjem spidol barusan, karena dia liat aku udah selesai nulisnya.” Katanya.

“Oh gitu. Asyik tuh bocah, ternyata suka GazettE juga dia. Jarang disini yang aku liat pake kaos GazettE yang itu. Kaos langka itu.”

“Oh iya? Mau dipanggilin nggak? Mumpung masih deket.”

“Udah nggak usah, nggak penting juga. Haha.”

“Yakin?”

“Iye, udah biarin aja ya.”

Kami langsung pulang setelah itu. Nggak lupa kami mengucapkan perpisahan lagi dengan Ito, karena besoknya dia harus udah balik lagi ke Aussie. Kebayang dia capeknya kayak apaan. Setelah mengantar Dee ke kostannya, gue pun numpang menginap di kostan Endy.

--

Awal tahun berikutnya dia sudah masuk ke semester 6, sudah setahun gue dan Dee menjalin hubungan. Gue emang rutinitasnya kalau weekend jalan sama dia. Jadinya gue banyak menghabiskan sabtu malam gue di GMRD Regency bareng teman-teman angkatan Dee, dan sesekali di tempat Endy maupun di tempat Ray.

Kali ini gue mau mengajak dia ke tempat yang belum pernah dia kunjungi. Taman Bunga Nusantara. Gue kali ini membawa kendaraan. Biar nggak ribet. Macet pun nggak apa-apa lah sesekali ya kan.
Gue mempersiapkan segalanya buat keberangkatan. Gue numpang di kostan anak-anak angkatan Dee, karena bentuknya perumahan yang bisa dipakai parkir kendaraan. Sedangkan kostan Ray maupun kostan Endy hanya bisa dimasuki kendaraan roda dua aja.

“Guh, aman kan ya parkir didepan situ?” tanya gue.

“Wah nggak apa-apa bang. Aman kok. Kan tiap malam juga ada satpam yang keliling.”

“Oke deh sip kalau gitu. Hehe.”

“Lo sabtu ini mau jalan-jalan ke cianjur bang?”

“Iya nih. Sekalian ngajak Dee ketempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi.”

“Asyik banget dah. Haha. Eh bang, lo tau nggak? Lo tu bikin heboh anak kelas tau aslinya. Haha. Karena pada nggak tau kalo ternyata Dee jadiannya sama lo bukan sama Bang Krisna.”

“haha oh iya? Terus-terus gimana?”

“Iya, pada heboh bang.” Sahut Ari.

“Nggak nyangka karena yang keliatan bareng-bareng itu kan si Bang Krisna, eh tau-taunya malah lo yang jadian sama dia. Kita aja awalnya nggak nyangka. Kapan lo deketinnya, kapan lo ketemu dia, tau-tau nggak lama abis ospek udah aja ketauan lo jadian sama dia. Hahaha. Gokil emang abang kita ini. Nggak salah reputasinya.” Kata Yudha.

“Wahaha emang segitunya banget ya? Eh, reputasi apaan ni maksudnya?” tanya gue.

“Reputasi lo sebagai penggaet cewek paling oke di tiap angkatan. Haha. Tapi gue denger malah angkatan lo sendiri nggak ada yang lo pacarin bang.”

“Anjir denger dari siapa lo pada? Haha. Nggak juga, gue itu pacarannya sama Kathy angkatan atas gue. Emang kalian pada kenal?”

“Laaah, yang ngebawa nama kampus kita di kejuaraan ilmiah sampe final itu kan kelompok kalian, dan itu yang dibangga-banggain sama dosen-dosen bang. Udah gitu disebutin juga kan anggota-anggotanya dan ada dosen yang pas presentasi ngajar itu punya foto-foto kalian, salah satunya ada lo bang, dan Mbak Kathy. Yaudah anak kelas langsung cari tau bang. Haha.” Doni menjelaskan.

“Buset pada jadi detektif ya, ngorek ampe dalem bener itu kayaknya. Haha.” Kata gue.

“Dulu tradisi beauty-some disini kan juga lo berdua dapet kan?” tanya Ari.

“Laah, ini pada tau dari mana pula lo? Haha.”

“Dari tumpukan poster-poster bekas mading himpunan bang. Ada foto kalian berdua. Udah gitu dulu katanya sempet ada info juga kalo lo punya mantan yang oke punya juga di jurusan yang sekarang udah dilebur ye bang. Haha.” Kata Teguh.

“Gila lo pada yak? Nyari info sampe segitunya. Serem gue jadinya. Haha.”

“Namanya juga perkembangan teknologi bang.” Kata Ari.

“Haha iya dah, yang jelas apa yang lo bilang itu bener sih. Hehe.”

“Nah makanya anak-anak langsung heboh dengan berita Dee yang jadiannya sama lo.”

“Tapi nggak ada omongan yang aneh-aneh kan?”

“Ada banget bang. Dikelas gue ada 3 orang yang suka sama Dee. Di jurusan AE bahkan ada fans clubnya kan, kayak yang gue bilang dulu ke lo.”

“Haha ya berarti mereka kurang hoki aja kali yak.”

“Bisa jadi bang. Hahaha.”

Hari sudah menjelang pagi. Gue sudah bangun dari habis subuh. Usai ibadah gue mandi dan bersiap untuk menjemput Dee. Kalau kesiangan dikit di hari sabtu pasti bisa kena macet parah. Jarak tempuh yang lumayan jauh membuat gue harus punya perhitungan ketika melewati lokasi wisata yang populer di seantero Jawa Barat itu.

Gue harus memarkir mobil dipinggir jalan raya. Agak was-was sebenernya, karena jalanan masih sangat sepi, dan juga masih agak gelap. Gue lalu jalan kaki menuju ke kostan Dee.

Kostannya ini bercampur dengan pemukiman warga dan hanya ada jalan setapak kecil. Muat satu motor doang, kalau ketemu, mesti gantian jalannya. Kebanyakan warga disini menyewakan rumahnya untuk dijadikan kostan.

Seperti lazimnya didesa, apa-apa yang baru atau apa-apa yang tidak lazim atau diluar nalar dan logika mereka, pasti akan cepat menyebar dan penuh dengan bumbu penyedap.

Mahasiswa-mahasiswa yang kost disekitar daerah sini pun tahu kalau warga situ emang rada-rada gimana gitu. Kadang ketenangan mahasiswa terusik karena polah agak nyeleneh warga sekitar. Dee yang udah tau resikonya tersebut memilih untuk tutup kuping aja, begitu juga dengan mahasiswa/I lainnya. Capek berurusan sama warga yang pemikirannya nggak mau diajak maju dan suudzon terus kerjaannya.

“Udah siap yank?” tanya gue.

“Sebentar ya yank.” Kata Dee.

“Kan aku udah bilang siap-siap daritadi.”

“iya aku udah siap-siap kok.”

“Terus kenapa sekarang belum siap juga?”

“Namanya juga cewek yank.”

“Kamu tu biasain ngehargain orang yank.”

“Kok kamu gitu sih? Ngertiin aku dikit kenapa sih?”

“Lah kamu ngertiin aku nggak? Aku udah dateng dari Jakarta semalem, nyetir sendiri kesini, terus numpang dikostan orang, biar nggak telat. Karena jalanan bakal macet parah. Kalau udah macet gitu kamunya bete.”

“Iya maafin yank, aku ngerti kamu udah bela-belain kayak gitu. Tapi sabar sedikit kenapa.”

“kalau kena macet nggak usah ngomel dan bete ya? Nikmatin aja, bisa kan?”

“Iyaaaa……”

Dee ini kadang emang suka begitu. Mentang-mentang gue provide semuanya, dia malah kadang-kadang suka-sukanya aja kelakuannya tanpa mikirin orang lain. Contoh kecilnya ya kayak gini. Ini malah bisa jadi merusak momen kan. Untung gue sabar aja dengannya. Karena gue berpikir masih perlu penyesuaian. Beda dengan Keket yang emang udah suka duluan sama gue dulu. Jadi ngaturnya lebih gampang.

Dengan sifat Dee yang seperti ini justru membuat gue tertantang untuk membuatnya lebih baik, terutama menghargai orang. Gue melihat dia seperti keenakan, jadinya nggak sadar kalau sebenernya apa yang dia lakuin itu bisa ngerugiin dirinya sendiri dan orang lain.

Selagi pikiran gue yang mulai tersulut emosi, dia keluar dengan dandanan natural yang mestinya nggak butuh waktu lama. Hanya memakai jeans biru muda yang dilututnya ada robekan sedikit, kaos slimfit warna oranye yang dibagian lengannya dilipat. Rambut bobnya yang dihighlight merah marun sedikit membuatnya makin manis, ditambah dengan make up natural karena wajahnya yang agak berjerawat.

“Gini doang lama amat sih yank?”

“Namanya juga cewek.”

“Laaah, jangan gitu dong kamu mikirnya.”

“iyaaaa sayaaang, maafin aku ya yank.” Kemudian dia tersenyum manis dan memelas, bikin gue luluh. Sial. Batal ngomel gue.

“Ayo udah jalan kita. Nggak usah lama-lama disini. Ntar diomongin sama orang kampung sini lagi, pagi-pagi udah pacaran lah. T*I bener.”

“Heeh, aku nggak suka ah kamu ngomong kasar kayak gitu.”
“Maaf, aku emang kalo ngomong kan gitu. Tapi okelah, aku akan coba belajar untuk nggak kasar.”

“Aku marah pokoknya kalau denger kamu ngomong kasar ya.”

“iyaaaa….”

Kami menaiki mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan masih sangat sepi. Sepanjang perjalanan Dee memilih untuk tidur, sementara gue mendengarkan lagu-lagu kesayangan gue aja di tape mobil.

Setelah beberapa jam dilalui dan sedikit terjebak macet, kami sampai ditujuan. Nggak lupa gue juga membawa sebuah kamera, karena pasti spot fotonya banyak yang bagus. Gue membeli dua tiket masuk. Kala itu masuk tempat wisata ini masih murah, beda dengan sekarang yang udah agak pricey, tapi kualitas tempat wisatanya terjamin.

Dee amat sangat terkesan dengan taman bunga ini. Pemandangan yang lagi-lagi baru pertama kali dia nikmati. Gue bersyukur punya cukup pengetahuan mengenai hal-hal yang bisa membuat gue terasa semakin memiliki nilai plus dimatanya. Hehehe.

“Sumpah yank ini cantik banget. Aku seneng banget yank.” Katanya sumringah.

“Iya sayang, kan aku nyari info-infonya juga. Soalnya aku belum pernah kesini hehe.”

“Oh iya? Wah asyik banget ya yank. Kamu pengetahuannya luas juga.”

“Kan dibantu internet yank. Hehe.”

“iya sih, tapi kalau orang yang nggak bijak bisa ngaco nerima informasinya yank.”

“iya juga sih. Cerdas kamu Dee.”

“Hehe. Gitu aja cerdas gimana kamu?”

“Laah aku mah nggak ngapa-ngapain, kenapa jadi gimana aku?”

“udah yang penting aku seneng punya cowok yang perhatian super, sabar, dan pastinya pinter banget.”

“Lebay amat lu ah.”

“Dikasih pujian malah kayak gitu. Bukannya makasih.”

“Iyaaaa. Makasih ya sayang cantik.”

Dee tersenyum manis banget.

Kami melanjutkan jalan-jalan di taman bunga tersebut. Ada yang unik, yaitu ada tanaman yang disusun menjadi sebuah labirin. Seru banget pas masuk ke labirin ini. Dee udah pasti seneng, karena kebetulan dia senang dengan teka teki.

Nggak kerasa udah tengah hari aja. Kami pun beristirahat dan membuka makanan kami. Sengaja nggak bawa makanan berat karena dipikir bisa beli. Iya kebeli, tapi mahal. Haha. Apes bener.

“Aku mau foto-foto disana yank.” Katanya menunjuk ke satu spot yang bagus banget buat foto.

Gue mengambil gambar dengan dia sebagai modelnya. Dia mahir juga untuk pose. Ternyata emang dulunya pernah ikut-ikutan modeling gitu waktu SMA katanya. Dia juga suka ikut kompetisi menari tradisional.
Hasil dari foto-foto itu pun bagus karena modelnya juga bagus. Hehe. Nggak lupa juga kami mengambil swafoto untuk mengabadikan momen-momen kebersamaan ini. Dia senang banget selfie kayak gitu, beda dengan gue yang lebih seneng difotoin. Haha.

“Aku kayaknya udah kecapekan deh yank. Istirahat yuk.” Katanya.

“Ayo deh, aku juga udah lumayan capek yank.” Kata gue.

“Aku seneng banget deh yank, beneran deh. Kamu udah ngajakin aku ketempat-tempat yang belum pernah aku kunjungin, ngasih pengetahuan-pengetahuan yang aku nggak tau. Aku sayang banget sama kamu. Dan alasan-alasan itu lah yang bikin aku selalu kangen sama kamu yank.”

“Aduh enak banget aku dipuji-puji sama anak cantik. Hehe. Iya makasih yank.”

“Aku mau tiduran disitu.” Dia menunjuk paha gue. Gue duduk bersila.

“Yaudah sini. Tapi hati-hati ya, bisa kenceng ini nanti kalau kamu banyak gerak.”
“Apanya yang kenceng?”

“Ada deh, pokoknya kamu jangan banyak gerak ya yank.”

“Iya. Hehe.”

Dia akhirnya tiduran di paha gue. Gue membawa buku untuk dibaca. Sementara gue baca, dia malah ketiduran. Nggak kerasa udah mau jam 15.00, dan itu saatnya pulang.

“Yank pulang yuk. Bangun yank.” Kata gue sambil menepuk pipinya pelan.

“Hummh? Kita dimana?” katanya.

“Kita di surga yank.”

“Haah??”

“Yahahah, lagian tidur kayak orang mati, sampe ngorok pulak lagi.”

“Ah yang bener kamu?”

“Iyaaaa.”

“hehe maafin aku ya yank. Aku emang kalau kena sejuk dikit kan gitu.”

“Iya yank aku tau kok. Hehe.”

“Yaudah yuk siap-siap ya kita pulang.”

“Ayo.” Kata gue sambil membangunkan tubuhnya.
Gue dan Dee ternyata kena sistem buka tutup. Akhirnya kami harus menunggu sampai malam hari. Kami menunggu sambil cari makan, kemudian jalan-jalan disekitaran tempat kami berhenti sejenak.

Waktu nggak kerasa udah menunjukkan pukul 21.00 aja. Gue yang entah kenapa mulai ngantuk malah meminggirkan kendaraan gue dulu. Ada warung tutup yang bisa disinggahi lahannya. Gue mencoba tidur dulu sejenak karena perjalanan kami masih jauh. Dee pun terlelap.

Bangun-bangun udah jam 2.00 pagi. Gue kaget karena tidur selama itu. Gue kebangun karena cuaca yang sangat dingin diluar. Ternyata hujan juga. Gue memakai jaket dan gue menyelimuti Dee dengan jaketnya. Eh dia malah kebangun.

“Jam berapa sekarang, Zi?”

“Jam 2 an Dee.”

“Duh kita pelor bener ya. Haha.” Katanya sambil membetulkan posisi duduknya.

“Emang. Apalagi kamu. Hehe.”

“yee, kenapa lagi aku? Ngorok lagi?”

“Ho oh. Hahaha.”

“Kamu mah. Malu aku tuh.”

“ya kalo malu jangan ngorok dong. Hehe.”

“Ya emang kalo tidur bisa dikendaliin? Kan nggak yank.”

“Haha iya-iya.”

Kami mengobrol ringan dan becanda-canda. Karena cuaca semakin dingin, kami mendekat dan berpelukan erat.

“Aku pingin kita kayak gini terus yank.” Kata Dee berbisik ditelinga kiri gue.

“Aku juga. Anget.” Kata gue.

“seriuuuusss!” katanya manja.

“ya aku serius, kalo dipeluk gini kan anget jadinya yank.”

“Iya tapi maksud aku bukan gitu.”

“Terus?”

“Iya aku mau sama-sama. Kita ini udah setaun lebih loh pacarannya.”

“Iya sayang. Dan semakin lama rasa sayang aku makin gede ke kamu.”

“Iya sama Zi. Aku juga ngerasa gitu. Sama-sama aku terus ya yank.” Katanya, kali ini pelukannya makin erat.

Kami melepaskan pelukan, dan saling berpandangan dalam gelap. Sama-sama minus dan tanpa kacamata, pandangan kami agak buram, tapi masih terlihat mukanya. Diam-diaman lama, malah membuat bibir kami saling mendekat.

“Aku nggak siap.” Katanya.

“Siapin makanya.” Kata gue.

“Gimana nyiapinnya?”

“Monyongin aja bibirnya nanti aku samber.”

“Lah gimana bisa gitu? Haha.”

“Yaudah bebas terserah kamu Dee. Hehe.”

Lalu gue berinisiatif mendekati bibirnya, eh ternyata dia menghindar ke kanan. Gue samber kekanan, dia mengelak ke kiri. Nggak nemu-nemu ini bibirnya. Elah ngajak becanda dingin-dingin gini.
Kemudian setelah mengelak terus menerus, Dee menyetopnya dengan memegang pipi gue. Dia hanya mengangguk, dan gue liat dia tersenyum walaupun dalam gelap.

Gue merasakan bibirnya untuk pertama kalinya sejak awal kami jadian setahun lalu. Kami larut banget dalam kecupan demi kecupan. Dia ternyata menginginkan french kiss. Yaudah gue layani dengan baik. Tangan tadinya mau kemana-mana tapi karena ciuman pakai hati ini terlalu berharga untuk dibagi fokusnya, gue memilih untuk fokus ke satu kegiatan aja.

“Makasih buat semua yang udah kamu lakuin buat aku ya yank.” Katanya.

“Sama-sama yank. Aku lakuin semua karena aku sayang banget sama kamu.” Kata gue membalas.

“Jadiin aku orang yang terus berbahagia ya yank?”

“Insya Allah yank.”

Selanjutnya kami melanjutkan ciuman sampai durasinya agak lama. Kami berhenti ketika udah mulai pegal bibir dan rahangnya. Gue tau ini bukan ciuman pertamanya. Tapi nggak apa-apa. Pentingnya itu adalah rasa yang timbul karena nyiumnya pakai hati.

“Aku seneng kayak gini sama kamu.” Katanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 19 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
deawijaya13
kaskus holic
Asek.. first
profile picture
Rainbowmaker
kaskus maniac
The bomb has been planted emoticon-Ngakak
profile picture
ferimartin22
kaskuser
Duhh baper nih hahaha
profile picture
gw.kenshin1601
kaskus addict
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di