KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Final Ospek_Part 3

Keket.

Gue nggak salah liat. Dia ada dan nyata. Dia makin cantik dan kinclong, tapi saat itu dia badannya agak lebih berisi daripada terakhir gue lihat di nikahannya. Waktu itu dia pakai kaos lengan panjang warna merah dengan kerudung terusan, plus celana hitam. Dia memakai sepatu boot.

Gayanya yang kayak gini mengingatkan gue saat menjadi asisten lapangan jaman kuliah dulu. Dia menyapa beberapa alumni dengan santun dan juga menebar senyum yang sangat manis. Sebentar gue memandanginya, fokus gue langsung tertuju pada apa yang tersemat di dada atas sebelah kiri yang agak tertutup dengan kerudung. Dia memakai bros pemberian gue.

Benu dan Amal memilih untuk bergabung dengan angkatan gue di pos alumni 2. Sementara Keket katanya tadi ada di pos alumni 1 yang jaraknya cukup jauh dari tempat gue. angkatannya dan beberapa angkatan yang lebih tua kumpul disitu karena jumlahnya memang nggak sebanyak angkatan gue yang datang, maklum alumni baru kan. Masih banyak yang nganggur. Hehe.

“Anjiiiiirrrr, ini mantan si Ija makin cakep aje bangs*t. hahaha.” Kata Adi F.

“Cewek-cewek angkatan gue emang mantap banget dah.” Kata Benu sombong.

“Songong banget lo kiting. Hahaha.” Sahut gue.

“Nggak usah sok ceria lo, gue tau lo galau Ja.” kata Amal.

“Ah biasa aja. Kan dia udah jadi bini orang, yaudah mau gimana lagi cuy. Haha.”

“Tapi kalo dikasih juga mau lagi kan lo nyet.” Kata Tanto.

“Ya kita liat aja. Hahaha.” Kata gue sambil tertawa hambar.

Kenapa kamu datang lagi? Kenapa aku harus liat kamu lagi? Mau apa lagi kamu?

“Kan bener, kebawa perasaan tu si Ija. Hahaha.” Ledek Adi F.

“haha kagak, Cuma kagum aje tu anak masih semok demplon. Mayan lah dulu udah pernah liat isinya. Hahaha.” Kata gue.

“Hah, seriusan lo?” tanya Benu.

“Gue kenal dan dekat terus pacaran sama dia bertahun-tahun, masa nggak diapa-apain sih gobl*k? haha. Culun amat pikiran lo ting. Makanya jangan badan aja digedein, rambut dikeritingin, tapi mikir pacaran aja culun bener lo. hahaha.” Kata gue ke Benu.

“Haha. Gue mah santai kok, Cuma gue ngerasa lo beruntung aja Ja, adik kelas malah bisa ngembat kakak kelas paling terkenal seantero jurusan ini. Hahaha. T*i lo emang hokinya.” Kata Benu.

“Usaha keras dulu ting, baru gue bisa dapetin apa yang gue senengin.” Kata gue.

“Iya, jangan lupa juga hoki. Jangan kayak si Amal ini nasibnya, hahaha. Udah usaha keras, tetep aja hasilnya nihil, kan gobl*k.” kata Benu.

“Lah ngapa jadi ngeledek gue ting? Bangke lo. hahaha.”

Kami semua tertawa, gue juga tertawa, tapi dalam hati gue sedih, marah, dan senang bercampur aduk.

Quote:

Dan pada akhirnya kita beneran putus terus dia ninggalin gue. Mantap banget.

Gue selalu mengingat kata-kata Keket itu saat dia menolak gue yang mengajaknya resmi pacaran, walaupun ujung-ujungnya kami tetap berpacaran. Pemikirannya sangat aneh bagi gue kala itu. Ya gue terima karena ini menyangkut dengan urusan kenyamanan sih. Tapi semuanya berakhir menyedihkan bagi gue.

Keket pada akhirnya bertukar pandang dengan gue sepintas, tapi gue berusaha untuk mengalihkan pandangan gue darinya. Dia berusaha tersenyum, sementara gue berusaha untuk buang muka terus. Gue masih nggak bisa melupakan kejadian terakhir waktu dia ngabarin mau nikah itu.

Gue menyempatkan diri untuk datang di nikahan dia dan ketemu beberapa teman sejurusan dan kakak kelas juga. Waktu itu gue datang bareng Ara yang lagi-lagi selalu ada dan menemani gue disaat gue butuh dukungan. Dia rela ijin lagi dari kampusnya dan pulang ke ibukota demi menemani gue.

“Udah, lo nggak usah flashback gitu bro. yang sekarang juga lebih baik, setidaknya dia menunjukkan rasa sayangnya ke lo.” ujar Endy tiba-tiba dari belakang gue.

“Haha iya Ndi.” Kata gue hambar.

“Besok gue atur supaya lo jauhan deh dari dia. Soalnya gue denger dia mau dateng lagi di final yang di curug sana.”

“sama siapa dia kesini Ndi?”

“Gue kurang tau, tapi katanya dia dateng bareng-bareng anak-anak angkatannya.”

“Gue pikir sama suaminya.”

“Haha, mau lo ceburin langsung ya?”

“Wahaha, iya sih.”

Final ospek hari pertama berakhir dengan baik. Panitia senang dengan kinerja mereka, apalagi mereka juga merasa sudah memberikan yang terbaik yang mereka bisa bagi para alumni. Gue sih santai aja karena gue nggak permasalahkan status alumni sehingga-harus-dilayani-dengan-baik. Tapi ternyata ada beberapa alumni, kakak kelas gue yang 2-3 taun keatas diatas gue, itu pingin banget diturutin kemauannya. Liat aja, kalau besok sampai ngerusak rencana anak-anak panitia, gue jamin akan gue ributin ni alumni-alumni songong.

((Dreet. Dreet. Dreet))

Nomer tak dikenal.

“Ya, halo?”

“Ini aku….”

“Mau apa lagi kamu?”

“Aku mau ketemu. 4 mata aja sama kamu. Aku nginep di hotel tempat pertama kita….”

“Aku nggak bisa.”

Gue menutup telpon itu.

--

Final ospek hari ke-2 sudah tiba. Hari minggu sehabis subuh gue udah siap-siap untuk berangkat, karena gue nggak bawa kendaraan, jadinya gue nebeng bareng sama Endy.

((Dreet. Dreet. Dreet.))

DEE

“Doain aku ya yank.”

“Pasti dong. Kamu udah siapin semuanya kan?”

“Udah aku siapin, ini sebentar lagi berangkat. Kumpulnya deket auditorium utama.”

“Yaudah kalau udah disiapin semua. Tahan-tahan ya, sampai sore atau malam doang palingan.”

“Iya sayang, aku tahan kok. Hehe. kan di support juga sama kamu.”

“Pasti dong. Kan aku juga selalu doain buat kelancaran kamu.”

“Oke deh, aku jalan dulu ya yank. Dah abang seniorku sayang. Hehe.”

“Daaah, adek junior kesayangan.”

Gue menutup telpon dari Dee. Gue udah sayang banget sama dia. Banyak hal baru yang gue ketahui tentang dia. Dari mulai kebiasaannya yang juga harus bersih dalam segala hal, tapi nggak seekstrim gue. Gue berusaha untuk menyesuaikan diri agar lebih normal untuk urusan bersih-bersih ini. Dia juga sangat menggemari aroma parfum vanila, tapi dia lebih memilih untuk beli parfum-parfum refill gitu, beda sama gue yang rela nabung buat beli yang ori.

Walaupun orang dari Sumatera Barat, dia mampu membuat makanan khas dari Sumatera selatan yaitu Pempek. Ternyata setelah ditelusuri, kakeknya dari sisi bapaknya merupakan orang Palembang asli.

Gue dan Endy boncengan motor menuju ke lokasi yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer kesebelah barat kampus. Di perjalanan ternyata gue melewati kolam renang milik keluarga Sofi yang sepertinya makin ramai. Salah satu tandanya adalah, walaupun kolam belum buka, tapi sudah banyak kang dagang yang ngetem didepan kompleks kolam renang tersebut.

Apa kabar ya Sofi? Gue udah nggak pernah ketemu atau kontak dia lagi dari habis Wisuda gue dulu. Kak Lia? Ah itu lagi. Kenangan gue dan Kak Lia ini nggak jauh-jauh sama urusan fisik aja. Haha. Tapi seru juga sih kalau diingat-ingat kadang.

Kami sudah sampai lokasi terlebih dahulu dan ternyata panitia udah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik dan rapi. Tapi gue jadi orang yang paling tua yang ada disitu, karena alumni belum ada yang datang sama sekali.

Gue sih asyik aja, karena toh gue banyak mengenal adik-adik kelas ini dan cukup akrab dengan mereka. Mereka juga gue bilang nggak usah canggung dengan adanya gue disitu. Anggep aja gue bagian dari mereka yang ada disitu, dan berlakulah normal nggak usah sok menspesialkan gue mentang-mentang gue alumni dan mantan ketua himpunan.

“Hai kak, wah datengnya kepagian nih kakak.”

“Eeeh, Liana. Apa kabar Li?” kata gue.

“Baiiik kak. Kakak apa kabar? Kemarin aku nggak sempat nyapa kakak. Hehe.” katanya.

“Alhamdulillah baik gue Li. Lo masuk divisi apaan sih?”

“Aku divisi acara kak.”

“Oh gitu. Wah ribet dong ya. haha. Semangat terus lah Li.”

“Iya kak. Eh kakak mau minum apa? Kopi mau?”

“Waaah, ngerepotin. Tapi gue mau deh Li.”

“Oke deh, nanti aku bikinin ya. aku kesana dulu ya.”

“Oke Li. Semangat buat hari ini ya.”

Liana Fiandita, salah satu teman sekelas Harmi yang ceria, dan juga satu daerah asal dengan Dee. Anaknya selalu ceria dan bersemangat, tapi juga suka mengeluh. Gue baru tau belakangan kalau ternyata selama ini anak ini ada rasa sama gue.

Gue nggak banyak berinteraksi dengan dia sebenernya, makanya gue kaget ternyata anak ini pernah suka sama gue. haha. Anak ini tingginya kurang lebih sekitar 163 cm dengan proporsi bodi yang pas aja, nggak banyak lebih tapi juga nggak kurang. Cukup manis dan menarik anak ini. Pastinya, pinter lah. Hehe. gaya berpakaiannya juga nggak cupu kok. Lumayan juga buat dijadiin gandengan kalau jalan-jalan ke mall atau ke nikahan mantan. Eeh.

Panitia yang banyak di komandoi oleh Harmi dan Tahir sangat gercep dan oke banget kerjasamanya. Tahir berhasil membuat komposisi panitia ini menjadi solid, dan mudah-mudahan diacara-acara lain bisa seperti ini juga. Yang paling penting adalah, konfigurasi seperti ini haruslah turun ke angkatan berikutnya yang sempat gagal dalam ospek yang dulu diselenggarakan oleh angkatan gue.

Sebuah kesalahan besar yang akhirnya disesali sampai saat ini. Angkatan Diani menjadi angkatan yang terasing dan tidak banyak beredar dikampus. Tidak banyak mengenal alumni karena memang kebetulan merekanya yang udah ditolak sana sini. Semua bermula dari ospek. Sial betul.

Rangkaian acara sudah dimulai dari jam 7 pagi. Setelah di briefing mengenai perjalanan untuk melewati pos demi pos, akhirnya kelompok demi kelompok mulai berjalan mengikuti rangkaian acara. Ya, Harmi luar biasa galaknya. Gue aja sampai nggak suka melihat caranya yang sangat arogan ini. Gue nggak nyangka dia bisa segahar itu. Ataukah ini tuntutan peran? Atau gimana? Ah biar aja dia dengan caranya sendiri.

“Mi…” kata gue memanggilnya disatu momen.

“Kak….” Dia berlari dan tersenyum ke gue.

“Lo galak banget sih Mi. Santai aja kenapa.”

“Ya, kalau nggak gitu nanti pada berantakan.”

“Tapi nggak sesangar itu juga Mi.”

“Iya sih kak, Cuma dengan begitu gue jadi bisa kontrol acara ini dengan baik.”

“Iya gue ngerti Mi. tapi yaudah deh, terserah lo aja Mi. Gue Cuma takut lo nanti jadi nggak disukain sama adik-adik kelas, even sama temen-temen lo sendiri Mi.”

“Biar aja lah kak, mereka mau bilang gue kayak apa. Yang jelas gue Cuma mau acara ini berjalan dengan baik.”

“Hmmm..oke deh.”

“Kak ikut gue sebentar yuk.”

“Kemana?”

“Udah ikut aja.”

“Oke deh.”

Gue digandeng oleh Harmi ke kebun belakang yang agak sepi. Konsentasi acara itu kebetulan dekat dengan sungai, sementara barang-barang semua ditaruh dekat villa kecil yang ada dibukit nggak jauh dari sungai. Kebun belakang ini letaknya persis dibalik villa.

Nggak banyak orang yang datang atau berseliweran disitu. Mungkin karena masih pagi kali ya. Sampai disatu titik, Harmi langsung memeluk gue erat banget dan tanpa babibu langsung mencium bibir gue dengan lembut, tapi bersemangat.

“Mi apa-apaan sih lo?”

“Gue kangen banget sama lo kak. Beneran deh. Maaf ya gue jadi keceplosan gini. Hehehe.”

“Aduh Mi, Mi. lo mah ada-ada aja. Kalau ada yang liat terus lapor ke Tahir gimana? Kan gue nggak enak Mi.”

“Gue pilih spot disini karena gue tau persis nggak akan ada yang kesini kak.”

“Waduh terus mau ngapain lagi kita kesini? Udah ya, kan udah dicium tadi.”

Quickie aja kak. Ya?”

“Hah? Nooo. Gue nggak mau Mi. lo gila amat sih dari dulu. Nyuri-nyuri kesempatan aja.”

Please…..”

“Nggak Mi.”

Tarik ulur negosiasi gue dengan Harmi akhirnya memutuskan kalau hanya blow aja, sedikit grepe-grepe,saling cium tengkuk, leher, ke dada dikit juga. Rasanya masih seperti dulu. Aduh Harmi ternyata nggak berubah. Masih aja kayak gini kalau punya mau. Kami melakukannya sebentar aja, nggak lama. Lalu setelahnya kami kembali ke arena final ospek yang ada dekat sungai. Pos alumni ada dekat sana kebetulan. Disana ternyata udah ada beberapa teman sekelas gue yang datang. Gue bergabung dengan mereka dan berpisah dengan Harmi. Harmi sangat sumringah dengan kejadian tadi. Gue malah merasa sangat bersalah dengan Dee.

Jelang makan siang, acara terus berjalan dengan lancar. Tapi ada hal yang kurang enak dan menurut gue merusak suasana. Keket nyamperin gue di pos alumni yang banyak banget angkatan gue yang udah datang disitu.

“Ja, please, we need to talk. Just gimme a minute.”

“Kan semua udah jelas Ket, jangan pernah nengok lagi kebelakang.” Kata gue tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku mau minta maaf.” Kata Keket agak keras yang menyebabkan semua mata sekarang tertuju ke arahnya.

“Oke, kita pindah dari sini. Jangan ngobrol disini.” Kata gue.

Kami lalu naik agak keatas dari pinggiran sungai. Kami jalan beriringan dalam diam dan sesekali gue memegang tangannya dan membantunya ketika dia agak kesusahan untuk mendaki jalan yang agak menanjak dan curam atau licin. Gue mencium aroma Bvlgari Amethyste yang sangat menyegarkan disiang hari yang terik itu dari tubuhnya.

Gue mencoba menahan supaya nggak larut lagi dalam keadaan sebelum dia memberitahu akan menikah. Gue mencoba untuk sedingin mungkin dan nggak menunjukkan raut senang karena bertemu kembali dengannya.

“Aku kesini emang mau nyari kamu Ja.”

“Oke.. terus?”

“Aku mau minta maaf lagi atas semua yang pernah aku lakuin selama ini ke kamu.”

“Kan udah dimaafin. Apalagi coba?”

“Aku. Aku sangat nggak nyaman dengan keadaan ini Ja.”

“Nggak nyaman gimana?”

“Kamu bayangin ketika hati ini Cuma ada buat kamu, sementara tiap hari aku bangun pagi bersama orang yang bahkan nggak pernah aku cintai Ja.”

“Terus?”

“Iya, aku nggak nyaman ngejalanin ini Ja.”

“Eh, kamu itu baru beberapa bulan aja nikah sama Mas Shega. Ya butuh penyesuaian lah.” Kata gue ketus.

“Kamu bisa nggak sih kalau ngomong itu liat mata aku? Biasa aja bisa kan ngomongnya juga nggak usah ketus sama aku.” Keket menyadarinya.

“Kalau aku maunya kayak gini gimana? Mau udahan aja ngomongnya?”

“Kamu udah berubah ya Ja.”

“Berubah? Heh, kamu yang udah bikin aku kayak gini Ket. Sekarang kamu mau bermanis-manis lagi dateng ke aku, ngobrol seolah nggak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dan enak banget main minta maaf tanpa mikirin efek yang ditimbulin karena kebrengsekan kelakuan kamu itu ke aku.” Gue cukup emosi.

“Bermanis-manis? Aku nggak bermaksud mau kembali kekehidupan kamu Ja. aku Cuma mau minta maaf.”

“Iya udah, dimaafin. Terus mau apa lagi sekarang?”

“Iya, aku emang pantas kamu giniin Ja. Yang kamu harus tau, cinta aku nggak pernah berubah sedikitpun buat kamu.”

“……..”

Gue diam mematung sejenak setelah mendengar pernyataan tersebut. Apa iya Keket masih mencintai gue? dengan keadaan dia yang sekarang udah jadi istri orang, masih berani dia bilang kayak gitu? Udah gila ini Keket. Akhirnya gue memutuskan untuk menjauh aja dari dia.

“Aku nggak akan bisa untuk membalas cinta kamu lagi Ket. Selama kamu masih sama Mas Shega, itu sangat mustahil. Kasian Mas Shega Ket.”

“Aku tau situasinya nggak banget saat ini. Aku juga Cuma mau kamu tau,kalau cinta aku nggak pernah berubah sampai sekarang sama kamu.”

“Nanti juga berubah kalau kamu bisa menerima kenyataan kalau suami kamu itu Mas Shega bukan aku.”



Belum sempat kami melanjutkan obrolan, dari bawah sana terjadi kehebohan. Ternyata salah satu peserta ospek hanyut terbawa arus. Endy yang mencoba menolong dan langsung menceburkan diri ke sungai ternyata juga nggak berhasil menolong junior kami. Akhirnya gue memutuskan untuk langsung turun dan menceburkan diri ke sungai. Ada beberapa senior lain juga yang turun.

Saat sudah berhasil naik ke darat, mereka berdua malah jadi orang yang harus ditolong. Ternyata si Endy itu spontan aja masuk ke air karena panik melihat salah satu peserta yang hanyut dan minta tolong. Dia nggak tau kalau ternyata sungai tersebut cukup dalam, daaan, Endy nggak bisa berenang. Jadilah dia juga ikutan hanyut alih-alih mau nyelametin junior kami. Hal ini selalu menjadi pembicaraan lintas angkatan sampai sekarang yang menurut kami berujung menjadi hal lucu dan layak dikenang ketika si Endy sok-sokan mau nolong ternyata nggak ngaca dulu kalau dirinya ini sebenarnya nggak bisa berenang. Hahaha.

Momen ini juga yang berhasil menjauhkan gue dari Keket. gue bertemu Keket lagi setelah final ospek selesai dan kami saling mengakrabkan diri. Disana ada Keket, Harmi dan juga Dee berbaur dalam satu kebersamaan dan kekompakan antar angkatan di jurusan kami. Menjelang pulang, Dee sempat nyamperin gue dulu.

“Zi, mantan kamu cantik banget. Aku aja yang cewek suka banget ngeliatnya. Beneran deh. Bikin aku jadi minder.” Kata Dee.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 27 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
anasabila 
KASKUS Plus
ada aroma pebinor...... emoticon-Big Grin emoticon-Ngacir
profile picture
Martincorp
kaskus addict
Pagi2 bang ija udah ngasih multivitamin sama skinker nih buat harmi wkwkwkwkwkwk

Neng keket kayaknya dijodohin nih suaminya, jd terpaksa putusin bang ija, dan skrg dia kengen pengen dikasih multivitamin lagi dr bang ija

BTW ane jadi iri sama ente bang ija hahahaha
Koleksi cewek ente lebih banyak wkwkwkwk
profile picture
laynard22
kaskuser
Wadiiiiaaaw... Keket itu cantikny maksimal ya... Bs speechless kali ane.. kalau ketemu Doi... smpe skelas Olivia Jansen aja smpe terkesima... Menang banyak lo Ja... wkwkwkw..
profile picture
deawijaya13
kaskus holic
Ninggal sempak doloeeee. Baru baca wuihhh panjang kek nyaaa..

Oh keket ..my idola
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di