KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9871908012ae4b5b2a41e3/cinta-dua-dunia-wanita-di-balik-cadar

Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar


Pict by @agungdar2494












Prolog




Sepoi angin dingin menusuk jiwa dalam kebekuan. Barbalut malam bertaburkan bintang-bintang, duduk di tepian taman berhiaskan berjuta warna. Bersimpuh menatap tingginya langit malam. Air mata terjatuh mengaliri pipi hingga ke hati. Kosong menatap ribuan mil cahaya gelap.




"Kamu di sini, Zhe?" tanya seseorang dari samping.

"Iya, lagi pingin di sini," jawab Zhe singkat tanpa menoleh.

"Udah malam, kamu nggak pulang?" tanyanya sekali lagi.

"Sebentar lagi, Ve. Temani saja aku di sini," pinta Zhe.

"Sebenernya aku mau ngajak kamu makan, tapi kalau maunya di sini ya nggak apa-apa," jawab Ve.



Berdua hening menikmati malam yang semakin tenggelam. Aroma bunga menggoda penciuman hidung. Begitu syahdu ditemani seorang sahabat sekaligus saudara. Saudara tak harus sedarah bukan? Zhe dan Veronica adalah sahabat sejak mereka kecil, lebih kental daripada ikatan sedarah.




"Udah malam, Zhe. Yakin masih pingin di sini?" tanyanya menyelidik.

"Baiklah, aku menyerah. Mari kita pulang." Bangkit dari tempat duduk berbahan besi bercorak hitam dengan hiasan ukiran di pinggir.


Berjalan menyusuri gelap malam dengan penerangan yang semakin terang.



"Cepat pakai helmnya, malah ngelamun terus," ucap Ve membuyarkan lamunan.

"Eh, udah sampai parkiran. Oke deh, mana helmnya?" tanya Zhe.



Setapak demi setapak jalan telah dilalui, jarum jam waktu terus berputar. Akhirnya tiba di kediaman kos bertembok coklat dengan pintu sederhana, kamar ukuran 3x3 menjadi tempat paling ternyaman untuk melepas penat dan lelah seharian berutinitas.


"Zhe, aku pulang dulu. Besok ke sini lagi, kamu jangan kemana-mana," kata Ve dari luar pintu kos.



Suara motor Ve semakin lama semakin menjauh hingga ditelan hening malam. Sepertinya malam sangat panjang. Terbaring tubuh di atas tempat tidur berseprai ungu dengan lipatan-lipatan manis disetiap ujung.



Dada membuncah penuh deru amukan ombak mematikan. Mencoba menutup kelopak mata tapi tetap tak sanggup. Bayangan itu, bayangan hitam yang selalu menghantui bertahun-tahun hingga mematikan seluruh urat saraf panca indera. Bahkan masih membekas indah diseluruh bagian raga dan jiwa.



Sekali lagi, Zhe mencoba memejamkan mata berharap malam menenggelamkan segala kegundahan jiwa. Melupakan semua hingga berharap amnesia atau setidaknya matilah jalan paling indah. Namun Zhe tidak selemah itu, masih banyak orang yang menyayanginya daripada yang ia sayangi.




Tik tok tik tok




Dentuman suara jarum jam terus bergulir, tapi mata tetap segar menatap langit-langit.


"Sepertinya sudah saatnya untuk sholat malam, siapa tahu kegelisahan hati akan menghilang," ucap Zhe.


Bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh diri sebelum berserah diri kepada Sang Maha Pencipta.


"Ya Allah, berikan aku sebuah petunjuk untuk pilihan hidup yang aku jalani. Jika dia memang jodohku, dekatkan sedekat mungkin dan rubahlah ia menjadi yang paling terbaik. Namun jika tidak, berikan jalan yang terbaik untuk kehidupan kami," senandung do'a Zhe yang terpanjatkan di setiap hajat.


Zhe merasakan ketenangan setelah mengutarakan keluh kesah hidup yang di alami. Zhe hanyalah manusia yang tidak mampu bercerita, tapi juga tidak mampu memendam segala derita.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 32 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indahmami

Part 2

"Hay, Rul. Kamu di sini?" sapa gadis itu dengan senyumnya indah.



Lalu, ia masuk ke tenda lesehan, berjalan mendekat ke tempat duduk Irul dan Zhe, gadis cantik dengan rambut lurus sebahu mengenakan baju yang staylish.



"Kita ketemu lagi, Rul. Boleh gabung bareng kalian?" tanyanya.

"Iya, silahkan aja, Mey."


Hmm.. Siapa sih dia? batin Zhe.



"Makasih," ucapnya menyusul duduk. "Hay, namaku Meyra. Kamu?" tanya Meyra pada Zhe.


"Nur Azizah, biasa dipanggil Zhe."


"Salam kenal, yah. Btw, kalian dari tadi di sini?" tanya Meyra ke Irul.


"Lumayan sih, kita udah pesan duluan. Kamu nyusul aja."


Atmosfer mulai berubah pengap dan sesak, Zhe mulai tidak nyaman dengan kehadiran Meyra yang tersenyum ngobrol dan mencuri pandang ke Irul. Sedangkan Zhe diam mematung sesekali menimpali sepatah dua kata, Ia merasa menjadi obat nyamuk bagi mereka berdua. Kencan makan malam yang semula romantis berubah tragis, miris sekali.


"Rul, kamu pindah ke kota ini? Ciyee ... nyusul aku yah?" tanya Meyra genit.


"Enggak, Mey. Pindah karena orang tuaku buka bisnis baru di sini," jawab Irul sesekali melirik ke Zhe. Irul merasa Zhe semakin diam dan hanya menyimak. Hati Irul mulai gelisah.


"Masa sih? Kirain nyusul aku buat balikan lagi," ucap Meyra dengan tertawa.


"Mana mungkin, jangan halu kamu Mey," kilah Irul.


"Ya kali, siapa tahu aja," ucap Meyra acuh.


Zhe ingin sekali pergi dan menghilang dari tempatnya duduk, rasanya malas melihat drama sepasang kekasih yang bertitel mantan. Sebisa mungkin Ia mengatur nafas agar tidak terlihat jengah.



"Rul, mau ke kamar mandi dulu. Kalian lanjutin aja ngobrolnya," pamit Zhe ke belakang.


Zhe melangkah pergi meski malas, kalau bisa sih mending pulang. Dadanya terasa terbakar, panas sekali sampai-sampai ingin berendam di bongkahan es.


"Rul, dia siapa?" bisik Meyra.

"Zhe, kalian kan udah kenalan tadi."

"Bukan gitu maksudku, maksudku dia siapa? Pacar kamu?" tanya Meyra menyelidik.

"Kalau iya, kenapa? Enggak juga kenapa?" tanya Irul balik.

"Dih, nanya gantian nanya. Jawab aja, susah amat," gerutu Meyra kesal.


"Hahaha ... kamu nggak pernah berubah, Mey. Cemburuan, masih sama aja," goda Irul.


"Ish, kamu masih nyebelin. Udah jawab aja, dia kelihatan bad mood lihat kita," jelas Meyra.

"Masa sih?" tanya Irul.

"Beneran, Rul. Kalian pacaran yah?" Selidik Meyra memicingkan mata.

"Hmm ... bisa dibilang gitu, bisa enggak, Mey. Gimana yah? Zhe nggak pernah nolak atau pun nerima cintaku. Yah, ngalir gitu aja. Dibilang pacaran, kita nggak terikat status. Dibilang nggak pacaran, hati kita terpaut," jelas Irul.

"Oh, hubungan tanpa status. Terus gimana di sekolah baru? Pasti dirimu jadi artis, secara di sekolah lama kita aja begitu. Khoirul dengan sejuta fansnya," kata Meyra.

"Yah, gitu deh. Hahahaha...." tawa Irul menggema.


Perbincangan mereka berdua terus berlanjut sampai Zhe datang.


"Sory lama. Rul, pulang sekarang atau nanti? Udah malam, takut Ayah marah," tanya Zhe.

"Emang sekarang jam berapa?" tanya Irul.

"Jam 9 malam," jawab Zhe melihat jam di pergelangan tangan kirinya.

"Ya udah, kita pulang. Takut kena marah Camer juga," celotehnya melucu.

"Ciye ... yang udah jadi calon mantu. Btw, makasih udah boleh makan bareng kalian," ucap Meyra.

"Sama-sama, Mey. Kalau ada waktu bisa makan bareng lagi," kata Irul.

"Pasti dong, ketemu sekali aja belum ngobatin kangenku sama kamu, Rul," ucap Meyra genit sambil melirik Zhe dari ekor matanya.

"Semoga ya, Mey. Seneng bisa kenalan sama kamu," kata Zhe, sedikit kesal tapi sebisa mungkin menutupi.



Angin malam semakin dingin menusuk tulang, perjalanan yang terasa lama tidak seperti biasanya. Irul melajukan motor sport miliknya dengan pelan, menikmati indanya malam bertabur bintang dengan seseorang yang tersayang.


Zhe hanya diam dibalik punggung kokoh Irul, memeluk pinggang kekasih yang ia sayang. Sejujurnya ingin ada status diantara mereka berdua, tapi Zhe memilih untuk seperti ini saja. Jika Irul bersungguh-sungguh tentu tidak masalah, meski ada atau tanpa status sekalipun.




"Zhe, besok minggu ke pantai yuk!" ajak Irul memecah kesunyian.

"Pantai mana?" tanya Zhe singkat.

"Parangtritis jogja, kita jalan-jalan ke sana. Nanti aku deh yang izin ke Ayah lagi," ucap Irul berlobi.

"Hmm...."

"Mau yah? Mau dong!" pinta Irul.

"Tapi kamu yang ngomong ma Ayah," kilah Zhe.

"Iya deh, beres itu," kata Irul senang.


Senandung malam mengiringi perjalanan dua sejoli saling merajut kasih. Biarlah malam yang menjadi saksi bagaimana kisah cinta mereka berdua sampai tibalah di halaman rumah. Penerangan lampu yang meremang khas rumah dusun sederhana.



"Aku antar masuk, sekalian minta maaf ma Ayah mulangin anak gadisnya kemalaman," kata Irul.



Berdua melewati luasnya halaman dengan penerangan yang meremang, suasana begitu hening karena di kampung. Semua pintu tetangga tertutup rapat, hanya beberapa orang yang terlihat berjaga di pos ronda.




Tok tok tok



Suara ketukan terdengar dari pintu depan. Kemudian terdengar pintu terbuka.



"Baru pulang, Nduk?" tanya Ayah.

"Nggih, Yah. Maaf Zhe baru pulang," jawab Zhe.

"Bukan salah Zhe, Yah. Irul yang slah, Irul minta maaf karena kemalaman ngantar Zhe pulang. Pas makan nggak sengaja ketemu teman, kita ngobrol sampai lupa waktu," jelas Irul.


"Yowes, nggak papa. Kamu masuk, Nduk. Biar Masnya bisa pulang. Makasih ya, Mas," pinta Ayah, Zhe pamit pada Irul dan Ayah. Kemudian masuk ke dalam rumah.



"Nggih, sama-sama. Izin pulang, assalamualaikum," ucap Irul pamit setelah memcium tangan Ayah.


"Waalaikumsalam," jawab Ayah.



Irul memutar kunci kontak menghidupkan motor sport miliknya. Deru motor membelah keheningan malam. Berjalan keluar melewati halaman rumah dan semakin lama semakin menghilang ditelan kegelapan malam.






Bersambung......
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indahmami
profile picture
bekticahyopurno
kaskus maniac
Cakep, nih, belum dipanjangin ya? Oke deh 🤭🤭🤭
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di