CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... /
Stories from the Heart
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread//-

SEIKAT DUSTA

SEIKAT DUSTA



(Part 1)

Sudah dua tahun Dinar menjadi tulang punggung keluarga, setelah kecelakaan parah menimpa sang suami yang membuatnya hanya bisa duduk di atas kursi roda. Dia mengelola sebuah toko bunga, pemberian dari Ibu mertua.

Setiap hari, Dinar menjalani rutinitas dengan ikhlas. Mencoba menjadi istri yang setia untuk suami, ibu yang baik untuk sang putri, juga menantu yang selalu dibanggakan oleh mertua.
Jenuh?
Pasti.
Sebagai manusia biasa, kejenuhan kerap menghinggapi terutama bila malam datang, saat suami telah terlelap dan mata tak jua terpejam. Satu hal yang bisa mengusir rasa sepi adalah dengan berselancar lewat dunia maya, dunia tanpa batas yang bisa membawa ke setiap tempat yang bahkan tak pernah dia lihat atau dikenal sebelumnya.

Malam itu, saat Dinar sedang asyik stalking di akun medsos-nya, dia mendapat chatt dari akun asing.

'Hai, Dinar. Masih ingat aku?'

Dinar mengernyitkan dahi, kemudian meng-klik profil akun tersebut dan mulai meng-scroll pemiliknya, seorang wanita. Agak lama dia terdiam, mencoba mengingat wajah dalam gambar itu hingga kemudian tersenyum dan buru-buru mengirimkan balasan.

'Sofi?'

Dia melirik suami yang telah terlelap di sebelahnya.

'Iya. Apa kabar?'

'Baik. Kamu?'

'Baik juga. Gila! Sudah berapa tahun ini? Kita dekat loh, ternyata. Ketemuan, yuk. Kangen ....'

Dinar tak langsung membalas chatt itu, hanya menghela napas berat dan sekali lagi menatap suami yang telah terlihat tenang dalam tidurnya.

'Aku ijin suami dulu, ya? Besok aku kabari lagi'

'Oke. See you.'

'Ya.'

Dinar mematikan ponsel, meletakkannya di atas meja kemudian kembali rebah di sisi Hardian, suaminya.

Cahaya rembulan, membias masuk dari kaca jendela yang tirainya dibiarkan terbuka, sesekali menyinari wajah tampan itu, tenang. Perlahan mengusap wajah itu, kemudian beringsut mendekat dan mengecupnya lembut.

"Selamat tidur, Mas," bisiknya.

Lalu rebah kembali dan mencoba memejamkan kedua matanya, berharap bisa mengulang kembali masa indah dulu meski hanya lewat minpi.

___

Paginya, saat Dinar telah selesai mengerjakan tugas dapur dan mulai bersiap untuk berangkat ke toko. Dia kembali menghampiri suaminya yang telah rapi dan duduk di depan televisi, menonton acara berita pagi.

Seperti biasa, Ibu mertua akan segera datang dan menemani Hardian sampai dia pulang bekerja sore hari nanti.

"Mas," Dinar duduk berjongkok di depan kursi roda itu, meraih kedua tangannya.

Hardian hanya diam, membalas tatapan wanita yang dicintainya itu dengan hangat.

"Aku ada janji ketemu dengan teman lama. Jadi mungkin agak pulang terlambat. Boleh, Mas?" Pelan dia mengutarakan niatnya dengan hati-hati.

Pria itu hanya mengedipkan kedua matanya, tersenyum dengan lembut.

"Sofi, teman SMA dulu. Cuma sebentar," lanjutnya lagi.

Kali ini Hardian mengangguk dan membalas genggaman tangan istrinya meski dengan gerakan yang lemah, tapi sudah cukup membuat Dinar tersenyum senang.

"Makasih, Mas."

Cup!

Satu kecupan mendarat di pipi Hardian, bersamaan dengan datangnya seorang wanita tengah baya dari arah pintu. Sedikit berjalan cepat menghampiri mereka.

"Macet banget jalannya. Mami datang terlambat, Nak. Maaf," serunya agak terengah.

"Nggak apa-apa, Mi," sahutnya seraya mengusap sisa lipstik yang sedikit menempel di pipi suaminya.

Mami meletakkan sebuah bungkusan di atas kursi dan melangkah mendekat, mengusap bahu anak semata wayang yang hanya diaa menatapnya.

"Sudah sarapan?"

"Sudah, Mi. Tolong titip Mas Har, ya. Dinar berangkat dulu."

"Iya." Wanita yang masih ayu itu mengangguk.

"Oh, iya, Mi. Mungkin nanti saya pulang agak malam, ada janji."

"Klien?"

"Teman, Mi. Perempuan, kok." Dinar tersenyum, mencoba meyakinkan Mami yang menatapnya curiga.

"Sudah ijin suamimu?" Dia melirik ke arah Hardian.

"Sudah. Dinar berangkat sekarang, Mi."

"Hem, hati-hati, Nak." Dia membiarkan tangannya dicium sang menantu.

Dinar mengangguk kemudian beralih mencium tangan suaminya sebelum pergi dengan langkah cepat karena hari telah beranjak siang.

Hardian hanya menatap kepergian Dinar dengan hati yang sedih, seandainya saja kecelakaan itu tidak merenggut semua yang dia miliki, pasti sekarang dialah yang akan pergi setiap pagi untuk bekerja demi keluarga ini.

"Makan buah, ya. Mami tadi sudah kupasin."

Pria itu tak menyahut, hanya memperhatikan ibunya mulai mengeluarkan beberapa kotak berisi potongan buah dan beberapa makanan lain dalam wadah.

Pedih hatinya melihat tangan yang tampak mulai keriput itu menyuapi dengan telaten, tak bosan merawat dan melayaninya di saat sang istri terpaksa harus pergi untuk bekerja.

"Kita beruntung mempunyai Dinar, Nak. Istrimu itu benar-benar bisa di andalkan," bisiknya lembut.

Hardian hanya tersenyum, karena merasa menjadi pria paling beruntung memiliki Dinar. Istri yang tak pernah meninggalkannya meski keadaan kini telah berubah.

____

Seharian mengurusi toko, mengemasi bunga yang telah layu untuk disetorkan ke pengepul, juga sesekali ikut mengantarkan pesanan bunga saat diburu-buru. Hal yang biasa bagi Dinar yang dibantu oleh seorang pegawai, Santi. Mereka cukup pintar berbagi peran jika toko sedang ramai, pun jika pesanan agak sepi, mereka akan menghabiskan waktu dengan sedikit bersantai.

Dinar menggembok pintu, mengeceknya kembali sebelum memasukkan kunci itu ke dalam tas.

"Saya pulang dulu, ya, Bu." Santi berpamitan.

"Bawa motorku saja, San. Aku ada janji hari ini, jadi kayaknya naik taksi." Dinar mengangsurkan kunci motor yang langsung diterima Santi.

"Baik, Bu. Kalau begitu saya duluan," sahutnya tersenyum.

"Iya. Hati-hati, San."

Gadis itu hanya mengangguk dan sejurus kemudian, pergi dengan motor matic yang sering digunakan untuk mengantarkan bunga ke alamat pelanggan.

Dinar melirik arloji di tangannya, kemudian bergegas meninggalkan toko, berjalan menuju jalan besar di depannya, menyeberang dan menyetop sebuah taksi.

Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, memeriksa kembali chatt dari Sofi sahabatnya, kemudian memberitahukan alamat yang dia tuju kepada supir taksi. Sebuah restaurant mahal yang belum pernah dia kunjungi, tapi beberapa kali pernah ke sana untuk mengantarkan bunga.

Sedikit ragu, Dinar memasuki area restaurant. Suasana tidak terlalu ramai, meskipun ada beberapa meja yang penuh oleh pelanggan. Dilihatnya kembali ponsel di tangan dan bersiap untuk menelepon, bersama dengan seruan dari arah lain memanggil namanya.

" Din! Sebelah sini ... Dinar!"

Dinar menoleh ke arah suara dan melihat seorang wanita cantik bergaun hijau lumut melambai ke arahnya.

Dengan bergegas, dia berjalan mendekat. Bahkan temannya itu justru berlari menyongsong dan memeluknya dengan erat.

"Dinaarr ... kangen banget. Apa kabar kamu?"

"Baik, Sof. Kamu makin cantik. Senangnya bisa ketemu lagi."

Mereka berpelukan agak lama, bahkan menangis meskipun kemudian tertawa terbahak dan membuat beberapa pengunjung lain sempat memperhatikan.

"Tuh, jadi lebay, kan? Malah nangis begini. Ayo duduk, Din." Sofi mempersilakan temannya duduk.

Dinar hanya mengangguk saat menyadari ada orang lain yang juga duduk di meja yang sama.

"Kenalkan, Din. Ini suamiku ... Galang."

"Halo. Saya Dinar," angguknya sembari menjabat tangan lelaki itu.

"Halo." Datar saja, dia menyahut.

"Kebetulan dia ada waktu, jadi sekalian makan di sini. Nggak apa-apa, kan?"

"Oh, ya. Tentu saja, Sof."

"Ayo, duduk. Kita makan dulu." Sofi menyodorkan segelas air putih ke depan Dinar seraya melambai memanggil waiter.

"Kamu mau pesan apa, Din?"

"Apa saja, Sof," sahutnya seraya meletakkan gelas kembali.

"Steak aja, ya? Nggak lagi diet, kan?"

"Enggak." Dinar hanya tertawa mendengar gurauan sahabatnya itu.

Sofi masih seperti yang dulu, cantik dan ceria meskipun agak sedikit cerewet. Bahkan Dinar pernah mengidolakan gadis itu semasa sekolah dulu.

"Kamu kerja atau ...." Sofi tak melanjutkan pertanyaannya.

"Iya. Aku punya toko bunga, tidak terlalu besar. Meneruskan punya mertua," sahutnya.

"Oh, iya. Aku pernah lihat di akunmu. Berapa anakmu, Din?"

"Satu, cewek. Sekolah di luar kota," sahutnya lagi.

"Wah, senangnya. Kami belum dikasih sampai sekarang, Din. Doakan, ya?"

Dinar terdiam, hanya mengangguk saat melihat Sofi mengusap pipi suaminya, tanpa canggung. Entah kenapa hati wanita itu begitu sedih melihat kemesraan mereka, angannya langsung tertuju pada sosok Hardian, sang suami yang kini hanya duduk di kursi roda.

"Oh, iya. Suamimu?" Sofi menatap Dinar, masih dengan senyum manisnya.

Dinar tak langsung menyahut, hanya membalasnya dengan senyuman dan menatap mereka bergantian kemudian beralih meraih gelas bening berisi air mineral.

"Suamiku di rumah. Masih dalam perawatan," gumamnya.

"Sakit?" Sofi terlihat menyesal dan meraih tangan sahabatnya itu, menggenggamnya.

"Iya. Kecelakaan, sudah lama." Lirih dia menyahut.

"Maaf, ya, Din."

"Nggak apa-apa, Sof."

"Mudah-mudahan cepat membaik, ya?"

"Terima kasih."

"Ayo. Makan," ajaknya saat pesanan mereka datang.

Dinar hanya mengangguk, melihat ke arah Galang, suami sahabatnya yang jarang bersuara. Tampak asyik dengan ponselnya, sesekali hanya mendehem saat Sofi meminta pendapatnya, selebihnya diam tanpa menimpali percakapan mereka.

Hampir satu jam mereka berbagi cerita, hingga akhirnya Dinar menyadari kalau dia sudah sangat terlambat untuk pulang.

"Sof, aku pulang dulu, ya? Sudah malam, nih."

"Oh, ya. Jam berapa, sekarang?" Sofi mengangkat sebelah tangannya, menengok arloji, "Aku antar, yuk."

"Ndak usah, Sof. Aku naik taksi saja," sahutnya.

"Jangan gitu,dong, Din. Aku yang mengajakmu ketemu, jadi sudah sepantasnya mengantar pulang. Sekalian kenalan sama suamimu, ya?"

Dinar hanya diam sejenak, memandang wajah suami temannya itu sebentar. Dingin, sama sekali tak melihat ke arahnya.
Sofi tiba-tiba berdiri dan menggandengnya ke luar meninggalkan Galang yang masih duduk.

"Sudah. Ayo, keluar dulu."

Dinar hanya menurut dan mengikuti Sofi berjalan keluar dari restaurant, menuju ke area parkir dan masuk ke sebuah mobil. Tak berapa lama, Galang menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi. Sejurus kemudian, kami melaju meninggalkan tempat itu, berbaur di keramaian jalan ibu kota.

"Ceritakan soal suamimu, bagaimana dia bisa kecelakaan, Din?"

"Mah!" Suara berat itu menyela, dari arah depan.

Sofi menoleh wajah Galang yang tampak tak menyukai pertanyaannya.

"Nggak apa-apa," sahut Dinar saat menyadari ketidak nyamanan itu.

"Tuh! Dinar aja nggak apa-apa, kok. Kita ini sahabatan udah lama, Pah. Rese, deh."

"Itu kurang sopan," gumamnya masih menyetir.

"Ya, sudah. Lupakan saja, Din," sahutnya.

"Itu sudah dua tahun, Sof," Dinar mencoba mencairkan perdebatan kecil itu, kemudian melanjutkan saat sahabatnya menoleh, "Kecelakaan tunggal."

"Oh. Parah?" Sofi menatapnya prihatin.

Dinar hanya mengangguk, dengan memaksakan senyum tipisnya.

"Hemm ... " Dia mengangguk, "Sedikit membaik sekarang, masih rutin terapi dan mulai ada perkembangan."

"Maaf, Din."

"Nggak apa-apa, Sof. Suamiku orang yang tabah, dia tidak mudah menyerah. Mami juga selalu siap membantu saat aku bekerja," sahutnya lagi.

Tiba-tiba dering ponsel mencairkan kesenduan yang sempat terlihat di wajah Dinar. Suara itu dari dalam tas milik Sofi.

"Sebentar, ya?" Sofi menerima telepon dengan agak mengecilkan suara, bahasa Inggris.

Dinar melihat keluar kaca mobil, gerimis. Kenapa tiba-tiba? Padahal seharian tadi cuaca sangat cerah, pikirnya.
Mobil masih melaju dengan tenang, menyibak padatnya kendaraan yang berbaris saling menyusul.

" Pah, turunin aku di depan, ya?" Tiba-tiba Sofi berseru ke arah suaminya setelah mengakhiri percakapan di ponsel.

"Ada apa?" Pria itu menatap dari bayangan kaca.

"Mama harus ke kantor, sekarang. Urgent," sahutnya membenahi sesuatu di dalam tas yang sebelumnya tergeletak di jok depan.

Dinar hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan sedikit bingung. Perlahan mobil itu melambat dan menepi ke kiri jalan.

"Maaf, ya, Din? Lain kali saja ke rumahmu, aku buru-buru. Sudah ditunggu Bos. Suamiku yang akan mengantar."

"Nggak usah, Sof. Aku naik taksi saja," tolaknya juga bergegas turun.

"Tidak-tidak. Mas Galang yang akan mengantarmu, Din. Please ... aku merasa nggak enak kalau kamu harus pulang sendiri." Sofi menahan tangan sahabatnya itu, melarang turun.

"Tapi, Sof."

"Dia nggak galak, Dinar. Aku janji kamu akan pulang dengan selamat." Wanita itu meyakinkan Dinar kemudian berbalik dan mendorrong pintu mobil.

Dinar hanya diam menatapnya keluar dan menutup pintu mobil itu kembali.

Greb!

"Hati-hati ya, Pah. Harus sampai rumah, loh. Bye, Dinar ...." Sofi melambai ke arahnya setelah mencium pria dingin yang masih duduk di belakang kemudi itu.

Dinar hanya tersenyum, menatap sahabatnya itu berlari menyeberang saat jalanan terlihat jeda dan melambai ke sebuah taksi yang kebetulan melintas.

Perlahan mobil pun kembali berjalan setelah taksi yang ditumpangi Sofi meluncur ke arah berlawanan. Bulir bening mulai membasahi kaca dan menghalangi pandangan.

Untuk beberapa lama, mereka terdiam. Sesekalu pandangan bertemu tanpa sengaja saat Dinar menatap bayangan kaca.

"Sebaiknya, saya naik taksi saja, Pak." Dinar memberanikan diri untuk mengutarakan kegundahannya.

Diam memandang bayangan dalam kaca , berharap ada tanggapan. Lagi-lagi hening, tidak ada jawaban, akhirnya melemparkan pandangan ke luar mobil.

"Temani aku minum kopi, ya?" Lirih, hampir tidak terdengar.

Seketika Dinar menoleh menatapnya bayangan wajah pria itu dari bayangan kaca.

Degh!

Jantungnya terasa berhenti berdetak saat beradu pandang dengan mata tajam itu. Namun buru-buru berpaling ke arah lain sedikit gusar.

"Eh!?" Dinar hanya kebingungan dan tak mampu berkata-kata.

Mobil kemudian berbelok, menepi ke halaman sebuah mini market. Dinar hanya memperhatikan saat suami Sofi itu keluar mobil, menutupnya kembali dan berlari kecil menerobos gerimis, mendorong pintu kaca bangunan berlampu terang itu.

Gerimis semakin deras, malampun semakin merangkak menjemput rembulan yang enggan beranjak dari persembunyiannya. Dinar terlihat menikmati lelehan air yang memercik di luar kaca.

Apa yang aku lakukan? Sedang apa disini? Seperti tersadar, Dinar menepuk kepala sendiri dan mencari tas tangan yang sebelumnya dia letakan di bangku samping.

"Sepertinya mau hujan." Tiba-tiba Galang telah duduk di depannya, menyodorkan dua cup kopi panas, "Tolong, pegang sebentar. Kita cari tempat yang agak nyaman," lanjutnya.

Lagi-lagi Dinar hanya diam, menurut saja saat mengambil alih gelas dari tangan pria itu.

Mobil kembali melaju, menerjang gerimis yang mulai menjadi rintik hujan. Hanya ada hening diantara keduanya, sesekali pandangan mereka bertemu lewat bayangan kaca tapi kemudian segera berpaling.

"Tolong turunkan saya di halte depan, Pak." Entah darimana keberanian itu muncul, Dinar ingin segera terlepas dari situasi yang membuatnya canggung ini.

Tanpa menjawab, Galang pun mengurangi laju mobil, perlahan berhenti di sebuah halte di kiri jalan. Pria itu mematikan mesin dan menatap wanita di belakangnya dari bayangan kaca.

Dinar menyodorkan gelas kopi yang sejak tadi di pegangnya, Galang diam sebentar kemudian menerima gelas itu. Setelah mengangguk sebagaibtanda terima kasih, wanita itu bergegas keluar dari mobil, sedikit berlari menuju halte. Dia pun duduk sembari mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.

Sepi, hanya rintik hujan yang terdengar rancaksyahdu menghias malam. Mobil Galang masih di tempat semula. Tak berapa lama, dia tampak turun, dengan santai berjalan menghampiri wanita itu, duduk disebelahnya. Dinar hanya menoleh saat pria itu menyodorkan segelas kopi padanya.

"Hampir dingin. Sayang kalau di buang," gumamnya lirih.

Dinar seperti terlena dengan suara berat itu, tangannya menerima gelas itu kemudian menyesapnya perlahan.

Hening lagi, tampak beberapa mobil yang lewat dan berlalu. Semilir angin dingin menghembus, menghantarkan kebisuan yang menyimpan sejuta terka dalam hati keduanya.

Tak terasa, gelas pun telah kosong, saat sebuah mobil taksi berhenti di depan mereka.

Din!
Supir taksi membunyikan klakson, membuyarkan Dinar dari lamunannya.

Sedikit kaget, dia sontak berdiri dan meraih tas yang semula tergeletak di dekatnya.

"Terima kasih kopinya, Pak. Saya permisi," pamitnya agak membungkuk.

Dinar berbalik dan berjalan mendekati taksi, tapi kemudian langkahnya tiba-tiba berhenti.

Degh! Degh!

Seperti ada hawa panas yang mengalir di tangannya, perlahan menghangatkan sekujur tubuh.
Apa ini?
Sudah lama dia tak merasakan sensasi ini.

Dinar diam terpaku, perlahan menoleh menatap tangannya, ada tangan lain disana, menggenggam dengan erat, terasa hangat, benar-benar hangat.

Tak ada kata yang terucap, hanya ada tatapan sayu yang kian meredup. Seperti rintik hujan yang mengiringi taksi, perlahan pergi meninggalkan halte dan dua hati yang terdampar sepi.

(bersambung)



Indeks link :

link lengkap
Diubah oleh alunaziya
Thread sudah digembok

SEIKAT DUSTA

(part 31)

Hampir satu jam dia hanya diam di dalam mobil, menyandarkan kepala dan mencoba terlelap meski kenyataannya tetap terjaga meski kedua mata terpejam. Saat malam seperti inilah yang paling membuat hatinya hancur, ketika hanya bisa memasuki kamar bila sang istri telah tertidur. Karena jika tidak, maka ia harus siap mendapati wanita yang dia cintai itu duduk meringkuk ketakutan di sudut peraduan.

Ketukan kecil dari luar kaca membuatnya membuka mata. Rere telah berdiri menunggu di dekat mobilnya. Lelaki itu tersenyum dan segera keluar kemudian mengikuti langkah putrinya menuju teras.

"Ibu sudah tidur?" tanyanya saat duduk di kursi rotan, berseberang meja dengan Rere.

"Sudah." Singkat gadis itu menjawab.

"Nenek?"

"Sepertinya belum tidur. Rere lihat lampu kamar masih menyala. Mungkin sedang membaca buku," jawabnya sesaat setelah mendengkus berat. Raut sendu kian menggelayut saat menatap ayahnya yang tampak murung. "Ayah ... baik-baik saja?" tanyanya lirih.

"Hmm ...." Pria itu hanya mengangguk pelan. "Ayah baik-baik saja," gumamnya mengulang perkataan sang putri.

"Ibu pasti akan sembuh, Yah. Bersabarlah untuknya. Rere janji. Ibu akan segera pulih seperti dulu." Bergetar suara gadis itu saat Hardian segera berpaling dan memilih untuk tidak melihat bening di kedua matanya. "Bersabarlah ... Ayah," lirihnya lagi.

"Kita sudah sepakat-- untuk tidak membahas ini lagi--, Rere. Ayah sudah katakan untuk tetap bersama dengan kalian," tukasnya, masih berpaling. Bahkan saat Rere mulai terisak dan menutupnya dengan telapak tangan, ia masih bergeming. "Ibumu tidak akan suka melihatmu seperti ini," gumamnya.

Hardian membiarkan keheningan yang mengiringi isak lirih Rere, semakin lamat. Ada rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak memeluk putri kesayangannya itu. Diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Ia menyadari betapa berat beban yang harus dihadapi oleh Rere, jauh berlipat dari apa yang kini dia rasakan. Setidaknya di usia yang begitu muda.

"Ibu begitu senang saat melihat banyak orang. Sepertinya ... kita memang harus sering membawa Ibu ke luar, Ayah. Agar tidak terlalu jenuh di rumah terus," ucapnya saat mulai tenang meski dengan suara serak.

"Kau mengajak Ibu ke luar?" tanya Hardian dengan tatapan gamang.

"Iya." Gadis itu mengangguk menatap ayahnya dengan sebuah senyum yang merekah. "Ibu sangat menikmati saat Rere ajak jalan-jalan di mall, Ayah. Tempat Ibu dulu pernah bekerja," lanjutnya lagi.

"Mm ... mall?" tanyanya sedikit gusar. "Ka-- kapan?"

"Siang tadi, Ayah. Sayangnya ... baju Ibu ketumpahan kopi, jadi kami buru-buru pulang."

"Oohh ...." Hardian menyentuh tengkuknya yang sempat dingin saat membayangkan bagaimana jika gadis itu melihatnya dengan Diana pada saat yang sama. "Ahh-- sudah larut. Kamu tidurlah, Nak."

Rere menatap wajah lelah ayahnya sebentar lalu berdiri. "Rere tidur dulu. Ayah juga segera istirahat, ya?" ucapnya sebelum pergi meninggalkan Hardian yang juga mengangguk tanda mengerti.

Perlahan, ia pun berjalan masuk dan menuju ke kamar di mana Dinar telah tertidur. Hati-hati pria itu membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Dulu ... istrinya yang selalu melakukan hal yang sama saat ia hanya terbaring tanpa bisa melakukan apa-apa.

Dia duduk di tepi tempat tidur dan menatap istrinya dalam-dalam. Sesekali jemarinya menyentuh pipi wanita itu dan membelainya dengan lembut.

"Bagaimana harimu hari ini, Sayang? Apa kau bersenang-senang bersama Rere?" bisiknya lirih saat menatap wajah yang terlelap itu. Efek obat yang rutin dia konsumsi, membuatnya bisa beristirahat dengan teratur. "Maafkan aku, Dinar ...." Hampir tak terdengar saat ia menggumam.

"Hardi ...." Panggilan itu membuatnya menoleh ke arah pintu. Mami. "Ikut mami sebentar," ajaknya sebelum berbalik kembali meninggalkannya.

Sekali lagi, ia menatap wajah Dinar untuk beberapa saat kemudian beranjak pergi dengan langkah tertatih. Mungkin Diana telah menghubungi ibunya dan mengadukan pertemuan mereka tadi siang. Bagi Hardian, ini justru mempermudah alasan untuk bertanya lebih jauh pada sang ibu.

"Duduk!" seru Mami menyuruh putranya untuk duduk di depannya. Mereka berada di ruang kerja yang sering dipakai oleh Hardian sebagai tempat tidur juga.

"Ini sudah malam. Kenapa Mami belum tidur?" tanyanya setelah duduk dan menatap ibunya yang terlihat cemas dan sedikit gugup.

"Mami perlu menjelaskan semua agar kamu tidak salah paham, Hardi."

"Soal apa? Diana?" Mami hanya terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Cepat atau lambat, Hardiian memang akan mengetahuinya. "Sejak kapan perempuan itu mengendalikan Mami? Berapa banyak yang-- telah kita ambil darinya, Mih? Kenapa harus dia?" cecarnya dengan menahan diri untuk tidak bersuara tinggi.

"Ini semua demi kamu, Hardi. Demi Rere ... dan juga istrimu yang telah membuat hidupmu jadi berantakan seperti ini. Mami tidak punya pilihan selain menerima kebaikan Diana. Dia tidak pernah perhitungan saat membantu kita, Hardi ...."

"Aku tidak sebodoh itu, Mami. Diana bukan orang seperti itu."

"Lalu apa yang harus Mami lakukan? Membiarkan kamu cacat seumur hidup dan melihat Rere gila karena harus kehilangan ibunya yang tidak berguna itu?!"

"Mami!"

"Jangan berteriak! Kau lupa berapa kali mami harus membawamu ke luar negeri untuk memperbaiki suara dan kakimu? Dari mana mami mendapatkan semua biaya yang tidak sedikit kalau tidak Diana yang menanggungnya? Dia hanya ingin melihatmu sembuh, Hardi. Tidak lebih," sahutnya dengan sesekali mengusap basah di wajahnya yang telah keriput.

"Mami ...."

"Tiga tahun mami bertahan demi kamu, Nak. Kalau mami mau, bisa saja kubiarkan istrimu berakhir di rumah sakit. Kau tahu siapa yang mau menjadi pendonor saat dia butuh darah? Diana, Nak. Dia juga yang membiayai semua perawatan Dinar tanpa bertanya, Hardi. Seharusnya kita berterima kasih padanya."

Hardian hanya meremas rambutnya beberapa kali dan membiarkan ibunya terus memberikan penjelasan. Ia merasa bersalah karena telah melibatkan wanita itu harus menanggung penderitaan anaknya di usia senja.

"Kalau kau menyalahkan mami karena menerima bantuan dari Diana, mami minta maaf, Nak. Dia hanya ingin mami merahasiakan semua ini darimu. Itu saja." Suara wanita itu sedikit melunak dan tak lagi berurai air mata.

"Bukankah Mami tahu apa yang terjadi pada kami di masa lalu? Aku tidak ingin mengkhianati Dinar, Mih. Aku mencintainya," gumamnya tak bisa lagi menahan air mata yang kini membasahi jemari saat menutup wajah dengan tangannya. "Dia bahkan tidak tahu apa-apa soal Diana. Termasuk janin yang berada di kandungannya. Wanita itu berhati iblis, Mih ...." Lirih dia terisak.

"Dia tidak punya pilihan, Nak. Usianya masih terlalu muda dan pendidikanmu akan terbengkalai jika dia mempertahankan janin itu sementara kalian belum punya bekal apa-apa," sahutnya.

"Mami?!" tukas Hardi terlihat kesal menatapnya. "Aku bahkan tidak tahu soal kehamilan itu, Mih. Dia pergi begitu saja tanpa kabar dan dengan santainya mengatakan telah menggugurkan kandungannya setelah bertahun-tahun ....!"

Brakk!
Seketika mereka menoleh ke arah pintu dan menemukan Rere berdiri di sana dengan muka yang pias.

"Re-- re ...." Tercekat pria itu berdiri, berniat meenghampiri Rere yang segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari. "Rere ...!" Hardian berseru memanggilnya, tapi gadis itu tak tampak lagi.

"Sudah waktunya dia mengetahui semuanya, Hardi. Dia juga harus tahu tentang kelakuan ibunya," ucap Mami saat pria itu menatapnya tampak menyesal.

"Mamih ...." Terdengar putus asa, dengan raut sedih yang kian kentara.

"Kau juga harus memutuskan, Hardi. Terus bertahan dengan istrimu yang tidak ada harapan itu selamanya, atau melanjutkan hidupmu yang sempat hancur beberapa tahun terakhir. Mami tidak ingin kau menyia-nyiakan diri demi wanita jalang yang sudah mengkhianatimu dengan suami sahabtnya sendiri. Tidak bermoral!" gumamnya sebelum berdiri dan kemudian berlalu meninggalkannya.

Pria itu terpaku dan hanya bisa berdiri diam sementara tangannya memegang erat ujung tongkat yang digenggamnya. Terasa runtuh langit yang kini memayunginya, hancur berkeping seperti perasaannya yang tak lagi bisa dibenahi. Kandas.

(next)
profile-picture
profile-picture
adityasatriaji dan riskaultimate memberi reputasi
profile picture
riskaultimate
newbie
Mami seolah paling tau sebenarnya yg terjadi dgn dinar.
Gregetan aq mak sama diana dan mami
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di