alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d480ee7263772722928a1ad/mbak-ryana

Mbak Ryana











Quote:


Puisi oleh :  @indahmami

(Terima kasih untuk mba Indah yang udah bantu bikinin puisi)





Terima kasih atas segala apresiasi yang diberikan, baik dari pihak Kaskus maupun para Kaskuser kepada gw selama menulis di rumah tercinta kita ini. Karena kalianlah, gw sebagai penulis amatir ini masih percaya diri untuk menulis dan berbagi cerita di SFTH. Mohon izin kepada momod setempat beserta jajarannya yang selalu sabar dalam menjalankan tugas. Juga para sesepuh, rekan penulis dan pembaca setia cerita-cerita di SFTH. Semoga semua selalu diberi kesehatan dan dilapangkan rizkinya, Amin. Terlepas dari semua kekurangan yang gw miliki, dengan segala kerendahan hati, gw meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran sangat diterima. Bisa colek via PM, kok.

 

****


Ketika ada yang bertanya, siapa orang yang berjasa dalam hidup gw selain orang tua? Tanpa perlu berpikir panjang, gw akan menyebut sebuah nama.. dia yang selalu hadir dalam tiap ingatan. Untaian kata tak dapat menggambarkan betapa istimewa dirinya.



Prolog

Quote:

  




Rules : 

1. Jaga bicara, hindari komen negatif
2. Saling menghargai sesama 
3. Jangan mengomentari kehidupan TS
4. Taati peraturan yang ada di subforum (SF) ini.




Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
Herisyahrian dan 36 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh inginmenghilang

PART. 3 : Madesu




Gw sibuk memainkan jari sembari menunggu apa yang mau dia bahas.

"Eh, iya.. mau minum apa?" Mba Ryana menawari.

"Hah, ga usah. Tadi udah kebanyakan minum di aula." Tolak gw sambil tersenyum renyah.

"Coba senyum lagi kaya tadi, Prim.." Pinta mba Ryana.

"Maksudnya?"

"Senyum lagi kaya tadi, ih.." Suara lembutnya meminta.

Gw pun mencoba mengulangi gaya senyum gw tadi sambil malu-malu anjing.

"Sweet juga, ya.. ternyata orang kaya kamu bisa juga senyum."

"Mba tuh minta aku kemari cuma buat ngegodain apa gimana?"

"Yeay, pede tenan sih kamu.. mba itu mau ngobrolin tentang rencana kepindahan kamu kesini."

"Kenapa emangnya?" Tanya gw.

"Prim, opo gayamu tengil begini emang dari sananya, tah?"

"Ha, tengil gimana?" Jawab gw bingung.

"Kenapa emangnya? Kenapa emangnya?" Ucap mba Ryana meniru gestur gw tadi yang tampak senga.

"Ooh, maaf, mba.. udah gaya akunya begitu. Bukan maksud ga sopan, kok." gw berkilah..

"Koyo preman terminal ngono kui."

"Iya, maaf. Adat tiap daerah itu kan beda-beda. Aku tau orang sini itu lembut-lembut kaya mba. Mungkin aku ga cocok tinggal di sini kayanya."

Mba Ryana menghela nafas.

"Prim, cocok ga cocok itu gimana orangnya aja. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita harus beradaptasi dimanapun nanti kita tinggal. Jangan sampai orang yang harus memaklumi sikap kita, tapi berbuatlah sebaliknya. Niscaya kita akan dihormati orang dimanapun kita berada." Ucap mba Ryana yang terdengar seperti penyampaian materi kultum. Tapi dipikir-pikir emang ada betulnya juga pikir gw.

Gw pun hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.

"Gini, loh.. Ibu mu udah banyak cerita sama mba tentang kamu. Maksud mba, kamu jangan sampai menolak untuk dipindahin kesini. Ibu mu cuma mau kamu jadi anak seperti umumnya seusia kamu. Sekolah dan belajar. Main kalo ada waktunya." Ucap mba Ryana lugas.

"Iya, nanti aku pertimbangin." Saut gw singkat.

"Maaf, ya 'MAS' Prima.. sebenernya kamu ga ada hak untuk mempertimbangkan. Ibu mu udah fix bakal mindahin kamu kesini."

Gw memilih diam daripada menanggapi ucapannya. Sudah kodratnya cowo itu menjadi pihak yang mendengarkan.

Melihat gw diam, mba Ryana pun melakukan hal yang sama. Beberapa saat kami berdua saling berdiam diri.

"Trus, intinya apa, mba?" Tanya gw.

Mba Ryana menoleh ke gw sambil tangannya menopang dagu.

"Ya nda ada, ini kan cuma obrolan. Mba mana punya hak untuk menuntut kamu harus gimana dan seperti apa.. ya, kan? Tapi mba harap kamu bisa ngerti betapa berat perjuangan para orang tua untuk membesarkan anak-anaknya."

"Kalo ga mau terbebani ya jangan bikin anak. Dan buat apa mereka menikah, melahirkan anak trus ujung-ujungnya cerai? Kan, lucu.." ucap gw.

"Hush, kok ngomongnya gitu? Mana ada orang menikah trus cita-citanya cerai. Di setiap perjalanan itu pasti ada rintangan. Simpelnya itu gini.. Langgengnya suatu hubungan itu tergantung dari seberapa kuat pasangan itu bertahan menghadapi semua problema yang menerpa mereka."

"Tinggal bilang aja mereka egois, ribet banget.." saut gw santai.

Mba Ryana tampak tertegun mendengar ucapan gw barusan. Nyatanya memang begitu. Perceraian orang tua bagi gw adalah sikap jelas dan mutlak bentuk dari suatu keegoisan.

"Maaf, ya.. mba ngajak kamu ngobrol bukan bermaksud mau ngebuka tentang masa lalu pahit kamu."

"Ga papa, santai aja.."

"Em, yaudah.. katanya kamu mau ke rumah Rio?" Tanya mba Ryana. Gesturnya seperti ingin mengakhiri obrolan.

"Iya, makasih ya mba.." ucap gw sambil beranjak dari kursi.

"Makasih buat apa?"

"Buat apa, ya? Ya aku cuma mau bilang makasih aja." Saut gw ga peduli dan langsung ngeloyor pergi.

Sebelum melewati pagar, gw menoleh ke belakang dan melihat mba Ryana tersenyum. Sepanjang jalan menuju rumah Rio, gw terus kebayang sama senyumannya..


Beberapa hari kemudian..

Semenjak obrolan di malam itu awalnya gw pikir dia kapok ngobrol sama gw, karena pada dasarnya gw bukan orang yang enak diajak ngobrol kalo menyangkut urusan pribadi. Gw paling males kehidupan pribadi gw dicampuri orang lain. Tapi ternyata dia ga seperti yang gw bayangkan. Sikapnya masih seperti biasa. Justru perhatian-perhatian yang dia berikan ke gw semakin terlihat. Di satu sisi gw seneng ada yang perhatian, tapi di sisi lain gw risih karna ga terbiasa sama perlakuan seperti itu. Mungkin karena selama ini ga ada yang pernah peduli sama gw, jadi berasa gimana aja gitu.

Sebagai remaja, pemikiran gw belum bisa menafsirkan apa maksud dibalik perhatian yang dia berikan. Yang jelas gw ga pernah berharap apa-apa dari dia. Awalnya..

Entah karena pembawaannya yang asik atau karena hal lain.. gw mulai sreg sama mba Ryana. Sreg dalam artian gw nyaman bisa bertukar pikiran sama dia. Selama liburan, gw jadi punya kegiatan baru yaitu setiap malam hari menyatroni rumah mba Ryana. Tujuannya cuma untuk ngobrol-ngobrol aja. Toh, dia juga ga keberatan. Apalagi mba Ryana adalah tipe orang yang dinamis dan komunikatif. Apa aja topik yang dibicarakan dengannya akan selalu terasa menyenangkan.

Perlahan pribadi gw yang tertutup mulai berangsur-angsur terbuka karena beberapa nasehatnya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya ibarat sihir yang mampu merubah pola pikir gw. Usianya masih muda namun wawasannya begitu luas. Mba Ryana tinggal di Semarang sendirian. Kedua orang tuanya ada di Jakarta. Setelah lulus kuliah, dia memutuskan tetap tinggal dan bekerja di Semarang. Gw belum berani tanya apa dia udah punya pacar atau belum, karena gw juga ga suka mencampuri kehidupan pribadi orang. Dan gw cukup sadar, gw adalah makhluk apatis yang ga pernah peduli dengan orang lain. Sama diri sendiri aja gw ga peduli, terus untuk alasan apa gw harus peduli sama orang lain?


Ujian sudah di depan mata namun gw sama sekali ga merasakan pentingnya tahap itu sebagai syarat untuk kelulusan. Sampai saat hari ujian diselenggarakan pun, gw ga pernah belajar. Paling gw baca-baca buku menjelang bel masuk berbunyi. Hidup enggan mati tak mau, begitulah yang gw rasakan. Alasan gw masih mau ikut ujian karena ada mba Ryana yang menyemangati.

Dan selesailah perjuangan gw berseragam putih biru. Dengan nilai pas-pasan, gw lulus dan berhak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menjalani pendidikan ala kapitalis di negara ini, seberapapun bodohnya dirimu, uang akan menempatkanmu di sekolah favorit. Perasaan gw gundah karena terbesit keraguan untuk pindah ke Semarang. Apakah gw bisa survive di sana dengan semua kebiasaan buruk yang akan gw bawa? Satu yang pasti, dalam lubuk hati yang terdalam.. gw juga pengen berubah jadi lebih baik. Dengan kehidupan yang gw punya saat itu, akan membawa gw pada masa depan yang suram.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
Herisyahrian dan 16 lainnya memberi reputasi
profile picture
yusufchauza
akhir nya update emoticon-Big Grin

mbak ryanaemoticon-Wowcantik
profile picture
deawijaya13
Sudah ada lagi belum yahhhh..
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di