CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d204538d43972091c5caa84/back-to-black

BACK TO BLACK

Welcoming Party!

Spoiler for Party krackers!:






Bagian 1: Hitam


Panggil dia El.

Siapa dia? Apa artinya perkenalan sekarang jika kalian akan membaca kisah ini? Kalian akan kenal dia dari setiap titian kisah yang akan dia tulis. Mungkin kalian akan membenci karena kenal dia, mungkin juga sebaliknya. Tapi selama kalian masih hidup, dia akan menjadi bagian dari diri kalian.

Satu hal yang pasti: She is not a nice person.

Kapan saat kalian merasa paling bahagia? Saat kalian ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat kalian berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat kalian hanya ingin bilang: dia ingin hidup di saat ini saja.

Karena kalian sudah merasakan bahwa kemarin kalian berhasil bertahan dari setumpuk kegagalan dan esok...kalian tidak ingin bertahan dari hal yang sama lagi dan lagi. Tapi hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi dan sesuatu itu membuat kalian happy dan akhirnya kalian ingin tinggal disini, di hari ini, karena yang terjadi hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, atau hari setelah esok hari, atau hari-hari yang lain lagi.

Buat El, hari itu adalah saat El kecil melihat Bapaknya mengayuh sepeda dan membawa kresek putih di boncengan. El kecil tau apa isi dalam kreseknya sehingga:

“Cepet buka Pak, cepet buka!” teriak El girang. Pria paruh baya yang kulitnya legam terpanggang sinar matahari setiap hari tertawa lebar melihat tingkah anaknya yang melompat-lompat kegirangan.

Beng-beng satu kotak,
wafer Selamat satu bungkus,
wafer Tango satu bungkus,
nugget ayam yang tidak beku tapi masih dingin satu bungkus,
es krim Campina satu kotak.

Semua makanan yang El kecil sukai. Tak sabar El segera menarik tutup beng-beng hingga sobek dan membuka satu bungkus wafer berlapis karamel, butiran krispi dan coklat yang sudah meleleh lantaran panas yang tedeng aling-aling.

“Pelan-pelan, Nak!” Bapak tertawa melihat tingkah gadis kecilnya. Dengan mulut belepotan coklat, El kecil lari ke kulkas dan memasukkan nugget ayam dan eskrim ke dalam pendingin yang pintunya sudah karatan dan penyok di beberapa bagian.

Mereka berdua duduk di teras semen yang beratap asbes. Tak hanya matahari, namun angin yang turut mengalir panas membuat udara terasa engap di perumahan yang berjejer lima pintu dalam satu atap.

Mereka tak peduli.

Sang Bapak yang lelah namun sumringah melihat anaknya makan jajan demi jajan dan selalu menggeleng saat anaknya menawarkan bungkusan demi bungkusan.

Hingga sang Bapak berbaring di lantai melepas lelah dan kantuk, El kecil masih terus ngganyang. Suara radio milik tetangga terputar pelan melantunkan campursari yang El kecil bisa pahami artinya namun tak pernah bisa ia ucapkan lafalnya. Enam bungkus beng-beng berserakan di lantai, wafer tango sudah terbuka dan habis setengah baris, sendok eskrim yang lengket dan gelas air minum yang kosong tergeletak di lantai.

El kecil kekenyangan.
El kecil bahagia.
El kecil menyusul Bapaknya tidur dengan senyum lebar di bibir yang masih belepotan coklat dan remah-remah wafer.

Kenapa dia ingin mengisolasi diri dia di saat singkat itu?

Karena:

“BRAKKK!!”

El kecil dikejutkan dengan bantingan pintu kamar bedeng. Bapaknya sudah tidak ada di sampingnya, bungkus kosong beng-beng juga sudah tidak ada, sendok bekas eskrim juga sudah tidak ada, gelas berikut sisa beng-beng yang masih ada di dalam kotak dan jajan-janan lainnya juga sudah tidak ada.

“GAJI LEMBUR BUKANNYA DIPAKE BAYAR UTANG MALAH DIPAKE BELI JAJAN!” Teriakan yang tak asing lagi dari siapa asalnya.

Diam.

El kecil duduk lesu mengamati selokan yang airnya hampir setengahnya dan tak mengalir. Matahari mulai hijrah meninggalkan jejak abu-abu dengan liris jingga yang menirai langit. Sebentar lagi maghrib.

“GA USAH MIKIRIN MAUNYA ANAK KECIL KALO BERAS AJA MASIH NGUTANG! AKU MALU DITAGIH TERUS SAMA WARUNG, PAK!”

“Iya Bu, besok aku yang bilang ke Mbak Yana soal utang kita.”

“KAMU JADI LAKI-LAKI GA BECUS! GA BECUS MIKIR! GA BECUS AMBIL TINDAKAN! KALO HIDUP CUMA MAU SIA-SIA KAYAK GINI, AKU MENDING JADI TKW AJA, NGIKUT BOSKU! LIAT AJA UDAH PADA KAYA TEMEN-TEMENKU, GA KERE TINGGAL DI PETAKAN DAN NABUNG UTANG!”

“Maafin aku, Bu. Ayo sama-sama sing sabar.”

Mata Ibu nanar melihat El kecil yang mengintip lewat celah pintu. Ibu berdiri, menghampiri El kecil, lalu tamparan, jeweran, dan jambakan bergantian mendarat di tubuh El kecil.

Bapak berteriak. Ibu berteriak.

El kecil menangis tak berani bersuara, karena semakin ia bersuara maka akan semakin banyak jumlah hantaman yang ia tanggung.

Bapak dan Ibu bersuara keras.

Kepala-kepala terlongok dari pintu-pintu bedeng. Ibu masuk bedeng lagi. Bapak memeluk El kecil. Ibu keluar bedeng. El masih meringkuk. Bapak berdiri.

Lalu semuanya berteriak dan berlari ke bedeng keluarga El.

Tubuh Bapak terkapar dengan pisau dapur yang tertancap di perutnya.

Tamparan, jambakan, tendangan, pukulan. El kecil tau caranya menangis tanpa suara, El tau caranya tidak menangis, El tau caranya melindungi diri agar tidak menerima lebih banyak lagi hantaman dari Ibunya.

Tapi melihat tubuh Bapaknya kejang dengan darah mengalir dari tempat pisau itu bersarang, El kecil mengeluarkan semua udara dalam paru-parunya, berteriak memanggil Bapaknya…

Apakah cerita ini nyata? Entahlah, dia juga kehilangan batas nyata dan tidak nyata saat dia banyak menyaksikan kekejian prilaku yang bisa dilakukan oleh manusia ke manusia lainnya.

Apakah ini mimpi? Dia juga tidak bisa membedakan apakah dia terbangun atau tertidur karena tak jarang tidur dengan mimpi indah adalah satu-satunya salvation/penyelamat namun selalu terjaga saat dia masih ingin diayun dalam tilam, dan tak sedikit mimpi buruk yang justru tak kunjung membuat diri terbangun.

What’s the point of being real or not when the only sure thing is being alive? Sadness and happiness are two fragilest interchangeable things.

Bukankah bertahan adalah satu-satunya hal yang makhluk hidup lakukan setiap hari sejak jaman purba hingga kini?

This is El’s survival story.

I know you will love her,
I know you will hate her,
I know you will kiss her,
I know you will kill her,

I know she will make you feel nothing.

This is Back To Black.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah

Bagian E: Snapshot

Setiap orang memiliki special snapshot terhadap seseorang, terutama orang yang penting bagi mereka. Pertanyaan “apa yang paling lo ingat dari dia?” akan membawa ingatan ke dalam potongan-potongan kenangan, bisa utuh, bisa hanya fragmen. Tapi pasti ada satu hal yang paling diingat. Satu ekspresi yang akan muncul pertama kali saat mengingat dia. Inggrid bagi gue adalah saat perjumpaan terakhir kami di rumah sakit.

Gue sangat teliti pada pakaian yang dikenakan oleh wanita. Gue tidak hanya melihat fisik mereka. Beberapa wanita memiliki kecerdasan lebih dalam memakai sandi, kadang di cara bicara, kadang di bahasa tubuh, sering di pakaian yang mereka kenakan. Cara perempuan berdandan terutama dari pilihan fashionnya berbicara akan sisi yang dia sembunyikan sekaligus ingin dia katakan. Gue menemukan keseksian tersendiri dari cara wanita menonjolkan karakternya dengan busana.

Inggrid selalu memakai rok dengan kaos atau blus yang dia dobeli blazer atau bolero. Bukan rok sepan, tapi rok bermodel A Line. Hari pertama pertemuan kami, dia memakai rok A Line berwarna putih tulang berbahan satin dengan wirunya yang rapat. Hari kedua dia memakai rok A Line hitam bermotif bunga berwarna biru langit.

Hari ketiga, gue dinyatakan tidak patah tulang, tidak mengalami trauma otak, dan tidak ada kerusakan apapun di organ dalam gue, sehingga gue diijinkan pulang setelah dua hari dirawat. Perban masih menempel di punggung dan lengan, bagian yang paling parah dari hasil gesekan dengan jalan raya.

Inggrid masuk ke dalam ruang rawat dengan berlembar-lembar kwitansi di tangannya. Dia selalu datang menjenguk gue meskipun gue dipindah ke ruang rawat inap. Gue tak banyak bicara dengannya, bahkan tidak bicara apa-apa karena teman-teman gue datang menjenguk, gadis-gadis gue pun demikian. Tak ada tempat dan waktu untuk Inggrid. Gue hanya tau dia ada. Selalu berdiri di belakang orang-orang yang semuanya gue kenal, tapi tak ada yang dia kenal. Dia selalu disana tanpa terlihat asing. Dia hanya mengamati satu persatu mereka yang bicara dengan senyum yang tak pernah meninggalkan bibir merahnya, memamerkan jajaran gigi yang tak rapi, namun cocok untuk wajahnya.

"Aku udah bayar semuanya! Semoga lekas sembuh ya, Lesmana! Ngomong-ngomong, aku tulis nomer hapeku disini kalo kamu masih butuh sesuatu berkaitan tentang kecelakaan kamu! Aku akan tanggung jawab penuh asal kamu ga bawa ini ke polisi ya!"

Inggrid menunjuk gue dengan pena sebelum menulis nomer hapenya di balik kwitansi.

"Untuk motor kamu..."

Senyum tengil yang tak pernah meninggalkan bibirnya tiba-tiba hilang. Dia tampak memikirkan sesuatu.

"Aku ga tau tentang otomotif dan motor kamu kayaknya satu-satunya yang aku liat di jalan merk BMW, bahkan aku baru tau kalo BMW produksi motor jugak! Taapii aku akan ganti uang buat servisnya! Mungkin kamu tau tempatnya, bilang aja habis berapa biayanya, aku akan ganti hihihi!"

Inggrid menyerahkan kwitansi dan diterima oleh Cecil.

"Daah Lesmana! Dah!" Inggrid melambaikan tangan ke gue, lalu Cecil, lalu melangkah keluar.

Ada sejenak kekosongan saat dia pergi.

Itulah snapshot Inggrid buat gue. Setiap namanya tersebut atau otak gue mengembara menemuinya di rimba kenangan, Inggid saat itu adalah yang gue ingat. Inggrid yang memakai rok A Line sedikit di atas lutut berwarna kuning dengan corak bunga sepatu ukuran besar berwarna orange. Atasan kaos orange bergambar Frieza Dragon Ball dia ikat ujungnya di sisi kanan pinggangnya. Lengan kaos yang sudah pendek masih dia gulung hingga ke pangkal lengannya. Leather jacket dia selempangkan di tasnya. Rambut sebahunya yang berwarna auburn selalu tampak acak-acakan hari itu ia jepit dengan jepit lidi hitam yang tersilang membentuk X di kening kanannya.

“Lo ga nanya dia kerja dimana?” Wintang menelusuri kwitansi tagihan rumah sakit yang tidak sedikit. Gue berusaha fokus ke Winning Eleven di layar TV. Gue hanya menggeleng.
“Dia bawa lo ke Santa Maria, Njing! Kalo dipikir-pikir, itu jauh loh dari tempat lo kecelakaan! Masih deketan ke RSUD atau Siloam! Dan Santa Maria kagak murah juga yekan! Aneh tuh cewek!”

Gue tidak memberikan tanggapan.

“Orang kaya sakit jiwa keknya dia Les! Kek lo hahahaha!”

Gue tidak memberikan tanggapan.

“Ini nomer dia?”

Gue mengangguk. Gue bisa melihat dari sudut mata gue Wintang mengetik nomer Inggrid ke hapenya. Ia tunggu jawaban dari seberang. Tidak dijawab. Wintang mencoba lagi. Tidak dijawab.

Shit! Fenerbahce kalah! Gue banting kontroler ke sofa sebelah.

“Ga diangkat?” Tanya gue saat Wintang masih mencoba menelepon nomer Inggrid. Wintang mencibirkan bibirnya sambil menggelang.
“Dia mau bayarin servis motor lo juga?”

Mendengar Wintang menyebut motor gue, gue baru ingat harus menghubungi Indra untuk menanyakan import sparepart yang seharusnya sudah dia urus.

“Tapi dia baik juga ya, tanggung jawab sama lo, biasanya cewek mah bakal modal dengkul dan air mata doang sambil minta maaf kalo bikin salah.” Wintang masih menatap tulisan tangan Inggrid.
“Kocak juga sih, inosen banget anaknya hahaha! Pacar Lesmana!”
Gue tetap diam. Snapshot Inggrid terus bermain di otak gue. Guyonan Wintang terhenti saat ada ketukan di pintu.
“Les!”
“Apa?”
“Nyokap lo, Njing!” Bisiknya. Gue melangkah malas ke ruang tamu. Ibu berdiri menghadap jendela kaca lebar yang menghadap ke taman samping rumah, menatap kolam ikan yang hanya berisi dua ikan koi besar berwarna hitam dan putih.

“Gimana kabar kamu?” Ibu menoleh dan melihat tangan gue yang masih terlilit perban. Gue tidak menjawab.
“Motor kamu udah Ibu urus. Tadi udah diambil di bengkelnya Indra dan dua bulan kemungkinan jadi kalo ga ada kendala.”
“Ga usah.” Jawab gue singkat. Bukan. Ketus tepatnya.
“ A simple thank you would be nice. You are welcome anyway.” Jawab Ibu dingin, lalu berbalik badan meninggalkan gue tanpa pamit.

Gue pernah berkunjung ke rumah Wintang di kampungnya saat libur lebaran. Saat itu gue benar-benar tidak punya acara untuk liburan selama satu minggu sehingga cetusan ide Wintang untuk mengajak gue pulang kampung pun gue iyakan. Gue tidak pernah bertemu orang tua Wintang sebelumnya, tidak juga pernah mendengar ceritanya.

“Yakin lo kagak mau bawa motor aja Les?” Yakin Wintang saat gue memutuskan untuk naik angkutan umum, ingin merasakan seperti yang pernah dia ceritakan saat jaman kuliah dulu: selalu pulang kampung naik angkutan umum.

Perjalanan ke rumah Wintang tidak selesai dengan bis dan taksi. Kami masih harus menyambung dengan bis, lalu bis lagi, lalu angkot dekil yang penuh dengan hasil kebun, ternak dan orang-orang beraroma kecut yang entah darimana mau kemana asal tujuannya. Dalam hati, gue menyesal tidak menerima saran Wintang untuk membawa motor.

“Wintang?? Itu Wintang?? WINTAAANGG!!” Teriak seorang wanita dari kerumunan pasar yang kami lewati dengan jalan kaki.

“MAK!!” Wintang berjalan cepat menyambut Ibunya. Mereka berpelukan erat dan berkali-kali saling mencium pipi dan kening.

“Mak, kenalin ini Lesmana! Temen Wintang! Udah Wintang anggep sodara Mak!” Wintang menuntun wanita paruh baya bertubuh pendek dan gempal itu mendekati gue. Rambutnya sudah beruban di sana-sini, tergelung berantakan, beralaskan sandal jepit dan daster batik yang lusuh.

“Ealah Le ganteng sekali kamu!” Dia tarik gue ke pelukannya. Dia juga menciumi wajah gue seperti yang ia lakukan ke Wintang. Ada air mata yang tak berhenti mengalir dari matanya saat mengamati gue dan Wintang yang berdiri jejer.

“AKU PULANG NDISIKAN YA! ANAK LANANGKU PULANG!” teriak Emak Wintang dan disambut lambaian tangan oleh orang-orang di pasar. Sepanjang jalan ia gandeng lengan kami berdua di kanan kiri.

"Kamu pulang kok ga ngabarin Emak dulu sih Le!"

"Awalnya aku mau bawa motor Mak, kalo aku ngabarin Emak dulu pasti ga boleh bawa motor dan aku ga tenang di jalan, tapi kalo ga bawa motor jauh Mak! Tanyain tuh Lesmana!"

"Eladalah, namamu bagus bener! Sebagus orangnya! Jadi kalian naik umum?"

"Iya Mak, mabok tuh Lesmana!"

"Eh enak aja!" Secara reflek gue getok kepala Wintang seperti biasa saat kami guyon, seketika gue sadar ada Emaknya Wintang, mungkin dia bakal marah karena gue tabok kepala anaknya. Namun dia malah terkekeh. Terkekeh hingga air matanya mengalir lagi.

"Emak gue nangisan, lo jangan kaget!"

"Emak sendirian sama Bapak disini, anak-anak Emak sudah besar-besar, merantau jauh-jauh, jarang kumpul lagi Nak Lesmana."

"Anak durhaka lo Win!"

"Enak aja! Taun lalu lo yang ngajak gue ke Singapura ya! Jadi aja gue ga balik!"

Emak Wintang tertawa lagi.

"Sudah-sudah! Yang penting kalian sehat semuanya! Emak punya anak 4 Nak, Wintang nomer tiga, laki-laki satu-satunya, yang pertama merantau ke Medan, yang kedua di Sulawesi, yang keempat ikut sama yang pertama, kuliah disana."

Gue langsung menoleh ke Wintang, mengodekan tatapan nakal dengan mengangkat kedua alis.

"Jangan sampe Lesmana kenal sama Zenny!" Gerutunya.

"Loh kenapa?" Emak Wintang bertanya polos.

"Iya kenapa Win! Kan gue pengen kenal sama keluarga lo juga, termasuk adek lo, kali kita dari temen bisa jadi sodara kan!"

Pletak! Ouch! Sentilan Wintang terasa sangat sakit di jidat gue.

Gue tidak pernah dekat dengan keluarga siapapun. Gue tidak tau kalau keluarga bisa sehangat keluarga Wintang. Emak Wintang menyiapkan kasur dengan seprei bersih dan wangi, bahkan untuk kami, dia membeli bantal dan guling baru karena bantal guling yang lama sudah lepek katanya. Tak hanya itu, dia juga membeli kipas angin baru. Setiap pagi ada makanan di meja untuk sarapan, siang juga, malam juga.

Bapak Wintang juga sesupel istrinya. Gue merasa dilihat di keluarga ini. Mereka bertanya tentang pekerjaan gue, selalu memuji gue, dan menyemangati kami. Gue suka keluarga ini selalu bicara tentang apapun, tertawa atas kesulitan dan berbesar hati atas cobaan. Tak ada jeda kaku atau bingung mencari topik lantaran hubungan yang sering vakum.

"Kalian masih muda, kerja yang semangat. Jangan takut untuk mencoba apa saja, jangan seperti Bapak yang menyesal karena tidak seberani teman-teman waktu bujang untuk pergi merantau. Sekarang sudah tua, pengalamannya ya ini saja dagang di pasar, ga pernah kemana-mana."

Gue iri melihat Wintang. Dia tidak memiliki masalah dalam keluarganya. Hubungannya dengan orang tuanya tetap sakral ikatannya. Loving Mother. Loving Father. Meskipun Wintang jarang bicara dengan Kakak pertamanya karena pertengkaran antar saudara, gue rasa itu drama yang wajar. Keluarga selalu berantem kata Wintang. Tapi mereka tetaplah keluarga. Itulah pekerjaan utama keluarga: berantem dan memaafkan.

Snapshot itu pula yang gue lihat dari keluarga WIntang, snapshot yang hangat, ngangenin, sekaligus membuat gue iri. Snapshot yang tidak gue dapatkan di keluarga gue.

Ding ding ding ding

Suara hape Wintang mengalihkan mata gue dari orang-orang yang sedang makan di meja seberang meja kami. Nomer tanpa nama. Gue abaikan. Berdering lagi dari nomer yang sama. Wintang tak kunjung kembali dari kamar mandi. Gue angkat.

Quote:
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan midim7407 memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di