CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
8


Gue membuka website chord guitar Mr.Brightside, memainkannya di gitar akustik, dan bolak-balik ganti menatap layar handphone ke gitar sekalipun gue sudah hapal diluar kepala. Gue bolos rehearsal kemarin, dan sebenarnya nggak ada yang perduli juga gue ikut atau nggak, mengingat gue paling fleksibel dan jujur aja, gue yang paling jago diantara mereka bertiga.

Bahkan disaat gue berumur 19, gue juga mulai ngeband dengan teman kampus gue dan mengcover lagu-lagu The beatles, The Strokes, dan sebagainya dan rutin latihan di rumah temen gue.

Hanya saja, sekarang ini Leila β€˜tertarik’ dengan kegiatan gue, membuat gue bisa mendengar detak jantung gue yang menggebu dibalik belakang telinga. Meskipun β€˜mental’ gue berusia 24 tahun, tapi tetap saja β€˜badan’ gue berusia 13 tahun.

Disaat gue mengulang lagunya dari awal, gue sadar bahwa gue sebenar-benarnya nggak pernah dengar Leila menyanyi. I mean, gue β€˜dengar’ dia somewhat nyanyi pas misa pagi tapi dia kelihatan seperti buka mulut lalu menutupnya tanpa mengeluarkan satu nada keras sekalipun.

Leila yang nggak tertarik dengan misa pagi adalah Leila yang gue tahu. Mungkin karena itu juga dia terkesan misterius di mata gue, karena gue sama sekali nggak tahu apa-apa soal dia.

Jam dua siang adalah slot waktu untuk band gue naik panggung setelah dari ekskul tari Saman selesai, sehingga gue masih memiliki banyak waktu panjang untuk main-main sebenarnya. Leila juga tampaknya lari ke kafetaria dan mengungsi disana, sementara gue di ruang musik sambil sesekali menyesap fruitea apel dari botol 500 mililiter. Gue mengecek jam tangan gue. Pukul sebelas lewat sepuluh pagi. Yep. Waktu masih panjang. Dan bahkan gue berpikir untuk pacaran kilat sama Leila, kalau bisa kabur dari ruangan ini.

Gue menyadari bahwa permainan gue bahkan tiga kali lipat lebih bagus daripada permainan gitar gue pada waktu itu. Hal ini mendongkrak rasa percaya diri gue, lumayan tinggi apalagi beberapa orang nyadar akan hal yang sama.

β€œ Gila, Jo. β€œ Kata Adit, drummer yang sekarang sedang strumming lantai karpet yang bikin gatal kulit dengan ekspresi takjub. β€œ Kok lo jago banget sekarang? Kemarin-marin pas latihan nggak kayak begini. β€œ

Gue mulai mengeluarkan beberapa lagu andalan yang gue hapal mati dan memainkannya dengan lidah menjulur dan mata ke belakang kepala sehingga yang terlihat cuma putihnya aja. Adit ketawa-tawa, tapi gue bisa melihat bahwa kekagumannya nggak berhenti sampai disitu.

Sekarang tenggorokan gue kering karena yang sedari tadi gue tenggak adalah minuman yang kelewat manis. β€œ Gue mau beli aqua. β€œ kata gue, begitu saja.

β€œ Yaudah, tapi jangan susah dicari nanti. β€œ kata Adit mendongakan kepala menatap gue yang bangkit berdiri. β€œ Nggak kayak kemarin, susah banget dicari. β€œ

Gue mendengus dan teringat bahwa gue kemarin emang sembunyi sama Leila. Tapi kalau gue ceritain, yang ada kebakaran jenggot doang ini anak.

Bagaimana gue bisa mengatakannya? Adit... nggak begitu suka sama Leila.

Sehingga ketika gue menutup pintu kayu dibelakang gue. Gue langsung jalan dengan langkah kaki selebar mungkin, mengejar Leila di kafetaria. Siapa tahu dia masih mengungsi disitu sehingga gue bisa duduk bareng dia, mengeluarkan gombalan satu atau dua seenggaknya.

*

Gue bertemu Leila di kafetaria yang sedang makan indomie rebus lengkap dengan sawi dan bakso. Tapi kuahnya yang merah seperti darah, membuat maag akut gue naik dan gue bisa merasakan asam lambung lagi naik tangga menuju tenggorokan gue ketika mencium betapa pedasnya aroma indomie tersebut.

β€œ Buset. β€œ Kata gue, sambil menjepit hidung dengan jari. β€œ Gila pedes banget itu kelihatannya! β€œ

Leila mendongakan kepala nya, ganti menatap gue dari handphonenya yang sedang terbuka website fanfiction. Dia cuman menghendikan bahu lalu berkata, β€œ Nggak kok, warnanya doang yang merah. Tapi rasanya nggak begitu. β€œ

Nggak begitu gimana. Gerutu gue dalam batin. Gue kan pernah nyobain juga sambel buatan warung indomie sini. Abis itu gue sampe minum promag dua tablet.

Seperti Vampir yang dipaparkan bawang putih yang dikalungkan dileher, gue memutuskan untuk mundur sambil mengibaskan bau indomie itu jauh dari muka. β€œ Cuma mau ngasih tau aja, nanti gue manggung jam dua. Lo nonton ya! β€œ

β€œ Oke? Gue tahu kok. β€œ katanya tanpa menghiraukan gue.

Agak sedih karena dicuekin, gue langsung pergi ke ibu-ibu yang jualan minuman dan membeli botol aqua 250 mililiter. Setelah gue selesai membayar, gue berjalan mendekati meja Leila lagi.

β€œ Awas, kalau nggak nonton. β€œ kata gue, sedikit mengancam. Lalu gue mengeluarkan dua batang cadburry dari kantong celana gue. β€œ Atau nggak nanti gue jual lagi ini cokelat ke Indomaret. β€œ

Pupil mata Leila langsung melebar dan dalam beberapa kedipan, matanya langsung berkaca-kaca. β€œ Ta-tahu darimana kalau gue suka cokelat itu! β€œ Katanya nyaris histeris.

Gue balas nyuekin dia dan langsung jalan meninggalkan area kafetaria, balik lagi ke ruang musik yang karpetnya cuman bikin bentol-bentol di betis.


*

Sekarang gue berdiri di pinggir panggung sementara mata gue menunggu ekskul tari Saman berhenti memutarkan lagu yang super keras dan mengamati beberapa cewek yang agak sedikit ketinggalan daripada cewek-cewek yang lain. Menghancurkan ilusi aja.

Adit mulai menggigiti kuku jarinya dan meludahi kukunya ke lapangan. Sementara yang lainnya cuek aja, bahkan nyaris kasual. Gue mencari-cari Leila diantara banyaknya kepala yang duduk bersila di depan panggung yang tingginya nggak lebih dari semeter. Dia nggak disitu, sehingga gue mencari kepalanya di lantai dua. Siapa tahu dia mau nontonnya dari situ aja. Dan benar saja, dia berdiri di sudut yang bahkan nggak bisa nonton gue di panggung.

Leila menyadari gue mencarinya dan cuman mengangkat tangannya, melambaikan dengan sebentar lalu mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum kaku.

Gue langsung ingat, bahwa ada beberapa hal dimana gue berharap dia lebih normal sedikit. Orang lain kalau pacaran, seharusnya lebih
perhatian dan pengen duduk didepan panggung persis β€˜kan, kalau seandainya cowoknya mau naik ke atas panggung dan main satu lagu?

Ketika gue menyuruh dia turun dengan jari gue dan membuat kotak persegi panjang dengan jari telenjuk lalu menepuk-nepuk saku celana. Leila langsung memutar kedua bola matanya dan menyuruh gue untuk menunggu, lalu dia menghilang dari pandangan gue.

Nggak berapa lama kemudian, dia ikut duduk di bawah terpal dan duduk di lapangan. Tapi paling jauh, dan bahkan dia mengajak Gian disampingnya supaya nggak canggung.

Gian mengangkat satu jari telunjuk sambil menunjuk mulutnya.

Sialan dia minta cokelat juga. Batin gue dalam hati. Kenapa bocah-bocah ini doyan makan sih?

Dan ketika musik Saman itu berhenti membuat tuli telinga kiri gue, gue langsung tepuk tangan sementara cewek-cewek saman yang dahinya berkeringat dengan kostum yang gue tebak, pasti cuman menjebak panas dan membatasi pergerakan badan, satu-persatu menunggu dengan sabar untuk bisa menuruni panggung itu dengan tangga besi. Bahkan ada satu yang nyaris kepleset dan menyambar lengan gue sebagai penyangga. Beruntungnya, yang kepleset itu yang paling cantik. Claudie. Gue langsung melihat Leila, dan Leila melihat kejadian itu dengan seksama tapi ekspresinya cuman datar. Tapi gue tahu, amat-sangat tahu bahwa kejadian itu mengusik dirinya.

Gue naik ke atas panggung paling pertama, mencolok gitar listriknya ke amplifier, lalu setelah melihat satu-persatu anggota band gue dan menunggu aba-aba dari Adit yang kali ini sudah tenang.

Lalu ketika gue memainkan intro dari Mr.Brightside, semua langsung jejeritan. Kalau Leila seorang anjing, telinganya langsung tegak. Karena intro yang gue barusan mainin benar-benar bagus banget, dan kelihatan dari reaksinya. Dia sendiri nggak nyangka gue bisa mainin gitar sebagus itu.

Pfft. Gue mendengus. Gue kasih lihat nih hasil latihan selama 24 tahun.

Adit main drumnya dengan sangat bagus, dan yang lainnya juga jadi semangat karena gitarnya sekelas pemain gitar aslinya. Kalau gue bisa bilang, semuanya langsung hype dan bahkan Claudie menunjuk-nunjuk ke arah gue dari sudut panggung dan membisikan sesuatu ke temen ceweknya.

Rasa percaya diri gue makin naik, bahkan didongkrak dengan kenyataan bahwa Leila ikut teriak juga.

Lalu gue ikut nyanyi sebagai suara dua. β€œJealousy, turning saints into the sea. Swimming through sick lullabies. Choking on your alibis β€œ

Setelah itu, gue melirik Leila. Gue memergoki Gian membisikan sesuatu ke arah Leila dan lalu Leila malah sibuk ngobrol ke Gian.

Si bangke. Dalam hati gue mengerang sebel. Lihat gue! Gue cowok lo sekarang. Lihat gue!

Claudie bahkan terang-terangan melihat ke arah gue. Dengan senyuman terlihat di mukanya yang berbentuk hati. Seakan-akan cuman gue cowok yang tersisa di dunia.

Ketika tiba di permainan Outro, gue ikut menyanyi lagi sambil jelas-jelas menatap ke arah Leila. Memperhatikan dia masih aja ngobrol ama Gian, dan bukannya merhatiin gue.

Si bangke ini bener-bener baik. Seru gue dalam hati. Jangan lovey-dovey sama cowok lain didepan gue, sialan.

Lalu gue mendengar semua orang menjerit teriak heboh dan beberapa tepukan tangan. Adit meloncat dari bangkunya dan merangkul gue dari belakang, sementara yang lainnya bergabung. Gue melihat dari balik bahu, Leila setidaknya sekarang tepuk tangan.

Ketika gue turun paling terakhir di tangga. Claudie nyamperin gue sambil menyentuh ujung lengan gue. β€œ Tadi sorry ya, gue megang lo pas jatoh tadi. β€œ

β€œ Eh, iya nggak masalah. β€œ Kata gue sambil tersenyum.

β€œ Tapi tadi keren dah lo main gitarnya. β€œ tambah Claudie sambil mengangkat dua ibu jarinya ke udara. β€œ Gila, kayak pensi aja rasanya. β€œ

Lalu Claudie pengen ngomong lagi, tapi dia ditarik sama adek kelas dan lalu dia berkata. β€œ Eh, oke. Yaudah gue ganti baju dulu, ya Jo. β€œ

Gue melambaikan tangan ke Claudie lalu menghela napas. Gue menyeka keringat gue yang sebesar biji jagung dengan punggung tangan sementara gue berjalan menuju ke ruang musik untuk menyimpan gitar listrik ke tasnya lagi.

Nggak sadar, Leila ternyata berada di belakang gue meskipun beda beberapa langkah. Leila tepuk tangan pelan-pelan sehingga gue melihat ke belakang dan lalu menghampiri dia.

β€œ Gimana? β€œ tetap saja, gue perduli sama pendapatnya. β€œ Keren nggak tadi gue main gitarnya?”

β€œ Gila lo doang yang paling jago daripada yang lain. β€œ puji Leila cepat, lalu dia menyerahkan kemasan plastik berisi tisu yang muat dikantong ke arah gue. β€œ Nih, pake. Lo keringatan banget.β€œ

β€œ Eh, makasih. β€œ kata gue sambil menyambar tisu itu dari tangannya. β€œ Tapi tadi lo gimana sih, masa lo ngomong ama Gian terus dan bukannya ngeliatin gue? β€œ

β€œ Tapi tadipun kita juga ngomongin lo kok. Gian kaget lo sejago itu main gitarnya, dan dia bilang ke gue kalau gue harus bangga punya cowok β€˜anak band’. β€œ

Gue nggak menghiraukannya dan langsung ngomong, β€œ Tapi tadi kayak dia yang pacaran sama lo, dan bukannya gue. β€œ

Muka Leila langsung keras dan matanya menyipit. β€œ Gue kan sama dia cuman temenan? Terus kenapa kalau dia deket sama gue? Gue sama dia juga nggak pernah pacaran kan? β€œ

β€œ Ya, tapiβ€“β€œ

β€œ Pokoknya lo mainnya bagus, udah itu aja. β€œ Lalu Leila putar balik badan dan langsung berjalan menuruni tangga dengan cepat. Gue nggak langsung mengejarnya karena gue tahu, hal ini kalau gue terusin bakalan berakhir putus aja. Apalagi baru sehari. Masih belum ada apa-apanya gue dimata Leila, dan gue tahu itu.

Sehingga gue menerima β€˜kekalahan’ ini dan menelan kecemburuan ini bersama dengan asam lambung yang mulai naik karena gue telat makan.

*
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di