CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
5

Gue melihat Leila dan langsung tahu, bahwa hari ini adalah hari dimana Gian bilang bahwa gue harus gerak cepat. Gue harus nembak dia sebelum segala sesuatunya terlambat. Doa pagi di ruang perkumpulan anak kristiani mendoakan acara PORSENI untuk lancar sampai hari ketiga, dan sedikit-banyaknya mendesak setiap kepala yang bosan setengah mati di ruangan itu, untuk menjadi juara, apapun perlombaannya supaya bikin Guru-guru bangga. Karena pernah mengalami hal ini sebelumnya, gue bisa menebak setiap kata yang keluar dari mulut mereka tanpa perlu mencoba.

Membuat hati gue sedikit pedih, β€œ Kalian masih hidup, kecuali gue. Tapi gue sekarang disini lagi sama kalian. Sekalipun kalian, teknisnya, nggak disini lagi bersama gue. β€œ

Perasaan ini persis seperti menonton film yang dulu sekali ditonton, perasaan senang sekaligus membangkitkan perasaan nostalgik membuat kepala penuh dengan emosi euphoria yang sedikit bikin depresi.

Gue duduk di tempat khusus kelas gue, kelas orang pintar, kenyataan yang selalu membuat harga diri gue melonjak tinggi. Selain itu bangku yang gue duduki sekarang, memberikan akses gue untuk melihat ke arah Leila tanpa ketahuan. Doa pagi sudah selesai, tapi Leila nggak beranjak pergi melainkan duduk di bangku favoritnya dengan kepala menyandar di kusen jendela dengan kedua tangannya yang terlipat didepan dada. Gian disampingnya juga sedang main handphone sementara sesekali menunjukan sesuatu ke Leila dan lalu kepala Leila merosot ke pundak Gian, dengan mata tertuju ke handphone Gian.

Makin kesini, gue semakin percaya bahwa hubungan mereka nggak mungkin cuman sekedar temenan aja. Gian terkadang menatap Leila dengan tatapan sayang, dan sama sekali nggak risih dengan kontak fisik. Kadang Leila merangkul bahu Gian, dan sebaliknya juga. Pernah sekali, gue cemburu setengah mati disaat gue memergoki Gian mengacak-acak rambut Leila yang panjang sebahu.

Dan kini, entah kenapa Leila menatap ke arah gue–memergoki gue yang jelas-jelas mengamati mereka lima menit belakangan. Leila menarik kepalanya dari bahu Gian, yang membuat Gian menatap ke arah gue secara natural. Bibir Gian langsung tersenyum ke arah gue sementara Leila buang muka sambil mengikat rambutnya ke belakang.

Leila selalu milik orang lain, sekalipun nantinya gue sempat memiliki dia, pada akhirnya dia memilih orang lain.

Kenyataan pahit itu nggak mengubah rasa ketertarikan yang mengakar begitu kuat menjadi hilang begitu saja. Bahkan sampai detik ini, dia masih membuat gue terbakar api cemburu.

Lalu jam menunjukan pukul Sepuluh pagi, dan PORSENI hari pertama resmi dimulai. Leila bangkit berdiri mengikuti Gian di belakangnya, bahkan sampai mengalungkan lengannya Gian segala dengan tangannya.

Satu hal yang pasti, bahkan dalam ambang kematian, hati yang dibakar api cemburu tetap saja menyebalkan.

*

Tiba saatnya untuk Gian mengatakan, dan gue melihat gerakan bibirnya dengan seksama. β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ

Gue menatap Gian, perasaan yang dulu gue rasakan, perasaan dimana gue merasa akhirnya ada secercah harapan untuk memiliki Leila, tetap saja muncul. Tak ada bedanya. Tapi, kali ini gue berkata. β€œ Kenapa bukan elo yang nembak dia? β€œ

β€œ Huh? β€œ Gian pura-pura bingung, tapi jelas dia mengerti maksud gue dengan terang-terangan. β€œ Kan elo yang suka dia, kenapa gue yang jadi nembak dia? β€œ Kata Gian sambil mengelak.

β€œ Elo nggak suka Leila? β€œ gue langsung menembak begitu saja. β€œ Lo deket banget lagi ama dia, tinggal statusnya aja yang nggak jelas. Kenapa lo nggak nembak dia? β€œ

β€œ Bedanya gue ama elo. β€œ Gian menyambar kartu poker dan mulai mengocoknya. β€œ Gue tahu mana orang yang bener-bener enak buat diajak pacaran dan mana yang Cuma enak buat jadi temenan doang. β€œ

Gue kehabisan kata-kata. Gian benar. Beberapa dari cinta gue selalu berakhir gue temenan sama mantan gue, dengan satu pengecualian si Leila itu. Dan lagi, gue selalu merasa Gian jauh lebih dewasa daripada umurnya. Yang membuat gue selalu inferior disamping dia, kalau bukan karena Leila, gue nggak bakalan mau repot-repot deketin bocah sotoy yang satu ini.

Tapi kemudian Gian berkata, β€œ Gue yang bantuin, gue bakalan suruh dia ketemu lo supaya lo bisa nembak dia disaat itu juga. β€œ

β€œ Gue nggak perlu beli bunga atau cokelat gitu? β€œ Kata gue, berusaha memperbaiki β€˜penembakan’ gue yang dulu cuman gue berdiri, berharap yang terbaik sambil ngomong β€˜Gue suka sama lo, mau nggak jadi pacar gue?’ dengan tangan yang tremor, sedikit gemetar.

β€œ Leila nggak suka bunga tapi dia emang suka cokelat. β€œ Kata Gian memberi tahu, β€œ Cuman emang lo ada duitnya buat beli cokelat? Karena waktunya bener-bener nggak ada kecuali hari ini. β€œ

Gue meraba kantong celana seragam gue. Kosong. Nihil. Nada.

β€œ Emang kenapa harus hari ini sih? β€œ tanya gue, murni benar-benar penasaran. β€œ Kenapa nggak boleh lusa atau tahun depan? Kenapa harus hari ini juga? β€œ

β€œ Karena Leila bilang kalau hari ini, anak kelas 8-7 mau nembak dia juga. β€œ

Oh. Semua jadi jelas. Leila nerima gue nantinya hanya karena gue nembaknya paling duluan ketimbang Kakak kelas 8-7. Siapa cepat dia yang dapat.

β€œ Oke, kalau gitu minta petunjuknya Suhu Yo. β€œ Kata gue, setengah bercanda sambil mengatupkan kedua tangan didepan muka sementara badan gue membungkuk setengah untuk memberi hormat.

*


Gian bertemu lagi dengan gue di ujung lorong di sayap gedung bagian kiri setelah gue menyelesaikan kuis Cerdas Cermat. Gian menunjukan bbm nya dengan Leila dan lalu menginstruksikan gue untuk duduk disini, di atas meja yang kosong yang gunanya hanya untuk menulis kertas izin untuk pulang lebih awal dan menyerahkannya ke Pos Satpam Sekolah. Tangan gue langsung dingin, lemas di samping tubuh gue sementara gue setengah melamun. Gue membayangkan waktu-waktu bahagia yang gue jalani sewaktu macarin Leila, berusaha membangkitkan rasa percaya diri bahwa dulupun, gue berhasil mendapatkan dia. Kali ini, jawabannya juga pasti sama.

Tapi kegugupan itu tidak menghiraukan hal tersebut, dan tangan gue mulai berkeringat. Gue menggosokan tangan berkeringat itu ke paha gue dan mulai mengulang-ulang kalimat yang akan gue ucapkan nantinya.

Tentu saja, disaat gue mempersiapkan mental untuk nggak gagap, orangnya sudah didekat gue, menuruni tangga dari lantai tiga dan menghampiri gue. Gue mendongakan kepala dan berusaha tersenyum, lalu buru-buru meraih tangannya dan berkata secepat mungkin. β€œ Gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue lagi? β€œ

Setelah mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut secara seksama, gue langsung mengulang lagi. β€œ Maksud gue, lo mau nggak jadi pacar gue? β€œ

Leila menatap gue sambil tersenyum, nyaris ketawa sebenarnya. Tapi tentu saja, dia menghendikan bahu dan berkata. β€œ Jawabannya nggak sekarang ya? β€œ Lalu dia menarik tangannya dari tangan gue dan melambaikan tangan. β€œ Dah ya, gue jajan dulu. β€œ

Dalam hati, gue langsung menggerutu. Dasar bocah, otaknya jajan mulu. Tapi melihat bagian belakang kepalanya Leila membuat gue teramat-sangat bahagia. Sekalipun, gue tahu bahwa kehidupan yang kali ini sudah amat-sangat berakhir. Tapi merasakan kenangan yang paling kuat untuk kedua kalinya, adalah salah satu alasan kenapa gue β€˜senang’ untuk meninggal terlalu cepat.

*
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di