CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)



π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘸𝘦𝘯𝘡 𝘸𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘯π˜₯ 𝘸𝘩𝘒𝘡 𝘀𝘰𝘢𝘭π˜₯ 𝘣𝘦 π˜₯𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘡𝘡𝘦𝘳

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«









profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh themagikarpi
4


Leila menyandarkan kepalanya disamping gue. Tangan kita bergandengan sementara dia sesekali menarik punggung tangan gue, untuk mengecup setiap ruas jari, lalu menatap gue dari sudut mata sambil tersenyum.

Gue membuka mata dan melihat punggung tangan gue sendiri. Sama sekali berbeda dengan apa yang tadi dicium Leila. Karena memang bukan tangan gue, dan perasaan itu membelilit tenggorokan gue.

Mata gue terpejam erat, sementara lautan memori itu menarik kesadaran gue sampai ke dasar yang paling dalam. Rasa mual itu kembali mencekik, sampai pada akhirnya seseorang mencengkeram pergelangan tangan gue dan menarik badan gue jalan bersamanya.

Tertatih-tatih sementara kesadaran itu datang secara perlahan. Walaupun pandangan gue kabur, gue melihat sedang berdiri di dalam lift semula.

Lautan memori Virdi yang memiliki emosi terkuat, entah itu kebencian atau cinta yang meluap-luap, tersedot keluar dari setiap pori-pori kulit. Setiap hempasan ombak masa lalu itu menceritakan apa yang bisa diteriakan, tapi tidak sesakit seperti kenangan yang melibatkan Leila sebelumnya, sehingga kepala gue berhenti meneriakan kata sakit ke setiap jaringan nadi di tubuh. Pandangan mata gue yang semula buram, kini mulai menajam. Dan mata gue menatap tepat kepada mata laki-laki yang menguarkan aroma kayu oak. Seakan-akan dia adalah pencetus kehidupan itu sendiri.

β€œ Gimana? Seru nggak? β€œ tanyanya dengan nada mengejek. Dia menyalakan rokok di ujung bibirnya dengan api dari ujung ibu jari. Lalu mematikan api tersebut dengan menyelipkan ibu jarinya ke dalam genggaman tangannya sendiri.

Gue langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan keras, dan sekarang gue merosot duduk jongkok di lantai lift. Kepala gue bersandar di belakang lapisan dinding metal yang dingin. Kalau gue masih hidup, mungkin gue semakin panik karena perasaan angin duduk itu menekan rongga paru-paru. Sekali lagi, ketika gue memutuskan untuk berkonsentrasi menghindari perasaan dramatik. Seluruh kesakitan itu menghilang dari tubuh dan sekarang cuma keheranan yang tersisa disana.

β€œ Sebenarnya, nggak semua orang tahu kalau orang yang sudah mati bisa melihat memori orang yang masih hidup. β€œ Dia menghela napas sementara asap rokok itu keluar dari sudut bibirnya. β€œ Tapi karena memori yang lo barusan lihat adalah memori yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan lo, makanya lo sakit. Tapi kalau sudah mati, rasa sakit itu menjadi dua kali lipat pedihnya. β€œ

β€œ Dan karena secara teknisnya 48 jam yang lalu lo masih menjadi manusia, nyawa lo masih terbelenggu dalam keterbatasan manusia sekalipun lo jelas-jelas mati. β€œ katanya lagi sambil menatap gue dari sudut mata, mengamati setiap detik gue menderita.

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue dengan suara parau. β€œ Apa tujuannya gue harus ketemu dia? β€œ

Laki-laki tersebut menghisap rokok dalam sekali hirup, dan lalu menaruh batang rokok yang masih menyala di dalam genggaman tangan kuat. Detik berikutnya batang rokok tersebut menghilang. β€œ Mungkin karena orang tersebut orang kedua yang terus-menerus memikirkan elo?”

Mulanya gue nggak percaya, tapi semuanya jadi jelas. Dimulai gue tertarik ke dalam rumah Leila, dan lalu ke Virdi. Dari waktu ke waktu, mereka suka memikirkan gue. Mungkin mereka β€˜memanggil’ gue dengan emosi mereka yang mengakar kuat, ketika gue bisa dipanggil kesana-sini hanya bermodalkan dengan perasaan tersebut.

Tapi tetap saja, Leila memikirkan gue dan dia adalah orang pertama yang memanggil gue. Sedikit-banyaknya, hal tersebut membuat gue bahagia.

β€œ Kalau begini caranya, gue nggak akan cepat-cepat pergi ke fase berikutnya dong? β€œ tanya gue bingung. β€œ Mau sampai kapan gue harus kayak begini? Ngunjungin orang-orang yang penasaran setengah-mati sama gue? β€œ

β€œ Waktu kita masih banyak. β€œ Laki-laki tersebut membuka satu kancing nomor dua dari kemejanya dan lalu menghela napas yang panjang. β€œ Tapi lo bener juga. β€œ Dia tersenyum simpatetik. β€œ Gimana kalau kita ganti suasana? β€œ

Gue mendongakan kepala untuk melihat ekspresi kaku yang tak terbaca, sementara telinga gue kembali merasakan pintu besi terbuka didepan gue.

Dia menjelaskan. β€œ Gimana kalau kita pergi ke masa lalu? β€œ

Sebelum gue mengeluarkan satu patah katapun, Badan gue terdorong keluar seakan-akan ada kedua tangan kasat mata yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengusir gue keluar dari dalam Lift.

Pintu besi di belakang gue menutup, dan sementara pintu kayu dicat biru telur asin didepan gue terbuka lebar. Mata gue langsung tertuju pada seseorang yang gue paling inginkan. Duduk diatas bangku dengan ekspresi bosan. Ketika orang itu menatap gue balik, serta-merta badan gue melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Kapan lagi gue bisa diberi kesempatan untuk menjadi anak laki-laki berusia 13 tahun? Untuk yang kedua kalinya?

*

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di