Surobledhek746
TS
Surobledhek746
Guru Pakde, Dari Alam Ghaib
Episode 1


sumber gambar


Pakde, kakak tertuaku. Terpisah dengan kami semua 30 tahun lamanya. Semua orang memanggilnya begitu. Ketika kecil, pakde ikut dengan kakak ibuku.

Pada suatu malam, seluruh keluarga berkumpul dalam acara selamatan haul tahunan mbah Sairah --Mbokde yang membesarkan kakak tertuaku --pakde. Selesai acara, semua tamu sudah pulang.

"Jangan pulang dulu ya. Kita ada acara spesial malam ini. Buk, buatkan kopi ya!" perintahnya pada isterinya. Rimah, isteri Pakde tercinta. Dua orang anak mereka ada di pulau jawa. Kami di kalimantan.

Sambail mengisap rokok merahnya Pakde bercerita, "Dulu guruku itu dari Banten. Punya anak tunggal lagi rebutan. Saat itu ada acara membuka tutup guci untuk meminta ilmu."

Berhenti sebentar menarik napas dalam, kemudian melanjutkan, "Saat itu aku hanya menemani dia di depan pintu masjid. Malu. Mereka semua memakai sarung dan baju koko. Sementara aku hanya celana jeans dan kaos oblong."

Tiba-tiba! Gublak.... pakde roboh ke belakang. Rimah, isteri Pakde sudah paham ternyata. Segera mendekat dan mengangkat pelan tubuh Pakde didudukkan. Meski terlihat wajah ketakutan.

Kami yang hadir di hadapan Pakde seperti terhipnotis. Dadaku berdegup kencang. Tak sempat toleh kiri kanan. Sebenarnnya ingin membantu membangunkan. Kami semua diam seribu bahasa. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Sudah biasa Pakde begini. Sejak di Jawa dulu." Rimah menenangkan.

Tak tahu apa yang akan dilakukan. Kami semua diam mematung. Mencekam. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Hmmm.... Assalamu'alaikum. Cucuku sekalian," tiba-tiba suara pelan keluar dari mulut Pakde.

Jelas bukan suara Pakde yang biasanya. Suaranya berat. Serak. Berwibawa. Dengan beberapa kali mengecap sebelum seluruh kalimat disampaikan semua.

Masing-masing kami kaget. Hanya bergumam menjawab salam. Saling lihat sesama kami. Seperti memberikan kode. Mengerti tidak mengerti harus tetap dihadapi.

"Aku gurunya, mau ngasih wejangan. Tolong disimak ya...," berkecap beberapa kali.

"Mulai malam ini, kalian semua sudah kuangkat jadi cucuku semuanya. Jangan ceritakan dengan orang lain...," lanjutnya.

Tak ada sahutan. Semua khusyuk menyimak wejangan. Sambil manggut-manggut tanda mengerti yang disampaikan. Walau menahan ketakutan.

Betapa tidak. Seumur hidup baru kali ini mendengar ada mahluk ghaib yang mengajak berbicara secara langsung. Biasanya hanya berhadapan dengan orang yang kerasukan. Dengan ucapan yang ngawur tak tentu arahnya.

Pernah juga menghadapi anak-anak yang kerasukan. Lama diajak ngobrol juga. Akhirnya macam-macam permintaan diutarakan. Dasar bangsa lelembut. Di luar logika sama sekali.

"Mbah, njenengan datang ada perlu apa?" Rimah memecah kesunyian.

"Itu...," Kakek anggaplah begitu namanya. Menunjuk ke arahku. Kaget aku.

"Awas. Jangan terlalu baik sama orang-orang. Suatu saat pasti merepotkan dirimu sendiri." melanjutkan ucapannya perlahan.

"Ingat-ingat ya...," lirih suara kakek hampir tak terdengar.

"Nduk. Sampaikan suamimu. Ajari mereka semua mengenal Tuhannya lagi ya...," terbata-bata sambil kecap-kecap berkali-kali.

"Nggih, Mbah." Manggut-manggut Rimah.

"Assalamu 'alaikum," suara perlahan hilang.

Kemudian lemes badan Pakde.

"Minum-minum. Haus-haus," suara Pakde lantang. Seperti orang yang sangat kehausan.

Disuguhkan gelas besar berisi air putih penuh. Sekali tenggak. Habis. Mustahil, minum air segelas besar habis dalam sekali tenggak.

Kami semua tertawa. Takut hilang. Melihat Pakde sadar seperti biasa.

Bersambung
Diubah oleh Surobledhek746 26-10-2022 16:23
pamansteveevywahyunisulkhan1981
sulkhan1981 dan 91 lainnya memberi reputasi
88
98.5K
985
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
Surobledhek746
TS
Surobledhek746
#1
Guru Pakde, Dari Alam Ghaib
Episode 1


sumber gambar


Pakde, kakak tertuaku. Terpisah dengan kami semua 30 tahun lamanya. Semua orang memanggilnya begitu. Ketika kecil, pakde ikut dengan kakak ibuku.

Pada suatu malam, seluruh keluarga berkumpul dalam acara selamatan haul tahunan mbah Sairah --Mbokde yang membesarkan kakak tertuaku --pakde. Selesai acara, semua tamu sudah pulang.

"Jangan pulang dulu ya. Kita ada acara spesial malam ini. Buk, buatkan kopi ya!" perintahnya pada isterinya. Rimah, isteri Pakde tercinta. Dua orang anak mereka ada di pulau jawa. Kami di kalimantan.

Sambail mengisap rokok merahnya Pakde bercerita, "Dulu guruku itu dari Banten. Punya anak tunggal lagi rebutan. Saat itu ada acara membuka tutup guci untuk meminta ilmu."

Berhenti sebentar menarik napas dalam, kemudian melanjutkan, "Saat itu aku hanya menemani dia di depan pintu masjid. Malu. Mereka semua memakai sarung dan baju koko. Sementara aku hanya celana jeans dan kaos oblong."

Tiba-tiba! Gublak.... pakde roboh ke belakang. Rimah, isteri Pakde sudah paham ternyata. Segera mendekat dan mengangkat pelan tubuh Pakde didudukkan. Meski terlihat wajah ketakutan.

Kami yang hadir di hadapan Pakde seperti terhipnotis. Dadaku berdegup kencang. Tak sempat toleh kiri kanan. Sebenarnnya ingin membantu membangunkan. Kami semua diam seribu bahasa. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Sudah biasa Pakde begini. Sejak di Jawa dulu." Rimah menenangkan.

Tak tahu apa yang akan dilakukan. Kami semua diam mematung. Mencekam. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Hmmm.... Assalamu'alaikum. Cucuku sekalian," tiba-tiba suara pelan keluar dari mulut Pakde.

Jelas bukan suara Pakde yang biasanya. Suaranya berat. Serak. Berwibawa. Dengan beberapa kali mengecap sebelum seluruh kalimat disampaikan semua.

Masing-masing kami kaget. Hanya bergumam menjawab salam. Saling lihat sesama kami. Seperti memberikan kode. Mengerti tidak mengerti harus tetap dihadapi.

"Aku gurunya, mau ngasih wejangan. Tolong disimak ya...," berkecap beberapa kali.

"Mulai malam ini, kalian semua sudah kuangkat jadi cucuku semuanya. Jangan ceritakan dengan orang lain...," lanjutnya.

Tak ada sahutan. Semua khusyuk menyimak wejangan. Sambil manggut-manggut tanda mengerti yang disampaikan. Walau menahan ketakutan.

Betapa tidak. Seumur hidup baru kali ini mendengar ada mahluk ghaib yang mengajak berbicara secara langsung. Biasanya hanya berhadapan dengan orang yang kerasukan. Dengan ucapan yang ngawur tak tentu arahnya.

Pernah juga menghadapi anak-anak yang kerasukan. Lama diajak ngobrol juga. Akhirnya macam-macam permintaan diutarakan. Dasar bangsa lelembut. Di luar logika sama sekali.

"Mbah, njenengan datang ada perlu apa?" Rimah memecah kesunyian.

"Itu...," Kakek anggaplah begitu namanya. Menunjuk ke arahku. Kaget aku.

"Awas. Jangan terlalu baik sama orang-orang. Suatu saat pasti merepotkan dirimu sendiri." melanjutkan ucapannya perlahan.

"Ingat-ingat ya...," lirih suara kakek hampir tak terdengar.

"Nduk. Sampaikan suamimu. Ajari mereka semua mengenal Tuhannya lagi ya...," terbata-bata sambil kecap-kecap berkali-kali.

"Nggih, Mbah." Manggut-manggut Rimah.

"Assalamu 'alaikum," suara perlahan hilang.

Kemudian lemes badan Pakde.

"Minum-minum. Haus-haus," suara Pakde lantang. Seperti orang yang sangat kehausan.

Disuguhkan gelas besar berisi air putih penuh. Sekali tenggak. Habis. Mustahil, minum air segelas besar habis dalam sekali tenggak.

Kami semua tertawa. Takut hilang. Melihat Pakde sadar seperti biasa.

Bersambung
Diubah oleh Surobledhek746 26-10-2022 16:23
0