alexa-tracking
Kategori
Kategori
5 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c9b66bbc0cad76a9875c8b1/guru-privat-gesrek

Guru Privat Gesrek




Sumber gambar: akun instagram @caitlinhalderman


-PROLOG-


***


Gadis berwajah mirip Ariana Grande itu tak berkedip membaca dalam hati deretan angka yang tercantum dalam lapornya semester ini. Reaksi yang tak biasanya itu mengundang rasa penasaran gadis bertubuh subur di sebelahnya yang terkesan santai setelah melihat hasil belajar selama satu semester.

"Lo kenapa?" tanya gadis gendut pada temannya itu.

Si Ariana--cuma mukanya saja yang mirip, tak langsung merespons. Ia terlebih dahulu menutup kembali lapornya lalu menoleh pada si gendut.

"Nilai gue .... "

"Nilai lo kenapa? Jelek?" Si gendut menebak. Meski ia yakin 100 persen jika tebakannya itu benar.

Bukan cuma kali ini, karena si cantik memang tak pernah mendapat nilai bagus selama menginjakkan kaki di SMA Pertiwi.

Si Ariana nyengir. "Lo bener. Nyaris di bawah standar."

Si gendut menepuk jidat. "Untung lo nggak tinggal kelas."

"Udah biasa sih. Pelajarannya susah-susah cuy, gue nyaris nggak ngerti sama semua penjelasan semua guru."

"Ck! Gue nggak habis pikir sama apa yang ada di otak lo. Cantik-cantik ogep."

Si Ariana terkekeh. Setelah itu, ia berdiri. Tak lupa meneguk matcha pesanannya yang belum habis.

Sementara itu, sosok pemuda yang sedari tadi mengamati dari kejauhan geleng-geleng disertai hembusan napas kasar. Ia kemudian merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang yang sekiranya sedang menunggu konfirmasi.

"Saya terima tawaran Anda. So, di mana kita bisa ketemu sekarang?"

*

Wanita paruh baya itu berhenti mengaduk-aduk ice coffe-nya ketika orang yang ditunggunya selama beberapa menit yang lalu datang dari arah pintu masuk cafe dan langsung berjalan ke tempatnya sekarang.

"Maaf, saya agak terlambat. Sedikit macet tadi." Pemuda itu berkata sebelum menarik kursi di depan si wanita.

Wanita itu tersenyum, sedikit menggeleng ketika melihat raut wajah si pemuda yang tampak bersalah.

"Tak masalah. Lagipula, sore ini saya ada waktu kosong. Hm, bagaimana? Tawaran saya diterima?"

Si pemuda mengangguk, meski masih sedikit ragu. "Saya sudah mengamati gadis itu, dan melihat reaksinya setelah menerima hasil belajarnya sungguh mengherankan."

Si wanita tersenyum. Netranya meredup. "Makanya saya memilih kamu untuk project luar biasa ini."

"Kenapa harus saya?"

"Karena saya yakin kamu bisa. Anak itu perlu sedikit pelatihan mental dan pengubahan pola pikir."

"Saya akan berusaha, tapi alasan Anda memilih saya belum terjawab."

"Bukannya saya sudah bilang tadi? Kamu juga menerima tawaran saya, kan? Apa lagi yang harus dipermasalahkan."

Si pemuda mendesah pelan. Ada sesuatu yang mengganjal dan sangat ingin ia tanyakan pada wanita di depannya ini tapi tak bisa ia ungkapan.

Terlalu rumit, dan ia seolah dipaksa untuk memecahkan puzzle yang tak bisa ia cari jawabannya.

"Saya ... akan menghubungi Anda lagi setelah ini."

Si wanita tersenyum penuh arti. Ia kembali meneguk ice coffe-nya kemudian mengucapkan kalimat yang membuat dahi pemuda di hadapannya mengerut.

"Menjawab pertanyaanmu tadi, mengenai alasan saya memilihmu. Karena... kita punya sedikit hubungan di masa lalu."

***

Spoiler for mari membaca:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lintangayudy dan 32 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mbakendut
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

GVG Part 1

-oOo-


"Mama capek negur kamu, tapi kamu nggak pernah denger Mama. Ngerasain sendiri 'kan hasilnya?"

Purnama memutar bola mata. Dalam hati merutuk karena menyesal telah memperlihatkan lapornya pada sang mama. Ia kira tanggapan wanita itu akan cuek alias tidak peduli. Toh, mamanya itu terlalu sibuk dengan kerjanya dan jarang di rumah.

Lagipula, ia tidak terlalu peduli dengan nilainya yang luar biasa jelek semester ini. Nilai nyaris di bawah standar bukanlah hal baru baginya. Semester kemarin juga buruk. Yah, meski tidak sejelek semester ini.

Langkah Khanza--ibunda Purnama berhenti di depan kamar. Kontan, langkah Purnama juga berhenti. Gadis itu dapat melihat jika sang mama tengah mengatur napas, seperti ngos-ngosan dan tak teratur.

"Mama kenapa?" tanya Purnama. Terselip rasa khawatir mengingat mamanya Itu memiliki riwayat penyakit asma akut.

Khanza menoleh. Napasnya kembali teratur dan wajahnya berubah tenang. Wanita itu terdiam sebentar, kemudian berkata, "Besok, jangan kemana-mana. Tetap di rumah."

"Loh, kenapa? Mama mau hukum Purnama gitu?"

"Akan ada tamu penting besok. Jadi, jangan kemana-mana selagi Mama ke kantor."

"Tapi, Ma--"

Purnama belum sempat melanjutkan ucapannya karena Khanza keburu masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Purnama menghembuskan napas kasar. Selalu seperti itu, rutuknya.

Gadis itu hendak menuju kamarnya tapi urung ketika ponsel yang ia taruh di saku hotpans-nya. Segera ia merogoh benda pipih tersebut dan mengangkat telepon yang masuk.

"Halo, Sha!"

"Tante gue baru aja balik dari Sulawesi. Dia bawa oleh-oleh favorit lo. Rambutan, Pur."

Salsha--sahabatnya di seberang menginfokan dengan nada tak santai, membuat Purnama berjengit kaget dan menjauhkan speaker dari telinga. Tapi, mendengar kata 'rambutan', ia jadi antusias juga.

"Serius nih?"

"Ho'oh. Cepetan ke sini, sebelum habis diburu sama Fathir."

"Ok, gue ke sana sekarang."

Purnama menutup telepon. Senyum manisnya terbit. Rezeki anak saleh, sorak nya dalam hati. Ia harus ke sana sekarang, sebelum Fathir--adik Salsha yang rakus menghabiskan buah favoritnya.

Rambutan, I'm coming!

**

Purnama mengendarai motor matic-nya layaknya orang kesetanan. Jarak rumah Salsha dari rumahnya yang biasa ditempuh dengan durasi setengah jam, ia singkat menjadi 10 menit saja. Setelah mematikan mesin, ia berlari masuk ke rumah Salsha yang minimalis tanpa salam, apalagi pintunya memang terbuka lebar.

"Rambutan gue mana?"

Salsha dan Fathir yang saat itu bercengkrama di ruang tengah terkejut dengan kedatangan Purnama yang tiba-tiba.

"Eh, Pur! Cepet amat lo nyampenya."

Purnama menatap sekeliling. Ia tak melihat apa-apa di ruangan itu, selain televisi yang sedang menyala dan Fathir yang tengah bermain game.

"Rambutan gue mana?" Purnama kembali mengulang pertanyaannya.

Salsha mengernyit sejenak lalu sedetik kemudian menghamburkan tawa. Tentang saja Purnama menjadi heran sekaligus jengkel karena menurutnya, pertanyaannya tidak ada yang lucu.

"Pfft! Efek nilai lo buruk kali ya? Nggak ada rambutan kali, Na."

What the fuck??

**

Bersambung...


Quote:
Diubah oleh mbakendut
profile picture
YenieSue0101 
Sahabat kampret 😅😅😅
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di