CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Catatan Perjalanan OANC /
Drama Pendakian Gunung Semeru Yang Bikin Ngelus Dada
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5d77c882d495128e1e4b0e/drama-pendakian-gunung-semeru-yang-bikin-ngelus-dada

Drama Pendakian Gunung Semeru Yang Bikin Ngelus Dada




emoticon-I Love Indonesia WELCOME TO MY THREAD emoticon-I Love Indonesia



Halo para warga kaskuser sekalian, sebagaimana warga kaskuser yang berbudiman jangan lupa untuk

emoticon-Rate 5 Star RATE
emoticon-nulisah KOMEN
emoticon-pencet SHARE
emoticon-Toast CENDOL


SELAMAT MEMBACA
emoticon-Monggo



Selamat pagi sodara-sodara, ketemu lagi nih bersama saya lapar.bang yang kali ini pengen nyeritain drama yang saya alami saat mendaki gunung semeru. Dan ceritanya dimulai dari sini.



*huuffftttt
Mari ambil nafas terlebih dahulu karena drama-drama yang tersaji dalam cerita ini akan sangat panjang. Karena saya akan menceritakan berbagai latar belakang terlebih dahulu sebelum mulai bercerita tentang perjalanan kali ini.


DAY 1

Jumat pagi, saya sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang kali ini. Dari rumah dengan menggunakan kendaraan roda dua saya harus mampir dulu ke kediaman Om Pandu pelaksana open trip Gunung Argopuro yang harganya kelewat murah, cuma 250k selama 6 hari, ini sih namanya ngerusak harga pasaran open tripemoticon-Hammer (S)

Menggendong tas carier 75++ dengan dandanan ala gembel saya sudah di tunggu Mas Bed salah satu pengelolah Desa Wisata di lereng Bromo. Pada kesempatan kali ini saya akan mendaki ber-4 dan dua di antaranya srikandi dari Kota Surabaya dan Kota Jembrana, Bali.

Pertemuam singkat saya dan Om Pandu saat itu sedikit membahas tentang dua srikandi tersebut, yang satu emak-emak top di kalangan pendaki saya lebih suka menyebutnya mamak karena selama mendaki masakannya terlampau enak, dan yang satu adalah pendaki pemula (Pendaki Muka Lama) yang langsung mengawali pendakiannya ke Gunung Argopuro.

Agenda saya kali ini bersama Mas Bed sudah jelas untuk mengantar dua srikandi tersebut mendaki Gunung Semeru. Tujuannya mereka juga jelas kok, mamak ingin melakukan pemanasan sebelum ke Gunung Krinci sementara Mbak Anggun (panggil saja Anggun) ingin menuntaskan Gunung dengan predikat tertentu di pulau Jawa.

Quote:


Wagelaseh, gak nanggung-nanggung sih ya kalo ini, baru daki langsung hajar tiga gunung dengan predikat tertentu. Dan saya tau kalau pendakian ini tidak main-main, maka jauh-jauh hari sebelumnya hampir setiap minggu saya tektok ke Gunung Penanggungan biar gak malu kalo jalan sama merekaemoticon-Hammer (S)

Setelah berpamitan dengan Om Pandu, saya pun menuju ke kediaman Mas Bed, nantinya Mamak dan Mbak Anggun sendiri akan berkendara dengan roda dua untuk menuju ke kediaman Mas Bed. Karena saya sendiri belum tidur seharian dan kepikiran pendakian ini akan bagaimana ceritanya apalagi sama orang-orang yang bisa dikatan Te O Pe Be Ge Te, maka sore itu saya memutuskan untuk tidur sejenak dan menunggu mereka berdua.


"ri, ri, bangun ri, Mamak sama Mbak Anggun udah datang." terdengar suara Mas Bed.


Mata masih merem-melek, ambil hp di sebelah, lihat jam, wah gila juga tidur dari sore dan jam 9 baru bangunemoticon-Hammer (S)

Setelah cuci muka kita ngupi-ngupi sebentar, sembari menunggu saya yang masih berusaha mengumpulkan nyawa, Mbak Anggun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan... wah, dua buah sarung asli dari bali di persembahkan untuk saya dan Mas Bed. Katanya sih 'Hadiah' (read: baca sogokan) karena bersedia mau mengantar ke Semeru. Makasih loh Mbakemoticon-Big Grin

Oke, jam 10 malam kita sudah siap untuk berangkat ke Ranu Pane. Dari kediaman Mas Bed sendiri waktu yang di tempuh jika lewat jalur motor trail hanya membutuhkan waktu 2 jam, karena kita pake motor matic, maka kita muter lagi lewat tumpang jalan umum dengan waktu kurang lebih 3 jam.

Dari jumat malam kini sudah berganti sabtu dinihari, sejenak kita melihat gelapnya jalanan dan sesekali mobil jeep menyapa kita yang sedang asik menikmati lereng bromo dengan berkendara sangat pelan karena gak kuat dengan hawa dingin yang sungguh keterlaluan. Desa Ranu Pane sendiri berada di ketinggian kurang lebih 2200mdpl. Jadi bisa bayangin gimana dinginnya desa ini.

Tepat pukul 1 dinihari kita sudah sampai di desa Ranu Pani, namun tujuan kita bukan ke BaseCamp melainkan ke rumah Pak Siadi, panggil saja Pak Di, karena sering bertemu saat beliau sedang menjadi porter di Semeru - maka sudah saya anggap Pak Dhe ketemu gedeemoticon-Hammer (S)

Kondisi rumahnya sendiri masih terbuka, namun gerbangnya tertutup rapat. Fix, ini sih orangnya lupa nutup pintu rumahemoticon-Hammer (S)

Dan yang paling serem disini adalah buwanyak banget anjing di rumah warga, satu rumah bisa berisi 3-4 anjing. Mau gerak salah, mau berdiri salah, dikit-dikit nggonggong, dikit-dikit berisik. Oke anjing disini sangat sensitif jika ada orang baru yang tak di kenal. Setelah kejadian saling sahut-menyahut salah satu warga keluar dan saya pun langsung menghampirinya, katanya Pak Di sudah tidur, orangnya emang sudah kebiasaan lupa nutup pintu rumahmya, dan akhirnya saya menitipkan kendaraan saya di rumah beliau. Namanya Pak Wagiman, dan lebih suka dipanggil Pak Man.

Kita di jamu disana, dibuatin kopi, dan makanan juga sangat banyak, saat itu orang Hindu habis syukuran karena hujan pertama mengguyur desa tersebut. Oke kita memang tadi kehujanan saat menuju tempat ini dan makananya emang banyak banget

Kita banyak bercerita sembari menunggu pagi. Maaf ralat, lebih tepatnya Pak Man yang bercerita tentang kehidupannya, mulai dari sebelum menjadi porter, suka duka menjadi porter, kerukunan umat muslim dan hindu disini, cara bercocok tanam kentang, kubis, daun bawang, dan sampai sebulan penuh gak pulang karena harus jadi porter+guige, bolak-balik puncak Mahameru sampe tujuh kali. Gila gak sih sih. Pak Man pasti level bosennya sudah akut banget karena hampir tiap hari bolak-balik ke puncak Mahameru. Tapi saya sangat menikmati cerita beliau. Hingga setelah azdan subuh berkumandang saya memutuskan untuk memulai perjalanan kali ini.


Day 2



Sabtu pagi, lebih tepatnya sabtu subuh kita berpamitan untuk berangkat mendaki, langkah pertama saya sudah diiringi dengan gonggongan anjing milik Pak Man dan lain-lainemoticon-Hammer (S)

Parah sungguh parah, parahnya pake banget sudah, dan demi apapun ini sangat parah. Tingkat kesensitif anjing di sini lebih parah ketimbang kesensitifan cewek saat lagi pms, buktinya saja lamgkah pertama saya langsung di sambut dengan gonggongan anjing tersebut. Eh gara gara satu anjing menggonggong akhirnya seluruh anjing yang ada disini ikut menggonggong, termasuk anjing tetangga yang ramai bagaikan melihat artis papan atas. Mungkin mereka mengira saya adalah orang asing yang hendak mencuri, seburuk itu kah saya dan kawan-kawan di mata anjing itu, padahal saya kan mau mendakiemoticon-Frown

Oke, lupakan anjing tersebut mari kita lanjut perjalanan kali ini.


Loh kok gak simaksi mas?
Loh kok gak breafing juga sih mas?
Loh masnya kok bobol sih?
Loh mas
Loh
Loh
Dan loh loh yang lainnya



Kita gak bobol kok, kita cuma gak simaksi aja dan lewat jalur porter karena waktu tempuh lebih cepat 2 jam.

Mungkin kalian pernah dengar kalau mendaki Semeru sangat dilarang untuk jalan dimalam hari karena banyak hewan buasnya, dan saya setuju. Selama saya bolak-balik Semeru, saya selalu mendaki di atas jam 12 malam, dan memang tidak ada pendaki selain kita karena selalu lewat jalur porter. Termasuk baru kali ini jam 4 pagi saya melakukan perjalanan. Tujuannya apa sih? Biar gak ketahuan petugas TNBTS yang jaga di pintu masuk dan juga yang ada di kawasan Gunung Semeru. Istilahnya sih kucing-kucingan. Oke yang ini jangan ditiru ya. Sangat dilarang keras mendaki ilegal seperti ini. Mending kalian lewat jalur resmi yang sudah ada asuransi jika kalian kenapa-napa. Sanksi sudah menanti kalo ketahuan mendaki secara ilegal, muai dari teguran ringan, teguran keras, disuruh kembali pulang, sampai dengan blacklist seumur hidup. Yaa.. padahal warga lokal dan bapak-bapak porter gak masalah. Malah tas kita sebenernya mau di porterin sampai Ranu Kumbolo tapi kita menolak itu karena 'sungkan' (read: baca sungguh-sungguh mengharapkan.)

Jalur pertama kita akan melewati jalan beraspal, kira kira kurang lebih 100 meter dan kita akan masuk ke perkebunan warga, fix kita sudah mulai bobol, kalau lewat jalan aspal biasa bakalan muter lumayan jauh, jadi kita lewat perkebunan warga, sampai di ujung perkebunan ada sebuah pertigaan dan ada sebuah pos, disinilah pintu masuk jalur porter alias jalur ayak-ayak.

Beberapa tahun yang lalu saat saya kesini pos tersebut belum ada. Karena banyak pendaki yang hobi slonong boy gak bayar dan bobol maka pihak pengelolah merasa kecolongan dan pada akhirnya pos jaga ini di buat.

Tips saat melakukan pendakian semeru jika kuota penuh adalah dengan hal ini. Satu-satunya cara ya jadi pendaki ilegalemoticon-Hammer (S)

Tapi pendakian harus di mulai kisaran jam 10-12 malam. Biasanya penjaga pos pantau di jalur ayak-ayak akan pulang dan juga beberapa tim sar akan naik dan turun lewat jalur ini untuk stay di Ranu Kumbolo dan Kalimati.

Fix ini menyesatkan, jangan meniru cara ini ya, selain jalurnya yang aduhai banyak percabangan juga, jadi mending gak usah ditiruemoticon-Frown

Oke lanjut. Seiring perjalanan ini dimulai, gerimis yang awal mula imut-imut dan kecil-kecil berubah menjadi gerimis yang tak imut lagi, hujannya makin deres dan gede-gede. Apakah ini pertanda sesuatu? Semoga saja bukan.

Jalur semakin menanjak dan terus menanjak. Jalur ini beda dengan jalur resmi yang berkelok-kelok, di jalur ini juga berkelok kelok kok, tapi banyak lurusnya, tapi berkelok-kelok, hallah embuh lah. Mungkin jika kalian pernah ke Argopuro jalurnya seperti itu, lebar gak sampe 1 meter dengan bekas roda motor di tengahnya. Meleng dikit bisa keblingger kaki kalian di cerukan bekas ban motor ituemoticon-Ngakak (S)

Dan yang paling enak saat mendaki hari itu adalah jalur debunya, jadi jalur kali ini bukan jalur tanah, jalur batu, atau bahkan jalur pasir. Kenapa saya bilang paling enak. Karena habis hujan, jadi debu bagian atas basah dan debu bagian bawah kering. Debu ini bagaikan "Kita." iya kita. "Aku dan Kamu" yang tidak bisa menyatu dengan air - layaknya air dan minyakemoticon-Frown

Nah, jadi saat kita berjalan akan meninggalkan jejak yang sangat jelas, ini yang akan membuat teman di belakang tau kalau romobngan depan habis melewati jalur ini. Sekilas jalur terlihat basah, tapi ada bekas jejak sepatu yang tertinggal pada debu yang masih kering. Bingung ya? Iya, saya juga bingung jelasinnya gimana.

Pokoknya saya sangat-sangat tidak merekomendasikan kalo lewat sini pas lagi musim panas. Sepatu kalian yang tingginya bermodel-model itu akan tenggelam di lautan debu. Iya, jika kaki dan sepatu kalian saat menginjak debu itu maka gak akan keliatan saking dalamnya. Dan sampai bawa muka kalian, badan, tas, bahkan sampai daleman bakalan kucel gak karuanemoticon-Ngakak (S)

Jalanan masih sama naik mulu, ada landainya dikit sih, tapi habis itu naik lagi, sampai pagi menjemput kira-kira hampir jam 6 kita sudah akan sampai di ujung tanjakan. Terdengar suara motor dengan nyaring dan saya pun harus menepi karena harus mendahulukan motor tersebut. Yoi, bapak-bapak porter dan juga bapak-bapak yang berjualan semamgka barusan lewat pake motor, saya mah selow aja ngasih jalan dan sedikit ngobrol dengan beliauemoticon-Ngakak (S)

Quote:


Intinya apa? Katakan sesuatu sejujur jujurnya. Tadinya saya bakal di kasih wejangan karena jadi pendaki ilegal, tapi beliau mah bodo amat udah gede juga, jadi bisa jaga diri baik-baik dan gak bakalan macem-macem kalo di gunung. Jadi yasudah.

HAHAHA
Ketawain Aja Dulu
emoticon-Big Grin



Ekspresi kehujanan, kecapekan, kelelahan, dan ke ke yang lainnya, akhirnya saya melanjutkan perjalanan kembali. Padahal bapak-bapak porter baru aja berangkat, eh udah ilang aja. Setelah melewati dua tebing penghubung antara tanjakan dan turunan terlihatlah sabana yang luaaaaasss banget, bukit-bukit juga keliatan ijo-ijo rada kuning. Orang orang sih nyebutnya bukit teletubis, entah kenapa setiap ada bukit selalu di namai dengan bukit teletubis padahal gak ada teletubisnyaemoticon-Hammer (S)

Perjalanan tinggal sedikit lagi, dan sekarang belum jam 7, yasudah kita sedikit berpoto-poto sesekali nyemil kacang yang ada di saku celana. Setelah mengalami siksaan tanjakan yang gak ada ampun jalanan kini di dominasi oleh turunan dan turunan, dan jalan itu terus turun hingga kita sampai di sebuah sabana.



Mungkin.. mungkin nih, kalo jalur pendakian Semeru lewat sini bakal lebih menarik lagi karena sabana yang di sajikan sangat eksotis. Belum lagi bukit-bukit di kanan kiri dengan view langsung ke puncak Semeru. Tapi walaupun lewat jalur Watu Rejeng juga tetep rame kok biar kata sehari 500 orang kuota juga tetep fullemoticon-Big Grin

Setelah puas berpoto-poto kita lanjut jalan, kan jadi inget Argopuro kalo begini, sabana luas, jalur landai, jalan muter mengelilingi bukit, dan pada akhirnya kita sampai juga di depan Ranu Kumbolo, sejenak Ranu Kumbolo malu-malu menutup dirinya dengan balutan kabut, kondisi sudah mulai cerah dan gerimis kecil masih terus menggelitik #tsah



Kondisi Ranu Kumbolo sebelah kiri saat itu sangat-sangat sepi, hanya ada satu tenda saja, sementara yang lain memilih untuk camp di depan tanjakan cinta, padahal kontur tanah disana tronjal tronjol maha asyik. Mari mendirikan tenda, dua tenda kap 5p dan 2p sudah berdiri untuk kita ber-4, kelebihan ya? Yaudah gapapa biar lega kalo tiduremoticon-Ngakak (S)

Gelar matras dulu di depan tenda, sambil bikin minuman hangat saya juga menjemur segala peralatan tempur yang sudah basah, rain cover, tas slempang, topi, sarung tangan, kos kakik, jaket, sepatu, jaket, sepatu, jaket, sepatu. Lah banyak amat jaket sama sepatunya? Ya kan kita ber-4 pake jaket sama sepatu. Gak usah ditulis berkali-kali juga kan bisa!!! Kan biar pas ini 20000 karakter. Biar cepet habis, biar ganti halaman.

Setelah semua selesai akhirnya kita ngupi-ngupi sambil nunggu matahari naik ke atas. nesting mana nesting? Kompor juga mana? Eh dikira mo masak nasi ternyata buat roti bakaremoticon-Ngakak (S)

Santai dulu lah.. di Ranu Kumbolo di jamin gak bakalan kehabisan logistik, kan ada warung juga, ada tempat buat cas juga, para warga pada diriin warung di deket shelter Ranu Kumbolo, dan mereka niat banget loh bawa jenset dari bawah, jadi kalau mau tidur pasti bakalan kedengeran tuh suara jenset yang berisiknya gak ketulunganemoticon-Ngakak (S)

Makanya saya pilih camp di sebelah kiri daripada harus milih camp di depan Tanjakan Cinta, selain lebih sepi saya juga anti sosial. Eh kagak ding, kita cari aman aja soalnya breafing di Ranu Pane itu baru buka jam 8 pagi sementara jam 7 pagi kita sudah sampe ranu kumbolo, tar kalo di tanyai sama petugas saya jawab apa? Tar kalo di intrograsi sama petugas saya bilang apa? Jadi, mending antisipasi aja dulu untuk camp di tempat yang sepi daripada ditanya-tanya sama petugasemoticon-Big Grin



Belusukan dulu di sebelah sambil poto nyium edelweis biar dikira pendaki #ceileh

Setelah puas poto-poto lanjut lah kita selonjoran nyari tempat yang sepi, sambil masang hammock saya lagi dengerin alias di dongenin Mamak selama berkeliling kengunung-gunung lain, yasudah mamak di bawah nyemil-nyemil sama Mbak Anggun, sementara saya di atas hammock sedang tidur-tiduran sama Mas Bed.




Sekilas setelah saya pandang baik-baik foto tersebut saya kok mrasa gimana ya, tidur berdua di hammock, kulit saling bergesekan, ketawa-ketawa bagaikan dua insan yang sedang berbahagia. Duhh.. bayangan ini kok sampe kemana-mana sih. Ah lupakan. Sembari nunggu temen mamak yang mungkin sampai di Ranu Kumbolo sore nanti - kita menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan, iya, malas bingung mau ngapain. Jemuran udah kering, barang udah rapi di tenda, masak juga sudah, karena bingung ya malas-malasan, foto foto, keliling Ranu Kumbolo sampe bosen. Pokoknya sambil nunggu teman mamak yang lain, kita lagi bingung mau ngapain, bingung pake banget. Dan akhirnya tidur, tapi kita gak bisa tidur, serba salah kan ya.

Wes, embuh lah.


Cerita Lanjutan Ada Di Bawah



profile-picture
profile-picture
profile-picture
aniesday dan 20 lainnya memberi reputasi
LANJUTAN


Saya pun kembali naik hingga batas vegetasi, tidak ada pendaki lagi yang turun, terlihat di ketinggian sana ada sebuah debu yang berterbangan, setelah saya amati dengan seksama ada pendaki yang turun dengan berlari, harapan semakin besar, semoga saja itu benar-benar Mas Bed dan Mbak Anggun, saya pun mencoba berteriak sampai suara saya serak, namun mustahil jika mereka mendengar suara teriakan saya dari atas sana.

Saya pun ters naik hingga ke Cemoro Tunggal, saya menunggu mereka turun, tidak mungkin juga saya menyusul hingga atas melihat jalur seperti itu dan hari ini sudah pukul 12 siang.

Saya gak bisa fokus dan konsentrasi karena kebakaran di bawah, asap putih semakin tebal membumbung ke atas, bentar-bentar saya berdiri, kemudian duduk, lalu berdiri lagi, lalu duduk lagi.

Minggu siang, kebakaran melanda semeru, sesekali saya menengok ke atas memastikan mereka sudah sampai mana dan sesekali saya menengok kebelakang melihat asap yang masih saja terus mengepul.

Panik, risau, resah, gelisah, semua jadi satu, mengingat saya dan kawan-kawan adalah pendaki ilegal dan kalau terjadi apa apa tidak akan mendapat asuransi maka sebisa mungkin saya harus selamat dari kejadian ini.

Satu jam menunggu tepat pukul satu Mas Bed dan Mbak Anggun senyum-senyum. Ini orang gak tau apa kalo lagi kebakaran kok malah senyum-senyumemoticon-Mad

Quote:


Kita bertiga pun turun dengan berlari dan membawa dahan pohon melihat situasi dan kondisi, ternyata ini adalah tempat kebakaran semalam saat hendak naik.

Dari kejauhan terlihat satu orang yang berusaha mematikan api, kondisi sudah sangat-sangat sepi hanya tersisa kita ber-3 dan mas-mas yang berusaha mematikan api, saat saya sampai di bawah, loh Mas Iman. Beliau adalah rombongan mamak-mamak dari Jogja sekaligus penanggung jawab acara pendakian mamak-mamak U-45 goes to Krinci yang melakukan pemantapan di Semeru. Mas imam gak ikut naik kemarin karena harus mengantar salah satu mamak-mamak turun karena gak kuat.


"Sendirian aja mas?"
"Saya bantu yuk mas"





Akhirnya kita bertiga memadamkan api tersebut, sementara Mbak Anggun menunggu di jalur yang aman dari jangkauan api dan beristirahat. Kalian bisa cek Di Sini untuk melihat video kebakaran saat itu.

Udara sangat panas, ditambah cuaca yang tak kalah panas membuat saya yang baru berusaha mematikan api langsung berkeringat, belum lagi angin yang berhembus kencang, area kebakaran sendiri sangat luas. Kita berbagi tugas, Mas Iman di atas, saya dan Mas Bed turun ke sebuah lembah untuk memotong jalur api yang pasti akan merembet kesana.

Jurang sedalam 2 meter yang langsung mengarah kebawa di lompati Mas Bed dan dia langsung jatuh menggelinding ke bawah karena yang dia pijak adalah pasir berkerikil, untung masih bisa memegang rerumputan di sekitarnya.

Saat tiba giliran saya, akhirnya saya melompat, sempat kebingungan juga karena harus bagaimana melompatnya, mengingat di bawah adalah jurang dengan kemiringan yang luar biasa.

"Jblusss" saya meloncat dan mendarat dengan tidak sempurna, hampir sama dengan Mas Bed, saya terpeleset dan terjungkal hingga menggelinding ke bawah, kali ini lebih jauh dari Mas Bed, untungnya ada sebuah pohon kecil yang bisa saya jadikan pijakan. Kepala sedikit pusing akibat muter-muter dan terbentur tanah, sementada beberapa bagian tubuh saya sedikit lecet.

Mas Bed dan Mas Iman saat itu hanya tertawa melihat cara saya terjatuh, dan kalian tau? Marabahaya datang mereka asik mentertawakan saya. Ini adalah penghinaanemoticon-Mad

Setelah kembali berdiri saya pun bergegas menuju ke sebuah titik dimana Mas Bed menyuruh saya untuk membuat sekat antara tempat yang akan terbakar dan tempat yang akan kita selamatkan. Mas Bed sendiri langsung menaiki sebuah tebing, mengingat Mas Bed juga pandai panjat tebing, sementara Mas Iman di atas, saya mulai membersihkan sebuah ilalang yang akan terbakar nantinya, saya memberikan skat sekitar satu meter. Mau tidak mau saya mengasih jarak kurang lebih 20 meter dari titip api sampai ke tempat saya berdiri, dan mau tidak mau 20 meter tersebut nantinya akan terbakar. Yaa.. lebih baik begini, mengorbankan sedikit tempat daripada semua hutan di Semeru terbakar.

Begitupun Mas Bed dan Mas Iman melakukan hal yang sama, setelah berjibaku beberapa jam dengan api akhirnya Mas Bed kembali dari sebuah tebing, dia turun dan menemui saya yang bersandar di sebuah pohon mengajak untuk kembali.


"innalilahi.. ini gimana naiknya mas? Tempat kita tadi turun kan sudah kebakar?"


Panik bin gelisah, saya dan Mas Bed bingung cara naik keatas begitupun Mas Iman yang di atas bingung mencari sesuatu, api semakin membesar dan terus merembet ke bawah, dalam pikiran saya sebenarnya waktu itu pasrah jika saya mati debgan terbakar di Semeru, setidaknya saya sudah melakukan sesikit kebaikn untuk alam. Yaa.. walaupun nyatanya saya mendaki kesini sebagai pendaki ilegalemoticon-Frown

Lalu Mas Iman menarik Mas Bed yang saya suruh naik ke pundak saya. Iya saya kurus dan ceking, tapi, ketika ada hal seperti ini, saya mendadak kuat mengangkat Mas Bed yang badannya lebih gede daripada sayaemoticon-Hammer (S)

Akhirnya Mas Bed bisa naik ke atas, tapi sekarang bagaimana giliran saya naik? Inikah akhir dari perjanlanan saya? Saya pun semakin panik, api saat itu hanya berjarak sekitar 3-4 meter saja, sementara saya belum bisa naik.

Lalu Mas Bed kembali turun dengan memegangi tangan Mas Iman dan menyuruh saya untuk melompat meraih kakinya. Saya bingung dengan apa yang di lakukan mereka berdua, mereka hanya teriak-teriak menyuruh saya segera naik, akhirnya saya berusaha melompat dan kaki Mas Bed berhasil saya raih, dengan sekuat tenaga saya berusaha naik dengan menjadikan kaki, bokong, pinggang, pundak, dan kepala Mas Bed sebagai pijakan, sesaat setelah saya sampai di atas, saya membantu Mas Iman menarik Mas Bed. Dan akhirnya kita semua selamat dari amukan api tersebut.

Ngos-ngosan dan yang pasti jantung berdegup kencang adalah hal yang saya rasakan setelah berhasil keluar dari lembah yang terbakar itu. Nampaknya Mas Bed dan mas Iman juga sama

Kita hanya diam, bengong, saling pandang, kemudian lihat api tersebut yang dengan cepat merembet kebawah.

Quote:


Setelah meninggalkan kejadian tersebut akhirnya saya turun, sumpah ini sangat-sangat melelahkan, bahkan turun yang seharusnya 1 jam menjadi 2 jam.

Sampai di bawah semua barang sudah di prepare sama mamak, mamak yang manunggu dengan cemas ternyata lagi nyantai sama pendaki lainemoticon-Nohope

Malah saya yang cemas sekarang, sudah perut lapar, habis di landa kejadian yang mengerikan pula. Tapi mamak pengertian banget, mamak memasak sebuah makanan untuk kami bertiga. Dan makan lah kami bertiga sambil berceritaemoticon-Big Grin

Setelah makan selesai langsung kita menyangklot tas dan pergi meninggalkan Kalimati.



Bye.. Kalimati, terimakasih sudah memberikan banyak cerita, foto di atas adalah foto saat saya dan rombongan hendak kembali ke Ranu Kumbolo dengan background puncak Mahameru, tak lupa asap bekas kebakaran juga masih terlihat.

Pukul 4 sore kita resmi meninggalkan Kalimati, saat di Jambangan pun tak lupa kita berfoto sejenak.



Poto lagi kita masih masih dengan latar yang sama yaitu Puncak Mahameru yang keliatan botak, namun kali ini tempat yang terbakar tadi tertutupi oleh kabut.

2 jam waktu yang di perlukan untuk kembali ke Ranu Kumbolo, kita sampai hampir pukul setengah 7 malam.

Melihat ramainya kondisi ranu kumbolo kita juga sempat mencari rombongan mamak-mamak yang lain, tapi dari puluhan tenda atau bahkan ratusan kita tidak bisa menemukan keberadaan mereka, akhirnya kita memutuskan untuk camp di depan tanjakan cinta yang kontur tanahnya tronjal tronjol maha asyik. Siapa tau besok bisa bertemu dengan mereka lagi, kata mamak sih gitu.

Udara semakin dingin, kita semua malas masak, yaa.. tau lah ya, kejadian sore tadi membuat mood saya dan rombongan ogah-ogahan untuk bergerak, hanya diam di tenda dan bercerita, tak lupa Mbak Anggun memesan sebuah pecel di warung sebelah. Saya bilang apa, di Ranu Kumbolo kalian tidak akan kelaparan. Disini banya warung kokemoticon-Big Grin

Setelah makan-makan akhirnya kita beristirahat untuk melanjutkan perjalanan pulang esok hari.

SELAMAT MALAM, SELAMAT BERISTIRAHAT


Day 4


Selamat pagi lagi Ranu Kumbolo. Ini adalah kali pertama saya menginap di Ranu Kumbolo dua kali dalam satu kali pendakianemoticon-Hammer (S)

Tanjakan cinta lagi rame-ramenya, banyak juga ternyata yang poto poto di atas sana.



Kondisi rerumputan di sekitar Ranu Kumbolo juga menjadi Es, malam itu lebih dingin daripada malam kali pertama saat saya camp di Sana.



Wah gila sih ini, Ranu Kumbolo sampe mengkristal jadi es, bahkan beberapa barang bawaan saya yang ada di luar tenda juga mengkristalemoticon-Hammer (S)

Inilah alasan kenapa saat kalian mendaki ke Gunjng Semeru wajib menyertakan surat kesehatan, karena suhu disini sangat rendah, dan titik terendah saat itu pernah mencapai -5 kebayangkan dinginnya, malah di bawah titik beku. Dan karena hal inilah saat breafing dan pengecekan ulang di pos ijin, pendaki wajib membawa sleepingbag. Kalo gak bawa ya siap-siap aja terserang hipotermia.

Saya pun memutuskan untuk jalan-jalan sejenak berkeliling dan memutari Ranu Kumbolo seorang diri.





Seperti belum puas setelah kemarin seharian memutari Ranu Kumbolo, kali ini saya kembali memutari tempat tersebut untuk yang kedua kalinya.

Memang benar tuhan menjatuhkan secuil surga kesebuah planet benama bumi ini, seakan tak ada bosannya saya terus merenung dan menikmati kedamain jiwa ini.




Setelah puas berjam-jam menyendiri akhirnya saya kembali ke tempat camp dan bersiap untuk pulang, tidak ada menu pagi itu, kita hanya berusaha menghabiskan jajanan yang kita bawa, setelah prepare dan siap-siap. Kita berpamitan ke rombongan mamak-mamak yang lain, kita juga sempat mengobrol dan sedikit bertukar nomer handphone dan juga sosial media.

Tak lupa juga saya poto-poto bareng mamak di Ranu Kumbolo, mengingat kesempatan ini sangat jarang terjadi, dan kemaren pun saya belum sempat untuk berpoto-poto.



Sebelum prepare, lagi santai berjemur menghangatkan tubuhemoticon-Ngakak (S)




Sesudah prepare dan kita siap untuk perjalanan yang sesungguhnya. Pulang. Yaa.. pulang ke tempat kelahiran, dan kembali ketempat masing-masing dengan selamat adalah tujuan yang sebenarnya.

Tidak ada cerita menarik di perjalanan pulang kali ini, kita pulang dengan lintas jalur alias pulang melewati jalur resmi, kata mamak sih biar pas, setelah berangkat lewat jalur porter, sekarang pulangnya lewat jalur yang benar-benar diperu tukkan untuk pendakiemoticon-Ngakak (S)





Untuk Mamak, Mas Bed, Mbak Anggun, Mas Iman, kedua cewek yang pinjam Hammock yang salah satu dari mereka bernama Chaca, para mamak-mamak, dan semua orang yang terlibat dalam cerita ini, terimakasih telah memberi drama pendakian Gunung Semeru ini dengan cerita-cerita seru dari kalian.

Tanpa saya kalian bukan apa-apa, eh salah ding, tanpa kalian saya bukan apa-apa.

Cerita ini benar-benar saya dedikasihkan buat kalian para pecinta ketinggian.

Dan buat para pembaca terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan yang membosankan ini. Sampai bertemu di cerita perjalanan saya selanjutnya.


TERIMA KASIH
emoticon-terimakasihemoticon-terimakasihemoticon-terimakasih



Baca Juga:
Serunya Mendaki Gunung Lawu
Panjangnya Jalur Pendakian Gunung Argopuro






profile-picture
profile-picture
profile-picture
aniesday dan 13 lainnya memberi reputasi
profile picture
wisnusatriya
aktivis kaskus
gan, seinget ane... bukannya ga boleh ya cuci muka langsung di telaga rakum ??
profile picture
Thn 2013 msh Boleh om.. kl mancing sm mandi ga boleh
profile picture
mantabb critanya nyntai krn udh penglamn Salut az
profile picture
aniesday
kaskus addict
gilak. tritnya keren keren ih. bukuin deh, ane mau kok beli
profile picture
TS lapar.bang 
KASKUS Plus
@aniesday dengan gaya bahasa seperti itu bun?
kira kira bakal banyak yang seneng gak? absurd gitu ceritanyaemoticon-Frown
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di