CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 50

“Assalamu ‘alaikum.”

Terdengar salam dari depan pintu rumah kediaman Winarto Nugroho. Keluarga dari Jafar Khalid telah sampai dengan selamat. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh keluarga Winarto Nugroho.
“Wa ‘alaikum salam...”jawab Winarto dan keluarga.

“Wah! Anna cantik sekali!” ujar Ratna, ibunda Rendy.

“Ah, aku biasa aja kok, Ma...” ujar Anna setelah mencium tangan Ratna.

“Pak Win, sehat?” tanya Jafar, ayahanda Anna.

“Alhamdulillah... Masih sehat ini... Hahahahaha...”

“Rendy mana, Ma?” tanya Anna.

“Belum keluar kamar dari tadi... Sebentar ya...” ujar Ratna. “Nit...”

“Iya, tante...” jawab Anita yang berdiri di samping Ratna.

“Tolong panggilin Rendy dong... Anna udah datang nih...”

“Oh, iya sebentar...” Anita berjalan meninggalkan kerumunan menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Rendy. “Ren...”

Anita menemukan Rendy yang sedang duduk termenung. Melihat dan membolak-balikkan burung kertas merah muda yang ada dalam genggamannya. Rendy sudah rapih dengan pakaiannya, namun dia masih mengurung diri dalam kamarnya.
“Rendy...” Anita memegang kedua bahu Rendy dan duduk di sampingnya di atas ranjang.

Rendy menghela napas panjang. “Iya, Kak...”

“Anna udah datang tuh... Kita jadi mau survey gedung pernikahan kamu, kan?” tanya Anita.

“Jadi, Kak...” ujar Rendy. “Tapi, apa Anna bakal bahagia sama aku?” lanjutnya.

“Rendy... Kalau Anna gak akan bahagia sama kamu, Anna gak akan milih kamu sebagai suaminya... Dia mencintaimu, itu artinya dia bahagia dengamu, Ren.” ujar Anita.

“...”

“Kamu tau alasan dia kenapa bisa punya perasaan sama kamu?” tanya Anita.

“Itu dia, Kak... Dia selalu bilang, entah... atau, gak tau kenapa...” jawab Rendy.

“Bagus dong...” jawab Anita.

“Kok bagus?”

“Jika dia tak punya alasan untuk mencintaimu, berarti dia tak punya alasan untuk pergi.” ujar Anita. “Ayo, turun!” lanjutnya seraya berdiri dan keluar dari kamar.

Anita segera menuruni anak tangga dan berkumpul kembali dengan dua keluarga yang sedang bercengkrama. Disusul oleh Rendy yang baru saja keluar dari kamarnya. Kedua keluarga ini berencana untuk melihat gedung yang akan dipakai untuk resepsi pernikahan Anna dan Rendy.
“Nah, ditungguin dari tadi nih...” ujar Jafar, selaku ayahanda Anna.

“Iya, Pak... Dandan dulu tadi biar gak malu-maluin...” ujar Rendy lalu mencium tangan ayahanda Anna.

“Udah siap berangkat?” tanya ibunda Anna.

“Belum belum... Tunggu satu orang lagi... Dia yang tau tempatnya...” ujar Ratna, ibunda Rendy.

“Nunggu siapa lagi, Ma?” tanya ayahanda Rendy.

“Assalamu ‘alaikum...”

“Wa ‘alaikum salam...”

Ada seseorang yang berdiri di depan pintu rumah kediaman Winarto Nugroho. Sesosok pria yang kehadirannya tak disangka-sangka. Berbadan tegap dan bermasa otot yang terlihat dari lengannya. Pria yang sudah dikenal oleh Rendy dan Anna sebelumnya.
“Mas Gavin?” Anna langsung berdiri di samping Rendy dan memegang erat tangan Rendy.

“Hai, Vin... Sini masuk...” Ratna menyuruhnya masuk.

“Mama sehat?” Gavin mencium tangan Ratna, ibu kandung Gavin yang juga ibunda Rendy.

“Sehat, nak...”

Gavin juga mencium tangan Winarto. “Papa sehat?” tanya Gavin.

“...” Winarto diam dan menatap Ratna.

“Kenapa, Pa?” Gavin tersenyum. “Walaupun Papa ini statusnya bapak tiri, tapi masih orang tuaku juga kan?”

“Oh... Iya... Papa sehat kok...” jawab Winarto.

“Hei!” Anita langsung memeluk lengan Gavin.

“Hai, cantik! Udah siap semua kan? Yuk!” Gavin mengajak kedua keluarga untuk segera berangkat.

****

Gavin, Anita, dan juga seluruhnya segera berangkat ke tempat tujuan. Ada Gavin, Anita, ibunda, dan ayahanda Rendy di dalam mobil sedan besutan Stuttgart milik Gavin. Sedangkan Rendy, mengemudikan mobil milik sang ibunda bersama Anna dan keluarganya.
Rendy dan Anna heran mengapa ada Gavin ikut terlibat dalam kelangsungan pernikahan mereka. Gavin yang sebelumnya berencana menghancurkan hidup Rendy serta ayahandanya, kini berbalik memihak setelah mengetahui bahwa Ratna juga ibu kandung dari Gavin.
“Ren, kenapa ada Gavin?” tanya Anna.

“Aku juga gak tau, Na.” jawab Rendy seraya mengemudikan mobil.

“Positif aja, nak... Mungkin dia mau bantu kalian...” ujar ibunda Anna.

“Gimana ya, Bu... Kalau aja Ibu tau semua apa yang udah Gavin lakuin dulu-dulu, pasti susah untuk berpikir positif...” ujar Anna yang duduk di kursi depan.

“Yang jelas, sekarang Bapak mau Rendy dan kamu harus selalu berdampingan... Supaya ada yang jagain.” ujar Jafar selaku ayahanda Anna.”

“Tenang aja, Pak. Anna selalu saya jagain kok...” ujar Rendy.

Empat puluh menit berlalu. Akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan. Tempat ini berlokasi masih di daerah Jakarta Selatan. Sebuah tempat yang biasa dijadikan tempat resepsi pernikahan dengan tema outdoor dan indoor. Ada sebuah kolam renang yang dikelilingi oleh ruangan yang cukup besar dan luas. Serta, pohon yang rindang menghiasi taman di sekitar kolam.

Setelah memarkiran dan turun dari kendaraan, mereka semua masuk ke dalam area gedung. Melihat sekeliling ditemani oleh pihak penyewaan gedung yang juga client dari Gavin.
“Rendy...” bisik Anna.

“Ya...”

“Aku gak mau di sini ah... Pasti mahal...” ujar Anna dengan berbisik.

“Iya aku juga maunya sederhana aja...” ujar Rendy.

Setelah puas berkeliling, mereka semua masuk ke dalam sebuah ruangan dengan ukuran sebesar ruang pertemuan gedung perkantoran. Pihak gedung memulai memperlihatkan design dari wedding organizer yang bekerja sama dengan gedung itu. Hasilnya sangat memuaskan dan tentu dengan harga yang setara.
“Gimana, Ma? Bagus kan?” tanya Gavin.

“Bagus banget, Vin...” jawab Ratna.

“Ini baru satu WO yang saya tampilkan, dan kebetulan WO ini yang dipilih oleh Pak Gavin... Masih banyak kok kalau memang mau dilihat...” ujar pihak gedung tersebut.

“Gak usah, Pak... Saya percaya sama pilihan anak saya...” ujar Ratna.

“Permisi...” tiba-tiba saja seorang perempuan masuk ke dalam ruangan.

“Nah, ini dia yang punya WO datang... Silahkan masuk, Bu...” ujar pihak gedung.

“Maaf ya... Jakarta macet...” ujar ibu itu sambil tersenyum.

“Ma, Pa... Aku sama Rendy keluar sebentar ya...” Anna menarik Rendy keluar ruangan.

“Ada apa, Na?” tanya Rendy.

“Sini...” Anna menarik tangan Rendy.

Anna mengajak Rendy ke suatu tempat di dalam gedung ini. Tempat yang berlokasi di tengah-tengah area gedung. Sebuah taman yang berhiaskan pohon besar dan kolam renang. Tak terkecuali putihnya bunga-bunga lili yang memperindah area taman.
“Kamu ingat sesuatu gak kalau lihat pohon besar ini?” tanya Anna seraya merangkul lengan Rendy.

“Apa ya?”

“Dua belas tahun lalu... Di bawah pohon besar...” ujar Anna.

“Kamu kasih aku burung kertas merah muda... Jangan dibuka sampai kamu mengizinkan...” ujar Rendy seraya membelai kepala Anna dengan lembut.

“Itu kamu inget... Nyebelin deh!” Anna mencubit lengan Rendy.

“Hahahahaha... Di dalamnya, ada sebuah kalimat yang menyakitkan untuk sebuah perpisahan...” ujar Rendy.

“Tapi, takdir mempertemukan kita kembali...” ujar Anna.

“Kalimat itu berbunyi...” ujar Rendy sambil menatap mata Anna.

“I love you, Rendy!” Anna berkata sambil mengelus wajah Rendy.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
profile picture
guruh180693
aktivis kaskus
Weh semakin penasaran sama endingnya seperti apa, semangat gan
profile picture
abang.cepak
kaskuser
mantap... pembaca setia hadir
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di