CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 47

*BUG!*

Sebuah pukulan keras menghantam wajah Winarto. Tiba-tiba saja Rama datang lalu memukuli Winarto yang sedang bersantai di padang rumput yang biasa mereka jadikan tempat merebahkan tubuh mereka sejenak. Winarto tak sempat melawan karena kebingungan mengapa kawan sejatinya tiba-tiba saja menghajar dirinya.
“Sahabat macam apa kamu, Win!” sahut Rama.

“Tunggu, Rama! Ini ada apa!” ujar Winarto sambil menahan tangan Rama.

“Persetan denganmu! Ternyata selama ini kau menyembunyikan hubunganmu dengan Ratna!” ujar Rama.

“Tahan emosimu, Rama...”

“Ah! Brengsek kamu, Win!” Rama meronta dan kembali memukuli Winarto.

Winarto tak bisa melawan. Rama menyerangnya dengan membabi buta. Hanya sempat beberapa kali menangkis pukulannya. Setelah puas memukuli temannya, Rama pergi meninggalkan Winarto sendiri.
“Kau ingat baik-baik, Win! Aku akan menjadi lebih baik darimu dan merebut Ratna dengan caraku!” ujar Rama lalu pergi.

****

Hubungan mereka berdua kini hancur. Tak bisa disatukan kembali. Rama lebih memilih menjalani hidupnya sendiri. Menganggap bahwa Winarto adalah saingat beratnya. Menjalani sisa-sisa tahunnya di masa perkuliahan hingga akhirnya mereka berdua lulus dan bekerja di suatu perusahaan.

Dua tahun berselang, Winarto dan Rama tak saling komunikasi. Tali hubungan mereka sudah benar-benar putus. Tapi, hubungan antara Winarto dan Ratna masih terjalin harmonis hingga saat itu. Bahkan, Rama juga kerap masih berhubungan dengan Ratna walaupun hanya dianggap sebagai teman biasa. Hingga suatu hari, Rama mengundang Ratna ke acara ulang tahunnya melalu pesawat telepon.
“Halo...”

“Halo, Ratna ya?”

“Iya betul...”

“Aku Rama...”

“Hahahahaha... Aku sudah kira, suaranya kayak ku kenal...”

“Hahahaha... Aku mau undang kamu besok ke acara ulang tahunku, kamu datang ya...”

“Besok ya? Hhmm...”

“Aku jemput besok sore di rumahmu...”

“Iya... Baiklah... Dijemput kan?”

“Iya, Ratna...”

“Oke, aku tunggu besok ya...”

“Sampai jumpa besok...”

****

Waktu sangatlah cepat berlalu. Hari telah berganti melampaui yang sudah berlalu. Ratna dan Winarto sedang berdua melepas rindu di teras rumah Ratna yang sejuk dan asri. Ditemani oleh embun pagi yang menyegarkan jiwa, raga dan hati. Winarto melihat ada gerak-gerik yang tak biasa dari Ratna.
“Kamu kenapa, Ratna?” tanya Winarto

“Aku gak kenapa-napa, Mas...”

“Ada yang kamu sembunyikan?”

“Gak ada, Mas...” jawab Ratna.

“Jujurlah... Aku tau kamu ada yang dipikirkan...”

“Mas...” Ratna menghela napas panjang. “Janji sama aku, jangan marah...”

“Iya.”

“Rama mengundangku sore ini ke pesta ulang tahunnya.” ujar Ratna.

“Bukannya sudah aku bilang jangan berhubungan lagi sama dia?”

“Mas... Dia cuma aku anggap seperti teman biasa... Kamu percaya dong sama aku...”

“...”

“Nanti sore aku dijemput di rumah... Bolehkah aku pergi?”

“...”

“Percaya sama aku, Mas...” Ratna menggenggam tangan Winarto.

“Iya, aku percaya sama kamu. Salam buat Rama ya... Kalau begitu, aku permisi...” Winarto beranjak dari duduknya lalu pergi.

****

Sang pusat tata surya mulai tergelincir. Langit berubah menjadi jingga. Terbesit keraguan Ratna untuk melangkahkan kaki dari rumahnya. Terasa seperti merasakan isyarat kapal akan karam. Namun, Ratna tak punya pilihan lain. Di depan rumahnya sudah ada Rama yang menunggu. Mau tak mau, kakinya harus melangkah keluar dari singgah sanahnya.
“Kamu kenapa murung gitu?” tanya Rama.

“Ram, kita teman biasa kan?” tanya Ratna.

“Ya iyalah, Ratna... Memang kamu pikir aku menganggapmu apa?” ujar Rama.

“Aku takut kamu masih mengejarku...”

“Kalau perasaanku sih tetap... Tapi, aku paham posisimu yang sudah menjadi milik Winarto...” ujar Rama. “Yuk! Berangkat!” lanjutnya.

Ratna dan Rama melangkah perlahan menjauh dari rumah Ratna. Menumpang bus kota untuk sampai di rumah Rama. Satu jam perjalanan, mereka sampai di tujuan. Di sana sudah ramai teman-teman dari Rama. Ada teman dari kampus yang juga teman dari Winarto, ada juga teman saat Rama sekolah dulu. Mereka berpesta hingga malam datang. Rama mengambil satu gelas whisky untuk Ratna.
“Ayo! Kamu minum dulu...” Rama memberikan pada Ratna.

“Duh!” Ratna menjauhkan gelas yang berisi whisky.

“Apa ini, Ram?” tanya Ratna.

“Enak pokoknya... Diminum dong... Ayo teman-teman kita tantang Ratna untuk minum!” teriak Rama.

“Minum! Minum! Minum!” pengunjung bersorak.

“Oh, kamu nantangin aku?”

Ratna memang suka tantangan. Kali ini, dia merasa tertantang untuk meminum minuman keras tersebut. Hanya dalam hitungan detik, Ratna bisa menghabiskannya. Penonton bersorak keras dan meminta Ratna untuk meminumnya lagi dan lagi. Sampai akhirnya, Ratna hilang kesadaran.
“Rama... Gempa...” ujar Ratna setengah sadar.

“Hahahaha! Kebanyakan minum kamu...” ujar Rama.

“Pusing...”

“Ayo sini, istirahat dulu...” Rama membawa Ratna ke dalam ruangan.

Rama membawa Ratna ke dalam kamarnya. Ratna dibaringkan di atas ranjang milik Rama, lalu mengunci pintu. Ratna tak bisa berbuat apa-apa karena merasa dunia dan seisinya sedang berputar-putar.
“Ini di mana?” tanya Ratna.

“Kamarku...” jawab Rama.

“Rama... Jangan macam-macam loh... Kamu mau ngapain?” tanya Ratna kembali.

“Senang-senang...”

“Rama...”

Rama tidak mau hilang kesempatan. Sudah ada Ratna yang separuh kesadarannya menghilang. Seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Ratna, kini terlepas semua. Ratna terbaring lemah tanpa sehelai benang pun ada pada tubuhnya. Dengan leluasa, Rama menyetubuhi Ratna hingga tiga babak. Ratna tak sadarkan diri hingga mentari pagi bersinar.

Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela yang ada pada kamar Rama. Membangunkan Ratna yang terlelap sepanjang malam. Ratna membuka matanya perlahan. Dia pun terkejut, menemukan pakaiannya tergantung rapih di belakang pintu kamar. Ratna tak sadar bahwa Rama telah menyetubuhinya tadi malam karena pengaruh minuman keras.
“Rama!” Ratna berteriak dan membangunkan Rama yang ada di sampingnya.

Rama tersenyum melihat Ratna bangun dari tidurnya. “Pagi, Ratna!”

“Kenapa aku bisa seperti ini! Apa yang kamu lakukan!”

“Satu hal... Ingin memilikimu...” ujar Rama.

“Dasar brengsek!” Ratna bangun lalu memakai pakaiannya.

Ratna bergegas berjalan ke jalan raya. Menumpang bus yang belum penuh dengan penumpang lain. Sesampainya di rumah, dia masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia alami.
****

Tiga bulan berselang, Winarto pergi menemui Ratna di suatu taman kota. Dia melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Ratna. Winarto juga merasa ada yang Ratna sembunyikan selama tiga bulan ini. Tanpa basa-basi, Winarto langsung mengintrogasi Ratna.
“Ada masalah dengan perutmu?” tanya Winarto.

“...” Ratna mengangguk.

“Mas... Kamu jangan marah...” lanjut Ratna.

“Ada apa?” tanya Winarto kembali.

“Aku... Hamil...”

“Kenapa bisa?”

“Rama menyetubuhiku ketika aku tak sadarkan diri, Mas... Aku berani sumpah... Aku gak berniat melakukan ini...”

Winarto menghela napas panjang. “Sudah ku bilang jangan berhubungan dengannya lagi, Ratna!”

“Mas...”

“Apa boleh buat... Kalau sudah begini...”

“Jangan tinggalkan aku, Mas Win...” Ratna menggenggam tangan Winarto.

“Menikahlah dengan Rama... Dia adalah ayah dari bayimu...”

“Ini adalah anak yang tak ku harapkan, Mas... Aku akan menikah dengan Rama, tapi setelah anak ini lahir, aku ingin cerai darinya...” ujar Ratna.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 9 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di