CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 44

“Itu ada apa ya, Pa? Rame banget...” tanya Gavin.

“Entah... Ada acara lamaran kalau didengar...” jawab Rama.

Gavin dan juga ayahnya yang bernama Ramaditya kebetulan sedang berada di restoran yang sama. Mereka juga mengadakan acara makan malam bersama dengan client mereka. Tapi, acara mereka sedikit terganggu karena suara gemuruh dari seluruh penjuru restoran.
“Vin, itu bukannya Anna yang disebut?” tanya Rama.

“Eh, iya... Jangan-jangan itu Rendy sama Anna...” ujar Gavin.

“Gak mau kamu kejar?” tanya Rama.

“Buat apa, Pa? Lagian selama ini Anna cuma pelampiasanku dari Anita doang...” ujar Gavin.

“Aku boleh ke sana kan, Pa?” tanya Gavin.

“Ngapain?”

“Kasih selamat aja ke Anna... Bentar, Pa...”

“Eh, Vin! Mau ngapain sih!” Rama mencoba menahan.

“Sebentar doang...” Gavin beranjak dari duduknya dan menghampiri Rendy dan Anna yang sedang berjalan turun dari panggung.

Gavin berjalan perlahan. Melewati deretan-deratan meja yang dipenuhi oleh pengunjung yang sibuk menatap Anna dan Rendy. Berjalan ke arah di mana Anna dan Rendy duduk untuk menikmati hidangan yang disediakan.
“Anna...” Gavin memanggil.

Anna terkejut karena melihat Gavin. Menggenggam erat tangan Rendy karena rasa takut yang sangat mendalam karena kejadian yang dialami oleh Anna. Rendy langsung berdiri dan menatap Gavin dengan tatapan tajam bagai singa yang ingin memangsa buruannya.
“Mau apa lagi?” tanya Rendy.

“Santai, Ren... Gue cuma mau kasih selamat...” Gavin mengangkat kedua tangannya sebagai tanda dia datang dengan damai.

“Dan, gue juga minta maaf atas kejadian kemarin...” lanjut Gavin.

“Maaf? Segampang itu?” ujar Rendy.

Mamanya Rendy berdiri dan berjalan ke arah di mana Gavin berdiri. Melihat Gavin dari wajah hingga ujung kaki. Tatapannya bukan tatapan kebencian. Tetapi, tatapan seakan tak percaya ada seseorang yang sosoknya dirindukan.
“Kamu... Gavin... Anaknya Rama?” tanya Mama.

“I... Iya...”

“Kamu sudah besar ya...” Mama Rendy memegang lengan Gavin.

“Jangan kau sentuh anakku, Ratna!” bentak Rama dengan nada tinggi.

Tiba-tiba saja ayahanda dari Gavin muncul. Tak ingin anaknya disentuh oleh ibunda dari Rendy. Gavin pun nampak bingung dan bertanya-tanya mengapa dia tak boleh disentuh oleh ibunda Rendy.
“Papa kenapa sih? Kayak anak kecil tau nggak!” ujar Gavin.

“Kamu gak tau apa-apa, Vin!” jawab Rama.

“...” Mama Rendy hanya diam menatapnya.

“Pak, jangan kasar-kasar sama orang tua saya!” ujar Rendy dengan nada tinggi.

“Kau anak kemarin sore! Masih terlalu hijau jika ingin melawan!” balas Rama.

“Pa! Kenapa Papa diam?” tanya Rendy pada Papa.

“Ren, duduklah... Kamu gak tau apa-apa soal masalah ini... Biar mereka yang selesaikan... Kebetulan mereka bertemu...” jawab Papa.

“Ini ada sih, Pa?” tanya Gavin.

****

“Hayo!” Nayla menyenggol lengan Vanessa yang sedang menumpu kepalanya.

“Aduh! Apaan sih, Nay!” Vanessa menggerutu.

“Hahahahaha... Lo aneh banget, Nes... Bentar-bentar bengong, bentar-bentar nengok pintu masuk...” ujar Nayla.

“Apaan sih... Gue biasa aja...” ujar Vanessa.

“Hhmm... Mau bohongin gue...” Nayla mencolek dagu Vanessa.

“Ih! Rese!”

“Lo nungguin Rendy, ya?” tanya Nayla.

“Nggak!” jawab Vanessa ketus.

“Nggak berarti iya... Hahahahaha...”

“Bodo ah...” Vanessa kembali menumpu kepalanya dengan tangannya.

“Pagi, Mas Rendy!”

Vanessa terkejut mendengar nama Rendy disebut oleh Nayla. Dia terlihat panik dan merapihkan rambut dan blazer-nya seraya ia berdiri untuk menyapa Rendy. Namun, sosok yang dia sedang bayangkan ternyata tak nampak. Kiri dan kanan ia lihat, tak ada batang hidung dari Rendy yang kini bersemayam dalam pikirannya.
“Hahahahaha!” Nayla tertawa keras.

“Ih! Ngeselin abis lo!” Vanessa melempar tas jinjingnya ke wajah Nayla.

“Aduh! Hahahahaha... Vanessa, enak banget dikerjainnya... Hahahahaha!”

Waktu terus bergerak maju. Hanya suara langkah kaki dan bel dari elevator gedung yang bisa didengar oleh Vanessa dari meja receptionist. Pintu masuk lobby yang tertutup dan terbuka, tapi tak ada bayangan dari Rendy sedikitpun membias. Hingga akhirnya waktu istirahat tiba.
“Nes, daripada lo kepikiran, mending lo telpon atau lo WA aja...” ujar Nayla.

“Takut ganggu... Dia lagi sakit...”

“Loh, tuh lo tau dia sakit...”

“Iya...”

“Ya kalau gitu ngapain dicariin, Nes...”

“Lo pernah kan ngerasain kangen sama seseorang? Nah, gue sekarang dalam vase itu...”

“Lo tau rumahnya?”

“...” Vanessa menggelengkan kepalanya.

“Ya udah ayo makan dulu...” ajak Nayla.

“Lo aja... Gue gak mood.” ujar Vanessa seraya merebahkan kepalanya ke atas meja.

“Bang! Bang Tommy!” Nayla memanggil Tommy, teman kerja Rendy dan Anna seraya melambaikan tangannya.

“Hai! Ada apa panggil aku?” tanya Tommy.

“Kebetulan abang lewat. Abang makan sama siapa?” tanya Nayla.

“Sendirian... Rendy gak ada... Tumben kamu manggil...” ujar Tommy.

“Temenin Vanessa makan, Bang... Aku mau makan bareng pacarku...”

“Hhmm... Ya udah... Ayo, Dek...”

“Gak kepengen, Bang...” jawab Vanessa.

“Nanti kamu sakit loh, Dek...”

“Tau nih si Nessa susah banget dibilangin...”

“Ayolah, Dek... Aku traktir...” ajak Tommy.

“Ya udah deh...” jawab Vanessa dengan terpaksa.

Akhirnya, Vanessa menemani Tommy untuk makan siang dengan terpaksa. Tommy mengajak Vanessa makan siang di kantin area gedung yang bertetanggaan dengan kantornya. Setelah memesan makanan, Tommy melihat ada yang berbeda dari Vanessa. Dia terlihat lebih murung.
“Kamu kenapa, Dek?” tanya Tommy.

“Gak apa-apa...” jawab Vanessa.

“Ah, aku tau... Mikirin Rendy ya... Rendy izin tiga hari gak masuk...” ujar Tommy.

“Kalau itu aku tau, Bang... Aku khawatir aja sama keadaan dia...” ujar Vanessa.

“Emang kau tau dia sakit apa?” tanya Tommy.

Vanessa menghela napas panjang. Setelah itu, dia menceritakan semua yang terjadi pada Tommy. Tentang apa yang sudah dialami oleh Vanessa, Anna, dan juga Rendy. Tommy juga nampak sedikit menahan emosinya setelah mendengar bahwa Rendy diperlakukan seperti apa yang Vanessa ceritakan.
“Kurang ajar! Lewat depan mukaku, aku habisi dia!” ujar Tommy.

“...”

“Aku mau tanya nih... Kenapa bisa kamu nekat tolongin Anna?” tanya Tommy.

“Karena aku gak mau orang yang aku sayang itu sedih ngeliat orang yang dia cinta kenapa-napa, Bang.” jawab Vanessa.

“Oh, jadi kau punya rasa sama Rendy?” tanya Tommy.

“...” Vanessa hanya mengangguk.

“Menyerah sajalah, Dek... Kalau kamu tau gimana Rendy sama Anna, gak akan ada harapan lagi...”

“Iya, aku tau, Bang...” jawab Vanessa pelan.

“Sudah... Jangan sedih... Jodoh pasti bertemu kata Afgan... Hahahahahaha... Eh, Dek... Aku mau tanya...” ujar Tommy.

“Apa, Bang?”

“Nayla bisa ditikung nggak?” tanya Tommy.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 6 lainnya memberi reputasi
profile picture
abang.cepak
kaskuser
mantap gan... gas terusss...... makin penasaran apakah ada jalinan darah antara Gavin & Rendy??
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di