CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jaran Sungsang by: gatiandoko
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5d106c32e2e6d7388b4574/jaran-sungsang-by-gatiandoko

Jaran Sungsang by: gatiandoko

Jaran Sungsang merupakan karya dari Gati Andokoyang juga telah dibagikan di Kerabat Keliling Jogja.






Sebenarnya kisah atau cerita ini sangat sensitif. Karena di dalam cerita terdapat kisah kekejaman dari kelompok komunis yang pernah ada di negara kita. Selain itu di dalam cerita ini terdapat beberapa misteri yang ada di Jogja.

Tentu sudah mendapatkan izin dari Gati Andoko untuk membagikan kembali ceritanya disini.


tokoh "Aku" disini merupakan seorang penulisnya, Gati Andoko



JARAN SUNGSANG

Spoiler for Daftar Isi::





Berhubungan untuk seri Jaran Sungsangsudah tamat, maka saya akan memberikan bonus. Bonus cerita lain tentang Gati Andoko yang tidak kalah menarik dengan Jaran Sungsang.

Spoiler for Bonus Gan:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ffernando69
KARTO BAN SANG KURIR
(cermin di atas nisan)




Keceriaan kanak-kanak, mandi di kolam depan Masjid sore hari sekalian mengepel lantai dan bermain meluncur di lantai basah yang licin (prosotan). Jemaah sholat Ashar sudah lewat namun teman-teman sepermainanku belum juga datang. Di halaman Masjid terparkir mobil Fiat merah yg teramat kinclong dan langsung terbersit keinginan naik mobil itu.

Ah... seandainya!
Batapa mewahnya mobil itu, hanya berani memandang. Tangan dekilku bisa mengotori maka tak berani menyentuhnya. Lagi lagi hanya bisa memandang.

"Adik..."; sontak terkejut dengan suara panggilan dari arah belakangku. Kaget sekaligus malu. Malu dengan keterkejutanku sendiri.

" Aduh adik... dingapura ya bapak wis gawe kaget marang sliramu (maaf ya, bapak sudah mengagetkanmu)", sangat halus bicaranya. Dipegangnya tengkukku dan diusap usapnya dadaku yang memang berdegup kencang karena terkejutnya tadi. Sepertinya beliau ini sang pemilik mobil Fiat Merah.

" Adik... ngerti pak Karto, pak Karto Ban parabane? (Tau pak karto, karto ban panggilannya)" tanya padaku. Aku cuma mengangguk.
"Omahe sebelah ngendi? (Rumahnya sebelah mana?)" tanyanya lagi.

Jawaban kanak-kanakku sangatlah lugu, belum bisa "krama" dan masih "ngoko" sekaligus apa adanya.
" Omahe kono kae, ning saiki wis dibrukke wong mbah Karto wis mati (rumahnya disana, tapi sudah dirobohkan jarena mbah karto sudah meninggal)", jawab keluguanku.

Langsung terdiam namun masih saja mengusap usap dadaku. Aku tak berani memandang wajahnya. Takut dikira tidak sopan.

"Bapak", sebut ia dengan berbisik namun dalam. Cukup lama terdiam dan aku mulai sungkan dengan tangan yg terus saja mengelus dadaku.

"Wis suwe mbah Karto ora ana? (sudah lama mbah karto meninggal?)"
Aku beranikan ini untuk bergeser terlepas dari pegangannya dan menjawab seadanya meski rada salah tingkah.

"Aku lagi nol kecil, saiki wis kelas 2 SD, saben bali sekolah ibu mesti kongkon aku ngeterke sega karo jangan nggo mbah Karto (aku masih TK kecil, sekarang sudah kelas 2 SD, setiap pulang sekolah ibu pasti menyuruhku untuk mengantarkan nasi sama sayur buat mbah karto)".

Orang itupun tersenyum mendengar ceritaku. Akupun jd senang dan melanjutkan cerita.
" Mbah Karto ki mangkelke kok, wong wis dimasakke ibu jangan bening senengane, tempene ya ana, tiwas tak terke kok malah turu, tak gugah ya meneng wae, terus sega, lawuh lan jangane tak glethakne nang ndipan (mbah karto itu menjengkelkan, dah dimasakkan ibi sayur bening kesukaannya, tempenya juga ada, sudah aku antarkan kok malah tidur, aku bangunin ya diam saja, terus makanan itu tadi saya taruh begitu saja)", lanjutku.

Diamnya mbah Karto yang ada dalam benakku adalah tidur, tak ada pikiran lain. Yang terjadi; sepulangku dari mbah Karto cerita kalau mbah Karto masih tidur, aku bangunkan tetap saja tidur. Ibuku menyuruhku bermain dengan teman. Baru kemudian terdengar suara "kenthongan" tanda ada orang mati, ternyata mbah Karto.

"Adik...kuburane (makam) mbah Karto " , tanya orang itu lagi kepadaku.
"Nang kono kae, liwat kene terus mrono, terus liwat bulak sawah, tekan kuburan (disana, dari sino terus kesana, terus lewat jalan sawah, sampai kuburan) "Ngelo", jawabku.

Diapun tetap nampak senang dengan ceritaku.
"Adik ngerti kijinge sebelah endi? (Adik tau nisannya sebelah mana?)" Akupun mengangguk. Dimintanya aku mengantar ke kuburan Ngelo dan menunjukkan dimana tepatnya makam mbah Karto. Dibukanya pintu mobil Fiat merah dan disuruhnya aku masuk ke mobil. Ketakutan kanak kanak saat itu, begitu saja aku rasakan. Aku menjauhi mobil.

"Emoh, emoh ndak diculik! (Gak mau, takut diculik)" teriakku.
"Ya uwis mlaku wae yuk (yaudah jalan aja yuk)", ajaknya sambil menenteng tas kecil.

Meski selalu saja ingin menggandeng tanganku, aku tak mau dan kukibaskan tangannya. Berdua berjalan menuju kuburan Ngelo yg sekitar 1,5 km dari Masjid.

Sampailah kuburan Ngelo dan aku tunjukkan tepatnya batu nisan Mbah Karto. Aku hapal betul, karena tiap Kamis sore kadang-kadang bapakku mengajak bersih bersih/"nyekar".
Orang yang belum juga kuketahui siapa namanya langsung bersimpuh di samping nisan mbah Karto yang masih berupa gundukan tanah dan bilah bambu yang sudah aus. Lama cukup lama. Entah apa yang dirasakan, yang dipikirkan, setauku cuma diam dan sesekali mengusap air matanya. Sekedar mengisi kebosanan aku cabutin rumput yang tumbuh lebat di nisan mbah Karto.

"Adik! memanggilku lirih dan akupun mendekatinya. Diambilnya cermin kecil dr dalam tasnya dan ditaruh diatas nisan mbah Karto. Seraya bercerita.
"Adik....pengilon iki, pengilone mbah Karto sing sengaja tak gawa wektu aku dipisahke karo bapak, mbah Karto iku bapakku, bapak kandungku. jenengku nek ditulis Poerwanto nek diucapke "pur dudu poer", aku anak siji sijine (adik.. cermim ini, cerminnya mbah karto yang sengaja aku bawa waktu perpisahan sama bapak, mbah karto itu bapakku, bapak kandungku. Nama ku kalau ditulis poerwanto kalau diicapkan poer bukan pur, aku anak satu-satunya)".

Saat itu memang tak begitu aku perhatikan dan tak bertanya tanya kejadian yang sesungguhnya, yang aku mengerti bahwa pak Poerwanto adalah anak kandung mbah Karto, itu saja.

"Yuk balik nang Masjid neh (ke masjid saja), wis sore banget" ajaknya
Berceritalah pak Poerwanto sepanjang perjalanan bagaimana ia terpisah dengan mbah Karto ya bapak kandungnya, sekolahnya hingga bekerja dan sukses. Tentu saja ada hal-hal yang disembunyikan mengingat aku masih terbilang kanak kanak. Pak Poerwanto juga ingin berkenalan dengan kedua orang tuaku dan aku ajak mampir dirumah meski harus lewat jalan bukan jalan berangkat tadi, sedikit berputar jalan.

Sampailah di rumah.
Bertemu dengan bapak, ibu dan saudara-saudarakuku, entah apa yang dibicarakan. Sementara aku langsung berangkat menuju tempat keceriaan kanak kanak yg sempat tertunda. Kolam depan Masjid.



Bersambung..........
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ffernando69
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di