KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 38

“Aku ada kabar baik buat kamu, Na...” ujar Gavin dalam mobilnya.

“Aku juga ada yang mau aku omongin mas... Tapi, kamu dulu deh...” ujar Anna yang duduk di samping kursi kemudi.

“Jadi, aku udah dapat ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta untuk resepsi pernikahan kita. Aku udah booking untuk bulan Januari tahun depan.” ujar Gavin.

“Apa gak terlalu cepat, Mas? Itu kan dua bulan lagi.” ujar Anna.

“Lebih cepat lebih baik, kan? Lagian, aku kenal sama pengelola gedung hotel itu. Dia client-nya Papa...” jawab Gavin.

“...”

“Terus, kita tinggal cari catering dan fotografer untuk buat foto pre-wedding. Untuk undangannya nanti Papa yang urus. Papa punya kenalan orang percetakan.” lanjut Gavin.

“...”

“Itu aja sih yang mau aku kasih tau... Kok kamu diam aja?”

“Gak apa-apa, Mas...”

“Kamu gak senang kita bisa cepat menikah?” tanya Gavin.

“Mas... Aku...”

“Iya, kamu kenapa? Katanya mau ngomong...”

“Mas... Maaf, aku gak bisa nikah sama kamu...”

Suasana tiba-tiba berubah menjadi sunyi mencekam. Gavin yang tadinya terlihat ceria, mendadak terkejut dan berubah menahan amarah. Nafasnya pun tak beraturan layaknya banteng yang siap menyeruduk sekitarnya. Anna yang melihatnya tak berani menambahakan sepatah kata pun. Sampai akhirnya, mereka melewati sebuah perempatan.
“Mas, kita mau ke mana? Rumahku belok ke kiri...” tanya Anna.

“Sudah, kamu diam aja!” Gavin membentak.

“...”

Kedua kaki milik Anna gemetaran hebat setelah Gavin membentaknya. Tak tahu dia akan dibawa ke mana oleh Gavin. Dia mengendarai mobilnya ke arah yang bukan menuju rumahnya. Anna mengeluarkan telepon genggamnya tetapi, Gavin langsung memarahinya ketika melihatnya.
“Siapa yang suruh kamu buka HP! Kamu pikir aku supir taksi!” Gavin membentak.

“Aku mau ngabarin ibu, Mas...” jawab Anna.

Share live location to Rendy. Live location will end at 8 hours.

“Rendy, aku takut!” sent to Rendy.

“Mas!” Anna berteriak seraya Gavin mengambil paksa telepon genggam milik Anna.

“Udah aku bilang jangan buka HP! Ngerti kamu!” Gavin kembali membentak dan menaruh HP milik Anna di dashboard dekat kursi kemudi.

****

Setelah menempuh dua jam perjalanan akibat padatnya lalu lintas ibukota, Gavin memasuki area gedung berukuran sedang yang berwarna oranye di daerah Jakarta Selatan. Gedung sebuah sekolah tinggi yang berada di wilayah tersebut. Suasananya sepi tak ada orang satupun dan gelap tanpa cahaya. Gavin memarkirkan mobilnya di area belakang dan memojokkan mobilnya.
“Mas, ini di mana?” tanya Anna yang ketakutan.

“Udah diem!” Gavin keluar dari mobilnya lalu mengambil sesuatu dari bagasi.

“Sini!” Gavin membuka pintu lalu menarik Anna keluar. “Masuk kamu!” Gavin menyuruh Anna untuk masuk bagian kursi belakang diikuti oleh Gavin.

“Mas, kamu mau apa!” Anna mulai ketakutan seraya melihat Gavin membawa perekat di tangannya.

“Aku mau memaksa agar kamu mau dinikahi sama aku...” ujar Gavin sambil membelai wajah Anna.

“Mas!” Anna menepis tangan Gavin. “Jangan macam-macam, ya!”

“Memang kamu bisa apa? Mau teriak? Mobil ini kedap suara... Hahahahaha...” ujar Gavin.

“Mas, kalau memang kamu mau nikahin aku ya gak gini caranya... Kalau seperti ini yang ada kamu bikin aku takut...” jelas Anna.

“Brisik!” Gavin membentak. “Setiap aku ketemu kamu, kenapa sih kamu selalu pakai ini?” Gavin mencoba membuka hijab yang dikenakan Anna.

“Mas, jangan!” Anna mencoba menahan tetapi Gavin terlanjur berhasil membuka hijabnya.

“Nah, begini kan lebih baik... Kamu cantik banget, Anna...” Gavin membelai halus rambut Anna.

“...” Anna hanya bisa diam dan pasrah.

“Aku juga penasaran sama bentuk badan kamu...” Gavin mulai melepas kancing kemeja Anna satu per satu.

*BRAK!*

Tiba-tiba saja mobil milik Gavin dihantam keras oleh seorang perempuan dengan kayu berukuran sedang. Mobilnya dihantam berkali-kali hingga Gavin terkejut dan keluar dari mobilnya. Mobil bagian belakang hancur tak terkecuali bagian lampu belakang. Tapi perempuan itu tak berhenti menghantamkan kayu tersebut.
“Hei! Apa-apaan sih lo!” Gavin mencoba menahan kayu dan tangan perempuan tersebut.

“Kak Anna! Lari!” perempuan itu berseru seraya melihat Anna keluar dari mobil Gavin.

“Anna!” Gavin mencoba menahan Anna namun perempuan itu justru menahan Gavin.

Anna tak punya pilihan lain. Dia sudah merasakan takut yang sangat hebat. Dia berlari meninggalkan Gavin dan perempuan itu serta hijabnya yang tergeletak di dalam mobil milik Gavin. Dia pun tak bisa kembali hanya untuk mengambil hijabnya yang terlepas.
“Perempuan sialan!” Gavin mendorong perempuan itu hingga terbentur bagian belakang mobil.

“Ah!”

“Kayak gue kenal...” Gavin memegang wajah perempuan tersebut.

“Lepasin gue!” perempuan itu meronta.

“Oh, Vanessa... Kebetulan... Gue nyari lo udah lama... Sini lo! Dasar jablay!” Gavin menarik paksa tangan Vanessa.

“Nggak! Lepasin gue!” Vanessa berteriak.

“Gak akan yang denger lo teriak di sini, bego! Hahahahaha...” Gavin berhasil membuat Vanessa masuk ke dalam bagian belakang mobilnya.

Sekarang, giliran Vanessa yang dalam sekapan Gavin di dalam mobilnya. Mobilnya memang kedap suara. Suara dari dalam sekeras apapun, tak akan terdengar hingga keluar. Kecuali kaca mobilnya terbuka sedikit.
“Lepasin gue, dasar brengsek!” Vanessa meronta.

“Diam!” Gavin membentak sambil menarik tangan Vanessa menyiku dan menyilang di punggung Vanessa.

“Ah! Lepasin!” Vanessa meronta.

“Diam! Ini akibat lo sok jadi pahlawan kesiangan!” ujar Gavin sambil mengikat tangan Vanessa dengan perekat.

“Lepasin gue!” Vanessa mulai menangis ketakutan.

“Lepasin? Enak aja!” Gavin mengikat kedua kaki Vanessa. “Nah, sekarang lo gak bisa kemana-mana lagi... Hahahaha...”

“Lepasin...” Vanessa pasrah. “Jangan! Ah!” Vanessa kembali meronta seraya Gavin ingin meletakkan perekat pada mulut Vanessa.

“Diam makanya!” Gavin berhasil merekatkan mulut Vanessa.

Sekarang Vanessa tak berdaya sama sekali. Gavin melumpuhkannya dengan cara mengikatkan perekat pada kedua tangan dan kaki Vanessa. Vanessa hanya bisa menangis tanpa bisa berteriak dan berbicara. Lalu, Gavin mengambil sebuah gunting berukuran besar.
“Hhmmm...” Gavin memeluk Vanessa dari belakang. “Lo tau nggak ini apa?” Gavin menunjukkan gunting tersebut di depan mata Vanessa.

“Hhhmmmppphhh...”

“Iya pinter juga pecun satu ini... Ini gunting... Gunanya untuk motong baju lo...”

“Hhmmpphh! hhmmpphh!!” Vanessa meronta.

Dan semua sudah terlambat. Vanessa tak bisa melawan dengan keadaan terikat. Gavin menggunting kemeja yang dikenakan oleh Vanessa. Hingga menyisakan tanktop berwarna hitam yang masih melekat di tubuhnya.
*PRANG!*

Tiba-tiba saja, sebuah mobil masuk ke area parkir. Mobil tersebut berhenti tepat di belakang mobil Gavin. Keluarlah seorang lelaki bertubuh tegap sambil membawa kunci stir. Lalu, lelaki tersebut menghantamkan kunci stir tersebut di kaca samping mobil milik Gavin hingga pecah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di