KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 36

“Wah, hujan nih!” Aji berkata sambil mengambil payung yang berada di belakang mobilnya.

Dia berjalan sambil berlindung di balik payung untuk menjemput Rheva yang sedang bekerja di kantornya. Petir masih bergemuruh hebat, tetapi belum nampak juga Rheva yang sedang ditunggu oleh Aji di lobby kantor. Hujan yang disertai angin kencang membuat Aji nampak cemas menunggu Rheva yang tak kunjung ada kabar. Pesan yang dia kirim melalui whatsapp juga tak kunjung dibalas.
“Udah jam tujuh, Rheva kemana sih?”Aji menggerutu dalam hati sambil melihat jam di ponsel miliknya.

Waktu terus bergulir seiring hujan menetes dari atas langit. Sudah tiga puluh menit berlalu dan hujan pun ikut mereda walaupun masih menyisakan rintik-rintik debit air yang turun. Namun tak sebesar sebelumnya. Aji makin cemas karena Rheva tak kunjung ada kabarnya.
“Last seen-nya jam 2an. Masa sih sampe jam segini gak pegang HP... Gue samperin aja deh ke atas.”Aji berkata dalam hati.

Aji menuju meja bagian keamanan gedung di area lobby untuk menukar identitasnya sebagai tamu. Lalu, dia menuju lift dan naik ke lantai di mana Rheva bekerja. Setelah sampai di sana, dia bertemu dengan pihak keamanan yang bekerja di kantor tempat Rheva bekerja.
“Malam, Pak!” Aji menyapa.

“Iya, malam...”

“Pak, Bu Rheva ada?” tanya Aji.

“Sudah pulang sepertinya, Pak.” jawab keamanan kantor.

“Masa sih? Saya nunggu di lobby dari tadi gak ada dia...” ujar Aji.

“Kok aneh ya, Mas? Saya juga dari tadi duduk di sini gak liat bu Rheva keluar. Tapi di dalam udah gak ada siapa-siapa.” ujar keamanan tersebut.

“Pak, saya boleh cek ke dalam gak?” Aji meminta izin.

“Hhmm... Tapi isi buku tamu dulu ya, Mas... Nanti sama saya ke dalam...”

Setelah mengisi data di buku tamu, Aji dan keamanan kantor masuk ke area di mana para karyawan melakukan pekerjaannya. Ruangan memang nampak sepi. Tak ada satupun pegawai yang bekerja hingga malam. Lalu, mereka berdua sampai di meja tempat di mana Rheva duduk dan melakukan aktifitasnya.
“Nah, ini mejanya bu Rheva, Mas...” ujar keamanan itu.

“Tapi, barang-barangnya masih ada. Komputernya juga masih nyala, Pak.” ujar Aji.

“Iya ya... Bu Rheva ke mana ya? Udah di telpon, Mas?” tanyanya.

“Udah, Pak... Gak diangkat...” jawab Aji. “Atau dia lagi di ruangan lain gak, Pak?” tanya Aji.

“Gak ada, Mas... Saya udah keliling... Tapi, ada ruangan milik Pak Gavin... Yang bisa masuk cuma Pak Gavin, Pak Rama, sama Bu Rheva...”

“Ruangannya di mana, Pak?”

“Mari, ikut saya!”

Keamanan kantor itu berjalan dan menunjukkan di mana ruangan itu berada. Sebuah ruangan yang hanya memiliki satu pintu terbuat dari kayu jati dengan ukiran menyerupai burung elang. Ruangan tersebut tidak bisa dilihat dari luar ruangan karena tidak ada jendela di samping pintu tersebut. Ruangannya juga dalam keadaan terkunci.
“Ini ruangannya, Mas...”

“Bapak beneran gak bisa buka?”

“Gak bisa, Mas... Bukanya aja pakai sidik jari... Saya gak bisa...” ujar pihak keamanan seraya menunjuk alat fingerscan.

“Hhhmmppphhh! Hhmmpphh!”

“Rheva?” Aji mencoba memanggil. “Rheva! Kamu di dalam?” Aji mencoba membuka pintu tersebut.

“Hhhmmmppphh!” Rheva merintih.

Aji mencoba mendobrak pintu tersebut dengan paksa. Namun, pintunya lebih kuat dari tenaganya. Dia mendengar suara Rheva merintih dari dalam ruangan. Sang keamanan kantor pun tak bisa berbuat apa-apa. Tidak menahan Aji untuk merusak pintu tersebut.
“Rheva! Tunggu! Aku coba buka pintunya!” Aji berteriak dari luar ruangan.

“Percuma, Pak! Gak bakalan bisa!”

“Duh, gimana ya... Fingerprint....” Aji mencoba menenangkan diri dan berpikir. “Oh, Danu!” lanjutnya.

Aji mengeluarkan ponselnya lalu mencoba memanggil Danu lewat telepon. Namun, tak kunjung ada jawaban dari Danu. Aji menelponnya berkali-kali demi menyelamatkan Rheva yang sedang disekap dalam ruangan.
“Apaan sih, anjir!”Danu kesal dalam menjawab telepon Aji.

“Nu, tolongin gue! Cuma lo yang bisa...” Aji cemas.

“Tolongin apaan?”

“Lo sekarang ke kantornya Rheva, Rheva disekap dalam ruangan. Gue gak bisa hack fingerscanner-nya...” ujar Aji.

“Hujan, njir!”

“Ah, lemah syahwat! Sama hujan aja takut! Gimana lo mau lamar Tasya, bego!”

“Ngajak berantem ini anak king kong! Ya udah tunggu... Gue ke sana... Sekalian gue getok kepala lo!”

“Oke, thanks brother!

Empat puluh menit berlalu, Aji masih menunggu kedatangan Danu. Setelah cemas menunggu, akhirnya Danu menghubungi Aji. Tanpa pikir panjang, Aji langsung mengangkat telepon.
”Oi, di mana?” tanya Aji.

“Lobby depan. Gak bisa masuk gue. Gak ada akses. Security-nya juga gak ada.” jawab Danu.

“Iya, bapaknya lagi sama gue. Gue ke depan deh.”

Aji menutup telepon dan berjalan ke depan ditemani oleh keamanan kantor. Setelah bertemu, mereka bertiga langsung kembali ke ruangan milik Gavin. Di mana Rheva sedang terpenjara di dalamnya.
“Nih, lo bisa kan?” tanya Aji sambil menunjukkan alat pemindai sidik jari.

“Hhmm... Gue butuh masuk ke database fingerprint-nya...” ujar Danu.

“Emang gak bisa langsung dari mesinnya?” tanya Aji.

“Gak bisa. Dia connect jaringan ini.” jawab Danu.

“Lama gak?”

“Lo nanya mulu, gue tabok ya!” Danu protes. “Gue butuh LAN...” lanjutnya.

“Sini sini, ke mejanya Rheva aja... Pakai LAN-nya.”

Aji dan Danu berjalan cepat menuju meja milik Rheva. Danu mencabut sementara kabel RJ-45 yang terpasang di komputer milik Rheva dan mencoloknya ke laptop milik Danu. Setelah mendapatkan IP segment karyawan, Danu mencoba membobol database fingerprint.
IP server fingerprint-nya berapa?” tanya Danu.

“Mana gue tau! Lo nanya gue, dodol! Makanya gue butuh lo di sini...” jawab Aji.

“Kan... Otak lo taro dengkul sih!” balas Danu.

“Coba di PC-nya Rheva. Kali ada contekannya.” ujar Aji.

“PC-nya ke lock, bodoh!” ujar Danu.

“Itu ada label kecil di layarnya. Kali itu username sama password-nya.”

“Coba mana...” Danu mengetik nama pengguna dan sandi milik Rheva. “Wah iya, bisa...” lanjutnya.

“Nah itu IP apa di sticky notes?” tanya Aji.

“Judulnya sih fingerprint access...” jawab Danu.

“Ya itu kali... Coba lo akses... Dari PC-nya Rheva aja...”

“Ah, sompret! Udah hujan-hujanan gue bawa laptop! Tau gini gue tinggal aja laptop gue... Gara-gara lo nih!” Danu menunjuk Aji.

“Dih! Lo aja tololnya sampai urat nadi!” balas Aji.

“Ini sidik jari lo tempel di sini...” Danu memberikan pemindai sidik jari yang terpasang di PC milik Rheva. “Dah sana coba lo buka pintunya...” lanjut Danu.

Aji langsung bergegas menuju ruangan milik Gavin. Aji mencoba memanggil Rheva untuk memastikan dia masih sadar di dalam sana. Petugas keamanan hanya diam tak bergeming. Danu masih duduk di meja milik Rheva untuk menghapus data sidik jari milik Aji yang digunakan untuk membuka pintu.

Aji dan Danu berhasil membuka pintu ruangan dengan sidik jari milik Aji yang tadi didaftarkan oleh Danu ke database fingerprint. Aji menemukan Rheva dalam keadaan menangis dan terikat kaki dan tangannya. Serta perekat yang membungkam mulut Rheva sehingga tak bisa berteriak atau meminta pertolongan. Aji dengan segera membuka ikatan tersebut dan membuka perekat perlahan.
“Mas Aji...” Rheva langsung memeluk Aji.

“Udah udah... Aku udah ada di sini...”

“Aku takut, Mas! Bawa aku pergi dari sini, Mas!” ujar Rheva dalam pelukan.

“Iya iya... Ayo!” Aji menggendong Rheva yang lemas kelelahan.

“Mas! Cepat! Saya dapat modulasi dari lantai dasar! Pak Rama sudah di bawah!” ujar petugas keamanan.

“Iya, Pak!”

Danu, Aji, dan Rheva bergegas meninggalkan gedung tersebut. Beruntung mereka bertiga tidak bertemu Ramaditya yang sudah sampai di gedung kantor. Petugas keamanan mengarahkan mereka untuk turun melalui lift barang. Tak lupa Danu menghapus jejak sidik jari Aji dan memberikan uang tutup mulut pada petugas keamanan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di