CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jaran Sungsang by: gatiandoko
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5d106c32e2e6d7388b4574/jaran-sungsang-by-gatiandoko

Jaran Sungsang by: gatiandoko

Jaran Sungsang merupakan karya dari Gati Andokoyang juga telah dibagikan di Kerabat Keliling Jogja.






Sebenarnya kisah atau cerita ini sangat sensitif. Karena di dalam cerita terdapat kisah kekejaman dari kelompok komunis yang pernah ada di negara kita. Selain itu di dalam cerita ini terdapat beberapa misteri yang ada di Jogja.

Tentu sudah mendapatkan izin dari Gati Andoko untuk membagikan kembali ceritanya disini.


tokoh "Aku" disini merupakan seorang penulisnya, Gati Andoko



JARAN SUNGSANG

Spoiler for Daftar Isi::





Berhubungan untuk seri Jaran Sungsangsudah tamat, maka saya akan memberikan bonus. Bonus cerita lain tentang Gati Andoko yang tidak kalah menarik dengan Jaran Sungsang.

Spoiler for Bonus Gan:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ffernando69
BUNGA DI MEDAN PERANG




Prelude
Secreet War (Himitsu Sensonen) ala dr. Moestopo adalah strategi perang yang sangat unik dengan mengakomodir para benggol, pencoleng, bromocorah, maling, copet bahkan para pelacur. Ketika diminta membentuk pasukan pengawal Presiden, tetap saja mereka-mereka ini yang terkenal dengan "Barisan Teratai". Dikemudian hari dibentuk juga pasukan tempur "Barisan Teratai".
SMP Kelas 2

Setiap main ke G***ong, aku selalu main ke rumah mbah Glondhong Sepuh ( glondhong adalah jabatan yang membawahi beberapa Lurah ), yang hidup hanya ditemani pembantu. Beliau sangat memanjakanku. Setiap pulang selalu saja kasih uang saku juga dikasih sangu berupa ayam atau menthok.

Suatu hari diajaknya aku ke pasar yg beroperasi seminggu sekali. Jajan "sroto" kegemaranku. Belum juga selesai makan sroto, ada pengunjung lain yang juga jajan, makan sambil bicara keras-keras dan nyeletuk keras kata "tlembuk". Langsung saja mbah Glondhong Sepuh berdiri, membayar dan langsung menggandeng tanganku pulang dengan ekspresi wajah yang sungguh-sungguh berbeda; marah dan sedih.

Sampai dirumah, pembantu disuruh membuatkan teh dg gula jawa yg terpisah.

"Aja kesuh yak...inyong dadi kelingan jaman semena nek krungu uwong ngomong "tlembuk", ngerti "tlembuk" ura rika? (jangan buru-buru.. Saya jadi ingat pada zaman dulu kalau mendengar orang bicara "tlembuk", tau "tlembuk" gak kamu?) " tanya padaku.

Akupun cuma nyengenges (senyum) malu.
Berceritalah ia tentang istri dan anak satu-satunya. Memang sebelumnya aku hanya tau bahwa beliau hidup sendiri, namun apa yang terjadi sebenarnya benar-benar tak kuketahui.

Bercerita ia.

"Surati anakku, lekakone ora beda karo En biyungmu dhewek, mung nasibe beda (Surati anakku, kehidupanmu tidak berbeda dengan En ibumu sendiri, cuma nasibnya berbeda)".

"En, biyungmu kasil dislametna mbek biyunge ya mbah putrimu, dene Surati....(En, ibumu berhasil diselamatkan oleh ibunya ya nenekmu)"

Mbah Glondhong Sepuh unjal nafas panjang dan pandangan nanap kearah yang sangat jauh. Sembari nglinting tembakau klembak menyan dengan glabad jagung. Dengan sedikit memakasa untuk tegar mbah Glondhong Sepuh melanjutkan cerita. Bahwasanya, mbah Glondhong Sepuh memperoleh derajat yang cukup tinggi di pemerintahan Jawa yakni jabatan Glondhong.

Bisa dibilang kaya waktu itu, sawah yang luas, rumah beserta "karang kitri"nya. Ternak sapi, kambing , menthok serta ayam. Namun bagi mbah Glondhong Sepuh itu semua tdk berarti sama sekali semenjak kedatangan Jepang dan berkuasa menggantikan Belanda.
Surati anak satu-satunya dirampas dijadikan "Jugun Ianfu", sementara istrinya ( mbah Glondhong putri ) ditembak didepan matanya saat ingin merebut Surati dari tangan tentara Jepang. Mbah Glondhong Sepuh memang tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya diikat pada tiang runah.

Mulai saat itulah beliau lengser dari jabatnya sebagai Glondhong dan hidup hanya ditemani pembantu yang sangat setia.

Alangkah gembiranya mbah Glondhong Sepuh ketika Jepang meninggalkan bumi Indonesia, terlebih kembalinya Surati yang pulang ke rumah dari sekapan Jepang dan jadi budak nafsu ( jugun ianfu). Semangat hidupnya kembali berkobar. Mbah Glondhong Sepuh dan budhe Surati bahu membahu membangun kembali rumah yang lama terbengkelai. Sawahnya sudah tidak disewakan lagi, sementara suara-suara ternak ikut meramaikan rumahnya dalam kurun waktu kurang lebihh 2 tahun dari 1945.

Tangisan hati kembali dialami mbah Glondhong Sepuh. Surati yg mantan "jugun ianfu" jadi gunjingan orang-orang, dikatai "tlembuk/ lonthe". Akhirnya Surati memohon kepada ayahnya ya mbah Glondhong Sepuh agar diijinkannya bergabung dengan pasukan Teratai dokter Moestopo yg akan menyerang Belanda (General Spoors) di benteng van Der Wijk G***ong. K**angan**r K***men sdh porak poranda yang terkenal dengan peristiwa Canonade karena dibombardir Belanda.

Karena tekad keras Surati maka mbah Glondhong Sepuh mengijinkannya. "Kanggone inyong, apa bae sing uwis kok lakoni ora dosa, dene siki rika garep melu perang nglawan Landa, kanggo sangu ngakerat mengkone...rika tetep anake inyong (untuk saya, apa saja yang sudah kamu lakukan tidak dosa, maka sekarang kamu akan ikut perang melawan Belanda, buat bekal di akhirat nanti.. Kamu tetap anakku)", begitu pesannya.

Singkat cerita, dokter Moestopo yang mengakomodir para pencoleng dan sejenisnya beserta para pelacur melakukan penyamaran dan memukul mundur para mata-mata Belanda juga berhasil memutus jembatan antara K**angn**r n G***ong, hingga pupuslah pasukan General Spoor yang sedianya akan menyerang Jogya.

Berita kemenangan pasukan Teratai terdengar sampai telinga mbah Glondong Sepuh. Maka disiapkannya pesta untuk menyambut beberapa pasukan Teratai yg akan singgah dirumahnya.

Pekik merdeka dilakukan oleh warga yang menyambut pasukan Teratai, namun para pejuang hanya membalas dengan senyum yang sabgat datar hingga sampailah di rumah mbah Glondhong Sepuh. Mereka memeluk bergantian memeluk mbah Glondhong Sepuh, dan salah satu dari mereka mengabarkan bahwa; Surati tertangkap Belanda dan dibunuh dg menggunakan bayonet. Sementara jenazahnya dibuang di sungai Kemit.



Quote:


Bersambung...........
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di