CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 32 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 30

Ada seorang perempuan muda duduk sendiri. Di bawah arunika pagi hari dengan suasana seperti menggambarkan isi hati. Wajahnya terus menunduk dan murung. Tak terpancar nayanika yang biasanya nampak di hari-hari sebelum masalah meruncing. Ditemani dengan wangi dari petrikor yang disebabkan oleh rintik gerimis sebelum sang pusat tata surya menampakkan diri. Tak bisa ditahan laju dari air matanya yang terus menetes. Masalah hati yang membuat nafasnya tak beraturan dan sesak di dada.
“Dek...” panggil seorang lelaki.

“Eh, Bang Tommy.” perempuan itu menghapus air matanya.

“Kenapa kamu pagi-pagi?” tanya Tommy.

“Gak apa-apa, Bang...” jawabnya.

“Rendy?” tanya Tommy kembali.

“...” perempuan itu hanya mengangguk.

“Bukannya kamu mau nikah sama pria lain?” tanya Tommy.

“...” dia menggelengkan kepalanya. “Gak tau aku, Bang... Hatiku masih memilih Rendy...” jawab perempuan dengan nama Devianna Azzahra yang ada di ID Card miliknya.

“...”

“Tapi, aku ragu. Dulu, dia mati-matian pertahanin aku sampai detik akhir aku pergi. Sekarang, semua pergi... Rendy berubah... Aku gak bisa ngerasain dia perjuangin aku... Justru, aku kecewa sama sikapnya dia...” ujar Anna.

“Apa yang bikin kamu kecewa, dek?”

“Dia mau aku mengakhiri hubunganku dengan calon suamiku.”

“Gak mungkin Rendy berkata seperti itu kalau gak ada alasannya...” ujar Tommy.

“Aku tau gimana dia... Aku kenal dia sudah lumayan lama... Sebaiknya, kamu jangan berpikiran negatif dulu... Kamu mau naik atau masih mau di sini?”

“Aku mau di sini dulu, Bang...”

“Ya udah... Coba kamu bicara dulu sama Rendy... Aku gak bisa bantu lebih banyak karena ini masalah hati dan hubungan kalian...” Tommy beranjak dari duduknya dan meninggalkan Anna sendirian.

Perempuan itu kembali dalam masa sendirinya di area taman gedung perkantoran tempat dia bekerja. Beberapa menit kemudian, terdengar suara sepeda motor besutan Jepang dengan suara khas dari mesin dua silinder terpakir di parkiran khusus motor besar. Anna langsung berdiri dari duduknya dan menunggu pria yang mengendarai motor tersebut berjalan ke arahnya.

Ada sebuah perasaan yang ingin dia utarakan kepada pria tersebut. Perasaan yang kuat membuat Anna berdebar dan bibirnya bergetar. Pria yang ditunggu pun tengah berjalan ke arahnya.
“Bismillah...”ucap Anna dalam hati seraya melihat pria itu berjalan ke arahnya.

“Ren...”

Pria itu hanya menatap Anna lalu melanjutkan langkahnya ke dalam area gedung. Ini adalah kali pertama Anna merasa diabaikan. Merasa sebagai makhluk halus yang tak kasat mata dilihat oleh pria tersebut. Pria yang namanya tertanam berakar kuat di dalam hatinya kini tengah mengabaikan dirinya. Batinnya tercabik dan perih setelah melihat sikap dari pria tersebut di depan matanya. Seperti mengisyaratkan untuk pergi dari hidupnya.
****

Sesampainya di tempat di mana Rendy bekerja, dia langsung menaruh tas miliknya di atas meja dan menyandarkan tubuhnya di atas kursi kerja miliknya. Sambil mengangkat kepala dan memejamkan matanya sejenak sambil menghela napas panjang berkali-kali.

Terlihat seorang perempuan dengan rambutnya hitam lurus memanjang tergerai menghampiri dirinya sambil membawa secangkir teh hangat buatannya. Berjalan perlahan dan hati-hati agar air teh yang ada di cangkir itu tidak tumpah setetespun.
“Mas...” panggil perempuan itu.

“Iya, Ver...” jawab Rendy sambil merubah posisi duduknya.

“Tehnya diminum dulu, Mas...” Vera menaruh teh tersebut di atas meja. “Mas Rendy ada apa?” tanya Vera.

“Gak ada apa-apa kok...” ujar Rendy sambil memutar kursi menghadap jendela.

“Mas...” Vera berdiri di samping Rendy yang sedang menatap langit. “Jangan bilang gak apa-apa... Kamu gak bisa nyembunyiin apa yang kamu rasain saat ini, Mas... Sikapmu berkata demikian...” ujar Vera.

“...”

Rendy kembali duduk di kursinya dan menghadap ke meja kerjanya. Vera menghela napas panjang dan duduk di depan Rendy. Vera terus menatap Rendy yang pandangannya merunduk. Bergejolak dengan candramawa hatinya saat ini.
“Mas...” Vera menggenggam tangan Rendy.

“...”

“Masalah sama Mbak Anna?” tanya Vera.

“Udahlah, Ver... Aku gak mau bahas itu...” ujar Rendy.

“Ikhlaskanlah, Mas... Bukannya dia mau menikah?”

“Aku akan ikhlas kalau yang dia pilih adalah lelaki yang baik dan pantas bersanding dengannya.” ujar Rendy.

“Kalau memang menurut Mas lelaki itu gak baik, cukup kita doakan saja supaya dia menjadi lebih dan yang terbaik untuk Mbak Anna...”

“...”

“Terima kasih, Vera... Aku mau sendiri dulu... Ada yang harus aku pikirkan sejenak.” ujar Rendy.

“Iya, Mas... Aku tinggal kerja dulu ya...”

Rendy termenung sendiri di meja kerjanya. Menyendiri layaknya genta di atas menara gereja yang senyap. Berpikir akan sesuatu hingga genta dalam pikirannya berbunyi, menandakan bahwa dia sudah siap dengan keputusan yang di ambil.

Tepat pukul 10.00 WIB, Rendy menghampiri Vera yang sedang bekerja. Menghiraukan Anna yang duduk di samping Vera dengan headset menempel di telinganya. Mereka berdua masuk ke dalam ruang senyap. Di mana ruangan ini menjadi saksi air mata Rendy dan Anna ketika terjadi pertikaian di waktu yang sudah lalu.
“Ada apa, Mas?” tanya Vera.

“Cuma kamu yang tau masalah ini... Jangan kasih tau siapa-siapa...” ujar Rendy.

“Iya, ada apa, Mas?” tanya Vera yang semakin penasaran.

“Aku mau resign.” ujar Rendy.

“Hah! Mas, serius?” Vera terkejut.

“Iya...”

“Mas, jangan ambil keputusan sendiri...” ujar Vera.

“Maaf, aku harus melakukan ini... Aku gak bisa kerja di sini kalau suasana hatiku kacau... Apa lagi, aku harus melihat Anna setiap hari yang membuatku semakin tercabik...” ujar Rendy.

“Mas... Aku mohon jangan pergi...” Vera menggenggam tangan Rendy dengan kencang.

“...”

“Ya kamu bisa tenang gak lihat Anna tapi bagaimana denganku, Mas? Walaupun kamu adalah seseorang yang tak mungkin aku miliki, aku tetap ingin melihatmu.” ujar Vera.

“...”

“Setidaknya, kamu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, Mas... Kamu selalu bantu aku jika aku sedang kesulitan, mendengarkan semua cerita dan curhatanku... Aku butuh kamu, Mas...” lanjut Vera.

“...”

“Jawab, Mas!”

“Aku gak bisa merubah keputusanku, maaf...” ujar Rendy.

“Aku benci sama kamu, Mas... Aku benci sama kamu! Egois!” Vera keluar dari ruangan sambil membanting pintu dengan keras.

Seluru karyawan yang ada di sekitar langsung melihat menuju sumber suara bantingan pintu. Di sana ada Vera yang berjalan cepat keluar ruangan sambil menahan tangis dan laju air matanya. Dia mematikan IP Phone miliknya, lalu mengambil telepon genggam dan dompet miliknya. Berjalan cepat meninggalkan meja kerjanya menuju elevator untuk mengantarkannya ke lantai dasar gedung perkantoran ini.
“Tom!” Rendy menanggil Tommy seraya setengah berlari menghampiri. “Vera mana?” tanya Rendy.

“Gak tau aku... Dia langsung main pergi gitu aja... Kau apakan dia?” tanya Tommy.

“Gue gak bisa jelasin... Gue butuh Vera ada di mana...”

“Kau whatsapp aja, Ren...” ujar Tommy.

Pending... HP-nya juga gak aktif...” ujar Rendy.

Anna mematikan telepon yang ada di mejanya, “Rendy... Kamu gak ada jadwal meeting, kan?” tanya Anna.

“...”

“Ikut aku! Kita cari Vera!” Anna menarik tangan Rendy.

“Na, apaan sih!” Rendy mencoba melawan.

“Kamu yang buat dia menangis! Mana rasa tanggung jawabmu, Rendy!” Anna membentak Rendy di depan Tommy.

“...”

“Jangan menyalahkan siapapun! Dia menangis itu salahmu! Cepat kita cari dia!”

Kali ini, Rendy tidak bisa membantah. Kalimat yang diutarakan oleh Anna tak dapat dijawab oleh Rendy. Rendy merasa memang dia harus menanggung apa yang sudah dia perbuat. Rendy juga merasa harusnya dia bisa menahan egonya agar tak melukai perasaan orang lain.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di