CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jaran Sungsang by: gatiandoko
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5d106c32e2e6d7388b4574/jaran-sungsang-by-gatiandoko

Jaran Sungsang by: gatiandoko

Jaran Sungsang merupakan karya dari Gati Andokoyang juga telah dibagikan di Kerabat Keliling Jogja.






Sebenarnya kisah atau cerita ini sangat sensitif. Karena di dalam cerita terdapat kisah kekejaman dari kelompok komunis yang pernah ada di negara kita. Selain itu di dalam cerita ini terdapat beberapa misteri yang ada di Jogja.

Tentu sudah mendapatkan izin dari Gati Andoko untuk membagikan kembali ceritanya disini.


tokoh "Aku" disini merupakan seorang penulisnya, Gati Andoko



JARAN SUNGSANG

Spoiler for Daftar Isi::





Berhubungan untuk seri Jaran Sungsangsudah tamat, maka saya akan memberikan bonus. Bonus cerita lain tentang Gati Andoko yang tidak kalah menarik dengan Jaran Sungsang.

Spoiler for Bonus Gan:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
henbodi dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ffernando69


CINTA DAN PELURU 2



Imajinasi apa yang terbersit saat berhadapan satu-satu antara Rustam dan Sersan Cipto!

Duel ala cowboy film-film western?

Heroisme film-film Bollywood yang berakhir dengan tarian dan nyanyian?

Sinetron religi dengan dalih mencari Tuhan?

Atau,

Rama Bargawa dan Ramawijaya yang sedang menunjukkan siapa "titisan" dewa Wisnu saat itu?

Aaaach.... darah kotor mengakibatkan tumbuhnya "wudun" atau bisul. Yang jelas peristiwa itu sangat menghantui pak Cipto.

Rustam tewas tertembus PELURU yang keluar dari pistol genggamannya, senapan laras panjang Rustam sempat terayun, kosong tanpa PELURU, suara tangis jabang bayi Haryati melengking seolah meneriakkan CINTA, sementara sorot mata istri Rustam dengan peristiwa setragis itu tetap saja sejuk penuh CINTA.

Amanah Rustam untuk menjaga senapan laras panjang saat menjelang ajalnya, oleh pak Cipto dipegang kuat bak pusaka.
Tanpa pikir panjang, Arko langsung tancap gas Jeep Willys menyusul Haryati. Sadar, akan kebebalannya tanpa bertanya lebih dahulu. Yang didengarnya cuma daerah Ngampel, harus lewat jalur mana. Berhenti di terminal Muntilan, berfikir sambil menyulut rokok Grendel. Tidak mungkin melewati jalur Blabak, Sawangan naik Ketep lantas Selo, turun hingga Nampel terlalu rawan. Jalur Magelang, Canguk naik Kopeng Salatiga, juga rawan sendirian. Lewat Jogya, tak ada dalam benaknya. Yang sangat memungkinkan hanyalah Magelang, Ambarawa, Bawen ke kanan arah Salatiga lantas Ngampel sebelum Boyolali. Kebingungan bertambah, bagaimana Haryati yg pergi dari rumah sekitar jam 16.00 sementara sekarang jam 22.00. Lewat mana dia, Haryati.

"Kemplu tenan aku (bodohnya diriku)", batin Arko. Sekarang atau menenggu besok pagi, pertimbangan yg sangat membingungkan. Habis sudah 11 batang rokok Grendel. Diputuskanlah besok pagi.

Pulang!

Pintu gerbang rumah masih terbuka, meski hampir jam 00.00 ayah dan ibunya masih duduk diteras. Menunggu kedatangan Arko yg membawa pulang Haryati. Belum ada sepatah katapun dari Arko begitu jalan dari garasi menuju teras, pak Cipto membanting keras-keras cangkir tehnya dan beranjak dari kursi memasuki kamarnya.

"Ssssttt...! kode ibunya untuk diam. Arko jelas kaget dan terheran, kenapa bisa semarah itu.
"Apa aku kudu tandang gawe dewe....Arko, aku mung prentah pisan iki, susulen Haryati ajaken bali ngomah kene! (apa aku harus turun tangan sendiri.. Arko, aku hanya menyuruh sekali ini, jemputlah Haryati ajaklah pulang kerumah.)" seru pak Cipto dari dalam kamar .

"Wis saiki turu sik wae, ibu tak nyiapke salin ya nggo jaga-jaga sedina rong dina nek durung ketemu (dah sekarang tidur dulu, ibu mau menyiapkan baju ganti buat jaga-jaga sehari atau dua hari kalau belum ketemu)", kata bunya menyabarkan Arko.

Sehabis Subuh, Arko mempersiapkan bekal dibantu ibunya. Ayahnya masih tidur. Berangkat dengan beban pikiran yang berkecamuk menuju Ngampel lewat jalur kopeng. Karena masih juga meraba jalan, jam 8an baru tiba pasar Ngampel. Bingung juga pastinya. Tanya sana sini, berputar kesana kemari lebih dari 2 jam.

Beruntung, saat jalan menuju arah Selo bertanya pada penduduk, ada titik terang. Ditunjukkanlah sebuah makam umum yang dibagian pinggirnya ada yg dikeramatkan karena satu lubang untuk banyak orang. Didatangi kuburan itu. Singup, angin berdesiran segala penjuru. Dikisaran kuburan masal itu juga, ada gundukan tanah dengan payung tertancap diatasnya. "Itu payung ibu", yakinlah Arko. Pastilah Haryati baru saja datang di kuburan ini.

"Hughhhh....! keluh Arko. Kembali bingung. Puncaknya, kebencian Arko pada diri ayahnya yg muncul. "Dosa ayah, anak mewarisinya", begitu grundel Arko.

Memandang sejenak payung ibunya yg dibiarkan tetap menacap diatas gundukan tanah. Pergi ke Jogya kerumah kos teman yang belum selesai kuliahnya. Dalam rangka "curhat" kegelisahan dirinya juga sejarah keluarga yg sangat membebaninya.

Tiga hari numpang di kos temannya, segala uneg-unegnya tercurah begitu saja pada temannya.

"Tambak ora adoh bangetlah, titenane terowongan ijo, bar Gombong yakui Tambak (tambak tidak terlalu jauh, acuannya terowobgan hijau, swhabis gombong yaitu tambak)", papar teman Arko.

"Ketemu, nikah ngono (gitu) wae (aja)", sarannya juga.
"Timbang tak goleki terus tak nikahi dewe lho (kalau aku cari terus ketemu aku nikahi sendiri lho)", candanya.

Bertambahlah beban pikiran yg semangkin berkecamuk" ...ketemu, nikah ngono (gitu) wae (aja)", terngiang kata temannya. Dalam perjalanan Jogya-Tambak itulah Arko larut dalam kata "nikah", menikahi Haryati. Tak ada yg akan ditutupi apa yang dirasakannya. Arko mau, namun bagaimana dengan Haryati. Haryati menikah dengan anak seseorang yang telah membunuh ayahnya.

Tabu!
Demikian psiko-linguistik ala Jawa. Roro Jonggrang tak mau menikah dengan Bandung Bondowoso semata mata karena Bandung Bondowosolah yg membunuh prabu Gupala, ayahnya. Ibarat wanita pampasan perang atau benda "bulu upeti", simbol rendah martabat wantia dan bangsa, begitu falsafah Jawa.

"Byuhhhh", kembali mengeluh.
Biar tak seperti roman picisan, singkat cerita!
Sampailah di rumah Haryati yang tinggal dengan kakek dan nenek. Ibunya meninggal dua tahun sebelum bekerja pada pak Cipto.
"Haryati, aku pengin nikah karo (sama) kowe (kamu), saiki uga kowe tak ajak bali, nyuwun restu bapak ibu (sekarang juga kamu aku ajak pulang, minta restu bapak ibu)", begitu simpelnya Arko.

Bayangkan sendiri situasi yang terjadi saat itu, Arko, Haryati sendiri juga kakek dan nenek Haryati. Yang pasti justru Haryati menampakan kecantikan luar dalam; pipinya yang semakin merah merona juga hmmmuahhhh...!

Ndilalah atau kebetulan hanya ada pada mata manusia, namun tidak di mata Tuhan.
Mendekati rumah di Muntilan, terdengar suara-suara orang mengaji, kesibukan para tetangga juga sanak famili keluarga besar Arko juga nampak ibu Arko yg berdiam tepekur di dekat jenazah pak Cipto
.
Yah...pak Cipto terkena serangan anfal, dan meninggal dua jam yang lalu.
Menikahlah Arko dan Haryati dihadapan jenazah pak Cipto, ayahnya.




TAMAT
profile-picture
profile-picture
profile-picture
henbodi dan 6 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di