CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... /
Stories from the Heart
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread//-

Jaran Sungsang by: gatiandoko

Jaran Sungsang merupakan karya dari Gati Andokoyang juga telah dibagikan di Kerabat Keliling Jogja.






Sebenarnya kisah atau cerita ini sangat sensitif. Karena di dalam cerita terdapat kisah kekejaman dari kelompok komunis yang pernah ada di negara kita. Selain itu di dalam cerita ini terdapat beberapa misteri yang ada di Jogja.

Tentu sudah mendapatkan izin dari Gati Andoko untuk membagikan kembali ceritanya disini.


tokoh "Aku" disini merupakan seorang penulisnya, Gati Andoko



JARAN SUNGSANG

Spoiler for Daftar Isi::





Berhubungan untuk seri Jaran Sungsangsudah tamat, maka saya akan memberikan bonus. Bonus cerita lain tentang Gati Andoko yang tidak kalah menarik dengan Jaran Sungsang.

Spoiler for Bonus Gan:
Diubah oleh ffernando69
Thread sudah digembok


Lanjutan...
Pengakuan Seorang Pembunuh Bayaran


Selepas pemecatan, Suprih masih saja berselimut awan yg menjadikannya gamang dalam melangkah. Tanah peninggalan kedua orang tua angkat diminta oleh saudara-saudara pihak kedua orang tua angkatnya. Tak diberi hak sedikitpun. Berjuang secara hukumpun percuma, pengangkatan sebagai anak tidak disertai akte, warisan hanya sekedar amanah yg diberikan secara lisan.

Bahtera rumah tangga mulai rapuh dan klimaksnya istri minta cerai dan kembali ke Gandrungmangu beserta anak perempuan semata wayang.

Dalam kesendiriaannya Suprih mencoba menghidupi diri dengan bekerja di Bengkel motor hingga dua tahun kemudian ia diminta menghadap mantan atasanya yg sudah berpangkat BrigJen di Jakarta. Satu tahun lamanya kemudian berpindah dari kota yg satu ke kota lainnya. Sempat di Jogya selama 4 bulan dan akhirnya menetap di Muntilan Magelang. Buka bengkel motor dan beberapa kali pindah tempat dalam satu kota.

Pulang, dari Salatiga menuju Jogya. Seperti ada yang menyuruh, berhenti depan Mushola dekat bengkel yg dulunya Suprih bekerja disitu. Akupun sering nongkrong selepas pulang sekolah SMA 23 yang lalu di tahun 2009. Sekedar nostagik saja, sholat Isya', istirahat barang sebentar. Lampu Mushola sudah dimatikan maklum jam 9an malam. Sholat Isya' dalam kegelapan sesekali cahaya liar menerangi oleh lampu kendaraan bermotor yg masih cukup ramai.

Sholat Isya' selesai dan keluar sembari menutup pintu. Di teras, seseorang duduk menatap lampu kota. Usia 60an dan aku mengenalnya. "Mas Prih...", panggilku.
"Lhoh kok kowe... (loh kok kamu...)", terkejut.
Biasa, salaman hahahihi...dan tentu saja merokok bul bul, basa basi. Mulailah pembicaraan suasana hati.
"Mbuh ya, aku mung ngrasa ayem wae nongkrong nang Mushola , keparane ya turu nang njero Mushola (entahlah, aku hanya merasa tentram kalau nongkrong di mushola, kalau tidak ya tidur di dalam mushola)", katanya. "Ngudarasa", pikirku. "Seka ngendi ki mau...sowan ibu?lanjutnya.

Akupun bercerita kalau sedang bantu cari bahan untuk acara "Investivigasi" TV Swasta yg menguak kejahatan terselubung. Mencari narasumberlah intinya. Nampaknya dia langsung paham apa yang aku cari.
"Wah...mestine apik ning piye ya...anu...hehe angel lehku ngomong" ragu-ragu
"Whelehhh kaya sapa ngono lho maaas", mencoba meyakinkannya.
"Masalahe ki durung kadaluwarsa secara hukum, dadi isih isa dimasalahke, blaiikk", jelasnya. Sungguh aku bingung, apa yg dimaksud.

"Pembunuh bayaran....menarik kan?
"Wuaduuhhh....ehmmm lha iyaaa ning njuuukkk piye ya (tapi terus bagaimana ya)"
terkejut dan terpana.
"Lha yakuwi masalahe...sukur kowe paham haha... Lah itu masalahnya.. Sukur kamu paham)", lanjutnya

Lantas mas Suprih melirihkan suaranya.
" Kelingan ora wong mati nang kali Keji sing ambune ngebaki pasar Muntilan, terus wong sing ditembak sirahe nang mburi SMEA, whallah..kae lho sing kowe melu nggotong malah sirahe kejedhuk watu hik hik...merga wedi tah kowe (ingat tidak, orang meninggal di kali keji yang baunya sampai pasar muntilan, terus orang yang ditembak kepalanya di belakang SMEA, walah itu lho yang kamu ikut membawa red:mayat malah kepalanya kebentur batu hik hik. Karena takut tah kamu)".

Yah aku ingat betul dua kejadian itu. Dalam hatiku, kenapa mas Suprih mengingatnya kembali peristiwa itu. Belum sempat bertanya ia sudah menjawab dengan tegas.
"Sing mateni AKU (yang membunuh aku)", berkata tanpa ragu.

Aku cuma bisa misuh dalam hati asyyeeeem.
"Sing nang kali Keji kae wong Jakarta, wonge kaya welut mrucat mrucut seka jerat hukum, nha nek sing nang mburi SMEA sakjane ya mung "gali" ning ya angel digoleki pasal hukum hukume, akhire dhoooorrrr... rampung perkarane (yang di kali keji itu orang jakarta, orangnya licin seperti belut dan kebal hukum, nah kalau yang dibelakang SMEA sebenarnya hanya preman tapi susah cari pasal hukumnya, akhirnya dhooooor... Selesai perkaranya)".

Heran, begitu ringan sekali mas Suprih berbicara masalah bunuh membunuh. Antara percaya dan tidak. Namun begitu melihat sorot mata dan rona wajahnya nampak menyimpan penyesalan yang ditutupinya.

Merokokpun nyaris tak berhenti, habis sulut lagi begitulah seterusnya. Aku hanya bisa mendengar dan mendengar dan sesekali terlintas mengingat kedatangannya di kampung pada mulanya dipandang curiga oleh warga setempat dan sangat misterius.

Diapun melanjutkan ceritanya bagaimana ia terjebak dalam lingkaran "pembunuh bayaran".
Tak ada pilihan!

Memang, sewaktu dipanggil oleh mantan atasannya di Jakarta selama satu tahun adalah agenda "brain wash/cuci otak" dengan design melenyapkan orang orang yg kebal hukum juga orang-orang yang ditengarai sebagai lawan politik. Tentu saja mas Suprih tidak sendirian, banyak cukup banyak bisa dikatakan itu sindikat yg bekerja dibawah perintah. Anggotanyapun beragam berdasar fungsi dan tugasnya; para desersi dan residivis.

Meskipun banyak namun mereka juga belum tentu saling mengenal. Mengenal saat tugas yg sama. Rumit. Strukturnya sungguh rumit. Siapa yang memata matai, siapa yang jadi kurir, siapa yang eksekusi. Tanpa masing-masing mengenal bahkan namanya.

SOP setiap target juga berbeda; pengalaman mas Suprih sendiri setiap ada order melalui kurir yg mau reparasi motornya.
"KNALPOT" begitu sandinya.
Kalau sdh begitu motor dimasukkan ruang tertutup dan dibukalah jok motor tersebut. Komplit data target yg dituju berikut senjata yang digunakan. Hemmmm....!

"Mbakmie yuk mas", ajakku. Mengelabuhinya agar berhenti perbincangan ini.
"Isih hobi bakmie haha...pak Man wis ora dodol...strok ra ketulung (pakan sudah tidak jualan, sakit struk tidak tertolong)".

Kamipun langsung tancap gas kearah pasar. Diperjalanan itulah mas Suprih nampak pandangan nanap, kosong. Terlebih saat aku singgung tentang anaknya yg di Gandrung Mangu. Nafas panjangpun tidak kuasa menghentikan sendat suara hatinya.
"Rausah "nggege mangsa", nek ketemu wae mbuh kapan, tulung diaruhke...anakku!, tangis yg tertahan. Lanjutnya,"...ojo disiarke TV lho lan ojo critakke sapa-sapa...sak durunge aku MATI"

MASKUMAMBANG
Kelek kelek biyung sira aneng ngendi
Enggal tulungana
Anakmu kecemplung warih
Gelagepan wus meh pejah.



TAMAT
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di