KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 23

Saat ini, Rendy sedang merasakan gejolak emosi yang baru pertama kali ia rasakan. Sebuah perasaan yang tiba-tiba saja merubah keadaan hatinya yang di mana sebelumnya gundah karena sosok perempuan yang ia cintai lebih memilih lelaki yang tak pantas untuk jadi pendamping hidupnya. Tak jauh beda, Rendy masih merasa gundah. Entah mengapa rasa ingin melindungi dan menjaga Vanessa sekarang terasa lebih berat dibandingkan dengan sebelumnya.

Dia masih duduk di area taman gedung perkuliahan di mana Vanessa sedang menuntut ilmu untuk merubah nasib hidup keluarganya. Menatap langit yang sepi dan sunyi dengan tatapan kosong. Taburan bintang hilang bagai ditelan malam. Satelit alami yang dimiliki oleh bumi juga tak kuasa menampakkan diri. Entah sudah berapa jam Rendy menenyendiri dan memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk Vanessa saat ini.
****

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Vanessa dan teman-temannya keluar dari kelasnya. Vanessa berjalan perlahan di sebuah lorong dan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Pandangannya tercuri ke arah jendela terletak di depan anak tangga yang baru saja ia turuni. Di sana, dia melihat ke arah jalan dan menemukan pandangan yang membuat dia kaget sekaligus ketakutan. Sebuah mobil jenis sedan bermesin 2.4 L, 4 silinder i-VTEC berwarna silver terparkir di pinggir dekat dengan gerbang keluar.
“Itu kan... mobilnya Bella!”gumam Vanessa dalam hati.

Vanessa tergesa-gesa mencari telepon genggamnya di dalam tas jinjingnya. Dia mengeluarkan semua isi tasnya demi mendapati telepon genggamnya yang terselip di suatu tempat dalam tasnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menelpon Rendy yang kebetulan saja memang sedang menunggu Vanessa yang sedang mendalami materi dalam kelas.
“Kak...” Vanessa memanggil Rendy sambil menahan takutnya.

Bibirnya bergetar dan suaranya terbata-bata. Seluruh tubuh Vanessa gemetaran hebat seakan-akan bumi ikut terguncang. Air matanya jatuh deras membasahi wajah cantiknya. Menangis bukan karena sedih atau terharu. Dia sedang merasakan takut yang amat sangat karena Bella tak main-main dalam ancamannya.
“Dek... Kamu di mana? Udah selesai?”tanya Rendy di balik telepon.

“Kak, aku takut!” ujar Vanessa ketakutan.

“Kenapa? Kamu di mana?”

“Bella, Kak! Bella ada di sini!”

“Kamu di mana sekarang? Aku ke sana!”

“Aku masih di dalam gedung lantai dua depan tangga... Kak, aku gak mau keluar! Aku takut banget, Kak!”

“Tunggu di sana! Aku ke sana sekarang!”

Rendy memutuskan koneksi teleponnya dan segera berlari masuk ke dalam area gedung. Dia berlari menaiki anak tangga dengan cepat dan menemukan Vanessa sedang duduk bersandar memeluk kedua kakinya dengan kepala tertunduk menyembunyikan tangisnya.
“Adek!” panggil Rendy.

“Kakak! Aku takut!” Vanessa langsung berdiri dan berlari ke arah Rendy.

“Udah gak usah takut. Ada aku di sini. Di mana dia?” tanya Rendy.

“Itu, Kak... Dia di depan.” Vanessa menunjukkan posisi mobil milik Bella.

Saat Rendy dan Vanessa melihat ke arah mobil itu, secara kebetulan Bella keluar dari mobilnya diikuti oleh tiga pria berbadan tegap dan besar. Ternyata benar, Bella ingin menjemput paksa Vanessa karena tidak ingin melayani dan bekerja sebagai pemuas nafsu birahi untuk Gavin saat itu. Tangisannya semakin pecah dan keras. Rendy memeluk Vanessa bermaksud untuk meredam rasa takutnya. Namun, apa yang dia lakukan sia-sia. Vanessa justru semakin takut karena bisa saja lelaki berbadan besar itu ikut mencelakakan pria yang saat ini sangat ia cintai.
“Ya ampun, Kak! Kak, dia gak sendirian! Aku takut, Kak!” Vanessa semakin ketakutan.

“Tenang, Dek... Aku gak akan biarin kamu kenapa-napa.” Rendy mengeratkan pelukannya sambil mengusap kepala Vanessa dengan lembut.

“Aku gak mau Kakak kenapa-napa... Kakak sebaiknya pergi dari sini...” ujar Vanessa.

“Nggak! Aku gak akan kemana-mana! Sampai kapanpun aku akan jaga kamu. Menjamin kamu gak luka sedikitpun!” ujar Rendy meyakinkan Vanessa.

“...”

“Ayo kita hadapin sama-sama... Percaya sama aku, gak akan terjadi apa-apa.” Rendy tersenyum tipis ke arah Vanessa.

Vanessa terus menggenggam tangan Rendy sambil berjalan keluar dari area gedung. Genggamannya tak mengendur sedikitpun. Akhirnya, mereka keluar dari gedung tersebut. Namun sialnya, Bella melihat Vanessa dan Rendy keluar dari pintu gedung tersebut. Tanpa pikir panjang, Bella berteriak dan memberi tahu ketiga pria berbadan besar tersebut bahwa perempuan yang baru saja keluar dari gedung itu adalah Vanessa Agustine, target operasi mereka.
****

“Itu! Itu Vanessa!” teriak Bella sambil menunjuk ke arah Vanessa dan Rendy.

Ketiga pria tersebut bersama Bella langsung berlari mengejar Vanessa dan Rendy. Namun, Rendy tak berlari menjauhi mereka. Rendy justru diam dan menunggu kedatangan mereka. Rendy akan menghadapi mereka layaknya lelaki sejati. Saat ini, ketiga pria itu dan Bella berdiri di depan Rendy. Vanessa yang ketakutan berlari kembali masuk ke area gedung. Ketiga pria tersebut ingin mengejarnya. Namun justru Rendy menahan mereka bertiga. Sebuah sepakan keras dari Rendy menjatuhkan salah satu dari mereka. Kedua temannya langsung mundur dan berjaga jarak dengan Rendy karena mereka tahu bahwa Rendy bukan orang biasa yang mudah dihadapi.
“Siapapun dari kalian gak akan gue biarin nyentuh Vanessa! Berani kalian sentuh dia, gue bunuh di tempat sekarang juga!”

“...” ketiga lelaki itu saling bertatapan.

“Hei! Lo pikir lo siapa? Mau jadi pahlawan?” Bella menyela.

“Lo pikir gue gak tau rencana jahat lo sama Gavin?”

“...” Bella terdiam tak menyangka bahwa Rendy mengetahui sosok Gavin.

“Kenapa bengong! Habisin udah!” Bella memerintahkan ketiga pria itu.

Ketiga pria itu tanpa basa basi langsung menerjang menyerang Rendy. Rendy mencoba bertahan dan mencari waktu yang tepat untuk membalas serangan mereka. Namun sayangnya waktu yang dinanti tak kunjung bertemu, Rendy terkena pukulan keras di perutnya lalu tubuhnya dibanting ke tanah.

Bukan Rendy namanya kalau menyerah sampai di situ saja. Dia kembali bangkit dan membalasnya. Salah satu di antara mereka kembali terjatuh karena tendangan yang dilayangkan oleh Rendy mengenai bagian dada dengan keras. Melihat temannya jatuh, salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau lipat yang dia sembunyikan di saku celananya.

Bella melihat ada kesempatan untuk mengejar Vanessa ke dalam gedung. Dia langsung berlari untuk mengejar Vanessa. Perhatian Rendy langsung tercuri ke arah Bella dan tak sadar kedua pria itu sedang menyerangnya. Hampir saja pisau itu menancap di perutnya. Rendy menahan pisau itu dengan genggaman tangannya lalu menendang pria yang memegang pisau hingga mundur beberapa langkah. Tangannya terluka cukup dalam sampai darahnya menetes dan jatuh ke tanah. Petugas keamanan yang melihatnya langsung berlari menghampiri Rendy dan ketiga pria tersebut. Ketiga pria dan Bella langsung berbalik arah dan berlari keluar.
“Hei! Tunggu kalian!” teriak seorang petugas keamanan gedung. “Gak apa-apa, Mas?” tanya petugas itu kepada Rendy.

“Gak apa-apa, Pak...” jawab Rendy.

“Tangannya berdarah loh Mas...” ujar petugas keamanan.

“Udah gak apa-apa, Pak...”

“Kak! Kakak gak apa-apa?” tanya Vanessa yang baru saja keluar dari area gedung.

“Gak, Dek... Cuma berdarah dikit aja...” jawab Rendy.

“Untung Mbaknya cepat lapor ke posko gedung... Kalau nggak, bisa celaka Masnya...” ujar petugas itu.

“Iya, Pak... Makasih banyak ya...” ujar Rendy.

****

Setelah kejadian yang menimpa Rendy dan Vanessa, mereka duduk di area taman gedung kampus. Vanessa melihat seberapa dalam luka yang disebabkan oleh sebilah pisau lipat milik salah satu pria berbadan tegap dan besar itu.
“Duh, Kak... Kakak bikin aku khawatir deh...” ujar Vanessa sambil mencari alkohol dan obat luka.

“Hehehehe... Gak apa-apa kok, Dek... Yang penting kamu gak kenapa-napa...” ujar Rendy.

“Bukan gitu, Kak. Aku kan juga mikirin kakak.” ujar Vanessa seraya membasahi kapas dengan alkohol. “Tahan ya, Kak.” Vanessa menempelkan kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol.

“Duh!”

“Tahan sedikit ya, Kak. Aku bersihin lukanya dulu.” ujar Vanessa.

“Kok kamu lengkap banget bawa obat luka?” tanya Rendy.

“Ya buat jaga-jaga aja, Kak... Aku kan juga kalau jalan selalu sendiri dari dulu... Sering banget kesandung terus luka deh...” jawab Vanessa seraya mengobati luka di tangan Rendy.

Rendy terus menatap dalam-dalam Vanessa yang sedang merawat lukanya. Sebuah gejolak emosi dalam hati yang sudah lama tak ia rasakan kini muncul kembali. Perasaan yang berhasil membuat jantung berdebar kencang. Rasa ingin berkorban dan menjaga tiba-tiba saja naik ke permukaan. Apakah Vanessa berhasil merebut dan membuat hati milik Rendy jatuh padanya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 5 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di