CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2




Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 32 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 3

“Jam makan siang nanti, ikut aku ya.” sent to Anna.

“Kalau aku gak mau, gimana?” received from Anna.

“Atasan gak boleh dibantah.” sent to Anna.

“Sekarang, hubungan kita atasan dan bawahan ya, Ren?” received from Anna.

“Menurutmu?” sent to Anna.

“Iya, aku ikut.” received from Anna.

Sebuah obrolan yang mereka berdua lakukan dalam aplikasi Whatsapp membuka pagi hari ini. Tak ada yang menyangka bahwa mereka berdua bisa dipersatukan kembali dalam kehidupan. Dua belas tahun lamanya mereka tak pernah bertemu. Dua belas tahun pula mereka tak saling menghubungi setelah Anna pergi begitu saja meninggalkan Rendy.
“Hai, Dek!” sapa Rendy kepada adiknya yang sedang sarapan.

“Hai, Kak!”

“Gimana kerjaan kamu sebagai bos, Ren?” tanya Mama.

“Lancar, Ma. Mama tau gak, ada karyawan baru yang gantiin aku. Dia perempuan, Ma.” ujar Rendy sambil mengambil satu piring nasi goreng untuk sarapannya.

“Cantik?” tanya Mama.

“Banget, Ma.” jawab Rendy.

“Kakak suka sama dia? Kak Vera gimana?” tanya Tasya.

“Sebelum aku jawab pertanyaanmu, aku mau kasih tau siapa orangnya.” ujar Rendy.

“Siapa, Kak?”

“Anna.”

“Anna? Oh, Anna yang pernah donorin darahnya buat kamu?” tanya Mama sedikit terkejut.

“Iya, Ma.”

“Kak Anna! Serius, Kak?” tanya Tasya yang juga sedikit terkejut.

“Iya. Dan nanti siang, aku mau ajak Anna makan bareng sama kamu dan Danu.” ujar Rendy.

“Beneran, Kak? Aku udah lama gak liat Kak Anna.”

“Iya, bener. Yuk, berangkat!” Rendy menyudahi sarapannya dan mencium tangan Mama. “Aku berangkat, Ma.”

“Aku juga ya, Ma.” Tasya juga mencium tangan Mama.

“Iya, kalian hati-hati di jalan ya.”

Rendy menyalakan sepeda motor besutan negeri sakura dengan isi silinder 250 yang sedang menjadi sorotan media otomotif pada waktu itu. Belum pernah Rendy semangat untuk berangkat menuju kantornya seperti hari ini. Dia mengendarai sepeda motornya dengan pelan dan santai dengan Tasya yang duduk memeluknya dari belakang.
“Kak, tumben gak ngebut.” ujar Tasya.

“Keselamatan nomor satu, Dek.” ujar Rendy seraya memberhentikan laju sepeda motornya di persimpangan lampu merah.

“Kakak beda hari ini.” ujar Tasya.

“Beda gimana?”

“Kalau yang sekarang, aku kayak lihat Kakak sama seperti dulu. Penuh semangat, gak emosian di jalan, mukanya cerah gitu.”

“Pasti karena ada Kak Anna ya?” tanya Tasya.

“Hehehehe... Bisa aja kamu.”

Lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Tandanya, Rendy dan Tasya harus melanjutkan perjalanan mereka sampai ke gedung perkantoran mereka. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di tempat di mana mereka bekerja. Tasya dan Rendy bekerja hanya berbeda tiga gedung perkantoran saja. Sampailah Rendy di depan gedung di mana Tasya bekerja sebagai Tax Accounting.
“Dah, kamu kerja yang bener ya.” ujar Rendy sambil mengusap kepala adiknya.

“Kakak yang semangat. Kan udah ada Kak Anna. Hehehehe...”

“Ya udah, aku lanjut lagi ya.”

“Iya, hati-hati ya, Kak.”

Tasya mencium tangan Rendy sebelum masuk ke gedung kantornya. Banyak yang menyangka bahwa Rendy itu adalah suami atau pacar dari Tasya. Padahal, Rendy adalah kakak kandung satu-satunya yang Tasya miliki. Beberapa menit kemudian, sampailah Rendy di kantornya. Dia memarkirkan motornya di parkiran khusus motor dengan isi silinder lebih dari sama dengan dua ratus lima puluh.

Masih di area parkir, Rendy melihat seorang perempuan dengan blazer hitam sedang kesusahan untuk memarkirkan kendaraannya. Suasana di area parkir sudah hampir penuh dengan kendaraan para karyawan yang bekerja di sana. Rendy segera menghampiri dan menolong perempuan tersebut.
“Sini, aku bantu.” ucap Rendy seraya mengangkat sepeda motor yang memakan jarak parkir dari satu motor ke motor lain.

“Eh, makasih Kak.”

“Kamu itu kalau butuh bantuan, bilang dong, Nes.” ujar Rendy.

“Hehehehe... Aku gak mau ngerepotin orang lain.” ujar perempuan dengan nama "Vanessa Agustine" pada nametag yang tertera pada blazer miliknya.

Setelah selesai membantu Vanessa, mereka berdua berjalan bersama menuju gedung kantor. Vanessa terlihat sangat malu-malu berjalan berdua bersama Rendy. Vanessa adalah salah satu perempuan yang mengagumi sosok Rendy. Namun, dia lebih tahu diri karena posisinya hanya seorang resepsionis. Sedangkan Rendy punya jabatan dan juga anak dari founder perusahaan kontraktor terkenal, Nugroho Groups.
“Kakak gak malu jalan sama aku?” tanya Vanessa.

“Kenapa harus malu?”

“Aku cuma resepsionis.” jawab Vanessa.

“Kamu itu lucu ya. Hahahahaha.”

“...”

“Resepsionis atau Manager, itu hanya jabatan di dunia. Kita semua sama kok, Nes. Aku duluan ya.” ujar Rendy seraya mengacak-acak rambut Vanessa.

Rendy dan Vanessa sudah mengenal satu sama lain dari mulai Rendy bekerja sebagai staff biasa di perusahaan tersebut. Walau Vanessa hanya sebagai resepsionis, Rendy tak pernah membedakan sikapnya kepada siapapun. Rendy tetaplah menjadi Rendy. Hanya saja, kali ini dia telah kembali ke dirinya seperti sedia kala. Apakah ini adalah efek dari pertemuannya dengan Anna?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di