alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b2cbe06d675d4b73c8b4572/berbeda-agama

Berbeda Agama

~Berbeda Agama~



Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.

Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata emoticon-Ngakak (S)



Daftar Karakter :



Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya. emoticon-Ngakak (S)

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.

Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henry sepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.



Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu. emoticon-Malu (S)

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.



Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.

Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.



Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.



Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.

Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.



Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.


Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)

Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.



Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.

Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial


Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.

Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya


Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal

Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe... emoticon-Malu (S)

Quote:







Diubah oleh natgeas2
Menanti Jogjakarta

"makasih ya juna, dhanin udah dibawa pulang," kata seseorang yang baru saja keluar dari sebuah kamar yang pintunya terdapat gambar "cardcaptor sakura"

"iya gapapa om, saya yang terimakasih banyak,"

"belakangan ini, dhanin sering banget mimisan, om belum sempat bawa ke internis, soalnya jadwal om padat banget, puji tuhan kamu selalu jaga dhanin" katanya seraya menepuk-nepuk pundak saya, "ngomong-ngomong kamu setelah lulus ini mau lanjut kuliah atau kerja?"

Loh..loh..loh... tunggu-tunggu, biar saya berpikir sebentar, bukannya papahnya dhanin ini yang memberikan saya uang 5 juta untuk bayar biaya kuliah pertama? lah kok dia masih nanya saya mau kerja atau kuliah ya? hmmm.. ada yang ga beres nih,

"eh.. ku..kuliah om" jawab saya gagap

"kalau kamu kekurangan biaya, km ngomong ke om saja, biar om bantu, jangan sungkan, kamu udah om anggap seperti anak sendiri,"

hmm.. paham nih, bocah kecil ini pasti boong lagi, kaya kasus biaya sekolah saya yang pertama kali, bocah ga ada kapok-kapoknya ya, gemes saya jadinya, makin enggak enak hati ini, dasar dede gemes

"kamu sama anisa boleh temenin dhanin sebentar disini? sampai bi arni selesai belanja, om ada yang harus diurus dulu dikantor, kalau ada apa-apa kontak dokter sadikin aja," kata bapaknya dhanin seraya menyerahkan secarik kartu nama seorang dokter, "dia dokter keluarga ini,"

"eh iya om," jawab saya dan anisa kompak.

***
Pukul 16:00


Mah, pah, Arjuna berangkat dulu ya," ucapku sambil mencium kedua tangan orang tuaku yang tampak sedih sepertinya melepas kepergianku ke jogja, ada kesedihan namun ada secercah harapan yang tampak dari mata mereka, bahwa aku akan membahagiakan mereka, menjadikan derajat dan harkat mereka terangkat, terasa amat berat memang tugas yang akan saya emban, namun saya merasa itu bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan.

"iya nak, kamu hati hati ya, tuhan memberkatimu," ucap ayahku sesenggungkan seraya memelukku dengan kuat, tiba-tiba ibu ku juga ikut memelukku dengan erat disusul dengan kedua adikku, suasana haru biru sangat terasa, "jaga sholatmu ya nak, jangan sampai lupa sholat," ucap ibuku sambil sesenggukan

Rasanya tak kuat aku melangkah, tak sanggup rasanya satu hari aku tak melihat wajah ibu dan ayah serta adik-adiku. mereka orang-orang yang aku sayangi, seketika rasanya tak ingin aku berangkat, apakah aku sanggup hidup tanpa bertemu mereka satu hari saja?, "harus sanggup," ini juga demi mereka, demi mereka yang akan menikmati hasil apa yang aku peroleh nantinya, mereka sudah mendukung sepenuh hati.

19:00
Dentuman suara khas peringatan kereta api bercampur suasana hiruk pikuk stasiun mulai dari pedagang asongan yang hilir mudik kesana kemari, petugas pengangkutan yang menawarkan jasa pengangkatan koper, para penumpang yang tertidur dilantai dan di tempat duduk menunggu kedatangan kereta mereka yang akan membawa mereka ketempat tujuan. saya sedang berusaha menarik koper saya yang ternyata bannya agak sedikit gompal jadi agak macet dan tidak bisa digulirkan, nih koper susah amat, payah dah.

"woi juna, sini" teriak salah seorang dari kejauhan menggunakan almamater biru, ternyata itu aris, salah satu dari 11 orang yang diterima juga kuliah di jogja, ternyata mereka semua telah kumpul lebih dulu, kami semua kompak mengenakan almamater biru kebanggaan sekolah kami agar lebih mudah untuk berkoordinasi, karena kami memang bukan dari satu kelas yang sama.

"udah pada lama disni," tanyaku sambil meletakan koper.

"si umar udah dari jam lima, gue setelah umar datengnya, kate, irwan sama ipul bareng, aerul sama aris endut lagi solat, riski udin jimi sama babang lagi pada beli makan,"

12 orang anak yang akan merantau dari tanah kanaan ke mesir, hehehe, oh berarti ada si yusuf yang ganteng dan terbuang dong? ada pastinya, ok kita simpan itu untuk nanti saat itu perhatian saya tertuju pada gadis berkerudung merah yang tiba-tiba mendekat dengan cepat ke arah kelompok saya,

"plak", saya ditampar dengan tamparan yang agak keras.

"wwoooowww," teman-teman saya kompak berteriak., "sabar neng,","tanggung jawab luh jun, hayoo looh," semuanya kompak berkomentar seenak udelnya sendiri sambil tertawa-tawa melihat saya yang tiba tiba ditampar oleh seorang gadis berkerudung merah.

"kamu kenapa sih nis?" ucapku sambil mengusap pipi

"apa maksudnya ini?" katanya sambil menyerahkan secarik kertas yang terlipat lecek,

"ini errr...., daftar belanja bulanan?" tanyaku heran

"eh...salah," dengan muka sedikit tertawa dia meraih kertas yang ada di tangan saya dan menyerahkan kertas lainnya, itu adalah kertas saya menuliskan prasaan saya yang saya bentuk origami tadi pagi, "coba jelaskan itu, aku ingin dengar dari mulut langsung" ucapnya dengan nada agak sedikit membentak.

"begini nisa," ucapku seraya meraih kedua tangannya, oke, saat itu saya sadar saya sedang menjadi pusat perhatian karena kejadian tamparan tadi dan saat ini jantung saya berdegup sangat kencang melihat tatapan matanya menatap mata saya seperti menanti sebuah jawaban.

"kak junaa..." teriak seorang gadis muda berlari melambaikan tangannya

"wwoooowww," teman-teman saya kompak berteriak lagi., "siapa lagi tuh,","tanggung jawab lagi luh luh jun, hayoo looh,menang banyak" semuanya kompak kembali berkomentar seenak udelnya sendiri sambil tertawa-tawa.

aduh kenapa sih selalu saja datang disaat yang tidak tepat, dhaniiiinn, bukannya istirahat dirumah, tadi pagi masih mimisan ngapain sekarang kesini, haduh, ini saat-saat genting, hidup dan mati ini, padahal udah mau bilang, aduuhh ancur semua, seketika itu juga nisa langsung melepaskan genggaman tangan saya dan berpaling arah.

"aku belum sempat pamitan," dhanin langsung meraih tangan saya, langsung saya masukan kertas lecek itu kedalam saku saya, "eh ada kak nisa juga,"

"kamu udah sehat?" tanya nisa

"sudah kak, sudah agak enakan, makanya aku berani kesini, itupun sama papah nunggu diparkiran karena susah cari parkir"

"aku pamit ya juna, kabari saja kalau sudah sampai, hati-hati dan jaga kesehatan"ucap nisa seraya pergi meninggalkan perasaan yang tak jadi diungkapkan ini, rasanya lemas badan saya, rrr....seperti tak ada gairah hidup.

"aku ganggu lagi ya kak?", tanya dhanin dengan wajah memelas.

"enggak, kebetulan kamu kesini, kakak mau bicara sesuatu,"

"apa itu kak?"

"uang ini, uang yang kamu beri tadi pagi, ini uang kamu ya? bukan uang dari ayah kamu ya?" tanyaku sambil sesekali memperhatikan arah ke anisa yang terkihat menjauh dari diri ini dan berharap ia menoleh sekali saja kearahku dan tersenyum."kalau kamu bohong, ini kamu ambil saja uang kamu lagi, kakak ga suka dibohongi"

"aku ga bohong, itu memang uang ayah, lagian aku uang dari mana? semua uang aku dari ayah,"

"tapi kok ayah kamu ga tau masalah uang ini,"

"hehehe, iya itu uang jajan aku bulan ini, lagian bulan ini kan libur sekolah, aku gak butuh jajan banyak2, paling istirahat aja dirumah," dengan nada sedikit agak manja sambil cengangas-cengenges, "terima ya kak, jangan dibalikin, nanti aja kakak balikinnya kalau udah dapat beasiswa sesuai kesepakatan kemarin,"

"dasar kamu," ungkap saya kesal sambil mencubit hidungnya dhanin dan tiba-tiba anisa dikejauhan tampak menoleh ke arah saya saat momen itu, oke fix, habis sudah, terlihat, pasti tambah kesal dia, sia-sia saja lirik lagu ungkapan perasaan yang saya buat.

Teng-nong-neng-nong, kereta progo tujuan stasiun lempuyangan masuk dijalur dua, harap para penumpang berada dibelakang garis kuning,"

"kakak berangkat dulu ya dhanin?, kamu jaga diri,"

"aku boleh sering telepon kakak ga?"

"Boleh aja, tapi kakak ga punya handphone, nanti kakak kabari nomor handphone salah satu teman kakak,"

"iya kak, kakak hati-hati ya,"

aku melangkahkan diri naik kedalam kereta, kedalam penentuan tujuan masa depan, saat semua ku yakin akan berubah menjadi lebih baik, masa depan yang cerah, di jogjakarta, perlahan keretaku bergerak meninggalkan seorang gadis yang berdiri menatap saya dengan senyuman manis dan seorang gadis dengan tatapan yang tidak jelas apakah sedang kesal atau sedang sedih di ujung pintu keluar. gadis berkerudung merah.

sudah kudaki gunung tertinggi
hanya untuk mencari dimana dirimu
sudah kujelajahi isi bumi
hanya untuk dapat hidup bersamamu

sudah kuarungi laut samudra
hanya untuk mencari tepat berlabuhmu
tapi semakin jauh ku mencari
cinta semakin aku tak mengerti

Akulah arjuna, yang mencari cinta
wahai wanita (An-nisa), cintailah aku

mungkin, kutemui cinta sejati,
saat aku hembuskan nafas terakhir-ku
mungkin cinta sejati memang tak ada
dalam cerita kehidupan ini


"tenonenong, tenonnenong, tenonenong neng," suara ringtone khas nokia menggema didalam kereta, namun tidak ada yang bereaksi, dan saya merasakan getaran didalam jaket biru saya sebelah kanan,

"hah? handphone siapa ini?" tanya saya keheranan sambil membolak balikan HP nokia berwarna merah, ternyata ini panggilan dari handphone yang tiba-tiba ada didalam saku jaket, nama pemanggilnya "adikmu tersayang"

"halo?"

"kakak, hati-hati ya, sering-sering telepon aku,"

hemmm dhanin...
Diubah oleh natgeas2
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di