CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b12bf4d9478681b6c8b4569/sulaksmi

SULAKSMI




PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 34 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh meta.morfosis
Chapter 4





suara dentangan bandul jam kayu besar yang berada di sudut ruangan seperti menyadarkan gw dari keterpakuan menatap perkebunan yang berada tepat di depan teras belakang, lama gw terdiam mencoba menikmati momen keheningan ini, hingga akhirnya sinar terang dari cahaya lampu teras depan yang telah dinyalakan, kembali menyadarkan gw bahwa hari telah beranjak gelap
“ kang bagus.....” suara sapaan mang edo yang terdengar menggema kini terdengar, seiring dengan pandangan gw yang mencari keberadaan dari mang edo, terlihat mang edo tengah berdiri di lantai atas, beberapa bagian ruangan di lantai atas yang terlihat gelap, sepertinya menjadi alasan bagi mang edo untuk menyapa gw
“ kenapa mang....?”
“ banyak lampu yang rusak dan harus diganti kang.......” ucap mang edo sambil menunjukan beberapa titik dari ruangan di lantai atas yang terlihat gelap, melihat gw yang belum merespon pertanyaan mang edo, kini nampak mang edo mulai berjalan menuruni lantai atas dan menghampiri gw
“ bagaimana kang bagus, apa harus di ganti sekarang....?” tanya mang edo begitu tiba di hadapan gw
“ sebaiknya kita menunggu renovasi ini selesai dulu mang.....rencananya saya ingin mengganti seluruh lampu di rumah ini....” jawab gw sambil mengajak mang edo duduk di kursi yang kini telah terlihat bersih karena telah di bersihkan oleh mang edo
“ lantas apakah tempat tidur berikut kasur kasur yang ada di kamar akan di ganti juga kang....?” tanya mang edo kembali
“ kalau semua kasur dan bantal itu sudah pasti akan saya ganti mang, tapi kalau untuk tempat tidur....sepertinya enggak mang....” seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut gw, nampak mang edo masih terlihat bingung
“ enggak usah bingung mang, intinya saya ingin membuat konsep penginapan yang sederhana dengan nuansa tempo dulu tapi dengan pelayanan yang baik....”
“ berarti enggak terlalu banyak yang harus di ganti ya kang, karena hampir rata rata, barang yang ada di rumah ini merupakan peninggalan dari keluarga kang bagus, dan semuanya masih terlihat baik....” ucap mang edo yang berbalas anggukan kepala gw, kini nampak terlihat sella, doni dan iyan memasuki rumah melalui teras belakang
“ gila ya gus...ternyata semakin sore, udara di sini semakin dingin ya.....” ujar iyan begitu memasuki rumah, terlihat sella berusaha menghilangkan rasa dinginnya dengan mendekapkan kedua tangannya di dada
“ jadi dimana kita akan tidur malam ini gus....?” tanya doni sambil memperhatikan setiap sudut rumah
“ disana....” jawab gw sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang telah terhampar sebuah tikar dengan beberapa kasur di atasnya, nampak salah satu dari kasur tersebut gw letakan terpisah karena memang kasur tersebut gw teruntukan untuk sella
“ memangnya kasur kasur itu sudah bersih gus....?” tanya sella yang masih ragu akan kebersihan kasur yang akan digunakannya untuk tidur
“ tenang sel, di lingkungan seperti ini enggak terlalu banyak debu, lagi pula kasur kasur itu telah dibersihkan oleh mang edo....” jawab gw yang berbalas anggukan kepala mang edo
“ ohhh...ya udah kalau begitu gw mau ganti baju dulu...ehh tapi dimana kamar mandinya gus...?” tanya sella kembali
“ disana sel....” jawab gw sambil menunjuk ke sebuah sudut di dalam rumah, tampak sella, doni dan iyan memandang sudut tersebut dengan perasaan tidak nyaman, sepertinya ruangan gelap yang mereka harus lalui untuk mencapai sudut tersebut menjadi alasan ketidaknyamanan di wajah mereka
“ waduhhh...jangan bilang kalian takut dengan gelap deh...” mendapati sindiran halus yang terucap dari mulut gw, dengan serentak doni dan iyan menggelengkan kepalanya, hanya sella yang terlihat masih menunjukan rasa tidak nyamannya
“ jangan berpikir yang aneh aneh sel....karena pikiran lu sendirilah yang akan menciptakan semuanya itu terlihat menyeramkan....” ucap gw dalam candaan
“ gw bukan berpikir yang aneh aneh gus, dari dulu gw memang enggak nyaman dengan yang namanya gelap....bahkan di rumah sendiri aja, kalau sedang mati lampu secara mendadak di malam hari, gw bisa berteriak teriak histeris gus....” ujar sella tanpa menutupi rasa takutnya terhadap gelap
“ ahhh lebai lu sel...bilang aja kalau lu memang minta dianterin....” tampak sella mengembangkan senyumnya begitu mendengar perkataan iyan
“ tas gw dimana gus...?” baru saja gw hendak menjawab pertanyaan sella, terlihat sella menarik tangan iyan untuk berjalan menuju ke ruangan dimana kasur telah di hamparkan, sepertinya keberadaan tas yang telah terlihat olehnya kini telah membuat sella tidak lagi membutuhkan jawaban dari gw
“ gus...lantas bagaimana dengan kebutuhan makan dan minum kita....?” tanya doni dengan rasa khawatir
“ tenang don, semuanya udah diatur....”
“ diatur bagaimana gus....?” tanya doni kembali karena merasa tidak puas dengan jawaban gw yang terkesan singkat
“ ya diatur....semuanya udah diatur oleh mang edo, jadi selama proses renov ini, semua makanan akan disediakan oleh mang edo....kebetulan istrinya mang edo jago masak, kalau untuk kebutuhan minum...lu enggak usah khawatir...” terang gw sambil menunjuk ke beberapa galon air yang telah dibeli oleh mang edo
“ ohhhh.....”
“ kalau lu masih kurang juga don, lu boleh minus sepuasnya air di kamar mandi....” canda gw yang berbalas gelak tawa
“ kalau begitu, baiklah kang....saya pamit pulang dulu untuk mengambil makanan, mungkin sekitar jam tujuh malam saya akan kembali lagi....” dengan berbalas anggukan kepala gw dan doni, mang edo bergegas keluar dari dalam rumah, kini suara mesin motor yang terdengar mulai menjauh menandakan mang telah edo meninggalkan halaman rumah
detik waktu yang terus beranjak, kini mengantarkan malam semakin bertambah larut, sesekali terdengar suara dengkuran doni yang nampaknya telah tertidur pulas dengan rasa kenyang di perutnya, untuk kesekian kalinya, kembali tatapan mata gw menyapu langit langit rumah dalam sebuah khayalan....ya khayalan kesuksesan atas sebuah usaha yang akan gw jalani
“ masih belum bisa tidur gus....” tegur iyan membuyarkan lamunan gw
“ belum....biasalah yan....gw harus selalu butuh adaptasi dulu di tempat yang baru, mungkin kalau besok gw baru bisa tidur nyenyak....” ucap gw seraya memandang ke arah sella yang telah tertidur dengan tenangnya
“ seperti serasa mimpi ya gus....gw benar benar enggak menyangka kalau lu benar benar akan membuka sebuah usaha sendiri....” seiring perkataan iyan, terlihat iyan bangkit dari tidurnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan rokok dari dalam tasnya
“ ya...itulah hidup yan....kadang kita enggak akan bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan...”ucap gw sambil menerima bungkusan rokok yang di berikan oleh iyan
“ gus...boleh gw bertanya...?, dan gw harap pertanyaan yang akan gw ajukan ini enggak akan menyinggung perasaan lu...” hembusan asap putih yang terlihat bergulung gulung di udara kini mengantarkan perkataan yang terucap dari mulut iyan
“ lu mau bertanya apa yan...?”
“ dulu....lu kan pernah bercerita kalau nyokap yang bersama lu sekarang ini adalah nyokap tiri, lantas ada perbedaan perlakuan enggak antara lu dengan adik tiri lu...?”
“ enggak yan....sama sekali mamah tiri gw itu enggak membeda bedakan anaknya...lagi pula kalau mamah tiri gw itu membeda bedakan perlakuan terhadap anaknya, yaa enggak mungkin lah gw akan diberikan usaha seperti ini....kan lu tahu sendiri yan, kalau rumah ini adalah rumah peninggalan dari orang tua mamah tiri gw...” terlihat iyan menganggukan kepalanya, sebatang rokok yang sedari tadi hanya bermain main di jari jemari gw kini mulai tersulutkan
“ tapi lucu juga ya gus, padahal nyokap lu itu baik...tapi lu sama sekali enggak tahu tentang masa lalunya, bahkan lu enggak tahu kalau ternyata nyokap lu terlahir dari keluarga kaya...”
“ entahlah yan, gw hanya merasa sungkan untuk menanyakan hal itu kepada mamah tiri gw ataupun kepada bapak, dan entah mengapa setiap gw merasa ingin menganggap mamah tiri gw itu adalah bagian dari ibu kandung gw, akan selalu muncul perasaan sakit dihati gw ini jika harus kembali mengingat perceraian antara bapak dengan ibu kandung gw.....” mendengar nada suara yang bergetar karena menahan perasaan yang gw rasakan, terlihat iyan memberikan isyarat agar gw tidak melanjutkan pembicaraan ini
“ maafkan gw gus, gw sama sekali enggak bermaksud.......”
arrgggggg.........jangan...jangan.......
suara teriakan keras yang terdengar dari mulut sella, seketika itu juga membuyarkan perbincangan antara gw dan iyan, tampak terlihat sella menggeliat geliatkan tubuhnya laksana seseorang yang tengah mengalami sesuatu, mendapati hal tersebut gw dan iyan segera membangunkan sella dari tidurnya, terlihat kepanikan di wajah sella ketika menyadari bahwa dirinya kini telah terbangun dari tidur
“ astagfirullah.....” ucap sella berusaha menenangkan dirinya, dari ekspresi kepanikan yang diperlihatkan oleh sella, gw menduga sepertinya sella telah bermimpi buruk malam ini
“ lu kenapa sel....?” tanya iyan seraya menyentuh bahu sella
“ haduh yan....tadi gw......” beberapa patah kata yang baru saja terucap dari mulut sella kini kembali terhenti, tatapan matanya terlihat memandang ke beberapa sudut di dalam rumah, apa yang kini tengah dilakukan oleh sella, jelas membuat gw dan iyan merasa risih
“ sel...lu lihat apa...?” tanya gw sambil ikut memperhatikan sebuah pintu kamar yang kini tengah di pandangi oleh sella
“ sel...ada apa...?” tanya gw sekali lagi, seiring dengan gelengan kepalanya kini sella tidak lagi memandang pintu kamar tersebut
“ tadi gw bermimpi aneh banget gus.....”
“ bermimpi aneh...?” ujar iyan dengan ekspresi bingung
“ tadi gw merasa sedang berdiri tepat di tengah ruangan ini, disaat itu gw merasakan semuanya menjadi gelap...disaat itu gw merasakan bingung dan takut, hingga akhirnya rasa takut gw memuncak ketika gw melihat pintu kamar itu terbuka secara perlahan, redup cahaya lampu yang menerangi ruangan kamar itu seperti memberikan gw gambaran akan masa lalu.....sebuah masa lalu yang begitu suram, hingga akhirnya gw seperti mendengar suara rintihan yang sangat menyayat hati...gw sangat merasa yakin kalau suara rintihan itu berasal dari seorang wanita.......”
“ brengsek....!” sebuah suara yang terdengar begitu tiba tiba, kini kembali mengagetkan gw, iyan dan sella, kini terlihat doni bangkit dari tidurnya dan beranjak
“ lu lihat apa juga don....?” tanya iyan penuh dengan rasa was was, sepertinya kini apa yang telah diceritakan oleh sella telah menyentuh sisi rasa takut iyan, mendapati pertanyaan iyan, tampak doni menggelengkan kepalanya
“ gw enggak lihat apa apa, gw hanya merasa takut aja...benar benar enggak lucu rasanya, disaat gw baru terbangun harus mendengar cerita seram seperti itu...” jawaban yang terucap dari mulut doni kini telah membuat iyan terlihat kesal, sepertinya iyan telah menyangka kalau doni telah melihat sesuatu seperti apa yang telah sella alami
“ kalau tahu gitu don....lebih baik lu tidur aja deh, dari pada lu terbangun hanya untuk ngagetin gw aja....” sungut iyan yang berbalas senyum yang mengembang di wajah gw
“ itu hanya bunga tidur sel....sebenarnya apa yang lu impikan itu adalah efek dari rasa takut lu sebelum tidur tadi....” terang gw yang berbalas tatapan mata sella
“ efek rasa takut...rasa takut yang mana gus...?” tanya sella berharap gw dapat memberikan penjelasan yang masuk akal atas apa yang telah dialaminya
“ iya rasa takut, tadi sore itu lu ingat apa enggak, disaat lu takut ke kamar mandi karena harus melalui ruangan yang gelap dan akhirnya lu minta dianterin sama iyan....” tampak kini sella kembali mengingat kejadian yang telah terjadi sore tadi
“ ohhh berarti...mungkin karena itu ya gus gw jadi bermimpi...” ucap sella yang berbalas aanggukan kepala gw
“ iya sel, ketakutan lu itu terbawa sampai mimpi....” untuk sesaat sella kembali terdiam, kini tatapan matanya kembali memandang ke arah pintu kamar yang tadi dipandangnya
“ tapi gus....”
“ tapi apa....?” tanya gw dengan rasa bingung karena melihat sella kembali berusaha menggali arti dari mimpi yang dialaminya
“ kenapa juga gw harus mendengar suara rintihan wanita itu, padahal saat tidur tadi, sama sekali gw enggak berpikir tentang seorang wanita....” mendengar perkataan sella, kini terlihat iyan dan doni saling bertukar pandang, lama gw terdiam mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sella ini, hingga akhirnya gw mengambil kesimpulan bahwa gw tidak dapat meberikan jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan sella ini
“ entahlah sel....gw enggak tahu jawabannya....” seiring perkataan yang terucap dari mulut gw, kini suara dentangan dari bandul jam kayu yang berada di sudut ruangan kembali terdengar, kini nampak jam telah menunjukan pukul sebelas malam
“ sebaiknya sekarang kita tidur lagi....ingat...besok kita harus bangun pagi pagi untuk membeli segala kebutuhan yang kita perlukan untuk membersihkan kebun....” kini nampak setelah mendengar perkataan gw, doni dan iyan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur
“ lu mikir apa lagi sel....?” tanya gw begitu melihat sella yang belum merebahkan tubuhnya diatas kasur, sepertinya sella masih memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya itu
“ sebaiknya lu percaya sama gw....apa yang lu alami itu hanya mimpi...hanya bunga tidur, pasti saat lu tidur lagi....lu enggak akan bermimpi seperti itu lagi...”
“ iya gus....” ucap sella singkat sambil mengembangkan senyumnya, kini terlihat sella merebahkan tubuhnya di kasur
hampir setengah jama lamanya gw kembali terjebak dalam keheningan malam, suara dengkuran yang silih berganti terdengar dari mulut doni dan iyan, kini laksana sebuah bandul hipnotis yang membuat mata gw terasa lelah hingga akhirnya gw tertidur dalam balutan dinginnya malam

profile-picture
profile-picture
profile-picture
arip1992 dan 10 lainnya memberi reputasi
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di