alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4df3c460e24b5b3b8b4567/aku-melihat-mereka

Aku Melihat Mereka

Bagian 1

[cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi seorang narasumber dengan mengganti nama tokoh dan tempat kejadian]



Perkenalkan namaku Yusuf aku tinggal di Yogyakarta kisah ini bercerita tentang dunia yang saat itu sangat menakutkan untukku, semua berawal saat aku masih berusia sekitar 10 tahun. Pada saat itu aku benar-benar tidak tahu dan tidak bisa membedakan antara nyata atau halusinasi tapi yang pasti “mereka” yang biasa kalian sebut hantu muncul dan memberi tahuku bahwa mereka ada. Bukan hanya selalu tentang “mereka” namun aku juga pernah melihat beberapa peristiwa yang belum terjadi. Aku adalah seorang muslim dan besar dilingkungan yang mayoritas muslim, aku kerap kali berada dirumah sendiri karena kedua orang tuaku menjaga toko kelontong kami yang ada ditempat lain, oh ya aku juga memiliki cerita soal toko kami, dimulai saat keluargaku membeli sebuah ruko untuk toko kelontong kami yang baru, 3 bulan setelah toko kelontong kami dibuka aku belum tahu dimana persisnya lokasi toko baru ini. Sampai suatu malam aku bermimpi aku datang ke suatu tempat yang sangat menyeramkan, aku masuk ke suatu rumah yang memiliki lingkungan yang sangat menyeramkan lalu aku berjalan masuk ke bagian belakang rumah tersebut dan yang lebih menyeramkan adalah bagian dari belakang rumah tersebut memiliki permukaan tanah seperti tertutup darah, darah yang benar-benar berwarna merah dan masih beraroma segar, tidak hanya darah disitu aku juga terlihat tengkorak-tengkorak yang tergeletak ditanah yang jumlahnya lebih dari satu dan dibagain pojoknya ada gundukan tanah seperti seolah-olah ada yang tergeletak didalamnya.

Suatu hari ayahku mengajakku untuk melihat-lihat toko baru kami yang letaknya cukup jauh dari rumahku, sesampainya diruko tempat toko baru kami betapa kagetnya aku, bangunan itu adalah bangunan yang sangat mirip ku lihat didalam mimpiku beberapa waktu lalu, setelah aku melihat bagian depannya baik dari letak pintunya, bentuk bangunan dalamnya semua sama persis. Untuk lebih memastikannya aku masuk ke dalam bagian belakang toko kami dan saat aku sampai ke bagian belakang toko kami yang membuatku lebih kaget bagian belakang toko kami memiliki ruang yang sama persis seperti yang ku lihat di dalam mimpiku dimana bagian belakang toko ini juga memiliki bagian bawahnya masih tanah dan dipojokan ada gundukan tanah, sama seperti dimimpiku hanya bedanya tidak ada darah apalagi tengkorak hanya saja semua yang ada di bangunan tokoku ini benar-benar sangat mirip dengan yang ku lihat ada dimimpiku, jujur itu membuatku sedikit tidak nyaman saat berada disitu.

Selain berjualan dikios kami juga memiliki toko kelontong di depan dirumahku, warung rumahan inilah yang menjadi cikal bakal keluargaku bisa membeli kios kami yang baru dengan warung kelontong yang lebih besar. Orang tuaku lebih banyak berada di kios kelontong kami yang baru sehingga aku lebih sering berada dirumah sendirian, karena dari pagi hingga sore aku bersekolah maka pada saat pagi hari orang tuaku menperkerjakan 1 orang pegawai untuk membantuku berjualan saat aku tidak ada dirumah. Namun pada saat malam hari pegawaiku akan pulang kerumahnya yang terletak tidak jauh dari rumahku karenanya saat malam aku akan berada dirumah sendirian, bisa dibayangkan betapa kesepiannya aku saat sedang berjaga diwarung, hiburanku hanya tv yang ada diruang tengah rumah kami. Saat aku sedang benar-benar merasa kesepian sesekali aku mengundang teman-temanku agar mereka main ke rumah selain agar suasana menjadi sedikit lebih ramai aku merasa itu bisa membunuh sepi yang kurasakan saat aku sedang sendirian dirumah.

Aku ingat pertama kali aku melihat salah satu dari “mereka”, saat itu kurang lebih jam 6 sore saat adzan magrib mulai berkumandang, akupun bersiap-siap untuk menjalankan ibadah sholat magrib, karena saat itu aku dirumah sendiri daripada aku harus kerepotan menutup warung dan nantinya harus membukanya lagi aku memutuskan untuk sholat dirumah. Saat adzan mulai berhenti berkumandang akupun melakukan ibadah sholat magrib dikamar tempat biasa aku tidur, saat itu entah hanya halusinasiku atau nyata dirakaat kedua saat aku rukuk aku merasakan ada yang mengikuti gerakan sholatku (di dalam sholat makmum jika hanya satu orang memiliki jarak yang tak terlalu jauh bisa dibilang hampir sejajar jadi cukup terlihat olehku apa yang ada dibelakangku), dia benar-benar terlihat nyata sosok tinggi, putih yang ku kira itu lebih terlihat seperti pocong sedang berada dibelakangku dengan jarak yang sangat dekat, aku yang masih belum cukup dewasa dibuat takut olehnya. Aku yang saat itu sangat ketakutan jadi tak kusyuk menjalankan sholat dan bertanya dalam hatiku “siapa dia yang mengikuti sholatku, sedangkan saat ini aku seorang diri dirumah”. Setelah selasai dan salam akupun langsung menegok ke arah belakang namun bayangan putih menyerupai pocong yang mengikuti gerakan sholatku sudah tidak ada dibelakangku, padahal aku melihatnya dengan sangat jelas dan seharusnya diapun masih kurang satu rakaat karena aku melihatnya saat aku memasuki rakaat ke 2, dimana sholat magrib memiliki jumlah 3 rekaat, “jika memang itu orang yang jail cepat sekali dia pergi namun jika bukan orang lantas siapa dia” pikirku saat itu, tiba-tiba dari arah dapur rumahku ada suara seperti benda yang terjatuh dan berbunyi sangat keras ”brak”, aku yang ketakutan setengah mati tanpa pikir panjang aku langsung bergegas lari ke arah depan rumah. Setelah peristiwa itu aku jadi lebih sering memilih berada diwarungku dan menonton televisi disitu.

Setelah kejadian itu aku berfikir mungkin saat itu aku sedang berhalusinasi sampai pada suatu malam kejadian ini terjadi, walaupun aku beranggapan peristiwa saat aku sholat itu hanya halusinasiku namun sejak saat itu aku memutuskan untuk lebih sering berkegiatan di warungku. Dengan persetujuan orang tuaku aku beralasan agar mudah saat menjuali pelanggan saat malam hari akhirnya aku memberi tambahan kasur lipat didalam warung. Mulai dari gangguan-gangguan kecil yang ku rasakan aku menjadi lebih sering melakukan semua hal diwarung daripada dikamarku, namun semua anggapanku untuk menghindari “mereka” ternyata salah. Awal kejadian saat itu malam sekitar pukul 10:30 dan jalanan rumahku sudah mulai sepi. Aku yang biasa menutup warung pukul 10:00 karena malam itu masih cukup ramai aku memutuskan untuk membukanya sedikit lebih lama, namun karena sudah setengah jam berlalu dan kurasa jalanan sudah mulai sepi aku memutuskan untuk menutup warung. Terkadang aku buka sampai larut malam hanya saat sedang ada teman-teman yang menemaniku dan begadang diwarung, namun jika sudah sepi dan aku sendirian dirumah aku lebih memilih untuk menutup pintu warung saat pukul 10:00 malam dan menonton tv sambil tiduran di dalam warung, saat itu jam menunjukan pukul 11:30 malam semua tetanggaku memang sudah biasa jika mau membeli pada saat warung sudah tutup pasti mereka akan mengetuk pintu rumahku ataupun pintu warungku, saat sedang memperhatikan tv aku mendengar ada yang mengetuk pintu warung akupun bergegas membuka pintu ternyata pak Ali, bapak-bapak tetangga sekitar rumahku yang ingin membeli rokok. Setelah menjuali pak Ali aku ingin pergi ke kamar mandi yang kebetulan letak kamar mandinya ada didalam rumah maka aku pergi masuk ke dalam rumah, tak berapa lama terdengar suara orang mengetuk pintu depan rumah karena saat itu aku beranggapan mungkin bapak-bapak yang sedang ronda malam mau mencari rokok akupun berteriak “tunggu sebentar”, aku buru-buru dan lekas keluar dari kamar mandi namun sesampainya aku didepan rumah untuk membuka pintu warungku ternyata sudah tidak ada orang didepan “ah sudahlah mungkin orang tadi tidak sabar untuk menunggu” pikirku saat itu.

Aku kembali masuk ke warung dan tidur didalam warung, saat pukul 12.00 malam aku terbangun karena aku mendengar ada suara ketukan dipintu warung akupun bergegas untuk membuka pintu, namun setelah ku buka aku tak melihat ada seseorang aku berfikir “mungkin ada orang yang iseng” lalu aku melihat arah jalan namun jalanan sudah sepi tak ada orang, tiba-tiba terbesit dipikiranku hal-hal tentang “mereka” aku yang ketakutan saat itu langsung lari mengkunci pintu warung dan masuk ke dalam warung tujuanku tentu agar suara-suara mengetuk pintu itu tak lagi terdengar. Setelah menutup pintu warung aku ingin menutup korden jendela rumahku agar jalanan yang sepi di depan rumahku tak terlihat olehku, namun tak sengaja saat aku menutup korden betapa kagetnya saat aku melihat ada perwujudan wanita yang sangat menyeramkan dengan rambutnya yang berantakan, berbaju putih panjang yang kotor berwarna coklat seperti coklatnya tanah pemakaman, matanya yang melotot dan wajah yang tidak enak untuk dilihat dengan jari-jari tangan yang memiliki kuku sangat panjang, seketika aku lari ke kamar orang tuaku dan menguncinya, aku tidur dengan menggunakan selimut yang menutupin dari ujung kaki sampai kepala. Aku yang saat itu benar-benar ketakutan hanya bisa diam didalam selimut sambil berfikir “mungkin itu yang biasa disebut orang-orang dengan sebutan kuntilanak”, peristiwa itu benar-benar sangat menggangguku, sejak peristiwa malam itu hampir selama kurang lebih satu minggu aku sangat kurang tidur karena setiap kali aku ingin menutup mata seolah-olah aku mendengar suara riuh yang sangat ramai namun aku sendiri tidak tahu darimana sumber suara tersebut.


*bagian dari ilustrasi

Bersambung...

Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 6
Bagian 7
Bagian 8
Bagian 9
Bagian 10
Bagian 11
Bagian 12
Bagian 13
Bagian 14
Bagian 15
Bagian 16
Bagian 17
Bagian 18
Bagian 19
Bagian 20
Bagian 21
Bagian 22
Bagian 23
Bagian 24
Bagian 25
Bagian 26 (Akhir)
New Post Aku Melihat (Bersama) Mereka Bagian I
Bagian II
Bagian III
Bagian IV
Bagian V
Bagian VI
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
Diubah oleh ioctaviann

Bagian 6

Karena peristiwa “Maria” aku jarang bahkan bisa dibilang sudah tidak pernah bermain sepak bola di sekolahan jadi saat sore hari setelah pulang sekolah biasanya aku sepedaan dengan teman-temanku disekitar lingkungan rumahku tepatnya dibelakang perumahan tempatku tinggal. Disana ada tanah lapang yang ditengah-tangahnya ada sebuah sendang yang menurut orang-orang diperkampungan disekitarnya sendang itu angker. Suatu sore aku dan teman-temanku bersepeda dan melewati sendang itu, aku tak melihat ada sesuatu yang mencurigakan disitu mulai dari isu keangkerannya ataupun cerita-cerita yang berkembang di sekitar kampung. Aku justru merasa saat sore hari disekitar sendang ini terasa sangat sejuk dan sangat nyaman digunakan untuk bermain, mungkin hawa sejuk ini dikarena disisi sendang itu ada pohon beringin yang sangat besar yang mungkin sudah sangat tua. Dilain dihari di suatu sore aku yang memang tekenal iseng pernah mencoba melempar petasan ke arah pohon itu tapi yang terjadi justur petasan itu tidak mau lepas dari jariku dan akhirnya meledak ditanganku, untungnya saat itu hanya petasan kecil sehingga tak ada luka yang serius hanya saja setelah itu aku seperti mendengar ada yang berkata,


*Bagian dari ilustrasi

“ojo dolan neng kene” (jangan main disini),

entah darimana suara itu berasal namun itu terdengar sangat jelas ditelingaku.

Setelah peristiwa itu aku memutuskan untuk pulang, jalan pulang yang menghubungkan antara perumahan tempatku tinggal dengan perkampungan ini terdapat sebuah rumah yang yang berdiri sangat kokoh dan memiliki 2 lantai dengan bangunan yang cukup besar namun sayangnya rumah ini sudah lama sekali tidak berpenghuni, padahal rumah ini terlihat sangat nyaman untuk ditinggali dengan bagian depan rumahnya memiliki taman ditambah lagi kolam ikan yang memiliki air mancur kecil sehingga rasanya cukup nyaman jika kita menghabiskan sore hari dengan bersantai didepan rumah selain itu yang membuatnya terlihat sangat rindang dikarenakan adanya sebuah pohon mangga cukup besar yang terletak ditengah-tengah taman sehingga menciptakan lingkungan rumah yang terlihat sangat asri.



Sore itu waktu hampir memasuki waktu mahgrib aku lewat didepan rumah tersebut aku yang sedang mengayuh sepeda dari kejauhan memperhatikan dengan seksama rumah tadi, aku melihat rumah itu terang dengan semua lampunya yang menyala, disitu aku melihat seorang wanita tua yang berdiri di lantai 2 tepat dipojokan sambil melihat ke jalanan. Dalam hati aku berucap “wih akhirnya ni rumah ada yang nempatin juga”. Agar tak terkesan angkuh aku tersenyum pada nenek itu dan diapun membalas senyumanku. Sesampainya aku dirumah orang tuaku yang biasa berada dikios ternyata mereka pulang kerumah karena ayahku ada rapat RT dikomplek perumahan kami, saat itu aku menatap mereka namun mereka melihatku seperti sedang marah. Aku yang baru saja sampai rumah tentu saja kebingungan apa yang menyebabkan mereka marah karena jika masalah kios sepertinya tidak mungkin karena saat aku main karyawanku masih menjaga kios kami, akupun sudah berpesan pada karyawanku kalau aku ingin bersepeda dengan teman-temanku. Setelah ayahku selesai mandi dia marah-marah padaku ternyata ada seseorang yang memberitahukan ke orang tuaku soal keisenganku dipohon beringin, bukan hanya ayahku ibuku yang mendengarnya juga ikut memarahiku.

Setelah suasana sudah cukup kondusif orang tuaku bercerita jika pohon beringin itu sudah ada sejak lama bahkan sebelum aku lahir, konon banyak orang yang mencoba untuk menebang pohon tersebut namun tak ada satupun orang yang berhasil untuk menebang pohon tersebut. Semenjak itu aku tak pernah main disekitar pohon beringin itu karena aku takut jika nanti suatu hari nanti “dia” yang mendiami pohon itu menampakkan wujudnya didepanku.

Malam harinya saat sedang makan malam bersama aku bertanya ke ayah,

“yah emange ayah mau arisan jam piro to?” (yah emang tadi ayah arisan jam berapa?)

“Sore jam 5nan mau, ngopo?” (sore tadi sekitar jam5, kenapa?)

“omah pojokan seng cedak kampung kae wes enek seng tuku to yah?” (rumah pojokan yang deket kampung itu udah ada yang beli yah?)

“durong wong ijek sepi kok seng nuku ki sopo lewato saiki kan ijek petengan, la emange ngopo?” (belum orang masih sepi kok yang beli siapa coba kamu sekarang lewat sana kan masih gelap, emang kenapa?)

“rak..rak popo yah, takon wae” (nga..ngak papa yah, tanya aja)

Aku yang mendengar ucapan ayahku kaget dan bertanya dalam hati “lalu siapa sosok nenek yang tadi sore tersenyum padaku padahal aku melihat dengan sangat jelas rumah itu sangat terang”.


*Bagian dari ilustrasi


Bersambung...
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
Diubah oleh ioctaviann
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di