CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57ecd3fca09a393f6c8b4569/anak-desa-biasa

Anak Desa Biasa

Ini hanya serpihan serpihan kisah anak desa, masih kencur, generasi biru (ingusnya), masa sekitar pra sekolah sampai lulus SD, ceritanya cenderung tidak penting,
Quote:


lalu kenapa diceritakan, mmm daripada menuh menuhin otak, tak coba tumpahkan disini, kali bikin otak gak lemmot lagi. mumpung posting di kaskus gak kena bayar.

sedang untuk yang baca?
gak tau manfaatnya apa
Kayaknya gak ada
ya mungkin pembaca disini pada khilaf, dah bosen baca trit yang bagus

Spoiler for INDEX:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
KHITAN

"Katanya kamu mau sunat?" Tanya Daus, tangannya dijulurkan mengambil bungkusan snack mie Mamie dari tanganku. Kami join makan mie kering favorit. meski isinya cuma sejumput.
"Iya kayaknya, terserah Ibu," jawabku, aku memanggil Budhe dengan Ibu, sedang ibu kupanggil Emak. Rencana sunat ini memang dibiayai Ibu. Bapak tidak punya cukup uang untuk menyunatku.

Liburan ini yang sunat cuma aku saja. Daus sudah duluan sunat. Acaranya mirip acara nikahan saking ramenya. Dengan tokoh utamanya Daus. Dia duduk di Kuade sendirian. Para tamu bergiliran menyalami, memasukkan amplop ke kantong kain besar ditangan Daus, terus jongkok melihat burung pesakitan di sarangnya. Daus terlihat nyaman nyaman saja. gayanya bak raja sunat saja. minta makan langsung disuapin, minum langsung disiapkan, ada yang gatel langsung digarukin. Disampingnya ada sebungkus rokok 76 dan 234, simbul kalau Daus sudah dewasa, sudah boleh merokok. Dengan gayanya, Daus menyalakan sebatang rokok, dihisap hanya di dalam mulut lalu disemburkan kuat kuat ke muka teman temannya yang memandang kagum disekelilingnya. Daus saat itu memang terlihat keren banget.


Hari H
Aku duduk di korsi penjalin mengenakan baju dan sarung baru, lengkap dengan kopyah hitam. Didepanku, diatas tikar dalam rumah, orang orang sudah mengadakan do'a bersama untuk keselamatanku. Sekarang tinggal acara puncak, pemotongan daging lebih. Jantungku berdegup kencang saat pak Calak menghampiriku, "Tenang Dik, gak sakit kok. Kelas berapa?" Tanya Pak Calak memecah keteganganku.
"Kelas 4 pak," jawabku sedikit geli, terasa dingin diselangkangan, mirip diberi es batu.
"Wah sudah besar, memang sudah waktunya. Kalau gak sunat, gak bisa bersuci dengan sempurna."
Terasa ada benda menusuk lalu ditarik tarik. Aku tidak tahu apa yang terjadi, hanya Bapak mulai kencang memegangiku.
"Jangan tegang, lemaskan saja. sebentar kok."
Aku hampir menangis karena tegang. Padahal belum terasa apa apa, hanya dingin an kebas di selangkangan.
"Baik, siap, Bismillahirrohmanirrohim......" Pak Calaknya sepertinya mau memotong.
"Alhamdulillah....." Akhirnya pemotongan berjalan lancar. tidak ada kelebihan potong sampai berdarah darah seperti yang diceritakan teman teman.
"Ayo dilihat," Pak Calak memamerkan hasil karyanya. Pertama kali aku melihat burungku terbungkus perban dengan perekat menyilang mirip pita simbol HIV. Pentang rotan diselipakn di sabuk sarung agar kain sarung tidak menempel ke perban.
Bergiliran orang orang dan saudara dekat menyalamiku, melihat burungku terus menyelipkan amplop di saku bajuku. Karena sudah tradisi, show burung itu tidak membuatku malu. Pikiranku sudah penuh dengan rencana untuk apa uang saweran ini aku belanjakan.
Karena memang tidak diadakan besar besaran, yang datang juga hanya tetangga sekitar dan saudara saudara Emak Bapak. Sebentar saja rumah sudah sepi.
"Ayo uangnya kita hitung," Kakakku menarik meja meletakkan didepanku. Semua amplop aku keluarkan, Lalu kami menghitung bersama sama uang yang kudapat.
"Seribu... Dua ribu...."
"Wah dapat limabelas ribu," Seruku gembira, seumur hidup aku belum pernah punya uang sebanyak itu.
"Mak, aku dapat uang banyak," seruku ke Emak yang menghampiriku.
"uangnya titip ke Emak ya, takutnya uangnya jatuh trus hilang," pinta Emak. Aku mengangguk, menyerahkan gulungan uang yang baru kuhitung. Lalu bangkit tertatih tatih ke dapur.
“Mau kemana?”
“Kebelet pipis Maak.”
Di kamar mandi, aku malah berdiri bengong, agak takut bagaimana kalau nanti sakit pas pipis. Tapi perut sudah tidak mampu menampung. Dengan mata terpejam, aku pasrah mengeluarkan bebanku dari tadi. Dan…..
“Maaaak!” Teriakku membuat Emak tergopoh gopoh menyusulku ke kamar mandi.
“Ada apa, ada apa?!” Tanya emak langsung memeriksa burungku.
“Itu….itu…” kataku sambil menunjuk dinding kamar mandi.
“Kenapa?” Emak bingung melihat dinding.
“Itu pipisnya keras sekali,” kataku sambil terisak merasa bersalah. Tadi saat kukeluarkan, pancarannya kuat sekali, tidak mengarah kelantai, tapi nyemprot dinding, padahal jaraknya sekitar 2 meteran. Jadinya muncrat kemana mana. Najis dah air di bak mandi.



H+1

"Kamu pengen beli apa?" Tanya Emak, keesokan harinya.
"Beli permen buah yang panjang, sama permen sugus yang bungkus panjang juga!" Ia, selama ini aku mengidamkan membeli permen buah itu. Permen itu yang paling mahal di toko Yok Ning. Harganya sekitar 100 rupiah. Bandingkan dengan uang sakuku yang hanya 10 rupiah. Bentuknya mirip permen mentos, tapi isinya rasa jeruk dan macam rasa.
"Sudah itu saja?"
"Iya," jawabku yakin. Memang hanya itu keinginanku selama ini.
Aku jalan jalan di halaman sebelah, menunggu Emak membelikan permen impianku.
“Ini permennya,” Emak menyerahkan dua batang bungkusan permen.
“Trus, uang sisanya Emak kembalikan ke Ibu ya, kan biaya sunatnya kemarin pakai uangnya Ibu.”
“Iya,” Jawabku.
“Gak papa?”
“Iya gak papa,” jawabku memastikan. Toh yang kuinginkan sudah keturutan.


H+4
Hari ini waktunya ganti perban. Tapi bingung bagaimana caranya. Perban dan plester menyatu dengan luka. Mengeras dan bikin sakit bila dipakai jalan cepat. Kakak perempuanku berinisiatif melepasnya, pertama tama plester dan perban yang bisa dipotong, digunting habis. Sisanya direndam di air hangat. Hwaaaadooow panas panas geli. Untung Kakak telaten, satu persatu serpihan perban dilepasnya. Tinggal beberapa tempat yang masih lengket, menyatu dengan luka, ada darah menetes.
Setelah dilap pakai kapas, lukanya ditabur sulfanilamide, dibungkus perban baru lalu di plester model symbol HIV.
“Selesai! Udah keren,” kata Kakak menyemangati.

Merasa sudah mau sembuh, aku mulai lupa. Mulai ikut main dengan teman teman, ikut sepak tekong, bor salibor, dan berbagai permainan lain. Siangnya ada darah netes, trus cenut cenut. Pas dilihat, perbannya merah oleh darah, terpaksa diganti lagi. Setelah diganti ada perubahan. Kulitnya bengkak, besar.
“tempelkan ke batu panas, biar cepat kempes,” Kakak memberi saran.
Karena ingin cepat kempes, aku turuti sarannya. Siang siang aku ambil batu dipinggir jalan, kutempelkan ke kulit yang bengkak.
Wawww panasss!
“Kok tidak kempes kempes?” teriakku ke kakak.
“Coba tempelin ke tiang listrik!” Usul Kakak tambah ekstrim.

maksudnya?
profile-picture
karimuntajit memberi reputasi
profile picture
kkjavu
aktivis kaskus
jadi inget disunat jaman dulu, tiap hari njemur batu biar panas trus di tempelin ke itu nya gan, yp paling sakit emeng pas ganti plester, sakit banget
profile picture
TS curahtangis
kaskus holic
@kkjavu hahaha emang bener, apalagi lukanya dah bolak balik kering ngelupas lagi. Biasanya ini dikarenakan kulit masih nempel di kepala.
iya sampai sekarang saya masih mikir, kenapa kok bisa bengkak begitu ya? Padahal cuma dipakai main bola
profile picture
kkjavu
aktivis kaskus
Ga ada lanjutannya
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 3 dari 3 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di