alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Returning Sunset [TAMAT]
4.86 stars - based on 349 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58024a4456e6af77198b4573/returning-sunset-tamat

Returning Sunset


Terimakasih Untuk Cover nya quatzcoatl



Terimakasih untuk Cover nya derryradhitya



Terimakasih untuk Cover nya tasberjalan



KAULAH BELAHAN HATIKU YANG TERANGI AKU DENGAN CINTAMU
KAU HANGATKAN JIWAKU DAN SELIMUTI AKU DENGAN KASIHMU



Perjalanan hidupku masih berlanjut sampai akhirnya kubersamamu yang tercipta dari tulang Rusukku

Aku Sayang Kamu ! Itu, Akan selalu


Returning Sunset

Bersamamu Menikmati Indah Nya Matahari Yang Terbenam



Bagus sekali Cover nya. Terimakasih Vivi :* (Titik 2 Bintang)


Kisah ini lanjutan dari PELANGI SETELAH HUJAN

Untuk menanyakan sesuatu atau Chit-Chat bisa kesini Coffe Break

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Tak kenal maka tak Sayang, ada baik nya kita buka lagi dengan perkenalan. Mungkin sebagian sudah ada yang mengenal gw dari cerita sebelumnya.
Ada baik nya baca dulu cerita sebelum nya sebelum baca yang ini agar tidak bingung dengan alur nya.

Langsung aja.
Nama Gw Deritya & Ini kisah gw.


INDEX







Spoiler for Side Story:



Terimakasih untuk kalian yang sudah mau membaca Cerita ini







Spoiler for -PDF-:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
kodokdomba dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh justhaloo
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Epilog 1

Seminggu sudah gw menikah, dan gw masih numpang hidup di panti asuhan, setelah seminggu di panti asuhan gw memutuskan untuk ke Jakarta sendirian, Resti tetap tinggal di panti karena gw ke Jakarta hanya untuk mengurus ganti rugi kontrakan gw yang di rusak Doni dan mengurus penjualan Motor gw.

Masalah pertama yang gw hadapi saat baru menikah adalah keuangan, tabungan gw benar-benar sudah menipis, begitu juga dengan tabungan Resti. Setelah urusan di Jakarta selesai gw langsung pulang ke panti asuhan lagi.

Gw dan Resti keluar dari panti dan mencari kontrakan lain, kini gw benar-benar sudah hidup berdua dengan Resti sebagai sepasang suami istri.

Gw mulai di sibuk kan dengan kegiatan gw yaitu melamar pekerjaan lagi, gw membuat lamaran dan mengirim ke berbagai perusahan.

“Ri mending kamu beli Motor lagi disini dari pada harus naik angkot kemana-mana, kan jadi irit ongkos kalau pake Motor, soalnya kamu setiap hari keliling nyari kerja..” ucap Resti.

“aku juga mikir gitu Res..” jawab gw.

Akhirnya gw putuskan untuk membeli Motor lagi.

Panggilan kerja juga belum ada, sedangkan keuangan gw terus menipis.

Di hari minggu tepat setelah 3 minggu gw menikah dengan Resti, gw mengajak nya jalan-jalan karena setelah pernikahan kami, gw dan Resti belum sempat kemana-mana, gw setiap hari sibuk keliling kota mencari kerja.

Kami berdua memutuskan untuk pergi ke SMP kami yang dulu sekalian nostalgia, tempat dimana kami pertama kali bertemu.

“didepan kelas ini kan kita pertama kali ketemu Ri..” ucap Resti.
Gw dan Resti berdiri didepan kelas 2-5, tempat dimana gw pertama kali menanyakan kelas dulu.

“iya Res, aku nanya kelas sama Putri, ehhh malah kamu ikutan nongol..” ucap gw.

“kalau dulu aku gak keluar dari kelas gimana ya Ri, apa kita ketemu ya..”

“gak tau..” gw mengangkat bahu “mungkin lain lagi cara kita ketemu nya..”

Gw dan Resti lanjut jalan mau menuju ke lorong didepan ruang kosong, tempat yang bersejarah untuk kami berdua, dari tempat itulah kami dekat dan membuat sebuah cerita hidup.

Gw celingukan saat jalan menuju tangga menuju lorong itu.
“kok rame ya disekolah, hari ini kan minggu..” ucap gw.

Resti juga ikut melihat sekeliling.
“aku juga heran, mungkin lagi ada acara ya..”

Beberapa menit kemudian, gw dan Resti sudah berdiri di lorong itu, kini ruang yang dulu nya kosong sudah berubah dan beralih fungsi dari yang dulu nya hanya gudang sudah menjadi perpustakaan. Dulu tempat ini sangat enak buat di jadikan tempat untuk bolos, karena letak nya di ujung jadi jarang ada guru yang mau lewat sini, tapi sekarang sudah menjadi perpustakaan, otomatis pasti rame yang kesini.

Gw melihat kelantai nya, tempat dimana dulu gw tertidur dan di pukulin oleh Yasir dan kedua teman nya. Gw menyunggingkan sedikit senyum, tanpa sadar gw jadi sedikit flashback.

“aku bersyukur dulu berani manggil kamu waktu aku lagi duduk disini sendirian Ri..” ucap Resti.

Gw menoleh dan melihat Resti dan menunggu kelanjutan apa yang akan dia ucapkan lagi.

“awal nya waktu kita pertama ketemu dulu, aku gak berani untuk negur kamu, aku Cuma berani fotoin kamu diam-diam dari jauh.. aku Cuma berani mengukir nama kamu di buku.. tapi waktu aku gak sengaja liat kamu disini, aku terus ngumpulin keberanian untuk manggil kamu,” ucap Resti, dia terus memandang kosong kedepan “aku gak sadar waktu itu, terlepas gitu aja dari mulut aku, tiba-tiba aku manggil kamu..”

Gw merangkul Resti.
“kalau kamu gak manggil aku dulu, mungkin kita gak jadi kenal Res, soal nya waktu itu aku udah balik badan mau pergi ketampat lain..”

Kami terus mengenang masa-masa indah dulu.

Setelah itu kami turun dan berniat pulang, saat kami mau menuruni tangga, gw melihat seorang bapak-bapak yang gw kenal, kini raut wajah nya sudah keliatan menua dan banyak di tumbuhi rambut putih di kepala nya.

Gw menghampiri bapak itu dan langsung menyalami nya.
“apa kabar pak..” ucap gw.

Resti juga ikut menyalami bapak itu. Bapak itu terlihat bingung melihat gw dan Resti, dia memainkan jenggot didagu nya sambil bergumam pelan.

“saya masih belum ingat, tapi wajah kalian berdua gak asing..” ucap bapak itu.

“saya Resti pak..” ucap Resti.

“saya Deri pak, yang dulu ngamuk-ngamuk sampe di keluarin dari sekolah..” ucap gw.

“oh iya-iya saya ingat sekarang, kamu yang mukul bapak dulu waktu lagi ngamuk-ngamuk kan..” ucap bapak itu.

Gw nyengir dan sedikit malu “iya pak..”

“terus ini Resti yang dulu marah-marah sama bapak waktu tau cowok nya ini di keluarin dari sekolah..”

“hehe iya pak, maaf ya pak dulu saya marah-marah gak jelas..” ucap Resti malu-malu.

“iya-iya gapapa..” ucap bapak itu sambil mengangguk “waaah kalian masih dekat sampe sekarang ya, hebat juga..”

“alhamdulillah kita udah nikah pak.” Jawab gw.

“wah bagus kalau begitu..” ucap bapak itu.

Bapak itu mengajak kami kekantin untuk lanjut ngobrol lagi. Dari awal nya kami ngobrol ringan sampai akhirnya beliau menananyakan soal pekerjaan gw, jujur gw menjawab kalau gw masih belum punya kerja.

“waduh kalau seminggu yang lalu kamu kesini masih ada lowongan buat jadi satpam disini..” ucap bapak itu “sambil kamu nunggu panggilan kerja di tempat lain..”

Gw tersenyum “belum rejeki saya berarti pak..”

“Resti bisa masak..?” tanya bapak itu.

“bisa pak..” Resti mengangguk “kenapa pak..?”

“kamu mau jualan kue disini..?” tanya bapak itu “kamu masak kue nya nanti kamu titipi buat di jual di kantin..”

Resti melihat gw “gimana Ri..?” tanya Resti.

“kamu mau..?” tanya gw.

Resti mengangguk “mau..”

Dari hari itu gw mulai belanja dan Resti memasak kue nya, lalu gw setiap pagi mengantar kue itu kesekolah, memang tidak seberapa tapi harus tetap di syukuri karena hanya dari situ kami dapat memperbaiki keuangan keluarga kecil kami sedikit demi sedikit.

Gw masih belum mendapat panggilan Kerja, semakin hari gw semakin tertekan di tambah lagi gw harus tega melihat Resti yang kelelehan, dari awal nya hanya kue di kantin, Resti kini mencoba untuk membuat brownies. Pekerjaan Resti semakin bertambah, dia selalu sibuk didapur.

Brownies buatan Resti gw bawa keliling dan menjual nya door to door, dari satu rumah ke rumah lain gw mencoba untuk menawarkan brownies itu. Sampai di suatu waktu, gw menawarkan brownies kesalah satu rumah dan alhamdulillah ibu itu menyukai brownies buatan Resti, dari situ kami dapat tawaran untuk menjual brwonies di toko ibu itu, ibu itu punya toko kelontong dan kami di izinkan untuk menitip brownies disitu.

Semakin hari permintaan brownies buatan Resti semakin tinggi, Resti menjadi semakin sibuk dan tidak ada waktu untuk berisitirahat lagi.

Gw yang melihat itu semakin tertekan, gw merasa tidak berguna sebagai seorang suami, yang harus nya gw mencari nafkah tapi kini gw tidak bisa berbuat apa-apa, lamaran yang gw masukkan ke berbagai perusahan belum juga ada yang di terima.

Perlahan semangat gw pun luntur, gw benar-benar patah semangat, tidak satu pun lamaran gw diterima.

Lagi-lagi gw pulang kerumah dengan kekecewaan karena belum juga mendapat pekerjaan.

Gw terduduk dilantai dan terus menunduk, Resti melihat gw dan dia ikut duduk disebelah gw.

“kamu kenapa Ri..?” tanya Resti.

“maaf ya Res, aku belum bisa bahagiain kamu sampe sekarang, aku masih belum bisa jadi suami yang baik..” ucap gw.

“Ri..” ucap Resti sambil megang pipi gw dengan kedua tangan nya “kalau kita mengukur kebahagian dengan materi, udah pasti dunia ini terasa sempit..”

“....”

“kamu jangan patah semangat ya sayang, siapa yang bilang kamu belum bahagiain aku..? aku bisa terus disamping kamu itu udah buat aku bahagia Ri..” ucap Resti “semangat ya, masak cowok kebanggan aku patah semangat, ayo dong senyum lagi..”

“....” gw megang kedua tangan Resti yang lagi memegang pipi gw. Gw bersyukur punya istri seperti dia yang selalu bisa membuat gw kembali bersemangat, di saat gw terjatuh, dia selalu ada di samping gw dan membantu gw untuk tetap berdiri.

Tanpa gw sadari, dari dulu Resti sudah menjadi penyemangat hidup gw. Dia lah tujuan gw dan dialah yang membuat hidup gw jadi memiliki arti.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kodokdomba dan 8 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di