SENJATA SUKU DAYAK

Secara umum Orang-orang hanya mengetahui Mandau sebagai senjata khas dayak, namun sebenarnya setiap sub suku dayak memiliki senjata khasnya masing-masing.

1. DOHONG/DUHUNG

Merupakan senjata khas Dayak Ngaju. . Sejarahnya Dohong dan Parang sudah digunakan sebelum Mandau. Dohong pasti adalah senjata nenek moyang. Dohong merupakan senjata senjata sepanjang 1 kaki, berbentuk mata tombak dengan panjang 8 inchi, tebal dan gagang yang berbentuk bulat… contoh dohong hanya sedikit yang tersisa sebagai pusaka dari nenek monyang mereka. Sekarang dohong hanya digunakan untuk mencurahkan darah korban dan memotong tali pusar bayi yang baru lahir”.
Dohong sekarang ini hanya digunakan oleh pisur atau damang adat, didalam beberap legenda seperti kisah Tambun & Bungai ketika mereka berperang melawan raja Sawang dari Filipina mereka menggunakan senjata dohong ini, sehingga ada kemungkinan memang Mandau adalah produk impor yang baru datang kemudian di abad-abad ke 17-18 dari sub suku dayak lainnya.



Dalam perkembangannya dohong mengalami perubahan bentuk, umumnya gagang dohong berbentuk bulat dari kayu – maka dohong pun memiliki gagang seperti Mandau ini disebut bayu yang persebarannya tidak hanya digunakan oleh dayak Ngaju dan Ot Danum tetapi oleh suku Dayak Kayan yang pernah mendiami bagian Kalimantan Tengah – yang kemudian mengungsi kea rah hulu Mahakam. Senjata seperti dohong ini sebut Dua Mata Bayu.


Gagang Dohong telah mengalami modifikasi


2. MANDAU

Mandau rumpun Kayan-Kenyah atau biasa disebut Parang Ilang (Kenyah)/Parang Ilong (Kayan)


Beberap peneliti meyakini penggunaan Mandau secara umum di semua sub suku dayak dimulai pada abad 17-18. Ada artikel di Wikipedia yang mengatakan bahwa Mandau berasal dari asal kata “MAn-Da-U” adalah nama seseorang yang datang ke pulau kalimantan yaitu dari suku kuno china “Namman” atau Barbar Selatan. Man Da U adalah nama seseorang yang pertama membuat bentuk senjata pedang yang menyerupai bentuk bilah pedang/parang mandau saat ini.


Mandau rumpun Ngaju, lebih tepatnya daerah sungai Kahayan


Dari design Mandau adalah senjata sabet yang memang digunakan untuk memotong kepala, berbeda dengan dohong yang tidak didesign untuk memotong atau menyabet tetapi lebih pada prosesi ritual, maka teori saya pra penggunaan Mandau budaya kayau tidak dikenal oleh sub suku yang terlebih dahulu mendiami pulau Kalimantan (nanti kita akan diskusi mengenai pola migrasi suku-suku dayak). Budaya kayau kemungkinan adalah budaya yang dibawa oleh migrasi-migrasi akhir dari Yunnan China ataupun dari Pulau Formosa/Taiwan yang memperkenalkan senjata Mandau ini, migrasi akhir ini memasuki pulau Kalimantan di bagian utara (Serawak & Sabah), ini konsisten dengan kisah tetek tatum atau kisah kejadian suku dayak ngaju yang mula-mula mendiami hulu sungai Mahakam yang kemudian harus bermigrasi ke sungai Kahayan karena diserang oleh para kayau dari bagian utara. Bahkan didalam babad kisah tetek tatum ini tidak ditemukan ada cerita “kayau” baik itu dalam kisah Tambun & Bungai. Kayau kemudian baru dikenal sebagi bentuk pembalasan dendam, ini juga yang mendasari adanya korban manusia didalam prosesi tiwah. Penggunaan korban manusia adalah sebagai bentuk pemenuhan perintah orang tua yang kemungkinan adalah musuh yang pernah menyerang kampungnya.


Mandau khas Paser


Dan nampaknya persebaran pengaruh mandau tidak hanya di pulau Kalimantan tetapi dikenal oleh suku-suku di Filipina disebut dengan Kampilan. Senjata ini memiliki bilah yang mirip dengan mandau tetapi berbeda pada gagangnya. Bilahnya dihiasi kuningan atau emas berbetuk titik/bulat.

3. NYABUR

Senjata Nyabur


Nyabur adalah variasi bentuk lain dari Mandau/parang ilang, dimana bilahnya melengkung dan ujung runcing keatas, bias any dibawah gaganya ada semacam kait besar disebut kundieng. Nyabur juga memliki variasi bentuk lain akibat pengaruh budaya melayu/arab, perubahan ini ada pada gagang dan motive yang menghiasi bilahnya.


Nyabur yg mendapat pengaruh Melayu atau Arab


4. LANGGAI TINGANG


Langgai tingang memiliki arti – bulu ekor terpanjang burung tingang, bentuknya sama dengan Nyabur hanya saja gagangnya serupa dengan Mandau dan letak kundiengnya agak jauh dari gagangnya.

5. PARANG JIMPUL


Jimpul adalah variasi bentuk Mandau yang melengkung dan runcingan depannya ke bawah.

6. PISAU AMBANG


Pisau ambang sangat mirip dengan Mandau pada umumnya, perbedaannya ialah penggunaannya, jika Mandau digunakan untuk berperang dan acara-acara adat maka pisau ambang adalah alat untuk bekerja dan berladang, sehingga pisau ambang biasanya cukup sederhana tanpa ada hiasan atau tatahan dan juga bahan bilah yang umumnya monosteel.

7. TANGKITN


Tangkitn adalah senjata khas dayak Kanayatn, bentuknya sangat berbeda dengan Mandau. Antara bilah dan gagang merupakan satu kesatuan besi. Gagangnya melengkung keatas.
Ada dua variasi bentuk ujung tangkitn laki-laki dan perempuan. Kalau perempuang akan melengkung kebawah dan yang laki-laki akan seperti lidah ular. Tangkitn juga dikenal oleh dayak salako dengan istilah parang.

8. PARANG PANDAT & PARANG LATOK

Parang Pandat/Tangkitn yang berukuran lebih besar


Ini adalah istilah yang digunakan oleh dayak Salako untuk senjata sejenis tangkitn, parang pandat adalah yang memiliki ujung bilah seperti lidah ular dan parang latok yang ujungnya menukik kebawah. Bedanya dengan tangkitn adalah ukurannya, biasanga parang pandat memiliki ukuran yang lebih besar dari pada tangkitn


Parang Latok


9. FELEPET / PAKAYUN


Ini adalah senjata kaum Murutik, dalam bahasa Lun Dayeh disebut Felepet dan bahasa Murut disebut Pakayun. Dalam adat Lun Dayeh biasanya digunakan sebagai mas kimpoi. Bentuknya seperti Katana, bilahnya melengkung, bentuk gagangnya seperti garpu kadangkala terdapat ukiran diantara garpu dan juga dihiasi dengan kuningan dan pelindung silinder . Kadangkala felept ditempa dan akan terlihat bentuk laminasi atau dalam istilah perkerisan “pamor” nya.

10. PISAU LANTIK


Pisau lantik agak mirip dengan golok namum ukurannya cukup besar dan bilahnya sesua namanya agak melantik atau melengkung ke atas. Umumnya parang ini digunakan didalam perladangan tetapi pisau ini dijadikan juga senjata oleh sebagain sub suku dayak seperti Bakumpai, Meratus, Ngaju, Banjar.

11. PARANG KEREKOEPANG


Parang kerekoepang atau Klewang Banjar adalah senjata khas Banjarmasin. Parang kerekoepang yang asli pada bilahnya akan terlihat semacam laminasi / pamor hasil penempaan, kebanyakan parang koepang yang ada sekarang terbuat dari monosteel seperti gir.

12. KERIS DAYAK


Penggunaan keris mungkin merupakan pengaruh bangsa melayu/jawa dan bangsa Moro yang memasuki Kalimantan. Ada kisah cerita Damang Bahandang balau di desa Dadahup yang berperang melawan bangsa buaya dengan menggunakan keris berlekuk tiga.


Keris Raksasa yang ditemukan di sungai Kapuas


13. LUWUK


Salah satu senjata khas Dayak Maanyan yang disebut LUWUK – Luwuk ini semacam golok atau sejenis Parang Bungkul yang digunakan didalam setiap upacara WADIAN MATEY – yiatu ritual kematian Dayak Maanyan, sehingga luwuk ini senjata yang bersifat sakral atau pusaka. Untuk senjata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berladang dsb, disebut UGUP.

14. GAYANG


Orang Dayak Kadazandusun memiliki senjata yang mirip dengan Mandau, yang disebut “Gayang”. Perbedaan dengan Mandau pada umumnya terletak pada design bilah dan sarung yang agak melengkung seperti Parang Ilangnya Dayak Iban. Ukuran panjangnya lebih panjang dari Mandau pada umumnya.


Gagang Gayang


Seperti mandau, gayang juga dibuat dengan ritual-ritual tertentu. Saat pembuatannya, “dompuran” atau tempat membakar bilahnya maka akan diritualkan dengan ritual “subak”, mengunakan ayam jenis komburak (ayam putih), tanpa ritual, maka sang empu penempa gayang bisa terkena tulah seperti ditulikan telinganya, dikaburkan matanya dan api pembakar mati sendiri. “Dompuran” juga terlebih dahulu ditaburi garam dan dibacakan mantera atau rinait “ponusi” agar supaya kelak gayang akan menjadi berbisa.

15. LANGGEI


Langgei adalah pisau kecil yang ditempatkan disamping Mandau, umunya ini berguna untuk pekerjaa-pekerjaan yang halus misal mengukir kayu atau memotong pinang. Kadang langgei dibuat seperti pisau kecil.

16. GAGAMAS


Gagamas adalah senjata khas Dayak Kadazandusun di daerah Sabah. Dalam keseharian gagamas digunakan untuk pisau merumput tetapi gagamas juga dipakai oleh seorang bobohizan/bobolian – dukun wanita kaum kadazan- sebagai pedang yang akan digunakan di alam roh dalam prosesi belian.

17. PAIS


Sejenis pisau yang tajam milik kaum Kadazandusun untuk pekerjaan tangan yang halus seperti mengukir. Pais seringkali berukuran kecil tapi kadang juga ada dalam ukuran yang besar.

18. SADOP


Sadop adalah semacam belati kecil yang dipakai oleh dayak paser. Ia sering digunakan hanya dalam prosesi ritual. Sadop juga sering dikenal sebagai illum.

19. GELADAU


Geladau ini mirip dengan keris lurus. Geladau dikenal oleh dayak paser, sepertinya senjata ini mendapat pengaruh dari budaya bugis – melayu.

20. BELATI DAYAK TOMON
Saya tidak tahu namanya didalam bahasa dayak tomon, tetapi ini mirip dengan belati tetapi juga mrip dengan siwah senjata khas Minangkabau. Ini mungkin memang dahulunya dayak tomon memiliki kekerabatan dengan pati sebatang dari Minangkabau.



Diceritakan konon patih sebatang ini melakukan perjalanan dari Sumatera ke Kalimantan dan sampai di desa Sekudang, disana patih sebatang ini bertemu gadis dayak Tomon yang cantik jelita, singkat cerita patih sebatang menikahi gadis dayak tomon ini.

21. JUMBIA


Jumbia atau Jambia adalah senjata yang asalnya dari Timur Tengah – kemungkinan Yamen, ketika bagian pesisir Kalimantan menjadi kesultanan maka pengaruh budaya arab sangat kuat, salah satunya ialah penggunaan Jumbia ini. Jambia adalah belati kecil melengkung – biasanya dikenakan disabuk.

22. CANDONG


Parang Candong adalah semacam “machete” atau golok – biasanya digunakan berladang atau membuka lahan. Parang candong ini dikenal oleh kaum pesisir Kalimantan, biasanya orang Banjar dan Melayu.

24. PARANG DUKU


Parang duku adalah senjata yang dikenal oleh kaum Dayak Iban – kegunaanya sama dengan candong.

25. PEDANG JENAWI BESAR


Pedang jenawi besar adalah pedang panjang sepert pedang Jepang yg dipukulkan dengan kedua belah tangan – ia bermata dua.

26. LUNDJU


Lundju atau tombak adalah senjata yang sangat umum dikenal oleh semua sub suku dayak. Kadangkala lunndju juga disatukan dengan “Sipet” atau sumpit.
Kadang mata tombak pada lundju ini akan diberi hiasan (namun sangat jarang) dan umumnya gagang lundju ini kayu ulin tanpa hiasan atau ukiran. Tetapi ada juga beberapa lundju istimewa yang diberi hiasan ukiran tertentu.

27. SANDAWA


Sandawa atau senjata api juga merupakan senjata yang dibawa pendatang Cina ketika memasuki Kalimantan. Didalam beberapa acara adat sandawa ini sering digunakan misal dalam acara nyobeng Dayak Bidayuh di Sebujit.

28. LANTAK/LELA


Lantak atau Lela dalam bahasa Dayak Ngaju adalah meriam. Senjata ini diperkenalkan bangsa Cina ketika memasuki Kalimantan. Didalam cerita peperangan dayak melawan penjajah penggunaan lantak ini juga disebutkan; misal dalam perang kasintu. Menurut cerita kakek ku dahulu ketika kakenya ikut perang kasintu mereka menggunak meriam dan mungkin zaman dahulu orang kuat-kuat maka meriam-meriam ini diangkat dengan diletakan pada pergelangan tangan saja.

29. PODANG


Podang umumnya dipakai oleh kaum dayak iban. Podang dibawa oleh pendatang dari India atau hasil perdagangan dengan Inggris pada masa lalu. Podang adalah Pedang Punjab.


Untuk Pembahasan lebih lengkap silahkan kunjungi :
FOLKS of DAYAK's Blog