Ini posting pekan kedua. Saya masih menerjemahkan dari buku yang sama. Ebook bisa dibaca atau didownload gratis dari link ini (dalam Bahasa aslinya, Bahasa Inggris)...
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed


Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
(Halaman 1)
"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
[Al-Qur'an 48:28]


Seorang Arab berjalan di jalanan Makkah di malam hari, dengan pikiran yang berkecamuk. Ia adalah seorang anggota klan bangsawan Bani Hasyim yang tidak lagi kaya. Seorang laki-lai yang tampan dengan tinggi sedang, dada dan bahu yang kokoh, rambutnya ikal memanjang di bawah telinganya. Matanya yang lebar, gelap, dihiasi bulu mata yang panjang, terlihat penuh dengan pikiran dan kesedihan.

Banyak sekali gaya hidup orang Arab yang melukai hatinya. Di mana-mana ia melihat tanda-tanda kerusakan – ketidakadilan pada kaum miskin dan lemah, pertumpahan darah yang sebenarnya tidak perlu terjadi, perlakuan tehadap perempuan yang tidak lebih baik daripada hewan ternak. Ia akan lebih sedih lagi setiap mendengar berita adanya penguburan bayi perempuan hidup-hidup.

Sejumlah klan Arab tertentu memiliki ritual adat yang kejam, yaitu membunuh anak-anak perempuan. Sang ayah akan membiarkan si anak tumbuh normal sampai usia 5 atau 6 tahun. Kemudian sang ayah akan mengajaknya berjalan-jalan dan memakaikan baju bagus padanya seperti hendak ke pesta. Sang ayah membawanya ke luar kampung atau kota di mana lubang kubur telah disiapkan untuk anak perempuannya. Kemudian si anak disuruh untuk berdiri di tepi lubang, sementara dalam pikirannya dia sudah tidak sabar kapan hal yang menyenangkan akan dimulai. Sang ayah kemudian mendorong anaknya masuk ke lubang kubur, dan saat si anak menangis meminta ayahnya untuk menolongnya keluar, sang ayah akan melempar batu besar kepada anaknya, menghilangkan nyawa dari tubuh lemah anaknya. Ketika si anak tidak lagi bergerak, sang ayah menutup lubang kubur dan pulang ke rumah. Kadang-kadang, ia berbangga dengan perbuatannya ini.

Tradisi ini tentu saja tidak menyebar luas di Arab. Di antara klan-klan terkenal di Makkah – Bani Hasyim, Bani Umayyah, dan Bani Makhzum –, peristiwa pembunuhan anak perempuan tidak tercatat sedikit pun. Tradisi ini hanya berlaku pada beberapa suku padang pasir dan sejumlah klan. Tetapi kejamnya perbuatan sudah cukup untuk membuat muak orang-orang Arab lainnya yang lebih cerdas dan berakhlak mulia di masa tersebut.

Selain itu, berhala-berhala menjamur di Makkah. Ka'bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai Rumah Allah, saat itu dikotori dengan tuhan-tuhan dari kayu dan batu. Orang-orang Arab mengambil hati tuhan-tuhan ini dengan sesajian-sesajian kurban karena mereka percaya bahwa tuhan-tuhan ini akan menghukum mereka saat marah dan memberi rezeki saat senang. Di dalam dan sekitar ka'bah, terdapat 360 berhala. Berhala yang paling utama adalah Hubal, Uzza, dan Latta. Hubal, yang tertinggi di antara kelompok tuhan-tuhan Arab, diberikan porsi terbesar dan dipahat dari batu akik merah. Ketika penduduk Makkah mengimpor patung ini dari Syams, patung ini tidak memiliki tangan kanan sehingga mereka menambahkan sebuah tangan baru dari emas.

Dalam agama orang Arab di masa tersebut, ada percampuran antara politeisme dan kepercayaan pada Allah – Tuhan Sesungguhnya. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan dan Pencipta, tetapi mereka juga percaya pada berhala dan menganggap berhala-berhala sebagai anak laki-laki dan perempuan Allah. Posisi ketuhanan dalam pikiran orang Arab saat itu adalah seperti sebuah dewan, Allah sebagai pemimpin dewan dan berhala-berhala sebagai anggota yang masing-masing mempunyai kekuatan supernatural meskipun patuh kepada presiden. Orang-orang Arab itu bersumpah dengan nama Hubal atau berhala-berhala lainnya. Mereka juga terkadang bersumpah dengan nama Allah. Mereka terkadang memberi nama anak laki-laki mereka Abdul Uzza, yang berarti Hamba Uzza. Namun, terkadang mereka juga memberi nama anak laki-laki mereka Abdullah, yang berarti Hamba Allah.

Tidak tepat jika kita mengira segala sesuatu dalam budaya Arab saat itu adalah salah. Masih ada kebiasaan mereka yang mulia dan ksatria. Ada kualita-kualitas tertantu dalam karakter umum orang Arab yang bahkan sulit disaingi oleh orang-orang masa kini – keberanian, keramahtamahan pada tamu, dan harga diri pribadi dan kesukuan. Ada juga elemen-elemen dendam berdarah yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, tetapi ini bisa dimengerti, bahkan mungkin diperlukan, pada suatu tatanan masyarakat yang tidak memiliki kepemimpinan sentral untuk menegakkan hukum dan keteraturan. Balas dendam berdarah antara pribdai maupun antar suku adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kedamaian dan mencegah ketidakadaan hukum.

Apa yang salah dalam budaya Arab terletak pada bidang etika dan agama, dan di kedua bidang inilah, Bangsa Arab mencapai titik terendahnya. Masa ini dikenal dalam sejarah sebagai Masa Kebohohan atau Jahiliyah. Di Masa Kebodohan ini, perilaku Bangsa Arab adalah perilaku bodoh; kepercayaan mereka adalah kepercayaan yang bodoh. Masa Kebodohan bukan hanya sebuah era, tetapi telah menjadi jalan hidup.

Orang Arab yang disebutkan di awal bab ini, menyepi ke sebuah gua yang tidak jauh dari Makkah, setidaknya satu bulan di setiap tahun. Di dalam gua ini, ia memanfaatkan waktunya untuk berpikir dan menunggu – namun tidak tahu apa yang ia tunggu. Sampai pada suatu hari, ketika ia bertafakur di dalam gua tersebut; ia mendadak merasakan kehadiran seseorang. Ia tidak melihat seorangpun dan tidak mendengar suara, tetapi ia bisa merasakan ada seseorang bersamanya. Kemudian terdengar suara yang berkata, "Bacalah!"


__________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Terkejut dengan fenomena suara tanpa tubuh ini, orang Arab itu kemudian bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara itu kembali terdengar lebih keras, "Bacalah!" Lagi, orang Arab itu bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara tadi terdengar lebih keras dan tegas memerintah, "Bacalah!" Kemudian suara tersebut melanjutkan perkataannya dengan lebih lembut:


Bacalah: dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah: dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan pena;
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. [Al-Qur'an 95: 1-5]

Kejadian ini berlangsung pada hari Senin bulan Agustus 610 M. Dunia tidak pernah sama lagi setelah kejadian ini, Muhammad telah menerima wahyu pertamanya. Sebuah agama terlahir.

Ketika Muhammad (saw) menerima wahyu ini, Khalid berusia 24 tahun.

Selama tiga tahun, Muhammad beraksi dengan sembunyi-sembunyi, menerima bimbingan melalui Malaikat Jibril. Kemudian ia diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah secara terbuka dan ia memulai dari keluarga dan klannya. Namun kebanyakan dari mereka mencela ajarannya dan mengolok-olok agama baru ini.

Suatu hari, Sang Nabi memutuskan untuk mengundang semua keluarga dekatnya dan memberi jamuan makan di rumahnya. Ini adalah kesempatannya untuk mengumpulkan mereka bersama dan menempatkan mereka dalam situasi untuk bisa mendengarkannya. Makanan disajikan dan tamu menyantap jamuan. Sang Nabi menyeru para tamu dan berkata, "Wahai Bani Abdul Muththalib! Demi Allah, saya tidak melihat seorangpun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah kalian yang lebih baik daripada apa yang saya bawa. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?

Tidak ada respon dari hadirin. Tidak satupun menjawab, mereka saling melihat mengira akan ada yang akan membantu orang ini. Dan kemudian, seorang remaja laki-laki bertubuh kecil dan kurus, berdiri dan bersuara dengan suaranya yang belum pecah, “Aku, hai Rasulullah, yang akan menjadi penolongmu!”

Sontak para hadirin tertawa terhadap apa yang mereka anggap konyol sambil mulai berdiri dan meninggalkan jamuan. Namun sang remaja tidak peduli dengan tertawaan dan Sang Nabi memeluknya dengan penuh cinta. Sang Nabi menyampaikan, “Inilah saudara dan wakilku.”[1] Sang remaja merupakan sepupu nabi, yaitu Ali, anak Abu Thalib. Ia adalah laki-laki pertama yang masuk Islam.[2]

Secara bertahap, kebenaran mulai menyebar; dan sejumlah kecil pribadi, kebanyakan adalah pemuda dan orang-orang lemah, menerima agama baru ini. Jumlah mereka kecil, teatpi keberanian mereka tinggi. Lingkup aktivitas nabi semakin luas. Meskipun harus menghadapi gangguan dan ejekan dari Quraysy, ia melanjutkan kegiatannya mengajak orang-orang di pojok-pojok jalanan dan di pasar-pasar, memperingatkan mereka akan api neraka yang menunggu para pendosa. Ia menunjukkan ketidakbergunaan berhala-berhala kayu dan batu mereka, mengajak mereka menyembah Allah, Tuhan sesungguhnya. Semakin aktif ia melakukan kerjanya, penentangan dari Quraysy semakin keras dan kejam. Penentangan ini terutama datang dari empat orang: Abu Sufyan (bernama asli Shakhr bin Harb, pemimpin klan Bani Umayyah), Al-Walid (ayah dari Khalid), Abu Lahab (paman Sang Nabi) dan Abul Hakam. Nama yang disebut pertama dan terakhir akan sering kita dengar dalam kisah ini.

Abu Sufyan dan Al-Walid adalah dua laki-laki bermartabat dan terhormat. Ketika mereka menunjukkan penentangan mereka terhadap nabi, mereka tidak merendahkan diri mereka dengan melakukan kekerasan fisik. Respon pertama Al-Walid (terhadap ajakan nabi) adalah sebuah kalimat penuh keangkuhan, “Apakah benar kenabian dianugrahkan kepada Muhammad, sedangkan aku, yang paling mulia dan dituakan di Suku Quraysy, tidak mendapat apa-apa? Dan masih ada Abu Mas’ud, kepala Bani Tsaqif. Sungguh dia dan aku adalah yang paling mulia di antara (penduduk) dua kota.”[3] Orang tua berkedudukan ini hidup dalam sebuah dunia di mana semuanya ditentukan oleh kebangsawanan dari keturunan dan pangkat. Tentu saja ia tidak adil dalam hal ini karena garis keturunan mereka bertemu di generasi keenam sebelum mereka dan keluarga Muhammad tidak jauh tingkatannya disbanding keluarga Al-Walid. Faktanya, tidak lama sebelum masa Nabi, keluarganya memperoleh kedudukan lebih tinggi disbanding keluarga lainnya di Makkah. Kakek nabi, Abdul Muththalib, menjadi kepala suku Quraysy di Makkah.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 63; Ibnu Sa’d: Vol. 1, hlm. 171.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 245; Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 56. Mas’udi: Muruj; Vol. 2, hlm. 283.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 361. Al-Qur’an 95:1-5


__________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Menurut Ibnu Hisyam, pernyataan Al-Walid ini memicu turunnya ayat Al-Qur'an: Dan mereka berkata, "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua kota ini?" [Al-Qur'an 43:31] Dua kota itu adalah Makkah dan Tha'if. Sebuah ayat Al-Qur'an lainnya juga menyebut Al-Walid, yang pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa ia juga dipanggil sebagai Al-Wahid (Satu-satunya), yaitu ayat: Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendiri, dan Aku berikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak akan, karena sungguh dia menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya pendakian yang memayahkan.... kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri, lalu berkata, "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". Aku akan memasukkannya ke dalam neraka. [Al-Qur'an: 11-17 dan 21-26]

Di antara pembesar Quraisy yang paling kejam dan penuh benci adalah Abul Hakam, sepupu dan teman Khalid. Karena kejamnya penentangan Abul Hakam pada Islam, ia digelari sebagai Abu Jahl, Bapak Kebodohan, dan dari namanya inilah keturunannya mengenalnya. Seorang yang pendek, namun tangguh dan kuat dengan mata juling, ia digambarkan orang semasanya sebagai "seorang dengan wajah seperti besi, penampilan seperti besi, dan lisan seperti bsei."[1] Dan Abu Jahl tidak pernah melupakan di masa remajanya, Muhammad pernah membantingnya dengan keras dalam sebuah pertarungan gulat yang sengit, melukai lututnya dengan bekas luka yang tidak hilang sampai meninggalnya.[2]

Para pembesar Quraysy ini dengan sejumlah orang lainnya terus gagal menemukan cara untuk menghentikan nabi, baik dengan ancaman atau bujukan. Mereka memutuskan untuk mendekati Abu Thalib yang dituakan dan disegani, paman dari sang nabi dan pemimpin Bani Hasyim. Mereka sebenarnya sangat ingin membunuh nabi, tetapi masih ada perasaan kesatuan suku dan keluarga yang melindungi nabi. Apabila ia dibunuh, jelas akan muncul rentetan kekerasan lainnya dari Bani Hasyim yang sudah pasti akan membalas membunuh si pembunuh atau keluarga si pembunuh.

Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dan berkata, "Hai Abu Thalib! Anda adalah pemimpin kami dan orang yang terbaik di antara kita. Anda telah melihat bagaimana anak saudara laki-lakimu perbuat pada agama kita. Ia mencela tuhan-tuhan kita. Ia mengejek agama kita dan agama bapak-bapak kita. Anda adalah bagian dari agama kita. Mohon hentikan Muhammad dari kegiatannya atau izinkan kami untuk melakukan apa saja yang kami inginkan terhadapnya."[3]

Abu Thalib menjawab dengan lembut bahwa ia akan mempelajari lebih jauh masalah ini dan mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Meskipun Abu Thalib menginformasikan kepada nabi apa yang dikatakan utusan Quraysy kepadanya, Abu Thalib tidak melakukan apapun untuk menghentikan nabi menyebarkan agama barunya. Abu Thalib adalah penyair. Kapan saja ia menghadapi masalah seperti ini, ia akan menumpahkannya ke dalam sebuah syair yang panjang.

Di dalam keluarga Al-Walid, kegiatan sang nabi menjadi topik pembicaraan hangat. Di malam hari itu, Al-Walid duduk dan bercengkrama dengan anak-anak dan keluarganya tentang kejadian tersebut, bahwa pembesar Quraysy hendak membendung pergerakan Muhammad. Khalid dan saudara-saudaranya mendengarkan penjelasan ayah mereka tentang utusan pertama kepada Abu Thalib. Beberapa pekan kemudian, mereka mendengar dari ayahnya bahwa utusan kedua kepada Abu Thalib juga pulang tanpa hasil. Sang nabi melanjutkan dakwahnya.

Kemudian Al-Walid mengambil langkah berani. Ia memutuskan menawarkan anaknya sendiri, yaitu Ammarah, kepada Abu Thalib untuk ditukar dengan Muhammad. Ammarah adalah seorang pemuda tampan yang dengan keutamaan dalam dirinya. Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dengan membawa Ammarah. "Hai Abu Thalib," sapa utusan. "Ini adalah Ammarah, anak Al-Walid. Ia adalah pemuda terbaik di antara Quraysys, dan yang paling tampan dan paling baik keturunannya. Ambillah ia sebagai anak laki-lakimu. Ia akan menolongmu dan menjadi anakmu yang sesungguhnya. Sebagai gantinya, berikanlah anak saudara laki-lakimu, yang telah berkhianat pada agamamu dan agama bapak-bapakmu, memunculkan perselisihan dalam suku kita. Kami akan membunuhnya. Tidakkah ini adil, seorang laki diganti dengan seorang laki-laki?

Abu Thalib tersentak dengan tawaran itu. "Saya pikir ini sama sekali tidak adil," jawabnya. "Kalian berikan anak kalian untuk keberi makan dan kubesarkan, sedangkan kalian menginginkan anakku untuk dibunuh. Demi Allah, ini tidak akan kuizinkan."[4] Misi ini gagal. Kita tidak mengetahui bagaimana Ammarah bereaksi terhadap kegagalan ini, apakah kecewa atau lega!

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.20; Ibnu Rustah hlm. 223.
[2] Ath-Thabari: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[4] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 267; Ibnu Sa'd: hlm. 186.