KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Debate Club /
Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016840484/syarah-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah-manhaj-salaf

Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنًسْتَعِيْنُهُ وَنًسْتَغْفِرُهْ وَنًعُوذً ِبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ


Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan ampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi hanya Allah saja yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan dan RasulNya



Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(Ali Imran{3} :102)



Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(An Nisaa'{4} :01)




Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(Al Ahzab{33} :70-71)

'Aqidah yang benar adalah perkara yang amat penting dan kewajiban yang paling besar yang harus diketahui oleh setiap Muslim dan Muslimah. Karena sesungguhnya sempurna dan tidaknya suatu amal, diterima atau tidaknya, bergantung kepada 'aqidah yang benar. Kebahagiaan dunia dan akhirat hanya diperoleh oleh orang-orang yang berpegang pada 'aqidah yang benar ini dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menafikan dan mengurangi kesempurnaan 'aqidah tersebut.

'Aqidah yang benar adalah 'aqidah al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), 'aqidah ath-Thaaifatul Manshuurah (golongan yang dimenangkan Allah), 'aqidah Salaf, 'aqidah Ahlul Hadist, Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Hanya kepada Allah kami memohon semoga risalah ini bermanfaat dan menjadikan upaya ini sebagai amal shalih semata-mata mengharap ridha-Nya.


Sesuai Judul Thread ini dibuat untuk menjelaskan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah sesuai dengan Manhajnya para Shalafus Shaleh.

Thread ini juga sudah mendapat izin dari moderator Approved

profile-picture
muzz memberi reputasi
Thread sudah digembok

Jawaban atas tuduhan Salafi Pemalsuan Perkataan Al-Imam Malik rahimahullah

2. Perkataan Al-Imam Malik yang disertakan dengan sanadnya tentang istiwaa’ terdapat sedikit perbedaan lafadh namun yang mempunyai kemiripan satu dengan yang lainnya. Akan saya bawakan beberapa diantaranya :

Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdirrahman Ash-Shaabuniy rahimahullah (373-449 H) :

أخبرنا أبو محمد المخلدي العدل ، ثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن مسلم الإسفراييني، ثنا أبو الحسين علي بن الحسن، ثنا سلمة بن شبيب،ثنا مهدي بن جعفر بن ميمون الرملي ، عن جعفر بن عبد الله قال: جاء رجل إلى مالك بن أنس يعني يسأله عن قوله : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كيف استوى؟ قال فما رأيته وجد من شيء كوجده من مقالته ، وعلاه الرحضاء ، وأطرق القوم ؛ فجعلوا ينتظرون الأمر به فيه ، ثم سُرِّي عن مالك فقال: ( الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة ، وإني لأخاف أن تكون ضالاً ) ثم أمر به فأخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].

Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqiy rahimahullah (384-458 H) :

أخبرنا أبو بكر أحمد بن محمد بن الحارث الفقيه الأصفهاني أنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن جعفر بن حيان المعروف بأبي الشيخ ثنا أبو جعفر أحمد بن زيرك اليزدي سمعت محمد بن عمرو بن النضر النيسابوري يقول : سمعت يحيى بن يحيى يقول : كنا عند مالك بن أنس فجاء رجل فقال : يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى، فكيف استوى؟ قال : فأطرف مالك رأسه حتى علاه الرحضاء ثم قال : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وما أراك إلا مبتدعًا. فأمر به أن يخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Al-Haarits Al-Faqiih Al-Ashfahaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyaan yang terkenal dengan nama Abusy-Syaikh : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Zairak Al-Yazdiy : Aku mendengar Muhammad bin ‘Amr bin An-Nadlr An-Naisaburiy berkata : Aku mendengar Yahya bin Yahya berkata : “Kami pernah berada bersama Maalik. Maka datanglah seorang laki-laki yang bertanya : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah ber-istiwaa’ ?”. Perawi berkata : Malik pun memalingkan kepalanya hingga tubuhnya berkeringat. Kemudian beliau berkata : “Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya tidak dapat dinalar, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Tidaklah aku melihatmu melainkan seorang mubtadi’”. Maka beliau memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari majelisnya” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat, 2/305-306, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwaadiy].

Abul-Qaasim Hibatullah bin Al-Hasan Al-Laalika’iy rahimahullah (w. 418 H) :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaiman Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

Perhatikan apa yang tertulis di atas.

Jika yang Anda maksud adalah bahwa ‘Salafiy Wahabiy’ tidak pernah membawakan lafadh yang Anda bawakan, maka itu sangat tidak benar. Tiga matan kitab yang saya punyai dan sebutkan di atas semuanya di-takhrij dan di-tahqiq oleh ahli ilmu ‘Salafy-Wahabiy’ yang banyak dijual di pasaran dan disebarkan di berbagai media (termasuk internet). Selain itu, bertaburan kalimat Al-Imam Malik rahimahullah dengan lafadh-lafadhnya dibawakan dibawakan oleh ulama ‘Salafy-Wahabiy’. Saya ambil contoh :

Perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – tokoh pertama yang sangat Anda benci - :

وروى الثقاة عن مالك أن سائلا سأله عن قوله: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} فقال: "الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“Para perawi terpercaya telah meriwayatkan dari Maalik bahwasannya ada seorang penanya yang bertanya kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’, maka beliau berkata : ‘Al-Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya (bagaimananya) tidak dapat dinalar, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentannya adalah bid’ah” [lihat Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah, 2/35; Muassasah Qurthubah].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah – tokoh kedua yang sangat Anda benci - :

فالسلف لا يقولون بورود ما لا معنى له لا في الكتاب ولا في السنة, بل يقولون في الاستواء مثلا: الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإقرار به إيمان, والجحود به كفر"

“Para ulama salaf tidaklah mengatakan terhadap nash-nash yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak mempunyai makna. Namun mereka mengatakan dalam hal istiwaa’ – misalnya - : ‘Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, menetapkannya adalah iman, dan mengingkarinya adalah kufur” [Masaailul-Jaahiliyyah, hal. 181, tahqiq : Yusuf bin Muhammad As-Sa’iid; Daarul-Majd, Cet. 1/1425 H].

Perkataan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah – tokoh ketiga yang sangat Anda benci – saat menukil perkataan Ibnu Taimiyyah :

فقول ربيعة ومالك : الاستواء غير مجهول , والكيف غير معقول , والإيمان به واجب , موافق لقول الباقين : أمروها كما جاءت بلا كيف , فإنما نفوا على علم الكيفية ولم ينفوا حقيقة ......

“Perkataan Rabi’ah dan Maalik : ‘Al-Istiwaa’ tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, dan beriman kepadanya adalah wajib; berkesesuaian dengan dengan perkataan yang lain : ‘Perlakukanlah ia (apa adanya) sebagaimana datangnya tanpa menanyakan bagaimana’. Sesungguhnya yang dinafikkan adalah ilmu tentang kaifiyyah, bukan menafikkan hakekat dari sifat itu sendiri…..” [Majmu’ Fataawaa wa Maqaalaat, 2/101].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah – tokoh keempat yang sangat Anda benci – juga menukil dan menjelaskan perkataan Al-Imam Malik dan Rabi’ah (guru Al-Imam Malik) rahimahumallah dalam pengantar kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw [hal. 36; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 2/1412].

Masih sangat banyak hal yang dapat ditampilkan. Namun setidaknya beberapa contoh di atas sudah mencukupi, kecuali bagi mereka yang telah buta matanya. Tidak ada yang disembunyikan oleh ‘Wahabi-Salafiy’ – sebagaimana tersirat dalam tulisan Anda.
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di