CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014051735/kisah-perjalanan-spiritual-para-guru

Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru

Thread ini berisi buku-buku Spiritual. Jika ada request buku, silahkan PM. Akan berusaha saya adakan disini

emoticon-Shakehand2


Illuminata (Complete) : Start Post #2, End Post #43
Enlight your Life (Complete) : Start Post #49, End Post #169
Sehelai Daun Pencerahan (Complete) : Start Post #170, End Post #294
Dongeng dan Fabel (Belajar dari Kisah Dongeng) : Start Post #295, End Post #429
333 Goresan Toni Yoyo : Start Post #430, End Post #768
Revolusi Batin : Start Post #772, End Post #1324
Setitik Cahaya di tengah Kabut : Start Post #1325, End Post #1753
108 PERUMPAMAAN DHAMMA : Start Post #1756, End Post #1864
Pesan Para Guru : Start Post #1865, End Post #2416
Heartful Joy : Start Post #2417, End Post #2983
Secangkir Teh Spiritual : Start Post #2984
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan nona212 memberi reputasi
Saat Cinta berpaling Darimu

Saat Cinta berpaling Darimu ( Pengalaman sejati seorang istri yang dikhianati ) sekaligus pengorbanan luar biasa dari seorang ibu yang begitu mulia
( Asma Nadia )
***


Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji suaminya yang masih kuliah itu hanya 700 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?

Jawabannya tidak.

Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa keluarga kecil mereka, tak berarti apa-apa.

Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa. Sedikitpun dia tak menyesali telah menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai karena kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati, yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk membahagiakan, dan membuatnya merasa seperti seorang putri.

Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang nyaris mau
runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di mana-mana yang kerap
membuat menimbulkan ruam merah pada kulitnya yang putih. Perempuan itu
tidak pernah sedikitpun mengeluh.

Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris bertaut.
Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu dengan hati berbunga.
Meski mereka harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran yang
melalui prosedur caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu
tidak pernah mengeluh.

Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa,
dari waktu ke waktu.

Ketika anak kedua mereka lahir, roda ekonomi keluarga telah jauh
lebih baik. Laki-laki yang dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan.
Mereka tak lagi bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, lalu susu
buat anak-anak.

Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya dengan
bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak yang cukup
prestise. Seiring kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi
mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang buah hati lagi telah hadir.

Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh waktu yang
digeluti istrinya. Tahun keempat pernikahan mereka mulai menyewa baby
sitter, ketika itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.

Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga tempat dia bekerja
paruh waktu, menawarkan program training ke luar negeri. Awalnya sang
istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan anak-anak selama dua pekan.
Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support dan mendorongnya
untuk pergi,

"Ini pengalaman bagus buat Ibu," kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan kepalanya,
"Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Ibu
harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak."

Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan
keluarganya. Selama dua pekan di sana dilaluinya dengan rindu yang
menyiksa, dan perasaan berat karena selalu terbayang anak-anak.

Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang suami
selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu merasakan ada sesuatu
yang terjadi. Dan perasaannya benar.

Anak bungsu mereka dirawat di rumah sakit karena demam berdarah!
Suaminya yang takut membuatnya panik baru menjelaskan ketika istrinya
pulang ke tanah air.

"Maafkan ayah, ayah takut ibu bingung."
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik
tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya, hal yang
membuat jantungnya luruh.

Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu mertuanya
menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.

Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh. Apalagi
ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya jatuh hati, adalah
baby sitter yang mereka sewa.

Mereka hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu terlanjur hancur. Harapan-harapan yang
dibangunnya seakan menguap.
Suaminya berpaling. Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti
seorang putri, jatuh cinta lagi.
Tuhan. apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang istri yang terkoyak.
Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter mereka. Baru kali ini si
perempuan memandang lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.

Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya bersih,
rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu tak dikiranya
kecantikan lugu itu akan memporakporandakan rumah tangga mereka.

Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang tertunduk
salah tingkah.
"Sudah sejauh apa?'
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
"Apakah kamu menyukai Bapak?"
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
"Saya tak keberatan jika bapak menyukaimu, dan kamu menyukai bapak,
kalian bisa menikah!"
Saya kaget. Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah
lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya mengejutkan saya.

Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah. Saat itu
suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga mereka leluasa
berbicara. Tidak jauh dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis
sesenggukan. Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.

Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat saya
menangis. Belum pernah saya melihat air mata sebanyak itu tumpah di
wajahnya.
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di