CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / The KASKUS Bar /
SCAK (Specialty Coffee Association of Kaskus)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000000866856/scak-specialty-coffee-association-of-kaskus

SCAK (Specialty Coffee Association of Kaskus)

Daftar Isi untuk coffee gathering & jalan ngupi, Café/Coffee review dan Artikel kopi:

Coffee Gathering & jalan ngupi:

- Coffee Gathering - Malang, 17 - 18 May 2008 by: dman
- perjalanan orang kebanyakan ngopi by: littlehope
- crema art by: littlehope
- SCAK Gathering, Jakarta - Senin, 23 Juni 2008 by: dman
- lanjutan jalan ngupi di PasPles by: dman
- Jalan ngupi SCAK, Bandung 25 Juni 2008 by: dman


Café/Coffee review:

- Kunjungan ke Ritual Coffee To Go by: Gambarello
- Kunjungan Singkat ke La Tazza by Gambarello
- kunjungan ke Break Coffee n Book, Jogja by: wallflowers
- Kunjungan ke Grand Indonesia by: Gambarello
- Liputan Kopi di Bilangan Senopati by: Gambarello
- Kunjungan ke Blümchen Coffee by: Gambarello
- Kunjungan ke Grand Indonesia (Lagi) by: Gambarello
- SCAK Gathering, Jakarta - Senin, 23 Juni 2008 (Day 1) by: Gambarello
- Kunjungan ke STC Senayan & Ratu Plaza by: Gambarello
- Kunjungan ke Schibello Caffé & Showroom, STC Senayan by: Gambarello
- Kunjungan ke Miko Coffee, Sarinah Building by: Gambarello
- Kunjungan ke Les Classique & Cafe Amor, Kemang Raya by: Gambarello
- Kunjungan ke Petro Cafe by: Gambarello
- Kunjungan ke Huize van Wely (camus coffee), Plaza Indonesia by Gambarello


Artikel kopi:

- Espresso machine & grinder by: mobius
- Tamping by: mobius
- Extraction by: mobius
- tune up cheats by: FreshRoasted
- Coffee Drinks Illustrated by: dman
- Coffee roaster bermutu bikinan Indonesia by: FreshRoasted
- tips menyeduh kopi by: Nikho
- Humor: Obrolan Kopi by:Gambarello
profile-picture
profile-picture
profile-picture
grg. dan 4 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok

Liputan Kopi di Bilangan Senopati

Jumat 13 Juni 2008

Habis lembur di kantor saya langsung menuju ke Senopati. Niatnya sih ingin tahu situasi cafe/ coffee shop di Senopati yang kabarnya ramai bila malam hari terlebih bila weekend. Kalau dilihat dari arus lalu lintasnya memang cukup ramai, begitu juga di beberapa cafe yg cukup banyak kendaraan yg parkir di depannya (paling tidak ini menandakan kalau cafe tersebut ramai dikunjungi). Daripada cuma melihat-lihat, lebih baik masuk ke coffeeshop dan coba kopinya ah.


Sweet Parlour

Pas baru masuk, koq sepi banget ya. Pengunjung ya cuma saya sendiri, terang saja sepi soalnya sudah jam 21.20 dan sebentar lagi mau tutup. Untungnya saya masih sempat pesan single espresso. Di sini pakai mesin kopi La Cimbali 1 group (tipenya saya tidak tahu, karena mbak barista-nya tidak mau kasih tau), grinder Mazzer.

Singkat cerita pesanan saya sudah selesai dibuat oleh mbak barista, ini lho :


IMHO single espresso Sweet Parlour:
Penampilan : Cup demitasse tebal dan dingin.
Crema : Tipis sekali dan langsung buyar.
Aroma : Acid Choco.
Flavor : Choco with Acid Finish.
Acid : Sharp.
Body : Light to Medium.
Too acid.


Hmmm.....apa karena sudah mau tutup ya jadi bikinnya juga buru-buru emoticon-Confused:. Sudahlah coba di tempat lain saja, sambil minum air mineral saya melangkah ke tempat berikutnya.


Bakoel Koffie

Hmmm...ramai juga pengunjungnya. Saya lihat jam, ternyata sudah jam 22.00. Tempatnya oke juga, banyak lukisan yang dipajang (ya iyalah...secara di sini galeri lukisan).

Di sini menggunakan La Pavoni 2 Group yang lever dan 3 buah grinder (kalau tidak salah merk Santos). Bakoel Koffie menggunakan 3 jenis blend, yaitu : Heritage, Brown Cow dan Black Mist. Untuk karakteristik masing-masing blend, mungkin akan coba saya informasikan di kemudian hari.

Seperti biasa, saya langsung pesan single espresso karena pertimbangan harga yang lebih ramah di kantong. Untuk espresso blend yang digunakan adalah Black Mist.

Di sini saya bisa dengan leluasa bisa melihat cara penyajiannya loh karena saya duduk di bar. Jadi saya bisa melihat mbak barista dosing, tamping, pasang porta dan brewing. Sekilas saya lihat hasil brewing itu mengucur agak deras ya. Dan inilah hasilnya :


IMHO single espresso Bakoel Koffie:
Penampilan : Cup cukup tebal dan panas.
Crema : Lumayan tebal tapi agak cepat susut.
Aroma : Acid Choco, Winey.
Flavor : Choco little bit Rusty with Acid Winey finish.
Acid : Tangy.
Body : Medium.


Pas ngobrol dengan mas Sahid si barista, saya iseng bertanya "Mas di sini ada turkish coffee?" Eh, ternyata ada lho. Langsung saya order turkish coffee, soalnya lumayan lama saya cari turkish coffee tapi belum kesampaian.

Tapi malam ini saya belum bisa mencicipi turkish coffee, karena pas dimasak sudah setengah jadi.....eh gasnya habis emoticon-Frown Gagal lagi deh. Oleh mas Sahid dijanjikan kalau besok siang turkish coffee pasti tersedia.

Ya sudah habis bayar, saya langsung pindah ke.........


Anomali Coffee

Wow tempat parkir penuh sekali, saya lihat jam sudah jam 22.45. Saya langsung masuk ke Anomali.

Ternyata lantai 1 semua meja sudah terisi, penuh sekali. Sedangkan di lantai 2 sedang ada acara nonton bareng Euro 2008 yang kebetulan pertandingan hari ini adalah antara Italia-Rumania dan Belanda-Perancis. Untuk acara nonton bareng dikenakan charge @ Rp. 60.000 dan @ Rp. 75.000.

Karena niat saya hanya mau ngopi dan kebetulan di lantai 1 semua meja sudah penuh, terpaksa saya berdiri saja. Sambil ngobrol dengan mas Boris (kalau tidak salah, marketing), saya juga order single espresso.

Di sini untuk roasted bean selain House Espresso Blend. Juga ada single origin antara lain : Toraja Kalossi, Aceh Gayo, Sumatra Mandheling, Sumatra Lintong, Java Jampit dan Bali Kintamani.

Untuk penyajian single espresso pesanan saya, saya tidak begitu memperhatihan karena mata saya sudah terlanjur pedih kena asap rokok. Yang jelas di sini menggunakan La Marzocco 3 Group, 1 buah grinder Mazzer dan 1 buah grinder lagi saya tidak tahu merk-nya.

Jadinya saya menikmati espresso sambil berdiri. Untuk foto single espresso-nya saya tidak tampilkan disini karena hasil foto yang kurang baik (maklum sambil berdiri, tangan kiri pegang cup demitasse dan tangan kanan untuk ambil gambar).

IMHO single espresso Anomali Coffee:
Penampilan : Cup tebal dan panas.
Crema : Agak tipis.
Aroma : Smoky Choco, Acid Winey (karena banyak asap rokok, jadi aroma yg didapat tidak akurat).
Flavor : Choco with Acid Winey, fast fading Spicy finish.
Acid : Tangy.
Body : Medium.
Too acid maybe.


Karena saya sudah tidak tahan asap rokoknya makanya setelah espresso habis, saya langsung bayar dan pulang saja.



Sabtu 14 Juni 2008

Niatnya sih jam 9 mo ke kantor dulu, nanti jam 1 siang baru ke Bakoel Koffie Senopati. Tapi gara-gara baru tidur jam 4 pagi setelah nonton Belanda-Perancis (ditambah hujan pagi-pagi), saya baru bangun jam 11.30. Ya sudah terpaksa telepon orang kantor buat kasih tahu kalau saya tidak jadi ke kantor (maaf ya). Waduh koq bisa begini ya, 2 kali Sabtu berturut-turut janji mau ke kantor pagi tapi gagal lantaran saya telat bangun. Habis mandi akhirnya saya langsung ke Senopati saja, karena masih penasaran dengan turkish coffee di Bakoel Koffie.


Bakoel Koffie

Jam 1 siang saya baru sampai di Bakoel Koffie, masih sepi dan baru ada 3 orang tamu. Ternyata barista yang tadi malam, mas Sahid masuk shift pagi. Pas lah, saya langsung pesan turkish coffee. Untungnya kompor gasnya sudah diganti baru.

Ternyata turkish coffee di sini tidak dibuat menggunakan ibrik, melainkan panci. Hmmmmm.....seperti kata pepatah :
Tak ada rotan, akar pun jadi.
Tak ada ibrik, panci pun jadi.


Inilah turkish coffee ala Bakoel Koffie :


1. Mas barista grinding coffee bean, kira-kira 15-20 gr black mist blend.


2. Ini panci yang berisi bubuk kopi dan 60ml air. Saya kurang paham kalau turkish coffee yang asli itu bahan-bahannya apa saja. Tapi kalau di sini hanya bubuk kopi dan air, tanpa gula (sesuai permintaan saya tentunya).


3. Panci yang berisi bubuk kopi dan air tadi diletakkan di atas kompor yang menyala.


4. Tunggu beberapa saat. Setelah air kopi mendidih dan hampir meluap, panci diangkat dari kompor.


5. Diaduk beberapa kali, lalu diletakkan kembali di atas kompor.


6. Setelah langkah 4 dan 5 ini dilakukan sebanyak 3x, kompor dimatikan dan air kopi yang dimasak tadi disaring dan dituang ke gelas.

Hasilnya jadi seperti ini :


IMHO turkish coffee Bakoel Koffie (black mist blend):
Aroma : Passionate aroma....Earthy, Choco, Grassy Floral, Smoky.
Flavor : Bittersweet Choco little bit Nutty with Smooth Herbal Grass finish.
Acid : Low.
Body : Light Medium.
Oya ada sedikit ampas kopinya di dasar gelas, seperti ini :



Kalau yang ini turkish coffee pakai heritage blend :


IMHO turkish coffee Bakoel Koffie (heritage blend):
Aroma : Earthy, Dark Choco, Spicy.
Flavor : Dark Choco little bit Nutty with Spicy Tobacco finish.
Acid : Mild.
Body : Light.
Kalau dilihat hasil seduhannya tidak segelap seduhan yang pertama tadi, tapi rasa jadi cenderung crispy.
Oya masih ada sedikit ampas kopinya di dasar gelas.


Semakin sore, di sini semakin ramai saja. Dari pengunjung yang minum kopi sampai pengunjung yang melihat-lihat lukisan. Pas mau pulang jam 16.00, ternyata hujan lebat. Tunggu hujan berhenti sambil ngobrol-ngobrol dengan mas Sahid. Mas Sahid kasih informasi kalau ada coffee shop baru di daerah Fatmawati, yang roasting coffee bean sendiri....namanya Blümchen Coffee. Akhirnya jam 17.45 saya pulang, karena hujan sudah berhenti.

FYI, Minggu 15 Juni 2008 saya Blümchen Coffee. Dan bagi yang penasaran dengan Blümchen Coffee bisa membaca posting saya yang berikutnya..................................... emoticon-Ngacir







Disclaimer only:
- Review ini dibuat berdasarkan apa yang dirasakan lidah saya, yang belum tentu sama dengan yang dirasakan lidah orang lain.
- Review ini dibuat oleh saya dengan kapasitas yang masih newbie.
- Review ini dibuat secara jujur & obyektif, tanpa ada niat untuk melebih-lebihkan atau menjelek-jelekkan atau membanding-bandingkan dengan tujuan untuk menguntungkan atau merugikan atau mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.
- Review ini bukan merupakan promosi atau propaganda pihak-pihak tertentu.
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di