“Eee,” Veguza terkejut. Seketika amarahnya meredam. Sedihnya lenyap. Matanya melotot. “Ka.. Karin,” suaranya lirih. “Aku gak akan biarkan kamu bersedih lagi. Aku akan selalu ada di sampingmu untuk melindungimu. Aku berjanji,” imbuh Karin. Tangan Karin melekat erat mengikat badan Veguz...
Topi caping Veguza kini telah terlepas dari kepalanya. Tangannya memaksa untuk keluar dari tanah yang masih mengubur sebagian badannya. Diam sejenak. Ia tertunduk. “Aku tidak ingin menghancurkan hutan ini. Jadi jangan paksa aku untuk menghancurkannya,” Veguza berbicara menekan. Hatinya tengah...
PART3 Menapak kaki di permukaan tanah. Berjalan. Detik, menit, jam, hari, ia lalui. Gunung Kamberu yang akan dituju. Utara, terletak di utara Hunkin. Perjalanan yang tanpa ada masalah mungkin ia pikir. Tiba masa ia harus lalui hutan yang lebat. Sempat nyalinya menciut. Dari jauh, gelap. Ia tak dap
PART2 Berjalan ditengah gelap malam. Hanya rembulan sebagai sumber cahaya. Remang. Jalan tak lagi tenang. Tidak tau arah tujuan tapi tetap berjalan. Tersandung ranting, tersungkur. Tangan menahan badan. Ia tak bangun, memutar arah badan. Tidur bersama pohon pohon. Lipatan tangan kanan sebagai bant