Gan adakah yang kemarin tes di gedung kalbis institute tanggal 21 Mei 2016? belum ada pengumuman lanjutan atau saya ga lolos ya
Maaf updatenya lama, sedang mempersiapkan kepindahan kerja ke kota yang sama dengan kekasih hati. Thanks yang menyempatkan diri membaca.
Setelah hujan kutemukan impian dalam genangan Riak yang ingin kusentuh sendiri Di ujung jari menghitung hari Lima tahun lima bulan, kini aku mulai menghitung-hitung waktu. Apa juga harus kuhitung segala angka sampai ke sel-selnya untuk sekedar berindah-indah dan meromantiskan ini semua?, kurasa
Nyanyian dibawah rumbia irama peluncur berdetak tuas sejajar Pada sela kain-kain terajut Dalam lirik tenun terikat Terselip warna rindu yang pekat Tentang dia, Lelaki pantai dalam pukat Radit datang, tak pernah kukira dia benar-benar datang. Sesuatu yang berbeda, karena kali ini untuk selamanya.
19/02/2015, 16:54 “Jadi kapan Ibu disuruh ke rumah orangtuanya Lastri?.” “Tidak tahu, kapan ya?.” “Lha, mas ini bagaimana. Sudah bicara belum sama Lastri?.” “Belum Bu.” “Tapi serius?, Yakin?.” “Sama siapa lagi kalau tidak yakin.” “Sudah pernah ketemu orangtuanya Lastri?....
Ada orang yang pernah mengatakan kepadaku: Kalau hendak kerja batu kamu harus lebih keras dari batu, atau kau yang kalah. Tetapi di sini, sebuah sungai mengalir terbalik sekali waktu dan alam mengijinkan itu terjadi. Radit menunduk lesu di meja kerjanya. Nampak lembaran tagihan dari sebuah bank s
bakalan jadi cerita kece nih.. katanya juga keren banget.. terlepas nih asli ato fiksi keep update ya om. :beer: biar semangat. :Yb
Semarang dan kehilangan Waktu dimana segalanya terbalik Meja bundar, kartu-kartu terbuka Biarkan aku bertanya: Lihatkan? Negeri Terumbu Biru Bagiaan Keenam "Semarang dan Meja Bundar" Semarang, kota yang asing bagi kami berdua. Seingatku beberapa tahun lalu Lastri pernah kesini untuk m
“Radit, kamu sudah janji. Aku tidak peduli, kamu harus datang!.” “Tapi Las, aku harus banyak menyimpan. Lagipula si Herman sahabatku disini yang menikah, bukan orang lain.” “Kamu pengecut Dit.” “Apa maksudmu?.” “Kamu takut kan datang kesini, menemuiku, masuk ke lingkunganku, ke...
"Satu hal yang menyatukan Cinta dan Kematian: Niscaya Begitu juga kita" Negeri Terumbu Biru Bagian Kelima: Seperti Biasa Ada jejak panggilan tak terjawab di ponsel, nomor kantor. Tiba-tiba perasaan bersalah menyesak dadaku. Pukul delapan dua puluh pagi disini berarti pukul tujuh dua p
Negeri Terumbu Biru Bagian Keempat: Kata Berserakan *** Sebotol Bir murah dan Segelas tinggi Jus Mangga, tersaji manis di atas meja kayu. Sepasang kekasih itu memilih duduk di tepi teras warung sudut jalan supaya bisa memandang lautan. Warung yang sederhana tapi cantik. Meja-meja dan kursinya terb
*** Anak-anak manusia: Anak-anak yang terkalahkan Diciptakan telanjang untuk berpakaian Bertarung melawan hari dan semak duri Sampai matahari meminta angin memisahkan Sampai hati memenangkan pagi Dan sirnalah segala sepi *** BAGIAN KETIGA Belanjar Melompat *** “Dit, darimana?.” “Luar, di t...
https://picasaweb.google.com/106125935118555793238/NegeriTerumbuBiru#6249930608795672722 Setelah gelap kami tiba di bukit-bukit Tanjung Bira, sepi sekali dan jalanan gelap. Aku sedikit takut kalau-kalau ada begal atau rampok yang menghentikan mobil di hutan-hutan tadi. Mobil melaju turun, kura
Sekarang baru memasuki Jeneponto, udara panas dan kering mulai terasa terbawa angin. Kupikir Takalar sudah cukup membuatku mendidih, ternyata ini lebih. Aku sudah tidak betah, rasanya sudah cukup perjalanan ke negeri antah berantah ini. Tapi di kursi pengemudi Radit masih nampak bersemangat, aku t