Setitik air yang jatuh tak mengharap kembali~ Sepotong daun yang gugur tak mengharap kembali~ Kembali kepada pemilik lahirnya~ Kembali kepada awal mulanya~ Tapi mereka pasti kembali~ Seperti siklus air yang mengalir dan kembali ke hulu~ Seperti daun yang menjadi nutrisi bagi induk dan kembali men...
Pada malam aku menatap, yang ada hanya gelap~ Pada langit aku menanti, yang ada hanya sepi~ Pada bintang aku memandang, yang ada hanya tenang~ Pada bulan aku menunggu, yang ada hanya sendu~ Menatap sembilu ku memilih gelap~ Menanti arti ku memilih sepi~ Memandang gegap ku memilih tenang~ Menunggumu
Prime Id: prof.petroex Klonengan:- Domisili: Ngayogyakarto Hadiningrat Medsos: FB: Fitra Prasapawidya Purna Ig: Prof_Petroex Hobi: Baca buku Main game(HP, PC, dll) Nulis2 Bikin orang lain tersenyum Many more~
Aku dan kesendirianku... Entah apa yang salah dengan diri ini... Kesendirian selalu menatapku dari belakang.. Aku merasakan tapi tak mampu menguaknya.. Kehilangan selalu berjalan disisiku... Aku tak kuasa meratapi.. Bahkan memikirkan pun aku tak mampu.. Selalu... Hal ini yang terus terjadi.. Berhar
Cerahnya mentari yang membangunkan tak seelok dulu... Dinginnya embun yang menetes tak sesegar dulu... Mentari hanya panas yang terasa... Embun hanya dingin yang menusuk... Terluka aku dalam kesendirian... Memaksa mimpi untuk terus berlanjut... Menyuruh asa untuk tetap mengakar... Menekan harapan...
Saat redup matahari menahan ku coba menggenggam senja... Saat semburat mentari menelisik ku coba menyesap fajar... Saat panas surya merebak ku coba menghalau siang... Saat wujud bintang bima sakti mengabur ku coba memeluk malam... Indah yang terasa tak ternyana menyimpan nestapa... Tapi kebahagiaan
Malam kenapa kau berbintang tapi tak mampu beri ku terang... Malam kenapa kau pekat sehingga aku tersesat... Tapi kau mampu beri ku senyap hingga aku lelap... Bahkan kau beri ku ketenangan hingga aku mengetahui jalan... #UntukMalam
Terkadang senja tak mampu menyembunyikannya... Bahkan fajar tak sanggup menyingkap tabirnya... Terlebih aku yang hanya setitik diantaranya... Bertahan entah sampai kapan waktunya... Hujan rintik menyebarkan aroma kenangannya... Menatap langit seolah mengunci segalanya... Deras pun larut coba hapus
Titik yang jatuh itu pun raib... Tenggelam dalam kelam... Luruh dalam sendu... Menghilang tanpa rekam... Ia tak sempat mengusik... Menilik ke dalam bilik penuh bisik... Tertegun akan kenyataan penuh intrik... Lalu diam tak mau berisik... Tempat itu pun tetap gulita... Meski sekeliling tampak gempi
Desiran angin malam yang berhembus tak ganggu dunia yang bergerak... Rintihan lapar orang kurang mampu tak goyahkan hati orang berpunya... Waktu yang kembali datang kan membawa kepada sisi kedua dunia... Selamat datang bulan yang tak ada duanya di tiap tahunnya... Semoga hati ini dapat terus menj...
Raib... Keindahan yang tampak di kelopak mataku tak mampu ku bahagiakan... Dia hanya termenung... Diam... Membisu tanpa suara... Aku tak sanggup mentapnya lagi... Terasa menyakitkan walau hanya sekejap... Jika kehadiranku mengganggu... Biarlah aku raib.. Hilang entah kemana.. Pergi dalam kesendiria
Kenapa.. Aku ingin dihapus saja dari dunia.. Tak ada tempat untukku berada.. Aku hanya menjadi noda kotor dalam indahnya busana... Aku ingin menghilang... Tanpa bekas dari diri yang hina.. Aku ingin lari.. Aku ingin raib... Aku butuh orang yang mengerti aku... Aku ingin lenyap saja jika mampu... ...
Gelapnya malam berusaha menyelimutiku... Dalamnya lautan berusaha menenggelamkanku... Tingginya gunung berusaha menutupiku... Lebatnya dedaunan berusaha menguburku... Panasnya api berusaha melelehkanku... Dinginnya es berusaha membekukanku... Tajamnya pisau berusaha memotongku... Beratnya batu be...
Waktu yang berlalu tuliskan semua kenangan... Entah indah mau pun tidak semua terekam... Luruhkan nestapa mengingat Yang Kuasa... Hanya dapat termangu dan berharap dalam kesendirian... Semoga lantunan do'a ini terbalas... Semoga kerja keras ini terpuas... Semoga hati ini terikhlas... Semoga jiwa da
Senyata kesenyapan yang merasuk dalam relung hati... Penuh ilusi gegap gempita yang ada dalam suasana... Kesunyian tampak tak berongga dalam keramaian... Menatap sendu keheningan yang terkuak pada dasarnya... Ia terdiam tak tergerak oleh keriuhan yang tercipta... Berkutat meratapi realita tanpa ken
Fisik yang ada sebabkan cinta... Akan luntur saat mulai menua... Harta tak terhitung hantarkan rasa... Tersapu oleh waktu yang habiskan jumlahnya... Perangai indah arahkan asa... Perubahan akan hilangkan semua... Hanya Ia yang jadi tujuan... Harap semua kan jadi kenyataan... Jika kau mendekat karen
Diri tekan ego yang tampak dalam hati... Harapkan indah tak berkah dalam hidup tak terjaga... Menatap iri pada sekeliling walau tahu itu tanpa arti... Teguhkan pendirian dengan harapan penuh bahagia... Aku hanya mampu besarkan hati... Walau sejatinya ia kecil... Aku hanya mampu kuatkannya... Walau
Lunglai hati kian melemah kala perasaan kian meredup... Tergolek tak ber-asa menatap diri tanpa kuasa... Jiwa yang tertutup oleh fantasi keindahan yang tercipta dalam sendu... Hanya mampu ratapi nestapa realita tak berujung yang terasa... Elegi kehidupan yang terpampang hanya menambah jenuh pikiran
Nestapa alam yang dirundung kemurkaan... Merekam napak tilas kenistaan para pembawa amanah... Semerbak bau nyinyir di belantara tak terkuak asalnya... Menyeruak dan terus merata terhirup... Ratapan daging berjiwa sesali kenyataan tak terelakkan... Sumpah serapah tak luput caci Sang Kuasa... Batu, t
Senyap, hanya sepi yang terasa... Hening, bahkan angin pun tak berhembus... Sunyi, tertutup keramaian dalam elegi... Kosong, alam pikiran atau dunia sekitarku... Terhenyak diri di kala temukan kesendirian ini... Perasaan atau kenyataan, logika pun tak sanggup menerka... Pekatnya hati sesama menamba