Kaskus

Entertainment

si.matamalaikatAvatar border
TS
si.matamalaikat
Berakhir Dibunuh dan Dicor, Asmara Fatal Janda Pemilik Avanza dan Sopir Bus
Quote:



Dwi Hastuti alias Tutik Jupe, 48 tahun, warga Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ibu dua anak ini dulunya pernah menikah dengan pria India. Tapi, bertepatan dengan Covid 19, izin tinggal suaminya habis, dan dia pulang kembali ke India. Tutik kemudian tinggal berdua dengan dua anaknya yang bernama Puput dan Gabriel di rumah orang tuanya di Baturetno.

Puput dan Gabriel yang menginjak usia remaja adalah anggota kesenian reog yang sering pentas keluar daerah. Pada Oktober 2024, kedua anak itu ikut rombongan reog untuk pentas di Temanggung dan Surabaya. Memakai bus Ismo yang disewa, rombongan reog pergi ke daerah tersebut.

Tutik pun ikut dalam rombongan reog, untuk melihat pentas sang anak. Saat itu dia berkenalan dengan sopir bus Ismo yang mengantar rombongan reog, namanya Joko Nur Setiawan, 34 tahun. Pria Wonogiri kelahiran Oktober 1990. Keduanya lalu bertukar nomor HP, beberapa minggu kemudian Tutik dan Joko merajut tali asmara.

Tutik memiliki sebuah mobil Toyota Avanza warna silver, pada bulan Desember 2024, Joko mengatakan ingin menyewakan mobil Avanza Tutik kepada siapa saja yang berminat. Tutik pun menuruti permintaan kekasih brondongnya itu.

Namun, Joko berbohong. Dia justru menggadaikan mobil itu. Dengan bantuan seorang teman bernama Agus Setiawan, Joko menggadaikan Avanza senilai Rp 15 juta selama 2 minggu. Agus lalu menghubungi Trianto, orang yang bersedia membayar Avanza itu. Di terminal bus Purwantoro ketiga pria ini bertemu, Trianto menyerahkan uang Rp 15 juta. Sementara Joko menyerahkan kunci dan STNK Avanza atas nama Dwi Hastuti.

Quote:


Beberapa bulan berlalu, ketika sudah memasuki awal tahun 2025, Tutik tak kunjung mendapatkan uang sewa mobil Avanza miliknya. Wanita itu mulai kesal dan menuntut Joko segera menyerahkan uang sewa mobil. Dia juga bertanya di mana mobilnya berada ?

"Di mana mobil saya ? Kapan kamu akan memberikan uang dari penyewaan mobil ?" tanya Tutik.

"Beri waktu seminggu, nanti akan saya berikan uang sewa beserta mobilnya," jawab Joko.

Tutik tak puas dengan penjelasan Joko, dan terus meminta agar uang sewa dan mobil Avanza miliknya dikembalikan segera. Akhirnya, setelah beberapa kali dibujuk, Tutik bersedia menunggu.

Joko tentu saja kelabakan saat ditagih uang sewa dan Avanza, alih-alih disewakan, mobil warna silver itu justru digadaikan. Dan celakanya, uang Rp 15 juta hasil menggadai mobil sudah habis dipakai main judi online.

Quote:


Janji Joko ternyata janji palsu, Tutik ternyata belum menerima uang sewa dan mobil Avanza miliknya, wanita 48 tahun ini semakin geregetan. Dia kembali menagih janji kepada Joko, tapi pria itu berkelit. Mereka pun sering terlibat cekcok.

Karena sudah jengkel dan selalu dibohongi, Tutik mengancam akan membeberkan hubungan perselingkuhan mereka kepada mertua dan istri Joko. Selain itu, Tutik juga menuntut untuk segera dinikahi siri.

Joko tentu panik, karena dia masih bergantung kepada mertuanya, sebab selama ini dia masih tinggal di rumah sang mertua. Joko membujuk Tutik untuk tidak membocorkan perselingkuhan mereka dan berjanji akan segera menyerahkan uang sewa beserta mobil Avanza.

Tutik yang lelah hanya diberi janji-janji, akhirnya mengambil langkah nekat. Pada Sabtu sore, 8 Februari 2025, dia mendatangi rumah mertua Joko. Di sana, Tutik berteriak-teriak dan mengancam akan hancurkan rumah tangga Joko, jika dia tidak mengembalikan mobil Avanza miliknya.

Istri Joko sempat curiga. Namun, Joko meyakinkan istrinya, jika Tutik hanya teman yang marah padanya karena perkara sewa mobil.

Keesokan harinya, pada Minggu 9 Februari 2025, Tutik menelepon Joko dan berkata: "Hari Senin nanti aku akan datangi lagi rumah mertuamu !"

"Jangan begitu, kita bisa bicarakan baik-baik. Senin nanti aku jemput kamu," ujar Joko coba membujuk Tutik. Wanita itu pun setuju dengan usulan Joko.

Quote:


Pada Senin, 10 Februari 2025, Joko menjemput Tutik di rumahnya memakai mobil rental Daihatsu Sigra warna merah. Pria itu mengajak kekasihnya berputar-putar tanpa arah. Di dalam mobil, Joko kembali membujuk agar Tutik tidak datang ke rumah mertuanya. Namun, Tutik menolak dan bersikeras akan mendatangi lagi rumah mertua Joko jika mobilnya tidak dikembalikan dan uang sewa tak diberikan.

Hari itu, usaha Joko membujuk Tutik gagal. Jam 10 malam, dia mengantar wanita itu pulang ke rumah. Joko tidak pulang, dan pilih tidur di dalam mobil yang dia tempatkan di parkiran sebuah masjid. Pada hari Selasa, rencananya Joko akan menemui Tutik lagi.

Pada Selasa, 11 Februari 2025, Joko menjemput Tutik di rumahnya. Di dalam mobil pria itu membujuk Tutik agar tidak mendatangi rumah mertuanya. Tapi, wanita itu menolak. Joko lalu mengajak Tutik ke rumah bapaknya di Dusun Brubuh, Desa Ngadirojo Lor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.

Sesampainya di rumah sang bapak sekitar jam 11 siang, kondisinya sepi, ayahnya yang bernama Giman sedang ke sawah. Joko lalu mengajak Tutik masuk ke rumah Pak Giman. Tak lama berselang, keduanya kembali terlibat cekcok di dapur.

Setelah pertengkaran sengit terjadi, Joko berhasil menenangkan Tutik, dia meminta wanita itu membasuh muka di sumur yang ada di halaman belakang. Selesai mencuci muka, saat Tutik lengah, Joko merangkul Tutik dari belakang, membekap mulutnya dan berupaya mencekik sang kekasih. Wanita itu pun terjatuh di tanah.

Joko dengan cepat menduduki tubuh Tutik dan memukul kepala wanita itu beberapa kali sampai sang kekasih meregang nyawa. Sebenarnya Tutik mencoba berteriak dan melawan, tapi usaha itu gagal karena tenaga Joko lebih kuat.

Quote:


Setelah Tutik tewas, Joko mengambil perhiasan emas, HP dan uang Rp 800 ribu milik sang kekasih. Jasad Tutik dibungkus tikar dan plastik. Saat sedang membereskan jasad wanita itu, sekitar jam setengah 12 siang, Joko mendengar bapaknya memanggil dari luar. Dia segera menuju ke sumber suara.

Sementara itu, Pak Giman yang baru pulang dari sawah melihat mobil warna merah di depan rumah, dia pikir itu adalah mobil Joko, setahunya dia suka gonta-ganti mobil sewaan. Dia telah memanggil-manggil anaknya itu.

Tak berapa lama Joko keluar, dia melarang bapaknya masuk ke rumah. Pria itu memberi uang Rp 50 ribu seraya berkata, "Pak, tolong belikan semen putih."

Meski heran, Pak Giman tidak bertanya, dia menurut saja dan pergi membeli semen. Setelah membeli semen, Joko minta dibelikan air mineral.

"Pak, tolong belikan air mineral," ujar Joko. Lagi-lagi Pak Giman menurut.

Usai membeli air mineral, Pak Giman ingin masuk ke rumah untuk istirahat, tapi Joko melarang.

"Bapak istirahat di teras saja," kata Joko. Pak Giman menurut dan duduk di teras sampai jam 2 siang.

Jam 2 siang, Joko keluar dari rumah dan mengajak Pak Giman ke toko bangunan.

"Pak, temani aku beli bahan bangunan," kata Joko. Pak Giman menurut, dengan mobil sewaan mereka pergi ke toko bangunan. Joko lalu membeli pasir, semen, papan sampai batu bata.

Quote:


Setelah dari toko bangunan, Joko mengajak Pak Giman ke daerah Kismantoro, tujuannya ke rumah dukun bernama Poniran. Katanya Joko minta didoakan. Pak Giman kenal dengan Poniran, karena dulu saat istrinya hendak berangkat kerja ke Jakarta, Pak Giman minta Poniran mendoakan keselamatan istrinya.

Setibanya di rumah Poniran, Joko berkata begini: "Saya nabrak orang sampai meninggal, jasadnya saya simpan di rumah Bapak. Saya minta didoakan supaya tidak diganggu arwahnya, dan minta didoakan supaya arwah orang yang saya tabrak itu tenang di alam sana."

Spontan Pak Giman marah mendengar ucapan anaknya itu, pantas saja Joko melarang masuk ke dalam rumah. Melihat Pak Giman marah, Joko coba menenangkannya. Ketika Pak Giman mulai tenang, Poniran lalu mulai berdoa sesuai permintaan Joko dan minta upah Rp 400 ribu. Setelah doa selesai, Joko dan Pak Giman pulang.

Sesampainya di rumah, Pak Giman kembali mececar putranya tentang mayat yang dia bawa pulang.

"Kamu taruh mana mayat itu ?!" tanya Pak Giman.

"Aku taruh belakang rumah, di kandang ayam," jawab Joko. Dia lalu mengajak Pak Giman melihat mayat itu. Pak Giman yang takut, hanya melihat dari kejauhan. Dia tak tahu mayat itu laki-laki atau perempuan.

Jam 7 malam, Pak Giman mandi, makan lalu nonton TV. Dua jam kemudian, Joko memanggilnya.

"Pak, bantu aku ngangkat mayat," ucap Joko.

Awalnya Pak Giman menolak karena ketakutan. Tapi, Joko terus membujuk bapaknya itu agar mau membantunya.

"Kalau ada apa-apa, nanti aku yang tanggung jawab," kata Joko membujuk Pak Giman.

Demi sang anak, Pak Giman mengalah, dia pun pergi ke belakang rumah membantu Joko. Di sana, Joko sudah menggali lubang. Bersama sang ayah, dia mengangkat jasad Tutik yang terbungkus plastik ke dalam lubang. Joko menutup jasad itu memakai papan dan menimbun dengan tanah. Joko lalu meletakkan batu bata dan mengecor bagian atasnya. Terakhir, cor-coran itu ditimbun lagi dengan tanah.

Quote:


Di Baturetno, keluarga Tutik cemas, karena wanita itu tak pulang-pulang. Keluarga pun memulai pencarian sendiri. Sementara menurut keterangan tetangga, Tutik dijemput pria memakai mobil warna merah. Tapi, tak ada yang tahu identitas si penjemput.

Yunianto, 49 tahun, kakak laki-laki Tutik terakhir melihat sang adik mengantar anaknya yang masih SMP pergi ke sekolah pada 11 Februari 2025, sejak saat itu Tutik tak terlihat lagi. Sementara aktifitas terakhir Tutik di rumah terekam CCTV yang terpasang di kamar wanita itu.

Berhari-hari pencarian yang dilakukan pihak keluarga tak membuahkan hasil, mereka lalu membuat laporan ke Polsek Baturetno. Polisi lalu bertanya tentang keseharian Tutik, terutama orang yang dekat dengannya.

Keluarga mengatakan, Tutik dekat dengan seorang pria bernama Joko, sopir bus Ismo. Pria itu juga membawa Avanza Tutik, dan belum mengembalikannya. Polisi lalu mulai penyelidikan bertahap. Pertama, mereka melacak HP Tutik. Ternyata HP itu pernah dipasangi nomor HP Joko, segera polisi mencari dan menanyai pria itu.

"Kenapa HP Tutik kamu bawa ?" tanya polisi.

"Tutik memberikannya kepada saya, lalu dia pergi entah ke mana," jawab Joko.

"Lalu, kamu bawa ke mana Avanza milik Tutik ?" polisi bertanya lagi.

"Saya dan Tutik menggadaikannya melalui teman saya Agus Setiawan, uang hasil gadai sudah dipakai Tutik," jawab Joko.

Quote:


Polisi tak langsung percaya omongan Joko, mereka lalu mencari Agus Setiawan. Kepada polisi Agus bilang mengenal Joko saat bekerja di pencucian mobil di Purwantoro, saat itu Joko sering mencuci bus di tempat kerjanya. Agus kemudian bekerja sebagai makelar kendaraan, saat itu Joko menghubunginya untuk minta bantuan gadai mobil.

Agus lalu mengenalkan Joko kepada Trianto, pria itu bersedia menggadaikan Avanza yang ditawarkan Joko senilai Rp 15 juta. Serah terima uang dan kendaraan dilakukan di terminal Purwantoro.

Dalam kesakisan kepada polisi, Trianto bilang Joko mau gadai mobil untuk biaya berobat saudara. Sama seperti pernyataan Agus, Trianto bilang kalau Joko menggadaikan mobil Avanza sendirian, tidak ditemani Tutik. Polisi pun tambah curiga kepada Joko.

Quote:


Joko bilang terakhir kali menjemput Tutik memakai Daihatsu Sigra merah, polisi pergi ke tempat rental mobil. Melalui data pelacakan GPS, ternyata mobil itu mengarah ke Kismantoro. Saat ditanya polisi, Joko pergi ke sana untuk bertemu dukun bernama Poniran.

Polisi lalu mendatangi rumah sang dukun. Poniran bilang, Joko datang minta doa keselamatan agar tidak diganggu arwah orang yang ditabraknya sampai meninggal. Mayat orang itu dibawa ke rumah bapaknya di Desa Ngadirojo Lor. Saat polisi mengkonfirmasi kesaksian Poniran kepada Joko, pria itu membantah hal tersebut.

Sementara itu, polisi yang lain bergerak cepat menuju rumah orang tua Joko, Pak Giman, di Ngadirojo Lor. Kepada polisi, Pak Giman akhirnya mengaku telah membantu memguburkan mayat di belakang rumah. Pada Kamis, 1 Mei 2025, jam 01.00 pagi, polisi membongkar cor-coran di belakang rumah Pak Giman. Letaknya dekat kandang ayam.

Saat cor-coran dibongkar, ditemukan mayat terbungkus plastik, kondisi mayat masih cukup bagus dan bisa dikenali, tapi sudah mengeluarkan bau. Jasad Tutik dikenali dari tato naga di punggungnya. Polisi lalu membawa Joko ke TKP dan menunjukan hasil galian, pria itu tak bisa berkelit dan mengakui perbutannya.

Quote:


Berdasarkan hasil autopsi, menyebutkan jika penyebab kematian Tutik karena luka di bagian kepala. Karena Joko memukulinya beberapa kali. Selain luka di kepala, kematian korban bisa diakibatkan karena mulut korban dibekap. Sehingga Tutik mati lemas.

Selama persidangan di Pengadilan Negeri Wonogiri, Joko membantah telah melakukan pembunuhan berencana. Dan menyebut mekakukan pembunuhan secara spontan. Namun, Majelis Hakim menilai Joko terbukti lakukan pembunuhan berencana dan menyembunyikan kematian Tutik. Hukuman pembunuhan berencana, maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Namun, Joko hanya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ini lebih ringan dari vonis Jaksa Penuntut Umum yang menuntut hukuman seumur hidup.

Hal yang meringankan adalah Joko belum pernah dihukum sebelumnya, masih punya tanggungan keluarga dan dua anak yang masih kecil. Joko juga mengakui perbuatannya.

Hal yang memberatkan adalah tindakn Joko sadis dan meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban. Joko meresahkan masyarakat. Selain itu, dia telah menikmati hasil kejahatannya, berupa barang berharga milik Tutik.

Quote:


Sementara Pak Giman saat ditanya jurnalis, mengapa membantu anaknya mengubur jasad Tutik dan tidak lapor ke polisi ? Pria itu menjawab dengan polos, dia tidak ingin hal buruk menimpa Joko.

Namun, ironisnya hal buruk bukan hanya menimpa Joko, tapi juga Pak Giman. Akibat membantu mengubur jasad Tutik, Pak Giman harus ikut mendekam di penjara selama 6 bulan.

Ternyata doa keselamatan senilai Rp 400 ribu yang dijanjikan dari dukun bernama Poniran dari Kismantoro, gagal menyelematkan Joko dan Pak Giman.



Sekian dan terima kasih. Semoga kita bisa ambil pelajaran dari kasus ini.




Referensi: 1| 2 | 3 | 4 |
alldinAvatar border
jhon_fcAvatar border
yasyah81Avatar border
yasyah81 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
6.8K
29
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan