Kaskus

Hobby

tiniandu685Avatar border
TS
tiniandu685
Bahagia Tanpa Menjadi Sempurna
  Identitas Buku
Judul       : sayangi Diri Sendiri, Stop Memaksa Jadi Sempurna

Penulis     : Sovia k. & M Mulasih Tary

Penerbit   : cheklist media, Yogyakarta

Cetakan 1 : 2024

tebal          : 148 + XX

presensi    : Faustina Inosentia Andu

 Bahagia Tanpa Menjadi Sempurna

         Semua orang di dunia ini pasti sadar bahwa sejatinya, tidak ada manusia sempurna. Buku ini memaparkan bagaimana kebanyakan orang bercita-cita ingin menjadi sempurna dan ketakutan-ketakutan yang mengikutinya, yang pada akhirnya membuat diri mandek. Dengan penjelasan yang terasa dekat dengan kita, kita akan diajak untuk mengenal diri sendiri dan membuat diri mampu merasa tenang, "selesai", dan berdamai dengan diri sendiri.

Buku "Sayangi Diri Sendiri, Stop Memaksa Jadi Sempurna" karya Soviah K. dan Mulasih Tary mengajak pembaca untuk mencintai dan menerima diri mereka sendiri tanpa merasa tertekan oleh standar kesempurnaan yang seringkali tidak realistis. Buku ini bertujuan memberikan perspektifbaru tentang pentingnya self-love (cinta diri) dan bagaimana hidup menjadi lebih ringan dan bermakna ketika seseorang mampu melepaskan ekspektasi yang berlebihan.

Di bagian awal, penulis menjelaskan mengapa banyak orang sering kali terjebak dalam pola pikir untuk selalu menjadi sempurna. Mereka menghubungkannya dengan pengaruh masyarakat dan media sosial yang kerap menampilkan kesempurnaan sebagai standar yang harus dicapai. Penulis menyebutkan bahwa kehidupan modern, dengan segala tuntutannya, sering membuat orang merasa perlu menjadi sempurna, baik dari segi penampilan, karier, maupun kehidupan pribadi. Padahal, standar ini sulit dicapai dan hanya menimbulkan tekanan batin yang membuat seseorang mudah merasa tidak cukup baik.

Melalui berbagai cerita dan refleksi, penulis mengajak pembaca untuk melihat bahwa kesempurnaan adalah ilusi. Mereka menekankan bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kekurangan yang seharusnya diterima sebagai bagian dari diri. Buku ini mengajarkan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance) sebagai langkah awal dalam mencintai diri sendiri.

Alih-alih mengejar kesempurnaan, pembaca diingatkan untuk fokus pada apa yang membuat mereka merasa bahagia dan puas, meski itu mungkin tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain.

   Bagian tengah buku berfokus pada teknik dan strategi praktis yang bisa dilakukan untuk mengembangkan rasa cinta pada diri sendiri. Salah satu metode yang disarankan adalah membangun kebiasaan refleksidiri, di mana pembaca diajak untuk meluangkan waktu sejenak setiap hari untuk merenungi pencapaian mereka, sekecil apa pun itu. Penulis juga menyarankan agar pembaca mencoba menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, mereka dapat menghargai setiap langkah yang diambil dalam perjalanan hidup mereka, tanpa harus terus membandingkan diri dengan orang lain.

   Buku ini juga membahas bagaimana cara mengelola kritik, baik kritik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Penulis menunjukkan bahwa kritik, terutama yang destruktif, dapat mengikis rasa percaya diri seseorang. Oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk belajar memisahkan kritik yang membangun dari yang hanya merendahkan. Dengan cara ini, mereka bisa berkembang tanpa merasa terjebak dalam siklus perasaan negatif.

   Pada bagian akhir Soviah dan Mulasih berbicara tentang pentingnya membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan diri. Lingkungan yang positif dan mendukung memainkan peran penting dalam membantu seseorang mencintai diri mereka sendiri. Penulis mengajak pembaca untuk berada di sekitar orang-orang yang memberi energi positif dan membantu mereka merasa diterima apa adanya. Selain itu, mereka juga mengingatkan agar pembaca tidak ragu untuk meninggalkan hubungan atau lingkungan yang membuat mereka merasa rendah diri.

   Buku karya Sofiah dan Mulasih ini juga adalah bacaan yang sangat relevan di tengah tekanan sosial yang sering kali mengarahkan orang untuk menjadi sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Buku ini memiliki keistimewaan Salah satu kekuatannya adalah cara penyampaian pesan yang sangat relatablebagi pembaca yang mungkin tengah bergulat dengan perasaan tidak cukup baik atau tuntutan untuk selalu sempurna. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan pendekatan yang ringan, buku ini berhasil menyentuh isu-isu penting tentang self-acceptance dan self-love tanpa terasa menggurui. Penulis berhasil menyampaikan pentingnya menerima diri apa adanya, termasuk kekurangan yang dimiliki. Banyak kutipan-kutipan inspiratif dan cerita-cerita singkat yang membuat pembaca merasa didukung dan dimengerti. Hal ini menjadikan buku ini sebagai motivasi yang efektif untuk orang-orang yang ingin melepaskan diri dari tekanan untuk selalu tampil sempurna.

    Penyampain yang kurang jelas pada beberapa bagian dari buku ini  yaitu ada sebagian pembaca yang mungkin merasa bahwa topik yang diangkat terlalu umum dan kurang mendalam, terutama jika sudah familiar dengan konsep self-love dan self-compassion dari sumber-sumber lain. Pembahasan yang diberikan mungkin lebih cocok bagi pemula atau mereka yang baru memulai perjalanan penerimaan diri, sehingga pembaca yang mencari pendekatan yang lebih mendalam dan analitis mungkin merasa kurang puas. Selain itu, buku ini kurang membahas strategi praktis secara detail, yang sebetulnya bisa menjadi nilai tambah dalam membantu pembaca menghadapi situasi-situasi nyata. Meski demikian, buku ini tetap berhasil menjadi bacaan yang memberi semangat dan dukungan emosional bagi mereka yang membutuhkannya.

   Buku Sayangi Diri Sendiri, Stop Menjadi Sempurna karya Soviah K dan Mulasih Tary menyampaikan pesan penting tentang pentingnya mencintai diri sendiri tanpa tekanan untuk menjadi sempurna. Buku ini mendorong pembaca untuk menerima kekurangan, menghargai proses pertumbuhan, dan mengatasi ekspektasi sosial yang tak realistis. Dengan pendekatan yang ringan namun mendalam, penulis mengajak pembaca untuk fokus pada kesehatan mental, mengenali nilai diri, dan menemukan kebahagiaan sejati melalui penerimaan diri dan kasih sayang terhadap diri sendiri.Pesan inspiratif dari buku ini adalah bahwa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya lebih penting daripada mengejar kesempurnaan. Jangan biarkan tekanan untuk menjadi sempurna menghalangi kebahagiaan dan ketenangan batin.

 Bahagia Tanpa Menjadi Sempurna

 Faustina Inosentia Andu

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang
sariandbudi01Avatar border
sariandbudi01 memberi reputasi
1
354
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan