- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Awali 2025 Rupiah Dibuka Melemah, Terburuk di Asia


TS
jaguarxj220
Awali 2025 Rupiah Dibuka Melemah, Terburuk di Asia
Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah mengawali hari pertama perdagangan tahun yang baru 2025, dengan pelemahan cepat dan menjadi valuta Asia terlemah di Asia pagi ini.
Di pasar spot, seperti dipantau dari data realtime Bloomberg, Kamis (2/1/2025), rupiah dibuka melemah di Rp16.198/US$
Pergerakan itu mencerminkan pelemahan 0,60% dibanding posisi penutupan akhir tahun lalu di Rp16.102/US$. Pada pukul 09:18 WIB, rupiah makin lemah dengan cepat menjebol Rp16.242/US$, mencerminkan pelemahan 0,87%. Itu menjadikan rupiah sebagai mata uang Asia dengan pelemahan terdalam di kawasan pagi ini.
Secara teknikal, selama rupiah berada di kisaran Rp16.200-an usai tertekan, maka mata uang Indonesia berpotensi melanjutkan pelemahan hingga ke level Rp16.300 hingga Rp16.350/US$.
Kelanjutan pelemahan rupiah masih disetir oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang terakhir ditutup di level 108,5 di tengah tingkat imbal hasil Treasury, surat utang AS, yang makin tinggi.
Pelemahan rupiah berlangsung bersama-sama dengan mata uang Asia yang mayoritas juga tertekan. Setelah rupiah, baht juga melemah dengan penurunan nilai 0,29%, yen Jepang 0,13%, ringgit Malaysia 0,11%, peso Filipina 0,09%, dolar Hong Kong 0,06%, dolar Taiwan 0,03%.
Sementara yuan offshore naik 0,27%, won Korsel menguat 0,22%, dolar Singapura 0,17% dan yuan renminbi 0,01%.
Suasana kebatinan pasar di Asia secara umum memang cenderung suram di awal tahun ini dengan pergerakan aset-aset di pasar global yang meninggalkan jejak kurang menggembirakan menutup tahun 2024.
Dari dalam negeri, pasar mungkin akan berharap akan ada sentimen baik dari keputusan pembatalan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jadi 12%, hanya enam jam sebelum jadwal pemberlakuan.
Berbalik badannya pemerintah membatalkan kenaikan PPN 12% untuk barang dan jasa umum, diharapkan bisa membantu optimisme sektor ritel dan tidak makin menekan daya beli rumah tangga yang sudah mengisyaratkan pelemahan beberapa waktu terakhir.
Akan tetapi, potensi hilangnya penerimaan negara dari penarikan PPN 12% tersebut, ditaksir sekitar Rp71-an triliun, mungkin akan membuat para investor terutama di pasar fixed income untuk berhitung ulang terkait risiko defisit APBN 2025.
Pada Kamis pagi ini, indeks saham dibuka menguat ke level 7.104. Sedangkan di pasar surat utang, pergerakan harga obligasi negara cenderung variatif. Yield 2Y kini di 7,025%. Sedangkan SUN tenor 5Y di 7,036% dan tenor 10Y di 6,995%.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...buruk-di-asia/
Di pasar spot, seperti dipantau dari data realtime Bloomberg, Kamis (2/1/2025), rupiah dibuka melemah di Rp16.198/US$
Pergerakan itu mencerminkan pelemahan 0,60% dibanding posisi penutupan akhir tahun lalu di Rp16.102/US$. Pada pukul 09:18 WIB, rupiah makin lemah dengan cepat menjebol Rp16.242/US$, mencerminkan pelemahan 0,87%. Itu menjadikan rupiah sebagai mata uang Asia dengan pelemahan terdalam di kawasan pagi ini.
Secara teknikal, selama rupiah berada di kisaran Rp16.200-an usai tertekan, maka mata uang Indonesia berpotensi melanjutkan pelemahan hingga ke level Rp16.300 hingga Rp16.350/US$.
Kelanjutan pelemahan rupiah masih disetir oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang terakhir ditutup di level 108,5 di tengah tingkat imbal hasil Treasury, surat utang AS, yang makin tinggi.
Pelemahan rupiah berlangsung bersama-sama dengan mata uang Asia yang mayoritas juga tertekan. Setelah rupiah, baht juga melemah dengan penurunan nilai 0,29%, yen Jepang 0,13%, ringgit Malaysia 0,11%, peso Filipina 0,09%, dolar Hong Kong 0,06%, dolar Taiwan 0,03%.
Sementara yuan offshore naik 0,27%, won Korsel menguat 0,22%, dolar Singapura 0,17% dan yuan renminbi 0,01%.
Suasana kebatinan pasar di Asia secara umum memang cenderung suram di awal tahun ini dengan pergerakan aset-aset di pasar global yang meninggalkan jejak kurang menggembirakan menutup tahun 2024.
Dari dalam negeri, pasar mungkin akan berharap akan ada sentimen baik dari keputusan pembatalan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jadi 12%, hanya enam jam sebelum jadwal pemberlakuan.
Berbalik badannya pemerintah membatalkan kenaikan PPN 12% untuk barang dan jasa umum, diharapkan bisa membantu optimisme sektor ritel dan tidak makin menekan daya beli rumah tangga yang sudah mengisyaratkan pelemahan beberapa waktu terakhir.
Akan tetapi, potensi hilangnya penerimaan negara dari penarikan PPN 12% tersebut, ditaksir sekitar Rp71-an triliun, mungkin akan membuat para investor terutama di pasar fixed income untuk berhitung ulang terkait risiko defisit APBN 2025.
Pada Kamis pagi ini, indeks saham dibuka menguat ke level 7.104. Sedangkan di pasar surat utang, pergerakan harga obligasi negara cenderung variatif. Yield 2Y kini di 7,025%. Sedangkan SUN tenor 5Y di 7,036% dan tenor 10Y di 6,995%.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...buruk-di-asia/






tiokyapcing dan 4 lainnya memberi reputasi
5
295
35


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan