- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Bagaimana Jika Gerakan Anak Abah 'Menangkan' Pilkada Jakarta?


TS
mnotorious19150
Bagaimana Jika Gerakan Anak Abah 'Menangkan' Pilkada Jakarta?

TRIBUNJAKARTA.COM - Bagaimana jika gerakan "Anak Abah" untuk mencoblos 3 paslon alias golput, mendominasi Pilkada Jakarta 2024?
Suara tidak sah lebih banyak dari suara sah. Gubernur dan Wakil Gubernur yang terpilih ternyata akan mendapat imbas serius.
Dua pengamat politik menganalisis dan mengkalkulasi potensi sikap politik para pendukung setia Anies Baswedan itu.
Kalkulasi Kekuatan Anak Abah
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai, gerakan coblos 3 paslon sangat berpengaruh kepada legitimasi dari paslon terpilih.
"Itu menyangkut legitimasi politik ke pemenang. Dikhawatirkan kalau gerakan golput besar, secara legitimasi politik bagi gubernur terpilih sangat lemah," kata Adi kepada Kompas.com, Senin (9/9/2024).
Padahal, dalam demokrasi, legitimasi seperti nyawa bagi para pemimpin daerah yang dipilih melalui Pilkada.
"Kalau yang mendukung sedikit, legitimasinya juga lemah meski dia menang," kata Adi.
Adi mengkalkulasi, suara sah bagi ketiga pasangan calon berpotensi hanya mencapai 40 persen.
Hitungan ini diambil jika partisipasi politik warga Jakarta yang datang ke TPS berjumlah 75 persen, kemudian dikurangi sekitar 35 persen pendukung Anies yang memilih golput atau mencoblos tiga calon.
"Sebut saja sekitar 35 persen pemilih Anies golput alias mencoblos tiga calon, itu artinya suara mereka tidak sah, maka suara sah bagi ketiga paslon hanya sekitar 40 persen. Jumlah yang sangat kecil sekali. Lemah secara legitimasi politik," ucapnya.
Jika ditambah dengan 25 persen masyarakat yang tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS) maka jumlah suara sah pun mencapai 60 persen.
"Sementara 25 persen lain warga Jakarta tak datang ke TPS."
"Jika dijumlah total, antara pemilih golput 35 persen plus yang tak hadir ke TPS 25 persen, total 60 persen suara tak sah. Itu artinya, bisa dipastikan Pilkada Jakarta pemenangnya suara tak sah. Repot secara demokrasi," jelas Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu.
Tidak Organik
Senada, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, juga melihat beban ada di paslon terpilih jika gerakan Anak Abah mendominasi Pilkada Jakarta.
Menurutnya, bukan hanya legitimasi, hubungan antara gubernur dan wakil gubernur dengan warganya tidak memiliki keterikatan emosional dan kultural.
"Artinya, gubernur yang tidak organik atau tidak memiliki hubungan kultural dan emosional dengan warganya," kata Ubedilah kepada Kompas.com.
Di sisi lain, Ubedilah mengatakan, ajakan untuk coblos tiga paslon pada Pilkada Jakarta 2024 yang masih bergaung hingga kini bukan merupakan tindakan pidana.
Demikian pula dengan ajakan untuk golput atau memilih untuk tidak memilih, baik karena alasan ideologis maupun teknis.
"Sepengetahuan saya belum ada pasal di dalam Undang-Undang (UU) Pilkada bahwa semacam ajakan coblos tiga p
3 Paslon
Seperti diketahui, gerakan coblos 3 paslon mucul dari para Anak Abah karena kekecewaan atas gagalnya Anies Baswedan maju Pilkada Jakarta 2024.
Sejumlah partai yang sempat menyatakan dukungan, mundur dan mencalonkan sosok lain.
Para partai itu di antaranya, NasDem, PKB dan PKS. Padahal hubungan ketiga partai tersebut dengan Anies sudah terbangun sejak Pilpres 2024.
PDIP Jakarta yang juga bulat mengusung Anies tidak mendapat persetujuan dari ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri.
Pada akhirnya, Pilkada Jakarta 2024 diikuti tiga paslon.
Pertama adalah Pramono Anung sebagai cagub, dengan Rano Karno sebagai wakilnya.
Kedua kader PDIP itu diusung oleh partainya sendiri dengan bantuan Hanura.
Sedangkan paslon kedua adalah Ridwan Kamil-Suswono. RK, sapaan karib sang cagub, merupakan kader Golkar, sedangkan Suswono berasal dari PKS.
Pasangan bernama RIDO itu diusung koalisi besar berisi 13 partai Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, NasDem, PSI, PKB, Gelora, PBB, Perindo, PAN, PPP, serta Garuda.
Sedangkan paslon ketiga dari jalur independen, Dharma Pongrekun sebagai cagub, dan wakilnya Kun Wardana Abyoto.
Dharma merupakan pensiunan Polri dengan pangkat terakhir jenderal bintang tiga. Sedangkan Kun Wardana merupakan seorang akademisi.
tribunnews.com






tritomchan dan 5 lainnya memberi reputasi
4
662
65


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan