Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Warisan Berdarah (Cerita Pendek)
Warisan Berdarah (Cerita Pendek)


Zul terbangun di antara lantai penuh darah. Bau amis begitu menyengat, darah yang kental dan segar itu menempel di sebagian kulit tangannya. Ia masih setengah sadar dan menatap ke langit-langit rumah. Zul serasa tidak ingat apa-apa, sampai akhirnya ia menoleh ke samping kiri. Tergeletak mayat ayah dan ibunya yang sudah tewas bersimbah darah. Mukena putih ibunya berubah memerah darah, begitu juga dengan baju koko dan sarung yang dipakai oleh sang ayah. Pisau dapur pun masih tertancap di atas dada ayahnya.

Melihat kekacauan yang terjadi, Zul mulai panik. Ia berdiri tapi ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di bagian punggung. Kakinya juga terasa sakit tapi ia memaksakan untuk berdiri, dengan keadaan tersebut Zul sadar bahwa selepas isya dia membunuh kedua orang tuanya. Karena takut ketahuan warga, dini hari itu Zul kabur meninggalkan rumah dan kedua jasad orang tuanya begitu saja.

Selama beberapa hari, Zul disembunyikan di rumah temannya. Tidak mau terus bergantung dengan sang teman, akhirnya Zul nekat keluar rumah temannya untuk menjalani hidup baru dan menemukan pekerjaan. Lokasi pertama yang Zul datangi adalah pasar yang ada di tengah kota. Di sana banyak sekali orang sibuk memanggul bahan-bahan makanan seperti sayur dan bumbu dapur. Ada juga tukang bersih-bersih, asisten toko dan masih banyak lagi. Zul mencoba peruntungan di salah satu juragan sayur di sana.

“Pak, maaf apa bisa saya ikut kerja jadi kuli panggul juga?” tanya Zul.

Juragan sayur sambil mencatat sesuatu di bukunya melirik Zul dengan tatapan remeh. “Saya tidak mau mempekerjakan pembunuh seperti kamu,” ucapnya.

Zul panik mendengar jawaban itu. Ia segera kabur dan berlari meninggalkan juragan sayur itu karena berpikir bahwa dirinya sudah ketahuan dan dikenali oleh orang. Keluar dan mencari pekerjaan ternyata ide yang bodoh. Polisi bisa saja menemukannya dan warga sudah banyak yang mengenalinya.

“Heh, kamu!”

Panggil seseorang saat Zul sedang berlari di antara para penjual di pasar. Ia lantas memengok, rupanya seorang bapak-bapak penjual daging yang memanggilnya. Napas Zul sudah tak karuan, keringatnya mengucur deras dan dengan tatapan takut ia menatap tukang daging itu. “I-Iya?” jawabnya sambil gemetar.

“Kamu butuh kerjaankan? Mending sini bantu saya potong daging, nanti saya kasih upah,” ucapnya. “Di sini aman,” tambahnya.

Dengan rasa sedikit ragu, Zul menerima tawaran tersebut sambil tetap waspada karena ini bisa saja jebakan polisi yang ingin menangkapnya. Maka saat itu juga, ia memakai apron putih dan mulai memotong-motong daging sesuai dengan pesanan yang diminta.

“Saya Hartono,” kata si penjual daging berambut gondrong yang diikat rapi ke belakang itu.

“Saya Faizul,” balas Zul.

“Saya tuh memang sengaja mencari orang seperti kamu yang memang cocok untuk pekerjaan seperti ini,” kata Hartono.

“Kok Bapak bisa tahu saya cocok dengan pekerjaan ini?” tanya Zul.

“Iyalah, kamu sudah terbiasa sama itu, kan?” Hartono balik bertanya sambil menunjuk pisau yang dipakai Zul.

Zul mulai curiga. “M-maksudnya, Pak?”

“Ya orang tua kamu saja kamu tusuk-tusuk pake itu, ya pastinya kalau cuma daging sapi kamu sudah pasti jago dong,” ucap Hartono sambil terkekeh.

Zul melepas pisau miliknya dan menatap takut Hartono. “Bapak polisi? Mau tangkap saya? Saya sudha gak bisa kabur, pak! Silakan tangkap saya!” kata Zul yang sudah pasrah sambil sedikit menangis.

“Hahahaha … Saya bukan polisi Zul. Saya hanya tukang daging biasa. Orang tua saya juga bukan bos kebun sawit seperti bapakmu. Tapi untungnya saya tidak termakan oleh keserakahan. Gak kaya kamu yang hanya karena warisan, sampai membunuh orang tua,” tutur Hartono menjelaskan.

“Ya, saya memang salah, Pak. Tapi mereka juga tidak adil pada saya,” jawab Zul.

“Saran saya Zul, kamu segera bertaubat sana dan cepat-cepatlah jadi orang waras!”

Zul segera melepas apron yang digunakannya dan bergegas pergi tanpa pamit dari toko daging tersebut. Ia kembali berlari karena merasa masih ada kesempatan untuk kabur dari polisi dan orang-orang sekitar yang sudah mengenalinya. Sesegera mungkin ia keluar dari pasar. Kakinya terus melangkah cepat, masa bodo mau ke mana yang penting ia harus berlari sejauh mungkin meski tanpa tujuan sekali pun.

Bak seorang gelandangan, Zul menjadikan kolong jembatan sebagai tempat bersembunyinya. Ia terduduk lemas di sana, tanpa makan seharian yang membuat perutnya kosong. Telah ia tanamkan dalam hatinya bahwa benar apa kata Hartono. Ia sebaiknya bertaubat. Tak terasa, air mata mulai mengalir di pipinya dan Zul pun menangis malam itu.

“Ya Allah, Ayah, Ibu, maafkan, Zul!” ucapnya sambil menangis.

Keesokan paginya, aza salat subuh berkumandang. Orang-orang bergegas menuju masjid di tengah gelapnya malam dan sang rembulan yang masih berkuasa di langit sana. Di antara orang-orang bersarung dan berpakaian rapi. Zul berada di antara mereka dan ikut melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid.

Waktu berlalu cepat, usai salat subuh Zul mengikuti kuliah subuh atau ceramah yang diadakan di masjid tersebut seusai salat subuh. Beberapa jemaah masih bertahan untuk mendengarkan ceramah dari sang ustaz. Termasuk Zul yang ada di shaf paling belakang.

“Saudara-saudara yang dirahmati Allah, membunuh adalah dosa besar yang dalam Islam. Karena telah menghilangkan nyawa seseorang secara sengaja. Apalagi karena alasan-alasan yang kadang tidak masuk akal. Sifat inilah yang kemudian disebut sebagai Setan,” ucap sang ustaz yang sedang menyampaikan ceramahnya.

Zul melirik ke arah kiri-kanannya, mengapa tema yang diambil dalam ceramah kali ini sangat cocok dengan keadaannya yang sekarang. Hal ini membuatnya merasa semakin bersalah dan merasa tidak nyaman. Sampai akhirnya ia membuat keputusan untuk pergi.

“Membunuh adalah perbuatan keji yang dikutuk oleh Allah, seperti yang dia lakukan!” kata sang ustaz menunjuk ke arah Zul.

Sontak Zul yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan masjid pun terdiam dan merasa bingung. Para jemaah kemudian menoleh menatap ke arah Zul dengan bersamaan. Begitu juga dengan jemaah wanita yang berada di belakangnya. Semua orang yang ada di dalam masjid menatap ke arahnya.

“Pembunuh!” kata sang ustaz dengan pengeras suara miliknya.

“Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!” para jemaah kemudian meneriaki Zul sambil menatapnya dengan tatapan datar. Semuanya dengan kompak meneriaki Zul sebagai pembunuh mengikuti sang ustaz.

“Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!” teriak mereka semua.

“Tidak! Maafkan aku! Aku salah, iya! Maafkan aku!” Tiba-tiba bagian punggungnya kembali terasa sakit. “Aaakkh! Sakit, maafkan aku!” teriak Zul. “Maafkan aku!” Zul pun berlutut di atas karpet masjid sambil menangis sejadi-jadinya. Rasa bersalah kini menghantuinya ke mana pun ia pergi.

Sementara jemaah lainnya masih terus menatapnya datar dan meneriakinya. “Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!”

“Maafkan aku, iya aku yang salah! Ayah! Ibu!”

Zul berada terus berteriak tanpa henti dan membuat orang disekitarnya kerepotan. Entah hal apalagi yang harus dilakukan supaya Zul bisa diam. “Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf!” teriak Zul

Zul berada di atas ranjang rumah sakit dengan bagian punggung yang diperban dengan rapat akibat tertembak oleh polisi karena dirinya yang melawan saat hendak diamankan. Di ruangan rumah sakit yang tidak terlalu besar itu, Zul terus berteriak meminta maaf. “Ayah! Ibu! Maaf!”

“Hmm, kemarin halusinasi ketemu tukang daging, sekarang teriak-teriak begini,” ucap seorang dokter spesialis kejiwaan sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya.

“Jadi tindakannya sekarang apa, Dok?” tanya seorang suster di sampingnya.

“Suntikkan obat penenang, saya akan coba bicara dengan kepolisian,” ucap sang dokter.

“Baik, dok!”

Dokter lalu keluar dan bertemu dengan dua orang polisi yang berjaga di depan pintu kamar Zul. “Hah! Nampaknya gangguan kejiwaan yang dialami pelaku cukup berat, Pak. Bisa dilihat sendiri, kan? Kalau begini, sulit untuk diadili,” kata dokter.

“Bagaimana dengan luka tembakan di punggungnya?” tanya polisi.

“Ah, itu akan segera membaik, Pak. Tidak perlu khawatir, toh tidak ada organ dalam yang terkena peluru,” jawab dokter. Kedua polisi itu lantas mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi dulu, bapak-bapak.” Sang dokter kemudian berjalan pergi meninggalkan kedua polisi itu.”

Kedua polisi itu lalu mengamati Zul yang sedang diberikan obat penenang oleh suster dari balik jendela kamar.

“Hmm, saya tidak habis pikir, hanya karena warisan hal sekejam ini bisa dilakukan manusia,” ucap salah satu polisi.

“Tidak perlu dipikirkan, memang begitu sifat serakah manusia. Yang penting kita jalankan tugas kita,” jawab polisi satunya.

“Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf! Ayah! Ibu! Maaf!”

TAMAT
Diubah oleh harrywjyy 14-04-2024 06:25
ardian76
sanhuang227523
bojonegoro.city
bojonegoro.city dan 5 lainnya memberi reputasi
4
1.2K
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan