Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

riandyogaAvatar border
TS
riandyoga
Apa Memang Orang Indonesia Gak Diajarkan Mengatur Keuangan?
Hai GanSis, sudah lama sekali sejak terakhir saya bikin Thread di Kaskus. Sebenarnya sudah ada beberapa draft, namun tak kunjung tuntas. Maklumlah, di usia seperempat abad seperti saya ini fokus banyak terbagi-bagi.


Sekarang saya coba mengumpulkan fokus dan menyelesaikan Thread ini yang sekiranya berguna buat GanSis sekalian.

Quote:


Ngomongin utang, sebelumnya saya sudah buat Thread seputar utang disini.


Ternyata itu belum cukup untuk menyampaikan sepenuhnya keresahan saya tentang pola keuangan masyarakat Indonesia. Sampai tiba pada satu pertanyaan, sebenarnya orang Indonesia ini pernah belajar mengatur keuangan gak sih?


Jawaban yang saya dapat ternyata jumlahnya sedikit sekali….

Apa Memang Orang Indonesia Gak Diajarkan Mengatur Keuangan?

Diperparah lagi zaman sekarang ada pinjaman "bank keliling", pinjol, judi online dan penyalahgunaan narkoba. Hmm.. makin ruwet guys!


Perlahan saya coba mencerna ini sebenarnya kenapa? Apakah memang orang Indonesia ini gak pernah diajarkan mengatur keuangan dengan baik?


Oke GanSis, saya ceritakan dari sisi pengalaman pribadi yang saya tahu. Saya beruntung dulu diajarkan untuk selalu menabung, sampai saya anggap hal tersebut suatu hal lumrah. Tapi sedikit terkejut, ketika beberapa ada teman dan saudara justru terasa asing dengan istilah menabung.


Setiap ada uang, yang pertama dipikirkan mereka adalah "ini uang untuk beli apa?". Mereka berpikir, setiap dapat uang maka harus segera dibelanjakan. Apalagi kalau dapat THR lebaran saat masih anak-anak, langsung dihabiskan di supermarket dan mall.


Konsep demikian memang bagus untuk memutar perekonomian. Tapi kalau kitanya gak bijak atur pengeluaran, itu artinya kita boros.


Maka, apakah yang membuat orang tuanya tidak mengajarkan menabung pada anaknya?


Dari yang saya tahu, itu disebabkan dari tingkat kemiskinan yang lumayan ekstrim. Jadi ketika ada uang, dahaga untuk berbelanja itu sangat tinggi. Sehingga gak mikir apa itu menabung, saving money, hemat dan dana darurat. Istilahnya, mumpung ada, kapan lagi.


Lalu, apa akar penyebab dari kemiskinan ekstrim tersebut?


Sejujurnya saya bukan ahli ekonomi, tapi hanya melihat dari yang saya lihat saja. Dari sekitar saya, penyebab demikian ialah judi, miras dan narkoba. Plus "main wanita". If you know what i mean


Biasanya yang terjadi, ketika seorang suami sekaligus sebagai bapak bejat dengan ciri seperti disebutkan diatas. Uang habis-habis saja, bahkan gak bisa nafkahin keluarga. Sementara istri yang masih waras, kerja serabutan untuk menghidupi anak.


Dalam kondisi serba sulit, gak ada lagi istilah perencanaan keuangan segala macam. Dan kondisi demikian diturunkan kepada anaknya.


Hidup susah, ditambah hinaan tetangga dan saudara. Memunculkan sifat untuk diakui apapun caranya, yang penting biar tekor asal kesohor. Ujung-ujungnya menjadi Hedon.


Saya tinggal di pinggiran kota. Dan sifat demikian kini banyak dijumpai. Entahlah, apa sejak dulu atau sekarang ini saja. Yang jelas kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Sifat hedon ini bikin orang-orang gak segan meminjam ke rentenir, tanpa berpikir panjang.


Bahkan dari yang saya ketahui, ada yang sekalipun sedang punya uang, namun tetap pinjam uang. Karena sistem "bank keliling" ini selain rajin nagih, juga rajin sekali cari nasabah.


Sungguh jeratan yang awikwok sekali, memang jibangan!!


Kesalahan utama tidak hanya terletak pada pihak pria saja. Sedikitnya yang saya lihat, kesemrawutan pengaturan keuangan bisa saja bermula dari wanita maupun pria.


Tidak hanya juga persoalan antara suami-istri. Namun bisa juga dari anak, saudara dan kerabat lainnya.


Saya juga gak bisa menjelaskan lebih detailnya gimana. Sedikitnya yang tahu, kita selama ini hanya tahu menghasilkan uang dan menghabiskannya, tanpa mau tahu pengelolaannya. Ketika dapat bansos juga begitu, tidak ada pendamping yang baik, justru kesannya hanya untuk senang-senang saja.

Dari diri kita pribadi, ketika kita sadar masalalu kita yang kelam dalam hal keuangan. Seharusnya jangan membuat segala jadi semakin sulit. Perubahan dan perbaikan letaknya pada diri kita sendiri. Ya, kita sendirilah yang menentukan.

Rianda Prayoga
26 Agustus 2023
Binjai


Spoiler for sumber & referensi:
sukhoipakfa
jiresh
tiyoz
tiyoz dan 4 lainnya memberi reputasi
5
878
21
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan