- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Sah! Muntok Jadi Mentok, DPRD dan Pemkab Sepakat Ubah Nama Ibukota Bangka Barat


TS
Novena.Lizi
Sah! Muntok Jadi Mentok, DPRD dan Pemkab Sepakat Ubah Nama Ibukota Bangka Barat
Sah! Muntok Jadi Mentok, DPRD dan Pemkab Sepakat Ubah Nama Ibukota Bangka Barat
Sabtu, 20 Mei 2023 08:25
Bupati Bangka Barat Sukirman dan Ketua DPRD Bangka Barat Marudur Saragih menandatangani pengesahan perubahan nama Muntok menjadi Mentok, di Gedung Mahligai DPRD Bangka Barat, Jumat (19/5/2023).
BANGKAPOS. COM, BANGKA- Jumat (19/5) kemarin, merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Bangka Barat.
Setelah 13 tahun, nama Ibu Kota Kabupaten Bangka Barat yang sempat diganti menjadi Muntok, akhirnya kembali berubah menjadi Mentok.
Perubahan nama tersebut setelah pengesahan Raperda Hari Jadi Kota Mentok pada rapat paripurna di Gedung Mahligai DPRD Bangka Barat, Jumat (19/5).
Pengesahan ditandai dengan penandatangan Raperda Hari Jadi Kota Mentok oleh Bupati Bangka Barat, H Sukirman dan Ketua DPRD Bangka Barat.
Kembalinya kata Mentok sebagai Ibukota Bangka Barat, sesuai dengan UU Nomor 5 tahun 2003 Pasal 10 Ayat 3 dan Permendagri tahun 2022.
Bupati Bangka Barat, Sukirman mengatakan dengan ditetapkannya perubahan nama Muntok menjadi Mentok telah menjawab kegelisahan masyarakat.
“Masyarakat kita sebenarnya dari dulu menyebutkannya Mentok. Tapi dulu ditetapkan menjadi Muntok saat zaman kolonial Belanda,” ujar Sukirman kepada Bangka Pos usai rapat paripurna, Jumat (19/5).
Perubahan tersebut, kata Sukirman atas kesepakatan bersama Tim Pansus dan juga melibatkan usulan dari tokoh adat dan budayawan.
“Hari ini kita pastikan bahwa dengan kesepakatan bersama dan juga usulan dari tokoh adat, budayawan, kami (Pemkab-red) bersama DPRD dan Forkopimda telah menetapkan tulisan Muntok menjadi Mentok,” ungkapnya.
Ia menambahkan, terkait administrasi seperti Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran yang masih menggunakan nama Muntok dapat disesuaikan.
“Untuk administrasi mulai sekarang, yang sudah terlanjur tidak masalah masih disesuaikan. Yang masa lalu sudah dianggap Mentok, jadi tetap lolos administrasi,” ucapnya.
Tak Sinkron dengan UU
Terpisah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat (Babar), Muhammad Ali menjelaskan sebelum disahkannya nama Ibukota Muntok menjadi Mentok dalam Rapat Paripurna Bangka Barat, Jumat (19/5).
Ia mengungkapkan, awalnya dalam Perda Lambang Daerah tahun 2005 silam, nama Ibukota Bangka Barat bernama Mentok.
Kemudian berubah menjadi Muntok di tahun 2010 sesuai Perda Hari Jadi Kota Muntok.
“Hal ini sempat menjadi perhatian dari semua pihak karena tidak sinkron dengan undang-undang,” kata Muhamad Ali kepada Bangka Pos, Jumat (19/5).
Padahal menurutnya sudah jelas, dalam UU Nomor 5 tahun 2003 tentang pembentukan empat kabupaten pemekaran di Pasal 10 ayat 3 bahwa Ibukota Kabupaten Bangka Barat ditetapkan di Mentok.
“Sehingga kami kemarin melakukan kajian akademik lagi dan mengusulkan ke DPRD lalu dibentuklah panitia khusus (Pansus). Alhamdulillah setelah dilakukan pembahasan panjang dan pengkajian secara mendalam, Raperda Hari Jadi Kota dengan nama Mentok, sudah sesuai dengan Undang-undang dan Permendagri tahun 2022,” jelasnya.
Berkaitan dengan penggunaan kata Muntok dalam administrasi kependudukan, tetap dianggap Mentok.
Namun untuk papan nama, sekolah dan lainnya dapat diubah.
Hal ini sesuai amanah yang tertuang di dalam Perda yang telah disahkan.
“Kalau untuk administrasi yang masih menggunakan kata Muntok, itu dianggap Mentok, karena jauh sebelum ada perubahan ini menggunakan kata Mentok,” jelasnya.
“Sedangkan papan nama sekolah, nama instansi, nomenklatur di surat yang masih diubah, itu harus diubah secara bertahap,” tukas Ali.
Kota Mentok tahun ini akan berusia 289 tahun, tepatnya pada 7 September 2022.
Diketahui selama ini penggunaan kata Muntok terpengaruh penulisan dalam bahasa Belanda, sementara dialek masyarakat menyebut dengan kata Mentok.
Daerah Mentok merupakan salah satu destinasi sejarah nasional.
Saat perang kemerdekaan berkecamuk, pernah menjadi lokasi pengasingan sejumlah tokoh bangsa.
Termasuk juga yang diasingkan kala itu tokoh Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.
Pemerintahan kolonial Belanda membangun daerah Mentok karena kaya akan timah dan rempah-rempah.
Di daerah ini masih bisa ditemukan berbagai peninggalan khas Eropa seperti Pesanggrahan Menumbing dan Mercusuar Tanjung Kalian
yang masih beroperasi hingga saat ini. (ynr)
https://bangka.tribunnews.com/2023/0...barat?page=all
gak sekalian m*nt*k
Sabtu, 20 Mei 2023 08:25

Bupati Bangka Barat Sukirman dan Ketua DPRD Bangka Barat Marudur Saragih menandatangani pengesahan perubahan nama Muntok menjadi Mentok, di Gedung Mahligai DPRD Bangka Barat, Jumat (19/5/2023).
BANGKAPOS. COM, BANGKA- Jumat (19/5) kemarin, merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Bangka Barat.
Setelah 13 tahun, nama Ibu Kota Kabupaten Bangka Barat yang sempat diganti menjadi Muntok, akhirnya kembali berubah menjadi Mentok.
Perubahan nama tersebut setelah pengesahan Raperda Hari Jadi Kota Mentok pada rapat paripurna di Gedung Mahligai DPRD Bangka Barat, Jumat (19/5).
Pengesahan ditandai dengan penandatangan Raperda Hari Jadi Kota Mentok oleh Bupati Bangka Barat, H Sukirman dan Ketua DPRD Bangka Barat.
Kembalinya kata Mentok sebagai Ibukota Bangka Barat, sesuai dengan UU Nomor 5 tahun 2003 Pasal 10 Ayat 3 dan Permendagri tahun 2022.
Bupati Bangka Barat, Sukirman mengatakan dengan ditetapkannya perubahan nama Muntok menjadi Mentok telah menjawab kegelisahan masyarakat.
“Masyarakat kita sebenarnya dari dulu menyebutkannya Mentok. Tapi dulu ditetapkan menjadi Muntok saat zaman kolonial Belanda,” ujar Sukirman kepada Bangka Pos usai rapat paripurna, Jumat (19/5).
Perubahan tersebut, kata Sukirman atas kesepakatan bersama Tim Pansus dan juga melibatkan usulan dari tokoh adat dan budayawan.
“Hari ini kita pastikan bahwa dengan kesepakatan bersama dan juga usulan dari tokoh adat, budayawan, kami (Pemkab-red) bersama DPRD dan Forkopimda telah menetapkan tulisan Muntok menjadi Mentok,” ungkapnya.
Ia menambahkan, terkait administrasi seperti Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran yang masih menggunakan nama Muntok dapat disesuaikan.
“Untuk administrasi mulai sekarang, yang sudah terlanjur tidak masalah masih disesuaikan. Yang masa lalu sudah dianggap Mentok, jadi tetap lolos administrasi,” ucapnya.
Tak Sinkron dengan UU
Terpisah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat (Babar), Muhammad Ali menjelaskan sebelum disahkannya nama Ibukota Muntok menjadi Mentok dalam Rapat Paripurna Bangka Barat, Jumat (19/5).
Ia mengungkapkan, awalnya dalam Perda Lambang Daerah tahun 2005 silam, nama Ibukota Bangka Barat bernama Mentok.
Kemudian berubah menjadi Muntok di tahun 2010 sesuai Perda Hari Jadi Kota Muntok.
“Hal ini sempat menjadi perhatian dari semua pihak karena tidak sinkron dengan undang-undang,” kata Muhamad Ali kepada Bangka Pos, Jumat (19/5).
Padahal menurutnya sudah jelas, dalam UU Nomor 5 tahun 2003 tentang pembentukan empat kabupaten pemekaran di Pasal 10 ayat 3 bahwa Ibukota Kabupaten Bangka Barat ditetapkan di Mentok.
“Sehingga kami kemarin melakukan kajian akademik lagi dan mengusulkan ke DPRD lalu dibentuklah panitia khusus (Pansus). Alhamdulillah setelah dilakukan pembahasan panjang dan pengkajian secara mendalam, Raperda Hari Jadi Kota dengan nama Mentok, sudah sesuai dengan Undang-undang dan Permendagri tahun 2022,” jelasnya.
Berkaitan dengan penggunaan kata Muntok dalam administrasi kependudukan, tetap dianggap Mentok.
Namun untuk papan nama, sekolah dan lainnya dapat diubah.
Hal ini sesuai amanah yang tertuang di dalam Perda yang telah disahkan.
“Kalau untuk administrasi yang masih menggunakan kata Muntok, itu dianggap Mentok, karena jauh sebelum ada perubahan ini menggunakan kata Mentok,” jelasnya.
“Sedangkan papan nama sekolah, nama instansi, nomenklatur di surat yang masih diubah, itu harus diubah secara bertahap,” tukas Ali.
Kota Mentok tahun ini akan berusia 289 tahun, tepatnya pada 7 September 2022.
Diketahui selama ini penggunaan kata Muntok terpengaruh penulisan dalam bahasa Belanda, sementara dialek masyarakat menyebut dengan kata Mentok.
Daerah Mentok merupakan salah satu destinasi sejarah nasional.
Saat perang kemerdekaan berkecamuk, pernah menjadi lokasi pengasingan sejumlah tokoh bangsa.
Termasuk juga yang diasingkan kala itu tokoh Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.
Pemerintahan kolonial Belanda membangun daerah Mentok karena kaya akan timah dan rempah-rempah.
Di daerah ini masih bisa ditemukan berbagai peninggalan khas Eropa seperti Pesanggrahan Menumbing dan Mercusuar Tanjung Kalian
yang masih beroperasi hingga saat ini. (ynr)
https://bangka.tribunnews.com/2023/0...barat?page=all
gak sekalian m*nt*k

0
758
13


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan