KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ba0a446620881e04c8b4569/yang-hidup-bercerita-dwilogi-100-tahun-setelah-aku-mati

YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)

Tampilkan isi Thread
Halaman 34 dari 35
Sudah setengah windu rupanya
Agan mark, kpn up lgi klanjutannya?
Jgn drop ya plis. Udh trlalu bnyk yg drop crita dri kaskuser epic
Titip sendal emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan
Absen ah, btw sk bgt cerita 100 tahun setalah aku mati

APAKAH AKU MEMBUNUHNYA?


Aku sering heran dengan diriku, bahkan sampai sekarang. Dari kecil sampai dewasa selalu ada saja hal-hal yang menyusahkan terjadi padaku. Seperti malam ini, aku tidak menduga kalau Rachel sedang mengandung seorang bayi dari teman lelakinya yang brengsek. Sialnya aku terjebak di sebuah situasi yang membuatku seolah menjadi seorang terdakwa. Dewi menganggap aku menghamili Rachel, Jimmy menganggap aku merebut Rachel darinya, dan Risa yang pasti sedang senewen denganku. Aaaaaagggghhhhh. Sepertinya aku memiliki bakat khusus dalam hal terlibat sebuah masalah.

Saat itu sudah hampir tengah malam, sial bagi kami karena seluruh penghuni rumah ini belum juga kembali dari kerja praktek, dan hanya menyisakanku bersama Dewi dan Rachel.

“Wi, kamu temani Rachel. Jika situasinya memburuk hubungi polisi!” kataku kepada Dewi.

“Itu siapa,Zal? “ tanya Dewi.

“Itu pacarnya Rachel, Cepat masuk ke kamarmu dan kunci pintu.”

“Zal, kamu ngerebut pacar orang?” Dewi masih sempat-sempatnya bersuudzon denganku di waktu genting ini.

“Wi, tolong percaya aku. Sekarang kamar dulu!” jawabku dengan keras, Dewi segera masuk kamarnya menemani Rachel.

Aku berjalan menuju pintu, melewati beling-beling kaca yang berserakan di lantai. Beruntung aku tidak melepas sepatuku tadi. Jimmy sudah berada di depan pintu, berdiri tenang tapi tidak dengan raut wajahnya yang begitu tegang menahan amarah. Kubuka pintu dan langsung ia dorong aku dengan begitu kuat hingga aku menabrak tembok.

“Sedang bersenang-senang?” tanya Jimmy yang mencengkram kerah leherku kemejaku.

“Oke, kita bisa bicara baik-baik, sungguh ini tidak seperti kelihatanya. Jimmy, kamu harus tau kalau …..” Buggggghhhh dia meninjuku tepat di ulu hati, aku membungkuk memegangi perut.

“Ugghhh, tenanglah. Aku tidak! ….” Bugggghhh sekali lagi ia memukulku dengan sekuat tenaga, kali ini tepat di pelipisku. Aku limbung dan terjatuh diatas pecahan beling, crep-crep-crep kurasakan sensasi ngilu di lenganku ketika aku tertusuk ratusan pecahan kaca itu. Jimmy melewatiku yang masih kepayahan karena mendapat dua pukulan keras itu, melewati dengan menendang wajahku tentunya, dan hidungku mimisan seketika.

“Rachel!” teriak Jimmy di ruang tengah.

“Siapa kamu! Balas Dewi yang muncul dari dalam kamarnya diikuti Rachel yang berlindung di balik punggungnya”

` “Aku tidak memiliki urusan denganmu!” Jawab Jiimy sambil mendorong Dewi dan menarik Rachel.

“Enugh! “ jerit Rachel, lalu Plak! Dia menampar Jimmy dengan keras dan mulai berdebat. Dewi yang melihatku ambruk segera berlari menghampiriku.

“Zal, kok malah begini jadinya sih..” kata Dewi ketakutan sambil memeriksa keadaaku.

“Aku ga nyangka kalo kamu berani ngrebut pacar orang sampe hamil gitu, aku kecewa sama kamu,Zal” kata Dewi lagi, kali ini tidak cuma hantaman dari Jimmy yang menyakitiku, tapi juga tuduhan dari Dewi barusan.

“Wi, aku udah bilang kan, ini gak seperti yang kamu pikir” Jawabku sambil melihat lenganku yang tertancapi potongan-potongan kaca.

“Kalau kamu ga begitu, kenapa bisa sampe begini” Kilah Dewi lagi.

“Kita bahas nanti, Wi” Kataku sambil melirik kearah Jimmy dan Rachel. Aku berdiri sambil meringis. Dewi membantuku berdiri.

“Ini gara-gara dia kan!” kata Jimmyi begitu melihatku sudah berdiri, Rachel menhalanginya.

“Dia tidak bersalah! Ini semua ulahmu!” teriak Rachel dengan sangat marah. Lalu, Brught Jimmy memukul Rachel, benar-benar memukul dengan sekuat tenaga di bagian perut sampai Rachel jatuh dan tak bergerak lagi.
**
Mataku melotot melihat perlakuan biadab itu, seorang lelaki bertubuh besar dengan entengnya memukul seorang wanita yang notabene adalah kekasihnya sendiri yang tengah hamil hingga jatuh tak bergerak. Brengsek, benar-benar brengsek! Tubuhku bergetar seketika, sesuatu yang panas terasa memenuhi dadaku. Dewi yang merangkulku paham apa yang sedang terjadi denganku.

“Zaal.. Zall, sabar jangan kebawa emosi” begitu katanya sambil memegangiku lebih kuat. Aku melepaskan tanganku dari rangkulan Dewi.

“Nggak bisa seperti ini, Wi!” kataku sambil berjalan menuju Jimmy. Aku mendekati lelaki itu, lelaki yang sedang tersenyum puas setelah berhasil menyakiti wanitanya.

“Lihat! Ini yang pantas dia dapat setelah membuangku begitu saja” Kata Jimmy dengan senyum menjijikan kearahku. Semakin aku mendekatinya, semakin emosiku tidak tertahan. Tanganku mengepal, otot-ototku menegang, dan tulang di tangan kananku sudah berbunyi karena kukepal sedemikian keras.

“Dan kamu pantas mendapatkan ini!” Blughhhh… sebuah pukulan keras kuarahkan tepat di rahannya, membuat Jimmy terjatuh menimpa kursi kayu.

“Wi, Bawa Rachel!” Dewi segera menarik tubuh Rachel yang terkulai lemas dengan setengah menyeretnya menjauhi kami. Aku benar-benar tidak ingin berkelahi, terakhir kali aku berkelahi tidak berakhir dengan baik. Tapi melihat hal tadi benar-benar tak kuasa rasanya ku menahan diri.

Aku masih berdiri disamping Jimmy yang melenguh kesakitan memegangi dagunya. Kutarik segera badannya untuk berdiri sejajar, dan dengan cepat ia menyikut pipiku. Aku mundur dua jengkal, sambil menunduk, aku merasakan ada yang sobek di bagian dalam mulutku, kuludahkan darah yang berkumpul di mulut. Belum sadar aku ketika kurasakan sebuah lutut mendarat persis di telingaku. Ahhhh rasanya sakit sekali, aku kembali ambruk kesamping. Aghhhhhhh

“Rizal! “ Dewi berteriak, berusaha mendekat.

“Polisi! Telpon polisi! Jangan kemari!” Bughhh, buggghhh, buggghhh Jimmy menghajarku bertubi-tubi. Dewi menghiraukan ucapanku dan malah mendekat, meneriaki Jimmy yang menindih sambil memukuliku. Jimmy memberikan pukulan seperti orang kesetanan, posisiku sangat tidak menguntungkan untuk membalas karena aku terjepit diantara tembok dan sebuah sofa besar, yang bisa aku lakukan adalah melindungi wajahku menggunakan tangan yang sudah terluka akibat pecahan kaca.

“Stop it!” pekik Dewi sambil mencoba menarik leher Jimmy, Jimmy yang sudah hilang kendali lantas mengarahkan sikutnya tepat mengenai pipi Dewi dan tentu saja Dewi langsung terjengkang dengan mulut berdarah.

“Dewi!” teriakku sambil menjejakan kakiku tepat didada Jimmy, ia terjengkang. Segera kubalik keadaan dengan duduk menindihnya. Bugghhhhtttt. Sebuah pukulan keras kuantarkan tepat di mulutnya, gigi-gigi depannya lepas, kurasakan tulang-tulang jariku bergeser dari tempatnya, kulakukan itu berkali-kali. Jimmy melakukan perlawanan, beberapa kali pukulannya mengenai wajahku, dan setiap kali aku mendapat pukulan kurasakan rasa sakitnya berkurang, entah tenaganya sudah habis atau aku yang sudah kebas.

“Rizal! Berhenti!” teriak dewi sambil memegangi lenganku.

“Belum, ini belum cukup” kataku sambil terus memkul kepala orang yang sudah berdarah-darah itu. tangan kananku sudah berlumur darah, darahku dan darahnya bercampur menjadi satu. Ya, aku merasakan itu sekali lagi. kesenangan itu. menghajar orang brengssek ini terasa sangat menyenangkan. Aku ingin dia mendapatkan rasa sakit lebih, ya sebentar lagi akan cukup, batinku sambil terus memukulnya. Jimmy sudah tidak melawan, ia tidak bergerak. Mungkin pingsan atau mungkin sekarat. Aku tidak peduli, aku terus melakukannya. Sebentar lagi aku akan berhenti, aku mulai tersenyum puas. Buggghhh kubenamkan pukulan terakhirku kewajahnya dalam dalam. Sambil mengatur nafas aku menoleh kiri kanan. Harusnya ini cukup, tapi aku benar-benar belum puas. Aku berdiri meninggalkan tubuh Jimmy yang tergeletak di lantai, Dewi memegang tanganku sambil menangis.

“Zal, udah. Cukup!” jerit Dewi, tapi aku benar-benar tidak memperdulikan Dewi sama sekali, suaranya terdengar samar. Aku mengambil sebuah bola bowling milik Wayan yang dia tata diatas sebuah rak. Benar, aku bermaksud menggunakan bola seberat 16 pon itu untuk menghancurkan kepala Jimmy. Dewi terus menarik tubuhku, ia tau betul apa yang ingin kulakukan dengan benda itu. tapi sekali lagi, aku tidak peduli.

Aku berdiri di samping Jimmy yang masih tergeletak bersimbah darah, jika matanya tak terpejam kupastikan ia akan terbelalak melihat apa yang akan kulakukan. Dan begitu tangan ku sudah siap menghempaskan bola bowling itu, Dewi memelukku dari depan. Membuatku mundur beberapa langkah.

“Jangan, Zal. Jangan! Istigfar” katanya sambil menangis.

“Jangan lakukan ini.. tolong jangan” kata Dewi lagi. ia beristigfar berkali-kali di telingaku. Nafasku masih memburu, kepalaku terasa begitu pening. Dan setelah itu aku baru sadar apa yang terjadi. Otot-ototku melemas, dan bola besi yang kupegang jatuh berdebam dan menggelinding ke sudut ruangan.

“Dewi.. hhff hffff” kataku sambil mengatur nafas, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Tubuhku terasa lemas, dan aku jatuh terduduk seketika.

“Apakah aku membunuhnya?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bangunari dan 11 lainnya memberi reputasi

PERMOHONAN MAAF WN

Halo, sudah hampir 4 tahun rupanya, maafkan saya agan dan aganwati kaskus semuanya🙏🏻

Mungkin sudah sangat terlambat untuk kembali melanjutkan kisah ini, tapi apapun itu saya akan menyelesaikan apa yang saya mulai. Dan semoga KASKUS masih menjadi rumah yang nyaman untuk bercerita, seperti dahulu.

Jika boleh sedikit curhat, kisah 100TSAM ini sedikit banyak memantul ke kisah hidup saya sendiri. Maksud saya, setidaknya saya menjadi sama yatim piatunya dengan Mas Rizal sekarang.

2018 Bapak saya sakit keras, dan akhirnya berpulang ke sang Khaliq pada 2020 lalu, setahun kemudian di tahun 2021 ibu saya ikut menyusul Bapak ke surgaNya.

Lukanya belum kering betul, tapi saya siap kembali bercerita. Dan Saya tidak berharap banyak akan mendapat pembaca sedemikian besar seperti 100TSAM, saya hanya ingin membagikan kisah ini hingga usai.

Terimakasih dan mohon maaf
Salam hangat,

WN
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bangunari dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kulon.kali
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 15 balasan
Ke sini krn liat igsnya Iqbal..yesss siap menanti cerita ini dilanjutkeun pokoknya emoticon-Leh Uga
profile-picture
vai1990 memberi reputasi
Ke up lg, ga sangka muncul lgemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Asek akhirnya muncul lagi,, semoga updatrnya lancar emoticon-Toast
akhirnya dilanjut lagi ceritanya... semangat mas bro... emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
anggaava18 memberi reputasi
lanjutkan gan. gaskeunnnn!!!!

semoga bisa ikutin smpe ending
Selamat datang kembali gan,gaskeun lagiiiemoticon-Recommended Seller
profile-picture
arya56 memberi reputasi
Dahhh...udah hidup lagi ni thread..bakal ada bacaan lagi ni..
Salah satu cerita terbaik yang pernah ane dapet di Kaskusemoticon-I Love Kaskus (S)
Ayo lanjut lgi gan kami semua menantikan kekentangan ini
Masih kami nantikan gan
Ga sabar nunggu part selanjutnya. Disambi baca dr awal deh biar ga lupa" banget sm ceritanya 😁
Kita ga lupa mas. Biar 4 tahun kami masih mantengin tulisan ini..
terima kasih udah mau menyempatkan waktu untuk menulis di forum tercinta kita ini emoticon-I Love Kaskus
Welcome Back bro Kulon Kali....
Mungkin masih ingat dgn Id Awayaye yg sialnya udah lupa bneran password-nya Jd bikin id baru deh
Halaman 34 dari 35


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di