CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f375b768d9b175af43ae2d3/angus-poloso-legenda-ki-ageng-selo

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 11
Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
taulll dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
oke di subscribe
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Di save dulu gan, kayaknya horornya bahaya nih, mainannya santet
profile-picture
profile-picture
umanghorror dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 35 – (Test III) Gadis Kemenyan.

[Ella POV]

“Aku kenapa, pak? Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku dongkol.

“Kamu tadi kerasukan, nak. Ada sosok jin yang tengah menempel dalam jiwamu, sehingga kau akan dengan mudah dikendalikan olehnya.” Jawab pak Soleh menjelaskan.

“Jin? Mengendalikanku...?”

“Iya, dek Ella. Jin yang merasukimu sangatlah kuat dan merepotkan. Dan jin itu seperti ada untuk melindungi tuannya,” jawab Pak Suryadi. “Apa kau atau keluargamu melakukan sesuatu perjanjian dengan jin?”

Aku menggeleng,

Membuat mereka berdua merasa ganjil dan curiga. Namun, perasaan itu segera mereka tepis, dan menganggap kejadian itu merupakan ketidaksengajaan.

Karena ada urusan lain, Pak Suryadi dan Pak Soleh meninggalkanku seorang diri di ruang UKS. Mereka berjanji akan memanggil Nanda untuk menemaniku, membuatku sedikit lega.

Setelah mereka berdua pergi, aku kembali membaringkan badanku di atas ranjang sembari berpikir. Apa dan siapa bayangan seorang selir itu dan mau apa dia dariku.

Belum lama aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang terus membisikkan kata-kata jahat ke dalam batinku. Seperti mencoba mengendalikanku lagi.

Bunuh Cindy... bunuh mereka semua...!
Dengan membunuh mereka, kehidupanmu akan damai di sini... bunuh dia... bunuh mereka!

Suara itu terus membisikkan sesuatu yang jahat, sampai aku tak kuasa menahannya dan membuatku lepas kendali. Namun syukurlah karena Nanda datang dengan membawa Lukman, pacarnya.

“Kau sudah baikan, El?” tanya Nanda dengan suara kecil yang merupakan khasnya. “Tadi pak Suryadi memberitahu kalau kau sudah siuman,”

“Kau bisa lihat sendiri kan? Aku nggak apa-apa kok! Hanya saja sedikit lemes badanku,” jawabku ketus.

“Sebenarnya apa yang terjadi sih, Ella? Kok kamu bisa kesurupan gitu? Mungkin kami bisa membantu gitu,” tanya Lukman langsung ke topik permasalahan. “Ya itu kalau kau mau cerita... kalau nggak, kami juga tidak akan memaksa kok!”

Aku menghela napas panjang.

“Entah aku juga tidak tahu. Sedari kemaren malam aku selalu dihantui oleh sosok selir yang mengaku sebagai titisan dariku,” jawabku jujur dan terbuka pada mereka. “...Setelah itu, aku sering mendengar suara bisikan-bisikan yang begitu jahat untuk melukai, bahkan membunuh siapapun yang menjahiliku. Entah, aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang ini!”

Mereka berdua diam sembari mengangkat dagu, mencoba memikirkan apa yang kualami dan bagaimana caranya untuk membantuku. Namun mereka juga buntu, sama sepertiku.

Tidak ada jalan lain untuk mengakhiri ini, selain menemui seseorang dari keluarga Marwan itu.

...

Keesokan paginya, rumah kami digedor-gedor oleh seseorang. Aku yang waktu itu kurang enak badan, karena selir itu selalu menemuiku setiap malam, baik di saat aku terjaga, ataupun saat aku tertidur.

Ketika aku membuka pintu, aku lihat kak Tio sudah membuka pintu itu. Dan dari sana, masuklah ketiga orang bermuka sangar, berbadan kekar, segera mendaratkan pukulan ke arah perut kak Tio.

“Dimana dia... dimana adikmu, Ella!?” tanya salah satu dari mereka mengancam. “Adikmu itu telah melukai anak bos kami, sampai koma di rumah sakit!”

“A—Apa? Itu tidak mungkin. Adikku Ella adalah gadis yang baik, pendiam, dan penurut!” jawab kak Tio membelaku. “Mana mungkin adikku bisa melakukan hal sekejam itu!?”

“Masih berani juga, ya kau bicara seperti itu!!” mereka langsung memukuli kak Tio lagi, namun kali ini sampai dia babak belur dan memuntahkan darah.

Keriuhan yang terjadi di rumah kami membawa perhatian para tetangga untuk datang melihat. Namun sangat disayangkan, di antara mereka tidak ada yang berani masuk dan melerai ketiga preman tersebut.

Tak mau melihat kakakku menderita, aku beranikan diriku untuk menemui mereka. Mencoba membicarakan hal ini baik-baik, daripada harus adu jotos. Silvia yang waktu itu sedang mandi segera menyudahi mandinya dan ikut menemui ketiga preman tersebut.

“Kakak...!” panggil Silvia cepat. “Kakak baik-baik saja?”

“Tenang, kakak baik-baik saja kok!” jawab kak Tio menenangkan Silvia yang masih kecil itu.

“Aku yang bernama Ella. Mau apa kalian di rumahku dan mengobrak-abrik rumahku, he!?” kataku yang mulai geram melihat tingkah laku mereka bertiga. “Sekarang, aku minta kalian untuk segera keluar dari sini...! aku akan menangani masalah ini esok hari!”

Salah satu preman itu langsung menampar mukaku sampai terduduk karena ancamanku barusan. “Pinter! Kalian... cepat bawa gadis kecil itu sebagai jaminan. Kalau dia macam-macam, kita akan kuliti tubuh gadis kecil ini! Ayo cabut.”

Mereka bertiga menculik adikku, Silvie, tanpa aku bisa berbuat apapun untuk menolongnya. Para tetanggaku bahkan tidak berbuat sesuatu untuk menolong adikku itu. Dasar pengecut!

Malam harinya, aku ditanyai habis-habisan oleh kak Tio. Namun, aku masih belum bisa jujur mengenai paman Rendro, tapi untuk masalah Cindy cs, aku katakan semuanya.

“Jadi, kamu melukai Cindy dan kawan-kawan itu, ya?” tanya kak Tio, dengan nada kalem. “Mengapa kau sampai melakukan itu semua? Dan bagaimana kau bisa melakukan semua itu hanya dengan tanganmu, Ella?”

“Entahlah, kak. Ketika mereka membullyku, aku bisa mendengar bisikan-bisikan jahat yang terus membisikkan untuk melukai, bahkan membunuh mereka,” jawabku jujur. “Kata Nanda, dan juga Pak Soleh, aku kemaren itu kesurupan. Ya, aku sih tidak tahu, karena waktu itu aku kehilangan kesadaran.”

“Hmm... kakak punya kenalan, seorang supranatural. Dia sudah sering mengobati orang-orang kesurupan. Apa kau mau?” kata kak Tio memberikan saran. “Dia pasti bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkanmu. Dan terlebih lagi, dia adalah murid dari salah satu cicit kyai Marwan!”

Tiba-tiba setelah mendengar kata ‘Marwan’, aku tidak bisa mengendalikan diriku kembali. Dengan cepat aku tarik kerah kak Tio dan melemparnya sampai membentur ke tembok.

“Jangan kau sebut nama Marwan di hadapanku, bocah!” ujar sosok yang merasukiku. “Aku benci nama itu... kalau tidak kau ucapkan lagi, aku akan dengan senang hati melepas adikmu. Haha...!”

“Awh, Astagfirullah...! Dasar jin laknat!” jawab kak Tio menahan rasa sakit karena habis dibanting. “Ternyata paman biadab itu telah melakukan sesuatu pada adikku. Keluar kau dari tubuhnya. Selir Ninggolo Geni!”

[Tio POV]

Ella yang kerasukan sempat terdiam untuk sejenak. “Hahaha... tak kusangka kau mengenalku, bocah! Iya, aku adalah selir Ninggolo Geni, penguasa cakrawala. Dan adikmu ini adalah wadah yang cocok buatku untuk mewujudkan semua ambisiku. Hahaha...!”

“Apa maumu dari adikku?” tanyaku sembari mencoba berdiri.

“Gadis kemenyan!” jawabnya singkat. “Adikmu ini adalah gadis kemenyan, kau tahu itu? Dan aku lah yang telah memindahkan roh yang ada di bukit kemenyan ke dalam rahim ibumu. Dengan begitu, dia mampu melahirkan Ella, adikmu itu.”

“Apa?” kataku tak percaya.

“Asal kau tahu... sebelum Ella ada di dalam rahim ibumu, ibumu sempat mengandung bayi perempuan, namun setelah kandungan berusia empat bulan, secara tiba-tiba kandungan yang sedang dikandung ibumu itu keguguran. Karena tak kuasa dengan mental yang diterima oleh ibumu, ayahmu dan juga pamanmu mencoba peruntukan di sebuah bukit penuh pohon kemenyan, yang sering disebut sebagai bukit kemenyan,” jelas Ella kerasukan dengan muka pede. “Di sanalah, mereka mencoba melakukan sebuah ritual untuk mendapatkan anak kembali. Di sana, mereka mengambil sebatang pohon kemenyan setelah dua hari bertapa, dan kemudian memasukkan serpihan-serpihan pohon kemenyan itu ke dalam minuman ibumu. Dari sanalah mereka akhirnya mendapati kalau ibumu akhirnya hamil kembali. Iya, itu adalah Ella!”

“Jangan bodohi aku dengan kebohonganmu, jin kafir! Atas nama Allah SWT yang Maha Agung, aku perintahkan padamu untuk cepat keluar dari raga adikku, atau akan kubakar kau!”

Ella tertawa terbahak-bahak mendengar ancamanku. “Hahaha... lakukan saja kalau kau berani. Namun, aku telah mengatakan padamu sebuah kejujuran. Kalau kau tidak percaya, silahkan saja. Tapi, jangan sampai kau menghubungi siapapun dari keluarga Marwan, atau aku akan membunuh adikmu ini. Hahahah...!!”

Seketika, tubuh Ella lemas dan terjatuh, menandakan kalau jin keparat itu telah keluar dari tubuhnya.

“Aku harus segera menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini. Dan demi Allah, aku tak rela apabila adikku dijadikan sebagai anggota dari sekte sesat itu!”

Tak peduli dengan ancaman dari Ninggolo Geni yang bersemayam di tubuh adikku, aku bergegas menghubungi beberapa santri yang aku kenal pernah belajar ilmu kanuragan (ilmu hikmah) dan ilmu agama di ponpes Abdurrahman, ponpes yang merupakan tempat para keturunan kyai Marwan menimba ilmu. Dan dari sana, aku mendapat beberapa pertolongan seperti santri-santri yang dengan senang hati ikut membantu. Mereka membagi menjadi penjaga, di keluarga Cindy dan juga teman-temannya yang pernah dilukai oleh Ella. Karena memungkinkan kalau nyawa mereka saat ini sedang dalam bahaya.

Dan selain itu, ada dua ustadz yang merupakan murid dari Mbah Jayos yang kini berdomisili di wilayah Jember bersedia membantuku dalam melakukan pengusiran dan pembatalan kontrak dengan penguasa sekte Mata Satu. Dan yang terakhir adalah, bantuan dari polisi Ir. Rio dalam pelacakan penculikan Silvia.

Keesokan harinya, aku larang Ella untuk bersekolah hari ini, aku pun juga sudah menitipkan surat absen pada pak sopir. Ketika waktu menunjukkan pukul sebelas siang, terdengar suara ketukan pintu dan juga salam, membuatku segera membukanya.

Ternyata mereka adalah dua ustadz yang bersedia membantu juga Ir. Rio. Mereka datang karena ingin menanyakan perihal keseluruhan kejadian yang menimpa keluargaku beberapa waktu yang lalu.

Aku ceritakan semua hal kepada mereka, dan mereka pun manggut-manggut mengerti.

“Iya, sebenarnya saya tidak begitu mengerti akan urusan kegaiban seperti itu, namun lebih baik jikalau pihak kepolisian mengambil alih kasus penculikan adik mas Tio yang bernama Silvia itu,” kata Ir. Rio tegas. “Untuk urusan mengenai kegaiban, anda bisa berkonsultasi dengan kedua ustadz di samping saya. Mereka adalah ustadz yang kompeten kok!”

“Iya, makasih banyak, Ir. Rio! Kami sekeluarga sangat berterima kasih,” jawabku sekenanya.

“Perkenalkan, namaku adalah Ustadz Irham dan di sampingku ini adalah Ustadz Ilham. Kami datang ke sini untuk membantu masalah anda mengenai kegaiban,” sahut ustadz Irham memperkenalkan diri. “Namun, kami di sini hanyalah sekedar membantu semampunya. Itu semua tergantung dengan Dzat yang Maha Tahu. Semoga misi kali ini, kita semua diberikan petunjuk dan keberhasilan.”

“Amin!”

Tak berapa lama, Ella datang sembari menyuguhkan kopi dan snack untuk mereka bertiga. Kedua ustadz mencoba untuk menerawang dan melihat ke jiwa Ella, mereka tak mendapati adanya keanehan, seperti auranya keganggu, bagaikan batu yang dilempar ke air tenang.

Untuk itu, ustadz Irham pun meminta Ella untuk bersedia di ruqyah, dan tanpa perdebatan lebih panjang, Ella pun setuju. Dengan segera, Ella kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Setelah itu, kami mengobrol remeh temeh untuk waktu beberapa saat, sampai terdengar suara dobrakan pintu belakang. Mendengar itu, kami semua segera berlari menuju ke tempat sumber suara itu.

Sesampainya di sana, kami berempat melihat pintu belakang hancur lebur, seperti didobrak oleh sesuatu, atau malah dihancurkan oleh meriam, sampai keadaannya seperti itu. Dan ketika aku hendak memanggil Ella, tidak ada sahutan maupun jawaban keluar dari kamarnya.

Karena khawatir, Ir. Rio berserta ajudannya segera bergegas untuk melakukan pencarian kepada Ella. Sementara kedua ustadz itu segera menyuruhku untuk mengikutinya.

Sepertinya mereka tahu apa yang terjadi terhadap Ella dan kemana dia pergi saat ini. Namun, sebelum mereka bercerita, mereka berdua ingin memastikan sesuatu padaku.

“Apa Tio siap untuk mendengar?” tanya ustadz Irham lembut. “Siap mendengar apa yang akan aku sampaikan? Kalau belum, sebaiknya tidak akan kami ceritakan saat ini juga. Kalau sudah, kami akan memberitahukan sesuatu mengenai adikmu.”

Tak tahu mengapa, siap ataupun tidak siap, aku sudah siap untuk mendengarnya.

“Ya, ustadz Irham. Saya sudah siap mendengarnya. Apapun yang akan kudengar nanti, aku Insya’allah akan menerimanya,” jawabku mantap. Setelah itu, akupun mencoba mengambil napas panjang-panjang untuk mendengar akan apa yang dibicarakan oleh ustadz Irham.

“Adik mas Tio... telah terbelenggu oleh iblis yang menjadi sesembahan sebuah sekte sesat. Kami tak tahu apakah kami bisa menyelamatkannya, namun insya’allah kami akan berjuang semampunya.” Kata ustadz Irham. Dia pun mengisap sisa rokok yang dia punya. “Dan jikalau dek Ella mengizinkan iblis itu bersemayam di dalam tubuhnya dengan suka rela, maka jiwa dan tubuh adek mas Tio tidak akan bisa diselamatkan lagi, dan kita harus segera membunuhnya!”

Setelah aku mendengarnya, aku pun shok seketika. Apa tak ada cara lain selain harus membunuhnya. Namun, mereka berdua hanya menggeleng. Yang mana itu berarti kami harus segera menyelamatkan Ella.

...

[Silvia POV]

Di suatu tempat yang jauh, di dalam sebuah bangsal kuno. Di sana mereka bertiga melakukan penyiksaan fisik dan batin terhadapku. Mereka mengikatku dan menyandarkanku ke sebuah tiang di sana.

“Mau kita apakan gadis kecil ini, bos?”

“Kita belum mendapat perintah langsung dari Nona Saraswati. Jadi, kita tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu apapun kepada gadis ini,” jawab pemimpin preman itu.

“Ahh... jika tahu begini, aku takkan mau mengikuti perempuan setan itu. Dan untuk gadis kecil ini, biasanya aku sudah memenggal kepala gadis kecil ini dengan gunting besar yang kupunya dan menaruh kepalanya di salah satu tiang jembatan sebagai tumbal!”

“Hush... jangan kau sebut nama perempuan itu. Bahaya!” sahut pemimpin preman itu memperingatkan. “Kita sudah sama-sama tahu kalau sudah berapa banyak dari kita yang sudah ia bunuh. Apa kau mau menjadi salah satunya, he?”

Mereka bertiga akhirnya terdiam.

“Tolong... tolong!!” teriakku, memanggil sebuah pertolongan.

“Cih! Bisa diam nggak kamu, gadis kecil? Teriaklah sesuka hati begitu kami bertiga pergi dari sini ya!? Lagian seberapa keraspun kau berteriak meminta tolong, tidak akan ada satupun orang yang akan menyelamatkanmu.” Jawab pemimpin preman itu bangga.

“Eh...? kakak tolong... aku takut, kak, takut!”

Karena aku tak bisa diam, mereka mengeluarkan sebuah silet yang kemudian mereka sayatkan silet tajam itu ke arah kupingku. Darahpun merembes keluar dari kuping, dan akupun berteriak kesakitan.

Melihatku yang masih seperti menahan rasa sakit, membuat mereka tidak puas. Mereka pun kembali menyayat telingaku yang satunya, membuatku menjerit kesakitan untuk kedua kali. Masih belum membuat mereka puas sama sekali.

Sampai...

“Bos, kita perkosa saja nih gadis dua belas tahun ini. Pastinya, dia sudah tahu bagaimana merawat anak kan, bos?” usul salah satu dari mereka. “Kan, Nona Saraswati melarang kita untuk melakukan apapun kepada gadis itu, dan sekarang ini dia tidak ada di sini. Jadi pastinya kita bakal aman-aman saja.”

Pemimpin preman itu manggut-manggut.

“Idemu boleh juga tuh! Oke, ayo kita telanjangi gadis ini!”

Ketika kondisiku yang tidak menguntungkan, aku harus melihat mereka melepas pakaian-pakaian mereka. Dan ketika mereka sudah selesai, mereka bergegas melepaskan pakaianku. Aku yang waktu itu dalam kondisi lemas, tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah mereka melakukannya.

“Kakak... tolong selamatkan Silvie,” gumamku lirih. Dengan tatapan kosong dan pasrah.

Tiba-tiba, ketika mereka hendak melakukan sesuatu padaku, terdengarlah suara jeritan dari luar bangsal tua itu. Suara itu terus menggema sampai salah satu tubuh seorang preman melesat menghantam pintu bangsal dan melesat secepat kilat menghantam tembok, membuat kepalanya hancur seketika.

Tak berhenti sampai di situ, kelima tubuh preman yang ada diluar bangsal itupun kembali melesat dengan cara yang sama,

“Apa-apaan ini?” tanya pemimpin preman mendapati peristiwa yang aneh ini. “Siapa kau? Kalau berani, keluar pengecut!”

Tiba-tiba dari arah luar bangsal, muncul seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun yang menatap mereka bertiga dengan garang. Mereka bertiga tahu siapa gadis itu.

Ya, dia adalah kakakku, Ella.

Kak Ella pun melangkahkan kakinya mendekatiku. “Apa yang sudah kalian bertiga lakukan kepada adik tersayangku, he? Apa kalian ingin mati!?”

Ketiga preman itu, yang pada dasarnya memiliki ilmu kanuragan, bergegas menghadang jalan kak Ella di hadapanku. Saat itu, aku mulai menyadari kalau kak Ella yang ini berbeda dengan kak Ella yang kukenal.

“Jangan sombong kau! Sebelum kau mendekat ke arah adikmu, kami bertiga akan memenggal kepalamu!” sahut pemimpin preman itu membalas perkataan kak Ella tadi.

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys. Maaf lama karena sibuk RL dan sempat kena Writer Block lagi. Di chapter selanjutnya, kita tidak akan membahas mengenai chapter 36, namun Interlude lagi dengan judul "Ella Gadis Yang Malang" dan seperti interlude pada umumnya, chapternya tidak akan panjang.

So see you in next chapter. And thanks too...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kasihan silvy dpt pelecehan sexsual
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Gassskeun gan....
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 36 - (Test III) Ella, Gadis Yang Malang.

[Silvia POV]

Aku melihat ketiga preman yang kini berada di depanku, membelakangiku menyayat sedikit tangan mereka. Darah mereka yang keluar, segera mereka gunakan sebagai tinta untuk melukiskan sebuah simbol misterius. Dari sana, kita seperti diteleportasikan ke sebuah tempat yang aneh, yang mana langit berada di bawah, sementara tanah yang penuh dengan api berada di atas kita, dan dari sana keluarlah tiga genderuwo bermata satu dan bertanduk empat.

Aku tak bisa bayangkan, seberapa takutnya aku kala itu. Namun, kecemasanku jauh melebihi rasa takutku. Aku cemas kalau kak Ella kenapa-napa jikalau dia harus bertarung melawan ketiga genderuwo itu sendirian.

“Bagaimana gadis kecil? Kau takut?” tanya pemimpin preman itu penuh senyum percaya diri. “Kalau kau takut... sebaiknya kau menyerah saja dan aku akan mengampunimu. Itupun setelah kita bersenang-senang bersama,”

“...” kak Ella terdiam. Tangannya ia gerakkan, seperti hendak menari logat jawa kuno. Tiba-tiba ketiga genderuwo yang ada di depannya itu pun langsung bersimpuh, berlutut di hadapan kak Ella. “...Lingsir Wengi...”

Dan seketika itu juga, mereka kembali di tempat semula, dan para genderuwo itupun menghilang. Tak hanya itu, terdengar suara cekikikan kuntilanak hitam yang menyebar di seluruh penjuru bangsal. Membuat mereka semua ketakutan.

Tali yang mengekangku pun akhirnya terlepas. “Silvia... tutupi pendengaranmu!”

Tak tahu apa-apa, aku menurut saja semua perintah kak Ella, walaupun aku melihat kalau kak Ella yang ini, jauh berbeda dengan kak Ella ku yang biasanya.

“Bos... apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya kedua preman itu ketakutan. Karena mereka seperti melihat berbagai ilusi mengerikan, namun ketika mereka mengedipkan mata, ilusi itu lenyap, begitu seterusnya. “...Bos aku takut... aku takut bos!”

“Jangan khawatir, ah! Kita masih punya pusaka keris dari Nyi Saraswati.” Sahut pemimpin preman itu yang juga ikut ketakutan. Dia pun segera mengeluarkan kerisnya, namun kalian tahu apa yang terjadi?

Keris itu tiba-tiba berubah menjadi daun.

“Apa!? Keparat kau, Saraswati. Kau telah menipu kami semua demi menguji kemampuan Ninggolo Geni yang ada di tubuh gadis itu...!” umpat pemimpin preman itu kaget.

Terlalu lama waktu yang berlalu, para kuntilanak hitam itu segera melaksanakan tugasnya. Mereka menyentuh setiap pundak ketiga preman tadi, dan badan mereka tiba-tiba meleleh. Membuat mereka menjerit kesakitan, sampai mereka mati dan menguap.

Aku yang melihat tingkah kakakku itu benar-benar tak kuasa menahan ketakutan dan kekhawatiranku. Bahkan aku sempat ngompol di celana.

Tak berlangsung lama, pihak kepolisian dan juga ustadz Irham dan juga ustadz Ilham datang bersama kak Tio.

Ketika pihak kepolisian akan melakukan tembakan peringatan, kuntilanak hitam yang masih berada di sekitar bangsal, langsung menyerang dan memakan lima dari anggota kepolisian itu.

Melihat kejadian itu, Ir. Rio menyuruh sisa pasukannya untuk mundur beberapa langkah ke belakang, membiarkan kedua ustadz itu maju.

“Assalamu’alaikum,” sapa ustadz Irham mengucap salam dengan senyum penuh. “Dengan siapa kami bicara?

Kak Ella pun maju ke depan, disaksikan oleh puluhan kuntilanak hitam yang siap membantunya.

“Siapa kalian? Mau apa kalian denganku?” tanya kak Ella dengan nada garang. Seolah-olah dia sudah siap menyerang. “...kalau kalian kemari hanya untuk membuatku mendengar ocehan agama kalian, maka sebaiknya kalian pergi. Aku tak mau mendengarnya!”

“Ah... aku kira kau itu jin muslim,” seru ustadz Ilham. “Kalau bukan, dengan senang hati kami berdua akan melawanmu dan membebaskan dek Ella dari cengkramanmu, setan!”

Terlihat di sana, ustadz Irham sedang berbisik-bisik dengan kak Tio. “Dek Tio... begitu dek Ella menyerang, kau segera bawa dek Silvia keluar dari sini ya?”

“Tapi, pak ustadz...?” sahut kak Tio.

“Sudahlah. Serahkan saja semua pada kami. Insya’allah, kami bisa menyelamatkan dek Ella,” jawab ustadz Irham.

Kak Ella pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ustadz Ilham.

“Hahaha... seberapa lemah kau pikir diriku di matamu, ustadz? Kau itu hanyalah lalat di mataku yang tidak berarti apapun. Tahu!?”

“Hm... meski aku adalah lalat di matamu, namun kedudukanku jauh lebih tinggi darimu di hadapan Allah SWT. Tahu!?” jawab ustadz Ilham membalas pernyataan dari kak Ella.

“Berani juga kau, manusia,” sahut kak Ella sumringah. “Kalau itu maumu, baiklah... akan aku terima tantanganmu itu!”

Dan pertarungan antara kedua ustadz melawan kak Ella pun dimulai.

[Tio POV]

Puluhan kuntilanak hitam itu melesat mencoba menyerang kedua ustadz yang lagi terpaku melawan Ella. Inilah saat yang tepat untuk menyelamatkan Silvia dan segera membawanya keluar dari tempat ini.

Ella dengan mudah berhasil mendaratkan tendangannya ke arah dada kedua ustadz tadi, membuat mereka berdua terpental. Ketika ia melihatku yang telah mendapat kesempatan, dia bergegas menyerangku. Syukurlah, aku masih punya sebuah pusaka, yaitu liontin ibu yang selalu aku bawa di saku depanku. Dengan itu, aku berhasil terhindar dari serangan Ella.

Sebelum aku sempat membawa Silvia keluar dari bangsal, tiba-tiba melesat sesosok kuntilanak hitam merasuki tubuh Silvia. Dengan cepat Silvia melesatkan tangan yang penuh dengan kuku-kuku setajam pisau itu ke arah perutku, menembusnya sampai menembus punggungku.

“Nak, Tio. Cepat baca lafadz-lafadz Al-Qur’an! Jiwa Silvia masih bisa dengan mudah kau selamatkan,” ujar Ir. Rio yang kini tak tahu harus berbuat apa untuk menolong semua orang yang ada di sana.

“B-Baik!” sahutku segera. “A’UUDZU BI KALIMAATILLAAHIT-TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ!”

Setelah kubaca, tiba-tiba Silvia mengerang kesakitan. Kemudian, aku keluarkan liontin ibu tadi dan membacakan doa-doa lalu aku mendekatkan liontin itu ke arah dahi Silvia, dari itu, tubuh Silvia pun melemas dan dia jatuh pingsan.

“Cepat kita bawa pergi Silvia dari sini!” kata Ir. Rio yang kini merangkulku untuk meninggalkan bangsal itu.

Ketika kami keluar dari bangsal, tiba-tiba muncul ratusan siluman-siluman Rawageni yang menghadang kami dari segala penjuru. Di sana, kami bertemu dengan seseorang yang telah menyantet keluargaku.

Ya, dia adalah pamanku, Rendro.

“Wah... wah, kalian hebat juga bisa melarikan diri dari gejolak Ninggolo Geni di dalam sana. Aku salut terhadap kalian, terlebih kau, Tio!” ujar Rendro dengan penuh ancaman. “Tapi... sekarang ini akan menjadi akhir hayatmu, keluarga Kusumaningtyas!”

“Rendro!!!” aku berteriak keras, penuh kegeraman melihat pamanku ada di hadapanku. “Berkat dirimu, orangtuaku mati, karena dirimu Ella menderita, dan karena dirimu semua ini terjadi. Aku akan membunuhmu!!!”

“Hahaha... ah, iya. Akulah orang yang membunuh kedua orangtuamu, namun itu semua karena mereka begitu keras kepala dan ingin keluar dari sekte. Dan soal Ella, bukankah dia cuman adik pengganti. Dia hanyalah anak kemenyan!” jawab Rendro sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ancamanku barusan.

“Keparat!!” umpatku.

“Sabar, dek Tio. Sabar...!” Ir. Rio mencoba menenangkan emosiku. “Semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik.”

Dari belakang Rendro muncul seorang wanita dan ratusan anggota sekte Mata Satu. Wanita itu bernama Nyi Saraswati. Dia masih terlihat anggun, walaupun usianya sudah lebih dari seratus lima puluh tahun.

“Ah... kamu pasti Tio, putra Rekso,” ujar Saraswati tersenyum. “Aku tak menyangka bisa bertemu dengan kalian semua di sini.”

“Saraswati... apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rendro yang penasaran.

“Perang akan terjadi di sini. Ah... aku bisa merasakannya. Perang untuk mendapatkan Ninggolo Geni,” jawab Saraswati sambil menerawang ke suatu tempat yang jauh. “Kalau kau tak ingin berpartisipasi, cepat kau selesaikan urusanmu dengan bocah itu. Musuh yang akan datang bukanlah musuh yang sembarangan!”

“Siapa?” tanya Rendro.

“Dukun Mahasakti dan kedua tangan kanannya.” Jawab Saraswati.

Saat itu, tiba-tiba terdengar suara kilatan petir menyambar di mana-mana, seolah ingin membelah langit menjadi dua. Angin pun berhembus jauh lebih kencang, yang hampir sama seperti badai.

Dari sana, melesatlah sebuah percikan api hitam yang langsung menghantam di hadapan mereka semua.

Mereka adalah Ki Sugeng, Ki Susilo, dan Ki Ujek.

“Siapa kalian?” tanya Rendro. Dia tak tahu kalau di hadapannya itu berdiri tiga orang yang disebut sebagai dukun mahasakti. “Mau apa kalian ke mari?”

Ketika Rendro berkedip, Saraswati segera menarik tubuh Rendro ke samping. Begitu dia membuka mata, dari tempat Rendro berasal muncul belalang pemakan manusia, yang langsung memakan puluhan siluman-siluman yang berada di belakang Rendro tadi.

“Hahaha... kau ternyata masih gesit seperti biasa, Saraswati? Memang muridku satu ini tidak pernah berubah,” seru Ki Sugeng. “Ah, ternyata ada beberapa orang yang tidak ada hubungannya datang ke mari? Saraswati, apa kau undang ke mari untuk kau tumbalkan kepadaku?”

Saraswati menggeleng. “Bukan, guru. Mereka datang ke mari karena inisiatif mereka sendiri, dan menyelamatkan tubuh yang sudah dipilih oleh Ninggolo Geni sendiri,”

Tiba-tiba dari dalam bangsal, muncullah Ella yang kini rupanya sudah seperti mayat, dari tubuhnya penuh dengan darah dan mukanya sangat pucat. Namun yang aneh adalah tubuhnya baunya seperti bau kemenyan yang begitu menyengat.

“Rendro!!!” umpat Ella sambil menatap ke arah Rendro. Aku mulai khawatir. Di mana ustadz Irham dan ustadz Ilham. Apa mereka sudah kalah... atau malah mati?

“Dek Tio... kalau Ella ada di sini, itu berarti...” ucap Ir. Rio spontan. “Apa kedua ustadz itu sudah dikalahkan?”

Aku hanya terdiam, tak sanggup untuk menjawab pertanyaan Ir. Rio.

“Hehehe... ternyata dia rupanya, gadis kemenyan yang dipilih oleh Ninggolo Geni. Ini menarik sekali!” seru Ki Ujek sambil sedikit tertawa. “Sebaiknya kita segera memulai perburuan kita,”

“Tunggu dulu! Kita belum bisa memburunya sebelum dia menyelesaikan dendamnya. Tubuh gadis yang dipilihnya akan melayang begitu saja begitu kita tarik jiwa Ninggolo Geni dari dalam tubuhnya,” sahut Ki Susilo cemas. “Karena gadis yang bernama Ella itu telah mengikat jiwa Ninggolo Geni sendiri ke dalam tubuhnya.”

“Sejak kapan kau menjadi selembek ini, Ki Susilo? Bukankah engkau yang menyarankan untuk mendapatkan jiwa Ninggolo Geni itu?” tanya Ki Sugeng sedikit penasaran.

“Iya... aku hanya tak kuasa kalau target kita memilih seorang gadis sebagai wadahnya. Ini mengingatkanku dengan mendiang putriku!” jawab Ki Susilo menjelaskan.

Sementara mereka bertiga terdiam, tidak melakukan apapun, Ella melesat ke arah Rendro dan juga Saraswati. Dengan kecepatan secepat kilat, Saraswati mencoba melindungi Rendro dengan menariknya terbang ke belakang.

Tak berhenti sampai di situ, Ella mengeluarkan ular kobra dari dalam mulutnya. Ular itu kemudian menjalar, memanjangkan tubuhnya. Ketika ular itu hampir meraih pusar Rendro, dengan cepat ular itu menancapkan kepalanya ke perut Rendro dan menginjek racunnya ke dalam tubuhnya. Membuat Rendro menjerit kesakitan.

“Ahh... sakit!!” jerit Rendro. “Turunkan aku Saraswati. Biar aku yang menghadapi gadis kemenyan ini seorang diri!”

“Kau tak mengerti akan situasinya, Rendro! Kalau dia berhasil membunuhmu, maka jiwa keponakanmu itu akan menjadi satu dengan jiwa Ninggolo Geni secara sempurna. Dan di sana sudah ada ketiga dukun mahasakti yang ingin mencurinya!”

Dari kejauhan, Ki Sugeng bergumam, “Oh begitu ya...?”

Tanpa disadari, tiba-tiba Ki Sugeng sudah berada di belakang Saraswati dan juga Rendro. Dengan cepat, dia menusuk kedua orang itu dengan paku Cagak Bumi tepat ke arah jantung mereka. Meski keduanya punya ilmu kebal, maupun ilmu sekelas ilmu pancasona, bila ditusuk paku ini pasti ilmu mereka akan luntur, dan hanya menunggu kematian.

Mereka berdua tak bisa berbuat apapun, melainkan cuman menghempas ke atas tanah. Para anggota sekte Mata Satu yang lain segera bergegas menyerang Ki Sugeng, namun dengan mudah mereka bisa dibantai semuanya.

Melihat keduanya mati dengan begitu mudahnya, membuatku tak bisa berkata apapun, selain melongo, bahkan Ir. Rio yang berada di sampingku juga tak bisa berkata apapun, selain ketakutan dan gemetaran.

Setelah kematian kedua petinggi sekte Mata Satu, tiba-tiba dari tubuh Ella keluar aura gelap yang langsung membungkus tubuhnya, membuat seperti sebuah bulat telur.

“Ella... Ella...!!” teriakku, memanggil adikku itu.

“Tenang, dek Tio. Tenanglah!” sahut Ir. Rio. Yang meskipun dia ketakutan, namun dia masih mampu bergerak untuk menenangkanku.

Ketika Ki Sugeng, Ki Ujek, dan Ki Susilo hendak meraih aura yang membungkus tubuh Ella, tiba-tiba ada serangan yang dilakukan dari dalam cangkang itu. Membuat mereka bertiga segera menghindar secepat dan sejauh mungkin.

Tinggal menunggu waktu saja sebelum Ninggolo Geni bangkit kembali. Sebelum itu terjadi, tiba-tiba dari atas langit keluarlah ayat-ayat Al-Qur’an berwarna emas dan perak, segera membungkus cangkang telur yang mana terdapat tubuh Ella di dalamnya itu.

Dengan mudahnya, ayat-ayat Al-Qur’an itu berhasil menghancurkan cangkang telur dan membawa tubuh Ella jauh ke belakangku dan Ir. Rio. Di sana sudah berdiri seorang kakek, dan di sampingnya sudah berdiri ustadz Irham dan juga ustadz Ilham.

Setelah ditelisik, kakek tua yang memakai tongkat itu adalah Mbah Jayos.

[Mbah Jayos POV]

“Aha... ternyata di sini ada kalian bertiga, rupanya? Hahaha...!” ujarku menyambut mereka bertiga. “Kelakuan kalian sudah terlalu keterlaluan. Meski kalian adalah murid dari mendiang kakakku, Cokropati, namun aku tak bisa membiarkan kalian untuk membangkitkan iblis itu untuk menambah kesaktian kalian bertiga!”

“Diam kau, Jayos! Kami bertiga tidak punya urusan denganmu saat ini. Sebaiknya kau segera serahkan gadis itu kepada kami, atau nyawamu yang akan tergeletak di sini!” jawab Ki Sugeng geram, mengumpat.

“Ahaha... kau masih seperti dulu, Ki Sugeng. Terlalu berambisi untuk menentang agama dan juga Tuhanmu setelah kematian putrimu juga istrimu. Aku turut berduka. Tapi, kukatakan sekarang. Aku akan terkutuk apabila membiarkanmu untuk menghidupkan iblis itu!”

“Hmph... kau pikir dengan kekuatanmu, sudah mampu untuk mengalahkan kami bertiga, he?” ledek Ki Sugeng sombong. “Setahuku ilmu kebatinanmu masih kalah dengan ilmu kebatinan Eyang Satori dan juga Mbok Mi. Lalu untuk apa kau berani menantang kami?”

“Hmm... kau akan lihat nanti. Memang benar ilmu kanuraganku masih kalah dengan mereka berdua, yang mana jikalau mereka masih hidup, aku akan menyerahkan dapuk Mentor Utama keluarga Marwan pada mereka. Namun, Insya’allah... dengan bantuan dan restu Allah SWT, aku akan bisa mengalahkanmu!” jawabku dengan santai. Menjawab segala keraguan dan ledekan Ki Sugeng dengan mudah. “Bagaimana kalau kita mulai saja pertarungan ini? Aku tak punya banyak waktu di sini!”

“Cuih! Mendengar kesombonganmu dan kesombongan lafadz-lafadz Tuhanmu membuatku eneg! Ayo kita mulai saja...”

Aku harus berpikir sebuah siasat bagaimana untuk memancing ketiga dukun mahasakti itu untuk menjauh dari wilayah itu. Hal inilah yang membuatku harus memprovokasinya sedikit. Pertama aku sedikit takut, apabila hal ini tak berhasil, namun aku lega karena mereka bertiga memang mudah terprovokasi.

Dengan cepat, aku hentakkan tongkatku ke atas tanah sebanyak dua hingga tiga kali. Dari sana, tiba-tiba terciptalah sebuah lubang hitam raksasa yang langsung menyedot mereka bertiga dan juga aku dan kedua muridku ke dalamnya. Namun, Ir. Rio, Tio, Ella, dan juga Silvia tidak tersedot masuk, karena hanya yang di dalamnya punya ilmu kebatinan yang begitu tinggi yang bakal tersedot.

Sebelum aku pergi, aku mengatakan sepatah dua patah kata pada Tio, “Nak Tio.,.. ikutkan adikmu Ella untuk mengikuti Test of Faith sebulan lagi. Insya’allah jalan untuk mengakhiri penderitaan adikmu akan terbuka dengan lebar di sana!”

Waktu itu, Tio hanya membeo dan pada akhirnya dia pun mengangguk, mengerti.

....

[Mela POV]

Kita kembali di masa kini. Di mana aku sedang melawan sosok yang berada di dalam tubuh Ella. Setelah menerawang masa lalunya, Aku sadar kalau sosok yang ada di dalam tubuhnya bukanlah Ki Bradjamana, namun sosok yang lebih kuat lagi.

Ya, dia adalah Ninggolo Geni.

“Ah... kau sudah berani berbohong padaku, Ella. Sosok-sosok yang mengaku sebagai Ki Bradjamana adalah sosok yang lebih mengerikan lagi. Ya, kau pasti adalah Ninggolo Geni, ‘kan?” ujarku sedikit tertantang mengetahui akan Ninggolo Geni. “Ahaha... ini akan menjadi menarik... lebih menarik daripada jikalau aku bertarung dengan Ki Bradjamana sendiri.”

“Cih! Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ella mendecik kesal.

“Aku dengan mudah bisa membaca masa lalu orang lain, mengalaminya, bahkan aku juga bisa muncul di dalam masa lalu setiap manusia itu sendiri tanpa ia sadari.” Jawabku masih dengan tawa menggila.

Tiba-tiba dari setiap penjuru, keluar lubang waktu yang begitu banyak. Dari sana, ‘Aku’ dari waktu yang berbeda keluar, mengepung Ella dari segala arah.

“Trik dan ilmu kanuragan apa ini?” tanya Ella bingung. Dia baru pertama kali ini melihat kloning manusia bisa dipanggil dari setiap waktu yang berbeda.

“Ah... selamat datang diriku yang lain, dari dimensi waktu yang berbeda. Aku menyambut kedatangan kalian hari ini!” kataku menyambut mereka semua.

“Terima kasih atas sambutannya!” jawab diriku yang lainnya.

“Nah, bisakah kita mulai pertarungan ini, Ninggolo Geni? Sungguh disayangkan aku tidak boleh untuk membunuh ragamu untuk hari ini, namun meski begitu, kami semua akan tetap membuatmu menderita sampai kesetiap tulang-tulangmu!”

-BERSAMBUNG-

So that's it guys. Lama juga buat chapter ini. Oke chapter selanjutnya akhirnya pada pertarungan antara Mela vs Ella. Mungkin ada di antara kalian yang bingung mengenai kemampuan Mela tadi, yang bisa memanggil dirinya dari segala masa (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan). Itu sedikit referensi dari kemampuan Kurumi Tokisaki dari anime Date A Live.

Untuk chapter berikutnya, akan berjudul "Rantai Misteri."

Thanks and see you in next chapter.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bk.cokorda dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Jadi ini cerita campuran dari angan2 TS bkn asli negeri sendiriemoticon-Bingung
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
=Selamat Menunaikan Ibadah Puasa=

Bagi yang merayakannya. Semoga sukses selalu dan berkah di bulan ini.

Oh ya, thread Angus Poloso hiatus dulu, sampai selesai ramadan. Tapi, jangan khawatir, penulisannya akan tetap berlanjut kok, sehingga setelah ramadan, ada banyak chapter yang bisa dibagi, dan memberikan saya jarak waktu untuk menulis kelanjutannya lagi.

=Makasih=
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rijalbegundal dan 3 lainnya memberi reputasi
Warga baru gan ikut nyimak..
Updt brpa minggu skali gan
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sip ditandain dulu buat nnunggu update emoticon-Big Grin
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 37 - (Test IV) Rantai Misteri.

[Third POV]

“Nah, bisakah kita mulai pertarungan ini, Ninggolo Geni? Sungguh disayangkan aku tidak boleh untuk membunuh ragamu untuk hari ini, namun meski begitu, kami semua akan tetap membuatmu menderita sampai kesetiap tulang-tulangmu!”

“Hahaha...” kata Ella tertawa lantang. “Kau pikir aku siapa, gadis kecil? Aku adalah Ninggolo Geni, penguasa rawa geni. Gadis kecil macam kau, takkan pernah mampu untuk mengalahkan, apalagi membunuhku,”

Dari sanalah pertarungan sengit dimulai. Sementara itu, Ratu Muspitasari sudah menghilang dari sana, tak kuasa bertahan karena merasakan aura hitam yang begitu kuat dari mereka berdua. Ella memulai serangan pertamanya dengan mengeluarkan ular-ular siluman dari telapak tangannya, namun Mela yang kini berjumlah puluhan bahkan ratusan itu dengan mudah menangkap setiap siluman ular yang dikeluarkan oleh Ella.

Mendapati serangannya dipatahkan dengan mudah membuat Ella sedikit mendecak kesal. Dalam keadaan demikian, dari belakangnya, muncul tangan demit yang hampir saja melesat menembus jantungnya. Syukurlah, Ella masih sanggup menghindarinya dengan melompat ke samping kiri.

“Cih! Hampir saja,” batin Ella mengumpat. “Kalau saja aku tak merasakan ada keganjilan di belakangku, pastinya sekarang aku sudah mati.”

Pertarungan dimulai kembali dengan para siluman ular itu mengeluarkan trisula dari mulut mereka dan bergegas untuk menyerang Mela, namun dengan sigap, kloningan Mela cepat menghadang siluman-siluman ular itu.

Semua kloning waktu Mela pun menarik para siluman ular itu untuk memasuki ruang dan waktu mereka. Dan kini yang tersisa tinggal satu Mela dan juga Ella seorang.

“Ah, jadi ini alasan dari Jayos untuk mengikutsertakanmu ke dalam Test of Faith ini, rupanya? Supaya Ella bisa bertemu kami dan juga meminta bantuan ke kami untuk menekan sosok Ninggolo Geni dalam tubuhnya,” gumam Mela lirih yang sedikit terdengar oleh Ella.

“Apa yang kau bicarakan, gadis kecil? Aku tak tahu apa maksudmu?” tanya Ella keheranan.

“Oh begitu, ya? Jayos mengirimmu dalam keadaan kau tertidur, sehingga kau tidak tahu apa yang direncanakan olehnya. Memang ciri khas kakek tua itu,”

Ella merasa geram melihat Mela mengacuhkan dirinya dan berbicara sendiri. Dengan cepat dia melesat menyerang Mela yang dalam keadaan terbuka lebar. Mela yang belum siap akan serangan itu, dengan mudah terkena tombak ular milik Ella yang langsung menembus tepat di jantungnya.

Darah keluar dari tempat di mana tombak itu tertancap dan juga dari mulut Mela. Ratusan tangan demit yang mengelilingi tubuh Mela berusaha melepas tombak ular itu dari jantungnya, namun percuma. Tombak itu tak bisa dilepaskan dengan mudah, terkecuali atas kehendak dari Ninggolo Geni sendiri.

“Dasar licik!” umpat Mela lemah. “Kau menyerangku di saat keadaanku lagi teralihkan. Dasar iblis bedebah,”

“Tidak ada kata licik ataupun ilegal dalam pertarungan. Kau tahu itu? Dengan ini... tamatlah nyawamu gadis kecil. Semoga kita berdua bisa berjumpa lagi di neraka.” Jawab Ella sumringah karena berhasil mengalahkan Mela. “Tapi tenang saja... hidupmu takkan berakhir dengan sia-sia karena aku akan mengambil seluruh kekuatan dan kecantikan yang ada pada dirimu. Dengan begitu, aku akan semakin kuat dan kekal abadi selamanya!”

Ella kemudian mengeluarkan sebuah cermin dari ruang kosong yang bernama Cermin Hampa. Kemudian Ella pun mengarahkan cermin itu ke arah Mela. Dan tiba-tiba dari tubuh Mela keluar banyak sekali orb-orb putih dan hitam yang langsung melesat memasuki cermin hampa itu.

Pandangan Mela pun kosong mendapati jiwanya keluar dari raganya. Ella pun tersenyum bahagia melihatnya, karena dengan ini, ilmu kanuragannya akan semakin bertambah dan kecantikannya pula akan semakin bertambah begitu ia selesai menghisap keseluruan jiwa Mela.

Setelah beberapa saat, terjadi sesuatu keganjilan yang membuat Ella keheranan. Seberapapun dia menghisap jiwa Mela, namun terasa kalau jiwa Mela seperti takkan pernah habis dihisapnya. Namun, Ella saat itu hanya berpikir akan menunggu beberapa saat lagi.

Namun, setelah lebih dari dua jam dia menghisap jiwa Mela, jiwanya tidak pernah habis. Dan malah jiwa yang ada di dalam tubuh Mela terasa semakin bertambah banyak sehingga membuat Ella kewalahan. Bahkan cermin hampa yang harusnya mampu menghisap jiwa tak terbatas, malah terasa begitu berat dan hampir pecah karena kapasitasnya hampir penuh hanya karena menghisap jiwa Mela.

“Cih! Ada apa ini?” umpat Ella kesal. “Sebenarnya seberapa banyak dan besar jiwa gadis kecil ini?”

Karena tak punya pilihan lain, Ella pun segera mengambil kembali cermin hampanya dan bergegas meletakkan tangannya ke atas kepala Mela. Dalam sekejap waktu, Mela yang belum sadarkan diri itu langsung hancur lebur menjadi abu.

Ella tertawa menggila saat itu, yang mana bahkan suaranya menggema di segala arah.

[Umam POV]

Aku terbangun mendengar suara tawa yang begitu keras dan Cumiik itu. Setelah aku tersadar, yang kudapati hanyalah Ella yang tengah tertawa sendirian bak orang gila. Namun, saat itu aku tidak menemukan keberadaan Mela di manapun.

“Mela...? Mela, di mana kau?” tanyaku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Mengetahui kalau aku telah tersadar, Ella bergegas menghampiriku dan kemudian mencekik leherku dan mengangkatnya berdiri.

“Ada apa bocah kecil? Kau mencari kekasihmu itu, ya? Tenang saja... kekasihmu itu sudah berada di tempat yang cocok untuknya. Di neraka. Hahaha...!” kata Ella sambil tertawa menggila. “Sekarang giliranmu. Akan ku kirim kau ke tempat yang sama dengan gadis itu!”

Belum sempat Ella melakukan sesuatu padaku, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menggelegar dari segala penjuru arah. Suara tawa yang tak pernah bisa kulupakan.

Iya, suara tawa itu adalah suara tawa dari Mela.

“Apa kau pikir dengan membunuhku, aku akan mati!”

“Apa kau pikir dengan menjadi hukum dunia, aku akan tunduk padamu?”

Suara itu terus Cumiik, membuat gendang telingaku terasa agak sakit. Syukurlah, sorban hijau itu segera membalut kedua telingaku sehingga aku tak merasakan sakit sama sekali.

“Ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin!?” gumam Ella tak percaya akan keadaan ini. “Bagaimana bisa manusia yang terkena ajian Lebur Jiwa masih bisa selamat? Bagaimana mungkin!?”

Tiba-tiba, ketika Ella masih dalam posisi mencekik leherku. Dari perutnya keluar tangan memedi yang aslinya transparan, namun akibat terkena darah Ella, membuatnya berwarna merah dan begitu menyeramkan.

“Eh? Bagaimana bisa?” ucap Ella yang masih tak percaya kalau Mela berhasil mendaratkan serangannya pada dirinya. Dan syukurlah dengan itu, aku bisa terlepas dari cekikannya.

Dan dari itulah, Mela berhasil memisahkan jiwa Ninggolo Geni dengan tubuh Ella.

“Darling, tangkap...!” ujar Mela sambil melemparkan tubuh Ella yang tak sadarkan diri itu padaku. Dengan cepat aku segera berlari untuk menangkap tubuhnya.

“Kurang ajar kau, gadis kecil!?” umpat Ninggolo Geni murka. Dengan cepat dia kembali memanggil ribuan pasukannya yaitu para ular dan juga siluman ular. “Sekarang aku takkan membiarkan kalian semua untuk kabur dari sini. Aku akan membunuh kalian semua di sini!!”

“Mela... kondisi Ella semakin memburuk. Aku hampir tak bisa merasakan detak jantungnya,” kataku yang begitu cemas mendapati kondisi Ella yang kian memburuk.

“Hahaha... gadis itu pernah menyerahkan jiwanya dengan sukarela padaku, jadi jikalau aku ditarik paksa keluar dari raganya, tinggal menunggu waktu saja sampai dia mati.” Sahut Ninggolo Geni sambil tertawa puas. “Bagaimanapun juga gadis itu pernah melakukan perjanjian padaku untuk menyelamatkan adiknya. Hahaha...”

Dengan tanpa emosi, Mela pun menyahut, “Oh... begitu, ya? Kalau begitu, aku tak punya beban lagi untuk membunuhmu, Ninggolo Geni!”

“Apa maksudmu?”

“Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya. Aku akan membunuhmu bukan karena keluarga, sekte, atau siapapun. Aku ingin membunuhmu karena aku ingin melakukannya!”

“Tapi, Mela... jikalau kau melakukannya, maka Ella akan...” sahutku tak tega mendengar ucapan Mela barusan.

“Iya, kalau kau membunuhku, maka gadis itu akan lenyap pula. Dan rohnya akan mengambang selamanya di dunia ini sampai hari kiamat tiba!” celetuk Ninggolo Geni mencoba mencari sebuah cara supaya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Di saat Mela lengah, Ninggolo Geni segera mengeluarkan sebuah pedang dari mulutnya. Dan dari itu, dia segera menyerang Mela dengan menggunakan pedang ular Rawa geni. Dan dengan mudahnya pula, dia berhasil menusuk leher Mela dengan pedang itu.

Tak lupa juga, dia juga mengeluarkan ajian Sedot Nyowo. Membuatku tak habis kaget dan panik. Namun, ketika aku hendak beranjak ke tempatnya, Mela hanya tersenyum tipis, seolah mengatakan kalau dia baik-baik saja dan serahkan semua ini padanya.

Tak terduga. Tiba-tiba pedang Rawa geni yang tadinya menusuk leher Mela, kini beralih menusuk leher Ninggolo Geni sendiri. Dan ajian Sedot Nyowo miliknya, kini malah berbalik padanya sendiri. Tubuh Ninggolo Geni mulai menua akibat ajian Sedot Nyowonya sendiri.

Tiba-tiba waktu di sana terasa berhenti, dan aku tak bisa bergerak, melihat, atau mendengarkan apapun. Entah apa yang terjadi waktu itu, namun aku menyadari kalau ini adalah perbuatan dari Mela.

“Apa yang terjadi...? kenapa aku...” ucap Ninggolo Geni sekarat.

“Ah... membosankan sekali. Aku pikir makhluk yang jadi sesembahan sekte Mata Satu akan kuat sekali. Namun, malah jauh lebih lemah ketimbang ibumu dulu, Ninggolo Geni,” jawab Mela ketus. “Apa kau tidak tahu kalau akulah yang mengalahkan dan menghabisimu ibumu dulu?”

“Kau... Nimas Ayu?”

Mela hanya mengangguk. “Ya, walaupun kini aku telah menitis ke jiwa dan raga keturunanku, sama sepertimu. Dan hanya ada satu orang di dunia ini yang sanggup membunuhku. Dan dia adalah pria itu!”

Mela pun menunjuk ke arahku.

“Hahaha... menarik sekali. Sesosok gadis yang kekuatannya sudah melampaui bumi itu sendiri, bisa dikalahkan oleh manusia lemah,” celetuk Ninggolo Geni yang benar-benar tak percaya akan apa yang barusan dikatakan oleh Mela. “Ah, sebenarnya aku ingin melihatnya. Namun, kita cukupkan sampai di sini, Nimas Ayu.”

Tiba-tiba Ninggolo Geni mengeluarkan mustika ular dari dalam tubuhnya. “Ini masukkan mustika ular milikku ke dalam tubuh Ella, dengan begitu ia akan bisa terselamatkan. Aku akan menunggumu di neraka, Nimas Ayu!”

Dan itulah akhir dari Ninggolo Geni. Seluruh tubuhnya berubah menjadi sisik-sisik ular yang mengelupas, seperti ular yang berganti kulit. Namun, sebelum tubuh Ninggolo Geni menghilang sepenuhnya, Mela mengambil darah dan juga daging ularnya. Dan Mela pun menyimpannya ke dalam liontin merahnya.

“Ini belum berakhir, Ninggolo Geni. Habis ini aku harus menghabisi Ki Bradjamana dan para antek-antek demit yang ada di belakangnya...” batin Mela tertunduk.

Setelah semua beres, Mela bergegas ke tempatku. Tanpa sepengetahuanku, dia pun kemudian memasukkan mustika ular yang diberikan Ninggolo Geni tadi ke dalam mulut Ella.

Aku yang tak tahu apa yang dilakukannya, tentu saja segera melarang. Namun, Mela seperti tak perduli dengan omonganku dan segera memasukkan mustika ular itu ke dalam tubuh Ella. Dan tanpa perlawanan sedikitpun, Ella dengan mudahnya menelan mustika itu.

“Apa itu akan baik-baik saja, Mel? Memasukkan sesuatu yang didapat dari dedemit ke dalam tubuhnya?” tanyaku yang masih saja cemas. “Aku tak bisa berkata apa-apa jikalau terjadi sesuatu padanya. Aku bahkan belum bisa mengatakan kata maaf padanya,”

Mela pun tertawa lirih. “Memang darling terlalu baik, ya? Tak usah gelisah... mustika itu mengandung berbegai obat di dalamnya kok, walaupun di dalamnya terdapat energi supranatural juga.”

Aku pun segera mengecek kembali kondisi Ella, dan ternyata benar. Kondisinya sedikit demi sedikit kian membaik. Kami berdua pun merasa begitu senang, dan segera membawa tubuh Ella ke tempat teman-teman yang lain, yang ternyata sudah sadar semua.

...

[Third POV]

Sementara itu, jauh di hutan larangan.

Dalam kabut yang begitu pekat dan menyayat akan kengerian horror yang ada menyelimutinya. Seorang wanita yang memakai pakaian bak seorang ratu berjalan dengan tergopoh-gopoh menelusuri setiap hutan larangan itu sampai tiba di sebuah rumah tua joglo yang ada di tengah-tengah hutan itu.

Tidak salah lagi kalau wanita itu adalah Ratu Muspitasari.

Sesampainya di rumah itu, tanpa permisi wanita itu langsung menembus tembok, yang mana tepat mengarah ke ruangan di mana Ki Bradjamana sedang melakukan ritualnya.

“Dasar dukun bajingan! Kau mau menumbalkan aku di depan bocah dan gadis itu, ‘kan!?” umpat ratu Muspitasari begitu kesal dengan dukun yang kini ada di hadapannya. “Bahkan kau dengan sengaja tidak memberitahu kalau gadis itu adalah Ndoro Ayu dan bocah itu mempunyai kekuatan untuk memanggil iblis Sangkala, sehingga membuat seluruh kerajaanku hancur berkeping-keping dengan sekali tiupan terompetnya.”

Mendengar hal itu, Ki Bradjamana hanya tertawa terbahak-bahak. “Hahaha... menarik, bukan? Sejujurnya kemunculan Ndoro Ayu dan iblis Sangkala melebihi ekspektasiku. Tujuan utamaku hanyalah untuk membangkitkan jiwa Ninggolo Geni dari tubuh cucuku,”

“Cih! Ternyata benar kalau aku cuman jadi kelinci percobaanmu, dukun tua!” balas ratu Muspitasari yang kembali mengumpat. “Lalu, apa sekarang kau puas? Mulai sekarang ini aku takkan membantumu untuk urusan yang menyangkut anak-anak itu, dukun tua. Jikalau kau masih ingin berurusan dengan mereka, suruh saja Saraswati, istri keempatmu itu!”

Dan dalam sekejap mata, sosok ratu Muspitasari pun telah menghilang.

“Saraswati,” panggil Ki Bradjamana. “Kemarilah, ndok ayu! Aku ada perlu denganmu sebentar,”

Dari belakang, muncullah seorang gadis yang masih sangat mempesona, berusia kira-kira lima belas tahunan. Ya, dia adalah Saraswati, istri keempat dari Ki Bradjamana yang merupakan kakek dari Ella.

“Ada apa? Saya lagi sibuk di dapur memasak,” jawab Saraswati sedikit menggerutu, namun dia masih mampu berbicara secara halus dan sopan kepada kakek berusia 60 tahunan itu.

“Ini bawalah dupa dan sesajen ini!” kata Ki Bradjamana sembari memberikan dupa dan sesajen kepada Saraswati. “Aku ingin kau untuk meletakkan ini di depan kuburan keramat itu. Setelah itu, kau cabut beberapa daun pohon kamboja yang ada di kuburan keramat itu dan bawa kemari. Aku ingin melakukan sesuatu terhadap para remaja dari masa depan itu. Paham?”

Saraswati hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan tempat ritual Ki Bradjamana.

“Hahaha... ini benar-benar menarik. Aku tak pernah menyangka kalau remaja-remaja dari masa depan itu mempunyai begitu banyak potensial. Nah, sekarang kita akan melihat seberapa kuat mereka menghadapi rintangan-rintanganku berikutnya,” seru Ki Bradjamana sendiri. Suaranya bahkan terdengar ke seluruh penjuru hutan.

...

[Umam POV]

Setelah aku melihat kalau mereka semua sudah sadarkan diri, kami semua berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi, yang mana tujuanku berikutnya adalah menemui Mbok Ruqayah, yang mana nenek buyutku untuk meminta bantuan menyembuhkan Cici.

Mereka sadar, namun sebagian dari mereka masih shok akan peristiwa yang barusaja mereka alami. Aku tak bisa menyalahkan mereka, jadi kubiarkan mereka tenang terlebih dahulu.

Semua anggota sepertinya sudah tahu apa yang menimpa Cici, terkecuali Andre tentunya. Aku tak berniat untuk memberitahunya juga, karena tidak penting juga dan aku tak ingin membuat suasana reguku menjadi kurang nyaman dengan pertengkaran kami.

“Ternyata kau selamat, kak? Kami semua sangat senang mendengarnya,” ujar Feby yang sedikit berlinang air mata syukur mendapati diriku baik-baik saja. “Maafkan aku yang telah memimpin menggantikan kakak, dan malah berakhir dengan begini?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu minta maaf. Aku yakin kalau kau telah berusaha memimpin orang-orang yang sulit diatur ini dengan sebaik mungkin. Seharusnya kau malah bersyukur karena mempunyai naluri memimpin, Feb!”

“Hm... sekarang kita harus gimana, Mam?” tanya Agung yang sepertinya sudah bisa berbicara, walaupun masih sedikit shok. “Kita tidak tahu caranya untuk membuka gerbang gaib.”

“Tenang saja. Aku bisa mengeluarkan kalian semua dari sini,” teriak seseorang dari kejauhan, orang itu kemudian mendekat. Feby melihat orang itu dengan raut yang penuh dengan ketidakpercayaan. Ya, dia adalah Anggoro Aji. “Karena ratu Muspitasari telah berhasil dikalahkan, maka aku bisa bebas. Biarkan aku membantu kalian supaya bisa keluar dari sini, terus aku akan melanjutkan pertapaanku di tempat yang lain. Boleh?”

“Tentu saja nggak! Kau telah menipu kami dengan menyerahkan sebuah pusaka keris yang sama sekali tak bekerja, bahkan tak sanggup digunakan untuk mengatasi pasukan ratu Muspitasari.” Feby pun ngambek dibuatnya.

“Oh, keris Naga Sutra, ya? Hahaha... sebenarnya itu memanglah sebuah pusaka sakti, Nisanak. Mungkin hanya kalian saja yang tak bisa menggunakannya.” Ledek Anggoro Aji sambil tertawa. “Ah, kamu ya bocah yang merupakan keturunan dari kyai Marwan itu?”

Anggoro Aji menggerakkan tangan ke depan, ingin bersalaman denganku. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku bersalaman dengannya.

“Ah, iya. Aku adalah cecet dari kyai Marwan,” jawabku sedikit ragu-ragu. “Anda siapa ya?”

“Oh, namaku adalah Anggoro Aji. Saya adalah salah satu petinggi di kerajaan Singosari. Dan saya sedang melakukan pertapaan seribu tahun,” jawab Anggoro Aji ramah. “Kalau begitu, anda adalah orang yang tepat untuk membuka kotak peti yang ada di bawah istana ratu Muspitasari. Aku yakin itu!”

“Kotak peti apa maksudmu?” tanyaku yang masih heran dengan permintaan dari Anggoro Aji. “Kalau hal itu adalah sesuatu yang mencurigakan, maka aku akan menolaknya.”

Feby menggeleng. “Tidak, kak! Itu adalah kotak peti yang dulunya ditinggalkan oleh leluhur kakak. Ki Ageng Selo,”

Semua orang yang ada di sana pada mengangguk, setuju. Terkecuali Mela, yang masih diam saja, tak menanggapi. Karena semuanya sudah sepakat, maka aku dengan senang hati ikut membantu Anggoro Aji untuk mencari tahu apa isi dari kotak peti misterius itu, yang katanya ditinggalkan oleh leluhurku.

Sesampainya di tempat yang ditunjukkan oleh Anggoro Aji, aku mengeluarkan sorban warna hijauku. Dan setelah kubacakan doa-doa, tiba-tiba sorban itu berubah menjadi tongkat, dan dengan tongkat itu, aku pukul ke tanah yang ditunjukkan Anggoro Aji padaku.

Dan setelah aku memukulkan tongkatku ke dalam tanah yang dimaksud, tiba-tiba terjadilah gempa hebat yang terjadi di seluruh kerajaan. Setelah beberapa saat, gempa itu berhenti dan tanahpun terbelah. Di sana, aku menemukan sebuah kotak peti berukuran 12x12 cm.

Dengan cepat, aku segera mengambil kotak misterius itu dan membukanya. Dan di dalamnya berisi bukan sebuah pusaka atau semacamnya, namun cuman emblem kerajaan yang tidak kuketahui.

Anggoro Aji langsung melihat emblem itu, dan dia mengatakan kalau itu adalah kunci untuk membuka gerbang gaib kerajaan Mangkupati. Dan katanya juga, masih ada dua lagi kunci seperti itu, supaya kerajaan Mangkupati bisa kembali ke dunia manusia.

“Itu adalah segel dari gapura kerajaan Mangkupati. Barang siapa yang berhasil mengumpulkan ketiga emblem itu, maka kerajaan Mangkupati yang konon dikabarkan hilang, akan muncul kembali ke dunia manusia. Ya, walaupun hanya dalam waktu tiga hari.” Jelas Anggoro Aji yang sepertinya pernah ke sana. “Kalau kalian menuju ke istana Mangkupati, saya hanya bisa mengingatkan kalau di sana tempatnya begitu berbahaya. Kerajaan itu dipimpin oleh ketujuh Raja Jin yang bengis.”

Akupun sedikit curiga. “Kau menjelaskan ke kami, seperti kamu memang sudah pernah menginjakkan kaki di sana. Apa itu benar?”

“Ya, aku pernah bertapa di sana. Namun aku diusir dari sana oleh ketujuh pengawal Raja Jin.”

“HAA...!?” Kami semua terkejut. Tak percaya.

-BERSAMBUNG-

Hello, minna. Lama gak bertemu, karena ada rencana libur di bulan puasa ini. Dan semoga puasa tahun ini lancar terus. Dan untuk chapter selanjutnya akan berjudul. "Mbok Ruqayah"

Thanks and see you in next Chapter... emoticon-Smilie emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bk.cokorda dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Sip gan setia menunggu capter brikut nya
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut bang semangata terus
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Gaskeun kang Umang.....
(meski ane bingung krn terlalu banyak pov dari tokoh2nya).
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Nyimak sambil ninggalin jejak
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 38 - (Test IV) Keretakan.

[Third POV]

Setelah mereka bercengkerama dengan Anggoro Aji dan mendapatkan sebuah kunci untuk membuka gerbang gaib kerajaan Mangkupati, Anggoro Aji pun mengirim mereka keluar dari ruang hampa gaib yang kini telah hancur itu.

Dalam kedipan mata, tibalah mereka ke desa Plesiran Londo kembali. Sebelum pergi, dia mengatakan untuk bisa keluar dari desa mati ini, mereka harus mengikuti arahan dari hati mereka sendiri. Dan untuk Nanda yang jiwa dan batinnya telah dibutakan dan dikosongkan oleh genderuwo yang menyebabkan jiwanya tersesat, Anggoro Aji pun berhasil menyembuhkan ajian Remang Tenang yang dibisik-bisikkan genderuwo yang mengaku suaminya itu, sehingga Nanda bisa tersadar kembali.

Namun...

“Maaf. Aku tak bisa menyelamatkan teman-temanmu yang lain,” kata Anggoro Aji menerawang jauh ke tempat lain. “Mereka... teman-temanmu sudah menjadi penghuni dari desa Plesiran Londo karena ulah mereka sendiri!”

Agung menyahut, yang diikuti oleh Andre. “Ulah? Mereka memangnya telah berbuat apa?”

“Mereka telah mengencingi kuburan keramat di desa ini, memainkan papan ouija, memanggil jailangkung, dan mencuri barang-barang berharga dari desa ini,” jawab Anggoro Aji yang masih menerawang jauh. “Jadi jiwa mereka kini mengambang di antara dunia nyata dan dunia gaib dan mereka tak bisa kembali lagi. Singkatnya, mereka sudah mati!”

Ella dan Nanda yang mendengarnya hanya bisa terdiam, mereka tak mau ataupun bisa menyangkalnya. Sepertinya mereka sudah tahu apa yang telah diperbuat oleh teman-temannya itu.

“Aku mohon, selama kalian ada di tempat yang asing, ataupun di tempat manapun, tolong hormati dan hargailah alam ini! Karena di alam ini, bukan hanya manusia yang hidup berdampingan, namun ada pula sosok-sosok gaib, tumbuhan dan binatang.” Kata Anggoro Aji menasehati kami semua. Kamipun mengangguk, pertanda mengerti.

Setelah mendengar penjelasan dan nasehat dari Anggoro Aji, mereka pun pamit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terkendala akibat apa yang terjadi di desa Plesiran Londo tersebut.

[Umam POV]

Aku merasa lega kalau semua ini berakhir dengan bahagia, walaupun tidak untuk semua orang. Ketika Feby menanyakan kepadaku akan tujuan kami selanjutnya, aku hanya menyebut satu tujuan.

Yaitu desa Glondong.

Pertama-tama mereka heran mengapa aku memutuskan untuk pergi ke sana, namun setelah kujelaskan kalau aku ingin menemui mbah buyutku untuk bersilaturahmi sekaligus bertanya akan suatu hal, mereka pun akhirnya setuju.

Mereka tidak tahu kalau sebenarnya tujuan utamaku adalah untuk mencari sebuah cara bagaimana bisa mengeluarkan ilmu palasik itu dari tubuh Cici.

Selama perjalanan, aku terus melihat Ella dan Nanda yang masih terdiam. Aku mencoba memancing mereka untuk bicara dan lebih terbuka dengan kami, yang merupakan regunya yang baru, namun mereka tetap diam seperti jasad tanpa adanya jiwa. Oleh karena itu, kubiarkan mereka untuk sementara waktu.

Mungkin mereka berdua masih shok, pikirku.

Kami menelusuri jalan-jalan di desa mati ini, entah apa yang terjadi mengapa seperti tidak ada sesuatu apapun yang lalu lalang. Entah itu demit, binatang, atau semacamnya. Keadaan terlihat semakin sunyi, bahkan aku tidak merasakan ada hawa apapun yang mengintai maupun mengikuti kami.

Keadaan aneh mulai terjadi ketika tiba-tiba matahari sudah berada di puncak langit, menandakan kalau sudah tengah hari. Membuat semua orang sedikit panik, pasalnya obrolan kami dengan Anggoro Aji belum sampai dua jam, namun kini sudah tengah hari. Padahal kami bercengkerama dengan Anggoro Aji tadi, aku sempat melihat arlojiku yang menunjukkan tengah malam.

“...Kok malamnya cepet, sih?” gumamku heran. “Belum sampai dua jam antara pertemuan kita dengan Anggoro Aji, namun kini sudah tengah hari,”

Tak terlalu memikirkannya, aku suruh mereka untuk segera melanjutkan perjalanan kembali. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang teramat buruk apabila kita terus berada di tempat ini.

...

Setelah keluar dari kampung Plesiran Londo, kami harus kembali melewati jembatan reyot itu dan setelah itu harus kembali ke rute awal kami, yaitu pertigaan yang menuntun kami semua menuju desa mati ini.

Kami melewati jembatan reyot ini dengan perasaan yang kembali was-was. Bagaimana tidak? Jembatan itu berdiri tahun 1870 dan melihat reyotnya jembatan ini, aku memastikan kalau jembatan ini tidak pernah direnovasi setelah berdirinya.

“Agung, aku takut...” kata Wulan yang berjalan dengan menggandeng tangan Agung.

“...Nnn... tak usah khawatir, Wulan. Ada aku di sini, menjagamu...” jawab Agung modus.

“Hati-hati, Sit! Jembatan ini sudah seperti mau patah,” ujar Feby mengingatkan.

“Baik, nona!” jawab Siti.

Saat itu, aku berada di posisi paling belakang. Di depanku ada Mela, yang mana lagi di depan Mela ada Andre. Ketika aku melihat teman-temanku di depan, aku berteriak untuk tetap berhati-hati. Mereka pun mengangguk mengerti.

Namun, ketika kualihkan pandanganku ke belakang, tepatnya ke desa mati itu, aku melihat banyak mayat-mayat yang gosong karena terbakar, tiba-tiba bangkit dan mengeluarkan mata merah mereka, membuatku bergidik ngeri, takut.

Tiba-tiba dari suatu tempat, terdengarlah suara seseorang, yang mana kami semua sudah mengenal siapakah pemilik suara itu.

Ya, dia adalah Ki Bradjamana.

“Hahaha... tak kusangka kalian bisa keluar dari desa itu! Aku benar-benar telah meremehkan kalian semua, O pemuda-pemudi dari masa depan,” kata Ki Bradjamana dari suatu tempat dengan suara lantang. “Namun, jangan pikir aku akan membiarkan kalian lewat dengan mudah, setelah apa yang kalian perbuat kepada para abdi-abdiku. Hahaha...!!”

Tiba-tiba mayat-mayat hidup yang gosong terbakar itu segera berlari, menyusul kami yang tengah berada di jembatan reyot itu. Mau tak mau, aku harus melawan mereka, kalau tidak, maka tidak ada di antara kami yang bisa selamat dari sini.

Aku yang seni beladiriku pas-pasan, kalau tidak ingin dibilang kurang, hanya mampu menendang dan memukul para mayat hidup yang jumlahnya sangat banyak itu hingga mereka terjatuh ke dalam jurang. Tapi untungnya jembatan itu hanya bisa dilewati satu demi satu, sehingga aku hanya melawan satu demi satu dari mereka.

Mayat-mayat hidup itu mengeluarkan parang mereka dari perutnya, membuatku merasa mual, karena tercium bau yang sangat menyengat. Aku perintahkan ke teman-temanku yang berada di depan untuk segera berlari menuju sisi yang lain, supaya mereka bisa selamat. Dengan semangatku, aku pun berhasil memukul kepala mereka sambil menghindari sabetan parang mereka, yang mana sedikit melukai kedua tangan dan kakiku.

Ketika mereka semua sudah berhasil sampai ke sisi satunya, entah mengapa Mela malah kembali untuk menolongku, yang mana Andre segera menghentikan langkahnya.

“Hentikan, Mel!” kata Andre memegang tangan Mela untuk menghentikannya. “Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tak tahu akan pengorbanannya?”

Mela pun segera menoleh ke arah Andre, sembari meneteskan air matanya. “Bagaimana aku bisa diam saja, melihat orang yang paling kusayangi akan berkorban diri untuk orang lain. Aku tak bisa menerimanya! Aku tak bisa!”

Mela pun segera melepaskan tangan Andre, dan bergegas kembali untuk menyelamatkanku. Karena tak ingin terjadi apa-apa pada Mela, Andre bergegas mengikutinya dari belakang, sementara yang lain. Andre perintahkan untuk tetap berada di sana saja, termasuk Cici yang berusaha untuk menghentikannya.

“Mel, apa yang kalian lakukan di sini? Aku sudah menyuruh kalian untuk lari, ‘kan?” tanyaku yang tengah menghadapi para mayat hidup itu. “Kenapa kalian sama sekali tidak mengindahkan perintahku!?”

“...Aku tidak mau!” balas Mela, yang masih meneteskan air matanya. “Bagaimana bisa aku meninggalkan darling, yang mana satu-satunya orang yang paling berharga buatku? Kalau ini akan menjadi akhir kita, aku lebih senang apabila aku bisa mati di sampingmu!”

Aku dan Andre shok mendengar ungkapan dari Mela tersebut. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba api memercik dari arah Plesiran Londo, yang mana langsung membakar tali jembatan dari arah yang belakang para mayat hidup itu dan menghempaskan jembatan reyot itu ke bawah tempat Feby dan lainnya.

Membuat kami bertiga hampir terjatuh, sementara para mayat hidup itu, semua terjatuh ke ujung jurang.

Setelah aku membuka mata, kulihat tangan kananku sudah dipegangi oleh Andre, sementara tangan kiriku, aku memegangi tangah Mela yang kini sudah berada di bawahku.

“Kak Umam, bertahanlah! Dan jangan lepaskan tangan Mela, apapun yang terjadi,” kata Andre memperingatkan. Yang mana teman-teman yang lain pada menarik tangan Andre supaya kami semua bisa selamat.

Darling, aku takut...!” sahut Mela yang masih memegang tangan kiriku dengan kedua tangannya.

“Bertahan—lah, M—Mela!” jawabku yang memberi semangat penuh kepada gadis yang begitu terobsesi padaku itu.

Berkat bantuan dari teman-teman yang lain, Andre bisa selamat, yang mana kini menyisakan aku dan Mela yang masih terjebak di jembatan roboh ini. Kini, Andre dan yang lainnya berusaha kembali menarik tanganku agar aku dan Mela bisa selamat.

Namun, terjadi sesuatu padaku. Tiba-tiba aku merasakan sakit yang mana menyebar ke seluruh tubuhku, membuatku kosong untuk beberapa saat. Di saat itu, entah mengapa aku melepaskan tangan Mela, yang langsung membuat Mela terjatuh.

Setelah aku tersadar, aku hanya bisa melihat Mela yang terjun bebas ke arah jurang yang mana aku bahkan tidak bisa melihat dalamnya karena tertutupi oleh awan dan kabut yang sangat pekat.

“Mela...!!!” teriak kami semua. Tanganku tiba-tiba kaku seketika, tak percaya kalau aku melakukan ini semua pada Mela.

Mela waktu itu hanya tersenyum, dan sedang berbicara sepatah dua patah kata. Namun aku tak bisa mendengarnya karena kondisi ini, tapi aku bisa membaca pergerakan bibirnya yang mana mengatakan.

Aku... Cinta... Kamu!

Syukurlah, waktu itu terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba sorban hijauku itu keluar dari tas ransel dan memanjang, yang mana langsung membelit tubuhku dan Mela dan membawanya naik ke atas kembali.

Setelah membawa kami ke atas, sorban hijau itupun segera kembali ke ukuran asalnya dan masuk ke dalam tas ranselku kembali. Di saat yang tidak menguntungkan itu, tiba-tiba aku mendapat sebuah pukulan yang teramat keras dari Andre, membuatku terbaring seketika.

“Apa yang kamu lakukan sebenarnya!?” umpat Andre yang kembali memukulku. “Mengapa kau melepaskan tangan Mela yang sedang berpegangan padamu, he!?”

Aku yang saat itu juga tak percaya akan apa yang barusan terjadi, tidak bisa mengatakan apapun, selain, “A—Aku juga tidak tahu. Entah mengapa aku... aku,”

Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Andre kembali memukulku untuk dua sampai empat kali, membuat pipiku memar. Dasar, seberapa keras dia mukulnya, sih.

Untunglah waktu itu, Feby segera datang dan langsung melerai kami.

“Sudah hentikan kalian berdua! Kak Umam sudah bilang tak tahu, ya pastinya dia tidak tahu lah!” ujar Feby melerai Andre. “Tapi syukurlah, kakak masih memiliki sorban itu, sehingga kalian bisa selamat hari ini.”

Siti pun ikut nimbrung obrolan kami. “Benar apa yang dikatakan oleh nona Feby. Sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat ini, karena suasana di sini sudah semakin mencekam!”

Tanpa ada perdebatan lainnya, kamipun segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Waktu itu entah mengapa ketika aku mengajak berjalan bersama, Mela menolak dan malah berjalan bersama Feby.

“Aku minta maaf, Mel! Aku... tidak sengaja melakukannya!”

Dia hanya diam, mengacuhkanku. Mungkin dia masih benar-benar shok dengan apa yang terjadi menimpanya tadi.

[Third POV]

Ketika mereka semua sudah pergi, tiba-tiba muncul sesosok siluman ular yang memakai mahkota yang tengah mematai mereka semua dari kejauhan.

“Ssst... ternyata mereka orang-orang yang dikatakan oleh Ki Bradjamana, huh? Kelihatannya tidak ada di antara mereka yang merupakan ancaman. Mereka semua terlihat seperti manusia biasa pada umumnya,” desis siluman ular itu. “Hoi, Saraswati. Apa kamu mau membuang waktuku di sini?”

Saraswati pun segera berlutut, meminta maaf. “Ampun Nyai, saya tidak bermaksud begitu. Namun apa yang kukatakan tadi memang benar adanya. Mereka semua adalah ancaman bagi sekte kita. Dan bahkan satu orang dari mereka sudah berhasil memporak-porandakan istana Marwapati.”

“Ssst... aku harap apa yang kau katakan ini benar, Saraswati. Jikalau kau berbohong, bahkan untuk sekali saja, aku takkan ragu-ragu untuk mematahkan lehermu dan juga dukun tua sialan itu!” jawab Nyai Pancasukmana, ratu ular yang menguasai Rawa demit. “Sekarang aku akan menunggu sampai bulan purnama. Setelah tenagaku pulih, aku akan segera menyerang mereka semua!”

Dan akhirnya Nyai Pancasukmana pun pergi. Yang mana sebenarnya, Nyai itulah yang telah membakar tali jembatan reyot itu. Sementara Saraswati segera mengibaskan selendang merahnya dan dia pun menghilang.

Ketika dua sosok itu telah menghilang, tiba-tiba dari semak-semak, muncul sesosok genderuwo yang mana dalam keadaan terluka parah, bahkan telinganya terus berdarah dan mengeluarkan bau yang sangat busuk.

“Grrgh... bajingan kau, Anggoro Aji. Kau telah merebut istriku. Awas saja kau nanti!!” gerutu genderuwo itu mengumpat. “...Aku tak percaya kalau ada seseorang dalam rombongan manusia itu yang mampu mengeluarkan Radjah Sangkala, yang mana mampu menghancurkan seluruh istana Marwapati dan membunuh Sang Ratu hanya dengan sekali tiupan terompetnya.”

Tiba-tiba ada sosok yang menepuk pundak genderuwo itu dari belakang. “Kau mengejekku, ya? Berani sekali genderuwo lemah macam kau mengejekku dan istanaku, hm?”

Ternyata yang menepuk pundaknya adalah ratu Muspitasari yang mana telah didampingi oleh ratusan pasukannya. Dia tak terima melihat kekalahannya terus-terusan diungkit oleh makhluk yang lebih rendah kastanya ketimbang dirinya.

“Ampun, ratuku! Hamba tidak tahu kalau sang ratu ada di samping hamba,” kata genderuwo itu memohon ampun.

“Kali ini aku memaafkanmu, genderuwo. Tapi kalau kau sampai mengulangi hal ini lagi, aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu dan juga jabang bayimu yang ada dalam rahim manusia itu,” jawab ratu Muspitasari mengancam. Dan genderuwo itu pergi. “Kau benar-benar telah mencari musuh dari berbagai makhluk gaib yang begitu kuat, manusia. Aku tak tahu siapakah dirimu dan siapa leluhurmu, namun aku merasa tertantang untuk bisa bertarung kembali denganmu suatu saat nanti.”

[Umam POV]

Ketika dalam perjalanan, aku berpikir akan mengajak Feby untuk membicarakan sesuatu yang teramat penting. Ini menyangkut Ella, Nanda, dan juga Cici.

“Feb, bisa kita bicara sebentar?” pintaku sambil berbisik ke telinga Feby. Feby hanya mengangguk dan mengikutiku berjalan ke belakang. “Untuk yang lain, kalian bisa beristirahat di sini dulu. Kami berdua akan pergi untuk memastikan sesuatu,”

Mela pun menoleh ke belakang. “Darling, kamu mau pergi ke mana?”

“Ah, sebentar. Kalian tunggulah di sini, ya?” pintaku. Mela hanya mengacuhkanku, membuatku sedikit merasa sakit. “Kalau sudah selesai, kita berdua akan segera kembali kok. Dan jikalau di antara kalian melihat seseorang yang mencurigakan, aku mohon untuk tidak mendekatinya. Paham?”

Aku dan Feby berjalan menuju ke sebuah tempat lapang yang tidak jauh dari sana. Di sana aku mengatakan hal yang sebenarnya mengangguku mengenai Ella, Nanda dan juga Cici.

Aku sedikit mencurigai mereka yang sepertinya masih berada dalam pengaruh seseorang.

Dan untuk Cici...

“Ya, aku sudah tahu apa yang ingin kakak katakan. Soal Cici, kan?” tebak Feby ringan. “Sejujurnya ketika di istana ratu Muspitasari kami benar-benar shok apa yang terjadi padanya, namun kami juga yakin kalau semua ini bukanlah salahmu, kak!”

“Tapi... jikalau aku mampu membawanya keluar sebelum semua itu terjadi, pastinya Cici takkan jadi seperti ini,” jawabku yang masih menyalahkan diriku sendiri atas peristiwa yang terjadi pada Cici. “Dan mengenai Nanda... aku punya firasat buruk tentangnya. Tentu, dia sudah terlepas dari pengaruh genderuwo itu, namun aku masih merasa ada sesuatu pada dirinya yang mana jika dilihat dengan mata batin, akan terasa panas membara.”

“Hmm...” Feby berdehem, memegang dagunya. “Aku ingin bertanya, kak. Sebenarnya apa alasan kakak untuk bertemu dengan nenek buyutmu? Kok kakak terlihat sangat bersikeras untuk menemuinya?”

“Sebenarnya...” kataku yang tiba-tiba merasakan sesuatu, yang mengintai di semak-semak. “Ssst, Feb! Hentikan omonganmu. Ada seseorang yang tengah memata-matai kita dari semak-semak itu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini!”

Tiba-tiba dari semak-semak, keluarlah Areng-areng yang begitu banyak, hendak menyerang kami. Namun ketika Feby hendak mengeluarkan pisaunya dan berniat untuk membunuhnya, aku segera mencegahnya.

“Jangan Feb! Kalau kau membunuhnya, maka dari tubuh Areng-Areng itu akan keluar racun rawa yang sangat mematikan.” Kataku memperingatkan. “Kelihatannya mereka tidak dikendalikan oleh seseorang, jadi mereka murni sebagai binatang liar yang teralihkan dengan kedatangan kita. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum Areng-areng itu marah!”

Areng-areng adalah sesosok hewan yang hampir mirip dengan serangga pemakan manusia, di film Mummy 1999. Namun ukuran Areng-areng adalah tiga kali lebih besar dari serangga pemakan manusia.

Areng-areng adalah serangga yang jinak dan hidup bergerombol di dalam rawa. Biasanya mereka dipimpin oleh entitas yang lebih tinggi dari mereka, yang membuat mereka jinak, namun apabila pemimpinnya mati atau hilang, mereka adalah salah satu serangga paling ganas, yang menghisap saripati manusia dan tumbuhan.

Dan apabila dibunuh, areng-areng ini akan mengeluarkan racun yang sangat mematikan, tanpa bau dari jasadnya yang telah mati, oleh karena itu, manusia tidak berani membunuhnya, sehingga oleh sebagian orang, disebut sebagai binatang suci.

Feby pun menurut dan memasukkan belatinya ke dalam tas ranselnya, dan kemudian kamipun kembali ke kelompok kami. Tanpa menjelaskan apapun, aku segera mengatakan untuk segera melanjutkan perjalanan.

-BERSAMBUNG-

So that's it guys. Untuk Chapter 39 "Mbok Ruqayah". Jadi ditunggu ya? Maaf karena lama gak update. Target puasa bisa upload 3 chapter. Entah bisa atau tidak, namun akan saya usahakan.

Thanks again, and see you in next chapter~!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bk.cokorda dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Waduh itu ratu muspitasari masih aja mendendam padahal oleh umam sudah diampuni dan tdk dibunuh oleh mela.
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
"Harta yang paling bernilai adalah kesabaran. Rekan yang paling setia adalah amal. Ibadah yang paling indah adalah keikhlasan. Identitas tertinggi adalah iman. Pekerjaan paling berat adalah memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin, Selamat hari raya idul fitri 1442 H."

emoticon-Shakehand2
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Monggo dilanjutkan kang.....
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 9 dari 11


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di