CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6007b9ba2525c3080d7135fd/menanti-gebrakan-pemerintah-pusat-di-tengah-kolapsnya-rs-covid-19-di-jabodetabek

Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek

Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek


Lonjakan kasus Covid-19 telah menyebabkan fasilitas kesehatan di wilayah Jabodetabek "lumpuh".

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta hingga 17 Januari 2021, tempat tidur isolasi pasien Covid-19 di Jakarta sudah terisi hingga 87 persen dari total 7.827 tempat tidur di 101 rumah sakit rujukan. Padahal, Jakarta memiliki fasilitas kesehatan lebih banyak dan lengkap dibandingkan daerah lain.

Tak hanya dialami Jakarta, fasilitas kesehatan di kota-kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi juga "lumpuh".

Pekan lalu, Lapor Covid-19 melaporkan seorang warga domisili Depok, Jawa Barat, meninggal di taksi online dalam keadaan menderita gejala Covid-19.

Ia meninggal dalam perjalanan mencari rumah sakit yang menerima pasien Covid-19. Sebelumnya, dia telah ditolak oleh 10 rumah sakit. Insiden tersebut terjadi pada 20 Desember lalu, berdasarkan laporan keluarga yang diterima oleh Lapor Covid-19.

"Anggota keluarganya meninggal di taksi daring setelah ditolak 10 rumah sakit rujukan Covid-19," ujar Lapor Covid-19 dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/1/2021).

Kasus lainnya yang menunjukkan "lumpuhnya" fasilitas kesehatan di wilayah Jabodetabek adalah tiga pasien positif Covid-19, dua di antaranya ibu dan bayi tiga tahun yang kesulitan untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Menurut relawan Lapor Covid-19, mereka telah menghubungi 60 rumah sakit di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sejak Senin (18/1/2021) malam. Namun, hasilnya nihil karena semua rumah sakit mnenyatakan ruang ICU khusus pasien Covid-19 telah penuh.

Sampai keesokan harinya, ketiga pasien tersebut belum mendapat perawatan di rumah sakit. Padahal, relawan Lapor Covid-19 telah menghubungi pejabat terkait mulai dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Belum. Kami sudah menghubungi Menkes dan Gubernur Jakarta, dan banyak pihak lain. Katanya sedang dicari, tapi belum ada sampai sekarang," kata relawan Laporcovid-19, Ahmad Arif, kepada Kompas.com, pukul 13.06 WIB.

Pada Selasa (19/1/2021) pukul 14.49 WIB, ketiganya baru mendapat perawatan di RSCM. Namun, mereka tak langsung menjalani perawatan di ruang ICU. Sebab, tempat tidur ICU di RSCM juga sudah terisi semuanya.

"Masih harus antre karena UGD juga penuh," kata Arif.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meminta pemerintah pusat mengambil alih koordinasi penangangan Covid-19 di wilayah Jabodetabek.

"Pak Gubernur berkoordinasi dengan pemerintah pusat, berharap nanti pemerintah pusat bisa mengambil alih, memimpin," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa.

Apabila pemerintah pusat mengambil alih penanganan Covid-19 di Jabodetabek, fasiltias kesehatan diharapkan bertambah sehingga mampu menampung lebih banyak pasien.

"Agar ada peningkatan fasilitas di sekitar Bodetabek, sehingga ketersediaan fasilitas di Jakarta bisa terus meningkat, tapi okupansinya turun," ujar Riza.

Menurut Ariza, koordinasi antar wilayah terkait penanganan Covid-19 semestinya dilakukan tidak hanya dari sisi waktu penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara bersamaan saja.

Pemerintah pusat seharusnya hadir ketika koordinasi mengenai penggunaan fasilitas kesehatan antar wilayah mulai terganggu.

"Kami harap kebijakan ini terus ditingkatkan tak hanya substansi, materinya, tapi juga waktunya disamakan, tapi berbagai fasilitas kesehatan juga perlu ditingkatkan," ujar dia.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, pemerintah harus segera menambah jumlah rumah sakit rujukan Covid-19 secara berkala.

Hal itu perlu dilakukan guna mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 di Indonesia.

"Artinya kita memang harus antisipasi dari waktu ke waktu, jadi kalau dahulu kita sudah menaikkan jumlah rumah sakit untuk rujukan, sekarang harus menaikan lagi, bulan depan harus naik lagi," kata Zubairi, dalam diskusi secara daring.

Zubairi memahami bahwa saat ini proses vaksinasi Covid-19 sudah dimulai. Namun, butuh waktu lama agar vaksin bisa bekerja maksimal untuk membentuk kekebalan komunitas.

Sebagai solusi jangka pendek, Zubairi meminta pemerintah tetap menambah jumlah rumah sakit dan tempat tidur untuk pasien Covid-19.

"Kemudian bagaimana kalau naik 1,2 juta, 1,5 juta artinya memang kita harus menyesuaikan menambahkan secara berkala, tempat tidur di rumah sakit, di ICU, ventilator," ucap Zubairi.


SUMBER


NGERI CUY .... RUMAH SAKIT SUDAH KOLAPS


emoticon-Takut emoticon-Takut emoticon-Takut
profile-picture
odjay05 memberi reputasi
Yah nih, udah mendesak.

emoticon-Mewek
Kenapa harus pemerintah pusat, pemerintah daerah juga kudu tegas dalam menjalankan PSBB emoticon-Hammer

Udah 2021, masih ada aja pake lempar tanggung jawab emoticon-Nohope
profile-picture
daimond25 memberi reputasi
efek memilih penyelesaian tanpa hitung2an matematika,
kl cuma 1 langkah sih masih bisa teratasi, tapi kl sudah belasan langkah, kl mau kembali jalan yang benar harus ada yang dikorbankan,
Dirjen yankes kemenkes sih udah mulai rekrut buat upgrade RS pusat di kota2 besar.
Untuk covid, rekrut tenaga jalan terus. Penugasan RS seIndonesia.

Kalau untuk khusus covid gini ya mau gak mau RS darurat khusus covid.
Dari awal udah ada rencana join TNI/Polri ama kemenkes buat RS darurat, kayaknya baru beberapa daerah yg mulai bangun.
contoh china
anggap copid ga ada
hasilnya cuma 80 ribuan kena covid emoticon-Leh Uga
profile-picture
gesermeja memberi reputasi
kata bapak presiden : Alhamdulillah Kita Tidak Sampai Lockdown

tapi akhirnya kita bingung, sekarang banyak yg nggak ketampung di rs

Dulu ada relawan yg dilatih untuk membanti tugas dokter dan suster. Masih jalan kah???
Bnyk gedung sekolah negeri dan GOR yg tutup. Sudah waktunya di rubah fungsinya sementara. jgn tunggu sampai ada mayat dijalanan.
Kalau bisa ga harus tunggu siapa2.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus mengolah strategi agar masyarakat tidak kesulitan mencari tempat buat mereka yg tengah terpapar covid.

Apalagi di zona merah byk yg penuh.

Kecuali 2-2nya sudah lepas tangan.
rs banyak yg kolaps, masih aja korupsi bansos difabel kelakuan manusia setan dari PDIP

Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek
Diubah oleh satriagujis5
udah kolep ga usah gebrak gebrak
ngapain buat RS darurat sementara banyak RS yang beroperasi tapi minim pasien? mending konversi aja beberapa RS jadi tempat perawatan pasien covid, semua tempat di RS tersebut jadi ruang isolasi. kalau macam sekarang cuma andalkan ruang isolasi, ya cepat penuh.
kalau anies tak sanggup lagi, memang harusnya pemerintah pusat langsung mengirim timnya ke kantor gubernur dan mengambil alih komando dan kantornya
Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di