si.matamalaikat
TS
si.matamalaikat
Pindad SS1 - Senapan Serbu Buatan Dalam Negeri yang Digunakan Oleh TNI dan POLRI
Meski di segmen alutsista lapis baja berupa APC dan medium tank PT Pindad masih belum berhasil menembus pasar ekspor, namun di segmen senapan serbu mereka cukup sukses. Senapan serbu buatan Pindad sampai saat ini sudah banyak digunakan oleh TNI dan POLRI, selain itu senapan ini telah diekspor ke beberapa negara seperti Kamboja, UEA dan Nigeria.

Kali ini TS akan membahas SS1 buatan BUMN yang punya markas di Bandung, seperti biasa kita mulai pembahasan kali ini dari sejarahnya.




SEJARAH

Pada tahun 1982 sekitar 10.000 senapan FN FNC dibeli untuk TNI, senjata ini diproduksi oleh perusahaan Fabrique Nationale asal Belgia. Perusahaan tersebut memang dikenal sebagai produsen senapan yang handal. Pindad kemudian mendapatkan lisensi pada tahun 1984 dari FN untuk memproduksi FNC. Produk yang dibuat dibawah lisensi ini diberi nama SS1, akronim dari Senapan Serbu 1.

FN-FNC yang diproduksi PT Pindad adalah singkatan dari 'Fabrique Nationale Carabine' yang merupakan jenis senapan serbu, mulai dikembangkan pada pertengahan 1970-an dan mulai diproduksi pada tahun 1979. Rancangan senjata diambil dari berbagai senjata yang lebih dulu ada seperti FN FAL, AK-47, M16, dan Galil.

FN-FNC menggunakan peluru 5.56 x 45 mm standard NATO. Mampu menembakkan 700 butir peluru per menit dengan jarak efektif mencapai 450 m, magazen senjata ini berisi 30 butir peluru. Selain digunakan Belgia, senjata ini juga sudah dipakai oleh Venezula, Indonesia, Swedia serta Nigeria.




Ilustrasi: pindad.com


Indonesia kemudian resmi mengadopsi SS1 menjadi senjata standard bagi TNI-POLRI pada tahun 1991. Dalam merakit senjata api yang masuk kategori senapan serbu atau "assault riffle", PT Pindad cukup sukses menarik minat dari dalam negeri terutama dari pihak militer dan kepolisian.

Seiring berjalannya waktu, modifikasi kecil dilakukan pada SS1. Perbedaan mencolok antara SS1 dan FN-FNC terdapat pada front grip (pegangan muka pelatuk). Perbedaan lainnya terletak pada alur lade (pelindung laras), pada FN-FNC alur lade berbentuk horizontal searah dengan laras. Sedangkan alur lade pada SS1 berbentuk vertikal mirip seperti pagar.


Sekilas Tentang SS1

SS1 diproduksi dalam 2 konfigurasi yaitu senapan standard dan karabin pendek. Versi senapan standar alias varian awal disebut SS1-V1 dan versi karabin disebut SS1-V2. Selain itu SS1 bisa dipasangi berbagai peralatan tambahan seperti Foregrip yang bisa merubahnya seperti model Standar M4A1 tanpa Red Dot Sight, pelontar granat (M203, M320/GP25).

SS1 juga bisa dipasangi berbagai Scope seperti Red Dot Sight, Holographic Sight dan ACOG Sight serta Mars Sight yang scopenya sudah menempel di senjata.

Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO serta peluru .233 Remington, senapan ini memiliki berat kosong 4.01 kg serta berat isi 4.38 kg. Panjang larasnya mencapai 449 mm, SS-1 V1 dapat menembak dengan akurat sampai jarak 400 meter. Mobilitas dalam penggunaan SS1 semakin mudah dengan konfigurasi popor yang dapat dilipat, SS1 juga mudah untuk dibongkar serta dipasang kembali.

Rata-rata tembakan SS1 adalah 700 butir per menit dengan kecepatan peluru 710 meter per detik, untuk amunisinya SS1 dibekali magazen yang berisi 30 butir peluru. Terdapat tiga mode menembak dari SS1 mulai dari single, 3 rounds burst serta safe. Saat ini varian SS1 mulai digantikan dengan varian penerusnya yakni SS2 serta SS3, namun begitu varian awalnya masih banyak yang digunakan.

SS-1 sendiri cukup sukses diproduksi di dalam negeri sekaligus sudah menembus pasar ekspor, sudah banyak varian senjata yang dikembangkan dari versi awal ini. Berikut ini adalah beberapa varian yang TS ketahui:

1.SS1-V1



Ilustrasi: pindad.com

Ini adalah varian utama dan paling banyak digunakan oleh TNI dan juga POLRI, dengan laras standard 449 mm dan popor yang dapat dilipat.



2.SS1-V2



Ilustrasi: pindad.com

Ini adalah senapan serbu pengembangan dari SS1-V1 yang diadopsi langsung dari FN FNC. Memiliki berat kosong 3.93 kg dan berat isi 4.29 kg, serta panjang laras 363 mm. Untuk peluru tetap menggunakan kaliber 5.56 x 45 mm standard NATO.


3.SS1-V3



Ilustrasi: informasi-apaaja.blogspot.com

Varian ini memiliki popor tetap alias tidak bisa dilipat seperti dua varian sebelumnya, laras senapannya memakai versi standard.


4.SS1-V4



Ilustrasi: informasi-apaaja.blogspot.com

Varian senapan penembak jitu, bentuknya sekilas mirip dengan SS1-V1, senapan ini digunakan untuk baku tembak jarak menengah dan jauh. 


5.SS1-V5



Ilustrasi: informasi-apaaja.blogspot.com

Ini adalah varian terkecil dari keluarga SS1 dengan laras 252 mm dan bobot 3,37 kg dengan popor yang bisa lipat. Biasa digunakan oleh para pasukan artileri, pasukan garis belakang, dan pasukan khusus.


6.SS1-R5



Ilustrasi: pindad.com

Varian SS1 berjenis karabin yang di rancang untuk pertempuran jarak dekat seperti pertempuran kota yang memerlukan mobilitas tinggi serta akurasi tembakan jarak dekat yang baik. SS1-R5 dibuat dengan berat yang lebih ringan, hanya 3.73 kg dalam keadaan terisi. Larasnya berukuran lebih pendek yakni 252 mm, serta dimensi yang lebih ringkas.

Senapan dibekali popor yang bisa dilipat serta tambahan picatinny rail yang membuatnya bisa dipasangi berbagai aksesoris tambahan seperti alat bidik optik. Varian ini dikembangkan dari model SS1-V5 dan dibuat secara khusus untuk memenuhi kebutuhan pasukan Batalyon Raider TNI AD.




SS1-R5 digunakan Batalyon Raider.

Foto: indomiliter.com


7.SS1-M1



Ilustrasi: pindad.com

Diambil dari rancangan dasar SS1-V1, SS1-M1 dibuat secara khusus untuk memenuhi kebutuhan pasukan Marinir di TNI-AL. Pengembangan dilakukan dengan memberikan coating khusus yang membuat SS1-M1 tahan terhadap karat, sehingga senapan dapat dioperasikan secara penuh di wilayah laut dan perairan. Huruf M sendiri berasal dari kata Marinized.


8.SB1-V1



Ilustrasi: pindad.com

Senjata yang dibuat khusus untuk kebutuhan kepolisian khususnya di satuan Sabhara. SB1-V1 mengambil rancangan dari SS1-V2 yang dikembangkan untuk dapat menerima peluru dengan kaliber 7.62 x 45 mm. Senjata ini memiliki jarak efektif 300 meter dengan 3 pilihan tembakan yakni single, 3 rounds burst, serta safe.


9.SB1-V2



Ilustrasi: pindad.com

Senjata ini juga di rancang khusus untuk satuan Sabhara. SB1-V2 merupakan versi karabin yang dikembangkan dari pendahulunya yakni SB1-V1 dengan laras yang lebih pendek. Senjata ini memiliki panjang laras 247 mm dengan 3 pilihan tembakan yakni single, 3 rounds burst, serta safe. SB1-V2 juga bisa dilengkapi alat bidik optik, jarak tembak efektifnya adalah 200 meter.


10.SBC-1



Foto: Facebook Kartika Shooting Wonosobo

Senjata khusus yang dibuat untuk Bea Cukai diambil dari basis SS1-V5, SBC adalah singkatan dari Senapan Bea Cukai. Senjata diberi lapisan pelindung anti karat berwarna biru tua yang sesuai seragam petugas Bea Cukai. Untuk kapasitas magazen SBC-1 adalah 20 butir peluru. Karena pelurunya tidak boleh sama dengan peluru milik TNI dan POLRI, maka Pindad membuat peluru khusus kaliber 5,56 x 44 mm yang berkode MU42-TJ.

Kepala peluru milik SBC-1 dibuat tumpul, di mana para petugas Bea Cukai hanya melumpuhkan target dan tak sampai membunuhnya. Karena pelurunya tumpul, maka jarak efektifnya pun lebih pendek serta kecepatannya berkurang. Rata-rata tembakannya adalah 60 butir/menit dengan jarak efektif 200 m. SBC-1 juga bisa dipasangi alat pembidik optik.



Senapan yang Dipakai Kombatan ISIS Marawi ?

Ada kabar kurang sedap datang dari senapan buatan Pindad, pada tahun 2017 SS1-V1 serta SS1-V2 dipakai oleh kombatan ISIS di Marawi. Komandan Batalyon Infanteri Makabayan ke-33 yang bernama Cabunoc merilis foto senjata hasil sitaan dari para kombatan ISIS pada 8 Juni 2017.

Sayang, ia tak memberikan info detail darimana senjata itu didapatkan. Senjata tersebut berupa senjata serbu yang terdiri dari 2 buah M16, 3 buah Karabin M4, 1 buah CAR-15 dan satu di antaranya tampak seperti SS-1 milik PT Pindad. Foto penampakan SS-1 ini tidak begitu jelas, jadi waktu itu belum dapat dipastikan apakah salah satu senapan itu adalah SS-1.

Jejak senjata yang dipakai pemberontak Filipina bisa dilacak dari insiden penangkapan Kapal kargo M.V. Captain Ufuk pada tahun 2009 di Pelabuhan Batangas, Filipina. Penangkapan Captain Ufuk jadi heboh karena kapal ini membawa senjata serbu milik Pindad sebanyak 20 box kayu. Setiap kotak berisi lima pucuk SS1-V1 kaliber 5,56 lengkap dengan 15 magazen, lima bayonet, dan lima tali sandang.




Senjata yang disita Filipina tahun 2017, diduga ada SS1.

Foto: tirto.id


Dari 100 pucuk SS-1 itu, hampir separuhnya raib entah kemana. Yang disita Polisi Filipina hanya 50 pucuk SS-1. Kemungkinan senjata tersebut jatuh ke tangan pemberontak. PT Pindad menyatakan pesanan dari Filipina adalah pistol P2, sementara senjata laras panjang tipe SS1-V1 adalah pesanan dari Mali, Afrika Barat.

Agen pembelian senjata kedua negara waktu itu dipegang seseorang bernama William Nestor del Rosario dari perusahaan agen senjata Red White Blue (RWB) Arms Incorporated, yang berkantor di kawasan bisnis Makati, Manila. Proses pemesanan dilakukan secara legal dan menyertakan izin dari Kepolisian Filipina dan Departemen Keamanan Dalam Negeri Republik Mali.

Dalam kontrak tersebut Rosario meminta pengiriman senjata menggunakan sistem FOB alias 'free on board'. Artinya, PT Pindad hanya bertanggung jawab mengurus pengiriman dari pabrik di Bandung hingga Pelabuhan Tanjung Priok. Jika terjadi sesuatu di laut lepas setelah keluar dari Tanjung Priok, itu bukan tanggung jawab PT Pindad.




Anggota Brimob dilengkapi dengan SS1.

Foto: wikipedia.org


Kemungkinan salah satu senjata yang disita Filipina tahun 2017 berasal dari peristiwa tahun 2009, senjata tersebut adalah bagian kecil dari puluhan senjata sitaan milik ISIS di Marawi. Di Indonesia penggunaan senapan serbu buatan Pindad bagi kalangan non-militer bukanlah hal yang tabu. OPM, GAM, bahkan kelompok Santoso banyak menggunakan varian SS-1 atau SS-2 yang didapat dengan merebutnya dari para aparat.

Tidak menutup kemungkinan juga SS1 yang ditemukan di Filipina dibawa langsung dari Indonesia dan berpindah-pindah tangan hingga akhirnya tiba di sana. Saat konflik Poso dan Ambon, banyak senjata SS1 pindah tangan dan berakhir ke tangan para kombatan yang hilir mudik ke Mindanao lewat Bitung-Gensan. Masalah hilangnya separuh senjata dalam insiden tahun 2009 belum jelas sampai saat ini, kemungkinan separuh senjata raib diambil para kombatan.




Ilustrasi: sindonews.com


Meski diwarnai kontroversi, namun hal itu tetap tidak mempengaruhi proses produksi varian selanjutnya dari SS1. Karena pada dasarnya proses ekspor senjata ke Filipina sudah legal dan sesuai aturan, kesalahan sebenarnya terdapat pada agen pemesan senjata dari Filipina.

Sementara dalam kontrak dengan pihak PT Pindad, mereka hanya akan mengirim pesanan sampai ke pelabuhan Tanjung Priok sesuai kesepakatan yang telah ditandatangani secara resmi. Setelah keluar pelabuhan jika terjadi sesuatu terhadap barang pesanan, maka itu bukan lagi urusan Pindad (seller) dikarenakan pengiriman dilakukan dengan cara FOB sesuai permintaan. Mungkin kedepannya pesanan senjata khusus untuk Filipina bisa menggunakan sistem COD, agar tidak ada kecurigaan dari Filipina kepada Indonesia.

Meski diwarnai kontroversi, setidaknya sebagai WNI kita sedikit boleh berbangga karena senapan buatan dalam negeri bisa jadi senjata standard bagi pihak militer dan kepolisian Indonesia. Meski produknya masih dibuat dibawah lisensi, itu bukanlah masalah yang berarti, lebih baik membuat produk lisensi daripada membuat sendiri yang hasilnya mungkin tidak sesuai ekspektasi.



SS1 Pindad

Negara Pembuat: Indonesia
Perancang: Fabrique Nationale Belgia
Pengembang & Produsen: PT Pindad
Peluru: 5.56 x 45 mm standard NATO dan .233 Remington
Berat Kosong: 4.01 kg
Berat Isi: 4.38 kg
Panjang Laras: 449 mm
Jarak Tembak Efektif: 400 meter.
Rata-Rata Tembakan: 700 butir/menit Kecepatan Peluru: 710 meter/detik
Box Magazen: 30 butir peluru
Negara Pengguna: Indonesia, Kamboja, Laos, Mali, UEA, Nigeria



Spoiler for Tambahan Tentang SS1:



Demikian sedikit bedah alutsista buatan PT Pindad, dimana senapan serbu buatan mereka cukup sukses di dalam negeri dan banyak dipakai TNI-POLRI. Semoga pembahasan kali ini bisa menambah wawasan buat kita semua di bidang tembak-menembak. Jika kalian menyukai tulisan ini jangan lupa untuk rate 5, share, cendol serta komen. Sampai jumpa lagi di pembahasan selanjutnya, enjoy Kaskus emoticon-Angkat Beer


Referensi: 1.2.3.4
Ilustrasi: pindad.com, wikipedia.org, google image
Diubah oleh si.matamalaikat 13-01-2021 15:56
PaldiBinEferaldi2001scorpiolama
scorpiolama dan 54 lainnya memberi reputasi
53
14.9K
107
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan