CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f375b768d9b175af43ae2d3/angus-poloso-legenda-ki-ageng-selo

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 8

Interlude - Mesin Waktu.

Setelah pembicaraan yang panjang dan tak ada artinya, akhirnya kini Mbah Jayos, selaku mentor utama segera naik ke panggung untuk memberikan sepatah dua patah kalimat yang akan dia sampaikan pada para peserta.

“Ehm, oke anak-anak. Saya ke sini akan memberikan sepatah dua patah kata bagi peserta yang akan mengikuti ujian Test of Faith ini,” kata Mbah Jayos membuka pidato. “Seperti yang kalian ketahui kalau dalam ujian ini, kalian harus mengerahkan segala kemampuan yang kalian punya untuk kembali menyegel para demit-demit ke dalam Angus Poloso. Oleh karena itu, kalian harus mencurahkan segalanya dalam ujian ini, baik harta, semangat, kemampuan, bahkan nyawa kalian. Dari seratus peserta, saya memastikan hanya tiga puluh orang saja yang akan bisa keluar dengan selamat dari ujian ini dan yang lainnya akan meregang nyawa maupun hilang!”

Mereka semua terdiam, tak ada yang berani atau memang sudah tahu akan resikonya. Aku pun juga terdiam mengetahui kalau hal ini telah diceritakan oleh kak Vita, namun namun berbeda dengan Mela, dia sudah terlihat ketakutan setengah mati, bahkan tangannya sama sekali tak terlepas dari pelukannya kepadaku.

“Mela kau takut ya?” tanyaku khawatir.

“Eh, nggak kok. Cuman ini adalah pengalaman pertamaku, jadi ...” jawabnya mencoba menutupi rasa ketakutannya itu.

“Itu namanya kau ketakutan, tau! Nggak apa-apa kok, ada aku di sini yang siap melindungimu.”

Kemudian terdengar suara dari atas mimbar, Mbah Jayos seperti melihatku yang tengah menenangkan ketakutan Mela. “Oke, anak-anak. Sebelum ujian ini di mulai sebaiknya kalian segera beristirahat terlebih dahulu sekaligus mencari dan membentuk tim kalian.”

Dari penjelasan Mbah Jayos di atas aku berhasil mengambil beberapa kesimpulan dalam pembentukan tim nanti. Setiap tim harus mempunyai lima anggota, dan partner itu tidak dihitung sebagai anggota, jadi kami harus mengumpulkan sepuluh orang, jikalau partner mereka ikut dihitung.

“Anoo, maukah kau menjadi salah satu regu timku?” tanya seorang gadis sembari menarik-narik pakaianku dari belakang. Aku menoleh ke belakang sampai kedua mata kami saling berpapasan.

“Meme Febtyana,” ucapku yang terkejut melihatnya.

“Eh, kak Umam. Aku tak menyangka kakak bisa ada di sini. Ikut Test of Faith lagi ya kak?” jawabnya sembari balik bertanya. “Oh ya, gimana kabar Danang?”

“Ah, biasalah. Tiga tahun lalu aku gagal dalam ujian ini, jadi aku harus mengulang lagi deh!” jawabku sekenanya. “Soal Danang, dia masih seperti dulu kok. Lain kali kau mampir saja ke rumah kalau ada waktu,”

Meme Febtyana ini adalah pacar atau lebih tepatnya tunangan dari Danang. Dia adalah sesosok gadis yang mampu menyembuhkan rasa trauma Danang saat ia dihianati oleh Dewi Anjar yang telah menipunya mentah-mentah.

Melihat obrolan akrab kami, Mela yang berada di sampingku itu merasa diacuhkan, dan hal itu membuatnya tak nyaman. Dengan segera, dia mengarahkan telunjuk tangannya ke arah Meme, dan dengan tatapan kosongnya, dia berkata, “Darling, apakah aku boleh membunuh gadis ini? Aku tak suka diacuhkan oleh orang yang kucintai. Jadi, sebelum gadis ini ikut campur, bolehkan jikalau aku membunuhnya?”

Ucapan Mela langsung membuat kami berdua tak nyaman. “Tenang, Mela, tenang! Meme ini adalah pacar adikku, jadi mana mungkin aku ada rasa padanya,”

Dengan segera Meme segera mengajak Mela berkenalan, ya walaupun aku tahu dia terlihat sedikit takut, “Aku Meme, pacarnya Danang. Salam kenal ya?”

Mela pun kembali ke kondisinya semula dan bergegas memperkenalkan diri pula. “Aku Mela, tunangannya Umam. Salam kenal juga!”

Mereka berduapun akhirnya bersalaman. Melihat tingkah Mela barusan, membuat Meme mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam timku. Namun setelah kukatakan kalau dalam ujian kali ini akan banyak petaka yang menimpa, dia pun memutuskan lagi untuk masuk ke dalam timku.

Duh! Apaan yang barusaja aku rasakan ini. Mela yang begitu manja itu ternyata memiliki sikap seperti itu. Sikap seorang yandere yang begitu over dalam mencintai seseorang. Tak mau memperburuk suasana, aku ajak mereka berdua untuk berjalan menyusuri koridor-koridor kelas di ponpes itu dan berharap ada seseorang yang mau bergabung ke tim kami.

“Oh ya, Feby. Pasanganmu mana?” tanyaku baru teringat mengenai pasangan Meme yang belum muncul.

“Oh, entahlah! Tidak biasanya Siti seperti ini,” jawab Meme yang menengok ke kanan ke kiri mencari pasangannya itu. “Umam, bisakah kau bantu aku mencarinya?” pintanya. Aku sih fine-fine aja, tapi tidak dengan Mela. Dia menatap Meme sudah seperti ingin membunuhnya. Walaupun begitu, aku tetap membujuknya supaya mengerti, dan akhirnya aku pun mendapat izinnya.

Aku meninggalkan Mela di depan kantin sementara kami berdua segera mencari Siti dari segala tempat yang ada. Ruang kelas, asrama, mushola dan sebagainya, namun tak ditemukan batang hidungnya.

Setelah lama pencarian, kami berdua menemukannya tepat di kamar mandi. Di sana dia melakukan sesuatu yang bahkan orang gila takkan mau melakukannya. Naudzubillah Min Dzalik ...!

Dia menggaruk-garuk perutnya sampai sobek dan ketika darah mengucur, dia menadahi darah yang keluar itu dengan kedua tangannya dan kemudian dia minum darahnya sendiri.

Aku benar-benar mual melihatnya, bahkan hampir saja membuatku muntah. Namun ketika aku hendak menolongnya dan mengantarnya ke lokasi para mentor, dari belakang, Meme tiba-tiba menusukkan pisau yang ia bawa, mengenai punggungku.

Mereka berdua kesurupan!

Untung saja kala itu, mengetahui ada yang janggal kepada Meme, aku bergegas memasukkan sebuah katon ke dalam pakaian belakangku, sehingga tusukan pisau itu sama sekali tak melukaiku. Dengan segera kubalikkan badanku dan kupukul bagian perutnya sehingga ia mengaduh dan lemas. Aku pukul untuk kedua kali dan akhirnya dia pun jatuh pingsan di sana.

Setelah itu, aku bergegas menuju ke tempat para mentor berada dan memberitahukan apa yang terjadi kepada anggota timku. Dengan segera dua orang di antara mereka datang menolongku untuk membopong Meme dan Siti ke mushola dan meruqyahnya.

Butuh waktu sejam lebih bagi para ustadz dan ulama di sana untuk meruqyah Feby dan Siti. Namun perjuangan keras mereka membuahkan hasil, dan Feby (kusebut saja Feby biar enak daripada Meme) juga Siti akhirnya siuman.

Sebelum itu terjadi ...

“Hahaha ... aku adalah penguasa malam dan kegelapan. Kuikat jiwa dan tubuh gadis ini untuk mengakhiri gadis yang bersamamu, cicit Kyai Marwan,” Feby teriak-teriak sembari mengarahkan telunjuknya ke arahku. Para ustadz dan ulama lain lagi membaca doa.

“Mela? Apa urusan demit macam kau dengannya, he!?”

“Dia adalah kegelapan itu sendiri. Lepaskan kami anak muda, kau akan tahu sendiri kalau gadis itu tidaklah sebaik yang kau duga,” sahut Siti yang menyahuti pembicaraan kami. “Tidak hanya kami yang sedang mengamati gadis itu, namun ada ribuan, tidak jutaan demit dan iblis yang sedang memata-matai gadis itu sekarang. Dan begitu kalian lengah, maka nyawa gadis itu akan melayang di tangan kami. Hahaha!”

“Demi Allah, dan demi keagungan kalam-Nya. Jangan bicara yang tidak-tidak mengenai tunanganku. Iblis keparat!”

Sesadarnya mereka dari kesurupan, mereka berdua bilang tak tahu apa-apa. Feby pun tak tahu kalau aku mengikuti ujian ini dan dia masuk ke reguku. Itu berarti dia kesurupan sebelum aku bertemu lagi dengannya.

Aku yakin kalau demit-demit yang sudah merasuki Feby dan Siti itu adalah panggilan dari seseorang, karena tak mungkin demit itu tahu kalau aku mengajak Mela untuk mengikuti ujian ini, dan mana mungkin sesosok demit kelas teri mampu merasuki tubuh manusia yang punya garis darah dari Kyai Marwan, selain karena kehendak manusia itu sendiri yang mengizinkannya.

...

Setelah semua kembali normal, aku, Feby, dan Siti bergegas menuju ke halaman ponpes guna mencari anggota. Namun sayangnya kami terlambat. Semua peserta sudah mendapat pasangan mereka masing-masing.

Tak mendapat anggota baru, kami segera kembali ke tempat di mana kutinggal Mela. Di sana sudah berkumpul empat pria yang mencoba merayu Mela untuk ikut ke kelompoknya. Tak tahu mengapa, saat mereka mencoba menyentuh dan meraba tangan Mela yang halus itu membuat tempramenku meninggi seketika dan langsung memukul keempat pemuda itu.

“Kalian jangan ganggu kekasihku!”

“Cih! Berani juga kau?”

Mereka berempat langsung memukuliku secara bergantian. Jujur saja seni bela diriku kalah dengan mereka. Sehingga di sana aku hanya menjadi bulan-bulanan mereka saja. Feby dan Siti tak bisa berbuat banyak untuk menolongku karena mereka hanya gadis yang lemah, sementara Mela, mencoba menolongku namun dia terkena imbasnya pula.

Sampai datang Mbah Ibu yang datang dan melerai perkelahian kami. Melihat cicitnya terluka akibat dipukuli oleh peserta-peserta lain, membuat amarah Mbah Ibu memuncak. Dia hendak mengeluarkan keempat peserta tadi, namun hal itu kucegah.

“Jangan, Mbah Ibu! Kalau kau mengeluarkan mereka, maka akan mempersulit anggota timnya yang lain. Jadi kumohon untuk memaafkan mereka!” kataku yang mencoba membujuk Mbah Ibu. “Lagian aku orang pertama yang memukul mereka, jadi salahnya juga padaku.”

Mbah Ibu akhirnya menghela napas panjang. Dia pun segera mengobati luka-lukaku dengan ajian Sewu Urip miliknya. “Ya udah, nak! Terkadang keputusan baikmu ini bakal menjadi petaka buatmu nanti. Namun, mbah bersyukur kau mempunyai hati yang lapang!”

Setengah jam kemudian, karena kami sudah tak bisa mencari anggota lain, maka kami dipasangkan secara acak dengan peserta yang masih tersisa. Ya walaupun anggota kami kurang dari sepuluh orang, namun setidaknya mereka mempunyai kekuatan mental dan supranatural yang mumpuni.

Mereka adalah: (Umam dan Mela), (Feby dan Siti), (Andre dan Wulan), dan (Agung dan Cici). Karena sudah pernah mengikuti ujian ini, aku diminta oleh semuanya untuk menjadi pemimpin sekaligus penanggung jawab kelompok ini, sedangkan Feby diangkat menjadi wakilnya. Hal ini sedikit membuat Mela cemberut setengah mati, namun pada akhirnya dia pun setuju.

Setelah semua siap, kami semua dipanggil oleh Mbah Jayos ke dalam aula ponpes. Kami adalah tim yang terakhir yang belum dikirim ke dimensi lain oleh para mentor, namun ternyata ini ada alasan buat Mbah Jayos bicara pada kami.

“Le, apa kau tahu mengapa kau kupanggil ke mari?” tanya Mbah Jayos ramah. Tatapan matanya terlihat sejuk untuk dilihat. “Apa kau tahu alasannya mengapa aku menyegel kekuatanmu?”

Aku mengangguk pelan. “Iya, Mbah. Tapi aku juga tidak mengerti.”

Kulihat Mbah Jayos sedikit melirik ke arah Mela yang masih tak henti-hentinya merangkul lenganku erat-erat, seolah takut dengan tatapan Mbah Jayos padanya.

“Oh begitu? Lalu apa yang tidak kau mengerti itu, nak?” tanyanya.

“Mengapa mbah menyegel kekuatanku? Aku yakin ada alasan lain selain apa yang dikatakan Mbah Gel beberapa waktu lalu. Apa itu?” jawabku yang meminta sebuah kepastian akan alasan mengapa kekuatanku disegel, padahal di ujian kali ini aku sangat membutuhkannya.

“Iya, kalau darling masih punya kekuatan, pastinya dia nggak akan terluka macam tadi, mbah,” seru Mela membelaku.

“Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya kata-katamu, Mam!” sahut yang lain membelaku.

Mbah Jayos hanya tersenyum kecut mendapati pembelaan mereka semua. “Diam kalian semua! Kalian tak tahu apa yang sudah kurencanakan. Aku melakukan semua ini untuk melindunginya!”

Semua terkejut seketika. “Melindungi? Melindungi dari apa?”

“Banyak hal. Kukatakan satu saja alasannya. Melindungi dari kejaran Ki Sugeng, Ki Ujek, dan Ki Susilo. Apa kalian sudah paham?” jawab Mbah Jayos yang sedikit membentak. “Asal kalian tahu, mengajak Mela dalam ujian ini menimbulkan banyak bencana, kalian tahu? Semua sekte sesat yang ada di penjuru negeri ini pada berbondong-bondong ke jawa hanya ingin mendapatkannya!”

“Jadi semua ini salahku?” tanya Mela yang mulai menyalahkan dirinya sendiri. “Jadi aku hanya ada di sini karena diriku dikhawatirkan, bukan karena kau ingin mengajakku begitu, Mam?”

Mela bergegas keluar dari ruang, dan aku langsung menggenggam tangannya dan kupeluk dia. Pertama-tama dia masih memberontak, namun pada akhirnya dia pun menyerah dan membiarkanku menenangkan hatinya.

“Cih! Jadi baper liatnya,” ujar Andre. “Kudenger-denger sih mereka sudah bertunangan. Apa itu benar?”

“Iya, kak Umam itu adalah kakak dari pacarku, jadi aku tahu semua tentang dia. Kalau Mela, ini baru pertama kali aku bertemu dengannya.” Jawab Feby.

Setelah semua siap, kami pun dikirim ke dimensi lain yang menghubungkan ruang dan waktu oleh Mbah Jayos. Entah kita akan dikirim ke tempat mana maupun petualangan apa yang akan kami hadapi, namun satu yang pasti.

Kami akan saling menjaga satu sama lain supaya tim yang kupimpin kali ini berhasil melewati ujian ini tanpa harus kehilangan siapapun.

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys. Ini adalah interlude sebelum horror 21 nantinya. Horror 21 nanti akan berjudul 'Pelet Pengasihan'. Di mana ada dua gadis dari tiga bersaudari yang dipaksa nikah karena pelet ini. Dan ini kejadian terjadi tahun 1987 di mana waktu itu kehidupan masih teramatlah sederhana. Oh ya, ajian yang digunakan oleh Mbah Jayos untuk mengirim mereka ke dimensi lain, terhubung dari ruang dan waktu adalah 'Ajian Dimoro Cokro' atau 'Zaphiel' yang memungkinkan untuk mengirim seseorang ke waktu yang berbeda.

Perlu diingat kalau ajian ini takkan bisa merubah masa lalu, namun interaksi yang terjalin dari dua masa yang berbeda akan tetap terpatri di dalam hati kecil orang dari masa lalu dan membuatnya terhindar dari malapetaka yang akan terjadi padanya di masa depan. Itu tergantung apakah masa itu bisa dirubah atau sudah merupakan takdir.

So thank you and see you in horror 21.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Di tunggu part selanjutnya emoticon-Traveller


Mulai seru nich....emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 21 – (Test I) Pelet Pengasihan.

Setelah melewati lorong waktu milik Mbah Jayos, kami berdelapan sampai di sebuah hutan yang begitu rindang dan sepi. Hutan itu masih begitu asri dan lebat, tidak seperti sekarang yang sudah banyak penggundulan hutan.

Kami semua mulai menyusuri kawasan hutan itu berharap ada sebuah desa ataupun kota yang bisa kita gunakan sebagai tempat untuk berteduh, karena waktunya sudah hampir magrib, dan kami ingin menunaikan shalat maghrib berjamaah di mushola maupun masjid sekitar.

Setelah keluar dari kawasan hutan, kami bertemu dengan orang-orang yang masih lalu-lalang menggotong kayu bakar mereka masing-masing sembari menatap kami dengan tatapan yang aneh dan mencurigakan.

“Cok! Kita ditatap dengan tatapan yang asing,” ujar Andre mengumpat. “Mereka kira kita ini setan atau demit, ya?”

“Biasalah, Ndre! Kita ini kan berbeda zaman dari mereka. So take it easy!” sahut Agung mencoba menenangkan Andre yang emosinya mulai tersulut.

“Udah diam kalian! Sebaiknya kita segera cari warung di sekitar sini. Aku sudah lapar,” ujarku yang mencoba menenangkan suasana. “Feby, ayo ikut aku mencari warung sekitar sini! Kalian berenam tetap di sini ya,”

“Okelah, ketua!” jawab Siti patuh-patuh aja.

Mela langsung mencegatku untuk pergi. “Darling, aku ikut ya?”

“Nggak usah Mela! Kau tetap di sini dan berjaga. Biar aku dan Feby saja yang mencari warung sekitar sini. Kalau bisa, kita akan langsung cari tempat untuk kita menginap malam ini.” Jawabku yang langsung melepaskan tangannya. “Ndre, Gong, kalian tolong jaga Mela ya! Dia soalnya mempunyai sikap layaknya gadis kecil. Bisa?”

“Okelah, Mam!” sahut mereka berdua santai.

Kami akhirnya sampai ke sebuah warung yang buka malam itu. Di sana kami mendapat sambutan yang kurang mengenakkan dari pemilik warung dan para pengunjung warung tersebut.

Mereka menatap kami aneh, sinis, dan apatis. Seolah kami ini orang asing, orang non-pribumi yang datang untuk menjajah kembali tanah air. Bahkan ada yang menuduh kami sebagai dukun santet yang meresahkan penduduk sekitar.

“Aden, dan eneng orang mana?” tanya pemilik warung tersebut. “Kok kami belum pernah lihat orang seperti kalian?” tanyanya lagi.

“Ah, kami orang Blitar, bu.” Jawab Feby menerangkan. “Mungkin akan terdengar sedikit aneh, tapi kami datang bukan dari zaman ini, tapi dari tiga puluh tahun kedepan.” Tambahnya.

Mereka semua tertawa terbahak-bahak. “Mana mungkin ada orang dari masa depan datang ke zaman serba susah seperti sekarang? Pastinya kalian ini dukun santet, ya?”

“Bukan, pak! Memang ada apa sih?” tanyaku mencoba mengelak dari tuduhan mereka.

“Sebenarnya gini, nak! Dalam kurun waktu dua tahun ini, desa ini diteror terus oleh dukun santet yang membalas dendam atas kematian putranya karena diamuk masa karena dituduh melakukan pelet pengasihan kepada gadis-gadis cantik di desa ini,” jawab si pemilik warung tersebut gusar. “Mulai saat itu, teror-teror pelet pengasihan mulai menyebar ke seluruh pelosok desa, dan tiap malam jum’at kliwon, pasti ada setidaknya tiga gadis yang menghilang dalam kesunyian malam.”

“Denger-denger sih, mereka digunakan sebagai tumbal untuk memperkuat pelet pengasihan putra kedua dari dukun santet itu!” sahut para pembeli yang lainnya. “Untunglah dukun santet itu sudah kami habisi, kalau tidak desa ini akan terus diteror oleh santetnya. Tapi, kami dengar kalau putra si dukun santet sialan itu masih hidup dan meneruskan pelet pengasihannya untuk menikahi para gadis yang ada di desa ini, bahkan ...”

“Bahkan apa?” tanya Feby penasaran.

Salah satu dari pembeli langsung mendekat ke arah telinga kami dan menceritakan semuanya. “Bahkan dia telah memelet kembang desa yang merupakan putri dari kepala desa. Mulai saat itulah keadaan di desa ini semakin mencekam karena ...”

Belum sempat ia mengatakan alasannya, dia pun bergegas pergi dari warung itu begitu melihat sesosok gadis cantik nan jelita datang menghampiri warung itu. Bersamaan dengan itu, Mela dan yang lainnya menyusul kami ke warung itu.

“Kok lama banget sih, darling?” sapa Mela yang mulai mendekati tempat dudukku sambil sedikit cemberut. “Kalian main selingkuh ya di sini?” tanyanya penuh curiga.

“Eh, enggak kok, Mel. Kami cuman terperangah sama cerita bapak-bapak sini barusan. Iyakan, kak Umam?” sahut Feby menanggapi kecurigaan Mela yang berlebih itu.

“Iya, Mel! Kau nggak perlu khawatir segitunya kale. Sudah kukatakan kalau Feby ini pacar adikku. Mana mungkin aku selingkuh dengannya?” jawabku. Mela mengangguk percaya dan segera duduk di sampingku, membuat Feby agak sedikit menjauh dan kondisipun stabil.

Di saat teman-temanku pada makan, datanglah seorang gadis cantik dan jelita, yang rumornya merupakan gadis tercantik dan kembang desa yang ada di kampung itu sekaligus putri kedua dari kepala desa.

“Ano, apakah kalian orang-orang asing itu?” tanyanya ramah. “Banyak warga di sini yang sedang membicarakan kemunculan kalian di desa kami. Bisakah kalian ikut denganku ke kantor kepala desa? Pak kades ada sedikit perlu dengan kalian,” tambahnya.

“Njir, ayune ...!” sahut Andre dan Agung serempak. Mereka berdua pun bergegas mengajak kenalan tuh kembang desa. Dan syukurlah dia bukan orang yang cuek dan angkuh, sehingga ia mau memberitahukan siapakah namanya.

“Oh, maaf. Nama saya Ratih, mas Andre dan mas Agung. Aku adalah putri kedua dari pak kades Supratno di desa Lenggor Jati ini, mas e,” jawab Ratih sembari menyalami kedua playboy cap lengkuas itu.

Masih ada perlu dengan pemilik warung, aku suruh mereka semua untuk pergi duluan. Tanpa membantah lagi, mereka menurut begitu saja. Menyisakan diriku dengan Mela dan Cici yang masih ada di sana.

Cici kala itu merasakan sebuah firasat yang buruk terhadap Ratih dan desa ini. Aku tak mau menyangkalnya karena akupun juga sama. Sepertinya memang ada sesuatu yang janggal dengan desa ini. Oleh karena itu, aku berniat untuk menanyakan hal ini kepada si pemilik warung.

“Ano, bude. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Dan mengapa kondisinya semakin mencekam seperti ini?” tanyaku ramah ke pemilik warung itu. “Tadi saya sempat ke surau namun tidak ada siapapun yang melaksanakan ibadah sholat. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi selain hal yang menyangkut pelet dan dukun itu,” tambahku langsung menskak obrolan pemilik warung itu yang terlihat masih basa-basi.

Pemilik warung itu cuman menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang menelisik akan sesuatu di balik pepohonan itu. “Anu, nak! Maaf karena tak bisa menceritakan hal ini, karena nyawa saya sedang terancam. Sebaiknya adek-adek ini segera pergi dari sini!” kata pemilik warung tersebut ramah seolah ingin mengusir secara halus.

“Oh, baiklah bude. Kami permisi!”

Kami bertiga pun bergegas menuju ke rumah pak kades desa Lenggor Jati ini. Sementara di sana, teman-teman kami yang berangkat duluan langsung kena bentak oleh pak Supratno yang bahkan suara bentakannya sampai terdengar ke luar rumah.

“Kalian aneh-aneh saja! Menyebut kedua puteriku kena pelet pengasihan!!” bentak pak Supratno itu keras. “Aku ini Supratno, mantan jawara kampung sini. Tidak ada yang berani sama aku. Bahkan dukun santet itu tak bisa mengalahkanku. Paham!?”

“Iya, pak. Saya mengerti. Tapi apakah bapak pernah menaruh curiga dengan glagat puteri-puteri bapak?” sahut Andre mencoba meyakinkan si kades keras kepala itu. “Kalau tuan mengizinkan, saya dan teman-teman saya akan mendalami kasus ini dan menemukan siapa dalang dari semua ini.”

“Bedebah! Penjaga, cepat kurung mereka berlima ke gudang kosong di bawah tanah. Biar mereka rasakan akibatnya setelah menentang aku, Supratno!” perintah kades itu kepada ketiga penjaganya.

Mereka berlimapun di kurung di gudang kosong di bawah tanah. Sementara kami bertiga hanya menunggu di kediaman seorang pemuda, seorang santri lebih tepatnya yang letaknya hanya sepuluh meter dari rumah pak kades. Menunggu kelima teman-teman kami yang belum keluar dari ruang kades.

Hal ini menimbulkan rasa curiga di benakku. Aku memutuskan untuk menyelidiki hal ini seorang diri, namun keinginanku diketahui oleh si santri dan dia melarangku keras-keras.

“Jangan, adek Umam. Teror anak dukun santet itu akan mencelakaimu jika kau berurusan dengan boneka-bonekanya,” ujar si santri yang bernama Wisnu itu. “Saya lihat dari penerawanganku, teman-temanmu saat ini sedang disekap di sebuah ruangan bawah tanah, dan hanya si kades seoranglah yang mengetahuinya!”

Hal itu membuat emosiku sedikit meluap. “Santri, mereka adalah teman-temanku, dan mereka adalah amanah yang diberikan padaku untuk kujaga. Jadi, bagaimanapun juga aku akan menyelematkan mereka!”

“Aha, bagaimana kalau kita habisi saja mereka? Dengan begitu, si anak dukun santet lemah itu pasti akan menunjukkan diri di hadapan kita. Dan setelah itu, kita bunuh juga dia,” ujar Mela menyarankan. Duh, yang ada dipikirannya cuman membunuh dan membunuh aja.

“Ano, dia ini siapa, dek Umam?” tanya si Wisnu keheranan mendengar ucapan Mela barusan.

“Oh, dia ini Mela, kak Wisnu. Maklumi aja dia seperti itu. Hidupnya tragis dan hanya dengan itu, dia mampu bertahan,” jawabku menjelaskan. Kak Wisnu hanya mengangguk-angguk seolah memikirkan sesuatu.

“Kalau menurutku, sebaiknya kau turuti apa maunya si santri, Mam! Soalnya dia adalah penduduk asli sini, beda dengan kita yang datang dari masa depan,” sahut Cici menyarankan.

Malam ini kami habiskan dengan tidur sembari menyambut hari esok dan berharap kalau esok hari jauh lebih baik dari hari ini. Namun entah mengapa aku tak bisa untuk memejamkan mata, sementara Mela dan Cici terlihat terlelap di kamar tamu.

Karena insomnia ini dan pikiran akan teman-temanku selalu menghantuiku, aku putuskan untuk setidaknya berjalan-jalan ke luar sebentar, berharap dengan joging sebentar, akan menimbulkan rasa kantuk dan aku bisa tidur. Namun itu semua percuma. Aku malah semakin tak bisa tidur malam itu.

Waktu menunjukkan pukul satu malam. Keheningan yang kurasakan pun sirna ketika mendapati kak Wisnu sudah berada di belakangku dan menepuk pundakku dua kali.

“Kau tak bisa tidur, ya?”

“Tidak, kak! Aku masih kepikiran soal teman-temanku. Apa jadinya mereka ditangan si kades yang terkena guna-guna santet bersama kedua putrinya itu,”

“Aku mengerti perasaanmu. Namun, ilmu kita masih kalah jauh dengan anak si dukun santet itu. Kalau saja Kyai Umar masih hidup,”

“Kyai Umar? Siapa dia?” tanyaku.

“Dia adalah guru besar di ponpes Miftakhul Huda, sekaligus murid dari kyai Marwan bin Muhammad,” jawabnya lesu. Sepertinya kyai Umar adalah gurunya. “Dia wafat kurang lebih tujuh tahun lalu, setelah bertarung dengan dukun santet yang bernama Ki Brojo itu,” tambahnya seolah memendam amarahnya yang tidak kuasa ia keluarkan.

“Ehm, mungkin dirasa aneh. Tapi aku adalah keturunan dari kyai Marwan, kak Wisnu,” jawabku yang mengatakan istilah sebenarnya dari diriku. “Dan Ki Brojo itu di zamanku masih hidup. Dia adalah murid dari ketiga dukun Mahasakti, Ki Sugeng, Ki Ujek, dan Ki Susilo.”

“Astagfirullah, mengapa aku tak menyadarinya? Rupamu dengan rupa kyai Marwan yang diceritakan oleh kyai Umar benar-benar mirip. Maaf aku tak menyadarinya,” katanya yang benar-benar shok mengetahui kalau diriku adalah keturunan dari kyai Marwan. “Kalau yang kau katakan itu benar, itu memang benar-benar logis sih. Ki Brojo dulunya adalah murid dari kyai Umar, sampai suatu ketika, ia begitu terobsesi dengan kanuragan yang diajarkan oleh kyai Umar, sampai-sampai ia keblinger dengan ilmunya itu dan akhirnya keluar dari ponpes.”

Aku bergegas menanyakan hal yang penting padanya. “Anu, kak Wisnu. Sebenarnya apa sih hubunganmu dengan si kades itu? Mengapa kau seolah-olah ingin menolongnya?”

Kak Wisnu langsung tersentak mendengar pertanyaanku itu, dan mungkin sebenarnya dia enggan untuk menceritakannya, namun pada akhirnya diapun mau cerita.

“Kau tahu Ratih, ‘kan? Dia adalah tunanganku pada awalnya. Namun, semua berubah tepat setengah tahun lalu ...” jawabnya lesu penuh dengan penyesalan dan keputusasaan. “Seorang pria datang ke desa kami, dan merubah segalanya. Bahkan Ratih tak ingat sama sekali dengan kisah cinta kami,”

“Astagfirullah, saya tidak tahu itu. Maafkan aku karena telah menanyakan sesuatu yang teramat sensitif untukmu, kak Wisnu,” sahutku meminta maaf telah mendengarnya. Aku pun segera menepuk kedua pundaknya dan berkata, “Kau tak perlu takut, kak! Besok kami akan menyelamatkan desa ini berserta penduduk-penduduknya. Dan semoga kita semua tetap berada dalam lindungan-Nya!”

“Amin. Terima kasih ya, dek Umam,”

...

Keesokan harinya, adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Pagi ini kami bersiap untuk menyelamatkan teman-teman sekaligus setiap penduduk yang ada di kampung Lenggor Jati ini. Dengan mengharap ridho dan perlindungan dari Allah, dan dengan mengucap lafadz basmallah, kami siap untuk pergi menuju ke tempat kades Lenggor Jati itu.

Sesampainya di sana, kami melihat banyak janur kuning melingkar di setiap pintu gerbang rumah si kades itu. Kami semua berspekulasi kalau hari ini adalah hari pernikahan dari Ratih dengan anak si dukun santet itu.

Kami harus mencegah hal ini, karena menurut kak Wisnu, siapapun yang menikah dengan si anak dukun santet itu akan dijadikan tumbal kepada demit Alas Ireng peliharaan si dukun santet itu.

“Ratih! Aku datang untuk menyelamatkanmu,” teriak kak Wisnu dari luar gerbang yang menggema sampai ke dalam ruangan, ditemani oleh Cici. Sementara diriku dan Mela menyusup dari bagian belakang dan menculik Ratih yang masih mengenakan gaun pengantinnya di kamarnya.

Pak Supratno dan Lusman yang selaku calon pengantin dari Ratih pun keluar berserta para penjaganya. Dia menatap garang ke arah kak Wisnu yang sudah menghalangi acara pernikahan mereka.

“Wisnu, kamu mau apa lagi di sini? Puteriku sudah memilih orang yang pantas untuknya,” tanya Pak Supratno mengancam. “Enggak kapok-kapok juga kamu memperjuangkan untuk mendapatkan puteriku? Tak tahu diri kamu!” tambahnya mengumpat.

“Aku tak akan pernah menyerah, walau selangkahpun, pak Supratno. Aku dan Ratih saling mencintai,” jawab kak Wisnu lantang dan penuh kepercayaan. “Dek Cici, sebaiknya kau cari teman-temanmu, biar urusan ini aku yang hadapi. Aku yakin mereka ada di gudang bawah tanah sekarang!”

“Tapi, bagaimana dengan kakak?” tanya Cici polos.

“Tak usah mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diri kok!” jawab kak Wisnu keren. Mendengar ucapan yang begitu keren dari kak Wisnu sedikit membuat Cici jatuh hati, namun ia urungkan perasaannya karena kak Wisnu sudah punya kekasih. Dia pun segera bergegas pergi melewati Pak Supratno dan penjaganya dan menuju ke gudang bawah tanah.

“Pak Supratno, sebaiknya kamu kejar gadis kecil itu. Biar urusan bocah tengil ini serahkan padaku dan para penjagaku!” kata Lusman seolah memerintah. Dan tak tahu mengapa si kades keras kepala itu menurut begitu saja.

Setelah pak kades itu pergi.

“Tak terasa kita akan berjumpa dengan cara begini ya, Wisnu. Aku tak sabar ingin membunuhmu layaknya aku membunuh kedua orangtuamu dua tahun lalu!” ujar Lusman sembari tertawa terbahak-bahak.

“Apa!? Jadi kau rupanya yang telah membunuh kedua orangtuaku! Aku tak menyangka semua ini, Lusman. Kau yang dulunya lugu, bisa berbuat perbuatan nekad seperti itu!” jawab kak Wisnu geram. Kalau saja bukan karena persahabatan yang mereka berdua punya ketika masih kecil, mungkin saat itu kak Wisnu sudah menyerang dan menghabisinya.

“Hahaha... itu karena kepolosan mereka sendiri, Wisnu. Orangtuamu terlalu baik sampai tidak menyadari kalau serigala sedang mengintai mereka,” kata Lusman yang masih dibarengi dengan tawa terbahaknya. “Sudah cukup bicaranya. Mari kita selesaikan kebencian di antara kita berdua dengan saling bunuh-membunuh!”

Mereka pun bertarung sembari beradu ilmu kanuragan dan juga pencak silat mereka. Mereka saling melukai, adu jotos dan tendangan. Terlihat di antara mereka tidak ada yang mengalah, karena siapapun yang mengalah berarti kalah.

Sampai ketika Lusman lengah, kaki Wisnu berhasil menendang dada Lusman sampai terpental sejauh tiga meter dan tersungkur memuntahkan darah segar.

“Sudah cukup sampai di sini, Lusman! Aku tak ingin membunuhmu,” kata kak Wisnu yang masih berbelas kasih kepada teman satu perguruan itu, walaupun di hatinya masih tersimpan bara api amarah yang meluap-luap. “Aku mengampunimu kalau kau mau melepaskan orang-orang yang kau susahkan dengan pelet pengasihan itu,”

Lusman pun tertawa mendengarnya, “Hahaha ... sepertinya aku adalah orang yang dikasihani sekarang ini. Cuih! Sampai matipun aku takkan melakukannya, Wisnu!”

Dengan segera, menggunakan darah yang keluar dari mulutnya sendiri, Lusman segera memanggil dua sosok penjaga gaibnya, yaitu dua genderuwo dari alas Ireng, Blitar. Membuat keadaan di sana semakin mencekam.

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys bagian A nya. Bagian B nya akan berjudul 'Demit Alas Ireng' yang mengisahkan pertarungan kak Wisnu dengan kedua genderuwo itu. Selain itu, misi penyelamatan kelima teman-temannya yang penuh dengan darah-darah.

So let's meet up on next chapter again... See you!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Hanya bisa ikut baca kisahnya Umam
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusuf1312 dan 3 lainnya memberi reputasi

Horror 22 – (Test I) Demit Alas Ireng.

Dengan segera, menggunakan darah yang keluar dari mulutnya sendiri, Lusman segera memanggil dua sosok penjaga gaibnya, yaitu dua genderuwo dari alas Ireng. Membuat keadaan di sana semakin mencekam.

“Lusman, kau memang benar-benar sudah kelewat batas. Kau bahkan menggadaikan dirimu sendiri kepada demit Alas Ireng itu,” kata Wisnu semakin geram dengan tingkah Lusman. “Demi Asma Tuhanku yang Agung, sebelum demit-demit dari alas angker itu mengambil tumbal di desa ini, akan aku habisi kau bersama mereka di sini sekarang juga!”

“Cuih! Wisnu busuk! Kau pikir gampang melakukannya? Jangan harap kau bisa mengalahkanku seperti waktu kita berada di ponpes Miftakhul Huda.” Jawab Lusman lantang penuh percaya diri. “Wahai budak genderuwoku, cepat kalian habisi pemuda sombong itu. Siapapun yang berhasil membunuhnya, maka aku akan menikahkannya dengan perawan desa Lenggor Jati sini.”

Akhirnya kedua genderuwo itu melesat menyerang kak Wisnu dengan kekuatan mereka. Kak Wisnu terus bergerak ke sana ke mari berusaha menghindari serangan kedua genderuwo sakti itu. Sampai akhirnya salah satu pukulan genderuwo itu berhasil mendarat tepat di kaki kak Wisnu sehingga dia ambruk seketika.

Kemudian, kaki salah satu genderuwo itupun menginjak-injak tubuh kak Wisnu yang tengah ambruk sebanyak tiga kali, sampai kak Wisnu mengeluarkan darah yang teramat banyak dari mulut, hidung, perut, membuatnya tak berdaya seketika. Tapi syukurlah ia masih hidup.

Sementara itu, aku dan Mela yang sedang mencari keberadaan Ratih dan kakaknya Ratna merasa kebingungan karena rumah kades desa ini benar-benar besar, hampir seperti villa. Apalagi kami tidak bisa bergerak bebas karena disetiap sudut ruangan ada dua atau tiga jawara yang menjaganya.

Kami menuju ke sebuah ruang yang ada dipojok belakang kediaman kades itu. Di sana kami melihat Ratih sedang didandani dengan pakaian yang teramat cantik dan mempesona, bahkan diriku sedikit tergoda karenanya. Untung saja Mela berada di sisiku yang langsung menyadarkanku dari nafsuku barusan.

Namun ada yang aneh di sini.

Ternyata yang mendandani Ratih adalah dua pasang kuntilanak. Namun bukan kuntilanak yang sembarangan, mereka berdua adalah kuntilanak berwarna hitam pekat yang diketahui kalau kuntilanak ini tingkatannya jauh di atas jenis kuntilanak lain.

“Darling, mereka itu siapa? Aku takut,” ujar Mela ketakutan. Dia menarik-narik tanganku mengajakku untuk meninggalkan tempat itu. “Aku merasa di sini sudah tidak beres. Ayo kita keluar sekarang!”

“Tenanglah, Mela. Kiranya mereka diutus bukan untuk menjaga, namun untuk merias. Jadi, begitu kita masuk, aku yakin kalau mereka berdua akan menghilang,” jawabku yang membuka pintu itu secara perlahan.

Benar dugaanku. Begitu kami berdua masuk ke dalam kamar itu, kedua kuntilanak hitam pun menghilang, membuat hati ini lega.

Kami pun bergegas menyadarkan Ratih dari ilusi yang disebabkan oleh guna-guna Lusman. Dan dengan mudahnya pula ilusi itu dipatahkan. Membuatku sedikit curiga akan sesuatu.

Apakah ilmu kanuragan Lusman hanya sebatas ini?

Tak mau membuang-buang waktu lagi, kami berdua bergegas membopong Ratih yang sedang terlihat linglung itu dan bergegas cabut dari sana.

Belum jauh kami meninggalkan kamar itu, kami sudah dicegat oleh tiga jawara bawahan Lusman. Mereka bertiga sepertinya tidak menyadari kami tadi karena ingin memancing kami di sini.

“Sial! Kita terjebak,” umpatku kesal. “Mereka sebenarnya bukannya tidak menyadari kehadiran kita, namun mereka menunggu kita untuk menyelamatkan Ratih.”

“Eh?” sahut Mela yang sudah ketakutan setengah mati itu.

“Pintar juga kau anak muda! Sayang sekali kau akan kehilangan nyawamu di usia yang semuda itu.” Ujar salah satu dari jawara itu. “Tapi tenang saja. Kami akan membunuhmu tanpa rasa sakit, sehingga kau tak perlu setakut itu!”

Salah satu jawara itu segera mengayunkan parangnya ke arah salah satu dari kita. Lebih tepatnya ke arah Ratih yang masih belum sadarkan diri itu. Aku tak bisa membiarkannya sehingga kulempar Ratih ke dekapan Mela dan parang itu langsung mengenai punggungku.

Dan aku menjerit sekeras mungkin. Dan aku pun tak sadarkan diri untuk beberapa waktu.

Melihatku yang bersimbah penuh dengan darah, membuat Mela terpaku untuk beberapa saat.

“Cih! Dasar pria bodoh!” ucap ketiga jawara itu. “Kalau saja dia membiarkan kita menghabisi Ratih, pastinya dia takkan mati konyol seperti ini,” tambahnya.

Tiba-tiba Mela menjerit keras ditambah linangan air mata yang semakin deras membasahi pipi indahnya. Setiap tetes air mata yang terjatuh ke tanah, membuat aura disekelilingnya gelap dan gelap. Bahkan aura itu sampai menutupi cahaya matahari yang bersinar terang.

Kejadian ini benar-benar dirasakan oleh seluruh penjuru desa Lenggor Jati ini. Mereka semua beranggapan kalau bencana akan datang. Siang itu, mereka segera memasukkan ternak-ternak mereka, pulang cepat, dan segera mengunci rumah tanpa ada siapapun yang berani keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi.

“Aura jahat macam apa ini!?” gumam Lusman menatap langit yang terlihat hitam pekat itu. “Pasti ada seseorang di sini yang mempunyai ilmu kanuragan yang begitu mengerikan, sampai auranya mampu menutupi langit.”

Tak beberapa lama kemudian, kedua genderuwo yang menyiksa kak Wisnu, tiba-tiba pergi ketakutan. Sebelum mereka berhasil lolos, suara jeritan Mela terdengar oleh mereka dan membuat mereka meledak.

Sementara itu di dalam, Mela kembali menembangkan tembang Lingsir Wengi. Namun ada yang aneh dengan tembangnya, dia membalik tembang itu. Jadi seperti ini. Contoh Lingsir Wengi -> Risgnil Ignew, membuat ketiga jawara itu pontang-panting ketakutan.

Sebelum mereka berhasil keluar dari rumah, dari bawah tanah, ada tangan transparan yang menariknya ke bawah. Mereka bertiga memohon ampun dengan sungguh-sungguh, namun Mela tetap tak iba pada mereka. Setiap ditarik, maka rupa jawara itu akan semakin tua dan tua, seperti hawa kehidupannya di serap oleh tangan memedi itu. Sampai sebelum mereka masuk ke dalam tanah, mereka sudah terlihat layaknya manusia berusia 300 tahun.

Setelah mereka bertiga mati, Mela bergegas mendekatiku dan membaca sedikit mantra, dan tiba-tiba luka parah pada punggungku itu lenyap.

“Kau memang orang yang terlalu baik, darling!” ucapnya dan langsung tertidur di sampingku.

...

Di gudang bawah tanah, banyak bermunculan jeritan memedi yang menanggapi suara jeritan kegelapan itu. Bahkan, Ratna yang gila itu pun langsung menangis ketakutan mendengarnya.

“Ndre, kita harus segera pergi dari sini. Aku takut di sini lama-lama.” Ujar Feby gelisah. “Kalau mereka tidak ada yang mampu menyelamatkan kita, pastinya esok hari kita akan dipancung oleh si kepala desa gila itu!”

Andre terlihat mondar-mandir memikirkan solusi. “Iya aku tahu, Feby! Tapi tolong biarkan aku berpikir sejenak,”

Agung hanya terdiam, sementara Wulan terus memperhatikan kak Ratna yang gila bicara sendiri dan Siti yang terus duduk sembari memejamkan mata itu.

“Sit, kamu kenapa?” tanya Wulan.

Siti pun membuka matanya. Namun ada yang aneh padanya. Sorot matanya terlihat kosong dan hampa. Dia langsung menatap ke arah Wulan yang terlihat sedikit ketakutan itu. Setelah itu dia berdiri dan beranjak menuju pintu gudang tua itu.

Secara respon, Agung pun berkata, “Jangan khawatir, Wulan! Siti saat ini sedang dirasuki oleh arwah leluhurnya. Pastinya dengan begini, kita bisa keluar dari sini!”

Dan dengan mudahnya, Siti berhasil membuka pintu gudang itu. Setelah itu, Siti langsung limbung.

“Siti!” kata Wulan yang mendapati Siti pingsan. Mereka langsung datang menghampirinya. “Siti, kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Wulan gelisah.

“Tenang saja, Wulan! Setelah seharian memanggil leluhurnya, memakan lebih dari separoh energinya. Jadi, setelah tiga puluh menit, dia akan sadar kembali.” Jawab Feby menerangkan.

Tapi mereka tidak punya waktu sampai tiga puluh menit untuk bisa melarikan diri dari gudang tua itu. Di hadapan mereka sudah muncul puluhan kuntilanak yang siap menjadikan mereka santapan yang lezat siang ini.

“Cok! Kuntilanak, cok!” umpat Andre geram.

“Nggak usah barabere. Lari!” sahut Agung yang berlari, diikuti oleh semuanya. Kuntilanak pun mengejar mereka dengan gelak tawa khasnya, membuat mereka semua tambah panik.

Sebenarnya mereka bisa mengatasi para kuntilanak-kuntilanak itu, namun yang ditakutkan adalah jikalau ada penjaga yang berwujud manusia menangkap mereka. Jadi mereka memutuskan untuk kabur. Karena penjaga berwujud manusia itu mempunyai ilmu silat, sedangkan mereka sama sekali tak berpengalaman soal silat.

Sebelum mereka bisa keluar, para kuntilanak itu berhasil mengejar dan membawa Siti yang saat itu masih lemas pergi. Feby bergegas mengejarnya, namun kuntilanak itu langsung hilang di atap tanpa bisa dikejar oleh Feby.

“Tenang, Feb! Tenang!” kata Wulan menenangkan Feby yang gusar. Agung segera menotok leher Feby sampai dia pingsan. “Ayo teman-teman, kita bawa Feby keluar dari sini dulu. Untuk menyelamatkan Siti, bisa kita rembuk setelah kita berkumpul dengan yang lainnya,”

Setelah berhasil keluar dari bawah tanah, kami disambut oleh Cici dan kyai Ghofar bersama beberapa santri yang datang atas panggilan Cici.

“Assalamu’alaikum, adek-adek,” kata kyai Ghofar memberi salam.

“Waalaikum salam, kyai!” jawab mereka ngos-ngosan.

Tiba-tiba Cici menelisik, masih ada tiga orang yang belum diketemukan. “Wulan, di mana Siti dan kak Umam dan Mela?”

Mereka semua terkejut. “Lho, bukankah kak Umam dan Mela seharusnya ikut bersamamu juga kak Wisnu? Kalau Siti ... dia, dia diculik oleh kuntilanak yang mengejar kami tadi.”

“Astagfirullah, kita harus segera menyelamatkan dek Siti, adek-adek. Kalau tidak, bisa gawat nantinya.” Kyai Ghofar langsung menyela pembicaraan kami. “Kalian berdua tolong bebaskan dek Ratna yang dikurung di gudang tua sana!” kata kyai itu kepada dua orang santrinya. Mereka pun setuju.

Setelah kedua santri itu pergi, mereka semua segera menuju ke hutan di belakang rumah kades Supratno itu. Kyai Ghofar tahu kalau hutan ini adalah salah satu sarang kuntilanak yang ada di desa ini.

Tanpa menunggu lagi. Kyai Ghofar dan lima santrinya bergegas membentuk posisi segi lima dan Kyai Ghofar sebagai pusatnya. Mereka segera melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tak bisa dimengerti oleh teman-temanku karena saking lirih dan cepatnya.

Tak butuh waktu sepuluh menit, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah hutan itu. Bersamaan dengan itu, sebuah pintu dimensional muncul di hadapan mereka.

Dengan segera, para santri pun memasukinya. Namun kyai belum juga masuk. “Ano, apa di sini ada seseorang yang ada hubungan dekat dengan korban?”

Tanpa ragu lagi, Feby pun mengacungkan tangan. “Saya, pak! Saya adalah majikan dari si korban. Mungkin hal itu sudah bisa disebut sebagai pihak yang punya hubungan dekat dengan si korban,”

“Ayo, dek Feby. Ikut saya. Hanya kamu seorang yang nanti bisa menyadarkan dek Siti. Sementara kami akan bertarung melawan kuntilanak alas Ireng itu,” ajak kyai itu buru-buru. Feby mengangguk. “Kalian semua tolong jaga di sini, ya! Kalau kedua orang santri yang tadi menolong dek Ratna sudah kembali, suruh mereka untuk mencari ketiga teman kalian di rumah pak Supratno!”

Kami hanya mengangguk pertanda mengerti. Sambil menyaksikan tubuh mereka lenyap saat melintasi pintu dimensional.

...

Balik lagi di mana kak Wisnu yang saat itu sudah tersadar dan siap untuk melawan Lusman sekali lagi. Dengan kalahnya kedua genderuwo alas Ireng tadi, kak Wisnu yakin kalau dia akan bisa mengalahkan Lusman kali ini.

“Tak kusangka kau mempunyai seseorang yang menguasai ilmu mengerikan itu, Wisnu!” ujar Lusman yang terlihat sudah terluka. “Tembang pemanggil Wartasuro!”

Wisnu pun bangkit dan berniat untuk menyerang Lusman sekali lagi yang kondisinya sudah begitu memprihatinkan itu. Namun di saat ia menyadari kalau Lusman telah kehilangan pendengaran dan penciumannya karena darah terus mengalir dari telinga dan hidungnya, membuat Wisnu iba.

Dengan berat hati, kak Wisnu membiarkan Lusman pergi dengan satu syarat. “Pergilah, Lusman! Aku tak tega harus bertarung melawanmu dengan kondisimu sekarang ini.” Kata Wisnu sembari memberi kode ke Lusman untuk pergi. “Namun, jangan lagi kau mengganggu siapapun dan di manapun lagi. Karena kehidupan mereka jauh lebih berharga daripada apa yang kau bayangkan, Lusman, temanku!”

Tanpa berkata apapun lagi, Lusman segera pergi dari tempat itu. Seperginya Lusman, kak Wisnu segera masuk ke kediaman si kades itu, berniat untuk mencari Ratih dan menyelamatkan kedua sahabatnya.

Sesampainya di sana, kak Wisnu hanya melihatku dan juga Ratih yang terkapar tak sadarkan diri. Dia pun segera menolong kami berdua, menyadarkan kami berdua dari pingsan kami. Setelah mencobanya, dia pun berhasil.

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys. Maaf karena keterlambatan postnya karena sempat sakit tiga hari, jadi gak lanjutin. Di Chapter selanjutnya, akan ada pertarungan seru antara kyai Ghofar melawan kuntilanak hitam penghuni alas Ireng. Dan mungkin inilah chapter terakhir dari Test I. dan chapter 24 nantinya akan melanjutkan perjalanan mereka ke desa tetangga dari Lenggor Jati.

Menurut info dari kyai Ghofar, di sana seseorang pemuja iblis yang ditakuti. Misi di horror 24 nanti, Umam dkk akan disuruh untuk menyelidiki kebenaran itu.

So thats it. and thank you and see you again in horror 23.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 12 lainnya memberi reputasi
Ditunggu Mam updete berikutnya
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Di tunggu part selanjutnya.....
profile-picture
umanghorror memberi reputasi

Horror 23 – (Test I) Kisah Kyai Ghofar yang Melegenda.

Tanpa berkata apapun lagi, Lusman segera pergi dari tempat itu. Seperginya Lusman, kak Wisnu segera masuk ke kediaman si kades itu, berniat untuk mencari Ratih dan menyelamatkan kedua sahabatnya.

Sesampainya di sana, kak Wisnu hanya melihatku dan juga Ratih yang terkapar tak sadarkan diri. Dia pun segera menolong kami berdua, menyadarkan kami berdua dari pingsan kami. Setelah mencobanya, dia pun berhasil.

“Syukurlah kau baik-baik saja, wahai temanku,” kata kak Wisnu yang benar-benar lega melihat diriku tersadar. “Aku takut dengan ilmu kanuraganku yang masih sedikit takkan mampu untuk menyelamatkanmu.”

“Kak Wisnu, di mana Mela?” tanyaku yang menoleh ke kanan dan ke kiri mencari gadis itu.

Kak Wisnu heran. “Tidak ada siapapun di sini selain kau dan Ratih, dek Umam! Apakah kau bersamanya tadi?”

Aku mengangguk. Kak Wisnu pun kembali berdiri dan berpindah ke tempat Ratih yang masih terkapar. Dengan membaca basmallah dan sedikit doa-doa, dia bergegas mencoba menyadarkan Ratih dengan ilmu kanuragannya.

Tak lama setelahnya, Ratih pun tersadar.

“Wisnu?” itulah kata yang pertama terucap oleh Ratih. “Mengapa kau ada di sini? Bukankah kau dilarang untuk menemuiku oleh ayah?”

Dengan berlinang air mata keharuan, kak Wisnu pun segera memeluk Ratih dan kisah cinta romantis mereka dimulai. “Ratih, aku sangat bersyukur bisa melihatmu lagi. Aku tak percaya akan datang sebuah hari di mana kita bisa saling ngobrol seperti ini. Oh, syukurlah ya Allah!”

“Ehm, kak Wisnu, masih ada aku di sini. Kalau mau bersikap romantis, setidaknya saat aku tak ada.” Sahutku ketus. Dasar pasangan baru. “Aku harus segera mencari Mela dan yang lainnya nih!”

Kak Wisnu langsung melepas pelukannya ke Ratih. Dengan tanpa mengindahkan masalah sebelumnya, dia dengan mudah meminta maaf. “Maafkan aku, dek Umam! Tadi kakak cuman kelepasan saja. Maklum saja, kakak tidak pernah ketemu lagi dengan kak Ratih selama setahun. Jadi ...”

Tiba-tiba Ratih langsung nyosor. “Lho, ada dek Umam di sini? Sejak kapan?”

Aku merasa tersakiti mendapati kehadiranku selama ini tak pernah diketahui oleh Ratih. Padahal aku sudah berada di sampingnya selama ini, namun dia tetap tidak merasakan kehadiranku.

Apa aku ini hantu??

Tak berselang lama kemudian, kedua santri yang disuruh untuk menyelamatkan Ratna di gudang bawah tanah pun datang. Mereka berdua terkejut melihat kami yang sedang santai-santainya duduk di ruang tamu.

“Lho, Wisnu? Kamu ada di sini?” tanya salah satu santri itu terkejut. Dia adalah kak Udin, teman sebaya kak Wisnu.

“Lo, Udin, toh? Tak kusangka kau akan datang ke mari juga,” jawabnya seraya merangkul satu sama lain layaknya sahabat yang tidak bertemu lama. “Kalau kau ada di sini, itu berarti kyai Ghofar ada di sini juga dong?”

“Iya, kami datang bertujuh, termasuk kyai Ghofar juga.” Kata Udin menjelaskan. “Setelah dek Cici memberitahukan ke kami kalau kau bertarung melawan anak dari dukun santet itu, dan ditambah ada pemuda-pemudi lain yang terlibat, kami segera menyusul ke mari. Syukurlah kami semua tepat waktu,”

Dengan segera, kak Udin segera menoleh ke arahku. “Oh, dia adalah anak keturunan dari kyai Marwan bin Muhammad, namanya Umam. Katanya dia datang dari masa depan,”

“Masa depan? Benarkah itu, dek?” Udin benar-benar langsung antusias mengetahui kalau diriku datang dari masa depan. Ya walaupun ada sedikit raut ketidakpercayaan padaku awalnya. “Kalau begitu, siapakah gadis yang akan kunikahi di masa depan?”

“Hmm ... aku tak tahu. Namamu dan eksistensimu tidak ada di masa depan, jadi mungkin kau sudah mati saat itu. Aku datang dari masa tiga puluh tahun ke depan, jadi pastinya kakak berdua ini sudah tua saat itu.” Jawabku sedikit meledek kak Udin.

Mereka berdua tertawa.

“Ano, apakah tidak apa-apa kau membocorkan rahasia masa depan, dek Umam?” tanya Ratih. Duh dia benar-benar cantik deh. Beruntung banget kak Wisnu bisa memilikinya. “Karena dalam ajaran Islam, kita tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa merubah masa depan. Karena takdir masa depan nantinya akan berubah,” lanjutnya.

“Tidak apa-apa, kak Ratih! Tidak akan ada yang berubah di masa depan, percayalah! Karena takdir waktu takkan pernah bisa dirubah oleh apapun. Itulah ketentuan dari Sang Khaliq, Allah SWT,” jawabku menjelaskan. Kak Ratih langsung tenang kala itu.

“Ayo semua ikut aku! Kita sudah ditunggu oleh kyai Ghofar,” ujar kak Ismael tiba-tiba, padahal sedari tadi dia cuman diam melulu.

Setelah puas, aku, kak Udin, kak Ismael, dan kak Wisnu berangkat mencari teman-temanku yang lain, sementara Ratih tetap berada di ruang tamu menanti ayahnya sekaligus menjaga kak Ratna yang tengah meronta-ronta tak karuan.

...

Balik lagi di mana kyai Ghofar, kelima santrinya, dan juga Feby berada. Mereka saat ini sedang menyusuri hutan dedemit Alas Ireng. Kyai Ghofar itu mewanti-wanti ke Feby untuk menghilangkan perasaan was-wasnya dan terus berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT.

Ya, namanya juga manusia. Begitu diperlihatkan sesosok demit yang berubah wujud menyerupai ayahnya yang sudah meninggal, Feby pun tergoda.

“Anakku Feby, kemarilah, nak! Ayo ikut ayah. Di sini ayah kesepian loh!” rayu sosok demit yang menyerupai alm. Ayah Feby kala itu. “Ayo nak, di sini kita bisa hidup enak, tak perlu memikirkan hal-hal dunia yang penuh dera derita. Ayolah, nak! Ayah kangen banget sama kamu.”

Kyai Ghofar langsung memegangi pundak Feby, mencegah Feby untuk menemui sosok demit itu.

“Jangan Feby! Ingatlah, setiap makhluk yang sudah mati dipisahkan oleh dinding pemisah yang tidak ada siapapun yang mampu menjangkaunya,” cegah kyai Ghofar dengan sedikit paksaan. “Dia bukanlah ayahmu, nak Feby! Dia cuman jin yang menyamar menjadi ayahmu. Dalam islam, jin yang menyamar menjadi sosok seorang manusia di sebut sebagai hantu. Kau jangan sampai tertipu dengan fisiknya!”

“Tapi, kyai. Dia adalah ayahku. Aku kangen sama dia!” jawab Feby tak mengindahkan peringatan kyai Ghofar.

Dengan terpaksa, kyai berusia 60 tahun itu langsung menotok inti sendi dari Feby sehingga dia tak bisa bergerak sedikitpun.

Tak berhenti sampai di situ, kyai tua itu langsung melingkari tubuh Feby dengan janur kuning, sementara janur kuning yang lainnya dia rubah jadi sebilah pedang. Sekali pedang itu terarah ke sosok demit itu, langsung mampu menebas demit kelas teri itu sampai tak bersisa.

Setelah mengetahui kalau sosok yang dianggap ayahnya hanyalah ilusi belaka dari dedemit, membuat Feby berlinang dengan air mata. Dia tak percaya bisa tertipu dengan tipuan rendahan itu. Kyai Ghofar menyuruh Feby untuk tidak terlalu memikirkannya, karena Feby sempat terbawa suasana dan kerinduan kepada ayahnya yang begitu besar dan meluap-luap sehingga mampu diketahui oleh dedemit.

Dalam keadaan demikian, dari segala penjuru muncul berbagai jenis dedemit, pocong, kuntilanak, genderuwo, buto ijo, kemamang, dll. Mereka semua langsung datang bergerombol terfokus ke satu arah. Yaitu kyai Ghofar.

Feby panik, sementara tidak untuk kyai tua itu.

Dengan cepat, dia langsung membaca basmallah dan melemparkan tasbih yang ia bawa (tasbih walisongo), sehingga tasbih itu langsung menghisap separoh lebih jumlah mereka. Tak berhenti sampai di situ, kyai itu langsung membelah dirinya menjadi tiga dan ketiga bagian dari kyai itu langsung menghabisi sisa dedemit itu dengan mudah.

Namun ada sesuatu yang menjanggal di hati kyai tua itu. Apakah cuman segini kekuatan dari demit-demit alas Ireng itu? Pikirnya. Dia pun langsung keinget sesuatu mengenai santri-santrinya yang pergi duluan. Dengan segera, dia pun menotok kembali sendi-sendi inti Feby sehingga ia bisa bergerak dan bersamanya segera menyusul santri-santrinya yang saat ini sudah berada di jantung hutan Alas Ireng.

Sesampainya di sana, kyai Ghofar dan Feby melihat sesuatu yang tidak senonoh. Kelima santri sedang dirayu oleh demit-demit sejenis kuntilanak yang menyamar menjadi gadis cantik, telanjang pula. Feby langsung membungkam mulutnya karena tak kuasa melihatnya, syukurlah kelima santri itu sama sekali tak bergeming dengan godaan dan masih tetap terduduk sembari berzikir.

“Astagfirullahaladzim,” ucap kyai Ghofar segera. “Hai jin-jin laknat, kalian tak perlu merayu kelima santriku dengan menyerupai sesosok wanita yang teramat cantik, karena iman mereka jauh lebih besar ketimbang rayuan busukmu!”

Kyai Ghofar segera membaca doa-doa pengusiran. Setiap kali doa itu terucap, tempat itu terasa ada getaran yang kuat seraya gempa bumi. Kyai itu menyuruh Feby untuk membaca ayat Kursi dan doa-doa lain yang ia tahu. Feby mengangguk dan dia pun langsung membaca doa-doa yang disuruh.

Tanpa terasa, ketika ia selesai membaca doa-doa yang diperintahkan, demit-demit itupun sudah lenyap, membuat kondisi semakin lega. Kyai Ghofar langsung menyuruh Feby untuk duduk di belakang kelima santri yang sedang membentuk posisi segi lima lagi di mana kyai Ghofar ada di tengah-tengahnya.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap kyai tua itu tenang. “Keluar kau, Demit Moto Sewu!” teriak kyai tua itu yang tiba-tiba garang.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari tempat yang tidak kita tahu. Suara itu langsung membuat gema ke seluruh alas, dan Feby langsung ketakutan mendengarnya.

Sampai tiba-tiba dari kabut yang menyelimuti alas, keluar sesosok demit yang besar dan bentuknya bagaikan slime dan dia mempunyai mata yang teramat banyak, dialah wujud dari mata sewu yang sebenarnya.

“Keluar juga kau, moto sewu!” kata kyai Ghofar dengan nada geram, seolah menahan deru amarahnya.

“Ada apa, manusia? Kenapa kau ganggu tidur panjangku?” tanyanya dengan suara yang terdengar serak dan Cumiik. “Setahuku aku tidak ikut campur masalah duniawi setelah kyai Marwan mengalahkanku dulu. Tenagaku masih belum pulih benar setelahnya,”

“Jangan berdusta, kau Moto Sewu! Kau mengirimkan para bawahanmu untuk menyesatkan umat manusia, terlebih lagi warga Lenggor Jati itu!” jawab kyai Ghofar dengan lantang. “Kau mengutus anak dukun santet yang bernama Lusman untuk mengacau desa sekaligus membalas dendam karena guru kami, yaitu kyai Marwan berhasil mengalahkan dan mengurungmu di sini, ‘kan?”

“Kau cerdik, manusia. Tapi kau salah sangka terhadapku. Di Alas Ireng ini ada tiga penguasa lain selain diriku. Mungkin yang menebar teror di desamu itu adalah Balasadewa,” jawab Moto Sewu itu datar. Dia pun segera pergi mengetahui ilmunya takkan mampu melawan kyai Ghofar, apalagi dia sudah terbakar api amarah. “Sedangkan si Lusman itu, dia ada perlu dengan Nyi Ratu. Aku yakin dia takkan selamat begitu menemuinya. Hahaha ...”

“Nyi Ratu? Siapa itu!?”

Setelah si Moto Sewu menghilang, muncul suara Moto Sewu dari tempat ia menghilang. “Keturunan Iblis, yang bahkan kedua belas raja iblis kelas atas nusantara takkan sanggup mengalahkannya. Dia adalah istri keempat dari gurumu itu!”

“Nimas Ayu,”

Tak mau berlama-lama di sana, dia menyuruh kelima santri membuka tabir yang masih tertutup di alas Ireng itu. Dalam sekejap, hutan berkabut yang pohon-pohonnya berwarna hitam itu langsung berubah menjadi sebuah istana mewah, yang temboknya penuh dengan emas dan berlian. Inilah istana demit Ronggor Jati, istana tempat Balasadewa berada.

Sesampainya di sana, mereka disambut oleh ribuan pasukan berkepala kuda. Mereka langsung menodongkan tombak ke arah mereka berenam, dan mereka menyuruh keenam manusia itu untuk mengikutinya menemui Balasadewa. Kyai Ghofar tak punya pilihan selain menurutinya.

Di istana, mereka di sambut dengan baik oleh pelayan-pelayan Balasadewa, namun keberadaan Balasadewa masih belum muncul dan istana terasa sepi dan sunyi, hanya pelayan-pelayan yang berupa jin yang meramaikan suasana itu.

“Mana raja kalian, Balasadewa?”

“Maaf kami tidak bisa memberitahumu. Itu adalah perintah langsung dari tuan Balasadewa,” jawab si pelayan jin itu ramah. “Tuan hanya memberitahu kami untuk menyambut kalian di istana ini, tidak lebih. Tuan juga berpesan jikalau kalian membuat ulah di istananya, kami diperbolehkan untuk menghancurkan kalian.”

Pelayan-pelayan itu kemudian meninggalkan mereka semua di ruang istana. “Kyai, Balasadewa itu apa dan siapa?” tanya Feby yang sedikit penasaran dengan siapa dan rupanya demit Balasadewa.

“Naga emas berkepala tujuh dan bersayap tujuh puluh dua. Dia sangatlah berbahaya,” jawab kyai Ghofar itu gusar. “Sejauh ini hanya wali songo, Nyi Imas, dan juga kyai Marwan yang sanggup mengalahkannya. Itupun kyai Marwan harus dibantu oleh tujuh puluh dua pemuka agama, dukun, dan jawara.”

Dalam keadaan demikian, dari penjuru istana muncul suara tertawa lantang sesosok makhluk. Makhluk itu langsung menghempas di hadapan mereka berenam. Ternyata sosok itu adalah si Balasadewa.

Namun Balasadewa tak muncul dengan mewujudkan wujudnya yang sebenarnya. Dia menggunakan jiwa dan raga Siti sebagai mediumnya.

“Ada apa kalian menemuiku?”

“Siti? Kau kenapa, Sit?” jawab Feby yang langsung menggoleng-golengkan pundak Siti.

Dengan sekali hempasan kaki Siti ke tanah, Feby langsung terpental jauh. Untung saja kelima santri dari kyai Ghofar segera menariknya sehingga Feby tak sampai membentur tembok istana.

“Lancang sekali kau menyentuhku! Aku adalah raja dan kau hanyalah manusia rendahan. Kau tidak pantas menyentuh ragaku yang baru,” ujar Siti dengan suara yang lantang dan penuh kemurkaan. Kemudian, Siti pun duduk di singgahsananya.

“Kutanya sekali lagi. Ada urusan apa sehingga kalian berani menginjakkan kaki kotor kalian di istana megahku!?” tanya Siti dengan nada geram dan mengancam.

“Kami di sini tidak ingin memicu perang dengan bangsamu, Balasadewa. Kami di sini hanya untuk dua alasan penting. Pertama, apakah kau yang memerintahkan anak buahmu untuk mengacau di desa Lenggor Jati? Kedua, kami di sini ingin menyelamatkan gadis yang raganya sedang kau manfaatin itu,” jawab kyai Ghofar dengan tatapan yang kurang mengenakkan buat Balasadewa. Namun karenanya, dia pun tertarik.

Siti pun tersenyum, “Iya, memang aku yang menyuruh anak buahku untuk mengacau di desamu. Namun itu semata-mata hanya karena ingin mencari si Lusman yang telah mencuri mustika di istanaku. Dan alasan yang lain, gadis ini dan aku adalah satu kesatuan. Kami takkan pernah bisa dipisahkan,”

“Keparat! Akan kupaksa kau untuk meninggalkan raga gadis tak berdosa itu!” umpat kyai Ghofar yang sepertinya sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi.

Balasadewa yang ada di tubuh Siti sempat lengah, sehingga dengan mudah dia terkena tendangan mendadak dari kyai Ghofar.

Dan saat inilah pertarungan melegenda mereka dimulai.

“Tak kusangka kau mampu melancarkan seranganmu, kyai tua. Aku benar-benar terkecoh tadi,” jawab Siti sembari mengusap mulutnya yang barusaja mengeluarkan darah segar. “Tidak buruk juga untuk seorang manusia yang belajar selama empat tahun dari kyai Marwan.”

Dalam sekejap mata, Siti sudah berada di belakang kyai Ghofar dan dengan cepat kuku-kuku tangan Siti pun memanjang layaknya sebuah pisau. Dengan itulah, dia langsung menusuk punggung kyai Ghofar sampai ia bersimbah penuh darah.

Tak mau terdesak hanya karena satu serangan, kyai Ghofar segera menyikut muka Siti yang ada di belakangnya. Setelah itu, dia langsung melempar tiga puluh tiga butir tasbih walisongonya ke arah Siti.

Tasbih-tasbih itu langsung menjerat tubuh Siti dan membuatnya tak bisa bergerak. Buru-buru kelima santri kyai Ghofar langsung membentuk posisi segi lima mengelilingi Siti. Kyai Ghofar bergegas mendekat dan membacakan doa-doa pengusir jin.

“Kau tak bisa mengusirku dari tubuh ini,” bisik Siti ke telinga kyai Ghofar. Dia pun sedikit tersenyum licik. “Jiwanya dan jiwaku sudah bersatu. Jika kau mengeluarkanku dari tubuhnya, maka gadis ini akan mati.”

Ketika kyai Ghofar goyah, dengan mudah Siti berhasil melepaskan diri dari kekangan kyai Ghofar berserta kelima santrinya.

Dengan sumringah, Siti tertawa puas karena berhasil terlepas dari kekangan kyai Ghofar yang begitu menyulitkan itu. Setelah itu, Siti mengalihkan targetnya menuju Feby yang saat itu tak memiliki perlindungan.

Namun, sebelum sampai di tempat Feby berada, melesatlah sebuah kerikil yang langsung menghantam tubuh Siti. Siti pun terlempar jauh sampai keluar istananya.

Tak terima dengan perbuatan si pelaku misterius yang keberadaannya tak diketahui, Siti pun mengerang-ngerang, menantang si penyerangnya tadi. Kyai Ghofar, lima santrinya, dan juga Feby keluar untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampainya di sana, yang mereka temui hanyalah Siti yang masih mengerang-ngerang. Tak beberapa lama, muncul suara tawa dari segala penjuru dan mata besar tepat di langit. Ya, ini seperti yang Mbah Jayos temui saat dia bertarung melawan Banaspati.

“Siapa kau!?” tanya Siti.

“Balasadewa, Balasadewa. Dasar kau memang demit rendahan. Bahkan kau sudah melupakan siapa ratumu,” jawab suara itu. Setelah diselidik suara itu berasal dari mata besar itu. “Aku ada perlu denganmu. Cepat temui aku di Alas Ireng wilayah selatan. Moto Sewu dan yang lainnya sudah berkumpul di sana,”

Siti pun langsung bersimpuh mendengarnya, “Nggeh, Nyi Ratu. Maafkan kesalahan hamba, karena sudah seratus tahun berlalu semenjak pertemuan terakhir kita,”

Setelah itu, mata raksasa itupun menghilang. Setelah itu pula, Siti mengarahkan senyum manisnya ke arah Feby dan juga kyai Ghofar, dan langsung pingsan seketika. Kyai Ghofar berpendapat kalau Balasadewa telah meninggalkan tubuh Siti.

“Suara itu ... aku kenal suara itu,” gumam Feby lirih. Mencoba menyembunyikan hal itu dari kyai Ghofar.

Dia berpikir kalau kyai Ghofar tak tahu siapa pemilik suara itu, padahal sebenarnya kyai tua itu tahu siapa pemilik suara mengerikan itu.

Nimas Ayu.

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys. Untuk chapter hari ini. Maaf karena terlalu panjang, aku tak bisa untuk menyingkatnya. Kalau saja batasan words nya lebih dari 20k, pasti cerita ini bakal lebih detail lagi.

So thanks and see you di horror 24 nantinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 27 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 27 balasan

Horror 24 – (Test II) Gadis Lotus Hitam

Setelah itu, mata raksasa itupun menghilang. Setelah itu pula, Siti mengarahkan senyum manisnya ke arah Feby dan juga kyai Ghofar, dan langsung pingsan seketika. Kyai Ghofar berpendapat kalau Balasadewa telah meninggalkan tubuh Siti.

“Suara itu ... aku kenal suara itu,” gumam Feby lirih. Mencoba menyembunyikan hal itu dari kyai Ghofar.

Dia berpikir kalau kyai Ghofar tak tahu siapa pemilik suara itu, padahal sebenarnya kyai tua itu tahu siapa pemilik suara mengerikan itu.

Nimas Ayu.

Bergegas, Feby langsung membawa tubuh Siti yang saat itu sedang pisan itu dan bergegas untuk keluar dari dunia itu. Saat itu, para santri lainnya menawarkan diri untuk membantu Feby, namun dengan lembut ia tolak, karena dia sudah terlalu berterima kasih pada mereka semua, terutama pada kyai Ghofar.

Ketika mereka semua keluar dari gerbang Alas Ireng itu, mereka langsung disambut dengan sorakan-sorakan yang meriah dariku dan yang lainnya.

Wulan bergegas menghampiri mereka dan langsung memeluk Feby yang saat itu tengah menggendong Siti yang tak sadarkan diri itu. Khawatir, tentu saja.

“Syukurlah, kalian bisa selamat, Feby, Siti!”

“Alhamdulillah, Lan. Ada kyai Ghofar dan kelima santri yang membantuku menyelamatkan Siti. Kalau tidak, mungkin diriku sudah tinggal nama seorang,” jawab Feby.

Aku bergegas menghampiri mereka dan langsung mengucapkan rasa terima kasihku pada kyai Ghofar dan kelima santri lainnya.

“Anu, terima kasih telah menolong teman-temanku, kyai.” Ucapku pada kyai tua itu. Mengulurkan tanganku berharap kalau kyai itu mau bersalaman denganku, dan syukurlah kyai itu dengan senang hati mau bersalaman denganku. “Kalau boleh kutahu, kyai ini siapa ya?”

Dengan senyum, kyai itu pun menjawab, “Ah, namaku Ghofar bin Abdullah, di sini saya sering dipanggil sebagai kyai Ghofar. Kalau aden ini siapa ya?”

“Namaku Umam, kyai. Saya datang dari masa depan,”

Dengan segera, kak Wisnu datang dan memperkenalkanku lebih akrab dengan kyai itu. “Kyai Ghofar ini adalah adik dari kyai Umar, guruku,” dia pun menoleh ke arah kyai Ghofar. “Sedangkan Umam, dia adalah keturunan dari Kyai Marwan bin Muhammad, guru darimu, kyai.”

“Hm ... wah, tak kusangka aku bisa bertemu dengan keturunan dari mahaguruku, hahaha ... yang kutahu saat ini keturunannya masihlah Mbah Jayos, Mak Ju, dan Satori,”

“Satori? Maksud kyai Ahmad Satori?” tanyaku mulai tak percaya.

“Ah, iya. Satori adalah temanku. Sekarang ini sedang ada di Kalimantan bersama putra-puterinya. Apa kau ada hubungan dekat dengannya?” jawab kyai Ghofar itu sedikit penasaran.

Aku mengangguk, “Iya, kyai. Dia adalah kakekku. Aku adalah putra dari putri bungsunya.

Selesai bercengkerama bersama, kami pun kembali ke kediaman Pak Supratno yang saat itu kak Ratih sedang menunggu kak Ratna yang terus-terusan memberontak, ingin melepaskan diri.

Sementara itu, jauh di dalam alas Ireng. Lusman terpontang-panting segera menuju ke pusat hutan angker itu untuk bersemedi, menyembuhkan diri dan ilmu kanuragannya supaya dapat melawan kak Wisnu lagi.

“Sialan kau Wisnu. Lain kali aku akan buat perhitungan lagi denganmu. Dan ketika saat itu tiba, aku akan memenangkan pertarungan itu dan akan kurebut kembali Ratih dari tanganmu,” umpat Lusman sembari memegangi perutnya yang masih berdarah-darah itu. “Lihat saja Wisnu ... hahahaha!”

Sesampainya di sana, Lusman mencium bau anyir darah yang masih segar. Dia pun menyelidikinya sembari berkeliling di sekitar sampai ia lihat gubuknya dipenuhi oleh cipratan-cipratan darah-darah segar yang masih mengalir deras.

Dia langsung berlari menghampiri gubuknya itu sekaligus memastikan keberadaan Nyi Ireng, gurunya.

“Guru, guru ... di mana kau?” tanya Lusman resah. “Aku sudah pulang guru, guru?”

Ketika Lusman memasuki gubuk itu, dia melihat gurunya Nyi Ireng sedang disiksa dengan bengis oleh seseorang gadis. Dia memakai jubah warna hitam dan kedua kakinya sama sekali tak menapak tanah.

Apa dia hantu?

Tidak mungkin, kalau hantu tidak mungkin gurunya, yaitu Nyi Ireng bisa takluk dengan begitu mudahnya. Begitu pikir Lusman.

Dia berpikir untuk menolong gurunya kala itu, namun dengan tegas gurunya menolak, dan menyuruh Lusman untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

“Lusman, dia adalah Ndoro Ayu. Nimas Ayu Sekar Sari. Cepat lari dari sini!!” teriakan Nyi Ireng berteriak penuh harap supaya murid satu-satunya itu berhasil melarikan diri dari tempat itu.

Gadis itu hanya berucap ketus dan menoleh ke arah Lusman, “Ah, akhirnya orang yang melukai pria paling berhargaku muncul juga. Aku sudah menunggumu dari tadi, Lusman!”

“Kau ...!?”

Dalam sekejap, cahaya yang menyelimuti gubuk itu yaitu cahaya lilin langsung padam, dan inilah saat pembantaian itu. Dalam sekejap muncullah teriakan-teriakan yang begitu mengerikan keluar dari mulut Nyi Ireng dan Lusman. Mereka menjerit sejadi-jadinya mendapati serangan gadis itu bertubi-tubi.

Padahal saat itu Nyi Ireng mempunyai ilmu kanuragan Pancasona, namun ilmu itu tidak berarti apapun terhadap serangan dari gadis itu. Dan inilah akhir yang mengerikan buat Nyi Ireng dan juga Lusman.

...

Keesokan harinya, ketika ada beberapa orang yang hendak menebang kayu di sekitar gubuk tua itu. Mereka mencium bau yang amat anyir keluar dari gubuk tua itu. Pertama-tama mereka takut untuk mengecek gubuk tua itu karena di sanalah kediaman Nyi Ireng, dukun santet yang begitu berbahaya.

Namun setelah melihat gubuk reyot itu penuh dengan darah-darah, mereka semua memberanikan diri untuk mengecek ke dalam. Dan di sana mereka menemukan mayat dua orang, yaitu Nyi Ireng dan juga Lusman. Hal ini langsung membikin heboh seluruh kampung, karena tiada seorangpun yang percaya kalau dukun santet bengis, pemilik ajian Pancasona itu bisa terbunuh dengan begitu sadis.

Peristiwa ini langsung terdengar di telinga kak Wisnu yang benar-benar tak percaya kalau sahabatnya itu telah tiada.

“Innalillahi wa innalillahi rooji'un,” ucap kak Wisnu tiba-tiba. Kami pun langsung menoleh begitu kak Wisnu berujar demikian setelah mendapat kabar dari seorang petani. “Ya Allah, Lusman... aku tak menyangka.”

“Ada apa, kak?” tanyaku memastikan.

“Ya Allah, Ya Allah ... Lusman, dek. Lusman,” jawab kak Wisnu yang terbata-bata karena saking shoknya. “Lusman meninggal. Dia mati mengenaskan!”

Seketika itu pula kak Wisnu jatuh pingsan. Meski Lusman sudah banyak menyakitinya, namun kak Wisnu masih menganggap Lusman sebagai sahabatnya, bahkan dia berharap suatu hari nanti Lusman akan tersadar akan dosa-dosannya.

Namun sayang disayang, takdir Tuhan berkehendak lain. Lusman meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan, bersama dengan gurunya. Dan untuk sekali lagi, niat kami untuk mencari Mela harus kami tunda terlebih dahulu.

Sesampainya di sana, sudah banyak warga yang ingin melihat mayat Lusman dan Nyi Ireng. Bahkan polisi-polisi sudah banyak yang berdatangan. Menurut keterangan polisi, Lusman dan Nyi Ireng mati karena terkaman hewan buas.

Tentu saja keterangan polisi tidak ada yang kami percaya. Kalau benar-benar hewan buas, bagaimana mereka bisa menyayat rapi seperti menusuk dan sebagainya, bahkan kepalanya hampir putus lagi. Duh ngeri deh pokoknya.

“Ngeri banget, cok!” Andre sudah bergidik ngeri melihat kedua mayat itu, walaupun sudah ditutup oleh tikar sehingga tak terlihat oleh mata telanjang. “Yang satu kepalanya hampir putus, dan yang satu lagi ... matanya yang ...”

“Jangan dilanjutin, oon! Ngeri tau!” sahut Feby sudah tak bisa membayangkan tragisnya nasib mereka.

“Andaikan waktu itu kita jangan biarkan kak Lusman kabur. Pasti kak Wisnu nyesel banget dah,” kata Wulan prihatin.

“Sebaiknya kita pergi dari sini. Biarkan kak Wisnu tetap di sini dulu. Dia butuh berduka,” ajakku yang langsung diikuti oleh yang lainnya. “Lagian kita harus mencari keberadaan Mela, ‘kan?”

[SKIP TIME]

Sehari berlalu dengan cepat. Kami harus melanjutkan perjalanan sembari mencari keberadaan Mela. Entah mengapa setiap kali aku keinget soal Mela, aku dapat firasat kalau Dark Mistress yang dibilang oleh Bagos dan Syaiful dulu adalah Mela, terlebih lagi saat aku berkunjung kerumahnya bersama dengan Aris. Banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi.

Meskipun begitu, pradugaku itu masih belumlah meyakinkan. Aku harus mencari bukti yang lebih kuat lagi. Dan jikalau itu benar, aku harus memastikan apakah Mela itu benar-benar titisan dari Nyi Imas seperti yang telah dikatakan kakung Satori dalam mimpi itu?

“Hm ... akhirnya kalian melanjutkan perjalanan lagi, ya?” ujar kak Wisnu yang sepertinya berat banget melepas kepergian kami.

“Iya, kak. Nggak enak jikalau lama-lama tetap di desa ini. Takutnya mengganggu hubungan kakak dengan kak Ratih. Hehe!” jawabku sembari bergurau untuk terakhir kali. Walaupun aku masih berharap bisa bertemu lagi dengannya nanti.

“Oh ya, kak. Apakah di sekitar sini ada desa lain?” tanya Feby yang sudah memetakan tujuan yang akan kami tuju selanjutnya. “Pasalnya semua yang ada di sini seperti benar-benar terisolasi dari dunia luar gitu. Yang ada di sini cuman hutan, hutan, dan hutan.”

“Ada sih, namun agak jauh dari sini. Kira-kira sepuluh kilometer gitu. Mau?” jawab kak Ratih menawarkan. “Kata orang-orang sini sih ... desa itu angker. Tapi gak tahu juga sih,” tambah kak Ratih yang sepertinya ragu-ragu menceritakannya.

“Nggak apa-apa, mbak. Kita datang ke zaman ini bukan karena ingin berlibur atau semacamnya, tapi kami ingin menolong sesama,” jawabku bijak. “Kalau boleh kutahu, desa apa itu namanya?”

“Desa Witiran, dek. Dulunya desa itu dijadikan pusat penyebaran agama islam di wilayah sini, namun dalam beberapa dasawasa ini desa itu berubah. Dengar-denger sih, desa itu sering disebut sebagai desa tumbal, karena banyak orang di sana menganut pesugihan, dan di sana sering terjadi perang santet.” Jawab kak Ratih menjelaskan panjang lebar.

“Iya, saat di sana, kami wanti-wanti kalian untuk tidak menerima pemberian apapun, selain nasi kuning dan air putih di sana. Jangan menerima apapun dari warga di sana, adek-adek, ya!” kata kak Wisnu memberi nasehat penting pada kami semua.

Kami pun mengangguk, dan beranjak untuk pergi meneruskan perjalanan kami selama seratus hari ini.

“Ah, anak-anak masa depan itu begitu ceria dan bahagia, ya? Aku tak menyangka kalau bangsa ini mampu menciptakan anak-anak dari generasi mereka semua,” gumam kak Wisnu pelan, suaranya mampu terdengar oleh kak Ratih. “Aku ingin bertemu lagi dengan mereka sebelum mereka pamit kembali ke masa depan dan saat aku menemui mereka di masa depan nanti.”

“Iya, Wisnu. Aku harap kita sama-sama diberi umur dan kesehatan yang panjang sampai hari itu tiba,” balas Ratih sembari tersenyum bahagia.

...

Sementara itu, di perbatasan desa Witiran di saat senja, seorang gadis yang terus-terusan tertunduk, yang dapat dikenali bernama Mela berjalan masuk ke desa Witiran itu dengan tatapan kosong, tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap mesum ke arahnya.

“Aku gadis yang melukai darling ... aku gadis buruk, gadis yang buruk,” gumam Mela lirih dan terus-terusan ia ucapkan. “Aku gadis yang buruk ... yang dikutuk,”

Tak disangka, tiba-tiba Mela menubruk seorang pria berperawakan gendut, penuh tato, dan berjas layaknya seorang preman kampung. Mela yang tak siap itulah yang terjatuh kala itu, membuat pria gendut dan keenam bawahannya pada rame-rame mengelilinginya.

“Njir, ayu tenan wadon iki boss’e,” seru keenam bawahannya. “Belum pernah terlihat ada gadis secantik ini di desa kita, boss’e!”

“Oy, oy, gadis kecil ... ada apa?” tanya si gendut itu sinis ke Mela. Dia langsung melihat belahan dada Mela yang indah itu, langsung deh syahwatnya memuncak. Dasar pria hidung belang. “Ah, mau kemana kau nona? Kalau ingin berkunjung ke sekitar sini, bang Ibun bisa kok anterin,”

Keenam bawahannya itu langsung bersorak-sorak, “Ciie, Ciie ... si bos lagi kerja nih!”

Mela yang masih terduduk dan menundukkan kepalanya itu sama sekali tak menggubris ucapan dari bang Ibun itu. Dia bangkit dan meneruskan perjalanannya dengan terus mengoceh lirih dan mengutuk dirinya. Anehnya, bang Ibun dan keenam bawahannya itu tak melakukan apapun untuk mencegahnya.

“Aku gadis yang melukai darling ... aku gadis buruk, gadis yang buruk,” gumam Mela lirih dan terus-terusan ia ucapkan. “Aku gadis yang buruk ... yang dikutuk,”

Tak disangka, ketujuh orang itu mengikuti kemanapun Mela pergi. Walaupun dia tahu, namun dia tak menghiraukan hal itu sama sekali. Dia terus-terusan meracau akan kesalahan yang ia lakukan kemaren.

Tak berlangsung lama, Mela sampai di jalan buntu. Di sana pun akhirnya ia berhenti meracau dan memperhatikan ketujuh preman yang sedari tadi sedang mengikutinya.

“Ada apa nona? Tersesat ya?” tanya Ibun nakal. “Kalau tersesat, bang Ibun siap kok nganterin eneng, iyakan?”

“Yoi.” Jawab keenamnya.

Tiba-tiba sikap Mela pun berubah kembali. “Ara, ara, kalian ingin mengantarku rupanya? Kenapa tidak bilang dari tadi. Kebetulan nih aku sedang mencari kediaman Ki Jokoro Nula. Kalian tahu?”

Mereka terheran-heran mendengarnya. Mereka pikir tiada seorangpun penduduk desa yang mempunyai nama aneh tersebut. Ya karena cuman modus, mereka ya mengiyakan saja pertanyaan dari Mela. Dan disinilah perangkap itu dipasang. Dan mereka semua masuk dalam perangkap Mela.

Tak basa-basi lagi, Mela pun mengikuti kemanapun mereka bertujuh pergi. Pas banget waktu itu jalanan lagi sepi karena jarang penduduk desa yang lewat.

Setelah dirasa tak kunjung sampai, Mela pun mencoba bertanya ketika ketujuh orang itu berhenti. “Anu, apakah kita masih jauh dari kediamannya?”

Ketujuh preman itu berbalik dan menatap penuh nafsu ke arahnya. “Anu, nona. Sebelum kita ke sana, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu, hm?”

“Ara, ara ... jadi kalian semua mau gituan ya sama aku?” tanya Mela menatap balik ketujuh preman itu dengan manja dan penuh hasrat. “Tapi area inikan area publik. Bagaimana kalau kita mainnya di tempat yang sepi saja. Lagian di belokan depan sana ada sawah, ‘kan?”

Ibun pun langsung memuji keberanian gadis itu. “Wah, dewasa sekali omonganmu, nona. Okelah, kita akan turuti semua maumu. Iyakan?”

“Yoi,” sahut yang lainnya.

Mereka semua pun akhirnya mengikuti Mela ke belokan depan sana yang ternyata ada sawah. Sesampainya di sana, ketika mereka hendak menyentuh tubuh Mela, tiba-tiba keluarlah tangan-tangan memedi dari perut mereka masing-masing yang langsung menghujam keluar.

Dalam keadaan keterkejutan dan ketakutan mereka, Mela menatap mereka dengan tatapan yang begitu mengerikan. Hasrat-hasrat ingin membunuh begitu kuat, bahkan mampu dirasakan oleh semua penduduk desa.

“Siapa kau sebenarnya ... akh?” tanya Ibun yang barusan memuntahkan darah segar lewat mulut, mata, telinga, dan juga hidungnya.

“Apa kalian tak pernah mendengar kalau setiap sorop, jin dan setan berkeliaran? Lalu mengapa kalian semua begitu mudah terjebak dengan permainan dari seorang gadis manusia yang jauh mengerikan ketimbang makhluk-makhluk itu?” jawab Mela datar yang langsung membalikkan pertanyaan preman Ibun tadi. “Dasar! Pria mata keranjang macam kalian harusnya tak melihat seseorang dari cuman fisiknya saja, namun dari hatinya. Memang benar-benar berbeda dari darling ku yang menatapku bukan dari fisiknya, namun dari hatinya.”

Mereka semakin ketakutan. Bahkan sudah memohon ampun supaya dilepaskan. "Ampun, ampun! Maafkan kami, kami akan turuti semua kemauanmu. Bahkan untuk mengantarmu ke Ki Jokoro Nula atau apalah itu,"

Dengan nada manja, Mela pun menjawab, "Ara, ara ... ternyata kalian bodoh juga, ya? Tiada seorang manusiapun yang mempunyai nama itu. Padahal awalnya kalian menyadarinya, 'kan? Ki Jokoro Nula itu adalah nama jin, tepatnya raja jin Alas Ireng."

"Kau mampu membaca hati kami??" tanya Ibun keheranan.

"Kalau iya, memangnya kenapa?" sahut Mela manja yang sedikit dengan nada menyerobot. "Itu adalah berkah yang diberikan Tuhan atasku, dan juga menjadi kutukanku,"

Tiba-tiba, darah-darah mereka keluar dari pori-pori kulit mereka sendiri dan mengakibatkan tubuh mereka kurus kering kerontang. Tak berhenti sampai di situ, tubuh mereka dan juga darah-darah yang keluar dari pori-pori mereka langsung berubah menjadi gumpalan-gumpalan pil kecil berwarna merah yang dengan segera melesat ke tangan Mela.

Dan kemudian, Mela pun memakan kesemua pil darah itu. “Terima kasih atas hidangannya, hm ...”

-BERSAMBUNG-

So that's it guys. Maaf lama nggak update karena lagi fokus buat yang genre fantasinya. Dan maaf sekali lagi apabila tulisan ini agak sedikit cepat pace nya dan sedikit kurang bagus, karena ini merupakan tulisan pertama setelah lama off nulis.

So, mari ketemu lagi di horror 25 yang menjelaskan mengenai desa Wintir dan betapa bengisnya penduduk yang hidup di sana.

So, see you next time, and thank you! emoticon-Smilie emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 15 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Salam kenal,gan. Ane tandain dulu ye..
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Semangat ganemoticon-Jempolemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Chapter 25 nanti kelihatannya agak sedikit santai sih, nggak terlalu horror dulu dah.
Mantap gan cerita nya ...
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 25 – (Test II) Desa yang Hilang Arah Mata Angin.

Setelah meninggalkan desa Lenggor Jati, kami memutuskan untuk pergi ke desa selanjutnya. Yaitu desa Witiran. Konon katanya di sana dulunya adalah pusat penyebaran agama Islam di kawasan itu, namun sekitar tiga puluh tahunan ini, desa itu berubah menjadi desa tumbal karena saking banyak penduduknya yang melakukan persekutuan dengan jin, syaitan, dan iblis. Begitulah cerita dari kak Ratih.

Selain itu, setelah bertanya-tanya sama penduduk di perbatasan desa Lenggor Jati, sudah banyak para pemuka agama Islam, Kristen, dan Hindu yang ditugaskan ke sana untuk menyebarkan agama-agama mereka supaya meninggalkan kebiasaan musyrik mereka, namun tiada hasil. Bahkan pemuka-pemuka agama itu dibantai dan dibunuh di depan tempat peribadatan mereka masing-masing.

Dan karena itulah, sampai saat ini, tak ada siapapun dari pemuka agama yang berani menginjakkan kaki ke desa itu.

Namun demi mencari keberadaan Mela yang dikabarkan baru kemaren melintasi desa itu, dan karena misi kami untuk saling menolong sesama, jadi mau tak mau, kami harus berangkat ke sana.

“Duh, lamanya,” keluh Andre. “Sesampainya di sana, pokoknya aku harus cari tukang urut deh,”

“Tidak! Apa kau tidak mendengar apapun yang dikatakan kak Ratih dan kak Wisnu soal desa itu? Lagian kita harus segera mencari Mela karena ada seorang petani yang baru keluar dari desa itu mengatakan kalau dia melihat seorang gadis yang penampilannya sama dengan Mela.” Jawabku menolak usul dari Andre.

“Ya mau gimana lagi?” Andre menerima. “Lagian kamu itu kan pemimpin tim ini? Semuanya kuserahkan padamu dah, Leader!”

“Kak Umam, apa kakak yakin ingin mencari keberadaan Mela di desa itu? Setelah mendengar ucapan dari kak Ratih kemaren, sepertinya rumor yang kakak dapat hanyalah hoax semata deh,” kata Cici tiba-tiba nimbrung. Ya aku tahu kalau saat ini dia merasa curiga dan semacamnya. “Untuk memperluas pencarian, bagaimana kalau kita berpencar saja menjadi tiga kelompok. Gimana, kak?”

Aku sempat berpikir dengan saran dari Cici tadi. “Hm ... apa kalian yakin? Jikalau di antara kalian ada yang sanggup melindungi kalian aku setuju-setuju saja. Jika tidak ... maka sebaiknya tidak usah!”

Mereka saling pandang-memandang, dan tak kusangka kalau mereka bersikeras untuk itu. Dasar mereka ini memang bodoh atau keras kepala.

“Kami nggak masalah kok. Kami bisa jaga diri!” kata Wulan dengan mantap, diikuti yang lainnya. Yang terdiam saat itu tentu aku dan Feby yang menjadi penanggung jawab mereka semua.

“Hah, baiklah kalau itu mau kalian. Tapi biar kami yang atur pembagian regu kalian ya,” jawabku sembari menghela napas. “Aku seorang diri, Feby dengan Cici, Agung dengan Andre, Siti dengan Wulan. Kalian sepakat?”

Tanpa ragu maupun menolak sedikitpun, mereka mengiyakan saja pembagian kelompok itu. Sebelum melanjutkan perjalanan kembali, kami sepakat untuk bertemu di perbatasan desa Witiran sebelah utara. Dan aku terus mewanti-wanti mereka untuk mengingat nasehat kak Ratih dan kak Wisnu ketika berada di desa itu.

...

Setelah mereka semua pergi, aku memergoki ada seseorang yang sedang memata-matai kami dari belakang pohon sana. Aku yang mempunyai mata batin tidak sulit untuk dapat melihat keberadaannya.

“Kau yang ada di belakang sana, keluar!”

Dan dengan malu-malu, dia pun keluar. Ternyata dia adalah seorang bocah gelandangan yang tertarik dengan kehadiran kami yang dari pandangannya terpancar kalau kami adalah orang aneh. Aku dapat memakluminya sih.

“Anu, siapa namamu?” tanyaku ramah.

“Ri-Rizal, tuan,” jawabnya sedikit ragu menjawab pertanyaanku barusan. “Tuan siapa dan mau apa menuju desa angker itu?”

“Namaku Umam. Aku hendak mencari seseorang yang kabarnya ada di desa itu. Adek bisa bantu?”

“Sebaiknya tuan lupakan untuk mencari orang itu, dia takkan pernah kembali. Hal yang terbaik yang bisa tuan lakukan adalah memanggil teman-teman tuan sebelum mereka memasuki desa anger itu atau ... nyawa mereka takkan bisa ditolong lagi,”

“Apa maksudmu?” tanyaku menyelidik. “Apa telah terjadi sesuatu yang teramat buruk selain rumor-rumor yang dikatakan orang?”

Bocah itu mengangguk. “Iya, tapi untuk lebih jelasnya ayo kakak ikut aku sebentar. Ada seseorang yang kuingin kakak untuk temui sekarang. Nggak usah takut kok, tempatnya ada di perbatasan desa Witiran sebelah selatan, lima puluh meter dari sini.”

Tanpa ragu lagi, aku pun mengikuti dek Rizal untuk pergi ke tempat yang ia maksudkan itu. Pikiran-pikiranku terus terbayang-bayang siapakah orang yang ingin aku menemuinya. Apa itu Mela? Ah, kurasa tidak.

Sesampainya di sana, aku melihat sebuah masjid tua yang terlihat sudah lama tak terpakai. Yang membuat miris adalah di setiap tembok masjid, terdapat ceceran-ceceran darah yang sudah mengering lama sekali.

Di sana, aku bertemu dengan seorang gadis yang lagi terbaring tak sadarkan diri.

“Cici!?”

Aku bergegas membangunkannya, namun tetap tak bisa bangun, karena roh-nya sudah tak berada di jazad. Tapi aku masih merasakan adanya detakan jantung dan nadi, walaupun terkesan lemah.

Bocah itu mendatangiku. “Ini semua terjadi malam tadi. Temanmu itu terkena guna-guna dukun desa Witiran yang sedang mencari tumbal. Dia berjalan kemari tanpa punya kesadaran apapun. Untunglah aku sedang ada di tempat, sehingga mampu membawanya ke mari supaya tidak jadi tumbal dukun santet itu.”

“Tunggu dulu! Lalu Cici yang bersama kami tadi itu siapa?”

“Itu demit Brajadh, tuan. Jarang ada seorang indigo pun yang bisa melihatnya, jadi mustakhil buat tuan merasakan dan menyadarinya.” Jawabnya menjelaskan. “Demit Brajadh itu berasal dari India, tuan. Di sana demit itu sering dipelihara sebagai ingon-ingon atau penjaga gaib,”

“Lalu, apa yang harus dan bisa kulakukan sekarang?”

“Sebaiknya tuan beristirahat di sini dulu menunggu esok hari sembari menjaga teman tuan yang terbaring di sana. Besok akan saya antar tuan untuk menemui seorang tetua di desa itu. Darinyalah tuan bakal mendapat pertolongan untuk menyelamatkan teman-teman tuan.”

Malam semakin larut, kami putuskan untuk segera menyalakan api unggun di depan masjid itu. Di sana kamipun mengobrol untuk mengusik kebosanan.

“Hm ... nak Rizal, apa nak Rizal punya keluarga?”

“Punya. Itu dulu. Ayah dan ibu saya dibantai oleh warga sini. Mereka menuduh ibu bapak saya sebagai ahli dukun, yang membuat wabah besar melanda desa sini tujuh belas tahun lalu,” jawabnya penuh dengan kesedihan yang mendalam. “Adik perempuan saya diperkosa bergilir oleh sepuluh dalang pembunuhan waktu itu, sehingga ia merasa trauma dan akhirnya pergi dari desa ini dan menuju ke hutan Alas Ireng. Setelah itu, saya tak mendapati kabar lagi darinya.”

“Maaf telah menanyakan hal yang sensitif seperti itu, Zal,” kataku berempati padanya. Sungguh betapa suramnya kehidupan anak ini. “Hm ... kalau boleh, biarkanlah aku membantu untuk menyelesaikan masalah yang ada di desamu, nak Rizal. Dan aku pula akan membawa dan menyelamatkan adik perempuanmu itu supaya kalian berdua bisa hidup bersama sebagai satu keluarga, ya?”

Bocah itu sedikit melirik padaku dengan tatapan sinis. “Baik sekali anda berani ngomong begituan, tuan? Padahal anda tidak tahu siapa dan apa yang dilakukan adik saya, namun saya tetap menghargai setiap pertolongan yang akan tuan kasih,”

...

Malam pun berlalu. Ketika aku hendak menunaikan shalat Subuh, bocah yang menemaniku dari kemaren telah menghilang entah kemana. Aku pun sedikit curiga kalau dia adalah jin, demit, atau sebangsanya, namun aku tak merasakan ada aura seperti itu padanya. Itu sudah pasti kalau dia memang masih manusia.

Tak mau kepikiran terus, aku pun segera membersihkan masjid itu, setidaknya yang bisa kupakai untuk shalat Subuh. Setelah selesai, aku bergegas mencari tempat untuk berwudhu. Dan benar-benar beruntung karena di belakang masjid itu ada air yang mengalir dari atas dan membasahi sungai kecil di sana (air terjun kecil).

Setelah selesai, aku bergegas untuk masuk ke dalam masjid untuk sholat. Dan keanehan yang pertama pun terjadi. Tiba-tiba tubuh Cici yang semula berada di belakang tempat imam, tiba-tiba mundur sampai ke barisan makmum paling belakang atau bersebelahan dengan pintu masjid. Ku tak menghiraukan terus hal itu, karena itu sudah wajar buatku. Karena waktu kecil aku juga pernah mengalaminya. Dipindahkan oleh jin muslim yang hendak menunaikan ibadah di masjid.

Keanehan kedua terjadi ketika "Allahuakbar..." sesaat setelah takbir ada seseorang yang menepuk pundakku, pertanda ingin bermakmum padaku, untung saja aku belum membaca Al-Fatiha. Aku pun segera merubah niatku untuk menjadi Imam, bacaan surat Al-fatiha pun kunyaringkan bahkan sampai pada ayat "Wa lad dollin...".

Makmumku menjawab "Amieeen..." dengan serentak. Rupanya yang bermakmum padaku lumayan banyak, pria dan wanita. Itu bisa aku ketahui dari bergemanya suara amien dan suara khas laki-laki serta perempuan.

Aku tak menaruh curiga, begitu pun saat rakaat kedua. Makmum yang mengamini sama seperti di rakaat pertama. Sholat Subuh` berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang aneh sampai saat aku menyelesaikan sholat dan salam. Saat aku menoleh ke kanan dan kekiri untuk salam, aku bisa melihat makmumku melalui pintu kaca yang mengelilingi Masjid, makmumku terdiri dari 2 shaff itu laki-laki dan perempuan, namun saat aku berbalik hendak bersalaman... mereka lenyap.

“Oalah, mereka dari bangsa jin muslim toh,” ucapku yang tak merasa takut sekalipun, karena seperti yang sudah kukatakan tadi kalau pengalaman seperti ini sudah sering terjadi padaku. Bahkan diriku sempat didatangi oleh jin muslim yang menyamar jadi pocong ketika tidur mushola sebelah rumah.

Dan kemudian keanehan ketigapun terjadi. Inilah sebuah keanehan yang bikin aku heran setengah mati. Setelah aku menengok ke belakang dan tak mendapati siapapun, tiba-tiba dari arah tempat imam ada seorang kyai tua yang menepuk pundakku. Aku langsung kaget seketika. Posisiku yang bersilah membuatku tak mampu berlari langsung karena ketakutan. Keringat dingin dan hawa lembab menambah suasana horor yang aku rasakan. Sial, kakiku kesemutan membuatku tak mampu berlari.

“Assalamu’alaikum nak,” sapanya.

“Wa’alaikum salam, kyai.” Jawabku. Dia pun menolongku untuk berdiri. “Terima kasih, kyai!”

“Sama-sama,” jawabnya singkat. “Ngomong-ngomong aden ini siapa? Mau apa datang ke desa ini dan siapa nona yang terbaring di belakang sana?” kyai tua itu langsung memberondongku dengan beberapa pertanyaan.

“Saya Umam, kyai. Dan gadis di sana itu bernama Cici,” kataku memperkenalkan diri dan juga diri Cici. “Aku datang ke desa ini karena dapat kabar dari seseorang kalau di sini adalah desa tumbal. Jadi kami berkeinginan untuk menyingkirkan persepsi itu dan menolong sesama.”

“Nama saya Abdurrahman, saya adalah seorang imam di masjid ini dulunya. Kalau boleh kukasih saran, mendingan aden segera pergi dari desa ini. Desa ini merupakan desa yang bengis kepada siapapun yang hendak melaksanakan apapun yang berbau peribadatan,” jawab kyai Abdur sembari memberi nasehat. “Jamaah saya banyak yang dibantai di masjid ini dulunya, jadi setiap seminggu sekali saya datang ke mari sekaligus berziarah ke kuburan-kuburan mereka.”

Dari kiyai tersebut aku mendapatkan kenyataan bahwa di Masjid tersebut biasa digunakan sebagai pondok pesantren gaib serta pusat menimba ilmu dari bangsa jin setelah dibiarkan terbengkalai selama beberapa tahun.

“Anu, sekarang kyai tinggal di mana?” tanyaku penasaran.

“Oh, saya tinggal di hutan sebelah barat, sekilo dari sini, nak. Saya tinggal di sana untuk menghindari kejaran-kejaran para cawang di desa ini. Kalau aden berkenan, kapan-kapan aden boleh mampir kok,” jawabnya ramah. Hal itu sedikit menjawab keraguanku tentang kyai itu. “Jikalau aden ingin melanjutkan misi aden di desa itu, saya hanya bisa memberimu satu saran saja. Cari kediaman Pak Hendro Wiraatmaja dan kau akan tahu rahasia yang ada di desa ini.”

“Lalu setelah itu, kyai?”

“Laksanakan sholat-sholat wajib di rumahnya. Namun, jangan sampai kau terpedaya akan kecantikan Restu Wiraatmaja, putrinya. Dia adalah sebuah pancingan. Dan siapapun yang dinikahkan dengannya, itulah tumbalnya.” jawab kyai Abdurrahman tegas.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah kesadaran dari Cici di belakang sana. Aku pun langsung menoleh ke arahnya, dan syukurlah ia akhirnya tersadar juga. Namun ketika kubalikan pandanganku ke tempat di mana kyai Abdurrahman berada, dia sudah tiada, menghilang entah kemana. Yang tersisa di sana hanyalah sebuah sajadah warna hijau yang menurut perasaanku kalau diriku disuruh untuk membawanya.

Ku ambil segera sajadah itu dan bergegas menemui Cici yang telah sadarkan diri itu.

“Lho, kak Umam? Kenapa aku ada di sini? Di mana yang lainnya?” tanyanya sedikit dongkol.

“Ayo Cici, kita harus segera menyelamatkan teman-teman yang lainnya. Mereka semua dalam bahaya,” jawabku tergesa-gesa. Aku pun bergegas menarik tangan Cici dan beranjak meninggalkan masjid tua itu.

Sesaat setelah kami keluar dari masjid, tiba-tiba bocah yang bernama Rizal itu keluar dari semak-semak sembari membawa dua bungkus nasi kuning dan sebotol air putih.

Tahu kalau nasi kuning dan air itu tak mengandung guna-guna atau apapun, kami pun mengiyakan ajakannya untuk makan bersama. Di saat kami sedang asyik makan, aku pun membuka pembicaraan sekaligus menanyakan kepada Rizal apakah benar kalau ada gubuk di sebelah barat hutan yang dihuni oleh seorang kyai bernama kyai Abdurrahman atau tidak.

“Dek Rizal, apa kau kenal dengan seorang kyai bernama Abdurrahman?” tanyaku membuka pembicaraan. “Aku tadi sempat didatangi oleh seorang kyai bernama Abdurrahman yang tinggal di hutan sebelah barat, jaraknya kira-kira sekilo dari sini. Apa itu benar?”

Rizal langsung tersentak saat ia makan, sampai membuat sendoknya terjatuh karena kaget. “Kau bertemu dengan kyai Abdurrahman? Kyai Abdurrahman!?”

Aku mengangguk. Obrolan kami sedikit menarik minat Cici untuk bertanya, namun ia masih urungkan karena tak ingin mengganggu obrolan kami berdua.

“Ada apa, Rizal? Memangnya kyai Abdurrahman itu siapa?”

“Dia adalah penghulu desa ini, atau lebih enak jikalau dia disebut sebagai pendiri dari desa ini. Itu terjadi sudah lama sekali, lebih dari tiga ratus tahun yang lalu,” jelas nak Rizal. “Menurut kabar, dia juga sebagai salah satu penyebar islam di kawasan sini. Kyai Ghofar dan Kyai Umar pun tahu ceritanya. Kata ayah, dulu kyai Abdurrahman mati syahid saat melindungi santri-santrinya saat perang melawan Belanda, namun aku tak tahu persis sih,”

“Kyai Ghofar? Kau tahu dia?” tanyaku yang kini terkejut.

“Iya, dulunya aku berguru padanya bersama dengan adikku. Itu saat kyai Umar masih hidup. Begitu adik perempuanku dikeluarkan dari sana karena hamil hasil pemerkosaan itu, aku pun juga ikut. Walaupun tak lama kemudian, kami harus terpisah juga,”

Selesai makan, kami memutuskan untuk pamit ke Rizal. Dengan berat hati, dia pun merelakan kepergian kami dan mewanti-wanti untuk tidak pergi ke villa kediaman keluarga Wiraatmaja, karena di sana adalah pusatnya kegiatan kegaiban di desa ini, selain itu, keluarga Wiraatmaja dikenal sebagai keluarga yang bengis.

Kami pun mengangguk, pertanda mengerti. Kucoba rahasiakan keinginan kami untuk pergi ke keluarga itu, karena tak ingin membuat Rizal itu khawatir.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, kami berdua sampai di desa Witiran, yang konon merupakan desa terangker dan terbengis di wilayah sini.

Dan kini, ada sedikit perubahan rencana. Selain harus mencari Mela, kami dipaksakan untuk mengungkap rahasia yang diutarakan oleh kyai Abdurrahman tentang keluarga Wiraatmaja dan juga harus mencari dan menyelamatkan teman-teman kami yang saat ini tengah dalam bahaya besar.

-BERSAMBUNG-

So that's it guys. Chapter 25 telah selesai. Di Chapter 26 nanti, Umam dan teman-temannya akan menghadapi santet-santet ganas dari keluarga Wiraatmaja dan sebagian keluarga elit desa Witiran. Di saat itupula lah, pertemuan antara Umam dengan Restu dari keluarga Wiraatmaja.

Maaf di horror 25 ini gak ada kejadian-kejadian gaib yang mengerikan, masih prolog buat episode desa Witiran. Nanti di Horror 26 akan diberi judul "Keluarga Wiraatmaja".

So stay terus and see you next time, minna~ emoticon-Smilie emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Lanjut trus brooo
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ikut nenda di mari ya gan ts emoticon-linux2
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ayuk gan kelanjutanya jgn lama ya yaemoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 26 – (Test II) Ilmu Hitam Palasik dan Keluarga Wiraatmaja yang Bengis.

Setelah berpamitan dengan Rizal, kami berdua, aku dan Cici meneruskan perjalanan untuk mencari teman-teman kami yang saat ini telah memasuki desa Witiran, desa tumbal jika lebih spesifik menyebutnya.

Sesampainya di sana, kami lihat desa ini seperti desa pada umumnya, tak ada yang aneh dan mencurigakan. Di pasar banyak sekali penjual dan pembeli yang melakukan jual-beli dengan normal, di beberapa tempat ada beberapa ibu rumah tangga yang membuka toko dan warung, dan sebagian yang lainnya bertani dan berternak seperti biasanya.

Justru hal inilah yang begitu mengganjal di hatiku.

Tiba-tiba di salah satu toko, ada seorang nenek-nenek yang melambai ke arah kami begitu sampai di depan rumahnya. Tak merasa aneh dan curiga sedikitpun, Cici menghampiri nenek itu, dan aku mengikutinya dari belakang sembari terus waspada.

“Kalian mau kemana, cucu?” tanya nenek berusia 69 tahun bernama Sumatri itu ramah. “Aku tahu kalau kalian berasal dari luar desa, sebaiknya kalian mampir dan istirahat dulu di rumah nenek dan baru melanjutkan perjalanan esok hari,”

Aku langsung menyerobot apa yang akan Cici katakan, “Maaf, nek! Kita tak bisa. Kami berdua harus segera mencari teman-teman kami di sini,”

“Oh, begitu,” jawab nenek itu menyeringai. “Kalau begitu, bagaimana dengan kamu, cah ayu?”

Tak ada petir, tak ada hujan, tiba-tiba Cici mengiyakan permintaan nenek itu. Tatapannya seperti kosong, bahkan matanya tak berkedip sama sekali.

Dia seperti terkena guna-guna.

“Iya, nek. Saya akan tinggal di sini,” jawab Cici tiba-tiba. “Kalau kakak nggak suka, kakak bisa pergi kok!”

Karena tak ingin meninggalkan Cici sendirian bersama dengan nenek mencurigakan itu, dengan terpaksa aku menarik kata-kataku barusan dan sepakat untuk menginap di rumah nenek itu sampai besok.

Kami memasuki rumah itu, yang terlihat seperti rumah pada umumnya, ya walaupun di dalam rumah banyak hal-hal klenik seperti keris, patung dan topeng menyeramkan, dan lain-lain. Serem abis dah!

“Gini lo, cu. Aku mengajak kalian berdua tinggal di sini karena nenek di sini tak punya keluarga lagi untuk menemani nenek di usia yang senja ini. Jadi, begitu melihat ada orang lain yang tidak dari desa datang ke mari, nenek bersikeras untuk menawari kalian tempat tinggal, gratis pula!” kata nenek itu menjelaskan maksudnya tadi. Setelah itu, nenek itupun pergi, katanya sih ke dapur untuk menyiapkan makanan.

Dan inilah saat yang tepat untuk mengajak Cici ngobrol.

“Ci, apa-apaan sih kamu? Bukankah kita sudah diwanti-wanti untuk tidak menerima tawaran apapun dari penduduk desa sini,” kataku lirih yang sedikit kesal dengan Cici. “Kalau terjadi apa-apa, aku tak bisa melindungimu loh!”

“Tenanglah, kak Umam. Nenek itu baik kok. Lagian di rumahnya tidak ada yang mencurigakan sama sekali,” jawabnya yang seolah tidak terjadi apa-apa.

Justru omongan Cici barusan menimbulkan keresahan dan kecurigaan kalau nenek tua itu telah mengguna-guna Cici.

Waktu itu, aku dan Cici ditawari untuk menempati kamar yang sama, yaitu kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu. Sementara nenek tua itu berada jauh dibelakang, sekitar dapur katanya.

Dari siang hingga malam aku tak pernah melihat nenek tua itu keluar dari kamarnya, semakin membuat keresahan dan kecurigaanku tak tertahankan. Setiap kali aku ajak Cici untuk meninggalkan rumah itu dalih-dalih mengajaknya jalan-jalan, tetap saja dia menolak. Hal itu membuatku harus menyelidiki ada apa di sini.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan Cici telah tertidur pulas, aku berinisiatif untuk menyelidiki akan hal ini. Begitu aku keluar dari kamar, semua pusaka-pusaka yang berupa keris, tungku ritual, dan sebagainya tiba-tiba hilang tak berbekas.

Apa nenek tua itu sedang melakukan ritual? Pikirku.

Aku pun terus menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu, berharap ada sebuah petunjuk akan keganjilan atas nenek dan rumahnya ini. Lagi-lagi yang kutemui hanyalah kehampaan, kekosongan. Tidak ada hal yang mencurigakan di setiap ruangan yang ku jelajahi, membuatku sedikit berpikir kalau diriku terlalu parno.

Dan ketika aku menuju ke kamar nek Sumatri, kejadian ganjil yang aku curigaipun terjadi. Dari dalam kamar itu, aku mendengar suara seperti binatang yang sedang mengunyak-ngunyah daging dengan lahapnya.

Aku sedikit bergidik ngeri saat ingin membuka kamar itu. Tak berhenti sampai di situ, begitu aku membalikkan badan, sesosok hitam besar yang penuh bulu langsung memegang kedua kakiku dan menghantamkan tubuhku ke lantai sampai diriku tak sadarkan diri.

...

Keesokan paginya aku tersadar di kamar dengan rasa masih pusing dan tubuhku terasa sakit sekali. Kulihat Cici sudah bangun kala itu. Dia langsung menatapku penuh kegeraman, yang tidak bisa kutebak karena apa.

“Kak, kenapa kakak kemaren pingsan di depan kamar nek Sumatri?” tanyanya sewot. “Kakak nggak macam-macam kan saat tinggal di sini? Nek Sumatri itu sudah berbaik hati mau nampung kita di sini, harusnya kita tahu diri lah,”

“Cici, dengar ya. Ada yang aneh dengan nenek dan rumah ini. Aku hanya melakukan tugasku sebagai penanggung jawab di sini, dan diriku tak ingin hal-hal buruk terjadi pada kalian semua.” Jawabku membela diri. “Aku kemaren mendengar suara binatang buas sedang mengoyak-oyak daging, begitu mau kubuka, tiba-tiba dari belakang muncul genderuwo yang langsung membantingku ke tanah sampai tak sadarkan diri. Paham?”

“Alah, kakak pasti bohong, ‘kan? Mana mungkin nenek baik hati seperti itu punya ingon-ingon kaya gituan,” kata Cici masih ngeyel, bikin kesel aja. “Asal kakak tahu, yang membawamu kemari adalah nenek yang kau tuduh itu. Tau!”

Tak mau berdebat lagi yang hasilnya sudah pasti, aku pun hendak keluar untuk mencari angin segar. Namun tak jadi karena dikejutkan oleh ketukan pintu yang langsung disambar oleh Cici. Ternyata itu adalah nenek Sumatri.

“Gimana, cu, kondisimu sudah baikan?” tanya nek Sumatri itu ramah padaku. “Kalau belum, nenek akan carikan mantri di sekitar sini. Mau?”

“Eh, nggak usah, nek. Saya sudah baik-baik saja kok.” Jawabku yang menolak pertolongan nenek itu dengan lembut dan ramah pula.

“Oh ya, cu. Nanti kalian nginep di sini lagi, yah?” pinta nek Sumatri tiba-tiba. “Karena nanti adalah malam jum’at kliwon dan diakhir bulan, warga di sini akan mengadakan upacara aneh, jadi lebih aman jika kalian ada di sini malam ini. Bisa?”

Tentu saja aku menolaknya. Karena aku sudah memastikan memang ada yang aneh dan disembunyikan oleh nek Sumatri itu. Aku tak bisa mengambil resiko untuk terus di tempat ini dan membahayakan nyawa kami berdua.

Belum juga aku menjawab, tiba-tiba Cici main serobot saja. “Boleh, nek? Kalau diperbolehkan, kami setuju-setuju saja. Iyakan, kak?”

Tentu saja kala itu aku hanya mesam-mesem saja, karena percuma juga mengajak Cici untuk menolak ajakan nenek tadi. Dengan berat hatipun, aku mengangguk pertanda setuju. Mungkin dengan ini aku masih punya kesempatan untuk membongkar keanehan-keanehan lain di rumah ini.

Setelah puas, nenek itu keluar dari kamar dan berjanji akan membawakan makanan dan minuman yang kami minta. Kami waktu itu minta nasi kuning dan juga air putih biasa, dan dengan entengnya pula, nenek itu menyanggupi.

Setelah ia pergi, aku bergegas keluar rumah untuk mencari udara segar, sekaligus jalan-jalan supaya tubuhku yang sakit kemaren, biar cepat sembuh. Tak terduga, kalau saat itu aku bisa bertemu dengan Rizal kembali yang lagi asyik mencari rumput untuk kambing-kambingnya.

“Lho, Rizal. Kamu merumput yah?” tanyaku yang langsung mengagetkannya.

“Oh, tuan Umam. Iya, ini saya lakukan untuk memberi ternak kambing saya,” jawabnya lugu. “Kok tuan Umam masih di sini? Gimana kabar dengan teman-temannya?”

Aku langsung menghela napas panjang. “Ya itulah, yang kini membuatku resah, dek Rizal. Belum lama kami berdua sampai di sini, sudah terkena sandungan yang begitu berat,”

“Sandungan? Sandungan apa, tuan?”

“Itu tuh. Kamu lihat di ujung sana ada sebuah rumah. Di sana ada seorang nenek yang bernama Sumatri menawari kami untuk tinggal di rumahnya selama dua hari. Tentu saja aku langsung menolaknya karena curiga, namun temanku yang bernama Cici tak ada petir tak ada panas, langsung mengiyakan permintaan dari nenek itu, dan beginilah jadinya.”

“Astagfirullah, kakak tinggal di rumah nenek itu!? Kakak berani!?” sahutnya yang benar-benar tak percaya. “Pokoknya kalian berdua harus segera keluar dari rumah itu segera sebelum maghrib. Bahaya, kak, bahaya ...”

“Iya sih, sebenarnya aku juga agak ganjil berada di rumah itu, namun aku tak bisa berbuat apapun untuk mengajak Cici keluar dari rumah itu. Aku takut kalau dia sedang berada di pengaruh nek Sumatri,” jawabku menjelaskan. “Memangnya siapa sih nek Sumatri itu?”

“Saya sih, nggak tahu persisnya kak. Namun kata orang-orang di sini ia mempunyai ajian kekal abadi. Ada pula yang berspekulasi kalau dia adalah kuyang, kak,”

Aku pun langsung bergidik ngeri mendengar cerita dari Rizal. Aku pun berencana untuk membongkar semua keburukan dari nenek tua itu supaya Cici bisa melihatnya sendiri. Dan dengan itu pula, aku minta ke Rizal untuk ikut membantuku supaya kami berdua bisa keluar dari rumah nenek itu.

Dan entah mengapa, dia setuju-setuju saja.

Sore harinya, aku habiskan sore itu untuk membaca koran-koran yang tergeletak di atas kursi ruang tamu. Nek Sumatri dan Cici saat itu sedang keluar sebentar karena ingin membantu nenek itu di ladang belakang rumah.

Di saat itulah, keganjilan-keganjilan terjadi. Ada sekelebat bayangan hitam yang keluar masuk kamar nek Sumatri. Aku biarkan saja, karena bayangan itu tak bersifat mengganggu.

Ku teruskan untuk membaca koran harian itu, sampai ada seorang nenek bungkuk yang berjalan dengan tongkat kayu yang sudah rapuh. Kupikir itu adalah nek Sumatri, namun setelah kutelisik, ternyata bukan.

“Pergi dari sini, anak muda! Nanti malam akan terjadi kekacauan di sini,” ujar nenek tua itu. “Bawa temanmu dan segera pergi dari sini, sebelum kau terkena kehancuran itu. Pergi! Pergi!”

Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, nenek bungkuk itu sudah menghilang. Hal ini semakin membuatku parno dan berkeinginan untuk segera meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Namun apa dayaku, Cici masih bersikeras untuk menginap di sini lagi.

Aku harus gimana?

Tak lama kemudian, nek Sumatri dan Cici pun datang dengan membawa dua bungkus nasi kuning dan juga sebotol air mineral yang barusan mereka beli. Kami memakannya dengan lahap, dan selesai makan, kami ketiduran di kamar. Duh!

Ketika pukul sepuluh malam, dari jendela kamarku, terdengar suara ketukan-ketukan pelan yang langsung membangunkanku. Setelah ditengok, dia ternyata Rizal, membuatku merasa lega.

“Kak, kok dari tadi kakak belum keluar dari sini?”

“Maaf, tadi kakak sempat ketiduran begitu memakan nasi kuning yang diberikan oleh nenek tua itu.”

“Anu, kak. Saya membawa seseorang untuk ikut membantu kakak. Tapi sekarang ini dia sedang dalam perjalanan ke mari,” katanya memberitahu kalau ada seseorang yang berkeinginan menolong kami. Hatiku pun terasa lega. “Hm ... Cici di mana kak?”

Aku langsung menoleh ke belakang, tepat di ranjang Cici. Tak kutemukan keberadaan gadis itu. Aku panik seketika. Ku suruh Rizal untuk mencari di luar rumah, sementara aku akan mencarinya di kamar milik nek Sumatri yang begitu misterius itu.

Barusan aku membuka pintu kamarku, langsung terpampang kaki raksasa berbulu warna hitam pekat yang langsung menendangku sampai terpental dan menghantam tembok dalam kamar. Untunglah saat itu aku tidak pingsan.

“Astagfirullah, kaget hamba, Ya Allah,” ucapku dalam kepanikan dan kesakitan itu.

“Hai manusia, jangan ganggu urusan tuanku. Jika kau tetap mengganggunya, maka aku tak segan-segan akan menghabisimu di sini dan sekarang juga. Paham!?” bentaknya menggelegar.

“He-he, memangnya siapa kau, genderuwo? Kau bukanlah Tuhanku yang memutuskan hidup juga matiku. Kau hanyalah demit yang setiap hari harus bermandikan dengan lumpur dosa karena keirianmu dengan Adam as,” jawabku santai menanggapi ancaman dari genderuwo itu. “Andaikata ilmuku tidak disegel, pastinya kau bukanlah apa-apa buatku, genderuwo!”

Aku kembali melangkah ke arah pintu, dan untuk kesekian kali selalu ditendang sampai terpental ke ujung kamar lagi dan lagi. Membuat tubuhku penuh dengan luka hantaman.

Tiba-tiba, aku mendengar suara orang berbisik ke arahku, “Bacalah doa pengusir jin dan sambitkan sajadah hijau yang kuberikan padamu ke arah demit itu!”

Aku bergegas untuk mengambil sajadah hijau di tas ranselku. Sesuai dengan yang dikatakan suara misterius itu, “Allahuma Raja Sulaiman!” aku membacakan doa lain pula. “A’UUDZU BI KALIMAATILLAAHIT-TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ,”

Setelah itu kutebas-tebaskan sajadah hijau itu ke tubuh genderuwo itu, dan akhirnya berhasil. Dia mengerang-erang kesakitan dan akhirnya berubah jadi abu yang terbawa angin.

Tak mau berlama-lama terbuai dengan kemenangan semu, aku bergegas menyusuri setiap kamar yang ada di rumah itu, dan sebanyak itupula aku tak berhasil mengetahui keberadaan Cici. Bahkan, ketika aku cek kamar nek Sumatri. Tak kutemukan Cici di sana, yang ada di sana hanyalah tulang belulang sapi dan benda-benda klenik berupa keris dan semacamnya.

Aku panik seketika tak mendapati Cici ada di kamar nenek tua itu. Dengan segera aku keluar dari rumah dan menemui Rizal. Dan dengan senang hati pula, dia mau menolongku mencari keberadaan Cici saat ini.

Dalam kepanikan itu, tiba-tiba suara misterius itu berbisik padaku lagi. “Bacalah doa Nabi Muhammad SAW saat ia hendak melakukan perjalanan saat Subuh. Insya’allah, Allah SWT akan menuntunmu ke arah tujuanmu,”

Dan tanpa ragu sedikitpun, akupun membaca doa itu. “Samma’a sami’un bihamdillah wa husni bala-ihi ‘alaina rabbana shohibna wa afdhil ‘alaina ‘aizan billahi minan nari.”

Dan tiba-tiba sajadah hijau yang kupegang, melayang-layang ke udara dan melesat jauh menuju ke belakang ladang nek Sumatri. Kami pun bergegas mengikuti ke mana sajadah hijau itu pergi.

Sesampainya di tempat sajadah itu, kami melihat pemandangan yang begitu mengerikan yang telah terjadi. Kulihat tubuh Cici yang pingsan dan setengah telanjang itu dibaringkan di atas altar yang begitu aneh dan mengerikan.

Tiba-tiba dari belakang, muncul nek Sumatri yang langsung menghantam kami berdua dengan tongkat kayunya. Padahal hantaman itu tidaklah keras, namun sudah mampu membuat kami terpental sejauh lima meter, bahkan Rizal pun langsung pingsan dibuatnya.

Itu menunjukkan seberapa kuat ilmu kanuragan dari nenek tua itu.

“Apa yang kau lakukan pada Cici, nenek tua!?” tanyaku penuh kegeraman.

“Hiihi ... kau tak perlu khawatir, anak muda. Aku hanya mewariskan ilmu palasikku kepada gadis ini. Dia sangat cocok untuk mewarisi semua ilmuku. Hiiihi,” jawabnya dengan suara cekikikan yang begitu mengerikan. “Kau sudah terlambat seminggu jika kau berpikir bisa menghentikanku saat ini, anak muda!”

Kucoba diriku untuk berdiri lagi dan lagi, namun tak bisa. Entah mengapa tubuhku serasa lumpuh kala itu. Entah apa yang dilakukan nenek tua itu dengan tongkatnya barusan.

“Ayo bangun, bangun .,.. bangun!!” paksaku pada tubuhku sendiri. “Bangun, ayo bangun ...!!!”

Namun percuma saja. Tubuhku masih lumpuh. Sementara itu, kulihat nek Sumatri sedang membacakan jampi-jampi ritual untuk mewariskan ilmu palasiknya kepada Cici. Aku jelas-jelas tak tega padanya.

Dalam keadaan yang benar-benar tak berdaya, tiba-tiba dari kejauhan melesat sebuah keris yang langsung menembus tubuh nek Sumatri kala itu. Anehnya, nenek tua itu tidak langsung mati, padahal keris itu menancap langsung ke dadanya.

“S—Siapa di sana?” kata nek Sumatri sembari membalikkan badan, kulihat dia sudah terluka cukup parah. “Tunjukkan dirimu, pengecut!”

“Walah, walah, ternyata kau masih bersembunyi di desa ini ya, Nini Sumatri,” ujar pria misterius itu kejam. Dia layaknya seorang tokoh antagonis di dalam cerita novel. “Padahal ayahku sudah mengusirmu tiga puluh tahun lalu, namun kau masih berani menebar teror di desa ini. Dasar wanita laknat!”

Nek Sumatri tergagap-gagap melihat rupa bapak itu. Sepertinya mereka memang sudah mengenal satu sama lain. “Raden Hendro Wiraatmaja!?”

Dengan segera, orang yang bernama Hendro Wiraatmaja itu langsung menoleh ke arahku dengan tatapan sinis dan antipati padaku. Dan langsung, dia mengeluarkan lima paku yang langsung ia lemparkan ke arahku. Anehnya paku-paku itu tepat menancam ke setiap sendi-sendiku.

Walaupun terasa begitu menyakitkan sampai diriku berteriak keras, namun berkat itu, aku bisa bergerak lagi. Syukurlah, pikirku.

“Hmph, Nini Sumatri, kau masih berani membangkang ke keluarga Wiraatmaja setelah tiga puluh tahun lalu anak dan cucumu kami bantai, he?” ujar pak Hendro itu keji. Dia benar-benar seperti yang dikatakan kyai Abdurrahman padaku. “Padahal ayahku masih berbaik hati untuk tidak menghabisimu saat itu. Inikah balasan yang kau berikan padanya?”

“Cuih! Sampai kapanpun, aku takkan menerima kebaikan busuk Raden Herman Wiraatmaja itu! Kalian itu lebih buruk daripada iblis,” jawab nek Sumatri mengumpat. Sembari meludah ke muka pak Hendro. “Harusnya lebih baik kalian bunuh aku juga, daripada aku harus menerima belas kasihan dari keluargamu itu, Hendro!!”

Dengan segera, pak Hendro langsung mengambil kerisnya kembali dan menebas leher nenek tua itu. Dan tentu saja nenek tua itu langsung tergeletak, bersimbah penuh dengan darah.

Tak berlangsung lama, tiba-tiba kejadian anehpun terjadi. Nenek Sumatri yang dipastikan sudah tak bernyawa itu, tiba-tiba kepala dan organ-organ dalamnya terlepas dari tubuhnya. Membuatku bergidik ngeri sekaligus ingin muntah.

Ternyata benar rumor itu kalau ...

Nenek Sumatri adalah sesosok Palasik!

-BERSAMBUNG-

So that's it guys untuk chapter kali ini. Di Chapter 27 nanti akan ada pertemuan yang berdampak ke batin Umam saat ia melihat Restu dari keluarga Wiraatmaja. Seperti ada ikatan batin di antara keduanya.

Nggak mau terlalu banyak spoiler. Mending kita lihat di Horror 27 nanti yang berjudul "Ikatan Batin Restu Wiraatmaja"

Thanks, and see you next time~Minna. emoticon-Smilie emoticon-Big Grin
Oh ya, kalau bisa silahkan share thread ini ke teman-teman kaskus semua, biar yang komen nambah, karena dengan komenan kalianlah, diriku jadi semangat meneruskan cerita ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Serasa seperti film terminator, kembali ke masa lalu....
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mas umam
Palasik opo ta
Mumet sing mbayangke artine
😁😁😁
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Halaman 5 dari 8


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di