CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
"CUMI; Dilema Cinta Seorang Janda" (Based On Life Story')
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fbfb5ba9a972e09dc124ccf/quotcumi-dilema-cinta-seorang-jandaquot--based-on-life-story

"CUMI; Dilema Cinta Seorang Janda" (Based On Life Story')

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 6
Chapter 7 : Hati Yang Tersandera

Part 3



Karena keterbatasan waktu dan keriwehan suasana dan mood TS, maka mohon maaf sebesar-besarnya bila ini akan menjadi Part terpendek dalam Thread ini.

Ditulis semata-mata untuk memperingati moment istimewa. karena seinget TS ini adalah waktu pertemuan yang paling lama, yang TS dan Tokoh Utama Thread ini, si Cumi, alami tepat setahun yang lalu : 31 Desember 2019.

Bayangin gue & Cumi nongkrong sejak Bada Ashar sekitar Pukul 4 sore Tanggal 31 Desember 2019, sampe Pukul 02.00 Tanggal 1 Januari 2020.

Iya gan, tepat setahun lalu gue dan Cumi ngerayain Malam Pergantian Tahun bareng. Ya emang ngga sendiri sih. Tapi bareng Putri dan suaminya. Putri ini sendiri adalah cewek, sohib deket Cumi. Itu pertama kalinya juga gue ketemu dan dikenalin Cumi sama Putri.

Awalnya kita nongkrong berdua di JCO Lebak Bulus. Trus sekitar pukul 8 malam kita geser ke sebuah kafe di daerah Ciputat. Nah disana kita ketemu Putri dan suaminya.

Itu kayaknya pertama kali gue boncengin Cumi ditengah rinai gerimis akhir tahun.

Sejak dari JCO cumi cerita macem-macem, ngalor ngidul, tentang semua cowok yang pernah terlibat asmara dengannya. Dari mulai pacarnya di jaman kuliah, sebelum ketemu Mas Bagus. Dicampur sama cerita-cerita tentang Andi jaman kuliah yang naksir sama Cumi.

Trus sampe ketemu Mas Bagus yang kemudian mereka nikah hingga berujung cerai. Disambung sama hubungan Cumi dengan Dedy.

Cumi juga cerita tentang rumah tangga Andi & Ningsih yang goyah. Lalu soal CLBK-nya Andi ke Cumi.

Buat Andi CLBK itu singkatan Cinta Lama Bersemi Kembali. Buat Cumi sendiri kayaknya lebih tepat kalo CLBK itu kependekan dari Cinta Lu Bikin Kusut.
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™

Dalam 10 jam itu, kepala gue membuat orat-oret tentang semua kisah Cumi, yang detil kisahnya akan gue tulis di Part-part selanjutnya dalam Chapter 7 ini.

Untuk sekarang orat-oret itu baru bisa gue kasih bentuk sebuah puisi.

************

Percakapan Akhir Tahun

Pada sebuah senja
Pada sebuah meja

Ketika 2 wajah mensiasati secangkir kopi panas dan segelas coklat dingin.

2 ponsel android, 2 bungkus Cigaret, dan sebuah asbak plastik seolah ingin memberi simpati pada warna-warna resah sebongkah percakapan.

Percakapan tentang sepasang "Entah" dan 4 genggam "Lihat Saja Nanti".

Percakapan tentang mimpi yang telah larut dalam segelas tidur panjang yang kian jauh.

Percakapan tentang semua rencana yang berubah menjadi kabut yang menggenapkan kebuntuan.

Atau janji-janji manis yang menghablur beku menjadi kristal bening pada sebuah malam di musim dingin, yang menyendiri di atas meja, di pojok sebuah ruang hampa didalam batin.

Memang terlihat indah.
Namun juga tak pernah beranjak kemana-mana!

Juga percakapan tentang sebuah cinta yang sedang sekarat, dan berlomba untuk bunuh diri secepat mungkin.

Percakapan tentang usia muda yang makin cepat mengelupas, seperti lapisan aspal tipis di musim hujan, yang digilas oleh roda-roda nasib yang berjalan hilir mudik di jalan berlubang ini.

Juga percakapan tentang sebuah taman yang ingin kau kunjungi.
Namun langkahmu selalu saja berakhir di persimpangan jalan.

Lalu kau bilang :
Kuingat secangkir senja pernah mampir di teras kafe ini untuk menawarkan coklat panas, yang manisnya akan membuatmu tersenyum sepanjang tahun.

Kataku :
Ya pernah... Dulu sekali..
Dan betapa cepat waktu berlalu.

Katamu :
Ya.. Betapa cepat waktu berlalu!



*********"

TS mengucapkan terimakasih untuk semua atensi, apresiasi, dan kritik dari segenap Agan-agan reader pembaca Thread ini. Yaitu dalam bentuk Cendol, Koment, dan lain-lain..

Beneran, gan. Semua atensi itu sangat memotivasi dan menjadi alasan TS untuk terus melanjutkan penulisan Thread ini.

Mohon maaf sebesar-besarnya, tanpa mengurangi rasa hormat, takzim, dan mahabbah TS ngga menyebutkan semua nama agan yang memberi atensi satu per satu.

Insyaallah sih kalo ngga ada aral melintang, atau bencana alam yang terlalu ekstrim, atau kabar yang sifatnya force majeure, malam tahun baru ini, TS akan kembali ngerayain bareng si Cumi.
😍😍😁😁

Ya sekaligus menginterview si Cumi tentang beberapa detil cerita.
Modus sih.. Tapi biarin ya, gan.
πŸ˜πŸ™πŸ™

Doain lancar ya, gan
πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™

Dan buat Agan-agan reader ane doain Tahun 2021 menjadi Tahun yang lebih baik buat Agan-agan reader semua.

Tetap Sehat
Tetap Semangat
Janda memang lebih menggoda.
πŸ€­πŸ€­πŸ˜πŸ™πŸ™


Selamat Tahun Baru 2021
πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™



BERSAMBUNG



profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Ati ati gan
Jangan tikung menikung
Eh salah tulis
emoticon-Hammer2

Moga selamat sampai tujuan
Maksutnya gitu nulisnya
profile-picture
complain01 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Lanjut ken ts....
Semoga bs dobel update... Muehehe
profile-picture
complain01 memberi reputasi
Chapter 7 : Hati Yang Tersandera

Part 4



Sekali lagi Selamat Tahun Baru 2021 ya Agan-agan reader.
πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈβ˜ΊοΈ

*******

Kita flashback dulu yuk gan ke tempat dan waktu tepat setahun yang lalu lewat 2 hari.

Yaitu ke JCO Lebak bulus Tanggal 31 Desember 2019.

Pada moment ketika Cumi makin lancar Curcol dan Curdi ke gue.
Curdi : Curhat Pribadi, bukan hasil colongan!
πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜‚

Tapi emang gue sortir Curdi-curdi itu karena beberapa udah terkisah pada Chapter-chapter sebelumnya.

Curdi yang lolos sortir adalah cerocosan Cumi tentang sikon rumah tangga Andi dan Ningsih, yang menurut gue menjadi bagian tak terpisahkan dari Modus Andi ngejar-ngejar si Janda cantik tokoh utama Thread kita ini.

FYI Modus adalah singkatan Mo-tif yang teren-Dus.
πŸ˜†πŸ˜

Bakar rokok dulu ah, gan. Biar suasananya lebih syahdu gituu...
🀩🀩

Tring! Crek!

"Elu tau, Kakus? Awalnya sih gue ngga terlalu care sama rumah tangga Andi dan Ningsih. Karena gue pikir mereka baik-baik aja."

"Dari segi materi mereka ngga berkekurangan. Udah punya rumah sendiri. Udah punya anak juga yang lagi lucu-lucunya. Si Andi-nya ganteng dan si Ningsih-nya cantik. Kurang apalagi, coba?"

"Yaah kalo dalam hidup berumah tangga itu ada cekcok, ada pertengkaran, ada salah faham, itu sih wajar aja sebagai bumbu dalam sepiring gado-gado rumah tangga."

"Namanya masakan rumah pasti beda sama masakan di restoran bikinan seorang Chef!"

"Dalam sebuah masakan yang bernama 'Rumah Tangga" pasti ada aja kasus kelebihan atau kurang garem. Pasti sewaktu-waktu terjadi overdosis cabe, underdosis bawang, atau salah SOP pas nyemplungin bumbu."

"Sebagaimana manusia yang nggak sempurna. Maka nggak akan ada rumah tangga yang sempurna!"

*********

"Masalahnya kondisi rumah tangga si Andi udah mempengaruhi pekerjaan, Kakus. Dan gue sebagai karyawan di perusahaan Andi, secara langsung ngga langsung ikutan kena dampaknya."

"Contoh konkrit si Andi tuh sering salah transfer duit. Dulu kita pernah dapet duit DP buat pengadaan ranjang pasien di sebuah rumah sakit di Manado. Naah itu duit yang harusnya ditransfer Andi ke supplier ranjang pasien. Malah ditransfer ke supplier baju seragam Perawat!"

"Naah posisi gue di kantor itu kan sebagai Finance. Itu minta ampun gue dulu ngurusnya. Kudu telpon bolak-balik dan sana-sini. Kudu klarifikasi bolak-balik dan sana-sini. Supaya itu duit bisa balik ke alokasi budget yang sebenarnya."

"Terus gue tanya Andi kenapa bisa blunder dan sering ngga fokus begitu?"

"Andi bilang dia lagi puyeng karena berantem sama Ningsih. Soal salah beli lemari laah. Soal pesenan belanja online belum sampe-sampe laah. Soal Ningsih yang ngambek karena Andi lagi ngga bisa nganterin Ningsih ke rumah orangtuanya laah. Soal anak sakit panas laah, soal ada tikus betah di kabinet kitchen set laah..!"

"Soal-soal yang ngga terlalu penting yang menurut gue, seharusnya bisa dihandel sendiri sama Ningsih, dan ngga ganggu konsentrasi kerja si Andi."

"Terus Andi ngasih liat japrian dia sama Ningsih. Ya ampuuun Kakus. Gue baru tau tabiat asli si Ningsih. Dia itu manjaa dan malees banget orangnya, Kakus!"

"Gue bukan ngomongin nih, Kakus. Tapi faktanya emang begitu!"

Sejenak gue bingung. Emang ada ya bedanya antara "bukan ngomongin" sama "nyeritain fakta melalui omongan?"
πŸ€”πŸ™„

Aah males gue debat definisi sama emak-emak yang lagi seru-serunya ngebacot. Tuntas kaga, yang ada ini asbak bisa melayang ke jidat gue.

Gue pun pilih aman dengan diem menjadi pendengar yang baik, ketika Cumi lanjut mengungkap fakta melalui omongan.

"Bayangin, Kakus! Sampe perkara pengen makan semangka aja harus Andi yang beli. Kan bisa si Ningsih keluar rumah sebentar buat beli di Toko buah yang deket dari rumah? Mobil ada, supir ada! Mau ngapain, coba?"

"Bayangin, Kakus! Masa urusan beli barang online aja kudu Andi juga yang order? Kan Ningsih punya Hape bagus. Tinggal donlod aplikasi, tinggal order sendiri. M-banking dia juga punya, jadi kaga perlu repot ke ATM buat bayar."

"Bayangin, Kakus! Masa perkara anak meriang aja kudu nunggu Andi juga yang nganter ke dokter. Ini kan darurat ya? Lha kan bisa si Ningsih pergi ke klinik terdekat!"

*******

"Sejak itu si Andi sering Curdi ke gue tentang masalah rumah tangganya. Pas makan siang di kantor, pas di mobil, pas kita lagi keluar kota buat urus dokumen tender."

"Menurut gue cara gue nanggepin curdian si Andi sih biasa aja, wajar aja. Gue banyakan denger aja, dan ngga nyalahin Ningsih di depan Andi."

"Yah paling gue share pengalaman gue aja ke Andi. Berhubung gue adalah Janda yang dituntut untuk mampu Multifungsi, Multitasking, Multimedia dan Mulitplechoice.πŸ˜†πŸ˜ Maka semua hal yang ngga bisa dilakukan Ningsih, kalo dalam kondisi gue, mau ga mau harus bisa gue kerjain sendiri!"

"Soalnya gue ngga bisa terlalu bergantung sama suami gue, Kakus! Karena seorang Janda kan ngga punya suami, Kakus!"

Gue ngakaak...
"Ya iyaaalaaah Dodoool! Dimana-mana Janda emang ngga punya suami!"
πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜‚

Cumi ikutan ngakak. Lalu terdengar bunyi Tring! entah untuk rokok keberapa yang dia bakar sore itu.

"Tapi yang bikin ngenes, adalah sikap Ningsih yang ngga pernah atau jarang banget menghargai semua yang dilakukan Andi buat dia."

"Gue kasian, Kakus. Ngeliat cara Ningsih memperlakukan Andi. Kadang sampe maki-maki Andi sampe keluar namaΒ² penghuni kebon binatang Ragunan!"

"Bahasa-bahasa yang ngga pantes diucapin secara lisan atau tulisan dari seorang istri kepada suaminya!"

Cumi ambil jeda sejenak untuk sebuah seruputan brutal pada segelas coklat dinginnya.

Sluuurryyyppphhh.....

Lalu sepasang bibir merah yang basah dan menggemaskan itu kembali menceritakan fakta melalui omongan.

"Ya bisa jadi sih ketika Andi denger cerita gue yang sehari-hari harus bisa Multiplayer, bikin Andi kagum sama perjuangan gue di rumah yang ngurus semuanya sendiri."

"Ini bercampur sama Andi yang merasa asyik dan nyambung kalo ngobrol sama gue. Sesuatu yang ngga dia rasakan ketika ngobrol sama Ningsih."

"Bercampur juga sama sosok seorang cewek yang biasanya emang akan terlihat seksi dan menantang ketika dia berani ngedebat seorang cowok. Semacem gue ini sebuah puncak gunung yang menantang adrenalin untuk ditaklukkan."

"Bercampur CLBK nya Andi dan rasa penasaran dia ketika dulu gue nolak cinta dia pas jaman masih kuliah."

"Bercampur cemburu nya Andi ke Dedy."

"Bercampur rasa kecewa Andi sama Ningsih."

"Bercampur stigma-stigma tentang pesona seorang Janda pada diri gue."

"Dimana semua percampuran motif ini saling berakumulasi, berkolaborasi, dan berkomplikasi, menghasilkan reaksi kimia di hati Andi. Dia jatuh cinta ma gue, Kakus!"

Gue nyeletuk,
"Buseeet daah lengkap amat itu campuran! Kalaah deeh gado-gado nya Mak Ijah!"

πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜πŸ™πŸ™

********

Sejenak gue inget Cumi pernah bilang, kalo si Andi orang yang sangaat baiik. Baik terhadap siapapun, terlebih sama istrinya. Maka Andi akan memperlakukan istrinya layaknya memperlakukan seorang Ratu yang tinggal dalam sebuah Istana.

Andi ngga pengen istrinya repot. Ngga pengen istrinya capek. Semua harus serba beres dan serba tersedia buat sang Istri.

Tetiba Cumi nyeletuk, seolah tau apa yang gue pikir tentang Andi di otak gue, dan merasa perlu untuk menambahkan,

"Andi itu bener-bener berusaha menjadi sosok suami yang sempurna buat Ningsih. Sayangnya Ningsih ngga bersyukur dan membalas kebaikan Andi dengan cara yang layak!"

Sebenernya waktu itu gue pengen nimpalin Cumi. Karena menurut gue ngga akan ada ceritanya rumah tangga yang sempurna. Yaitu dalam proses atau hasil ketika kita terlalu ngotot untuk menjadi sosok yang sempurna bagi pasangan kita.

Karena menurut gue akan ada keseimbangan yang hilang!

Dan baru sekarang di kisah Thread ini gue berani menyampaikan bahwa sisi yang ngga seimbang itu adalah :

Keberhasilan Andi menjadikan Ningsih sebagai Ratu dalam istananya, justru menjadi kegagalan Andi untuk menjadi Raja di Istana itu!

Maafin ya, Cum... maaaf bangeet. Kalo kalimat diatas kurang berkenan buat elu. Gue tau banget elu sangat menghormati Andi.

Tapi gue cuma pengen jadi temen elu yang berani berkata jujur, sebagaimana elu sendiri udah jujur sama gue selama ini....






BERSAMBUNG









profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Chapter 7 : Hati Yang Tersandera

Part 5



Sekitar Bulan Februari 2020.

Ini merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi di real life. Kejadian yang sebenernya cukup konyol dan memalukan untuk diceritakan disini.

Gue kalo inget kejadian ini suka ketawa sendiri. Tapi sekaligus marah, kesel, sedih, dan merasa bodoh pada saat yang sama. Hati gue laksana gado-gado yang disiram sama kuah Bakwan Malang, lalu dibanjur sama pasta Spaghetti.

Bener-bener perpaduan rasa yang chaos dan ambyar!
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Jadi ceritanya gini, gan...

Selama 2 Minggu di bulan itu. Gue tau kalo si Cumi lagi sakit batuk ngga ada sembuh-sembuhnya. Tapi ngerokok juga ngga ada berhenti-berhentinya!

Padahal gue udah bilang ke si Cumi supaya berhenti ngerokok dulu lah buat sementara. Tapi tau sendiri kalo kepala si Cumi ini kerasnya bukan main!

Suatu siang perasaan gue ngga enak. Gue Japri Cumi buat nanyain itu gimana kondisi tenggorokan yang kena radang, udah baek apa belom?

Tapi sampe bada Isya ketika gue udah pulang kerja. Si Cumi belum juga balas. Boro-boro bales. Dibaca aja nggak!

Ngga lama gue kedatangan tamu. Yaitu si Konte, temen SMP gue yang lain. Si Konte ini adalah Humas ILUNI SMP yang baru aja kita bentuk 4 bulan yang lalu.

Konte mewakili Pengurus ILUNI minta tolong ke gue untuk menjadi Leader Panitia untuk acara Pengukuhan Pengurus ILUNI di Puncak, Bogor, Bulan Maret mendatang.

Terus terang, dalam hati sih gue koment rada nyinyir tentang rencana ini.

Eeeet daah... Make segala resmi-resmian bikin acara Pengukuhan segala sih? Udah kayak organisasi level nasional yang perlu dilaunching segala?

Wong ini anggota ILUNI juga cuma 100 orang an doang. Hanya satu Angkatan aja yang jadi anggota nya! Lagian udah basi juga waktunya. Pembentukan ILUNI itu akhir Oktober Tahun lalu. Tapi baru sekarang mereka mikirin Pengukuhan!

Ini orang-orang pada butuh amat sama yang namanya Pengakuan dan Pencitraan, sih?

Padahal kalo Pengurus ILUNI and the Genk pada kumpul ngopi-ngopi, atau Touring, atau makan-makan yang ditraktir sama ketuanya, gue mana pernah diajak?

Tapi giliran mereka mau bikin acara yang penuh keribetan, dimana konsep acaranya sendiri adalah Familly gathering yang ditambahin sesi Formal Pengukuhan, ada games alumni dan games anak alumni, ada santunan Yatim dll... Maka Gue-gue juga yang diseret-seret jadi Panitia!

Yaah biasa deh gue dimintain tolong jadi seksi repot, untuk semua urusan dibelakang dan didepan panggung. Mulai dari matengin konsep mentahnya mereka, lobby Donatur, urusan teknis dan logistik dan aneka printilan lainnya.

Dan tetep aja nama yang naik ke permukaan bukan gue, tetep aja nama orang lain selaku Donatur atau Pengurus ILUNI.

Ya walaupun ujung-ujungnya gue bersedia juga sih untuk terlibat. Bukan apa-apa, gan. Gue tuh kalo temen-temen udah minta tolong ke gue dengan mengatasnamakan Persahabatan, Silaturahmi, plus Janji bakal banyak cewek cakep yang datang ke acara, maka seketika hati gue luluh...
😩😩😭😭

Pas lagi seru-serunya si Konte ngejabarin visi dan misi acara, tetiba...

Jdung... Jdung...

Hape gue bunyi. Si Cumi bales chat gue tadi siang, dengan foto mukanya yang sepucat Zombie, yang mengenakan baju Biru muda polos, dan selang oksigen yang nangkring di lubang hidung!

*******

Astaghfirullahaladziim!
Seru gue dalam hati, sambil mati-matian berusaha menyembunyikan kepanikan dari Konte.

Gue chat Cumi.

Gue : Ya Allah, Cumiiii!
Gue : Elu kenapa lagi? Elu sakit apa lagi?
Gue : Elu dirawat dimana?

Cumi : Gue cum drop aja kok, Kakus.
Cumi : Radang Tenggorokan gue ternyata lebih parah dari perkiraan.
Cumi : Gue dii.... Dimana-mana hatiku senang! πŸ˜…

Gue : Ahhh paraah lu yeee!
Gue : Elu dirawat di RS Puri C*nere, kan?
Gue : Ya udah gue kesono. Gue langsung otw!

Cumi : Ngga usah, Kakus! Gue udah baikan kok!
Cumi : Gue ngga mau elu repot.

Gue ngga bales chat terakhir. Gue langsung ngeluarin motor. Konte bilang mau ikut. Gue iya kan aja, daripada lama dan ribet kasih penjelasan ini dan itu.

Naah sampe depan Mal Cinere, gue baru inget dan sadar bahwa Konte kan juga kenal sama Cumi. Kita kan sama-sama temen SMP!

Anjaay ini bahaya! Kata gue dalam hati. Gue ngga mau Konte salah tafsir tentang kedekatan gue sama Cumi. Gue takut Cumi jadi bahan ghibah di grup SMP.

Dengan sangat terpaksa gue berbohong sama Konte. Gue bilang yang sakit ini adalah temen SMA gue yang kena Demam Berdarah, yang dia ngga kenal. Akhirnya Konte lanjut pulang.

Dan kebohongan gue langsung dihukum saat itu juga!

Gue udah berkali-kali japri si Cumi plus telpon. Buat nanya dia dirawat di lantai berapa? Ruang apa? Dan Kamar nomor berapa?

Tapi si Cumi sedeng ngga bales chat gue, dan ngga angkat telpon gue.

Ya udah dengan grabak-grubuk gue tanya sana-sini di lobby RS, di bagian Informasi dan Administrasi Rawat Inap untuk pasien atas nama Cumi.
Ya pastinya saat itu gue sebutin nama asli Cumi.

Dan sialannya itu ngga ada pasien dengan nama itu!

Gue foto Ruang Lobby RS dan gue kirim ke Cumi. Buat nunjukin kalo emang gue udah sampe di rumah sakit.

Eeeh ini Janda sableng malah bales gue begini, gan :

Cumi : Kakuuuuss... Wkwkwkwk... Gue kagak dirawat di RS Puri C*nere... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚
Cumi : Kocaaak bangeet lu, Kakuus! Elu bezuk gue di rumah sakit yang salah!
🀣🀣🀣

Gue : HAAAHH! Apa lu bilang?
Gue : Udah lu jangan ngaco Yee! Buruan bilang elu di lantai berapa? Ruang apa? Kamar berapa? Gue udah dari tadi nih sampe disini!

Cumi : Gue kagak dirawat disitu, Kakuuus!
🀣🀣🀣🀣

Gue : Eeh Oncoom. Elu jangan bohongin gue ya! Itu kan seragam pasien elu warnanya Biru muda!

Cumi : Kakuuss... Bener-bener dah somplak lu kaga ketulungan! Elu pikir cuma RS Puri C*nere aja yang boleh punya baju pasien yang warnanya Biru muda?
Cumi : Aslii gue ngakaak nih, Kakuus.. 🀣🀣🀣

Gue : HAAHHH!!!
Gue : Ahhh Bangsaaaat. Sialan bener lu!
Gue : Gilaa tega bener lu sama gue!

Cumi : Udah sono lu balik, Kakuus!

Gue : Kurang ajar lu, Cum!

Cumi : Iyeee soriii Kakus! Gue cuma ngga mau ngerepotin elu!

Gue : Ngga gini caranya bertemen, Cum!
Elu ngga tau betapa khawatirnya tadi gue di jalan mikirin keadaan elu? Elu ngga tau betapa gue udah bohongin Konte? Elu ngga tau betapa paniknya gue tadi nanya-nanya di bagian informasi?

Cumi : Iyaa Maaf, Kakuus...

Gue : Kurang ajar lu, Cum!

Cumi : Kakuus gue minta maaf. πŸ™πŸ™πŸ™

Gue pun balik. Mau ngapain lagi, coba? Gue bener-bener marah dan kesel. Lebih marah dan kesel dari sewaktu gue disumpah Cumi di Sola*ia tempo hari.

Tapi gue cuma bisa melampiaskan kemarahan gue sama kaca spion motor kiri gue, yang gue maki-maki sepanjang perjalanan pulang. Kaca spion motor yang gue anggap mewakili wajah jahat si Cumi!

Gue bilang ke kaca spion itu :
"Kurang ajar lu, Cumi! Elu ngga menghargai gue sama sekali!"

"Kemarenan disaat elu butuh gue untuk dengerin curhatan elu. Gue bela-belain ngeluangin waktu untuk dateng!"

"Tapi sekarang disaat gue pengen sekedar nemuin elu. Untuk tau keadaan elu. Untuk kasih semangat ke elu. Untuk doain elu biar elu cepet sembuh. Tapi elu menolak kehadiran gue!"

"Ya udah berarti emang elu ngga butuh lagi doa dan semangat dari gue! Gue pikir elu temen gue yang lebih baik dari temen-temen gue yang lain!"

"Ternyata gue salah! Ternyata elu sama aja kayak temen-temen lain, yang cuma dateng ke gue ketika mereka butuh gue untuk jadi panitia buat garap acara, atau buat cari donatur!"

"Aaah Sialaan lu, Cum!"

PLLAKKK!!

Seru gue sewot sambil ngegeplak itu spion make tangan kiri dengan sekencang-kencangnya!

Dan emosi gue yang meledak-ledak langsung dihukum saat itu juga!

Karena gue seketika kehilangan keseimbangan, dan...

GUBRAAAKKK!!!

"Aduuuhhhhh!"

Gue jatuh dari motor!
😭😭😭





BERSAMBUNG











profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Chapter 7 : Hati Yang Tersandera

Part 6



Keesokan harinya barulah gue tau kalo ternyata si Cumi dirawat di RS Maya*ada Lebak Bulus. Itu pun setelah gue desak. Karena beneran gue khawatir sama keadaan Cumi.

Dan gue baru faham juga alasan kenapa Cumi ngga mau bilang dengan jujur semalam dia dirawat dimana. Alasan yang emang ngga diucapkan oleh mulutnya. Juga ngga dituliskan by japrian.

Alasan yang hanya diungkapkan oleh kelebat yang tersirat dari sepasang kornea mata hitamnya.

Alasan itu bernama Andi.

Yups. Sepulang kerja gue sempatkan nengokin Cumi. Gue tiba disana, di sebuah kamar rawat inap VVIP yang lebih lega dan bagus dari RS Puri C*nere. Dan melihat Cumi ditemani Andi yang duduk di tepi ranjang Cumi. Memamerkan kedekatannya dengan Cumi lewat gesture dan percakapan diantara mereka.

Dalam hati gue membenarkan deskripsi Cumi tentang Andi. Bahwa Andi ini emang betul-betul ganteng, rapih, dan baik. Dan seseorang yang sangat memperhatikan Cumi.

Disini gue faham bahwa Cumi kayaknya ngga mau gue tengokin, karena dia ngga mau gue ngelihat keakrabannya sama Andi.

Dan bisa juga Andi rada keberatan kalo ada cowok lain, siapapun itu yang dekat sama Cumi selain dia.

Kan Cumi pernah cerita kalo Andi jatuh cinta (lagi) sama dia.

Aah cinta itu emang posesif! Cinta itu bisa sangat egois! Cinta itu bisa sangat ngga logis! Cinta itu bisa sangaat buta!

Tapi gue akuin, Andi itu orang yang baik dan ramah terhadap siapapun. Kita kenalan dan ngobrol sebentar. Andi bilang bahwa selama Cumi dirawat disini. Urusan kerjaan kantor juga dipindah kesini.

Andi juga cerita kalo dia ada disini dari tadi pagi. Dan sempet makan sepotong tahu berdua sama Cumi.
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…

Gue cuma senyum-senyum aja denger cerita Andi. Setelah 15-20 menit disitu gue pun pamit pulang.

Pertama, karena gue takut kehabisan waktu Shalat Maghrib. Kedua, karena dengkul kiri gue yang keseret di aspal waktu semalam gue jatuh dari motor, tetiba ngebet cenat-cenut.

Dan ketiga, gue males gangguin orang yang lagi mengalami puber kedua, bermesraan sama gebetannya. Gimanapun gue harus tau diri.
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜œ

Gue inget kalo gue Shalat Maghrib di Mushola Rumah Sakit yang terletak dibawah, di dekat parkiran motor. Habis Shalat gue langsung balik.

Duuuh ini ngebeeet bangeet sakitnya dengkul kiri gue.

*********

Sepanjang perjalanan pulang. Tanpa gue perintahkan, isi kepala gue mengulangi lagi adeganΒ² yang barusan gue liat di rumah sakit.

Adegan-adegan yang perlu gue tafsir dengan jernih, meskipun sambil menahan sakit di dengkul kaki kiri gue.

Gue mikir kalo gue ini adalah karyawan nya Andi. Ini bos gue ngga ada di kantor. Tapi malah ada di kamar rawat inap di sebuah rumah sakit, dari pagi sampe sore, bersama karyawati nya yang seorang Janda.

Gue bertanya sendiri apakah Andi bilang sama istrinya tentang keberadaan dia disini? Atau bilang tapi menyembunyikan motif yang sesungguhnya?

Gue mikir kalo gue ini adalah seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun. Anaknya Andi, yang sejak tadi udah nungguin Papa pulang dari kantor. Papa yang super baik dan super hebat.

Gue dan Andi beda keyakinan hidup. Beda agama. Tapi gue yakin banget deh mau apapun agama dari sekian Milyar manusia penduduk Bumi ini. Tuhan Pencipta dan Pengatur Langit dan Bumi itu cuma satu jua adanya!

Dan bukankah Tuhan itu Maha Mengetahui, Maha Mengawasi dan Maha Membalas setiap perbuatan?

Cumi pernah cerita betapa Ningsih, istrinya Andi, ngga pernah menghargai kebaikan Andi selama ini!

Hmmh...
Mudah-mudahan sih gue salah. Tapi kalo Andi udah ngebohongin istri dan anaknya tentang hubungan dia sama Cumi, apa bukan ngga mungkin kalo Tuhan membalas dengan cara makin lenyapnya wibawa Andi dihadapan keluarga nya sendiri?

Sama persis seperti cara Tuhan menghukum gue, sewaktu gue bohong sama Konte!
Sama persis seperti cara Tuhan menghukum gue jatuh dari motor, karena emosi gue terlalu berlebihan semalam!

Duuuhhh.... Sakiiit banget dengkul gue...

********

Dirumah, sambil ngolesin Rivanol ke dengkul kiri gue yang baret-baret, gue memikirkan keadaan Andi, dan keadaan diri sendiri.

Gue inget sebuah kalimat yang pernah gue denger, sewaktu gue dulu pernah ikutan sebuah pelatihan SAR.

"You Can't Pour From An Empty Cup!"

Translate bebasnya : Elu ngga bisa menuangkan air dari cangkir yang kosong!

Ini bermaksud, elu ngga bisa menyelamatkan orang dalam cara apapun, kecuali diri elu sendiri dalam kondisi yang aman dan selamat.

Diri elu sendiri ngga boleh kosong! Diri elu sendiri harus berisi apa yang dibutuhkan orang lain yang ingin elu tolong!

Ini sebabnya cuma orang yang bisa berenang atau menyelam yang bisa menolong orang yang tenggelam!

Plus setelah terlebih dahulu dia harus mengenakan jaket pelampung untuk dirinya sendiri!

Sama halnya elu ingin jadi donor darah buat orang lain. Maka elu pastikan dulu kalo elu sendiri ngga kekurangan darah. Dan darah elu sendiri harus sehat, dan segolongan dengan darah dari orang yang ingin elu tolong.

Kalo yang elu kasih pun adalah Doa. Elu harus pastikan bahwa selama ini dalam keseharian elu, elu adalah orang yang ngga lalai dalam berdoa.

********

Andi itu orang baik. Bahkan sangaat baik. Gue bisa liat dia adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan karyawan nya, termasuk Cumi.

Sayangnya, ketika Andi memutuskan untuk menolong Cumi dengan perhatian dan kebaikannya, dia sendiri kosong dari perhatian dan kebaikan dari istrinya sendiri.

Ini jelas riskan. Karena yang terjadi selanjutnya adalah Andi akan sangat mudah tergoda untuk mengisi kekosongan nya dari orang yang ingin dia beri kebaikan dan perhatian. Yaitu dari si Cumi.

Lapar itu sebuah kondisi perut yang belum mendapatkan asupan makanan. Perutnya kosong. Dan kita tau orang lapar itu gampang emosi. Dan orang yang lagi emosi jelas sulit mengendalikan dirinya sendiri.

Orang-orang dalam kondisi kosong akan menyandera orang lain untuk mengisi kekosongan nya. Menjadikan kekosongan itu sebagai pembenaran dari apapun yang merasa berhak ia lakukan. Meskipun itu hal yang salah.

Cumi...
Cuma elu yang bisa jawab ada dimana posisi elu dalam semua sengketa hati ini?

Cepet sembuh, Cumi.
πŸ™πŸ™πŸ™


Alamaaaakk... Sakitnya dengkul gue...
😭😭😭




BERSAMBUNG












profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
trima kasih bang... masih m3nyempat kan update di wakru liburan emoticon-Wowcantik
profile-picture
complain01 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Eh gan pas jatuh dari motor itu
Spion yg abis di gampar gimana keadaanya.

Eh gan ni kita termasuk ghibah nggak ya.
profile-picture
profile-picture
rinandya dan complain01 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
libur akhir tahun hampir gak pernah megang hp, soalnya sibuk kalo gak nge-game ya momong si jagoan emoticon-Ngakak
sekalinya buka trit ini lsg banyak update hahahah

update lagi dong emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
rinandya dan complain01 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 1




Seperti kita sama-sama tau. Memasuki Bulan Maret 2020, Virus Corona mulai berjangkit di negeri ini.

Dari awalnya cuma 3 pasien di Depok, lalu menjadi puluhan, ratusan, hingga ribuan orang di seluruh negeri.

Banyak yang sembuh, tapi ada juga diantara mereka yang harus menemui ajal di tangan Virus ini.

Tentu TS ngga perlu cerita update kondisi Pandemi Covid-19 di Thread ini. TS bukan ahlinya, dan Thread ini pun bukan tempatnya.

Tapi yang jelas, rasanya kita semua akan sepakat kalo hampir semua orang, dan hampir semua sendi kehidupan begitu terdampak.

Tahun 2020 yang terbaca sangat cantik dengan 2 angka kembar : 2 dan 0, ternyata menjadi Tahun yang merampas banyak hal dari hidup kita.

Merampas kesehatan, merampas rasa aman, meluluhlantakkan ekonomi, melucuti semua mimpi dan kesempatan yang terpaksa kita tunda, bahkan kita buang jauh-jauh.

2020 menjadi tahun yang menghujamkan rasa cemas begitu dalam di jantung hari-hari kita.

Tak terkecuali TS dan Cumi pun ikutan kena dampak dari Pandemi yang belum berakhir hingga hari ini.

Perusahaan tempat kita masing-masing bekerja, hampir-hampir Collapse! Dan masing-masing dari kita mengalami pengurangan pendapatan.

Tapi gue pikir keadaan ekonomi Cumi lebih kasian. Karena selama sekitar 3 bulan dia sama sekali ngga terima gaji.

Kondisi gue mungkin rada mendingan. Walaupun gaji gue ngga seberapa besar, dan masih harus dipotong karena keuangan kantor lagi goyah. Setidaknya gue masih terima gaji.

Dan beban gue di rumah pun, ngga seberapa besar dibanding Cumi yang menjadi tulang punggung dari 8 orang di rumahnya.

Tapi emang hal yang cukup berat buat gue adalah, gue ngga bisa pulang kampung sebulan sekali seperti biasanya, termasuk di Idul Fitri 2020.

Dengan PSBB yang waktu itu udah diterapkan oleh hampir semua kota di Indonesia. Termasuk Kota dan Kabupaten Tegal dimana Istri dan anak gue berada, maka sekitar 5 bulan gue ngga pulang kampung.

Kasian kami ya, gan?
😭😭😭

**********

Sekitar April 2020, Kota Jakarta diikuti Bodetabek memberlakukan PSBB yang membatasi pergerakan orang keluar masuk kawasan ini.

Plus pemberlakuan Jam malam. Hadirnya Pos-pos Check Point. Dan beberapa pembatasan di sektor sosial dan ekonomi.

Tapi ajaibnya, dengan semua barikade Pandemi itu, gue dan Cumi masih sempat ketemuan beberapa kali di Warung Ay-Bak langganan kami.

Kami saling cerita dan curhat ngalor-ngidul tentang susahnya hidup di masa awal-awal Pandemi kala itu. Tentang takutnya kami dan keluarga jangan sampe terjangkit Corona.

Tentang bete-nya alam dunia tanpa tayangan liga Inggris yang waktu itu sempat dihentikan.
Padahal Liverpool udah di ambang Juara.
😭😭

Dan tak ketinggalan terselip juga kisah cinta Cumi yang ternyata makin kusut-marusut di masa Pandemi.
😩😩

********

Suatu malam di Bulan April 2020 di Warung Ay-Bak.

Kita pesen menu Favorit kami masing-masing. Yaitu gue makan Dada ayam + Nasi & Teh Manis. Sementara Cumi makan 15 tusuk sate kulit ayam, ngga pake nasi + Teh Tawar tanpa gula.

Karena si Cumi emang udah manis.
😜😜

Dari jarak social distancing sejauh 1 meter + sejengkal, Cumi pun curhat...

"Semenjak Andi tau, gue udah putus sama Dedy. Andi makin intens ngedeketin gue, Kakus."

"Aaah puyeeng gue, Kakus!"

"Andi kan udah punya keluarga, Kakus. Udah punya Istri, udah punya anak. Dan istrinya Andi, si Ningsih itu kan temen kuliah gue!

"Elu inget kan cerita gue? Kalo gue yang dulu ngenalin mereka berdua."

"Gue kenal banget sama Ningsih. Kenal sama keluarganya, dan kenal sama anaknya. Ningsih pun begitu. Dia kenal gue, kenal keluarga gue, termasuk anak-anak gue?"

"Ya walaupun perasaan Andi, ngga terlalu gue tanggepin sih. Soalnya gue dan Andi beda agama. Itu alasan kuat buat gue nolak Andi. Selain karena dia udah punya keluarga!"

"Tapi di sisi lain, kebaikan dan perhatian Andi bikin gue mabok kepayang!"

"Andi tuh care banget sama gue dan keluarga gue, Kakus. Kayak sekarang nih dimana gue ngga gajian karena keuangan kantor emang lagi susah. Tapi dia tetep kirimin duit, sembako, vitamin dll make duit pribadi dia!"

" Andi bahkan ikut mikirin kesulitan gue dan keluarga gue, dan berusaha bantu cari solusinya."

"Ini sesuatu yang dulu ngga gue dapetin dari mantan suami gue Mas Bagus. Dan dari mantan pacar gue si Dedy."

"Tapi gilee aja kalo gue sampe ngerebut suami orang. Suami temen gue sendiri, lagi!"

"Beneran dah, Kakus. Dilema gue!"

"Gue udah berulang kali jelasin ke Andi kalo dia lagi mengalami puber kedua. Bahwa emang terkadang sesuatu yang bukan milik kita akan tampak lebih bagus dari yang kita punya."

"Gue juga udah ceritain ke Andi tentang pengalaman rumah tangga gue. Bahwa bercerai itu seringkali enggak menjadi solusi!"

"Gue udah ingetin Andi bahwa kasian anaknya, kasian Ningsih, kasian keluarga besar kalian berdua!"

"Dan kasian juga gue dan keluarga gue kan, Kakus!"

"Predikat Janda aja udah bikin keluarga gue malu. Apalagi ditambah sama predikat Pelakor?"

"Pelakor dari suami sahabat gue sendiri!"

"Mau ditaruh dimana muka gue? Mau lebih ancur kayak gimana nama baik keluarga gue, dan nama baik anak-anak gue?"

"Dan ngga bisa gue bayangin betapa hancur hati Ningsih kalo sampe Andi dan gue jadian?"

"Pasti di mata Ningsih gue akan menjadi sosok yang lebih jahat dari Setan dan Iblis!"

"Bahkan Lebih jahat dari Mak Lampir, Kuntilanak, Suster Ngesot dan Genderuwo!"

"Dosa gue udah banyak banget, Kakus. Engga kehitung! Kadang gue ragu sendiri apakah dosa gue ini udah diampuni Allah apa belum?"

"Apa dosa gue masih harus ditambah lagi, dengan ikut menghancurkan rumah tangga orang lain?"

Gue seperti tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini gue udah persiapan, gan. Gue udah beli tissue, yang langsung gue keluarin dari tas dan gue sodorin ke Cumi.

Cumi nyemprotin cairan hand sanitizer ke bungkus tissue itu, sebelum dia buka. Lalu mengambil selembar tissue yang dia usapkan ke sudut matanya.

"Elu yang sabaaar ya, Cumi.."
Kata gue mencoba menenangkan.

Padahal gue pengen banget bisa nepuk pundak Cumi. Tapi tangan gue ngga sampe. Kan kami lagi menjalankan Physical Distancing.

Mau memeluk, tapi terhalang anjuran Prokes.

Mau mencium, tapi gue takut mata gue dicoblos sama tusuk sate.
😩😩😱😱

********

Habis nangis, Cumi ngga banyak cerita lagi tentang Andi. Entah emang ngga mau nangis. Atau dia mau ngirit tissue?
πŸ€­πŸ€­πŸ˜‚

Kita balik lagi saling berkeluh kesah ini-itu soal dampak Corona. Tapi Alhamdulillah, masih sekaligus mampu untuk saling menguatkan agar tetap sabar dan tetap semangat.

Dan meyakini bahwa apapun yang terjadi di alam ini. Ngga akan lepas dari kuasa Tuhan.

Semua pasti ada hikmahnya!
Semua harus berpulang pada kenyataan bahwa, sehebat-hebatnya manusia. Bumi dan Langit serta segala isinya tetap aja bukan milik kita.

Tetep aja bukan Manusia yang bisa ngatur Langit dan Bumi ini seenak jidatnya!

Tetap aja Langit dan Bumi ini milik Tuhan Semesta Alam! Dan 100 % berada dibawah kendali-Nya!

Manusia, yang teknologi persenjataannya sudah sangat canggih ini. Bahkan kewalahan untuk berperang melawan mahluk sangat kecil yang berukuran mikroskopis!

Inget kan Agan-agan? Kalo waktu itu untuk mencegah penularan Covids, Masjid- Masjid ditutup, Shalat berjamaah ditiadakan. Bahkan Ka'bah pernah sementara waktu di-isolasi. Ya gegara Corona, Tahun 2020 itu Ibadah Haji ditiadakan.

Sama halnya Gereja-gereja ditutup, demikian pula tempatΒ² ibadah lain.

Seolah Tuhan pengen bilang ke kita semua :

"Aku tuh sebenarnya ngga butuh-butuh amat sama ibadah kalian!"

"Kalian tuh yang sebenarnya setiap se per seribu detik yang selalu membutuhkan Rahmat-Ku, dalam setiap hela nafas, setiap degup jantung, dan setiap denyut nadi kalian!"

"Mau kalian Shalat atau nggak. Mau kalian ke gereja atau nggak. Aku tetap Tuhan Penguasa Alam ini, kok!"

"Heeeii seluruh Manusia, Jin, Setan, Hewan, semua mahluk..."

"Ayook kalo merasa jago. Silahkan kalian semua kompakan melengserkan Aku sebagai Tuhan!"

"Ayoook terbang sini ke langit ke 7.
Siniiih demonstrasi di hadapan-Ku!"

"Ngga jauh kok jaraknya dari planet Bumi."

"Cuma Empat Ratus Milliar Tujuh Ratus Juta Sembilan Puluh Empat Ribu Dua Ratus Tiga Puluh Satu koma enam Trilliun Tahun Cahaya, doang!"

"Mampu gak kalian?"

"Kalo merasa mampu. Nih lawan dulu mahluk super kecilku yang imut, yang kalian namakan Corona!"

"Bisa ngga kalian beresin penyakit ini dalam waktu satu Minggu?"

"Asal tau aja.. Aku menciptakan virus ini dalam waktu kurang dari se per triliun detik, lho!"

"Kalian ini..
Baru bisa mengkloning kambing aja, udah songong!"

"Baru bisa bikin Artificial Intelligence aja, udah belagu!"

"Baru bisa landing di Planet Mars aja, udah norak!

"Baru bisa bikin matahari buatan bertenaga listrik aja, angkuhnya bukan kepalang!"

"Kalian ini...
Sibuk berpolitik ini-itu...
Bikin konspirasi ini-itu...
Sok-sok an pinter...
Bikin rekayasa ini-itu."

"Seolah-olah kalian udah sanggup menciptakan seekor Nyamuk!"

"Kalian ini..
Disuruh Shalat 5 waktu di Masjid, yang kebaikan dan pahalanya buat kalian sendiri aja, malesnya minta ampun!"

"Giliran nongkrong di Mal pada semangat banget sampe lupa waktu!"

"Kalian ini...
Masjid bukannya dibikin suci dan sakral. Malah cuma dijadiin patokan tempat buat janjian ketemu pacar!"

"Maka untuk sementara aku tutup pintu-pintu Masjid untuk kalian!!"

"Maka untuk sementara aku tak perkenankan kalian bersujud di "Rumah-Ku"!!"

"Diam saja kalian di rumah!"
Karena untuk sementara waktu, tak aku izinkan Bumi-Ku diinjak oleh langkah-langkah kaki kalian!"

"Diam saja kalian di rumah!
Karena untuk sementara waktu, tak aku izinkan Langit-Ku dijelajahi kesombongan kalian!"

"Diam saja kalian di rumah!
Karena untuk sementara waktu, Aku tak Sudi Laut-Ku dilayari oleh kepongahan kalian!"

********

Kami menyudahi pertemuan lebih cepat dari biasanya. Kami pun pulang. Karena warung Ay-Bak ini dekat dari rumah Cumi, dan dia tetep ingin menerapkan Prokes. Cumi pun memilih pulang jalan kaki. Ngga gue anterin make motor.

Kerasa banget di hari-hari di bulan April itu lalulintas sepi. Enak sih ngga macet.

Dan seperti biasa sepulang nongkrong sama Cumi. Kepala gue selalu penuh dengan perenungan. Untuk mereview kekusutan dan kegelisahan Cumi.

Maaf ya, Cumi.
Gue ngga bisa bantu apa-apa untuk mengatasi kesulitan elu. Gue cuma punya doa buat elu. Ditambah sepasang kuping yang belum budeg dan kapok untuk dengerin curhat elu.

Tapi gue merasa tenang. Karena gue percaya sama kesabaran Cumi. Gue percaya sama semangat Cumi.

Cumi cerita kalo di masa Pandemi ini, dia jadi rajin shalat malam. Kayak shalat Tahajud, shalat Hajat dan Istikharah. Jadi rajin Zikir juga.

Gue percaya Allah ngga akan ninggalin Cumi. Gue yakin Allah ngga akan menyia-nyiakan doa Cumi.

Gue inget sebuah postingan keren dari seorang temen gue di grup WA SMP, mengutip ucapan bijak seorang ulama mahsyur, Syekh Ibnu Atha'illah :

"Bilamana Allah menggerakkan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah ingin memberi."

Ketenangan gue begitu damai dan sejuk. Layaknya kesejukan angin yang membelai wajah gue. Adeem bangeeet hati ini..

Eeeh Tapiiii...
Ntar dulu.. Ntar dulu...

Ini kan gue naek motor ya? Tapi kenapa muka gue, kuping gue, rambut gue berasa adem dan dingin begini ya?

Gue nepok jidat, dan berteriak pada diri sendiri.

"Astaghfirullahaladziim!!"

"Helm gue ketinggalaaaan!!!!"

"Begooo luuu, Kakuuuuuss!!!"

😭😭😭😩




BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 2



Once Upon a time on April 2020, menjelang Ramadhan 1441 H.

Masih di Ay-Bak yang sama, dengan menu yang sama.


Sebenernya ngga semua obrolan dalam setiap pertemuan antara TS dan TU (TU : Tokoh Utama Thread ini, yaitu Cumi) didominasi tema-tema asmara dan asmiri aja, gan.

TS dan TU boring juga kali gan, kalo yang dibahas cuma urusan cinta dan cinti doang.

Masih mending kalo ada progres 😍 dan prospek β™₯️ yang cerah bin sumringah buat difollow up sama Cumi. Ini mah seringnya berlika-liku doang seputar Bucin, Pelakor, Radiator dan Gladiator..

Becanda gue, Cum..
πŸ™πŸ™πŸ€­πŸ˜…

Ya walaupun apapun yang kita obrolin, ujung-ujungnya tetep aja berkelindan sama status dan kondisi Cumi sebagai seorang Janda Bohay, sih...
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€­

Kita juga sering, kok ngobrolin isu-isu yang lagi trending topic di tengah masyarakat.

Misalnya perkara PSBB yang waktu itu lagi rame-ramenya memicu pro dan kontra dimana-mana.

Dimana Cumi termasuk yang terkendala banget dengan adanya PSBB ini. Ya termasuk gue sendiri sih.

Lalu sepasang bibir yang kurang ajar menggemaskannya itu pun nyerocos..

"Kan ngga semua sektor atau semua pekerjaan bisa WFH, Kakus!" (Work From Home)

"Kalo pegawai negeri atau karyawan perusahaan gede sih mendingan. Mereka relatif lebih secure."

"Naah kalo gue? Perusahaan gue cuma perusahaan kecil. Dan tuntutan kerja di tempat gue mengharuskan gue mobile kesono-kesini, ngecek sono-sini."

"Udah gitu layanan Transportasi dibatesin. Jumlah armada Trans Jakarta yang beroperasi dikurangin. Walhasil penumpang pada numpuk di halte, dan susah buat jaga jarak. Malah sama aja nimbulin kerumunan! Ya kan?"

"Ya emang ada bantuan sembako. Tapi buktinya sampe sekarang keluarga gue belom kebagian. Karena dianggapnya gue wanita karir yang gajinya gede. Dianggapnya gue orang kaya, karena di garasi ada mobil."

"Padahal mah ya ampuuun, Kakus! Sama aja kondisi gue kayak orangΒ² lain. Cuma casing luar doang yang keren. Lha gue aja udah 3 bulan ini kaga digaji."

"Tabungan gue udah bersih terkuras. Karena tiba-tiba aja muncul pengeluaran buat beli masker lah, buat beli hand sanitizer lah, beli herbal imunitas lah, yang harganya minta ampun ngawur nya!"

"Asli keder gue mikirin sehari-hari gimana caranya supaya dapur tetep ngebul!"

"Itu mobil juga ngejogrok doang karena beberapa bulan belom servis dan ganti oli. Karena gue kaga punya duit. Plus itu pun mobil kreditan yg belum lunas."

"Apalagi elu tau sendiri kan, Kakus. Gue ini seorang Janda yang bukan aja harus menghidupi kedua anak gue. Tapi juga harus mensupport orangtua, Abang dan keponakanΒ² gue!"

"Ya Alhamdulillah sih bokapnya anakΒ² gue masih kirimin duit. Tapi itu buat sekolah anakΒ² gue. Dan jumlahnya jelas kurang kalo mau diitung-itung, mah!"

"Tapi itu orang-orang di lingkungan gue, atau bahkan temen-temen gue... mereka mana mau tau sama kondisi gue? Dianggapnya gue Janda ganjen yang sering pulang malem, sering jalan-jalan keluar kota, sering nongkrong disana-sini!"

"Emangnya mereka tau kalo gue harus pulang malem, karena emang gue berangkat nya lebih siang dari karyawan lain. Supaya gue punya waktu untuk tetep ngurus anak, dan beberes kerjaan di rumah?"

"Emangnya mereka tau kalo tuntutan kerja di perusahaan gue mengharuskan gue sering keluar kota?"

"Emangnya mereka tau kalo gue terpaksa meeting diluar jam kantor, dan ketemuan sama klien di luar kantor?"

"Emangnya gue harus ngejelasin semua urusan gue, semua isi perut gue ke seluruh dunia?"

"Gue juga ngga mau kok dikasihani sama mereka!"

********

Tring! Crek!

Sebuah jeda untuk menyalakan rokok, yang memberi gue kesempatan buat ngomong.

"Sabar ya Cumi. Ya memang ketika kita kedinginan, maka akan sulit untuk mengharapkan simpati dari orang yang merasa dirinya hangat."*

Cumi nimpalin gue,
"Iya, Kakus. Makanya kadang gue posting di medsos pas gue lagi di luar kota, pas lagi di Bandara, pas lagi makan di kafe dll".

"Gue bukan cari pencitraan banget sih. Gue cuma pengen orang-orang tau bahwa meskipun gue ini single parent, tapi gue masih sanggup untuk baik-baik aja!"

"Kalo gue ngga perlu dikasihani!"

"Kalo gue berusaha ngejalanin hidup ini dengan optimis! Meskipun sebenarnya beraaat banget!"

"Naah kemaren gue posting opini pribadi gue tentang PSBB. Dimana gue ingin sistemnya diperbaiki. Biar lebih mengakomodir kondisi orang banyak. Biar data lebih akurat dan distribusi bantuan selama Pandemi bisa tepat sasaran."

"Eeeh gue dinyinyirin sama temen gue. Sama temen baik gue, lagi! Dibilang gue nggak peka sama kondisi Pandemi lah, dibilang gaya hidup gue hedonis lah!"

"Lha padahal opini gue ini kan emang berdasar kondisi riil kehidupan gue dan keluarga gue."

"Emang apa hak dia buat nyinyir ke gue? Tau apa dia soal kondisi gue? Tau apa dia soal hidup gue? Itu akun medsos kan punya gue, Hape juga punya gue...!"

Gue ikutan puyeng denger Cumi nyerocos. Yaah setiap opini emang terlihat benar dari versinya masing-masing, siih."

Dengan memiliki sebuah akun medsos. Orang emang seolah punya media pribadi untuk bebas berpendapat soal apapun.

Ya bener sih kata Cumi, wong itu akun dia sendiri. Itu hape punya dia sendiri, yang di-powered by paket data atau WiFi dia sendiri.

Mau posting foto pribadi dengan tujuan pencitraan kek, mau posting kritik sana-sini kek.

Mau bikin status baper buat ngejulidin atau nyindir seseorang kek.

Sah-sah aja, kan?

Tapiiiii...
Kalo udah di ranah publik.
Sekecil apapun ranah itu. Maka kebebasan berpendapat kita sebenarnya menjadi sangat relatif.

Karena orang lain yang berteman dengan kita di Sosmed, juga punya kebebasan berpendapat yang sama dalam merespon postingan kita.

Sungguh naif kalo kita berharap postingan kita akan di-πŸ‘ atau di-β™₯️ oleh seluruh teman di dunia Maya.

Jangankan oleh orang lain, oleh diri sendiri pun kadang kita perang batin! Antara Emosi vs Logika, antara menuruti hawa nafsu vs hawa moral.

Akhirnya memiliki sebuah akun medsos sama persis kayak kita memiliki satu set sound system di rumah sendiri.

Boleh aja setel musik dangdut sekencang-kencangnya. Tapi inget yang punya kuping bukan kita doang! Dan ngga semua orang suka sama genre musik yang kita setel kencengΒ² itu.

Tapi menurut gue yang paling menyedihkan tentang perdebatan di dunia maya adalah, betapa seringnya hal itu merusak sebuah hubungan persahabatan di dunia nyata.

Hubungan antar teman yang udah terjalin akrab selama bertahun-tahun atau berpuluh tahun, bisa seketika bubar hanya karena kita dan seorang teman berseberangan pendapat tentang suatu kebijakan publik misalnya.

Atau berbeda pilihan Capres. Atau berbeda sikap tentang seorang publik figur, tentang sebuah ormas, atau parpol.

Dan lucunya isu yang jadi perdebatan, kebanyakan bukan urusan dan kapasitas kita buat cari solusi. Tapi kita merasa gatel, geregetan, dan sesak nafas kalo nggak posting, ngga upload atau ngga komentar.

Naah sayangnya sewaktu kebijakan publik itu udah lewat, belum tentu hubungan kita dan teman kita bisa pulih seperti dulu.

Itu pilpres udah kelar, tapi belum tentu kita bisa akrab ngopi bareng sama teman kita seperti semula.

Sayang banget ya? Padahal gue pernah baca sebuah Hadits kalo di akhirat itu, sesama teman bisa saling menolong lho.**

Yaitu dalam bentuk ikut menjadi saksi bahwa selama hidup di dunia, kita dan teman kita pernah Shalat Jamaah bareng, pernah jalanin Puasa dan Bukber bareng, pernah ikutan kajian agama bareng, atau saling share link dakwah YouTube misalnya...

Dan sesama teman itu juga bisa saling memberi syafaat lho.***

Misalnya, kali aja amal shaleh gue minus satu point buat masuk ke Surga. sementara pahala Cumi masih surplus 1000 point, setelah Cumi dan keluarganya udah aman.

Masa sih gue minta satu point aja, ngga elu kasih, Cum?
πŸ˜…πŸ™πŸ€—

Cumi... Gue pengen di Hari Akhir kelak. Elu dan gue bisa saling tolong-menolong!

Jangan sampe di hadapan Allah kelak, kita justru saling menuntut satu sama lain. Cuma gegara di dunia kita pernah berantem di medsos. Gegara kita pernah saling hujat di Facebook atau saling lempar makian di IG.

Inget baik-baik hal ini ya, Cumi..!
πŸ™πŸ™πŸ€—

*********

Selain berpengaruh terhadap hubungan pertemanan. Ternyata penggunaan medsos yang kurang bijak juga berpotensi merusak keharmonisan rumah tangga lho, gan.

TS merangkum sebuah artikel dari Blog The Bride Story per tanggal 11 Januari 2019 silam, berjudul "4 Efek Negatif Media Sosial Yang Berdampak Pada Pernikahan Dan Hubungan Asmara", yaitu :

1. Kehilangan Momen Kebersamaan
Sulitnya berpaling dari media sosial membuat orang lupa dengan kehadiran orang-orang terdekat di sekitarnya. Momen yang seharusnya dihabiskan bersama pasangan, digantikan dengan keasyikan menggulir laman-laman media sosial. Akhirnya sepasang suami-istri kehilangan quality time, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan pertengkaran.

2. Hubungan yang Tidak Bahagia
Sebuah survei yang dilakukan di Inggris pada Tahun 2017, mengungkapkan bahwa Instagram adalah media sosial yang paling banyak menyumbangkan efek negatif dalam diri seseorang, seperti kecemasan, depresi, FOMO (Fear Of Missing Out), hingga bullying.

Ini terkait dengan rasa iri ketika melihat postingan Instagram orang lain, yang terlihat memiliki standar hidup lebih tinggi, dan memiliki hubungan yang lebih mesra dengan pasangan mereka. Sehingga seseorang merasa tidak puas dan tidak bersyukur dengan kehidupan dan pasangan mereka sendiri.

3. Kecemburuan
Beberapa studi yang menyoal topik relasi penggunaan media sosial dengan kehidupan rumah tangga, menemukan fakta bahwa, tingginya penggunaan Facebook dapat menimbulkan kecemburuan.

Ini tidak mengherankan. Karena Facebook membolehkan penggunanya melihat siapa saja yang berhubungan dengan orang terdekatnya, termasuk pasangannya. Seperti siapa saja yang berada dalam foto dengan pasangannya, siapa saja yang me-like dan berkomentar terhadap status Facebook pasangannya.

4. Ketidaksetiaan
Pencarian informasi pada Media sosial populer seperti Facebook, Twitter dan Instagram, memudahkan seseorang untuk berkenalan dengan teman baru, bersua teman lama, bahkan bertemu sang mantan. Ini biasanya dilanjutkan dengan keinginan untuk saling bertemu, sehingga membuka peluang perselingkuhan hingga perceraian dengan pasangan yang sekarang.

********

Gue pun balik. Alhamdulillah helm ngga ketinggalan lagi. Semua aman dan terkendali.
πŸ€—πŸ€—πŸ˜…

Dan Alhamdulillah juga sekarang gue udah ngga terlalu ngiler sama kecakepan Cumi. Udah ngga terlalu ngiler sama kebohayan body si Cumi. Udah ngga terlalu ngiler sama senyum maut si Cumi.

Tapi gue ngiler kalo tidur miring.
🀭🀭😜😜




BERSAMBUNG

Notes :
* Dikutip dari Novel "Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovitch", karya Sastrawan Rusia : Alexander Solzenitzyn.

** Diriwayatkan bahwa apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka di dunia. Maka bertanyalah mereka kepada Allah SWT.

"Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia Shalat bersama kami, Puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami?"

Maka Allah SWT berfirman, "Pergilah ke Neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabat mu yang di hatinya ada iman walaupun sebesar zarrah."
(HR Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd).

*** Dikutip dari ucapan Ulama Tabi'in Imam Hasan Al Basri :
"Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada Hari Kiamat."


profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 5 lainnya memberi reputasi
Ada to safaat antar umat.

Sebenarnya thred inihanya berkutat tentang satu masalah, bahkan hampir sama.
Yang membedakan ada sisipan sisipan yang keliatannya kecil tp kemungkinan besar faedahnya, kayak safaat antar umat.

Dan meski hanya berputar putar curhatan TU, adalah sedikit pembelajaran tentang hidup dan berumah tangga.

Semoga kita semua selalu di berkahi ALLAH SWT.
aamiin
profile-picture
profile-picture
rinandya dan complain01 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 3



Agan-agan reader yang terhormat, TS mohon maaf karena sekali lagi ini akan menjadi Part yang galau.

TS mencoba beristiqomah untuk setiap 2-3 hari sekali tetap update, meskipun ngga banyak. Kecuali dalam kondisi TS anjangsana ke Tegal seperti beberapa waktu lalu. Maka seminggu itu TS ngga bisa update.

Kali ini alasannya bukan karena sibuk, atau lagi meriang atau nggak mood.

Tapi karena TS menemukan terlalu banyak kejanggalan yang sulit untuk dijelaskan.

Terlalu banyak "wilayah gelap" yang menjadi misteri kausalitas kisah ini. Terutama tentang motif dari beberapa tokoh pentingnya.

Misalnya sebuah contoh besar :
Bahwa gue masih gagal memahami Motif kenapa Dedy bisa jatuh cinta sama Cumi. Padahal dia ini cowok single, ganteng, penuh kharisma, dan karirnya sukses.

Kayaknya ngga susah deh buat Dedy untuk ngedapetin seorang cewek yg lebih cantik dan lebih muda. Dan bukan cewek yang seolah menjadi beban, karena merupakan seorang janda beranak 2 dengan selisih usia 8 tahun diatas Dedy.

Pokoknya seorang cewek yang bisa Dedy perkenalkan dengan bangga kepada Ibunya sebagai calon istrinya, sebenernya ngga susah-susah amat buat Dedy dapatkan.

Terus terang gue kurang puas kalo motifnya cuma cinta.

Kalo gue puas dengan motif ini. Sama artinya gue menghina kecerdasan si Dedy, yang menurut Cumi sendiri bukan pinter lagi, tapi Jenius!

Atau motifnya si Dedy ini karena emang dasarnya dia adalah Playboy brengsek yang doyan merusak kehormatan seorang wanita?

Kalaupun ini benar, tapi kenapa berlangsung begitu lama? Biasanya kan Playboy begitu udah mencicipi manisnya seorang wanita, ngga lama akan langsung dia tinggalin?

Sebaliknya gue juga sulit mengerti kenapa Cumi seolah menjebak hatinya sendiri untuk cinta mati sama Dedy.

Pada sebuah japrian di tahun 2020, terungkap kalo Cumi balikan lagi sama Dedy setelah mereka putus di tahun 2019.

Dan abis nyambung mereka putus lagi, nyambung lagi, putus lagi...
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Padahal ini kan sangat menyakitkan sebenarnya. Karena tanpa Cumi bilang pun, gue tau bahwa ketika dua orang yang mencintai putus atau pisah dengan sebuah alasan.

Lalu mereka nyambung lagi, dan putus lagi. Niscaya alasan putus yang kedua lebih menyakitkan dari putus yang pertama.

Akan berulang-ulang gitu aja terus.
Menjadi akumulasi sakit hati yang terus ditumpuk-tumpuk.

Kayak lingkaran roda atau ban yang terpisah dari badan kendaraan, dan hanya tergolek di pinggir jalan. Berputar kencang tapi ngga pernah beranjak kemana-mana.

Cuma ngabisin energi, dan menyia-nyiakan waktu!

Hmmhh...
Padahal Waktu, sebagaimana Umur. Adalah aset yang ngga bisa dibeli dengan apapun untuk terulang kembali.

Orang yang jatuh bangkrut bisa bangkit lagi. Orang yang sakit bisa sembuh. Orang yang pernah dikalahkan, bisa bangun menjadi pemenang.

Tapi sebuah detik yang udah terlewat dalam hidup kita? Bisa kita bayar 100 milyar untuk terulang kembali?

Waktu itu sedemikian pentingnya. Sampe-sampe dalam Surat Al Ashr, Allah sampe bersumpah : "Demi Masa."

Sungguh rugi dan celaka bagi orang yang menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal kurang bermanfaat.

Apalagi untuk perbuatan maksiat. Apalagi untuk sebuah kisah cinta yang ngga jelas. Apalagi untuk seseorang yang ...........

Elu terusin sendiri deh titik-titik itu, Cum.

Atau lagi-lagi alasan Cumi menjadi sedemikian Bucin ini karena cinta yang terlalu buta? Atau janji yang sedemikian manis?

Eeeh ini masih layak disebut cinta ngga sih sebenarnya?

Apa gue harus menerima kenyataan bahwa temen gue si Cumi ini memang setidak-dewasa, selabil, serapuh, dan sebodoh itu?

(Maafkan kataΒ² gue di atas ya, Cum)

Apa jangan-jangan si Dedy sendiri ngga bisa menjawab pertanyaan ini?
πŸ˜…πŸ˜…

Atau jangan-jangan Cumi sendiri juga bingung dengan motif dirinya sendiri, kenapa dia masih mencintai cowok yang ngga berani bertanggung jawab?

Ini kali ya yang dinamakan khilaf? Kondisi ketika kita sendiri bingung kenapa bisa-bisanya melakukan ini dan itu?

Khilaf berulangkali untuk perbuatan
atau kesalahan yang sama apa namanya ya?

Aah puyeng gue, gan!

Gue pengen ngopi plus smoking dulu..

Crek! Slyuurrp...

**********

Intinya gue butuh waktu untuk merekonstruksi cerita ini supaya ngga terlalu rumit untuk difahami.

Gue butuh untuk mundur sejenak untuk melihat "gambar besar" kisah ini. Sama aja kayak nonton film bioskop.

Posisi paling enak buat nonton sebenernya bukan di depan yang dekat dengan layar. Pegel leher karena mendongak terus. Mata juga capek karena diterpa silaunya cahaya.

Posisi duduk paling enak malah di kursi tengah atau di paling belakang sekalian. Karena leher ngga pegal, mata ngga capek, dan ukuran frame berasa lebih pas di mata. Engga terlalu besar seperti kayak kita nonton di kursi paling depan.

Plus bisa mojok juga kalo duduk di belakang, sambil rebutan popcorn sama doi.
πŸ˜…πŸ˜…πŸ€­

Insya Allah sih Thread ini ngga akan menjadi Thread yang ngga tamat.

Insya Allah "Habis Gelap Terbitlah Terang."
πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜

Gue mungkin butuh beberapa data baru dari Cumi. Karena kisah ini memang hanya memiliki narasumber tunggal yaitu Cumi.

Dan gue percaya 100 % sama kejujuran Cumi!

Tapi gue sendiri ngga bisa memaksa Cumi untuk bercerita, kan?

Emangnya gue siapa? Gue ini apa?
Gue ini terbuat dari apa : Adonan terigu?
πŸ˜…πŸ˜…

Tapi kalo gue ngga bisa memperoleh cerita itu dari Cumi.
Maka gue berharap Allah akan menyingkapkan tirai gelap kisah ini.

Maafkan ya Agan-agan reader. Kalo untuk Part ini gue hanya bisa meninggalkan jejak untuk dibaca, berupa sebuah puisi yang terinspirasi dari sebuah pertemuan dengan Cumi pada masa Pandemi Covid-19.

Sebuah pertemuan yang terjadi di Bulan September 2020.

********

Pertemuan Di Masa Pandemi Dengan Seorang Teman


Bertemu denganmu
Memandang wajah teduhmu
Ketika tercium aroma maut dalam udara yang kita hirup.

Terasa ada getas yang menunggu untuk patah terinjak,
Ada kejanggalan yang sulit untuk dijelaskan,
Seperti gagasan tentang bayang-bayang yang minta diberi bentuk dan warna.

Dan menjadi sia-sia ketika terus saja kita memaksakan diri untuk melukiskan kecamuk pikiran dalam sketsa Hitam dan Putih.

Karena entah kenapa, dunia telah menjadi sedemikian rumit untuk hanya diwakili dengan dua warna dasar.

Katamu kau enggan ikut mengalir di sungai yang mereka namai :
Jalan Hidup.

Katamu kau arus tersendiri yang ingin menuju muara lain,
Berlayar menuju samudera lain.

Kataku itu hanya akan membuatmu semakin terasing!
Sebelum mati, bukankah kau harus berdamai dengan sebuah definisi kepastian di tengah semua kekacauan ini?

Jawabmu :
Yang pasti itu hanya mati!

Bayangkan kau dan aku, dan sekian Milyar orang selama bergenerasi tinggal di bumi yang cuma satu ini?

Namun hidup dalam penjara masing-masing, terpisah jarak 1 meter antara harapan dan rasa cemas!

Diskusi belum selesai
Kita pun pulang

Dan tak bisa kusimpulkan dengan jelas apakah senyum atau tangis, yang kau sembunyikan dibalik wajah yang berselubung masker Hitam?

Dalam gegas Jam Malam
Toko-toko mulai tutup
Meski lampu-lampu jalan baru saja dinyalakan.

Dan kita terpaksa menyerahkan jawaban pada sang waktu,
Pada apa yang disebut sebagai hari esok,
yang justru semakin tak menentu.

Hingga diam-diam
Senja memilih bunuh diri dalam sunyi
di ujung cakrawala Barat.

Dan sirine ambulans pengangkut jenazah
menjadi penanda makan malam


*********

TS mengucapkan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya terhadap semua Cendol dan komentar para Agan-agan reader sekalian

Maafkan TS ya, yang tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat, takzim dan mahabbah terhadap para reader, ngga bisa menyebutkan satu per satu nama Agan-agan yang luar biasa..



BERSAMBUNG







profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 7 lainnya memberi reputasi
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 4



Karena hari Sabtu ini gue libur, dan lagi gabut. Plus mood lagi bagus karena stok kopi dan rokok yang cukup. Maka di malam Minggu nan rinai ini, gue pun berhasil update.
πŸ˜…πŸ˜…πŸ’ͺ


Jujur... Kata kunci untuk penulisan Chapter ini, baru gue dapatkan 5 hari lalu setelah gue bekerja keras untuk mengingatΒ² apa aja yang pernah gue obrolin sama Cumi tentang Dedy.

Plus tambahan informasi dari Cumi sendiri. πŸ˜…πŸ‘Œ

Yaitu ketika Cumi nyeritain dia habis putus setelah nyambung lagi sama Dedy.

Seinget gue pertemuan ini lagi-lagi terjadi di Warung Ay-Bak yang belum dibangun menjadi Pujasera. Kita duduk bersebelahan dengan jarak 1 meter plus 1 jengkal tangan Cumi.

Gue lupa siapa yang nraktir waktu itu? Gue atau Cumi ya? Atau justru kami yang terpaksa ngutang ke Mas-mas Ay-Bak ya waktu itu?
πŸ€”πŸ€”πŸ˜…

Plus gue lupa apa persisnya penyebab mereka putus. Kayaknya sih ini berhubungan dengan terbukanya karakter asli Dedy yang makin bikin Cumi sakit hati.

Tring! Crek!

Cumi bilang gini :

"Dedy seperti punya 2 kepribadian yang saling bertolak belakang, Kakus."

"Di satu sisi dia bisa manja dan imut ngelebihin manja dan imutnya Indri dan Raffa, anak-anak gue, sama gue."

"Bahkan ngelebihin manjanya Masha sama The Bear!"
πŸ˜…πŸ˜œπŸ˜œ

"Tapi disisi lain Dedy bisa sadis kayak pembunuh berdarah dingin, yang dengan entengnya bisa menghina gue: wanita yang mengaku dia cintai dan rindukan, dengan sebutan : "setan" dan "ngga punya otak!"

Hati gue mendadak panas. Gue nyeletuk,

"Ini kata-kata elu sendiri tentang Dedy ya, Cum!"

"Ini deskripsi elu sendiri tentang orang yang hingga kini masih elu kasih tempat di hati elu ya?"

Cumi menjawab sambil mengangguk lemah,

"Iya, Kakus.."

**********

Ehhmmm Agan-agan reader yang terhormat.

Gue punya pikiran begini.
Bahwa sebenarnya orang baik itu emang enggak ada di dunia ini. Wabil khusus untuk level orangΒ² awam kayak gue.

Kecuali orangΒ² tertentu yang Allah pilih untuk mengemban misi tertentu. Misalnya level Nabi, Waliyullah, SahabatΒ² Nabi, para ulama yang ikhlas dan levelΒ² khusus lainnya dalam maqam Iman dan Kerohanian.

Buat level manusia awam dan mainstream kayak si Kakus ini, yang iman dan akhlaknya sering labil dan merosot ke titik nadir.

Maka yang disebut sebagai orang baik adalah, orang yang masih Allah sayangi dengan cara menutupi ia dari aib-aib nya yang memalukan dari pandangan orang lain.

Allah menutupi aibnya bukan karena amal orang itu. Allah ngga menghinakan orang itu didepan publik, atau didepan orang lain bukan karena ibadah orang itu.

Tapi semata-mata karena Allah Al Lathif; Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.

Entah kenapa, gue yang selama ini lebih banyak dengerin Cumi ngomong, justru malam ini gue nyerocos dengan lancarnya ke Cumi.

"Cumi, kalo atas kehendak Allah elu melihat ada sedikit kebaikan di diri seseorang. Jangan elu bilang ke orang itu, Waah elu emang baik."

"Tapi lebih baik elu katakan :
"Maha Suci Allah... Yang telah menitipkan kebaikan pada dirimu."

"Atau elu doakan dia" :
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mu dan menutupi semua aib mu di Dunia dan Akhirat."

"Sebaliknya, kalo Allah justru membuka aib seseorang berupa tabiat buruk orang itu dihadapan orang yang dia sayangi."

"Maka kita harus benar-benar mengukurnya inci demi inci."

"Dan kita butuh alat ukur yang terbuat dari Hati yang bersih, Pikiran yang jernih, dan Iman yang kokoh."

"Bisa jadi Allah memperlihatkan sifat asli seseorang dihadapan orang yang mengaku dia sayangi, karena Allah ingin mereka saling mengetahui kekurangan masing-masing untuk saling melengkapi dan memperbaiki diri satu sama lain."

"Atau justru bisa jadi Allah melakukan itu karena Dia ingin memisahkan hubungan mereka, agar terhindar dari tindakan saling menyakiti dan menghancurkan satu sama lain di masa depan."

"Masa depan di dunia dan lebih-lebih di alam akhirat."

"Dengan kata lain, Allah menjadikan terbukanya aib itu sebagai tembok-tembok yang menghalangi hubungan mereka."

"Silahkan Cumi elu ambil penggaris yang terbuat dari Hati yang bersih, Pikiran yang jernih, dan Iman yang kokoh."

"Sebuah 'penggaris' untuk mengukur dimensi-dimensi sebuah hubungan. Untuk menafsir makna terbukanya tabiat asli Dedy dihadapan elu. Dan untuk mengukur hubungan elu dengan Dedy."

"Hasil ukurnya sendiri akan berupa :
1. Dampak terhadap hubungan elu dengan Dedy
2. Dampak pada Jiwa
3. Dampak terhadap orang terdekat, dan terpenting..
4. Dampak terhadap Hubungan elu dengan Allah."

"Kalo terbukanya tabiat asli Dedy ini menjadikan dia berbesar hati untuk mengakui penghinaannya ke elu, adalah sebuah kesalahan."

"Lalu disaat yang sama elu juga berbesar hati untuk ikhlas memaafkan. Maka ini sebuah kabar baik buat hubungan kalian."

"Kalo ini diiringi dengan ketenangan Jiwa, untuk menghabiskan sisa umur elu dengan Dedy, maka ini pun sebuah kabar baik."

"Kalo ini disertai dengan keyakinan bahwa, hubungan elu sama Dedy membawa dampak bagus buat kedua anak elu yang bukan anak kandung Dedy, buat keluarga besar elu, buat Ibunya Dedy, buat keluarga besar Dedy. Maka ini kabar yang layak elu syukuri."

"Dan terpenting, kalo hubungan elu dengan Dedy berdampak hubungan elu dengan Allah membaik. Misalnya shalat elu jadi ngga bolong-bolong, Zikir elu bertambah, ibadah Sunnah elu makin banyak."

"Maka Subhanallah, Dedy insyaallah akan jadi Imam buat elu dan anak-anak elu."

Gue mengambil jeda sejenak, untuk sebuah bait lagu dari seorang pengamen. Bait lagu yang baru bisa usai, ketika Cumi ngasih selembar duit Dua rebuan.

Gue lupa lagunya apa..
Tapi yang pasti lagu cinta berkonten gombal sih!
πŸ˜…πŸ˜…

Gue lanjut nyerocos :

"Tapi kalo hasil ukurnya adalah sebaliknya..."

"Maka gue ngga perlu ngajarin elu tentang keputusan apa yang harus elu ambil!"

"Kita ini kan seumuran, Cum. Di usia kita yang beranjak tua ini, kita dituntut oleh Umur kita sendiri untuk makin terlatih menghisab keputusan hidup."

"Sebelum kita nanti akan dihisab oleh Allah di Yaumil Akhir dihadapan semua mahluk!"

"Dan Cumi. Cara ukur seperti di atas, bisa elu pake kepada siapa aja dalam konteks hubungan apa aja."

"Elu bisa pake cara dan alat ukur yang sama untuk mengukur hubungan elu dengan Bang Andi misalnya."

"Dan elu bisa juga melakukan hal yang sama untuk mengukur hubungan persahabatan elu dengan teman-teman elu."

Cumi menundukkan kepala demi mendengar penjelasan gue yang panjang binti lebar.

Entah karena faham atau ngantuk.
πŸ˜…πŸ˜…

Lalu Cumi mengangkat wajah sendunya, dan berkata lirih ke gue.

Sebuah ucapan yang begitu menyilet harga diri gue.

"Kakus... Resleting celana elu kebuka, tuh.."

😩😩😭

**********

Tring! Crek!

Selanjutnya gantian Cumi yang nyerocos :

"Iya Kakus... Gue sebenernya masih berharap Dedy bisa berubah menjadi orang yang lebih baik, menjadi suami yang setia, menjadi Imam dalam keluarga, dan menjadi orang yang faham agama."

"Gue udah coba ingetin Dedy buat ngejalanin Shalat, Puasa.. Tapi gue malah didebat."

"Dia bilang buat apa Shalat? Tapi ngga faham makna dari Surat dan Ayat yang dibaca, ngga faham arti bacaan Shalat."

"Dia bilang buat apa Shalat? Tapi kelakuan sehari-hari masih belom bener!"

"Dia bilang buat apa Shalat? Tapi masih korupsi, masih menipu, masih posting konten porno di medsos!"

"Dia nggak kuat Puasa, karena bikin sakit lambungnya kalo lapar terlalu lama."

"Dan gue ngga tau apakah Dedy udah mencoba sekuat tenaga buat ngobatin lambungnya, supaya dia ngejalanin puasa?"

Sejenak, Cumi mengambil jeda untuk sebuah nafas yang berat dan dalam.

Gue pun berbasa-basi nyuruh Cumi nambah makanan, padahal dalam hati berharap nggak.
🀭🀭😜

"Eeh nambah giih Cum. Nambah satenya kek! Nambah sambelnya kek! Nambah teh manisnya kek!"

Jawaban Cumi begitu melegakan hati dan dompet gue :

"Enggak Kakus.. Makasih. Gue udah kenyang makan, kok! Kalo Teh sih gue sukanya yang tawar aja."

"Kan elu tau kalo gue udah manis, Kakus."
πŸ˜œπŸ˜œπŸ˜…

Cumi lanjut ngoceh...

"Emang sih gue juga heran sama Dedy. Shalat kagak, Puasa kagak, tapi karirnya lancar, bisnisnya maju, jarang sakit."

"Ketika gue ingetin soal ibadah. Alih-alih berubah jadi baik, malah gue didebat abis!"

"Dan malah gue sendiri yang kemakan! Makin terseret dalam kondisi hubungan cinta yang putus-sambung ngga jelas kayak sekarang."

"Gue nanya ke temen gue, namanya Mbak Ulfa. Gue ceritain soal Dedy."

"Dan Mbak Ulfa bilang kalo yang dialami Dedy itu namanya Istidraj!"

Gue tersentak demi mendengar kata ini.

"Naudzubillah Min Dzalik!"
(Kami berlindung kepada Allah dari perkara itu.")

And there it is the key word :

"Istidraj"


BERSAMBUNG






profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Wah udah banyak ketinggalan chapter ane gan
profile-picture
complain01 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 5


"Innalilahi wa innailaihi ra'jiun"

Pada Part ini, TS ingin menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas musibah jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 182 SJ.

Semoga saudara-saudara kita yang menjadi korban mendapat tempat yang layak di sisi Allah sesuai amal bakti hidupnya.

Dan keluarga para korban diberikan ketabahan dan kesabaran.

Aamiin

πŸ™πŸ™πŸ™

********

Lanjut ke kisah ini...

Di rumah, sepulang nongkrong sama Cumi di Ay-Bak, seperti biasa gue kusut dengan hati dan otak gue sendiri.

Bersama secangkir kopi hitam,
gue mikir tentang satu kata ini : "Istidraj"

Ini sih sebenarnya udah lepas dari pendapat si Cumi dan Mbak Ulfa, tentang apakah si Dedy udah berada pada level Istidraj atau belum?

Gue ngga berani ngejudge. Karena gue belum pernah bertemu dalam waktu yang cukup dengan Dedy, untuk melakukan pengamatan.

Kata "Istidraj" ini, secara Etimologis berasal dari kata "daraja" atau derajat, yang artinya naik dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya.

Nah secara Terminologis, kata ini bermakna hukuman Allah kepada hamba-Nya yang diberikan sedikit demi sedikit, tidak secara langsung.

Allah membiarkan hamba ini dan tidak disegerakan hukumannya, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al Qalam ayat 44 :

"Nanti kami akan hukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui."

Kalo boleh gue gabung antara arti etimologi dan makna terminologi dalam bahasa gue :

Maka Istidraj ini seolah-olah orang yang oleh Allah, dibiarkan merasa naik ke tangga kesuksesan hidup. Padahal sebenarnya dia sedang menuruni anak tangga kehancuran.

Ini banyak banget rujukannya di Al-Qur'an dalam belasan Surat dan Ayat. Agan-agan reader bisa googling sendiri.
πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™

Kalo dalam Hadits, ini terdapat di sebuah riwayat dari Uqbah bin Umar ra yang menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba nikmat yang disukainya, padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanya Istidraj belaka".
(HR. Ahmad)

Dari yang gue baca dan simak, Istidraj ini bisa disebabkan oleh satu atau gabungan dari banyak faktor.

Meringkas dari berbagai sumber, diantaranya :
1. Tidak Beriman
2. Sifat Munafik
3. Bakhil dan Kikir
4. Berlaku Zalim Terus Menerus
5. Tamak dan Rakus Terhadap Harta
6. Tidak Amanah
7. Sombong Terhadap Kebenaran
8. Tidak Bersyukur dan Lupa Diri.

Dan proses Istidraj ini pun sebenarnya ngga terjadi dengan seketika.

Ngga langsung ada seorang yang kaya raya tapi males shalat, terus Allah langsung Istidraj kan dia.

Engga begitu ada Playboy yang suka merenggut keperawanan anak orang, dengan uang dan janji manisnya. Lalu saat itu juga Allah Istidraj kan dia.

Enggak gitu, gan.

Pertama-tama Allah pasti kasih nasihat, peringatan atau teguran dalam macemΒ² cara.

Misalnya itu Playboy punya pacar baru yang ngingetin dia untuk Shalat. Tapi dia cuek.

Atau ada yang share di grup WA SMA nya tentang dosa-dosa zina. Dia baca tapi ngga dianggep.

Ngga mempan dengan cara di atas, Allah pake cara lain. Misalnya ada kerabat atau temennya yang meninggal dunia. Atau kabar kecelakaan Pesawat yang merenggut banyak nyawa.

Supaya dia inget mati, supaya dia manfaatin sisa umur buat beramal saleh. Tapi dia tetep abai.

Atau dengan teguran :
Suatu hari hape atau motor dia dicolong orang!

Buat ngingetin dia kalo harta, kesuksesan, ketampanan dan intelektualitas itu, seperti halnya hape dan motor yang diembat orang.

Maka sewaktu-waktu bisa diambil Allah tanpa bisa diduga kapan dan bagaimana caranya. Tapi lagi-lagi dia acuh, males ambil hikmah.

Naah ketika cuek dan abainya dia udah terjadi dalam jangka waktu yang lama, selama katakanlah bertahun-tahun.

Udah dikasih macemΒ² nasihat dan teguran dalam segala bentuk dan versi. Tapi tetap aja hatinya sekeras batu. Tetep aja dia lebih cuek dari Bebek.

Barulah Allah Istidraj kan dia.

Yaitu pada saat dia mulai geer :
Bahwa untuk sukses dan bahagia itu nggak perlu Allah kok! Nggak perlu doa! Apalagi ibadah!

Pada saat dia mulai sengak :
Mana nih katanya Allah Maha Melihat dan Maha Mengazab?
Buktinya Allah ngga menghukum gue walaupun gue suka zina sama cewek?

Pada saat dia mulai songong :
Hukum Allah tuh udah ngga up to date lagi buat diterapkan di masa modern sekarang ini.

Buktinya orang kalo terlalu taat dalam beragama, malah bisa terjerumus jadi radikal dan berbahaya!

Jadi orang itu mending slengean bergelimang dosa, tapi ngga ngerugiin orang banyak!

Atau pada saat dia merasa nyaman dan tidak bersalah sewaktu melakukan dosa dan kemaksiatan.

Maka barulah ia menjadi Mustadraj*. Yaitu orang yang ditarik berangsur-angsur ke arah kebinasaan.

Dalam sebuah paket azab yang dipackaging dengan imut dan indah!

*******

Selama ini kan kita taunya dosa yang menjerumuskan manusia itu adalah kombinasi dari 2 hal :
Hawa Nafsu dan Godaan Syaithon.

Tapi khusus untuk Istidraj ini. Seolah-olah Allah SWT Penguasa Alam Semesta sendiri yang mendesain kebinasaan bagi manusia-manusia yang udah kadung dimurkai-Nya.

Kayak kita naburin roti di lorong dapur buat seekor tikus nakal, lalu taburan roti itu berakhir di sebuah kerangkeng jebakan!

Settingan jalan hidup yang tampak indah, begitu mempesona dan bikin ngiri kita-kita yang melihatnya, sambil kita bertanya pada diri sendiri, kapan ya kita bisa hidup enak kayak mereka?

Padahal hidup enak itu adalah skenario kehancuran yang disutradarai oleh Allah sendiri!

Parahnya lagi, kalo orang udah di-Istidrajkan oleh Allah. Maka seolah-olah pintu taubat itu udah Allah tutup secara halus.

Misalnya pas ngeliat orang berangkat shalat Jum'at, dan dia pengen ikutan. Tetiba aja keinget janji sebuah meeting yang harus dia uber.

Atau pas Bulan Ramadhan, ngeliat temen-temen nya seru-seruan bukber, dia pengen puasa. Tapi baru nahan laper 3 jam, tetiba asam lambungnya kambuh sekambuh-kambuhnya.

Ada ajaa halangan buat kembali ke Allah. Kayak Allah udah males denger doanya. Kayak Allah udah ga sudi "Rumah-Nya" dikunjungi oleh hambanya yang satu ini.

Siapa coba yang bisa ngebelokin rencana Allah?
Siapa coba yang bisa ngebuka pintu taubat, kalo Allah sendiri udah menutupnya?

Dalam bahasa sosmednya, Tuhan udah un-friend itu orang, Tuhan udah un-follow itu hamba.
πŸ˜…πŸ˜…

Terus gue mikir,
Lho kok Tuhan jahat amat sih? Tuhan itu bukannya Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Tuhan itu bukannya Maha Pengampun dan Maha Pemaaf?

Manusia kan emang tempatnya salah, dosa dan khilaf!

Wajar dong kalo disaat sukses dan usia masih muda, seorang cowok ganteng tergoda buat maen cewek?

Wajar dong disaat karir lagi menanjak, orang jadi sibuuuk bangeet. Sehingga Shalat pun ngga sempet.

Manusiawi dong kalo orang terlalu letih meeting sana-sini, mikir ini-itu, sehingga badan ngga kuat buat berpuasa!

Kan katanya Allah Maha Mengerti. Kan Allah Maha Bijaksana.

Kan Shalat bisa dijamak dan diqodho kalo lagi inget. Kan puasa bisa diganti make Fidyah.

Masa sih Allah nggak bisa harap maklum?
πŸ€­πŸ€­πŸ˜…

Jadi Tuhan ngga boleh sewot ya, gan?

Jadi manusia doang ya yang punya Hak Asasi buat bebas ngapain aja?

Termasuk bebas buat menghina Nabi yang paling dicintai-Nya dalam bentuk karikatur, dengan mengatasnamakan kebebasan berpendapat!

Wkwkwkw...
Kita sering gitu ngga sih, gan?
πŸ˜…πŸ˜…πŸ™

Suka tanpa sadar terjangkit Virus Istidraj akut. Yaitu ketika merasa diri ini boleh mensifati Tuhan dan menilai HukumΒ² Agama seenak jidat kita, dengan berpendapat :

"Udaahlaah Tuhan mah jobdesnya ngasih rizki aja, ngampunin dosa aja, dan ngabulin doa aja!"

"Tuhan jangan baperan deh make segala ngambek sama perilaku somplak sekian juta hamba-Nya?"
πŸ˜…πŸ˜…πŸ™

"Udahlaah segala ibadah kayak Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Sedekah bla bla bla itu kan cuma ritual simbolik?

"Udaahlaah ngga perlu make hijab nggak apa-apa, kok! Nggak prinsip! Toh Itu hanya selembar kain yang sekarang cuma jadi fesyen!"

"Itu banyak banget temen gue cewek-cewek berhijab yang kelakuannya bejad!"

"Lebih penting tuh jilbab hati dan jilbab akhlak. Daripada malu-maluin agama karena udah make jilbab tapi kelakuan masih nggak bener. Iya kan?"

Wkwkwkwk...πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™

Haluuus banget yak Istidraj itu?

Dengan bahasa di masa Pandemi sekarang. Ini mirip kayak OTG : Orang Tanpa Gejala yang tanpa sadar sebenarnya udah terjangkit Virus Corona.

Begitu halusnya Istidraj itu sampe-sampe ngga terdeteksi oleh hati nurani.

Bukan karena hati nurani yang ngga peka. Tapi justru hati nurani itu sendiri yang udah terinfeksi begitu parah oleh Istidraj, sehingga kehilangan fungsi introspeksi.

Tapi yang bikin gue tersentak dari kontemplasi adalah, bahwa Istidraj ini bisa juga menjangkiti seseorang yang mengaku rajin ibadah sekalipun!

Yaitu pada saat seseorang Riya, Ujub, dan Takabur dengan amalnya sendiri. Pada saat ia mengagumi perbuatan baiknya sendiri.

Pada kondisi ia menjadi senang dipuji dengan merdunya bacaan Qur'an nya.

Pada kondisi ia merasa bangga ketika orang menyanjung sedekahnya. Ketika orang bertepuk tangan atas pengetahuan agamanya.

Pada kondisi ia merasa saleh ketika memposting foto umroh nya didepan Ka'bah di sosmed.

Pada saat dengan semua amalnya itu, Tuhan dianggapnya sebagai pesuruh untuk mengampuni dosanya, untuk mengabulkan doanya, untuk meluaskan rizkinya.

Sembari meyakini bahwa untuk orang sebaik dirinya, Takdir Tuhan berupa musibah dan derita adalah tidak layak baginya.

Gue merintih, menekuk lutut sambil menangis,

"Astaghfirullahaladziim...
Ya Allah Ya Rabb... Ya Allah Ya Rabb."

"Duuuh Gusti... Tuhan yang di Tangan-Mu tergenggam takdir sebutir pasir dan gugusan bintang-bintang di Tujuh lapis langit.."

"Dengan kalimat suci apa aku layak memohon ampun kepada-Mu untuk dosa jiwa sebesar ini?"

********

Cumi, elu tau gak?
Gue tuh berharap Dedy itu nggak mengalami Istidraj.

Beneran, Cum!
Karena kalo dia udah di-Istidrajkan oleh Allah, maka yang harus elu khawatirkan bukan si Dedy.

Tapi diri elu sendiri, Cum!

Bukan apa-apa, Istidraj itu bisa menular tanpa elu sadari. Mirip kayak orang yang merasa dirinya sehat, padahal dia udah tertular virus Corona. Atau menjadi OTG!

Cumi, elu inget kan Hadist Nabi yang intinya kalo kita berteman sama penjual minyak wangi kita bakal ikutan wangi?

Sebaliknya kalo kita berteman dengan pandai besi, pas lagi nongkrong di bengkelnya, mau ngga mau hidung kita menghirup asap dari tungku pembakaran!**

Well, tentu redaksional Hadist ini ngga boleh kita artikan secara dangkal, cuma untuk memuji Profesi Tukang Parfum di kawasan Condet, dan ngeledek Profesi Pembuat Golok di Ciseeng sana.
πŸ˜…πŸ˜…

Ini cuma buat nunjukin betapa lingkungan, dimana dan dengan siapa seseorang itu bergaul, akan sangat mempengaruhi hidupnya.

Hoaaaahhhh....😴😴
Ngga kuat nahan ngantuk. Gue pun masuk kamar dan tepar di kasur.

Untuk mengalami sebuah mimpi sangat aneh yang pernah gue alami.

*******

Swuuuzzzhh....Wussszzhh...

Tubuh gue begitu ringan. Tubuh gue melayang di angkasa di tengah kepungan awan hitam.

Tetiba gue merasa kedua tangan ini begitu kuat, dan memiliki kekuatan untuk menepiskan lapisan awan-awan nan gelap itu.

Heaaahh... Wusshh.... Wuuzzzh....

Awan-awan hitam terpinggirkan.

Lalu gue merasa tubuh ini turun pada ketinggian tertentu, untuk melihat sebuah rumah yang berada di sebuah taman yang luas dan indah, yang diselingi aneka warna bunga.

Anehnya atap rumah itu sendiri terbuat dari kaca transparan. Sehingga gue bisa dengan jelas melihat seisi perabotan rumah itu dan siapa saja penghuninya.

Di rumah itu ada meja, kursi, lemari dan tempat tidur. Ada ruang tamu, kamar-kamar dan dapur.

Dan di rumah itu ada Cumi dan Mas Bagus...


BERSAMBUNG

Note :
* kata Mustadraj ini berasal dari doa Umar bin Khattab ra agar dijauhkan dari sifat Istidraj, yang tercantum dalam Kitab Al-Umm karya Imam Syafi'i.

** Teks Hadist
Rasulullah SAW bersabda :
"Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi.

Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan dan pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap."
(HR. Bukhari)



profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 3 lainnya memberi reputasi
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 6



Di rumah itu gue ngeliat sepasang suami-istri yang tengah mendekorasi rumah dengan hiasan-hiasan indah.

Mengecat dindingnya dengan warna-warna cerah. Warna-warna masa depan yang mereka seduh dengan cinta dan cita.

Lalu Allah menambahkan nikmat-Nya kepada mereka.

Yaitu dua jiwa kecil, Indri dan Raffa, yang Allah titipkan di rumah itu sebagai pengikat hati sepasang insan, dan alasan bagi tercurahnya rizki ke rumah itu.

Dari atas ketinggian, gue tersenyum melihat kelepak sayap-sayap Malaikat yang naik-turun dari langit ke bumi, ke rumah itu.

Untuk membawa bingkisan-bingkisan rahmat berupa kesehatan, karir yang meningkat, keharmonisan rumah tangga dll.

Sebuah StanzaΒΉ suci pun terdengar.

"Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban"Β²
(Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Kita tau sebenarnya nikmat adalah cara Allah untuk menguji seorang hamba, apakah ia bersyukur atau kufur?

Tolak ukurnya sederhana aja sih :
Hubungan kita dengan Allah.

Yaitu apakah dengan nikmat itu, hubungan kita makin dekat, biasa-biasa aja, atau malah bertambah jauh dengan Allah?

Gue ngga tau gimana hubungan Cumi dan Mas Bagus dengan Allah saat itu? Sewaktu nikmat-nikmat itu digelontorkan kepada mereka.

Tapi peristiwa mencolok yang terjadi dalam rumah tangga mereka saat itu, menjadi titik balik dari kebahagiaan menjadi kenestapaan.

Yaitu ketika Mas Bagus dan Cumi memutuskan untuk melakukan 2 kali aborsi dengan alasan diluar udzur kedaruratan medis.

Maka seketika itu gue melihat dinding-dinding di rumah itu menyempit.

Warna-warna cerah berubah menjadi suram. Hiasan-hiasan berubah menjadi sarang laba-laba.

Keharmonisan berubah menjadi kesalahpahaman. Kemesraan berubah menjadi pertengkaran yang tidak terselesaikan. Saling percaya berubah menjadi saling curiga.

Selain aborsi pasti ada hal-hal lain yang membuat kaca-kaca jendela di rumah itu menjadi buram dan tak mampu tertembus cahaya kesadaran.

Tapi menurut gue aborsi ini adalah kesalahan paling fatal yang harus mereka bayar.

Yaitu dengan dicabutnya rasa cinta dan rasa percaya yang dulu pernah Allah letakkan di hati mereka berdua!

Cumi elu tau ga kenapa pernikahan itu begitu suci?

Cumi elu tau ga kenapa di semua agama, di semua kultur, dan tradisi, upacara pernikahan itu sangat kental dengan nuansa sakral?

Saking sakralnya, seolah-olah Tuhan sendiri yang menjadi Wali Nikah bagi mempelai wanita.

Cumi elu tau ga kalo satu-satunya organ tubuh yang namanya sama dengan Asma Allah, atau Nama Tuhan Yang Paling Mulia (Al Asmaul Husna), adalah organ tubuh yang berada pada tubuh seorang wanita?

Organ tubuh itu adalah Rahim.

Nama Allah yang bermakna Yang Maha Penyayang.

Dan Allah hanya mengizinkan akses terhadap organ itu dilakukan melalui jalan pernikahan.

Dimana wajib disebut nama-Nya dalam proses Ijab QobulΒ³ dalam Islam. Atau Sakramen Pernikahan bagi pemeluk Agama Nasrani.

Sungguh... Apapun tindakan yang melanggar kesucian organ itu. Seperti Aborsi tanpa udzur, apalagi Zina.

Maka di mata Allah, tindakan itu adalah sebuah makar yang besar. Sebuah pernyataan perang atau pengkhianatan terhadap Nama dan Sifat Maha Penyayang- Nya Allah!

Sebuah perbuatan yang menjadi magnet kuat bagi datangnya tempelak azab.

********

Dgum.... Dgum... Dgumm...

Terdengar suara bergemuruh di rumah itu.

Seketika ruang-ruang di dalamnya menyempit dan memanjang.

Pintu-pintu tertutup.
Jendela-jendela terkunci.
Lampu-lampu padam.

Menjadi lorong-lorong yang gelap dan pengap.

Menjadi jalur-jalur rumit yang sempit dan berliku.

Menjadi lorong yang dipenuhi jebakan dan jalan buntu.

Segala-galanya menjadi menyesatkan dan membingungkan.

Lalu seketika rumah itu berubah...

Menjadi Labirin!⁴

*********

Gue ngga lagi melihat kepak sayap Malaikat Rahmat yang naik-turun dari langit ke rumah itu.

Yang gue lihat justru sayap-sayap hitam dari Syaithon dan hawa nafsu yang hilir mudik di lorong-lorong labirin.

Mereka adalah penipu ulung yang menutup jalan keluar yang sebenarnya masih ada.

Mereka adalah pembisik licik yang mengatakan bahwa sebuah dinding buntu adalah pintu keluar.

Hingga akhirnya kedua orang ini menjebol sebuah dinding yang seakan-akan adalah pintu penyelesaian.

Padahal dinding itu hanya menyambungkan mereka pada sebuah jalur labirin lain yang lebih menyengsarakan dan menyesatkan.

Dinding yang mereka jebol itu bernama : Perceraian.

Di atas ketinggian ini. Ditemani awan-awan dan lapisan atmosfer tipis, gue seperti berkunjung ke masa lalu Cumi.

Untuk melihat betapa sebuah kesalahan, sebuah kekhilafan, tidak diperbaiki dengan semestinya. Melainkan justru diselesaikan dengan kesalahan atau kekhilafan yang lain.

Dan untuk melihat bagaimana labirin-labirin itu tercipta dari dinding-dinding kesalahan di masa lalu, yang menjadi lorong penyesalan atau lorong kebingungan yang belum usai terselusuri hingga hari ini.

Mas Bagus entah menyusuri lorong yang mana. Gue ngga terlalu memperhatikan Mas Bagus.

Tapi yang jelas gue melihat Cumi masuk ke sebuah lorong labirin lain. Lorong yang dalam penglihatan gue terlihat begitu gelap dan sempit. Namun untuk Cumi seolah terlihat sebaliknya.

Lorong itu bernama : Dedy.

Dedy menggandeng tangan Cumi mengelilingi labirin miliknya.

Berputar-putar tak tentu arah. Bercumbu disana dan bercinta di lorong-lorong gelapnya!

Dari atas ketinggian ini gue pun menangis.

Dan hanya itu yang bisa gue lakukan. Ketika melihat keduanya ter-istidraj dalam labirin gelap nan menyesatkan, yang mereka sangka sebagai taman bunga di sebuah hari yang cerah.

*********

Cumi... Maafkan...
Gue sendiri merasa sangat terganggu untuk beberapa alasan, ketika elu putus nyambung ga jelas sama Dedy.

Karena gue ngga mau elu tertular Istidraj-nya Dedy.

Gue ngga mau elu tenggelam dalam jebakan perasaan yang elu sebut sebagai cinta.

Karena gue takut kalo itu sebenarnya hanyalah tipuan nafsu belaka.

Gue takut kalo Itu hanyalah harapan palsu.

Gue takut kalo Itu hanyalah angan-angan semu.

Cumi, gue takut cinta elu ke Dedy sebenarnya adalah sebuah Istidraj hati.

Dan lebih dari itu...
Gue takut elu tergelincir dalam perbuatan dosa yang sangat keji dan buruk.

Dosa yang lebih keji dari pembunuhan dan aborsi.

Gue takut elu terjatuh dalam jurang kehinaan itu.

Karena ngga peduli seganteng apapun si Dedy, atau seorang cowok lain manapun. Sekaya apapun ia, sepintar apapun ia, sebaik apapun kelihatannya, sebijak apapun dan sesaleh apapun tampak luarnya si Dedy atau seorang cowok itu..

Maka yang gue takutkan adalah bila elu dan Dedy, atau dengan cowok brengsek manapun itu di kolong jagad ini, melakukan perbuatan keji ini : "Zina".

Dan ini adalah sebuah kata yang selama 3 hari ini gue bawa-bawa dalam pikiran gue, sambil Googling dan nge-YouTube.

Sebuah kata yang semakin gue tau tentang semua segi dan kisi-kisinya, justru pada akhirnya semakin membuat gue bergidik karena takut untuk sekedar menuliskannya aja.

Satu contoh aja..

Pembunuhan itu adalah dosa kaliber berat yang berada satu tingkat dibawah dosa syirik.

Dan aborsi juga dikelompokin satu kategori dalam pembunuhan. Berarti tergolong dosa besar juga kan?

Tapi betapapun besarnya, kedua dosa ini masih memiliki udzur. Atau singkatnya alasan kepepet untuk melakukannya.

Udzur untuk pembunuhan adalah sewaktu keselamatan jiwa, harta, dan keluarga kita terancam. Sehingga mau ngga mau kita terpaksa membunuh pihak yang mengancam itu.

Udzur untuk aborsi adalah kondisi darurat medis ketika kehamilan dianggap membahayakan nyawa Ibu atau janin yang dikandungnya karena cacat atau sakit⁡.

Atau kehamilan karena korban pemerkosaan.

Tapi untuk Zina... Sama sekali ngga ada udzur untuk zina!

Sama sekali ngga ada!

Maksud gue udzur dalam konteks orang yang sehat pikirannya ya!

Kalo orang gila mah ngga gue bahas disini.

Orang gila mah bebas!
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

*******

Maafin TS ya Agan-agan reader. Karena di Part ini dan mungkin di part selanjutnya pada Chapter 8, gue ngga bisa bercanda seperti biasanya.

Pasti boring banget kan baca Part ini?

Karena gue bener-bener kehilangan selera humor ketika baca, nonton, dan cari info tentang Aborsi dan Zina, untuk gue tuangin di Thread ini.

Maunya sih gue ngga usah nulis Part ini. Maunya sih gue lewatin aja.

Tapi gue ngga mungkin berlaku konyol binti idiot, ketika dari angka 1,2,3,4 gue malah ninggalin 5,6,7 dan langsung lompat ke 8.
🀣🀣😁

Iya kan, gan?

Terus terang gue bingung dan mentok!

Gimana ya caranya mendeskripsikan betapa murkanya Tuhan kepada pelaku yang melakukan perbuatan zina ini, dalam cara yang paling ringan?

Gue bakar rokok dulu ya gan?

Crek!

Tapi gimanapun gue harus tetap menulis.

Biar gimanapun gue harus menyelesaikan apa yang udah gue mulai!


BERSAMBUNG

Notes :
1. Stanza : kumpulan larik sajak yang menjadi satuan struktur sajak ditentukan oleh jumlah larik, pola, matra, atau rima.
2. Ayat dalam Al-Qur'an Surat Ar Rahman yang diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam surat tersebut untuk menggambarkan betapa banyak Nikmat Allah yang dicurahkan kepada manusia dan Jin.
3. Al-Qur'an Surat An-nisa Ayat 1:
Bertakwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.
4. Labirin merupakan sebuah sistem jalur yang rumit, berliku-liku, dan memiliki banyak jalan buntu.
5. Dikutip dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2005 Tentang Aborsi.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Sarat makna
Makasih updetnya
ada beberapa makna yang bisa di ambil pelajarannya.

Semoga istiqomah dan sehat selalu
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan complain01 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 7


Gue ngulik definisi dulu ya gan.

Kalo secara terminologi rasanya kita semua udah mafhum ya apa itu perbuatan zina?

Nyontek dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) aja deh biar gampang.

"Bahwa Zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat hubungan pernikahan."

Arti yang rada menggelitik, justru dateng dari akar kata "Zina" itu sendiri, yang berasal dari Bahasa Arab yang artinya berbuat Fajir (nista atau keji).

Plus sebuah pendapat dari seorang ulama pakar Fikih dan Ushul Fikih, yaitu As Sarakhsi dalam kitab Al Mabsuth, yang mengemukakan kata Zina berasal dari kata "az-zanaa' yang memiliki arti "adh-dhiiq" yang artinya kesempitan.

Dan banyak pendapat dari ulama-ulama lain dalam nafas makna yang kurang lebih sama seperti diatas.

Merangkum semua pengertian di atas.

"Maka zina adalah perbuatan hubungan seksual laki-laki dan perempuan yang nista dan keji, karena dilakukan diluar ikatan pernikahan, yang menjadikan pelakunya berada dalam kesempitan lahir-batin dalam semua aspek hidupnya."

Sekali lagi ini mengingatkan betapa suci dan mulianya pernikahan itu.

Hubungan seksual suami istri dalam pernikahan itu bernilai ibadah. Menjadi bagian dari nafkah batin.

Bahkan ada doa khusus sebelum suami-istri berhubungan intim.

Nah sekarang siapa coba cowok atau cewek, yang over pede berani baca doa sebelum melakukan perselingkuhan, misalnya...
🀭🀭

Tapi yang lebih menggelitik adalah bagaimana cara Allah melarang perbuatan zina ini dalam Al-Qur'an Surat Al Isra Ayat 32 :

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk."

Coba bandingkan redaksionalnya dengan cara Allah melarang pembunuhan, dalam satu ayat sesudahnya.

Dimana Allah secara langsung merujuk ke redaksi kata perbuatan itu.

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan alasan yang benar."
(Q.S Al-Isra ayat 33)

Ini semacam isyarat, saking sewotnya Allah sama perbuatan ini. Karena jangankan melakukan. Mendekatinya aja udah dilarang!

Dan puluhan ayat-ayat tentang zina dalam segala aspeknya tersebar di banyak Surat dalam Al-Qur'an.

Plus puluhan Hadits yang begitu membully perbuatan ini.

Satu aja deh contohnya :

Rasulullah SAW bersabda :
"Dua kejahatan akan dibalas oleh Allah SWT ketika di dunia, yaitu zina dan durhaka kepada orangtua."
(HR. Thababbarani)

Dari redaksionalnya aja udah keras bener. Bukan lagi disebut dosa atau kemaksiatan. Tapi "kejahatan!"

Berasa mau pecah kepala gue baca tafsir ayat, baca hadist, dan nonton ulasan Da'i-da'i kondang di YouTube tentang semua hal yang berkait dengan zina.

Naudzubillah Min Dzalik!
Horor banget, gan!

Gue kayak berhadapan dengan Allah dalam sosok-Nya yang paling menakutkan, paling keras, dan paling murka!

Bikin gue selama 4 hari berturut-turut, tidur diatas jam 2 pagi!

Bikin gue bergidik buat nulisin semua dampak dan azab dari perbuatan ini, yang ternyata ngga cuma berlaku terhadap pelakunya doang.

Tapi juga berlaku terhadap keluarganya, keturunannya, dan tetangganya.
Bahkan tikus-tikus yang ada di rumah si pelaku zina, dan semut-semut yang ada di lubang-lubang di rumah itu, semua kebagian dampak buruknya!ΒΉ

Sekali lagi itu yang bikin gue ngga sanggup untuk nulis banyak-banyak tentang apa aja azab dan dampak-dampak dunia dan akhirat dari dosa zina.

Silahkan Agan-agan searching sendiri yak di internet.
πŸ™πŸ™πŸ™

*******

Gue hanya sanggup menulis 2 ilustrasi tentang aspek zina, yang lagi-lagi gue bandingkan dengan perbuatan dosa yang levelnya sekaliber. Yaitu Pembunuhan dan Aborsi.

Cumi maafkan gue harus menulis ini...
πŸ™πŸ™πŸ™

Ilustrasi Pertama

Di Part sebelumnya TS nulis bahwa, nggak kayak Pembunuhan dan Aborsi yang memiliki Udzur. Maka perbuatan Zina ngga memiliki sebuah udzur apapun.

Uniknya lagi, selain ngga ada udzur. Ternyata juga nggak ada KafaratΒ² atau tebusan apapun untuk zina dalam bentuk materi atau amal tertentu!

Nggak diizinkan, gan!

Agan-agan reader yang terhormat..

Katakanlah saat ini kita tinggal di sebuah Negara yang menerapkan Hukum Islam dalam menghukum tindak kriminal, baik perdata atau pidana.

Terus di negara ini terjadi kasus pembunuhan. Maka pelaku pembunuhan itu masih bisa dimungkinkan lolos dari hukum Qishas³, bila keluarga korban pembunuhan mengizinkan pelaku untuk membayar Diyat⁴.

Yaitu sejumlah tebusan berupa harta (uang) yang dibayar si pembunuh kepada keluarga orang yang dibunuh. Misalnya sejumlah Rp 10 Milyar.

Atau ada kasus sangat langka yang pernah terjadi, dimana keluarga korban memaafkan pelaku pembunuh keluarganya.

Aborsi juga gitu. Pelaku Aborsi bisa membayar kaffarat satu kali melakukan aborsi dengan salah satu opsi dibawah ini :

1. Memerdekakan 2 orang budak
2. Memberi makan 60 orang miskin
3. Puasa selama 2 bulan berturut-turut.

Plus bila aborsi dilakukan oleh seorang Istri atas persetujuan suaminya. Maka di akhirat sang suami itu pun ikut bertanggungjawab.

Karena bukankah seorang suami adalah Pemimpin atau Imam dalam keluarganya?

Sementara kalo zina...

Engga ada Kaffarat-nya!

Nggak ada Diyat!

Dan nggak ada permintaan maaf yang bisa diterima!

Dan meskipun perbuatan zina dilakukan tanpa sepengetahuan atau persetujuan keluarga si pelaku.

Tapi perbuatan ini menjadi hutang yang harus dibayar oleh keluarga atau keturunan pelaku zina.

Dalam misalnya akan ada keturunan si pelaku yang kelak (amit-amit jabang baby), menjadi pezina atau dizinai orang, seperti yang dilakukan orangtua mereka terdahulu.

Naudzubillah Min Dzalik!

Dari berbagai sumber yang gue tonton dan baca. Maka dalam syariat Islam, orang yang terbukti berzina hanya bisa dikenai sanksi fisik dan sosial berupa :

1. Hukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun, jika pelaku zina adalah orang yang berstatus belum menikah.
2. Hukum Rajam yaitu dilempari dengan batu atau sejenisnya sampai mati, jika pelakunya adalah orang yang berstatus menikah.
3. Hukum Rajam sampai mati, jika pelakunya adalah seorang yang berstatus janda atau duda.

Meskipun perlu diingat, untuk sampai pada pemberlakukan hukuman diatas, adalah melalui proses pembuktian yang ketat.

Yaitu dengan tiga atau salah satu alat bukti sbb :

1. Pengakuan dari pelaku zina
2. 4 orang saksi lelaki beriman (bukan fasik), yang ke empatnya menyaksikan perbuatan itu pada satu waktu yang sama
3. Kehamilan seorang wanita tanpa memiliki suami.

Atau kalau di jaman canggih kayak sekarang, alat bukti bisa ditambah dengan :
4. Rekaman video perbuatan Zina.

Aah gue jadi inget sebuah video berdurasi 19 detik.
🀭🀭🀭

********

Agan-agan reader maafkan..
Untuk kata-kata yang akan terbaca sadis dan kejam berikut ini..
πŸ™πŸ™πŸ™

Ilustrasi Kedua

Ini terkait dengan pelaksanaan teknis dalam Hukum Rajam bagi pelaku zina yang berstatus menikah, atau berstatus Janda, atau Duda.

Yang gue bandingkan dengan teknis hukuman qishas bagi pelaku pembunuhan.

Meringkas dari berbagai sumber, maka pelaksanaan hukum qishas dilakukan dengan ketentuan :

1. Dilakukan oleh algojo yang ditunjuk oleh pihak berwenang.
2. Tersedia opsi untuk melakukan eksekusi qishas tersebut, untuk bisa dilakukan di lokasi yang tertutup, pada waktu yang dirahasiakan, dan tidak disaksikan publik.
3. Alat eksekusi yang digunakan, misalnya pedang. Haruslah sebilah pedang yang kuat dan sangat tajam.

Sehingga dalam sekali tebas, dalam waktu se per sekian detik, kepala harus lepas dari batang leher!

Ini dimaksudkan agar si pelaku merasakan sesedikit dan secepat mungkin rasa sakit.

Sungguh berbeda dengan teknis pelaksanaan Hukum Rajam. Dimana kurang lebih ketentuannya :

1. Pelaksanaan Hukum Rajam harus dilaksanakan di tempat terbuka, pada waktu yang diumumkan, dan dapat disaksikan publik.

2. Tubuh pelaku ditanam di tanah dalam posisi berdiri, dan hanya menyisakan leher dan kepala nya aja diatas permukaan tanah.

3. Batu atau sejenisnya yang digunakan untuk melempar (merajam), bukan batu yang berukuran besar yang seketika dilempar ke si pelaku bisa langsung menyebabkan kematian.

Bukan juga yang berukuran kecil seperti kerikil. Tapi batu yang berukuran sedang.

4. Bagian tubuh yang dilempar batu tentu aja adalah bagian kepala dimana didalamnya terdapat organ otak.

Dan kita tau, otak adalah pusat kesadaran yang mengontrol syaraf di seluruh tubuh yang dapat merasakan rasa sakit.

Makanya dalam operasi besar, pembiusan dilakukan untuk menghilangkan sementara kesadaran pada otak (Bius Total).

Sehingga syaraf-syaraf pada bagian tubuh yang dioperasi ngga ngerasain sakit.

Tapi tujuan hukum rajam adalah sebaliknya.

Sebagaimana seluruh syaraf di tubuh itu ikut merasakan kenikmatan seksual ketika berzina.

Maka seluruh syaraf itu pun harus menderita rasa sakit yang setimpal sewaktu si pelaku zina dirajam sampai mati!

Ilustrasi selesai !!!

*********

Tobat Dari Zina

Kemarin gue nonton Video Ustadz Hannan Attaki di YouTube tentang tobat dari dosa zina.

Ada sebuah kisah begini..

Suatu waktu di zaman Rasulullah SAW, ada seorang pemuda yang khilaf berzina.

Ia begitu menyesali perbuatannya. Menangis dan mengutuk dirinya sendiri.

Lalu pada sebuah waktu menjelang Shalat Ashar. Ia datang ke Masjid Nabawi, dimana Rasulullah dan para Sahabat bersiap mendirikan Shalat Ashar berjamaah.

Pemuda itu pun ikut menunaikan Shalat Ashar berjamaah, dan berada di barisan shaf pertama.

Usai shalat pemuda itu berterus terang kepada Rasulullah SAW bahwa ia telah berzina.

Rasulullah begitu marah dan kecewa kepada pemuda ini yang telah melakukan dosa amat besar.

Namun kemudian Jibril datang dan mengilhamkan kepada Rasulullah, jika dosa zina si pemuda itu telah diampuni Allah.

Yaitu karena pemuda itu udah ikut melaksanakan Shalat Ashar berjamaah, dengan berada pada barisan shaf terdepan.

Jadi cuma dengan Shalat Ashar berjamaah doang, maka dosa zina yang ampun-ampunan gedenya itu bisa ter-delete seketika?

Enteng beneer yak kalo dibandingin semua ilustrasi mengerikan yang gue tulis di atas tadi?

Ntar dulu gan...
Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba Nya. Termasuk isi hati pemuda itu.

Allah tahu banget kok kalo pemuda itu udah Taubat Nasuha, yaitu :

1. Pemuda itu sudah berhenti dari perbuatan zina.
2. Pemuda itu merasa menyesal.
3. Pemuda itu memiliki tekad sangat kuat untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Maka sungguh, Allah adalah Maha Pengampun segala dosa besar!
πŸ™πŸ™πŸ™

Gue kemarin nonton penjelasan Buya Yahya di YouTube tentang Taubat dari dosa zina.

Menurut beliau Point-point dalam Taubat Nasuha adalah :
1 Berhenti dari perbuatan,
2. Menyesal,
3.Tidak mengulangi perbuatan

Bentuk Berhenti, Menyesal, dan Tidak Mengulangi Perbuatan itu berupa antara lain :

Si pelaku zina sanggup membuang semua hal yang berkaitan dengan perbuatan zina nya di masa lalu.

Kayak ngga mau dateng lagi ke hotel tempat dia pernah berzina.

Enggak lagi menyimpan barang-barang pemberian dari pasangan zinanya itu.

Ngga lagi menjalin hubungan dalam bentuk apapun. Misalnya dengan mendelete foto-foto dia, mendelete nomor handphone nya, un-friend dan un-follow akun sosmednya.

Kalo pelaku zina bilang udah bertobat. Tapi dia masih japrian dengan pasangan zinanya, masih simpen fotonya, masih ngikutin akun sosmednya.

Maka bohong besar kalo dia mengaku udah Taubat Nasuha.

Ya kecuali pasangan zinanya itu sendiri mau bertanggungjawab untuk secepatnya menikahinya.

Yaitu secepat mungkin setelah beberapa saat ia berzina!

*********

Cumi....

Gue tau, gue nggak akan bisa mengukur betapa dalamnya rasa cinta elu ke Dedy.

Seperti dulu elu bilang, orang punya hak untuk mencintai siapapun!

Tapi elu tau gak, Cum?

Elu juga ngga bisa kan mengukur betapa besar kekhawatiran gue sama elu?

Supaya elu jangan sampe terjerumus ke dalam dosa zina ini!

Itu sebabnya gue cerewet buat ngingetin elu Shalat Ashar. Karena gue inget kisah diatas.

Itu sebabnya gue rajin japri elu setiap jam 8 atau jam 9 malam :

"Woooiii Cumiii... Balik luu!"

"Cumi. Elu udah di rumah?"

"Cumi.. Buruan pulang lu!"

"Cumi.. Jangan kelamaan kalo nongkrong!"

"Cumi maksimal 3 batang rokok. Abis itu gue ngga mau tau, pokoknya elu harus balik!"

"Cumi jangan kecakepan lu kalo dandan!"
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚

Karena gue ngga mau elu ketemu cowok brengsek yang iseng godain elu, terlebih tau elu adalah seorang Janda.

Dan itu juga sebabnya gue berulangkali nyuruh elu berjilbab..

Karena lagi-lagi, gue ngga mau ada cowok brengsek yang cuma terpikat sama kecantikan elu, sama rambut elu yang elu cat merah, sama kebohayan bodi elu, dan sama status elu yang begitu menggoda sebagai Janda.

Juga supaya Allah Jagain elu.

Supaya Allah lindungi elu.

Supaya elu tersugesti untuk memelihara kehormatan elu.

Supaya Allah mengapresiasi niat elu dalam bertobat.

Supaya sedikit semi sedikit, Allah memantaskan diri elu menjadi wanita yang layak untuk bersanding dengan laki-laki yang baik, yang layak menjadi Imam buat elu, juga buat Indri dan Raffa.

Dan itu sebabnya gue ngga suka elu masih berhubungan sama Dedy.

Karena gue ngga mau Bokap dan Nyokap elu, anak-anak elu; Indri dan Raffa, Abang elu, Adik elu, dan semua keponakan-keponakan elu.

Plus kucing-kucing kesayangan elu, semuanya terseret dalam azab dan dampak perbuatan zina.
πŸ™πŸ™πŸ™

********

Cumi gue tau elu akan marah sama gue, kalo elu baca tulisan gue ini.

Gue tau elu akan benci sama gue!

Gue tau elu akan menganggap gue ini sok tau ilmu agama, sok ngerti perasaan elu, dan sok ngurusin hidup elu!

Gue terima kok kalo elu marah dan benci sama gue.

Gue terima kok kalo elu nganggep bahwa gue sok tau dalam semua hal di atas.

Gue juga terima kok, kalo setelah ini elu ngga mau lagi temenan sama gue.

Karena elu anggap gue ini terlalu cerewet. Terlalu intervensi dan sok tau.

Atau elu menganggap gue ini terlalu gombal, lebay dan baper.

Terserah elu Cum..

Gue juga terima kok kalo elu akan ngeblock bahkan delete nomor gue. Bahkan elu akan un-friend dan un-follow follow sosmed gue.

Karena gue juga akan melakukan hal yang sama.

Yaitu kalo elu udah ngga mau lagi temenan sama gue.

πŸ™πŸ™πŸ™

*********

Tapi diantara awan-awan dan desir angin di atas ketinggian ini.

Gue sungguh-sungguh melihat elu, Cumi...



BERSAMBUNG

Notes :
1. Pendapat Imam Syafi'i yang mengemukakan bahwa Zina adalah Utang.
2. Kaffarat : Denda atas kejahatan yang dilakukan seseorang.
3. Qishas : hukuman kepada pelaku kejahatan persis seperti apa yang dilakukannya.
4. Diyat : Denda yang ditujukan hanya bagi pembunuh saja.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bohemianflaneur dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Chapter 8 : Orang-orang Di Dalam Labirin

Part 8



Dari balik awan-awan, tetiba gue mendengar suara berderak dan berdegum keras dari bawah sana.

Srakk... Dgum...Dgumm.. Srakk..

Sebuah rumah yang perlahan-lahan mulai membentuk lorong-lorong suram pada sisi-sisi dindingnya, terlihat bergerak mendekati labirin Cumi dan Dedy.

Rumah itu adalah rumah Andi dan Ningsih. Dan seorang anak kecil berusia 6 tahun ada disana.

Rumah itu semakin mendekat...
Hingga akhirnya...

Dgumm.... Brakk...

Rumah itu menabrak labirin!

Lorong-lorong keputus-asaan di rumah itu makin terbentuk, seiring hilangnya dinding-dinding kasih sayang dan ruang-ruang harapan.

Tinggal 2 langkah lagi, tinggal 2 dinding putih yang tersisa di rumah itu, yang belum dijebol Andi.

Pertama sebuah dinding pada sebuah kamar kecil yang ditempati seorang anak laki-laki berusia 6 tahun.

Kedua adalah dinding perbedaan agama diantara Andi dan Cumi.

Itu 2 dinding terakhir sebelum rumah itu benar-benar menjelma menjadi labirin ketiga, yang bersambung dengan 2 Labirin yang telah ada sebelumnya.

**************

Pada suatu pertemuan di Ay-Bak yang gue lupa persisnya kapan. Cumi cerita kalo Andi berencana untuk pindah agama.

Andi bilang ke Cumi kalo dia udah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mereka berdua.

Termasuk jadwal terperinci tentang kapan menceraikan Ningsih.
Tentang jadwal kredit rumah.
Tentang jadwal pindah agama.
Tentang jadwal mereka menikah.

Tentang-tentang yang semuanya berujung pada keinginan Andi untuk menikahi Cumi!

Dan Andi meminta Cumi bersabar dengan semua jadwal itu selama sekian bulan.

Dan selama sekian bulan itu, Andi juga meminta Cumi untuk ngga menjalin hubungan dengan orang lain.

Pokoknya Cumi ngga boleh jatuh cinta sama cowok lain.

Kecuali kepepet...
😜😜

Cumi bilang kalo Andi semacam punya indera ke 6, yang bisa tau kapan harapannya akan terwujud.

Kayak bulan dan tahun ketika Andi menikahi Ningsih.

Kata Andi itu udah dia tulis di buku diarinya sejak 1 tahun sebelum pernikahan itu terjadi.

Dan Andi telah menulis jadwal semacam itu juga untuk Cumi.

Andi percaya entah jalannya bagaimana. Tapi suatu saat ia akan hadir di sisi Cumi sebagai pendamping hidupnya.

Dalam hati gue sungguh berharap bahwa ini bukanlah suatu kesombongan yang mendahului rencana Tuhan.

Karena seorang pun ngga akan tau apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari!ΒΉ

Atau apakah seseorang masih hidup 1 jam lagi dari detik ini? atau bahkan 10 menit lagi dari detik terakhir ini?

Masa depan adalah sesuatu yang gaib. Sungguh Pengetahuan tentang hal gaib hanya ada di sisi Tuhan Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta.Β²

Bahkan Rasulullah SAW, Manusia paling suci, kekasih Tuhan sendiri, nggak mengetahui kapan Kiamat itu terjadi!Β³

**********

Tring! Crek!

Ini suara yang ngga perlu gue jelasin lagi kalo ini suara apa ya?
πŸ™πŸ˜€πŸ˜€

Dan ini adalah puncak dilema cinta si Cumi dalam kisah ini!

Di satu sisi, Cumi begitu membutuhkan sosok pendamping hidup.

"Gue capek, Kakus.. Ngurusin semuanya sendirian!"

"Urusan dapur yang tiap hari harus ngebul!"

"Urusan printilan rumah, anak sekolah, mobil ngadat, kondisi bokap dan nyokap gue, kondisi Abang gue dan lain-lain."

"Gue butuh ekonomi yang stabil!"

"Gue butuh bahu untuk bersandar!"

"Gue butuh teman hidup yang akan menemani gue di sisa umur!"

"Gue butuh suami dan ayah yang baik, yang perhatian, dan bertanggung jawab sama keluarga gue."

"Gue butuh Imam buat keluarga gue, buat Indri dan Raffa!"

"Dan banyak hal dari semua yang gue butuhkan itu, ada di sosok Andi!"

Sementara di sisi lain.

"Tapi kalo itu terjadi. Apakah adil untuk Ningsih dan anaknya, dan keluarga besarnya?"

"Apakah kebahagian anak-anak gue, harus gue tukar dengan kesengsaraan anak kandung Andi sendiri?"

"Apakah untuk membeli rumah tangga yang gue impikan, harus dibayar begitu mahal?"

"Dan bukan dibayar sama gue. Tapi dibayar oleh Ningsih, dengan hancurnya rumah tangga dia, Kakus?"

"Apakah untuk berbahagia, gue harus menjadi perampok suami orang, dan menjadi pencuri ayah seorang anak?"

"Apakah untuk hidup tenang di masa tua, gue harus menjadi pembunuh masa depan sebuah keluarga lain, Kakus?"

"Dan Keluarga itu : Ibu itu.. Anak itu... Adalah Keluarga, adalah Ibu dan anak yang gue kenal, Kakus!"

"Dan apakah nantinya gue emang bener-bener bisa bikin Andi bahagia?"

"Gue mikir gini... Dengan memanjakan Ningsih, Andi pasti punya ekspektasi yang tinggi sama Ningsih, kan?"

"Andi kerja banting tulang siang malam supaya bisa mencukupi kebutuhan Ningsih. Dia berharap dicintai dan dihargai sama Ningsih!"

"Tapi walaupun ekspektasi Andi itu ngga terpenuhi, paling nggak cuma perasaan Andi aja yang dikorbankan!"

"Dan sebenarnya kalo mereka mau, mereka masih bisa menyelamatkan rumah tangga mereka, kok!"

"Paling masalahnya lebih karena salah faham, kurang komunikasi, dan kurang pengertian diantara keduanya."

"Nah sementara kalo sampe kejadian Andi nikah sama gue. Katakanlah dia udah cerai sama Ningsih, plus udah pindah agama!"

"Berarti ekspektasi Andi ke gue adalah berkali lipat dari ekspektasi dia ke Ningsih, dong!"

"Karena Andi udah ninggalin istri, ninggalin anak, juga bikin kecewa Keluarga besarnya Ningsih, kan?"

"Bahkan ninggalin kepercayaan hidupnya untuk sebuah harapan agar bisa hidup bahagia sama gue!"

"Apa gue ini bisa menjamin akan sanggup memenuhi ekspektasi Andi, dengan semua pengorbanan gila-gilaan nya buat gue?"

"Gue ini orang yang gengsinya tinggi dan keras kepala, Kakus!"

"Apa jangan-jangan gue justru menjadi istri yang lebih menyebalkan buat Andi?"

"Apa jangan-jangan kalo Andi dan gue menikah malah menjadi kezaliman dan sakit hati bagi orang lain?"

"Dan gue takut itu mengundang azab dari Allah buat gue dan keluarga gue!"

"Apakah kalo gue dan Andi menjadi suami-istri kami akan tenang di masa tua kami?"

"Atau malah seumur hidup kami bakal dirongrong perasaan bersalah? Dihantui dendam dan penyesalan?"

"Dan kalo setelah semua pengorbanan Andi, ternyata dia ngga bahagia sama gue. Gimana coba?"

"Ngga kebayang deh bakal hancur kayak apa gue dan si Andi nantinya?"

"Gue ngga mau gagal dalam pernikahan kedua gue, Kakus!"

"Tapi saat ini Andi udah yakin banget kalo dia akan bercerai sama Ningsih demi gue!"

"Apakah gue harus menari di atas penderitaan orang lain, Kakus?"

"Gue harus gimana, Kakuus...? Duuh bingung bangeet guee..!!"

Tetiba kesomplakan gue kumat.
😜😜

"Iya itu Tarian Khas daerah mana ya, Cum?"

"Kalo Tari Pendet itu kan dari Bali. Tari Saman dari Aceh. Tari Jaipong dari Sunda."

"Bentar ya, Cum.. Gue Googling dulu kalo Tarian Di Atas Penderitaan Orang itu Tarian Khas daerah mana ya... Ehhmmm..."

Dan seketika...
Seiring hentakan tenaga dalam, Si Cumi berteriak nyariiiing....

"Begoooo luuu, Kakuuuuss!!"

Bletakk... Klontang.. Brusshh!!

Sekelebat asbak kaleng menghantam jidat gue, diikuti berhamburannya puntung dan abu rokok di muka dan baju gue.
😭😭😩😩

********

Terus terang gue udah kehilangan minat untuk ngebahas rumah tangga Andi dan Ningsih. Karena gue emang ngga bener-bener mengenal mereka.

Meski Cumi pernah bilang kalo ini lebih disebabkan keegoisan Ningsih dan ketidakmampuan Andi menjadi Imam bagi keluarga nya.

Tapi aah bodoo amaat! Itu urusan mereka!

Tapi yang menarik minat gue sebenernya adalah rencana Andi untuk pindah agama.

Yaah.. Hidayah itu udah pasti Hak Prerogatif Allah SWT.

Hidayah emang bisa datang dari mana aja.

Tapi kalo boleh akal dan hati gue ini bertanya :

Kalo seseorang mengaku mendapat pencerahan hati untuk memeluk Islam.

Bagaimana mungkin hati yang udah tersinari cahaya iman itu masih tertuju pada hasrat memiliki seorang wanita, dengan jalan menghancurkan kebahagiaan keluarganya sendiri?

Bukankah hati yang telah dilembutkan Allah untuk menerima Cinta-Nya itu, selayaknya lebih tergerak untuk menyelamatkan Istri dan anaknya Andi sendiri ke rangkulan Cinta, Keselamatan dan Rahmat dari Agama baru yang ia yakini kebenarannya?

Apakah demi cinta pada seorang Janda, seorang lelaki dewasa bisa sedemikian buta untuk mempermainkan keyakinan hidup?

Gue jadi teringat sebuah tulisan di Bak belakang sebuah Truk yang hilir mudik di sepanjang jalur Pantura :

"Jangan Demi Menyelamatkan Seorang Janda Engkau Men-Jandakan Istrimu Sendiri!"
πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™

Aaah ngga tau deh mana yang bener.

Puyeng gue, gan!

Wallahu A'lam Bishawab⁴

********

Tetiba gue teringat kisah rumah tangga gue sendiri di Tahun-tahun antara 2015-2016.

TS sendiri pun saat itu hampir bercerai, gan.

Bayangkan sejak awal kami menikah dari Tahun 2012 sampai sekarang 2021.

Selama 9 tahun pernikahan kami ngga tinggal serumah karena terpisah jarak.

Gue kerja di Jakarta. Sementara Istri dan anak gue di Tegal. Paling sering gue pulkam sebulan sekali.

Dan paling lama gue tinggal serumah dengan anak dan istri adalah 8 hari pada saat libur lebaran.

Istri gue yang saat itu lagi merintis usaha kue tradisional, bersikeras bahwa jalan terbaik bagi kami adalah gue ikut tinggal di Tegal untuk bantuin usaha dia.

Sementara gue pengen punya opsi lain. Kalo sewaktu-waktu usaha kue ini lagi surut, ada penghasilan lain yang bisa dijadiin tumpuan dapur.

Karena bukan apa-apa, modal usaha kue itu sendiri didapet dari pinjaman Bank, dengan jaminan sertifikat rumah mertua.

Dan pihak Bank pasti ngga mau tau kondisi jualan kue. Mau lagi rame atau sepi, yang penting angsuran tiap bulan terbayar.

Sementara hasil dari jualan kue sering ngga menentu.

Di tahun-tahun 2015-2016 itu hubungan gue dan istri gue bener-bener semrawut.

Tiap hari berantem di telepon.
Tiap hari bertengkar di WhatsApp.
Tiap hari terjadi salah faham.

Yaah agan-agan tau sendiri lah..
Menjalin komunikasi dan saling pengertian antar suami-istri yang tinggal serumah aja sulit.

Apalagi buat gue dan istri yang saling berjauhan. Beda banget soalnya antara bahasa tatap muka, dengan bahasa japrian atau percakapan di telepon.

Sampe kami ngalamin hari-hari buruk dalam rumah tangga kami. Dimana istri gue minta pisah. Dan gue mempersilahkan dia untuk mengajukan gugatan cerai.

Dunia terasa begitu sempit buat kami waktu itu.

Tapi untungnya betapapun amburadulnya hubungan kami saat itu. Kami sama sekali ngga membuka celah buat hadirnya orang ketiga diantara kami.

Gue ngga curhat ke temen cewek. Isteri gue pun ngga curhat ke temen cowok.

Gue gitu, gan. Sampe sekarang kalo gue lagi ribut kecil sama isteri. Ngga akan gue ceritain ke temen cewek gue. Termasuk Cumi.

Sebisa mungkin gue tutup aib isteri gue. Karena itu adalah aib gue sendiri.

Yaa meski kadang-kadang 2-3 kali keceplosan juga sih sama Cumi.
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚

Naah waktu itu, sebelum gue dan istri memutuskan untuk bercerai atau nggak.

Kami sepakat break selama 1 bulan. Kita nggak sama sekali Telponan dan japrian.

Buat saling introspeksi.
Buat memperbanyak curhat ke langit.
Buat memeriksa kadar kangen dan cinta kami satu sama lain.

Tapi buat gue sendiri selama 1 bulan itu gue kirim SOS⁡ ke langit!

Cara gue kirim SOS ke langit :

1. Memperbanyak Shalat Malam, terutama Shalat Hajat dan Istikharah.

2. Memperbanyak Zikir, terutama Istighfar dan Shalawat.

3. Memperbanyak puasa Sunnah, kayak puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh.

4. Memperbanyak doa dalam sujud di rakaat terakhir shalat 5 waktu. Gue minta Allah memperbaiki rumah tangga gue.

5. Rutin sedekah tiap hari, meskipun hanya dengan uang dua rebu perak.

Kalo pas hari Jumat, sedekah gue lebihin jadi 5 rebu, 10 rebu, 20 rebu. Ya semampu dompet gue aja sih.

Dan sedekah itu gue niatkan buat "membeli" keutuhan rumah tangga gue dari Allah!

Allah yang menggenggam hati kami dalam ikatan pernikahan.

Maka gue pengen Allah yang menjadi mediator hati, ketika rumah tangga kami dirundung masalah.

Bukankah Allah itu Al Muqallibal Qulub?
Yaitu Maha Membolak-balikan hati?

Dan cara Allah Membolak-balikan hati manusia lebih mudah dari cara kita membolak-balikkan kedua telapak tangan kita sendiri!

2 Minggu berlalu sejak gue kirim SOS ke Allah.

Dan entah kenapa, tetiba sejak itu lensa mata gue sering terarahkan oleh pemandangan yang sebenarnya sering gue saksikan ribuan kali sebelumnya.

Pemandangan biasa aja sih. Pemandangan yang umum dan sederhana.

Misalnya gue shalat Jum'at di Masjid, trus ngeliat ayah dan anak shalat berjamaah berdampingan.

Atau ngelihat Ayah, Ibu dan seorang anak naek motor matic bertiga. Si anak duduk di tengah, atau kadang gue ngeliat itu bocah nangkring di tempat kaki.

Atau ngeliat seorang Ayah atau seorang Ibu nganter anaknya sekolah.

Atau ikut syukuran potong rambut 7 hari kelahiran anak kerabat gue

Itu kan hal-hal yang biasa banget kan gan?

Tapi Subhanallah...

Moment-moment biasa dan umum itu, menggores makna teramat dalam di hati gue.

Dan ajaibnya, isteri gue sendiri pun kurang lebih mengalami hal yang sama di Tegal.

Mengalami semacam penglihatan, yang membuat kami berpikir dan merenung.

Bahwa gue ngga akan bisa bayangin gimana amburadulnya hati gue, kalo pada suatu hari di masa tua.

Gue baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun yang telah lewat, anak kandung gue tumbuh, dididik, dan dibesarkan oleh laki-laki lain!

Yaitu jika Naudzubillah Min Dzalik, gue bercerai dengan istri gue!

Lalu mantan istri gue itu menikah dengan laki-laki lain itu, yang telah sah dipanggil "bapak" oleh anak kandung gue!

Padahal demi segala yang suci!

Gue adalah laki-laki di muka bumi ini yang paling sah untuk dipanggil "bapak" oleh anak gue!

Gue ngga bisa bayangin ketidak-relaan gue ketika di hari ulangtahun anak gue yang ke 8,9,10 ... dan ke 17,18,19...

Maka laki-laki lain itu yang pertama kali mencium kening anak gue, dan memberi kado untuknya!

Gue akan sangat membenci diri sendiri, ketika pada malam-malam di Bulan Suci Ramadhan misalnya,

Maka laki-laki lain itu yang berdiri di shaf terdepan shalat Tarawih berjamaah disamping anak gue!

Gue ngga sanggup memaafkan diri sendiri, ketika pada hari raya idul Fitri, maka tangan kanan lelaki lain itulah, yang akan pertama kali dicium oleh bibir anak gue!

Pada saat semua itu terjadi. Apa masih ada artinya, jika misalnya gue memiliki 10 digit angka di saldo rekening gue?

Pada saat itu terjadi. Apa masih berguna jika misalnya ada 12 mobil mewah nongkrong di garasi gue?

Bisa aja sih, kalo waktu itu gue bercerai. Gue mungkin udah memiliki keluarga lain, dengan istri dan anak gue yg lain.

Tapi apa ada jaminan kalo rasa sakit itu, ketidak-relaan itu, rasa benci dan marah terhadap diri sendiri itu ngga akan muncul menjadi Truk Tronton?

Yang menabrak eksistensi gue sebagai ayah dari anak kandung gue, dari istri yang gue bercerai dengannya?

Dan Truk Tronton itu pasti menabrak gue dengan sekeras-kerasnya!

Pada hari-hari belakangan ini gue merasa sangat bersyukur. Karena pada hari-hari sulit sekitar tahun 2015-2016 silam itu. Allah mengilhamkan gue untuk peka menangkap isyarat.

Dan menjadikan moment-moment yang biasa itu, yang umum itu, yang sederhana itu sebagai petunjuk bahwa :

Perceraian sungguh bukan jalan yang layak untuk gue pilih!

*******

Karena perceraian bukan cuma soal versi ketidakbahagiaan sepasang suami-istri, menurut pandangan sebab-akibat mereka masing-masing!

Perceraian bukan sesimpel istilah "bom waktu", yang daya ledaknya terus menerus ditambah setiap hari oleh pertengkaran, kesalahpahaman, komunikasi yang buruk, pengaruh sosmed, hadirnya orang ketiga, masalah ekonomi dll.

Perceraian juga bukan hanya soal printilan rumit yang kadang kita sederhanakan disaat kita lagi emosi dan berpikir :

Bahwa semua itu toh hanya soal sidang gugatan cerai, soal administrasi di pengadilan agama, soal Harta gono-gini, soal ganti KTP, soal ganti KK dan aneka printilan lain.

Perceraian juga sama sekali bukan ide konyol bahwa akan ada Janda baru yang bisa digodain!
🀭🀭🀭

*********

Tapi ini soal Anak-anak kita!

Sekali lagi ini soal Anak-anak kita!

Suami-isteri bisa aja bercerai. Dan ini emang banyak terjadi dimana-mana di sekitar kita.

Tapi status batin kita selaku Ayah atau Ibu kandung dari anak-anak kita adalah status yg abadi!

Adalah Status yang dimaterai dengan Darah!

Adalah Status yang ditandatangani dengan pena dan tinta yang terbuat dari DNA tubuh dan jiwa kita!

Adalah Status yang distempel dengan cahaya Ruh kita, yang tercantum di Lauhul Mahfudz di Langit Ketujuh!

Status yang ngga akan pernah bisa didelete, atau diganti, atau ditype-ex oleh siapapun, oleh apapun!

Syahdan kata sebuah riwayat, Kita akan dipanggil di Padang Mahsyar untuk dihisab dihadapan Zat Pencipta Alam Semesta, dengan nama kita bin/binti nama ayah kandung kita!

******

Dari balik awan-awan, gue melihat ke bawah. Melihat Cumi, Mas Bagus, Dedy, Andi...

Gue melihat mereka di dalam labirin rumit nan gelap itu.

Orang-orang di dalam labirin menari...

Orang-orang di dalam labirin menyanyi...

Orang-orang di dalam labirin mabuk kepayang...

Orang-orang di dalam labirin saling memeluk.

Orang-orang di dalam labirin saling menampar.

Orang-orang di dalam labirin saling mendekat, lalu menjauh.

Orang-orang di dalam labirin tak sadar bahwa dibalik lorong-lorong gelap itu ada anak-anak mereka, ada orangtua mereka...

Lalu orang-orang di dalam labirin menangisi dirinya sendiri...

*****

Tapi masalah terbesarnya bukan karena orang-orang di dalam labirin itu tidak menemukan jalan keluar dari semua kebuntuan, dari semua kebingungan, dari semua ketersesatan, dari semua kerumitan yang berliku-liku.

Masalah terbesarnya adalah justru mereka menganggap Labirin itu sendiri adalah jalan keluar!

Gue berteriak dari atas ketinggian ini.

Berteriak ke orang-orang di dalam labirin.

"Heeeiiii.... Nyalakan api. Bikin SOS yang akan dilihat langit!"

"Cumiiiii... Nyalain Api.. Kirim SOS ke langit!!!"

Tapi teriakan gue terhalang. Suara gue ngga mampu menembus atap kaca transparan dari labirin itu...

******

Lalu sekitar jam 5 pagi, bunyi alarm membangunkan gue dari mimpi aneh ini.

Mimpi aneh berada di ketinggian, melihat labirin, melihat orang-orang dari balik awan-awan...

Ditemani desir angin, dan lapisan tipis atmosfer bumi.
.............



BERSAMBUNG KE CHAPTER SELANJUTNYA
(The Last one)


Notes :
1. Allah Azza wa Jalla berfirman :
"Dan tiada ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakan besok, dan tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS Luqman Ayat 34)

2. Allah Azza wa Jalla berfirman :
"Dan di sisi Allah lah kunci-kunci yang gaib."
(QS Al An'am Ayat 59)

3. Allah Azza wa Jalla berfirman :
"Mereka menanyakanmu tentang Kiamat; kapan terjadinya? Katakanlah : sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada di sisi Rabb-ku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia."
(QS Al Araf Ayat 187).

4. Ungkapan Bahasa Arab yang artinya : "Dan Allah Maha Mengetahui yang sebenarnya."

5. SOS : Save Our Souls. Panggilan pertolongan, yang mulanya berawal dari sandi kode Morse. Berupa tiga titik untuk kode huruf S, dan tiga garis untuk huruf O.






profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh complain01
Halaman 5 dari 6


GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di